Total Tayangan Halaman

Minggu, 27 Agustus 2017

Merindukan Dilan (Terbit 27 Agustus 2017, Harian Medan Pos)

Hujan makin menderas. Gelegar petir sesekali bersahut-sahutan. Pucuk-pucuk pohon pinggir jalan berayun mengikuti arah angin. Aku merapatkan jaket, berusaha meminimalisir rasa dingin yang sejak tadi menyergap. Kulirik arloji kecil di pergelangan tangan kiriku; sudah sore. Berapa lama lagi hujan ini akan berhenti? Kirana tentu sudah menungguku di rumah. Roti bakar yang kujanjikan padanya pasti sudah dingin sejak tadi di dalam tasku. Aku menghela napas berat. Cuaca hari ini benar-benar di luar prediksiku. Siang panas terik, sorenya hujan deras. Sungguh menyebalkan.
Halte ini pun masih lengang sejak tadi. Siapa pula yang mau keluar rumah saat hujan deras seperti ini? Hanya beberapa kendaraan bermotor yang sejak tadi lalu lalang di hadapanku. Aku kembali merapatkan jaketku. Dinginnya kembali menusuk tulang. Pikiranku kembali singgah pada Kirana, gadis kecil yang tiga tahun lalu dititip Tuhan dalam rahimku. Pasti dia sekarang sedang bolak-balik mengintip jendela, menunggu ibunya pulang.
Ah, semoga Mbak Ratna tidak kerepotan menjaganya. Sebab belakangan ini Kirana tampak sedikit rewel dari biasanya. Andai saja aku tak harus bekerja seperti ini, tentu Kirana tidak akan merasa kesepian. Dan tentu aku bisa menjadi ibu yang seutuhnya bisa melihat perkembangan buah hatiku. Tapi mau bagaimana lagi, keadaan memaksaku untuk bekerja. Mas Sultan tentu bangga melihat istrinya mandiri seperti ini. Mandiri mengurus anak seorang diri. Mandiri menghidupi segalanya sendiri.
Aku mematung. Tiba-tiba halte ini menjadi sangat dingin. Kuperhatikan tiang-tiang penyangga halte ini. Kudongakkan kepalaku untuk memperhatikan bentuk halte ini. Masih sama seperti dulu. Hanya warna catnya saja yang berubah. Ah, tiba-tiba aku teringat Dilan. Lelaki yang pertama kali mengatakan cinta padaku di halte ini. Lelaki yang pertama kali memaksaku menjadi kekasihnya. Lelaki yang mengajakku duduk berlama-lama di halte ini hanya untuk makan es krim.
Dilanku. Ya, dia adalah Dilanku. Meski sejak pertama kali dia lahir ke dunia ini tidak dengan nama itu. Nama aslinya Kuma. Lucu memang. Seperti nama buah. Oh, bukan. Itu kurma. Teman-teman di kelasku sering menambahkan fonem r di tengah-tengah namanya. Atau sesekali mereka menambahkan fonem n diakhir namanya. Kalian tahu, Dilanku tak pernah marah. Dia malah ikut tertawa. Lucunya, tawanyalah yang paling kuat ketika orang lain mengolok namanya.
Pikiranku terbang ke masa 10 tahun yang lalu. Saat itu, hujan deras mampir ke kotaku. Dilan mengajakku berteduh dan menunggu hujan reda di halte ini. Halte yang tidak terlalu jauh dari sekolahku. Tentu saja aku tidak menolak, menghabiskan waktu bersama Dilan selalu menyenangkan. Dia tidak pernah berhenti bicara. Dia juga tidak pernah berhenti membuatku tertawa. Di hujan deras siang ini, Dilan memberikanku sebuah novel. Novel yang ditulis oleh seorang penulis besar bernama Pidi Baiq. Novel yang saat itu digandrungi sekali oleh para remaja. Tidak terkecuali aku.
“Kalau suka dibaca. Kalau enggak, dijual saja,” kata Dilan sambil menyodorkan novel itu ke tanganku.
Aku mencibir, tidakkah dia bisa lebih romantis sedikit ketika memberikan ini? Aku tahu dia membeli novel ini dari uang jajannya sendiri. Mengapa memberinya tidak bisa lebih lembut sedikit? Aku mendengus sebal. Menatapnya sekali lagi dengan pandangan kesal. “Ceritanya bagus. Milea-nya cantik. Kayak kamu,” celetuknya tiba-tiba. Mataku membesar, tidak menyangka akan mendengar kalimat itu dari mulutnya.
“Kalau kata orang Inggris sih, I’m your Dilan and you’re my Milea.” tambahnya lagi. Aku sudah merasa ingin meledak mendengar perkataannya. Frontal sekali. Meski disampaikan dengan nada suara bercanda, tapi aku yakin sekali bahwa dia mengatakannya dari hati. Dasar cowok aneh! Mau romantis saja harus gengsi. Meski saat itu tidak pernah ada ucapan bahwa Dilan menyukaiku, aku tetap saja senang. Kalimat-kalimatnya barusan sudah cukup membangunkan kupu-kupu di dalam perutku. Terasa menggelitik dan menyenangkan.
Tiba-tiba saja, Dilan menyentuh ujung jemariku. Hujan kelihatannya belum mau berhenti. Meski kala itu atmosfer udara terasa dingin, tapi aku tidak peduli. Yang aku pedulikan adalah apa kalimat selanjutnya yang akan diucapkan Dilanku. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. “Kamu harus jadi pacarku,” ucapnya sejurus kemudian.
Aku hampir tersedak mendengarnya. Kalimat macam apa itu? Bukankah di film-film yang kutonton, hal teromantis yang dilakukan oleh seorang lelaki yang menyukai seorang perempuan adalah bertanya dengan kalimat “maukah kau menjadi pacarku?” Mengapa laki-laki yang ada di sebelahku ini malah mengatakan hal itu? Dia bukan bertanya, bukan pula memberitahu. Dia seolah memerintah, menyuruhku untuk menjadi kekasihnya. Dan bagaikan titah seorang raja, maka aku tidak diperkenankan untuk menolak.
Cara mengungkapkan cinta yang aneh. Tapi sekali lagi kuberitahu, lelaki mana yang bisa melakukan hal itu selain Dilanku? Nothing! Hanya Dilanku yang berani mengatakan hal itu. Dan aku menghargai keberaniannya. Dengan anggukan kepala, detik itu juga dia benar-benar menjadi Dilanku. Dan aku sekarang adalah Milea-nya. Bahagia, tentu saja. Dia adalah anak lelaki yang baik. Meski masih suka bolos sekolah, tidak mengerjakan tugas, atau berkelahi dengan teman, dia tetaplah lelaki yang baik. Setidaknya di mataku. Bukankah anak-anak SMA juga pernah melakukan semua itu?
Menginjak usia satu tahun sejak Dilanku menyatakan perasaannya, dia main ke rumahku di suatu sore. Ketika aku baru saja membuka pintu, hal pertama yang diucapkannya adalah “aku mau menikah denganmu.” Refleks aku menjitak dahinya kuat. Dia mengaduh dan mundur beberapa langkah ke belakang. Tapi lagi-lagi, dia mengulangi kalimatnya itu.
“Milea, ayo kita menikah!” katanya.
Aku mendengus sebal, harusnya kujitak lebih kuat saja tadi. Ada yang tidak beres dengan otaknya sore itu. “Menikah saja sana dengan kucing!” balasku. Dia menatapku kesal. Aku membalas tatapannya lebih kesal. “Jadi, kapan kita akan menikah?” tanyanya lagi. Oh Tuhan, aku tidak tahu apa yang terjadi pada Dilanku sore itu. Dia memaksaku untuk membahas pernikahan yang bahkan aku sendiri tidak bisa membayangkannya.
“Kita harus menikah, Milea. Harus. Suatu saat nanti.” katanya menutup pembicaraan. Aku tersenyum padanya. Aku tahu, semua ucapannya adalah bercanda. Dia selalu bisa membuatku shock secara tiba-tiba. Dia selalu bisa menghadirkan hal-hal baru yang mengejutkanku. Menjalani hari bersama Dilanku benar-benar terasa menyenangkan. Dan aku menyukai itu.
Aku menghela napas berat. Tersenyum pedih mengingat kenangan itu. Sesekali kecipak air hujan mampir di sepatuku. Membuat ujungnya lembab sedikit. Apa kabar Dilan di sana? Aku merindukannya saat ini. Semua ucapan Dilanku sore itu tidak pernah terwujud. Di penghujung tahun, saat acara perpisahan sekolah akan digelar. Aku mendengar kabar itu. Duniaku seakan runtuh. Aku tidak menangis saat itu. Aku hanya terdiam, berusaha menenangkan dentuman keras dalam dadaku.
Dilanku telah pergi. Pergi ke tempat yang jauh tanpa aku. Juga tanpa salam perpisahan. Tanpa pemberitahuan. Bukan karena sakit. Bukan pula karena kecelakaan. Dilan pergi untuk selamanya karena Tuhan sangat sayang padanya. Aku sendiri tidak bisa mendefinisikan rasa sakitku. Air mataku tidak jatuh setetes pun saat pemakaman Dilanku dilakukan. Hanya gemuruh hebat yang terus terdengar dari dalam diriku. Aku ingin meledak, tapi tidak akan kulakukan saat itu. Dilanku tak pernah suka melihat aku menangis. Dilanku tak pernah mau melihat aku bersedih.
Usai pemakaman, aku memeluk ibu Dilan dengan erat. Kami saling menguatkan. Beliau membasahi pundakku dengan airmatanya. Aku pun ingin berbuat demikian, tapi tidak kulakukan. Sedetik berikutnya aku izin pulang. Aku benar-benar tak tahan berada di situ berlama-lama. Tiba di rumah aku berlari menuju kamar. Mencari novel pemberian Dilan saat itu, lalu memeluknya erat.
Satu persatu bulir itu berlompatan dari mataku. Hingga akhirnya aku menangis dalam sendu. Kuciumi novel pemberian Dilan. Dan aku merasakan aroma tangannya di sana. Astaga, sesakit inikah rasanya kehilangan? Tubuhku bergetar menerima luka yang kurasa datangnya amat tiba-tiba. Kepalaku berdenyut. Sejurus kemudian, mataku telah sembab.
Hujan mulai berhenti. Rintik mulai menghiasi. Aku menarik napas panjang. Kenangan itu telah berlalu puluhan tahun. Dilanku menjadi suami dalam kenangan. Sementara Mas Sultan-lah yang akhirnya menjadi suami di kehidupan nyataku. Meski saat ini pun, Mas Sultan telah menyusul Dilanku di surga. Yang kupunya saat ini hanyalah Kirana. Gadis kecilku yang baru berusia tiga tahun.
Aku selalu ingin menghidupinya dengan cinta. Tanpa luka dan airmata. Suatu saat nanti, Kirana juga akan menemui Dilannya. Dan aku selalu berdoa, semoga gadis kecilku itu tidak menghimpun luka seperti yang terjadi pada ibunya. Aku merapikan jaketku, juga mengusap wajahku perlahan. Kenangan itu sudah tersimpan rapi sejak dulu, dan dalam sekali duduk aku malah membongkarnya.
Aku menghela napas, kemudian tersenyum. Dilanku sudah bahagia di sana. Dan sekarang, ada Kirana yang menungguku di rumah. Aku berdiri, lalu menyeret langkah perlahan. Meninggalkan halte dan kenangan tentang Dilan. Setidaknya untuk saat ini, aku tak mau mencumbuinya terlalu lama dalam ingatan.

(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 7)

Jadi Remaja Berbudaya (Resensi terbit 27 Agustus 2017, Harian Singgalang)

Judul               : Karena Aku Tak Buta
Penulis             : Redy Kuswanto
Editor              : Antik
Penerbit           : Tiga Serangkai
Cetakan           : Pertama, 2015
Halaman          : 332 hal
ISBN               : 978-602-257-107-0
Novel Karena Aku Tak Buta karya Redy Kuswanto ini mengangkat cerita tentang pesta budaya lokal dan permainan tradisional yang dikemas dengan cara yang begitu apik. Cerita bermula dari kedatangan Zad ke sebuah desa di pedalaman Muntilan, tepatnya di Dusun Gopakan, Desa Ngargolumyo, Kecamatan Dukuh, Kabupaten Magelang. Saat itu niatnya hanya untuk menemui Gendis, seorang gadis desa yang cerdas dan mandiri yang kebetulan adalah kekasihnya sendiri. Namun, kedatangannya ke desa itu justru malah mengantarkannya pada dunia yang selama ini tak pernah disentuhnya.
Redy Kuswanto memperkenalkan pembaca pada tokoh-tokoh yang memiliki kesadaran tinggi guna mempertahankan apa pun yang menjadi milik negeri ini, salah satunya adalah kekayaan budaya, termasuk di dalamnya permainan tradisional. “Pada intinya, aku pribadi mendukung penuh museum dan program-programnya,” Yudha kembali mendekati Zad dan Gendis, “Yang lebih penting lagi, bagaimana kita berusaha menghargai, merawat, dan menjaga mainan dan permainan anak zaman dulu agar tetap hidup di tengah gempuran zaman meskipun ini tidak mudah. Ini sudah menjadi kewajiban kita bersama. Kalau bukan kita, siapa lagi? (hal.131)
Zad juga sangat mengagumi kekasihnya, Gendis, yang merupakan gadis desa di pedalaman Magelang. Mereka adalah teman sekampus. Berkat beasiswa-lah, Gendis memiliki kesempatan mengenyam bangku sekolah hingga ke jenjang universitas. Gendis adalah gadis yang tidak pernah malu ataupun merasa minder, meskipun ia menyadari penampilannya jauh dari kata modis. Berkat Gendis pulalah, rasa cinta Zad kepada hal-hal yang berbau budaya dan tradisional semakin bertumbuh.
Zad, pemuda metropolitan itu juga merasa tertampar sekali ketika mendapai kenyataan bahwa Museum Anak Kolong Tangga, yang merupakan museum permainan tradisional di Yogyakarta didirikan oleh seorang pria berkebangsaan Belgia. Mr. Rudolf namanya, atau lebih akrab disapa dengan panggilan Pak Rudi. Pria yang usianya menginjak 80 tahun itu ternyata sangat peduli dengan tradisi dan kebudayaan di Indonesia, khususnya permainan tradisional. Pria bule itu melihat permainan tradisional yang mulai menghilang, membuat anak zaman sekarang tidak mengenalnya lagi.
Zad menyadari, apa yang dikhawatirkan pria bule itu benar-benar terjadi pada banyak anak muda Indonesia, termasuk dirinya. Ia tak pernah mengenal mainan dan permainan tradisional yang merupakan salah satu aset bangsa. Generasi muda saat ini seolah tak mau peduli. Yah, ia tak pernah peduli. Lantas, mengapa justru orang asing yang memiliki kepedulian besar itu? Jujur, ia merasa malu pada dirinya sendiri. Sebagai anak bangsa, apa yang sudah ia sumbangkan untuk negeri ini? Tak ada! (hal. 123)
Redy Kuswanto mencoba membuka pikiran pembaca mengenai pentingnya menjaga kebudayaan nusantara lewat dialog-dialog dan konflik batin yang dirasakan setiap tokohnya. Zad sangat merasa terkesan dengan cerita Gendis, terutama kisah Yudha dan lelaki Belgia berusia 80 tahun tersebut. Ia pun mencari informasi mengenai keduanya. Hingga akhirnya ia pun menemukan alasan yang membuatnya terkagum-kagum kepada pria bule itu.
“Mengapa saya mendirikan museum di Yogyakarta, dan bukan di Belgia, tanah kelahiran saya, atau bahkan Negara lain? Pertama, mungkin ini terdengar terlalu berlebihan, tetapi memang benar, bahwa saya menyukai Yogyakarta. Saya mencintai anak-anak di sini. Kedua, hal yang paling penting, saya melihat anak-anak di sini banyak yang tidak paham dan melupakan trdisi dan budaya bangsa sendiri. Bagi saya, ini sangat memprihatinkan. Apa yang akan terjadi nanti jika hal ini terus dibiarkan berlarut-larut?” (hal. 136)
Novel ini juga mengajarkan pembaca untuk mencintai budaya sendiri dan tidak boleh membiarkan kekayaan budaya nusantara hilang tergerus modernisasi. Redy Kuswanto juga berhasil membangkitkan kesadaran pembaca akan jiwa “Indonesia” dalam diri masing-masing yang nyatanya selama ini terkubur. Alur cerita yang apik, dengan ending yang surprise membuat pembaca akan puas melahap novel keren ini.

(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 7)

Rabu, 09 Agustus 2017

Things Called Destiny (Terbit 06 Agustus 2017, Harian Medan Pos)

Setiap keriuhan nggak ada yang benar-benar bertahan lama. Seminggu-dua minggu keriuhan soal hubungan gue dan Alila yang terekspos oleh paparazzi sekolah, belakangan ini kembali normal. Meski masih ada satu-dua teman yang suka nyindir-nyindir manja, kepo-kepo gemes, atau batuk-batuk gak jelas. Gue dan Alila sudah sepakat akan menangkis segala jenis serangan mereka dengan satu cara, yaitu “senyumin aja”.
Siang itu gue dan Alila sedang berada di sebuah café tak jauh dari sekolah. Makan siang, sembari mengerjakan tugas sosiologi yang akan dikumpulkan lusa. Memang sudah menjadi kebiasaan gue dan Alila menghabiskan waktu sepulang sekolah di café ini. Gue mengutak-atik hape sambil menunggu Alila balik dari toilet. Mata gue teralihkan saat pintu café itu terbuka. Seorang gadis seusia gue masuk dan langsung menuju meja bar untuk memesan. Gadis itu mengenakan t-shirt putih dan rok lipit mini warna biru muda. Tak lupa dia juga memakai legging putih yang semakin memamerkan kaki indahnya. Rambutnya yang panjang bergelombang dibiarkan tergerai. Gadis itu menyapu pandang keseluruh pengunjung, mencari meja kosong.
Tapi tiba-tiba matanya tertuju pada gue. Tampak raut wajah kaget dari gadis itu. Gue juga nggak kalah kaget. Awalnya gue lihat dia ragu, apakah harus menyapa atau pura-pura tidak lihat saja. Namun, tampaknya hatinya berkata lain. Gadis itu memutuskan untuk melangkah mendekati meja gue dan Alila. Gue kikuk setengah mati. Gue mengalihkan pandang kembali ke layar hape.
“Fath..” sapanya.
Gue menoleh ke arah suara. Shock. Satu kata itulah yang menggambarkan perasaan gue saat ini. Bagaimana bisa gadis itu ada di sini? Sedang apa dia? Gue benar-benar tak bisa menutupi kekagetan gue saat ini. Dua tahun tidak bertemu, tidak saling kontak, tidak saling tahu kabar masing-masing, kini tiba-tiba saja gadis itu muncul di hadapan gue. Tiba-tiba Alila sudah kembali dari toilet dan melongo melihat gue berdua dengan gadis itu. Gue terlihat begitu awkward saat itu.
“Yuri?” gue menjawab sapaannya sedikit gemetar.
“Apa kabar?” tanya gadis yang diketahui bernama Yuri itu.
“Bb.. baik,” jawab gue gugup.
Alila melirik gue. Melihat sinis seolah berkata “Kenapa tiba-tiba elo terlihat nggak santai?” Gue terlihat gugup. Alila mulai curiga.
“Oh iya, kenalin. Ini Alila, temanku,” gue mulai berbasa-basi ketika sudah berhasil menguasai diri. Gue keliru menyebutkan Alila sebagai teman gue. Gue lihat ekspresi tidak terima dari wajah manisnya.
Sambutan hai dan hallo serta jabatan tangan mewarnai mereka. Saat menjabat tangan Yuri, Alila kembali melirik gue sekilas. Yuri meminta izin pada Alila untuk mengajak gue keluar sebentar, ada yang ingin dibicarakan. Alila hanya mengiyakan ketika gue bertanya apakah dirinya mengizinkan. Yuri sempat melemparkan senyum pada Alila. Dengan sedikit kaku, Alila membalas senyuman itu.
“Aku nggak nyangka kita bisa ketemu di sini,” Yuri memulai percakapan. Saat itu kami duduk di sebuah kursi panjang di halaman café. Gue tersenyum simpul. “Gimana keadaan kamu selama ini?” Gue melirik Yuri, lalu tersenyum sinis, “Seperti yang kamu liat. Aku baik-baik aja,” tandasku. “Aku bener-bener kangen sama kamu, Fath. Dua tahun bukan waktu yang singkat. Aku baru ngerasain sakitnya rindu waktu aku jauh dari kamu. Aku nggak bisa…”
“Sejak kapan ada di Jakarta?” Gue memotong kalimat Yuri. “Aku baru sampai kemarin sore,” Lengang. Hanya suara deru motor dan kendaraan lain yang lalu lalang di jalan raya depan café itu. Gue seperti enggan memberi pertanyaan lagi. Gue sama sekali tidak mengerti, mengapa sekarang Tuhan mempertemukan gue dengan gadis itu lagi. Gadis yang dulu begitu gue sayangi. Gadis yang berjanji tidak akan pernah membiarkan gue sendiri. Gadis yang dulu selalu ada di hari-hari gue. Tapi kini semuanya terasa berbeda. Sejak hari di mana Yuri memutuskan pindah ke luar kota. Jauh dari gue. Dengan alasan orangtuanya dipindahtugaskan. Tapi gue merasa ada yang disembunyikan. Gue merasa Yuri tidak sepenuhnya jujur tentang alasan kepindahannya. Terakhir gue dengar dari Fayya, sahabat Yuri, kepindahannya ke Pontianak bukan hanya karena tugas orangtuanya. Tapi lebih kepada Yuri sedang didekatkan oleh anak rekan kerja ayahnya.
Kenyataan itu sungguh tak bisa gue tolak. Gue berusaha mati-matian membujuk Yuri agar tidak pergi. Tapi Yuri bersikeras ingin pergi. Yuri memang cantik, hanya saja dia tidak bisa melihat sesuatu yang lebih. Gue yakin, Yuri sudah mengetahui rencana ayahnya untuk mendekatkannya dengan laki-laki itu. Mereka juga pasti telah saling kontak lewat sosial media. Yuri pergi tanpa pamit di minggu pagi. Dia berangkat tanpa meninggalkan pesan apa pun untuk gue. Juga tanpa menunggu gue datang untuk mengucapkan selamat tinggal padanya. Kesalahan fatal telah ia buat. Gue terlanjur sakit hati. Cinta pertama itu telah merusak hati gue. Dua tahun tanpa kabar, sekarang Melisa kembali dengan cara seperti ini. Menampakkan diri di depan gue dan kekasih gue, Alila.
“Aku minta maaf. Untuk dua tahun ini. Aku minta maaf karena tidak memberikan kabar,” ucap Yuri jujur. “Aku tidak menunggu kabarmu,” tegas gue. “Aku tahu ini kesalahan fatal. Tapi, hubungan kita belum putus, kan? Tidak pernah ada kata putus diantara kita, kan? Iya kan, Fath?” Yuri menyentuh tangan gue. Gue menghempaskan tangannya pelan. “Hubungan ini memang belum putus, tapi perasaan ini telah lama mati,” Gue menatap ke depan. “You have someone else?” suara Yuri terdengar bergetar. “Ya..” jawab gue singkat “Siapa?” tanyanya lagi. Kali ini dia mendekat ke arah gue. “Kamu nggak perlu tahu. Sama kayak aku dulu, yang nggak perlu tahu siapa seseorang itu,” sindir gue dalam.
            Yuri terdiam. Dia mengerti sekali, bahwa sekarang posisinya benar-benar salah. “Aku minta maaf, Fath,” Yuri kembali menyentuh tangan gue, kali ini lebih terlihat seperti menggenggam. Gue membiarkannya. Berpikir bahwa gadis itu benar-benar tidak tahu malu. “Apa aku masih punya kesempatan?” tanyanya. Gue menatap gadis itu. Sebulir air mata mengalir lembut di pipinya. Yuri menangis. Gue hanya menatapnya datar saja. Tidak ada lagi gue yang dulu selalu sigap menghapus air matanya ketika dia menangis. Tidak ada lagi gue yang selalu mengelus kepalanya ketika dia bersedih. Perasaan gue benar-benar telah mati untuknya.
“Perasaanku udah nggak kayak dulu lagi. Semuanya udah berbeda. Lagian itu sudah 2 tahun lalu. Cinta masa anak-anak. Sekarang aku sudah punya pilihan lain. Aku harap kamu ngerti,” gue berucap pelan. “Satu kesempatan, please,” Yuri terus membujuk. Gue melepaskan genggamannya, “Sorry, Ri, sekarang aku udah punya kisahku sendiri. Dan kamu berhak dapetin yang lebih baik dari aku,” Gue beranjak dari duduk, bermaksud masuk kembali ke dalam café untuk menemui Alila. Tapi Yuri justru menarik tangan gue. Gue terkesiap. Yuri masih sama seperti dulu, selalu berusaha keras untuk mendapatkan apa yang dia mau. Tapi tidak untuk hal ini, gue menghempasnya kasar. Dan segera berjalan cepat meninggalkan Yuri seorang diri. Masuk ke dalam café dan mengajak Alila untuk segera pergi dari sini.
* * *
Gerimis. Gue menatap sendu tetesan gerimis yang jatuh seirama dari langit. Bunga bougenvil yang berada di bawah jendela kamar telah basah. Saat itu pukul tujuh malam, gue berdiri mematung menatap jalanan dari balik jendela kamar. Semilir angin yang menggoyangkan pepohonan di depan rumah membawa serta kenangan masa silam yang berusaha gue tanam. Gue memejamkan mata. Semua memori tentang Yuri mulai berjatuhan membuat sakit kepala. Satu persatu muncul seperti slide film terburuk sepanjang masa. Gue segera membuka mata. Tak ingin larut dalam kenangan yang menyakitkan itu.
Gadis itu telah menggoreskan kenangan yang terlalu dalam di hidup gue. Terutama di bagian hati. Dia memanah cinta, namun panahannya terlalu dalam menusuk hati gue. Membuatnya rusak parah. Cinta pertama yang menyenangkan sekaligus menyakitkan. Yuri yang mengajarkan gue tentang cinta, dia jugalah yang menorehkan luka dan menyuruh gue mengobatinya sendirian. Gue tersenyum. Jauh dalam lubuk hati gue, gue merindukan gadis itu. Munafik jika gue berkata bahwa gue nggak rindu.
Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar. Tiba-tiba gue teringat percakapan dengan Yuri siang tadi. Yuri benar, saat dia memutuskan untuk pindah ke luar kota, hubungan mereka memang masih berjalan, belum ada kata putus. Lalu, jika sekarang Yuri kembali, apa itu artinya mereka masih jadian?
Kini, bayangan suara tawa Yuri jelas terngiang di telinga gue. Suaranya jelas terdengar. Bahkan, sekarang gue tak lagi bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang maya. Lelucon apa lagi ini, Tuhan? Kenapa gadis itu kembali lagi ke hidupku ketika aku sudah bersama Alila? Batin gue parau. Yang jelas, saat tadi Yuri menggenggam tangan gue, gue seperti merasakan ada desiran rindu yang hebat di dalam hati. Bolehkah gue menyalahkan takdir? Takdir yang dulu memisahkan gue dan dia, dan takdir jugalah yang kini mempertemukannya.
Gue mengusap wajah pelan. Bagaimana pun juga, gue harus melupakan Yuri. Sekarang gue punya Alila yang jauh lebih baik darinya. Ngomongin soal Alila, gue jadi teringat dengan ekspresi wajah tak suka yang tersirat di wajahnya tadi siang saat bertemu Yuri. Apa dia cemburu? Atau jangan-jangan dia telah berpikir macam-macam tentang gue?
Gue langsung tersadar, sejak pulang dari café tadi, Alila tidak ada sedikit pun mengirimkan pesan singkat untuk gue. SMS yang gue kirim juga tidak mendapat balasan. Apa mungkin cewek papan ujian itu marah? Gue segera meraih jaket, berlari meninggalkan kamar. Gue segera menuju rumahnya.
Hujan di luar mulai reda. Tapi angin masih berhembus dingin, menerpa gorden kamar Alila. Jam menunjukkan pukul delapan malam. Gue telah berada di bawah bingkai pintu kamar Alila. Dia menatap gue sekilas lalu kembali menatap jalanan malam dari atas balkon kamarnya. “Kenapa SMS gue nggak dibales? Lo sakit?” tanya gue sambil berjalan mendekat ke arah tempat Alila berdiri. “Enggak, lo ngapain malem-malem ke sini? Nggak biasanya,” ucap Alila datar.
Gue tahu bahwa ada sesuatu yang nggak beres. Sejak mengantar Alila pulang ke rumah, cewek papan ujian itu lebih banyak diam. Tidak seberisik biasanya. Pasti ada sesuatu yang sedang disembunyikannya. “Lo lagi marah ya sama gue?” tanya gue menatap wajahnya. Alila melirik gue sekilas, lalu menggeleng. “Keliatan banget loh ini,” Gue menarik ujung hidung Alila sambil tertawa. “Nggak lucu!” Pekik Alila kesal sambil mengusap hidungnya yang mulai memerah.
Usaha gue untuk mencairkan suasana gagal. Eril masih diam mematung. “Lo seriusan marah sama gue? Salah gue apa?” tanya  gue bingung. “Yang tadi siang itu siapa?” tanya Alila tanpa basa-basi. Oh, jadi ini masalahnya. Gue tergelak melihat ekspresi wajah Alila sudah manyun. Nggak kayak biasanya. “Temen lama. Kenapa? Cemburu, ya?” goda gue. “Temen lama kok pegangan tangan kayak mau nyebrang?” sindirnya. DEG! Jantung gue mencelos. Sial, Alila melihat semuanya. “Kayaknya itu bukan sekadar teman lama,” tambah Alila lagi.
Ya Tuhan… gue benar-benar terdiam. Niatnya untuk merahasiakan ini semua dari Alila terbongkar sudah. Alila pasti bertanya banyak tentang dirinya dan Yuri, lalu berspekulasi sendiri. Jadi tidak ada lagi yang bisa ia tutupi sekarang. “Ini semua nggak kayak yang lo pikir loh, Lil” ucap gue. “Gue sama dia udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Empat tahun dan kami baru ketemu sekarang. Ini cuma kebetulan,” jelas gue. “Jangan berpikiran macam-macam tentang gue dong. Gue gak pernah bohong kan sama lo,” tambah gue meyakinkan.
Alila berbalik, menatap wajah gue. Tentu ada hal yang wajar yang ditakutinya. Cinta pertama datang lagi. Tapi bukan berarti gue akan berpaling karena perasaan yang begitu besar pada gadis itu dulu. Gue yakin hal inilah yang membuat Alila gusar sejak pulang dari café siang tadi. “Jadi sekarang lo udah nggak percaya lagi sama gue?” tanya gue ingin tahu. “Kalo lo gak bisa percaya gue karena hubungan kita yang baru berjalan seumur jagung ini, harusnya lo bisa percaya karena sudah hampir 2 tahun kita bersahabat dan jelas lo tahu baik-buruknya gue seperti apa,” gue menambahi.
It’s called destiny. Dua tahun berpisah, tanpa kabar, dan sekarang kalian bertemu lagi. Ini yang disebut takdir,” ucap Alila pelan, matanya menerawang. Gue menghela napas panjang. Ini semua sama sekali tidak seperti yang Alila bayangkan. Ia salah paham. “Dia tampak sempurna, sangat berbeda dibanding gue,” Alila tersenyum tipis. Rasa minder kembali menyergapnya, gue tahu itu. “Gue udah siap kehilangan jika suatu saat nanti lo pergi untuk yang lebih sempurna dibanding gue. Sebab gue sadar, bahwa kebahagiaan tidak selalu berpihak pada gue,” Alila tersenyum tipis.
“Lo salah paham! Jadi stop banding-bandingin diri lo sama dia!” Ucap gue tegas. Gue menyentuh bahunya, namun dia menghindar. “Atau mungkin kita harus bertukar posisi. Agar lo gak terus merasa tersakiti. Dan gue juga gak lelah lagi untuk menjelaskan sampai inti,” kata gue sambil memijat kening yang berdenyut. Alila diam. Mencoba meresapi perkataan gue. “Maaf..” hanya itu yang keluar dari mulutnya. Gue menoleh, lantas mengacak rambutnya lembut seperti seorang kakak yang tengah menenangkan adiknya.

“Sekarang gue akhirnya tahu, bahwa cemburu itu mengerikan,” gue melirik Alila sekilas, lalu tertawa renyah. Alila meninju bahu gue keras, “Itu buat lo yang suka bikin gue kesel!” Kini hati gue lega. Alila sudah kembali seperti biasa. Suara cemprengnya kembali memenuhi gendang telinga. Pertanyaan seharian ini telah berlabuh pada jawaban yang tepat. Gue tersenyum, ternyata selain cemburu, salah paham itu juga mengerikan.

Perempuan yang Berlari dengan Sikunya (Terbit 30 Juli 2017, Nusantara News)

Tak ada yang lebih menyebalkan selain berjalan sendirian menuju rumah sepulang bekerja. Jalan setapak yang kulalui ini selalu saja sepi. Padahal jam masih menunjukkan pukul 8 malam. Seharusnya jalan ini masih ramai dilalui kendaraan seperti malam-malam sebelumnya. Tapi belakangan ini, isu-isu tidak mengenakkan mulai merebak ke telinga penduduk. Sehingga mereka lebih memilih berdiam diri di rumah, daripada harus keluyuran usai maghrib bertandang.
Jalan setapak ini basah, hujan membuat beberapa lubang di jalan itu tergenang air. Hawa dingin menyergap, membuatku segera merapatkan jaket. Malam gelap yang dingin membuat suasana jalan setapak ini terasa begitu mencekam. Aku berjalan menunduk, sampai tiba-tiba sudut mataku melihat sekelebat bayangan. Aku sigap menoleh, ah.. sial, gubuk kecil di bawah pohon besar itu selalu saja berhasil membuat bulu kudukku meremang. Gubuk yang tidak diketahui milik siapa itu, selalu mampu membuat aku takut melintas di jalan ini. Tapi mau bagaimana lagi, jalan ini adalah jalan yang paling singkat dan cepat menuju rumah.
Aku memperhatikan gubuk tua itu sambil berjalan perlahan. Mataku menelanjangi seluruh bagian dari gubuk yang tidak jauh dari jalan setapak ini. Gubuk tua yang masih kokoh berdiri itu berada tepat di belakang sebuah pohon besar tak jauh dari jalan. Selalu menarik perhatian karena hanya gubuk itulah satu-satunya yang ada di sekitar jalan setapak ini. Retinaku menangkap bayangan seseorang yang mulai terlihat dari jendela gubuk. Seorang perempuan yang kutaksir seusia denganku, tengah membersihkan sesuatu. Hanya sebagian dari tubuhnya yang kelihatan dari jendela itu. Sesudah melakukan tugasnya, perempuan itu segera menutup jendela tanpa tahu aku sedang memperhatikannya sejak tadi.
Pikiranku mulai berdiskusi, menanya dan menjawab sendiri. Siapa perempuan cantik itu? Bukankah selama ini gubuk itu hanya dipakai untuk warga yang tengah menjaga kebunnya di sekitar sini? Atau aku yang tidak tahu-menahu soal kedatangan penduduk baru yang menempati gubuk di jalan itu? Ah, entahlah.. barangkali aku mulai tidak acuh pada hal-hal di sekitarku karena beban pekerjaan yang selalu mengejar deadline. Pikiranku benar-benar tersita dengan pekerjaan, bahkan kekasihku pun ikut uring-uringan jika aku lebih menomorsatukan pekerjaan dibanding dirinya.
Aku tiba di rumah dengan suguhan teh buatan ibu. Meski telah sampai di rumah, pikiranku masih tertuju pada apa yang aku lihat di gubuk tua jalan setapak itu. Penasaran, kutanya ibu yang tengah menjahit seragam sekolah Beni. “Ibu tahu gubuk kecil yang ada di tengah jalan setapak menuju rumah kita?” tanyaku memandang ibu. “Gubuk tua di lahan Pak Karno maksudmu, Zal?” ibu bertanya balik padaku. Aku mengiyakan,”Kenapa memangnya?” tanya ibu lagi. Aku mendekat ke arah ibu, “Ketika melewati gubuk itu tadi, Zal melihat ada seorang perempuan cantik di sana, Bu. Ibu tahu dia siapa?” tanyaku antusias.
Ibu yang masih sibuk menjahit, dengan cepat menggeleng. “Barangkali keponakan Pak Karno, Zal.” Jawab ibu santai. Aku mengangguk perlahan, tapi pertanyaan di hatiku seolah belum terpuaskan oleh jawaban ibu. Aku melirik jam dan segera bergegas menuju kamar. Tapi kemudian, Beni datang dengan terengah-engah, membuka pintu dengan dengan sedikit mendobrak. Aku memelototinya, bikin kaget saja, batinku. “Ada pembunuhan, Bu,” cepat Beni memberi tahu. Kantukku serta merta hilang, berganti rasa penasaran dengan cerita yang baru saja dibawa Beni. “Pembunuhan di mana?” tanyaku ingin tahu. “Siapa yang dibunuh?” ibu tak kalah menyerbu.
“Nggak tahu namanya, Bu. Tapi yang jelas, pemuda yang sering membantu Pak Karno di kebunnya. Ada bekas sayatan di lehernya, panjang sekali. Hiii..” Beni bergidik ngeri. Aku menelan ludah,”Kapan kejadiannya?” tanyaku lagi. “Barusan, Bang. Di ujung jalan setapak itu. Pak Rahman yang tadi hendak ke masjid, menemukan mayat pemuda itu, sebab ada darah yang tercecer di sepanjang jalan,” Beni mengusap wajahnya. “Tega sekali…” ucap ibu berbisik.
Aku terdiam, mengapa tiba-tiba aku jadi merasa takut? Baru saja aku melewati jalan setapak itu, dan aku tidak melihat ada tanda-tanda bahaya di sana. Mengapa selang beberapa jam aku di rumah, ada kejadian mengerikan seperti itu? Bukankah tadi jalanan itu sepi sekali? Dan memang biasanya sangat sepi? Aku pamit pada ibu untuk masuk ke kamar, jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Besok masih ada pekerjaan penting yang harus kuselesaikan.
* * *
Aku baru akan berangkat kerja, ketika kulihat Beni tengah berkumpul di teras rumah dengan teman-teman sekolahnya. “Bang Hadi penjaga kebun Pak Karno itu, ternyata mati karena dibunuh hantu.” ucap salah seorang teman Beni. “Iya, padahal cerita itu sudah lama, ya. Hantu wanita yang pernah jatuh didorong seseorang tak dikenal di rel kereta api simpang jalan itu. Dan badannya terlindas hingga terbelah dua dibagian pinggang. Konon katanya ia selalu membawa sabit besar yang tajam dan berjalan mencari korban untuk balas dendam.” teman yang lain menimpali. Kulihat Beni hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan teman-temannya. Aku hanya mendengus sebal mendengar ucapan mereka. Dasar anak sekolah! Bisanya menggosip dan mengada-ada cerita saja. Aku menyalami ibu dan beranjak pergi bekerja, setelah sebelumnya melempar senyum kepada teman-teman Beni.
Aku merentangkan kedua tanganku. Berjam-jam menatap layar persegi empat ini, ternyata membuat mataku lelah. Aku mengucek mata dan melirik jam tanganku, pukul 9 malam. Ya ampun, ternyata kekasihku benar. Aku terlalu maniak dalam bekerja, hingga terkadang lupa waktu. Kubereskan semuanya dan aku beranjak meninggalkan ruang kerja. Beberapa teman masih sibuk menyelesaikan bahan untuk pertemuan besok. Aku pamit dan segera berlalu, mencari bis tercepat untuk bisa segera tiba di rumah. Tiba-tiba aku menjadi sangat rindu dengan teh buatan ibu.
Bis berhenti tepat ketika aku tiba di simpang jalan setapak. Aku turun sambil merapatkan jaket pemberian ibu. Usiaku 24 tahun, dan aku masih sangat menyukai semua barang yang dibelikan ibu. Dan kuakui, aku terkadang lebih manja dari adikku. Angin bertiup agak kencang, awan hitam mulai kelihatan menutup langit. Sepertinya hujan akan segera datang. Aku berjalan lebih cepat dari biasanya. Ah, kenapa aku harus pulang selarut ini? Aku mengutuk diriku sendiri, teringat kejadian malam kemarin soal pembunuhan Bang Hadi di ujung jalan. Juga terngiang percakapan ngaco Beni dengan teman-temannya pagi tadi. Padahal sejak tadi, aku sama sekali tidak memikirkan hal itu.
Tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak. Dan semakin bertambah tidak enak saat aku sadar bahwa aku harus melintasi gubuk tua di pertengahan jalan setapak ini. Dengan keberanian yang kubesar-besarkan, aku membaca bismillah dan berusaha menyeret kakiku untuk bisa segera tiba di rumah. Kubuang pikiran burukku jauh-jauh. Aku berjalan sambil bersenandung kecil, berusaha meminimalisir rasa takut. Jalan ini masih saja sepi, aku berdoa agar ada satu-dua orang yang melintas. Tapi nihil, jalan ini kosong melompong seperti pekuburan.
Tiba-tiba aku tersentak ketika mendengar suara aneh menyentuh gendang telingaku. Seperti suara seretan kaki yang dipaksa. Tapi aku tidak tahu suara itu berasal dari mana. Suara itu semakin jelas terdengar, ketika aku mulai mendekati gubuk tua itu. Aku menelan ludah, suara itu semakin menakutiku. Tiba-tiba, kakiku gemetar hebat ketika aku tak kuasa menerima apa yang telah aku lihat. Dibawah pohon besar yang menghadap utara itu, aku melihat seorang perempuan tanpa kaki tengah membersihkan sesuatu.
Wujud perempuan yang tak asing dimataku itu terlihat begitu mengerikan. Dengan tubuh yang hanya sebatas pinggang, tanpa kaki yang melengkapi. Kulihat dia memegang sabit tajam yang berlumuran darah. Dan astaga.. apa itu? Di belakang pohon besar yang terlihat retinaku, menjorok keluar kepala perempuan dengan rambut sebahu. Perempuan itu sudah tak bernyawa. Darahku berdesir hebat, merasa tak terima atas apa yang baru saja kusaksikan.
Perempuan yang memegang sabit itu adalah perempuan cantik yang malam kemarin kulihat di gubuk tua pertengahan jalan. Bulu kudukku sudah berdiri sejak tadi, tapi kakiku seakan tak bisa diajak kompromi untuk berlari. Aku menepi dan bersembunyi di balik pohon untuk melihat semuanya. Perempuan mengerikan itu berjalan menggunakan kedua sikunya sebagai penopang. Berjalan terseok-seok kesusahan untuk menyingkirkan mayat wanita yang telah dibunuhnya. Aku hampir gila melihatnya, betapa aku tidak mempercayai hal-hal mistik semacam itu. Tapi bagaimana mungkin aku bisa menyangkal lagi, jika sekarang kedua mataku menyaksikan hal semenyeramkan ini.
Tubuhku gemetar hebat, seumur hidup aku tidak pernah bermimpi dan berkeinginan melihat hal semacam ini. Ternyata apa yang diperbincangkan Beni dan teman-temannya pagi tadi adalah benar. Perempuan itu menggelindingkan jasad wanita yang berlumuran darah itu ke sudut jalan. Aku menahan napas, berusaha mengatur detak jantungku yang bertengkar. Lihat, wajah pucat miliknya terasa begitu menyeramkan. Dengan luka dipelipis kirinya yang dalam, membuatnya semakin tampak mengerikan. Usai menyelesaikan dendamnya, hantu perempuan yang memiliki tubuh sepinggang itu, menyeringai dingin.

Dia berlari menuju gubuk tuanya. Dia berlari dengan sikunya, terseok-seok menyeret dirinya untuk kembali bersembunyi. Sementara aku, berbalik arah dan berlari sekencang mungkin. Dengan degup jantung yang tak karuan, aku memilih berbalik dan melewati jalan lain. Aku tidak cukup berani melanjutkan langkah melewati gubuk tua itu. Keringat dingin masih membanjiri tubuhku hingga aku tiba di rumah. Ketika ibu membuka pintu, aku tersenyum dengan wajah yang aku yakin lebih pucat dari orang sakit. Sedetik berikutnya, aku limbung, tersungkur, dan kudengar teriakan ibu memanggil Beni. Setelahnya, aku tidak ingat apa-apa lagi.

Merayakan Luka (Terbit 05 Agustus 2017, Buana Kata)

Ketika diksiku tak lagi mampu membuatmu yakin bahwa rumahku masih cukup hangat untuk kau tinggali. Ketika ujarku tak lagi bisa menahan langkahmu untuk tidak beranjak pergi. Ketika harapku pun tak lagi bisa menghentikan keputusanmu untuk lari dan menyendiri. Ketika itu pula, aku meragukan rasa yang pernah kita jaga bersama. Apakah memang sebesar itu? Atau waktu memang telah lelah untuk memaklumi semua keegoisan kita?
 Aku tidak pernah ingin berada di posisi ini. Bahkan untuk membayangkannya saja aku enggan. Meski sakit, aku selalu mampu membujuk hatiku untuk tetap mempertahankanmu. Menjalani semuanya sekalipun kau berbuat salah. Aku berusaha menelan semua kecewa agar tak pernah kita berpisah. Aku berusaha meminimalisir luka, memaafkan agar kita tetap bahagia. Aku tahu kau pun turut melakukan hal yang sama. Namun, apakah kali ini kita benar-benar menyerah?
Kau memaksaku untuk melupa. Kau memaksaku untuk berjalan sendiri. Kau memaksaku untuk pergi. Meski aku tidak ingin, aku kembali melakukannya untukmu. Dan kali ini, sakitnya melebihi batas mampuku. Haruskah kita berakhir dengan cara seperti ini? Haruskah kau mengusirku dengan paksa dari hatimu? Ataukah kau telah menemukan seseorang yang baru?
Aku berusaha untuk tidak menangis ketika menuliskan ini. Sebab aku tahu, kau juga tidak akan menangis ketika membacanya nanti. Untuk sekadar kau tahu, perasaanku masih bertahan di tempat semula. Tidak akan pernah bergeser sedikitpun dari sana. Tak akan pernah berubah meski ada seseorang yang menawarkan bahagia. Kau perlu tahu, mencintaimu tidak pernah benar-benar sederhana. Aku mencintaimu dengan segala upaya terbaik yang kupunya. Aku memperlakukanmu dengan sangat istimewa. Meski sesekali kau merasa akulah penyebab segala luka.
Maaf, jika selama mencintaiku kau begitu kelelahan. Maaf, jika selama bersamaku aku begitu menyebalkan. Aku hanya sedang berusaha mencintaimu dengan baik, meski di matamu segala usahaku tak pernah terasa penuh.  Hari ini, aku kembali mengais-ais ingatan tentangmu. Tentang perjalanan kita melewati purnama-purnama. Tentang sedih bahagia yang kita cipta bersama.
Senja beberapa waktu lalu, kita masih menghabiskan waktu bersama. Duduk di taman berdua. Dan bercerita tentang apa saja. Aku masih bisa menatap wajah teduhmu dari jarak sedekat itu. Juga merasakan tawa bahagiamu yang memenuhi gendang telinga. Kita bicara tentang masa depan. Tentang hal-hal yang ingin kita capai bersama. Tentang impian yang ingin diwujudkan berdua.
Barangkali kita lupa, bahwa kita pernah melewati masa-masa paling sulit. Lebih sulit daripada saat ini. Tapi kecewaku adalah mendapati kenyataan bahwa dengan mudahnya kau menyerah. Begitu mudahnya kau melupakan segala. Kau lupa bahwa akulah perempuan yang rela menerima semua kekuranganmu. Akulah perempuan yang menangis ketika rindu kamu. Dan akulah perempuan yang selalu berdoa untuk kebahagiaanmu. Kau lupa menghitung berapa banyak airmata yang pernah tumpah atas namamu. Kau lupa menghitung berapa banyak sakit yang dipertaruhkannya bersamamu. Kau lupa menghitung berapa banyak cinta yang dijauhinya demi kamu.
Tidak. Aku tidak perlu menjelaskan seberapa banyak buih perasaan yang kupunya untukmu. Aku paham, kau mengerti jika soal ini. Kau hanya tidak paham, bagaimana cara menyelamatkan hatimu dari rasa marah. Sekuat apapun kini aku berusaha, kau tidak akan merubah prinsip itu.
Pergilah, jika rumahku kini tak lagi menghangatkanmu. Pergilah, jika kurangku terasa memberatkanmu. Pergilah, jika bahagiamu bukan lagi terletak padaku. Jangan khawatir, aku sudah bersahabat dengan luka sejak lama. Aku hanya harus terbiasa dengan dunia yang tanpamu. Aku hanya harus terbiasa saat membuka mata dan tidak lagi menemukanmu pada tempat yang sama. Bukankah setiap pertemuan memang akan bermuara pada kata pisah? Bukankah bahagia juga bisa berganti menjadi labirin luka?
Kembalilah, jika di kemudian hari kau tidak menemukan bahagia pada hati lain. Kembalilah, jika suatu hari nanti kau kembali merindu kisah kebersamaan kita. Sejatinya, kau tidak pernah menempati ruang benci di dalam hatiku. Untuk saat ini, bantulah aku untuk bisa menerima keadaan. Bantulah aku untuk menyembuhkan hati. Dengan cara pergi dan jangan menoleh lagi. Setidaknya sampai aku bisa melupakan rasa sakit ini. Setidaknya sampai perasaanku mati di kemudian hari.

untuk seseorang

yang kerapkali kubuat patah hatinya

Fin dan Penyaring Mimpi (Terbit 23 Juli 2017, Harian Medan Pos)

Sisa minggu itu berjalan begitu cepat hingga Fin tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain selain perkataan Mama. Sore itu Mama membuat keputusan yang sebenarnya tidak pernah disetujuinya. Bagaimana tidak, Mama membawa kabar baik sekaligus kabar buruk di sore cerah itu. Kabar baiknya, Mama dan Dokter Ivana bersepakat akan memberikannya terapi bertahap untuk meminimalisir gangguan disleksia yang dideritanya. Kabar buruknya adalah Mama meminta pihak sekolah untuk memberikan izin yang cukup lama, agar Fin bisa berkonsentrasi pada terapi itu untuk kesembuhannya.
Tapi ia tak bisa membantah. Besok adalah hari terakhirnya bersekolah. Hari terakhirnya duduk berdampingan bersama Yoana. Hari terakhirnya mendengar guru menjelaskan di depan kelas. Hari terakhirnya bertemu Agil. Ah, anak laki-laki itu terlalu sulit untuk dilupakan. Bahkan dalam keadaan seperti ini pun, dia masih tetap berada di sisi Fin. Bagaimana mungkin ia akan melupakan segala cerita hangat yang selalu Agil lukiskan di kanvas kosongnya selama ini?
Tanpa ia sadari, sabtu malam pun tiba dan bersama Agil, ia tengah berada di taman Ayodia. Cuaca masih terasa dingin, habis hujan. Fin merapatkan sweter, menatap sekitar. Taman ini tidak terlalu ramai, juga tidak sepi. Agil mengajaknya bersantai sambil memandang air mancur di taman seluas tujuh ribu meter persegi ini. Ada banyak bangku yang tersedia. Fin bisa melihat banyak pedagang penjual makanan di pinggir taman. Agil baru saja kembali, membawa dua buah roti bakar dan dua gelas cokelat panas. Menyerahkannya pada Fin, tersenyum sambil berkata, “Sepuluh ribu,” Fin tertawa mendengar candaannya. Lantas Agil duduk di sebelahnya.
“Boleh aku tanya sesuatu?” Fin menoleh ke arah Agil yang masih asik mengunyah roti bakarnya.
“Apa?”
“Apa pendapatmu tentang perpisahan?”
Pertanyaan Fin membuat Agil berhenti dari aktivitas santapnya. Dia menoleh, memandang wajah Fin dari arah kiri. “Menyakitkan. Aku benci perpisahan,” Agil merasakan ada getar dalam suaranya. Entahlah, tiba-tiba dia merasa ada yang aneh menelusup masuk dalam hatinya.
“Kenapa kau menanyakan itu?”
Fin menggeleng, lantas tersenyum. Senyuman hambar. Tidak ada energi bahagia dalam senyumannnya kali ini. Agil merasakan ada sesuatu yang hendak disampaikan gadis itu. Angin malam berhembus, meneriapkan anak rambut Fin. Poninya sedikit menutupi matanya. Roti bakar itu tak tersentuh. Entahlah apa yang tengah dipikirkannya.
“Maukah kau melakukan satu hal untukku?” Fin bersuara lagi.
Abi mengangguk.
“Jangan temui aku lagi besok, lusa, dan sampai waktu yang belum bisa kutentukan. Jangan temui aku sebelum aku yang memintanya,” suara Fin terdengar datar.
“Kau bergurau? Ini tidak lucu,” Agil tertawa sinis. Ada perasaan takut dalam hatinya. Kali ini jauh lebih besar dari sebelumnya. “Tidak. Aku serius. Kau tahu kan aku sakit. Aku butuh pengobatan. Aku tidak ingin kau menghabiskan waktumu dengan mengurusiku,” Fin mencoba tersenyum. “Kau harus mengerti,”
“Jangan bercanda! Aku sudah bilang sejak awal mengenalmu, itu semua bukan alasan. Jangan memintaku melakukan sesuatu hal yang tak bisa kulakukan,” Agil mengatupkan gerahamnya.
“Kau bisa. Kau pasti bisa melakukannya,” Fin tersenyum, mengusap bahu Agil pelan. “Mulai senin, aku tidak lagi datang untuk sekolah,”
“Kau kenapa? Ada apa sebenarnya? Fin, beritahu aku,” Agil mengguncang bahu Fin. Raut wajah khawatirnya tak dapat lagi ia sembunyikan. Fin menceritakan padanya tentang sore itu, tentang terapi yang akan dijalaninya. Sebelum akhirnya penjelasan itu benar-benar berakhir, Fin bertanya apakah ada yang bisa diharapkan lagi dari dirinya untuk hubungan ini.
“Kau tidak sendiri,” Agil mengusap kepala Fin lembut. “Tidak, aku bisa mengatasi semuanya. Kau harus percaya padaku,” Fin menyentuh ujung hidung Agil, lalu ia tertawa. Tawa yang tentu tidak mengandung molekul bahagia. Tawa yang ia buat semata-mata untuk menenangkan Agil, bahwa ia akan baik-baik saja.
“Kau sayang padaku?” tanya Agil. “Ya, tentu saja. Tidak ada yang keliru tentang itu,” Fin menjawab mantap.“Berjanjilah padaku kau akan sembuh,” Fin tersenyum, lalu mengangguk.
“Bagus,” jawabnya, walaupun membayangkan tidak bertemu Fin sehari saja membuatnya begitu khawatir. “Ahh ya, aku punya sesuatu untukmu,” Agil mengeluarkan sesuatu dari saku jaket birunya.
“Ini..” katanya menyerahkan benda itu ke tangan Fin.  Fin meletakkan cokelat panasnya di bangku kosong sebelah.  “Dream Catcher?” dia bergumam pelan, menatapnya tak percaya. Agil tersenyum, lantas mengangguk mantap. “Iya! Dream Catcher. Atau yang biasa orang sebut sebagai penangkap mimpi. Ini pada tradisi orang-orang penduduk pribumi Amerika. Mereka menggantungkan sebuah jaring-jaring simbolis di atas tubuh seseorang yang sedang tidur untuk melindunginya dari mimpi buruk,”
“Kenapa kau memberikan ini untukku?” Fin menatapnya sekali lagi.
“Aku memberikannya karena aku ingin,” Agil tersenyum. “Di beberapa buku, aku pernah membaca bahwa seseorang yang memberikan Dream Catcher merupakan sepasang kekasih yang ingin sekali menjaga pasangannya namun di luar batas kemampuannya. Menjaga sang kekasih dari mimpi buruk dan menangkap mimpi-mimpi baik untuk dimasukkan ke dalam mimpi kekasihnya,”
Fin masih memperhatikan media penyaring mimpi itu. Dream Catcher berwarna biru muda ini terlihat begitu indah dipandang mata.  Sebuah simpul kayu berbentuk lingkaran yang di dalamnya terdapat sebuah jaring anyaman dengan lubang di tengahnya. Di bagian bawah lingkaran kayu itu terdapat dua atau lebih bulu yang tergantung-gantung. Sempurna. Fin bahkan tidak pernah berpikir Agil akan memberikannya benda istimewa ini. Dia suka, sangat suka. Sama sukanya seperti Agil yang menyukai benda-benda mitos seperti ini. Seperti teru-teru bozu yang pernah diberikannya beberapa waktu lalu. Benda mitos yang kini telah berubah menjadi trend fashion.
“Supaya kau terhindar dari mimpi buruk. Dream Catcher ini akan menyaring mimpi-mimpi dari udara malam, dan hanya akan membiarkan mimpi-mimpi baik dan pesan positif saja yang akan masuk ke dalam mimpimu,” Agil mengacak lembut rambut hitam Fin. “Sebab aku tak selalu bisa menjagamu,” tambahnya. Kalimat terakhirnya membuat mata Giska berkaca-kaca. “Terima kasih,” ucapnya singkat.
“Oh iya, selama aku tidak ada. Kau jangan coba-coba selingkuh. Apalagi dengan mantanmu itu,” seloroh Fin.
Agil tergelak, “Kenapa? Kau cemburu?”
Fin merengut, mencubit pinggang Agil kencang.
“Aww, lagi dong?” Agil tertawa, tubuhnya berguncang hebat. Fin pun begitu, di tinjunya lengan Agil pelan.
Suasana malam yang indah. Meski esok dua insan itu tak lagi bertemu. Fin melarang Agil menemuinya, sebab dia tak ingin Agil sedih. Dia tak ingin Agil terlalu mengkhawatirkannya. Kelak, ketika ia sudah lebih sehat, dia yang akan menemui anak laki-laki baik hati itu. Keramaian di taman itu sudah hampir padam. Langit semakin gelap, Fin melihat Agil melirik jam di pergelangan tangannya.
“Balik, yuk. Udah larut, nih,” Agil meminta persetujuannya.

Fin mengangguk, lantas Agil menjabat tangannya erat dan menatap matanya dengan pandangan pekat. Tiba-tiba saja ia merindukan dunia yang sejak dulu ingin diselaminya. Fin pun menyambut genggaman tangan Agil dengan hangat. Melangkah bersama menuju motor yang di parkir di pinggir taman. Sebelum angin malam kembali menerpa wajahnya, menandakan hujan akan segera turun, Fin mendekapnya. Seolah tidak ingin berpisah lama. Agil memang menyebalkan. Namun di sisi lain, dia juga menyenangkan. Fin tersenyum, rasanya ia tak ingin malam ini segera habis.