Total Tayangan Halaman

Minggu, 01 Oktober 2017

Pernikahan Kunang-Kunang (Terbit 01 Oktober 2017, Harian Medan Pos)

“Ceritakan padaku tentang pangeran kunang-kunang yang kau rindukan, Bu.” Suara halus Fe mengetuk gendang telingaku. Gadis berusia lima tahun itu membetulkan letak kepalanya di pangkuanku. Malam mulai merambat semakin larut, menyisakan suara jangkrik di pekarangan rumah. Aku kembali menggerakkan jemariku menyusuri rambut panjangnya. Sesekali menatap lembut ke dalam matanya yang penuh gumpalan penasaran terhadap cerita pangeran kunang-kunang.
“Dia semakin menjauh, Nak. Jauh, tak tersentuh,” sahutku dengan suara datar. Fe mengerjapkan kedua matanya. Kulihat keningnya berkerut, “Ibu kan bisa mengejarnya? Ibu bisa menangkapnya dengan jaring atau kantung plastik seperti yang biasa kita lakukan di malam-malam kemarin,” Fe mencoba memberiku solusi. Aku tersenyum kecut, lantas menggeleng. “Tidak semudah itu, Sayang. Pangeran kunang-kunang menyukai cahaya lain,” bantahku lembut.
Fe diam, mencoba mencerna kalimat terakhirku. “Menyukai cahaya lain?” tanyanya mengulang kalimatku. Keningnya kembali berkerut. Aku mengusap rambutnya pelan, tidak seharusnya kuceritakan bagian pangeran kunang-kunang yang mencintai cahaya lain. Atau memang tak seharusnya kujejali pikirannya dengan cerita kunang-kunang yang kini begitu disenanginya. Gadis kecilku itu tentu tidak mengerti maksud dari kalimat ibunya. Meski dia selalu berusaha keras untuk mampu mengartikan segala ucapanku.
Maka segera kubisikkan ke telinganya,”Sudah larut, Sayang. Mari kita tidur. Pangeran kunang-kunang tidak akan suka dengan gadis kecil yang jam segini belum juga beranjak untuk tidur. Ayo!” Aku mengajak Fe untuk masuk ke dalam rumah. Sebelum melewati daun pintu, kudengar Fe bertanya, “Mengapa pangeran kunang-kunang menyukai cahaya lain, Bu? Bukankah selama ini gelap selalu memberikannya hangat?”
* * *
Tahun kedua pernikahan kita. Dan aku masih belum bisa memenangkan hatimu. Bagaimana mungkin aku bisa bertahan hidup satu atap dengan lelaki yang konstelasi hatinya bukan untukku? Beberapa kali aku mencoba mengajakmu bicara, memastikan bahwa ini hanyalah sebuah permainan untuk menguji kesabaranku. Tapi aku salah, dia telah mencuri hatimu dan mengunci rapat keadaan. Membuatku tak bisa bergerak, meski hanya untuk sekadar bernapas.
Bisakah kita kembali menyisir kenangan? Mengingat kembali masa dimana kau belum bertemu wanita itu. Masa-masa dimana aku masih menjadi prioritas utamamu. Dan kehidupan yang sulit ini tidak semakin membuatku merasa tercekik. Bagaimana mungkin kau mengatakan pada Fe bahwa kau begitu mencintaiku, sementara di sana kau menggenggam erat jemarinya? Bagaimana mungkin kau ucap aku ibu terbaik bagi Fe, sementara kau bawa masakannya untuk dicicipi anak kita?
Malam berikutnya, aku kembali diberondong pertanyaan oleh Fe mengenai kisah kunang-kunang. Sepertinya, aku harus menceritakannya sejelas mungkin agar anak kita mengerti bahwa kunang-kunang itu telah mati di hati ibunya.
“Pangeran kunang-kunang itu telah pergi, Fe. Dia berpindah dan bergerak mengikuti kata hatinya. Sayang, hatinya menunjukkan jalan yang keliru,” aku kembali mendongengkan tentang kunang-kunang ke telinga Fe.
“Lalu bagaimana selanjutnya, Bu?” Fe menatapku serius. Menyimak betul apa yang selanjutnya akan kuucapkan.
  “Kunang-kunang itu membutuhkan gelap. Dia hidup di tubuh malam. Dia bernyawa karena gulita. Namun untuk suatu ketika, dia mencintai cahaya. Baginya, dihiasi cahaya adalah hal yang istimewa. Sebab dengan cahaya, orang-orang disekitarnya akan melihat siapa dirinya. Dia membutuhkan gelap, namun juga mencintai cahaya. Itulah sebab dia tidak mampu meninggalkan keduanya,” terangku.
Fe mengangguk-anggukkan kepalanya. “Pangeran kunang-kunang kok jahat sih, Bu?” rengeknya manja. Sepertinya ia tak terima jika gelap dikhianati oleh sang pangeran. Aku menduga ia berspekulasi tentang cerita yang bahagia di akhir cerita kunang-kunang ini.
Aku menghela napas berat. Tidakkah anakku merasa bahwa ibunya tengah menceritakan pengalaman pahitnya sendiri? Pangeran kunang-kunang yang kugambarkan itu adalah suamiku sendiri. Adalah ayah dari Fe. Adalah seorang lelaki yang begitu kami cintai. Sementara gelap adalah diriku sendiri. Dan cahaya adalah wanita lain yang merebut segudang perhatian suamiku.
Aku menatap langit dengan gemuruh hebat dalam dadaku. Berusaha menghindari airmata yang ingin tumpah. Setidaknya hanya dengan cara itu aku bisa bercerita dengan Fe. Mendongengkannya tentang cerita kunang-kunang melalui kisah pahitku sendiri. Fe masih terlalu kecil untuk memahami segala bentuk kerumitan ini.
“Apakah pangeran kunang-kunang akan memilih satu di antara keduanya, Bu?” tanya Fe kemudian. “Jika iya, aku ingin sekali mendengar bahwa pangeran kunang-kunang tetap akan memilih gelap, bukan cahaya.” tambahnya dengan wajah lugu. Aku tersenyum mendengar jawabannya. Sekiranya itulah yang juga aku harapkan. Namun sayang, pangeran kunang-kunang lebih mencintai cahaya, meskipun barangkali ia sadar bahwa cahaya yang dicintainya saat ini jelas masih kalah dengan cahaya matahari pagi. Artinya, tetap hanya kegelapanlah yang ia butuhkan untuk hidup dan bernyawa.
Dongengku belum selesai, ketika telepon genggamku menampilkan pesan dari seseorang. Isinya: dia kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit. Bergegas aku ke sana, menarik Fe untuk meninggalkan rumah secepatnya. Tidakkah ini terlalu mendadak, Sayang? Aku bahkan belum sempat menyelesaikan dongeng kunang-kunang untuk anak kita. Bahkan sekarang aku tidak tahu bagaimana kelanjutan cerita itu.
Sesampainya di sana, kulihat banyak kabel bertebaran di tubuhmu. Aku tidak paham alat-alat apa yang mereka pasangkan untukmu. Aku juga tidak paham mengapa semua orang sibuk dengan tangisnya masing-masing. Sementara aku? Aku memandangmu dengan tatapan sendu dari balik pintu kaca ini. Merapal namamu menjadi bait-bait doa paling syahdu. Meminta pada Tuhan agar memulihkan keadaanmu.
Sakitku? Jangan pedulikan, Sayang. Kudengar kau mengalami kecelakaan berdua saat bersama gadis itu. Darah segar mengalir saat tanganmu menggenggam erat jemarinya di kecelakaan tadi. Aku mendengar semua itu, Sayang. Jangan khawatirkan sakitku. Aku jauh lebih sakit melihatmu tertidur dengan banyak kabel di tubuhmu. Aku lebih sakit melihat Fe terus menangis dan memanggil namamu.
 Aku mendekati Fe dan memeluknya erat. “Ayah pasti bangun kan, Bu? Iya kan, Bu?” tanyanya dengan isak yang semakin mengeras. Aku mendekapnya dengan penuh cinta, lalu mengangguk mengiyakan harapannya.
“Pernikahan kunang-kunang itu akan tetap bahagia, Nak. Gelap tetap memaafkannya meskipun pangeran kunang-kunang pernah pergi meninggalkannya demi cahaya. Gelap tetap menerimanya meski pangeran kunang-kunang pernah terlanjur mengkhianatinya. Karena gelap paham sekali, bahwa hidup pangeran kunang-kunang akan selalu bergantung pada dirinya. Pangeran kunang-kunang akan segera kembali, dan apa kau tahu, Sayang? Gelaplah yang akan merawatnya hingga pulih.”

Aku kembali mendekap Fe erat. Pernikahan kunang-kunang akan tetap utuh? Pernikahan kunang-kunang akan tetap bahagia? Entahlah. Aku tidak lagi memikirkan itu. Karena setelahnya kulihat dokter dan para medis berlari ke ruanganmu. Karena setelahnya, kudengar tangis paling histeris dari mulut ibumu.