Menulis
bukanlah perkara mudah. Menulis adalah suatu seni menikahkan aksara demi aksara
hingga menjadi sebuah paragraf yang padu dan layak untuk dibaca. Menulis
mempunyai proses kreatif yang tidak dapat dianggap main-main. Menulis juga
merupakan pekerjaan yang menuntut kesabaran, ketelitian, dan proses panjang.
Menghasilkan satu buah tulisan yang layak baca, dalam hal ini kualitas tulisan
yang dianggap bagus, tentu memerlukan referensi, riset, atau pengalaman yang
mendalam.
Berbicara
tentang menulis, hal yang paling mendasar yang menjadi momok menakutkan bagi
para penulis adalah mencari ide. Seseorang yang tidak terbiasa menulis, tentu
akan kesulitan memainkan aksara saat jari-jemari telah siap mengetik di atas keyboard laptop. Setiap penulis tentu
pernah mengalami hal ini, namun profesional-lah yang lebih mampu mengatasi
hal-hal seperti ini. Bagi pemula, kehilangan ide berarti kehilangan kesempatan
untuk menulis. Padahal hal ini bisa disiasati dengan rehat sejenak,
berjalan-jalan, mendengarkan musik, nonton film, atau membaca buku.
Sebenarnya,
kemampuan menulis seseorang berbanding lurus dengan semangat dan tekad dalam
diri untuk menjadi seorang penulis. Atau seberapa kuat orang tersebut merasa
terpanggil untuk menuliskan hal-hal yang dapat menghasilkan kebermanfaatan bagi
orang banyak. Tekad dalam diri inilah yang ingin penulis tekankan dalam
menghasilkan sebuah karya tulis, baik itu fiksi maupun nonfiksi. Namun, karena
masalah ketidakpercayadirian inilah, maka banyak dari penulis pemula khususnya,
yang memilih bergabung bersama dengan komunitas-komunitas menulis.
Banyak
alasan yang melatarbelakangi mereka memilih bergabung dengan komunitas menulis.
Di antaranya adalah tidak punya kepercayaan diri yang kuat dalam menghasilkan sebuah
karya, tidak punya semangat yang kuat dalam hal menulis, atau latar belakang
pendidikan nonsastra. Perlu diketahui, bahwa tidak semua penulis (besar) adalah
mereka yang berlatar belakang pendidikan sastra, malah sebaliknya. Contohnya,
Tere Liye dan Jonru, merupakan penulis besar kepunyaan Indonesia yang tidak
dilahirkan dari ranah pendidikan sastra. Mereka berasal dari jurusan yang
berbeda, yakni akuntansi. Namun, itu tidak membuat mereka patah asa dalam
menulis. Dan sekarang mereka bisa membuktikan pada semua orang, bahwa bukan
hanya dari pendidikan sastra sajalah yang bisa menjadi seorang penulis.
Pada
kenyataannya sendiri pun, orang-orang yang lahir dari rahim pendidikan
sastra-lah yang banyak tidak menjadi penulis. Kembali pada pembahasan yang
sebelumnya, komunitas menulis diciptakan hanya sebagai wadah. Seperti yang
dikatakan Jonru pada artikel yang diposting di gentasahuri.blogspot.com
: bahwa modal dasar bagi siapa saja yang ingin menjadi penulis hanyalah sebagai
berikut; rajin berlatih menulis. Rajin membaca buku, baik buku-buku teori/kiat
penulisan, buku-buku fiksi, maupun buku-buku nonfiksi.
Rajin
berdiskusi dan berbagi pendapat dengan penulis-penulis lain. Sanggar atau
komunitas penulis bukanlah pabrik yang bisa menyulap Anda menjadi seorang
penulis handal. Komunitas penulis yang sebaik apapun hanya bisa memberikan
iklim yang kondusif bagi pengembangan karir Anda. Bergabung dengan komunitas
penulis adalah sangat baik. Tapi sangat keliru jika kita berharap bahwa
komunitas tersebut akan memberikan segalanya bagi kita. Komunitas penulis
hanyalah sebuah wadah. Adapun kesuksesan Anda, tentu motivasi dan kerja keras
Andalah yang akan lebih banyak menentukannya.
Kiranya
penulis setuju dengan apa yang diterangkan Jonru dalam artikel tersebut.
Belajar menulis secara otodidak lebih bisa melatih diri kita untuk mengalahkan
rasa malas. Belajar menulis secara otodidak juga membuka peluang untuk menjadi
penulis yang mandiri dan mau belajar banyak. Selain itu, dengan belajar
otodidak, kita juga bisa lebih mengeksplorasi diri dan mengukur kemampuan
menulis kita. Salah satu yang baiknya adalah belajar banyak dari
tulisan-tulisan orang lain. Tulisan-tulisan penulis yang karyanya sudah
malang-melintang di media. Belajar dengan cara seperti itu, akan memberikan
pembelajaran yang lebih mendalam bagi kita, dibanding mendengarkan teori dari
pembicara di sebuah komunitas.
Memang,
bergabung dengan komunitas menulis juga mempunyai beberapa keuntungan. Di
antaranya adalah kita mempunyai banyak teman untuk berdiskusi. Selain itu,
dengan banyaknya anggota dalam komunitas menulis tersebut, kita akan semakin
termotivasi dalam menghasilkan karya. Lalu,komunitas menulis biasanya akan
melakukan bedah karya setiap minggu untuk para anggotanya, jadi kita lebih bisa
mengetahui kelemahan dan kelebihan karya kita. Namun dalam hal ini, biarlah
pembaca yang menilai bagaimana karya tulis kita. Sebab pekerjaan seorang
penulis hanyalah menulis. Dan setiap pembaca mempunyai selera bacaannya
masing-masing. Tidak berarti si A mengatakan tulisan kita tak bagus, maka si B
juga akan mengatakan hal yang sama. Sudut pandang dan selera pembaca selalu
berbeda-beda.
Penulis
sendiri adalah salah satu contoh orang yang belajar menulis secara otodidak.
Membaca banyak buku, berdiskusi dengan penulis-penulis lain, dan belajar
menghasilkan karya dari tulisan-tulisan penulis berkelas. Dalam hal ini, yang
dipelajari adalah teknik menulisnya, bagaimana meramu ide dan menyulapnya
menjadi cerita yang fantastis, dan bagaimana cara memilih diksi-diksi yang baik
untuk dituangkan dalam bentuk kalimat hingga paragraf. Belajar menulis secara
otodidak juga membuat kita menjadi penulis yang mandiri, tidak bergantung
kepada siapapun.
Belajar
menulis otodidak juga bisa menghasilkan karya besar, seperti penulis yang telah
berhasil menelurkan sebuah novel remaja yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka
pada Februari 2017 lalu. Bahkan di beberapa komunitas menulis yang penulis
ketahui, masih banyak para anggotanya yang menulis EYD saja masih sangat
berantakan. Jadi, sungguh tidak ada jaminan bergabung dalam komunitas menulis
tertentu akan membuat kita menjadi penulis yang hebat.
Kemauan
dari dalam diri sendirilah yang menjadi senjata paling ampuh jika ingin menjadi
seorang penulis. Berkarya dan terbit di media dari hasil belajar otodidak, jauh
lebih memuaskan dibanding berkarya dan terbit di media karena komunitas
mempunyai link dengan media atau
penerbit tertentu. Jadi, jangan pernah berhenti menulis hanya karena tidak
bergabung dengan komunitas manapun. Belajar dan teruslah produktif dalam
menghasilkan karya. Karena kurator terbaik dalam mengukur sebuah tulisan selain koran adalah
perlombaan. Ikutilah berbagai lomba menulis, dan dari sana kita akan tahu
seberapa hebat tulisan kita. Salam literasi!