Total Tayangan Halaman

Minggu, 16 Juli 2017

Belajar Menulis Tak Harus Punya Komunitas (Terbit 13 Juli 2017, Kabar Madura)

Menulis bukanlah perkara mudah. Menulis adalah suatu seni menikahkan aksara demi aksara hingga menjadi sebuah paragraf yang padu dan layak untuk dibaca. Menulis mempunyai proses kreatif yang tidak dapat dianggap main-main. Menulis juga merupakan pekerjaan yang menuntut kesabaran, ketelitian, dan proses panjang. Menghasilkan satu buah tulisan yang layak baca, dalam hal ini kualitas tulisan yang dianggap bagus, tentu memerlukan referensi, riset, atau pengalaman yang mendalam.
Berbicara tentang menulis, hal yang paling mendasar yang menjadi momok menakutkan bagi para penulis adalah mencari ide. Seseorang yang tidak terbiasa menulis, tentu akan kesulitan memainkan aksara saat jari-jemari telah siap mengetik di atas keyboard laptop. Setiap penulis tentu pernah mengalami hal ini, namun profesional-lah yang lebih mampu mengatasi hal-hal seperti ini. Bagi pemula, kehilangan ide berarti kehilangan kesempatan untuk menulis. Padahal hal ini bisa disiasati dengan rehat sejenak, berjalan-jalan, mendengarkan musik, nonton film, atau membaca buku.
Sebenarnya, kemampuan menulis seseorang berbanding lurus dengan semangat dan tekad dalam diri untuk menjadi seorang penulis. Atau seberapa kuat orang tersebut merasa terpanggil untuk menuliskan hal-hal yang dapat menghasilkan kebermanfaatan bagi orang banyak. Tekad dalam diri inilah yang ingin penulis tekankan dalam menghasilkan sebuah karya tulis, baik itu fiksi maupun nonfiksi. Namun, karena masalah ketidakpercayadirian inilah, maka banyak dari penulis pemula khususnya, yang memilih bergabung bersama dengan komunitas-komunitas menulis.
Banyak alasan yang melatarbelakangi mereka memilih bergabung dengan komunitas menulis. Di antaranya adalah tidak punya kepercayaan diri yang kuat dalam menghasilkan sebuah karya, tidak punya semangat yang kuat dalam hal menulis, atau latar belakang pendidikan nonsastra. Perlu diketahui, bahwa tidak semua penulis (besar) adalah mereka yang berlatar belakang pendidikan sastra, malah sebaliknya. Contohnya, Tere Liye dan Jonru, merupakan penulis besar kepunyaan Indonesia yang tidak dilahirkan dari ranah pendidikan sastra. Mereka berasal dari jurusan yang berbeda, yakni akuntansi. Namun, itu tidak membuat mereka patah asa dalam menulis. Dan sekarang mereka bisa membuktikan pada semua orang, bahwa bukan hanya dari pendidikan sastra sajalah yang bisa menjadi seorang penulis.
Pada kenyataannya sendiri pun, orang-orang yang lahir dari rahim pendidikan sastra-lah yang banyak tidak menjadi penulis. Kembali pada pembahasan yang sebelumnya, komunitas menulis diciptakan hanya sebagai wadah. Seperti yang dikatakan Jonru pada artikel yang diposting di gentasahuri.blogspot.com : bahwa modal dasar bagi siapa saja yang ingin menjadi penulis hanyalah sebagai berikut; rajin berlatih menulis. Rajin membaca buku, baik buku-buku teori/kiat penulisan, buku-buku fiksi, maupun buku-buku nonfiksi.
Rajin berdiskusi dan berbagi pendapat dengan penulis-penulis lain. Sanggar atau komunitas penulis bukanlah pabrik yang bisa menyulap Anda menjadi seorang penulis handal. Komunitas penulis yang sebaik apapun hanya bisa memberikan iklim yang kondusif bagi pengembangan karir Anda. Bergabung dengan komunitas penulis adalah sangat baik. Tapi sangat keliru jika kita berharap bahwa komunitas tersebut akan memberikan segalanya bagi kita. Komunitas penulis hanyalah sebuah wadah. Adapun kesuksesan Anda, tentu motivasi dan kerja keras Andalah yang akan lebih banyak menentukannya.
Kiranya penulis setuju dengan apa yang diterangkan Jonru dalam artikel tersebut. Belajar menulis secara otodidak lebih bisa melatih diri kita untuk mengalahkan rasa malas. Belajar menulis secara otodidak juga membuka peluang untuk menjadi penulis yang mandiri dan mau belajar banyak. Selain itu, dengan belajar otodidak, kita juga bisa lebih mengeksplorasi diri dan mengukur kemampuan menulis kita. Salah satu yang baiknya adalah belajar banyak dari tulisan-tulisan orang lain. Tulisan-tulisan penulis yang karyanya sudah malang-melintang di media. Belajar dengan cara seperti itu, akan memberikan pembelajaran yang lebih mendalam bagi kita, dibanding mendengarkan teori dari pembicara di sebuah komunitas.
Memang, bergabung dengan komunitas menulis juga mempunyai beberapa keuntungan. Di antaranya adalah kita mempunyai banyak teman untuk berdiskusi. Selain itu, dengan banyaknya anggota dalam komunitas menulis tersebut, kita akan semakin termotivasi dalam menghasilkan karya. Lalu,komunitas menulis biasanya akan melakukan bedah karya setiap minggu untuk para anggotanya, jadi kita lebih bisa mengetahui kelemahan dan kelebihan karya kita. Namun dalam hal ini, biarlah pembaca yang menilai bagaimana karya tulis kita. Sebab pekerjaan seorang penulis hanyalah menulis. Dan setiap pembaca mempunyai selera bacaannya masing-masing. Tidak berarti si A mengatakan tulisan kita tak bagus, maka si B juga akan mengatakan hal yang sama. Sudut pandang dan selera pembaca selalu berbeda-beda.
Penulis sendiri adalah salah satu contoh orang yang belajar menulis secara otodidak. Membaca banyak buku, berdiskusi dengan penulis-penulis lain, dan belajar menghasilkan karya dari tulisan-tulisan penulis berkelas. Dalam hal ini, yang dipelajari adalah teknik menulisnya, bagaimana meramu ide dan menyulapnya menjadi cerita yang fantastis, dan bagaimana cara memilih diksi-diksi yang baik untuk dituangkan dalam bentuk kalimat hingga paragraf. Belajar menulis secara otodidak juga membuat kita menjadi penulis yang mandiri, tidak bergantung kepada siapapun.
Belajar menulis otodidak juga bisa menghasilkan karya besar, seperti penulis yang telah berhasil menelurkan sebuah novel remaja yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada Februari 2017 lalu. Bahkan di beberapa komunitas menulis yang penulis ketahui, masih banyak para anggotanya yang menulis EYD saja masih sangat berantakan. Jadi, sungguh tidak ada jaminan bergabung dalam komunitas menulis tertentu akan membuat kita menjadi penulis yang hebat.

Kemauan dari dalam diri sendirilah yang menjadi senjata paling ampuh jika ingin menjadi seorang penulis. Berkarya dan terbit di media dari hasil belajar otodidak, jauh lebih memuaskan dibanding berkarya dan terbit di media karena komunitas mempunyai link dengan media atau penerbit tertentu. Jadi, jangan pernah berhenti menulis hanya karena tidak bergabung dengan komunitas manapun. Belajar dan teruslah produktif dalam menghasilkan karya. Karena kurator terbaik dalam mengukur  sebuah tulisan selain koran adalah perlombaan. Ikutilah berbagai lomba menulis, dan dari sana kita akan tahu seberapa hebat tulisan kita. Salam literasi!