“Ceritakan
padaku tentang pangeran kunang-kunang yang kau rindukan, Bu.” Suara halus Fe
mengetuk gendang telingaku. Gadis berusia lima tahun itu membetulkan letak kepalanya
di pangkuanku. Malam mulai merambat semakin larut, menyisakan suara jangkrik di
pekarangan rumah. Aku kembali menggerakkan jemariku menyusuri rambut
panjangnya. Sesekali menatap lembut ke dalam matanya yang penuh gumpalan
penasaran terhadap cerita pangeran kunang-kunang.
“Dia
semakin menjauh, Nak. Jauh, tak tersentuh,” sahutku dengan suara datar. Fe
mengerjapkan kedua matanya. Kulihat keningnya berkerut, “Ibu kan bisa
mengejarnya? Ibu bisa menangkapnya dengan jaring atau kantung plastik seperti
yang biasa kita lakukan di malam-malam kemarin,” Fe mencoba memberiku solusi.
Aku tersenyum kecut, lantas menggeleng. “Tidak semudah itu, Sayang. Pangeran
kunang-kunang menyukai cahaya lain,” bantahku lembut.
Fe
diam, mencoba mencerna kalimat terakhirku. “Menyukai cahaya lain?” tanyanya
mengulang kalimatku. Keningnya kembali berkerut. Aku mengusap rambutnya pelan,
tidak seharusnya kuceritakan bagian pangeran kunang-kunang yang mencintai
cahaya lain. Atau memang tak seharusnya kujejali pikirannya dengan cerita
kunang-kunang yang kini begitu disenanginya. Gadis kecilku itu tentu tidak
mengerti maksud dari kalimat ibunya. Meski dia selalu berusaha keras untuk
mampu mengartikan segala ucapanku.
Maka
segera kubisikkan ke telinganya,”Sudah larut, Sayang. Mari kita tidur. Pangeran
kunang-kunang tidak akan suka dengan gadis kecil yang jam segini belum juga
beranjak untuk tidur. Ayo!” Aku mengajak Fe untuk masuk ke dalam rumah. Sebelum
melewati daun pintu, kudengar Fe bertanya, “Mengapa pangeran kunang-kunang
menyukai cahaya lain, Bu? Bukankah selama ini gelap selalu memberikannya
hangat?”
*
* *
Tahun
kedua pernikahan kita. Dan aku masih belum bisa memenangkan hatimu. Bagaimana
mungkin aku bisa bertahan hidup satu atap dengan lelaki yang konstelasi hatinya
bukan untukku? Beberapa kali aku mencoba mengajakmu bicara, memastikan bahwa
ini hanyalah sebuah permainan untuk menguji kesabaranku. Tapi aku salah, dia
telah mencuri hatimu dan mengunci rapat keadaan. Membuatku tak bisa bergerak,
meski hanya untuk sekadar bernapas.
Bisakah
kita kembali menyisir kenangan? Mengingat kembali masa dimana kau belum bertemu
wanita itu. Masa-masa dimana aku masih menjadi prioritas utamamu. Dan kehidupan
yang sulit ini tidak semakin membuatku merasa tercekik. Bagaimana mungkin kau
mengatakan pada Fe bahwa kau begitu mencintaiku, sementara di sana kau
menggenggam erat jemarinya? Bagaimana mungkin kau ucap aku ibu terbaik bagi Fe,
sementara kau bawa masakannya untuk dicicipi anak kita?
Malam
berikutnya, aku kembali diberondong pertanyaan oleh Fe mengenai kisah
kunang-kunang. Sepertinya, aku harus menceritakannya sejelas mungkin agar anak
kita mengerti bahwa kunang-kunang itu telah mati di hati ibunya.
“Pangeran
kunang-kunang itu telah pergi, Fe. Dia berpindah dan bergerak mengikuti kata
hatinya. Sayang, hatinya menunjukkan jalan yang keliru,” aku kembali
mendongengkan tentang kunang-kunang ke telinga Fe.
“Lalu
bagaimana selanjutnya, Bu?” Fe menatapku serius. Menyimak betul apa yang
selanjutnya akan kuucapkan.
“Kunang-kunang itu membutuhkan gelap. Dia
hidup di tubuh malam. Dia bernyawa karena gulita. Namun untuk suatu ketika, dia
mencintai cahaya. Baginya, dihiasi cahaya adalah hal yang istimewa. Sebab
dengan cahaya, orang-orang disekitarnya akan melihat siapa dirinya. Dia
membutuhkan gelap, namun juga mencintai cahaya. Itulah sebab dia tidak mampu
meninggalkan keduanya,” terangku.
Fe
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Pangeran kunang-kunang kok jahat sih, Bu?”
rengeknya manja. Sepertinya ia tak terima jika gelap dikhianati oleh sang
pangeran. Aku menduga ia berspekulasi tentang cerita yang bahagia di akhir
cerita kunang-kunang ini.
Aku
menghela napas berat. Tidakkah anakku merasa bahwa ibunya tengah menceritakan
pengalaman pahitnya sendiri? Pangeran kunang-kunang yang kugambarkan itu adalah
suamiku sendiri. Adalah ayah dari Fe. Adalah seorang lelaki yang begitu kami
cintai. Sementara gelap adalah diriku sendiri. Dan cahaya adalah wanita lain
yang merebut segudang perhatian suamiku.
Aku
menatap langit dengan gemuruh hebat dalam dadaku. Berusaha menghindari airmata
yang ingin tumpah. Setidaknya hanya dengan cara itu aku bisa bercerita dengan
Fe. Mendongengkannya tentang cerita kunang-kunang melalui kisah pahitku
sendiri. Fe masih terlalu kecil untuk memahami segala bentuk kerumitan ini.
“Apakah
pangeran kunang-kunang akan memilih satu di antara keduanya, Bu?” tanya Fe
kemudian. “Jika iya, aku ingin sekali mendengar bahwa pangeran kunang-kunang
tetap akan memilih gelap, bukan cahaya.” tambahnya dengan wajah lugu. Aku
tersenyum mendengar jawabannya. Sekiranya itulah yang juga aku harapkan. Namun
sayang, pangeran kunang-kunang lebih mencintai cahaya, meskipun barangkali ia
sadar bahwa cahaya yang dicintainya saat ini jelas masih kalah dengan cahaya
matahari pagi. Artinya, tetap hanya kegelapanlah yang ia butuhkan untuk hidup
dan bernyawa.
Dongengku
belum selesai, ketika telepon genggamku menampilkan pesan dari seseorang. Isinya:
dia kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit. Bergegas aku ke sana,
menarik Fe untuk meninggalkan rumah secepatnya. Tidakkah ini terlalu mendadak,
Sayang? Aku bahkan belum sempat menyelesaikan dongeng kunang-kunang untuk anak
kita. Bahkan sekarang aku tidak tahu bagaimana kelanjutan cerita itu.
Sesampainya
di sana, kulihat banyak kabel bertebaran di tubuhmu. Aku tidak paham alat-alat
apa yang mereka pasangkan untukmu. Aku juga tidak paham mengapa semua orang
sibuk dengan tangisnya masing-masing. Sementara aku? Aku memandangmu dengan
tatapan sendu dari balik pintu kaca ini. Merapal namamu menjadi bait-bait doa
paling syahdu. Meminta pada Tuhan agar memulihkan keadaanmu.
Sakitku?
Jangan pedulikan, Sayang. Kudengar kau mengalami kecelakaan berdua saat bersama
gadis itu. Darah segar mengalir saat tanganmu menggenggam erat jemarinya di
kecelakaan tadi. Aku mendengar semua itu, Sayang. Jangan khawatirkan sakitku.
Aku jauh lebih sakit melihatmu tertidur dengan banyak kabel di tubuhmu. Aku
lebih sakit melihat Fe terus menangis dan memanggil namamu.
Aku mendekati Fe dan memeluknya erat. “Ayah
pasti bangun kan, Bu? Iya kan, Bu?” tanyanya dengan isak yang semakin mengeras.
Aku mendekapnya dengan penuh cinta, lalu mengangguk mengiyakan harapannya.
“Pernikahan
kunang-kunang itu akan tetap bahagia, Nak. Gelap tetap memaafkannya meskipun
pangeran kunang-kunang pernah pergi meninggalkannya demi cahaya. Gelap tetap
menerimanya meski pangeran kunang-kunang pernah terlanjur mengkhianatinya.
Karena gelap paham sekali, bahwa hidup pangeran kunang-kunang akan selalu
bergantung pada dirinya. Pangeran kunang-kunang akan segera kembali, dan apa
kau tahu, Sayang? Gelaplah yang akan merawatnya hingga pulih.”
Aku
kembali mendekap Fe erat. Pernikahan kunang-kunang akan tetap utuh? Pernikahan
kunang-kunang akan tetap bahagia? Entahlah. Aku tidak lagi memikirkan itu.
Karena setelahnya kulihat dokter dan para medis berlari ke ruanganmu. Karena
setelahnya, kudengar tangis paling histeris dari mulut ibumu.