Total Tayangan Halaman

Senin, 27 November 2017

Di Sudut Pendopo Kampus (Terbit 26 November 2017, Harian Medan Pos)

Pendopo ini masih lengang. Tidak ada yang mampir kecuali dingin dan sisa air hujan yang menempel di bangkunya. Tidak ada yang hadir kecuali ingatan tentangmu yang berlompatan keluar. Tidak ada yang mampu kutahan, saat jemariku dengan lihai menuliskan kembali diksi indah tentang wajahmu. Dan lagi-lagi, pendopo ini menjadi saksi bisu atas kelakukan rinduku. Tumpah ruah segala ingatan yang kutanam dalam-dalam. Mencabik pondasi kekuatanku untuk tidak menumpahkan air mata.
Menginjak tahun terakhirku di kampus, izinkan aku mengais kembali kenangan tentang masa silam yang pernah kutitipkan pada matamu. Jauh sebelum aku menyadari, Tuhan pernah menempelkan cinta pada pelupuk mata ini. Bertuankan namamu yang hingga sekarang melekat di hati. Sulit bagiku melupakan cinta pertama. Apalagi saat kondisi pahit berbenturan dengan segala asa yang hampir patah. Menyadari tidak ada kamu di sini lagi, seperti kehilangan pegangan saat kapalku mulai goyang.
Ada banyak yang harus kupikirkan, dan semuanya tidak seberat dulu saat hatiku masih memilihmu. Menautkannya dan berpegangan erat pada nama dan nasihat-nasihatmu. Aku butuh. Aku rapuh. Butuh kamu di saat aku tidak mampu memilih mana yang paling baik untuk diriku. Rapuh karena sekarang aku merasa akan jatuh dan melangkah bersama ragu. Tolong, kembalikan masa-masa sakit karena mengharapkanmu. Bagiku, itu lebih baik daripada harus menanggung sakit karena bersama cinta tidak pernah berbuat baik.
Aku memandang sekeliling. Pendopo ini menguarkan aroma kerinduan yang teramat dalam. Masa-masa nakalku mencuri pandang aktivitasmu. Masa-masa bodohku memperhatikan gerakmu dari sudut pendopo ini. Tidak ada yang hal-hal berarti yang kudapatkan sejak duduk di pendopo ini dan memanjakan retinaku dengan bayangmu, kecuali satu; ketenangan.
Jangan tertawakan, ya. Sebab itu adalah kelakuan bodoh mahasiswi semester satu yang baru tersentuh cupid merah jambu. Dan menjadi mahasiswi semester akhir yang kembali menziarahimu dalam kenangan paling jauh. Kupikir masa-masa sibukku di kampus ini akan menghapus kamu dari ingatan. Nyatanya, pendopo ini saja masih menyimpan kamu di sudut-sudut tiangnya. Lalu, harus kuapakan rindu yang hampir tumpah ini?
Menutup kran-nya dan kembali ke dunia nyata. Atau kubuka saja kran-nya agar rinduku tidak menjadi pesakitan. Pada akhirnya semua kembali ke pilihanku sendiri. Kamu, sadarkah bahwa sampai detik ini ada perempuan yang sakit karena merindukanmu? Yang bahkan rela berjam-jam menuntaskan rindunya lewat tulisan di sudut pendopo kampus. Tempat di mana ia pertama kali menjatuhkan hatinya padamu. Pada kesederhanaan dan kedewasaanmu.
Tidak. Aku tidak lagi mengharapkanmu. Tidak lagi mencatut namamu dalam doa. Mengadukan dan memintanya pada Tuhan. Karena toh sebenarnya jodoh itu sederhana. Kita sibuk berdoa dan Tuhanlah yang tetap bisa menentukannya. Aku belajar dari mencintai rasa sakit, bahwa sesungguh rasa adalah menyimpannya dalam diam dan tidak merasa memiliki seutuhnya. Begitu pun kamu. Sesederhana itu aku memaknai rindu atas wajahmu.
“Bagaimana kuliahnya?”
“Lancarkah menulisnya?”
Dua pertanyaan yang tidak pernah alpa tiap dulu kita berjumpa. Bahkan sampai detik ini, kamu selalu menanyakan hal yang sama. Pertanyaan basa basi-kah? Atau memang hanya itu yang berputar dalam kepalamu ketika mengingat aku? Tidak bisakah kamu menanyakan hal-hal yang membuatku tersenyum? Seperti “Bagaimana perasaanmu? Masihkah mencintaiku?” Ah, maaf. Jika rinduku telah tumpah dan membanjiri pendopo ini. Hingga pikiranku dipenuhi dengan pertanyaan bodoh yang membuatku malu sendiri.
Mana mungkin kamu akan menanyakan itu. Kamu bukan tipikal lelaki seperti itu. Bahkan untuk sekadar mengintip apa yang ada di hatimu saja aku belum mampu. Pernah kucoba tapi tidak berhasil. Terlalu rapat kamu menyimpan segalanya. Terlalu erat kamu merahasiakan semuanya. Kamu tidak menjauhiku. Kamu juga tidak mendekatiku. Semuanya berjalan laksana perintah Tuhan.
Titik-titik rindu ini membuatku sadar, bahwa sesungguhnya kini aku tidak lagi ada dalam wadah itu. Bahkan untuk menceritakan kegundahanku padamu saja rasanya sudah tak pantas. Kuputuskan untuk tidak menyukaimu lagi waktu itu. Padahal hatiku seperti kutub utara dan wajahmu seperti kutub selatan. Yang mana akan selalu tertarik saat kita berdekatan. Ah, bagaimana juga aku yang memutuskan. Untuk tetap mencintaimu atau pulang meninggalkanmu.
Aku menghela napas dalam-dalam. Mendongakkan kepala agar bulir air mata tidak jatuh ke bawah. Bagaimana bisa aku terbawa suasana saat kembali menuliskan tentangmu di sudut pendopo ini. Matahari mulai merangkak naik, cahayanya persis seperti dulu saat kita berkegiatan di sini. Apa kamu tahu, semua slide-slide itu berlompatan dari kepalaku. Rinduku belum juga usai, sementara pendopo ini mulai dipadati mahasiswa lain.
Konsentrasiku buyar. Namun rinduku tidak. Gilanya, aku bahkan berharap ada wajahmu di antara kerumunan itu. Mataku haus menatap wajahmu diam-diam. Memperhatikannya dengan perasaan yang dalam. Untuk kemudian mengalihkannya cepat-cepat karena takut ketahuan.
Apa kamu tahu, banyak sekali perasaan bimbang yang hadir di benakku saat ini. Berpikir keras apakah jalan melupakanmu adalah keputusan terbaik. Atau hanya akan menumbuhkan rasa susah sendiri di hatiku. Nyatanya, aku kelimpungan menghadapinya seorang diri. Di saat aku merasa telah salah memilih jalan dan merasa sendirian menghadapinya. Meski saat dulu pun aku tetap sendirian tanpa kamu tahu bagaimana bentuk perasaanku.
Bantu aku menumpahkan kesusahan ini. Semester akhirku sudah menyita banyak pikiran, bagaimana lagi aku akan menghadapi hal-hal buruk di luar itu? Aku hanya bisa meluapkannya lewat air mata, menangisi segalanya. Andai aku tidak melangkah sejauh ini, tentu aku masih bisa sebahagia dulu. Tanpa ada beban pikiran yang berarti.
Ketahuilah, menjadi aku tidak mudah. Spesies perempuan yang sulit mengatasi hatinya sendiri. Yang selalu kesusahan menempatkan diri. Bahkan terlalu lugu menerima segala perhatian orang lain.  Tak perlu kusebutkan semuanya, pendopo ini jelas tahu sekali bagaimana rindu perempuan ini. Sebab ia telah membanjirinya dengan kata-kata.
Kamu, menyehatlah selalu dalam doaku.
Berbahagialah atas segala pilihan dan pekerjaanmu sekarang. Tidak usah mencemaskan rindu yang berlebihan dari gadis bodoh ini. Ia sudah lega ketika mendoakan segala yang baik atas namamu. Tidak lagi memintamu pada Tuhan. Tidak lagi mengharapkan perhatianmu yang memang sebenarnya tidak akan mungkin terjadi untukku.
Sudahlah. Pendopo semakin ramai. Aku harus memunguti rindu ini sebelum jam perkuliahan dimulai. Sebelum terinjak sepatu mahasiswa lain. Pendopo ini telah membantuku menuntaskan rindu meski tanpa melihat wajahmu. Sudutnya masih basah oleh titik rindu yang terbuang. Meski begitu aku tenang. Terima kasih telah bertandang ke pikiranku sepagi ini. Membuat hangat pendopoku kali ini. Baik-baik di sana. Dengan doa yang tak terputus. Dengan harapan yang tak tergerus.

Hari Ketika Kau Pergi (Terbit 19 November 2017, Harian Medan Pos)

Giska menyandarkan kepalanya ke bahu Abi, seperti yang sering ia lakukan setiap kali bertemu. Tapi hari ini beda, gadis itu juga menggenggam lengannya sedikit kencang, seakan-akan takut berpisah jauh. Wangi sampo yang menguar dari rambut panjang Giska memenuhi indera penciumannya. Desahan napas gadis itu seakan desahan napas terindah yang pernah didengar Abi. Saat itu mereka sedang berada di padang rumput yang penuh dengan dandelion. Giska tidak melepas genggaman tangannya barang sedetik pun. Ia menggumam pelan, seperti hendak mengatakan sesuatu.
“Abi…” suara Giska terdengar bergetar di bahunya. “Ya?” sahutnya lembut. “Aku lelah. Lelah sekali. Kau tahu, ini adalah hari paling melelahkan dalam hidupku,” “Kau sakit?” tanyanya khawatir. Giska mengangguk. Selama mengenalnya, Abi bahkan tidak pernah melihat Giska menunjukkan bahwa ia sakit. Meski gadis itu menderita disleksia sejak kecil, tapi Giska tidak pernah mau menyebutkan bahwa dirinya sakit. Ia berusaha tampak sehat. Bahkan tidak pernah mau dibilang sakit. Tapi kali ini kenapa? Kenapa ia malah menganggukkan kepala? Apa ia sekarang sedang benar-benar sakit? Abi bertanya dalam hati, menerka-nerka jawabannya.
“Aku lelah, Bi. Aku ingin tidur. Tidur panjang sampai waktu yang tidak bisa kutentukan,” ucapnya gemetar. “Apa yang kau katakan?” Abi menggeser duduknya, membuat Giska terpaksa mengangkat kepalanya dari bahu itu. Lantas keduanya bersitatap. Abi menatap dalam mata hazzel itu. Ia berusaha keras menyelami apa yang ada dipikiran gadis itu lewat mata indahnya. “Kau.. baik-baiklah di sini. Aku perginya lama. Jangan menungguku. Lanjutkan sekolahmu. Ah iya, sebentar lagi kita lulus, dan kau akan melanjut kuliah. Belajarlah dengan giat, jangan kecewakan orang tuamu,” Giska mengusap lembut pipinya.
Abi tidak mengerti dengan segala ucapan Giska. Namun tanpa sadar, setetes air mata luruh dan mengalir lembut di pipinya. “Jangan menangisi aku. Jangan keluarkan air matamu untuk orang tak berguna sepertiku,” Abi sudah menyentuh bibir gadis itu dengan telunjuknya. Ia tidak mengatakan apa-apa selain menatap mata gadis itu dengan penuh kesedihan. Ia berada bersama gadis yang selama ini mengharapkan kekuatan darinya. Tetapi apa yang terjadi sekarang? Ia menangis, merasa putus asa dan dikuatkan oleh seseorang yang justru seharusnya ia hibur. Seketika itu juga Abi mengambil keputusan. Dihapusnya pipi yang basah. Ia tidak boleh menangis lagi! Dengan tangannya yang bebas, kedua telapak tangan Giska diremasnya kuat.
“Maafkan aku, Giska,” katanya, suaranya masih parau. “Seharusnya aku tidak boleh memperlihatkan kelemahan hatiku seperti ini di depanmu,” Lewat matanya yang masih buram oleh air mata, ia lihat Giska tersenyum. Mata gadis itu tampak merah. “Abi…” bisik Giska parau. “Sesungguhnya aku bahagia pernah mengenalmu. Aku bahagia pernah menjadi orang paling penting di hidupmu. Dan aku bahagia pernah menjadi orang nomor satu dalam hatimu,” Abi tersenyum. Dirasakannya lagi matanya terasa panas.
“Giska, aku mencintaimu…” bisik Abi. Dan untuk pertama kalinya, ia mencium kening gadis itu. Ia pejamkan matanya lama. Air matanya ikut tumpah, membasahi poni Giska. “Aku lebih dari itu, Bi,” bisik Giska kemudian. “Jaga dirimu baik-baik,” Lalu Abi tersentak. Ketika Abi membuka matanya, dia tak menemukan Giska di sampingnya.
Ia terbangun dari tidurnya. Yang dilihatnya hanyalah ruangan putih dengan bau obat yang begitu menusuk hidung. Ini semua hanya mimpi? Tanyanya dalam hati. Ia menyentuh sudut matanya, basah. Abi benar-benar menangis. Ia sendiri masih bingung dengan mimpi barusan. Otaknya kembali memutar kenangan tentang Giska. Gadis itu… aku harus melihatnya, batinnya. Perlahan Abi bangun dan keluar dari ruangan itu. Kesehatannya sudah jauh lebih baik dari kemarin. Jadi ia merasa tidak ada masalah jika ia pamit untuk kabur sebentar ke ruangan Giska. Sekarang ia sudah tiba di lorong rumah sakit di lantai tiga, ketika dilihatnya beberapa orang suster terburu-buru keluar dari sebuah ruangan.
“Pasien yang baru masuk dua hari lalu, bagaimana keadaannya?” tanya seorang Dokter dengan napas yang sedikit terengah-engah. Abi berpikir bahwa Dokter itu baru saja berlari, mengejar waktu untuk sampai ke ruangan salah satu pasien. “Pasien itu… telah meninggal dunia, Dok,” jawab sang suster. Dokter segera berlari menuju ruangan yang disebutkan sang suster itu, “310, Dok,” teriak sang suster sesaat sebelum Dokter beranjak pergi.
DEG! Jantung Abi seakan berhenti berdetak mendengarnya. 310? Abi tidak bisa mengendalikan perasaannya. Ia seakan dijatuhkan ke dasar jurang paling dalam lalu ditimpa batu besar yang amat menyakitkan. Dengan segala kekuatan yang tersisa, ia mencoba berlari menuju ruangan itu, ruangan yang tidak lain adalah ruang rawat Giska. Ia mendorong pintu itu pelan, berusaha memastikan bahwa apa yang didengar dan dilihatnya kini berbeda. Ia berharap pasien di ruangan itu bukanlah Giska. Ia berharap Giska telah dipindahkan ke ruangan lain dan yang meninggal dunia bukanlah kekasihnya.
Namun apa yang dipikirkan dan diharapkannya tak akan pernah terjadi. Sebab ketika pintu itu terbuka, ia melihat Kiki dan Mario yang tengah banjir air mata. Kiki menatapnya dengan tatapan yang sangat menyayat hati. Ia bahkan tidak lagi sempat berpikir mengapa Abi bisa ada di sini sekarang. Abi melangkah masuk, mencoba mengajak kaki-kakinya berdamai agar mau bergerak. Dilihatnya Dokter dan para suster membereskan alat-alat medis yang awalnya memenuhi tubuh kekasihnya. Oksigen, selang infus, dan beberapa alat medis yang bertebaran di tubuh Giska.
Dia telah sampai tepat di samping Mama Giska. Wanita paruh baya itu tak sanggup lagi menahan bongkahan kesedihan yang menjalari hatinya, perempuan itu menubruk tubuhnya, memeluknya kencang, dengan isakan yang menyayat perasaan. Abi hanya merasa tubuhnya sudah bergetar hebat. Air matanya sudah mengalir deras sejak tadi, meski tanpa ekspresi. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya kini. Di depan kedua matanya, gadis itu diam tak bergerak. Tidak ada lagi hembusan napas di sana. Tidak ada lagi nyawa di tubuh mungil itu.
Giska benar-benar telah berbeda. Meski ia masih tetap cantik di balik wajah pucatnya. Abi menggenggam tangan Giska. Dingin. Tak ada lagi aliran darah yang mengalir di sana. Abi menggigit bibir bawahnya kuat sekali. Ingatannya kembali pada malam terakhir ia bersama Giska. Es krim. Candaan hangat. Mawar putih. Kecelakaan itu. Tubuh Abi bergetar hebat, tangisnya meledak. Ia masih menggenggam tangan dingin itu. “Buka matamu, Giska,” katanya tertahan. Semua yang ada di ruangan itu menatap Abi sendu.  “Ayo, buka matamu. Kau berhutang banyak padaku. Kita masih harus bersama. Kita masih harus menyelesaikan ujian. Masih banyak yang belum kita lakukan bersama,” Abi menjambak rambutnya. “Maafkan aku, Giska. Maafkan aku,” isaknya lagi.
Kiki mendekat ke arahnya, merangkulnya dari belakang. Sungguh berat cobaan ini. Tak pernah ia menyangka Giska secepat ini pergi dari sisinya. Kehilangan ini benar-benar memukulnya habis-habisan. Rasanya ia direnggut dari tempat yang masih ingin ia nikmati. Mengapa secepat ini? Mengapa harus dengan cara seperti ini? Salahku. Ini benar-benar salahku, bisik Abi dalam hati.
Percuma. Ia tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi pada Giska. Masalah penyakit itu, ia banyak membeli buku-buku yang berkaitan dengan disleksia. Ia paham bahwa disleksia tidak akan mengambil Giska darinya. Buku-buku itu memberinya pemahaman bahwa disleksia hanya sebatas kelainan disfungsi abu-abu pada otak. Tapi Tuhan tetap menginginkan Giska. Ia ambil Giska dengan cara seperti ini. Bahkan Tuhan tak membiarkannya menatap bola mata indah itu untuk terakhir kalinya. Abi mengusap wajahnya. Hatinya bertambah sakit mengingat itu semua. “Selamat tidur, Giska,” ucapnya lirih. Mulai sekarang kita tak bisa bertemu lagi, tambahnya dalam hati.
* * *
Rabu mendung di rumah Giska. Selepas Dzuhur jenazahnya akan dimakamkan. Semua yang hadir memakai pakaian berkabung dengan tatapan kosong di udara. Isak tangis terdengar bersahut-sahutan memenuhi udara. Abi memejamkan matanya. Pikirannya berjalan. Terlalu banyak memori indah yang digoreskan gadis itu di hatinya. Ini ada kali kedua ia menangis sejak tiga tahun belakangan. Terakhir ketika Melisa pergi meninggalkannya tanpa sebab. Dan kini, ia harus kembali merasakan kehilangan. Bahkan lebih dalam dari sebelumnya
Dia harus kuat, harus. Mimpi itu, adalah salah satu cara Giska memberitahu bahwa ia terlalu lelah di dunia ini. Giska bahkan masih mau menemuinya dalam mimpi meski saat itu ia tak sedang memikirkan gadis itu. Abi melangkah mendekat beberapa meter dari tempat dimana Giska dibaringkan. Ia ingin menatap gadis itu untuk yang terakhir kalinya. Ia yakin, Giska pun ingin melihatnya meski dengan mata tertutup. Tangannya terus dikepal dan bibirnya terus menerus digigit agar ia tak menuruti keinginan hatinya untuk menubruk tubuh mungil yang terbaring tenang di tengah ruangan itu. Abi mengusap air matanya yang berulang kali jatuh, Ya Tuhan, betapa jauhnya dia kini walau jasadnya masih bisa terlihat mataku, batin Abi menangis.
Abi segera menjauh tatkala melihat keluarga Giska yang lain memasuki ruangan. Di sudut ruangan itu, ia berpegangan pada tepi pintu. Kakinya gemetaran, dadanya sesak sekali menyimpan gumpalan-gumpalan tangis yang sejak tadi tak kunjung mengering. Bisa dilihatnya Yoana memeluk tubuh kaku itu dengan duka yang tak kalah dalam. Alangkah nyeri hatinya mendapati sosok ceria itu tak lagi ada di dunia. Tamu-tamu terus mengalir dan menyalami Mama Giska, Kiki juga Mario, mengucapkan belasungkawa pada mereka. Bahkan Mario yang Abi tahu dulunya sangat dingin pada Giska, kini menangis terang-terangan untuknya.
Yoana mendekat, lantas memeluknya erat. Menumpahkan air mata kesedihan yang entah berapa banyaknya. Tak dihiraukannya, matanya menatap sayu ke tubuh kaku itu. ia pejamkan matanya lama, untuk mengurangi gemuruh di dadanya yang seakan mau meledak. Abi merintih dalam hati; kau gadis istimewa yang Tuhan berikan padaku. Kau mengajariku banyak hal tanpa kau tahu. Cinta, kesetiaan dan rasa saling menerima. Kenapa harus mempermasalahkan sakitmu? Sebab aku yakin kau takkan meninggalkanku karena penyakit itu. Mari kita lewati hari bersama. Berdua. Menjadi sepasang kekasih yang bersahabat.
Aku tahu dirimu tak sempurna. Namun untukku, kau lebih dari indah. Lalu kenapa kau tertidur? Hey, bangun! Buka matamu! Hentikan lelucon ini. Kau berhasil membuatku menangis untuk pertama kalinya. Kau berhasil membuatku seperti orang gila. Lihat Ibumu, kakakmu, juga sahabatmu, mereka semua menangis. Kau jahat! Kau telah membuat mereka menangis. Bahkan Mario, dia tak pernah menangis untukmu, kan? Tapi lihat sekarang, dia yang paling deras menitikkan air mata.
Seperti rasa yang ditali mati, demikian aku ingin memelukmu detik ini. Jangan pergi! Ini terlalu sakit buatku. Dua ratus enam puluh satu hari. Ya, ini hari ke dua ratus enam puluh satu aku mencintaimu. Ralat, bukan aku, tapi kita. Dua ratus enam puluh satu hari kita saling mencintai. Dan untuk selamanya kau akan kucintai.. Jaga dirimu baik-baik juga. Aku mencintaimu. Selalu
Abi menarik napasnya panjang. Ia buka matanya perlahan. Air matanya jatuh lagi. Namun kali ini ia merasa lega, sebab segala yang ingin diutarakannya telah ia ucapkan meski dalam hati. Sekarang, ia hanya punya satu keinginan, mengantar jasad kekasihnya disemayamkan ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Petrichor (Terbit 12 November 2017, Harian Medan Pos)

Mendung bukan hanya menghiasi langit Medan kala itu, tapi turut menghiasi mata bulat Rumaysa. Wanita berusia dua puluh empat tahun itu duduk terpekur seorang diri. Membiarkan rambutnya dimainkan oleh angin. Awan hitam membentuk gumpalan-gumpalan menakutkan mulai berarak meratakan langit. Taman kota mulai lengang, tapi Rumaysa seperti enggan meninggalkan tempat itu.
Ia memandangi daun maple yang terbuat dari kertas dan telah dilaminasi itu. Menatapnya lekat-lekat. Seolah ada bongkahan kenangan di dalam sana. Untuk kemudian dia menarik napas panjang yang berat, mendongakkan kepalanya dan membiarkan dua tetes air mata menggelinding halus di pipinya. Titik-titik hujan mulai jatuh satu persatu, membasahi tanah di taman kota itu. Angin melengkapi gigil hujan meski tidak terlalu kencang. Rumaysa mulai memejamkan matanya. Menghirup aroma tanah yang dibasahi oleh air hujan. Lalu menarik sedikit ujung bibirnya hingga membentuk sebuah senyum tipis. Bersama air mata yang jatuh sekali lagi, Rumaysa mulai bergumam lirih, “Aku rindu kamu, Mas…”
* * *
Rumaysa mengintip dari balik pohon besar, memandangi dengan senyum sumringah yang jelas tidak dapat ditahannya. Matanya tertumbuk pada sosok laki-laki berkacamata yang tengah sibuk melukis sesuatu. Cuaca sore itu sungguh cerah, secerah hati Rumaysa melihat pujaan hatinya. Jarak mereka tidak terlalu dekat, namun tidak juga terlalu jauh. Rumaysa masih sibuk dengan senyum dan gumpalan khayalannya yang menari-nari di atas kepala. Hingga dua detik kemudian dia menjerit sekuat tenaga.
Teriakannya yang tanpa sadar itu jelas menarik perhatian laki-laki berkacamata itu untuk menoleh dan kemudian mendekatinya. Rumaysa berjongkok sambil memegangi lengan kirinya. Tanpa sadar ia mulai tersedu.
“Makanya, kalau mau ngintip itu cari lokasi yang strategis dong!” suara seseorang mengagetkannya.
Rumaysa menoleh ke belakang. Tidak menyangka laki-laki yang dijadikannya objek dari acara menguntitnya itu kini tengah mengomentarinya. Namun sakit di tangannya membuat ia tidak begitu peduli dengan ocehan lelaki berwajah manis itu. “Sini, aku lihat!” seru lelaki bernama Hayan itu sembari menarik tangan kiri Rumaysa. Tiga bentolan berwarna kemerahan menghiasi tangan gadis berambut sebahu itu. Rumaysa takut-takut menatap Hayan. Takut kalau lelaki berwajah dingin itu menghardiknya lagi.
Hayan menarik tangan Rumaysa untuk duduk di sebuah bangku kayu berwarna coklat tua. Lalu merogoh saku tasnya dan mengambil sesuatu. Mengoleskan minyak kayu putih ke tangan kiri Rumaysa yang sudah menjadi objek gigitan semut pohon. “Sudah berapa kali melakukan ini?” tanya Hayan dingin. Rumaysa tergagap mendapati serangan pertanyaan seperti itu. Ia tahu maksud lelaki itu adalah sudah berapa kali dia mengikuti dan mengintip seperti tadi.
“Hmm..baru sekali,” jawab Rumaysa tak kalah dingin. Hayan menjatuhkan tatapannya tepat ke wajah Rumaysa yang seketika memerah. Rumaysa mengalihkan pandangannya. Tidak tahan ditatap seperti itu. “Jangan bohong!” desak Hayan sembari memukul kepala Rumaysa. Tidak pelan, tidak juga terlalu kuat. Membuat gadis itu mengaduh. “Terus, yang setiap istirahat mengikutiku ke perpustakaan itu, siapa? Yang mengintipku dari balik rak-rak buku itu, siapa? Yang diam-diam mengikutiku ke kafetaria untuk makan es krim, siapa? Yang digigit semut karena mengintipku sore ini, siapa?” Hayan menjabarkan semua kelakuan memalukan Rumaysa.
Seketika gadis itu mencibirnya kesal. “Tidak perlu dijelaskan semua. Aku melakukan itu kan karena….” Rumaysa menggantungkan ucapannya. Tidak mungkin ia katakan bahwa ia melakukan semua itu karena ia menyukai laki-laki kutu buku ini. “Karena apa?” tanya Hayan pura-pura ingin tahu. Rumaysa menggeleng cepat. Untuk kemudian dia meraih tasnya yang tergeletak di ujung bangku dan pamit pulang secepat mungkin. Hayan menatap punggung Rumaysa yang kian menjauh. Gadis itu tampak sedikit berlari. Malu karena perasaannya hampir saja terbongkar.
Sejak kejadian sore itu, Hayan tidak lagi sedingin biasanya. Sesekali anak laki-laki itu memberanikan diri mengajak Rumaysa untuk ke perpustakaan bersama. Sesekali juga ia meminta izin untuk mengantarkan Rumaysa pulang sekolah. Dan sesekali pula ia mengirim pesan ke ponsel gadis itu. Semua hal yang dilakukannya sesekali itu kini berubah menjadi suatu kebiasaan. Hingga akhirnya Hayan memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan hangat yang dimilikinya pada Rumaysa.
Di tengah kepungan awan tebal yang menghiasi langit, Hayan memandang Rumaysa dengan hangat. Saat itu mereka sedang duduk di bangku taman kota, tempat pertama mereka bertemu kala itu. “Kau suka hujan?” tanya Hayan pada Rumaysa. Gadis itu mengangguk mantap. Ya, Rumaysa suka sekali dengan hujan. Tidak ada yang bisa membantah hal itu. “Kalau kau suka apa?” tanya Rumaysa kembali. Hayan tersenyum mendengarnya, gadis itu selalu menanyakan semua hal yang ia suka. Bahkan sejak dulu, sejak Hayan belum sehangat ini padanya.
“Aku suka aroma tanah karena dibasahi hujan,” jawab Hayan mantap. Rumaysa menatap laki-laki itu dengan syahdu. Untuk kemudian, rinai hujan mengguyur taman kota sore itu. Hayan dengan refleks memejamkan matanya dan menarik napas perlahan. Menghirup aroma tanah yang baru saja dibasahi hujan. Rumaysa tersenyum memandang wajah Hayan. Apakah itu menyenangkan? pikir Rumaysa sendiri. “Ini menenangkan, Rumaysa.” Hayan bersuara di balik pejaman matanya. Rumaysa tersenyum, bahkan Hayan mampu menjawab pertanyaan hatinya. Laki-laki ini selalu mampu ia jatuh cintai. Setiap hari, tanpa henti.
Tidak ada yang berubah meski sekarang sudah hampir tujuh tahun lamanya. Kebersamaan Rumaysa dan Hayan semakin bertambah erat. Mereka melewati masa SMA dan kuliah bersama-sama. Menjadi teman baik yang saling mendukung dan menasihati. Mereka juga masih suka menikmati hujan dan menjadi petrichor di sudut taman. Untuk setelahnya menikmati mie ayam sebelum pulang ke rumah. Bahkan ketika Hayan mengutarakan keinginannya untuk mempersunting Rumaysa saat itu, ia melakukannya di taman kota ini. Dengan orang yang sama dan tempat yang sama pula. Tidak pernah ada yang berubah. Hanya perasaan Hayan saja yang berubah. Berubah semakin besar hingga ia yakin untuk memperistri Rumaysa saat itu juga.
* * *
Tubuhnya telah basah diguyur hujan. Tapi Rumaysa tetap belum beranjak dari duduknya. Ia pandangi tempat duduk di sebelahnya. Kosong. Tidak ada Hayan yang menemaninya duduk di taman ini seperti dulu. Tidak ada Hayan yang setia menemani masa-masa sulit dan bahagianya seperti dulu. Air matanya berguguran lagi. Isaknya semakin kencang. Rindunya telah membuncah, bahkan untuk saat-saat pertama rumah tangganya yang seharusnya ia lewati dengan bahagia.
Daun maple yang telah dilaminasi itu kembali diciuminya. Daun maple hasil lukisan tangan Hayan, saat gadis itu dulu berusaha mengintipnya di taman kota ini. Hayan memberikannya saat hubungan mereka resmi dikatakan berpacaran. Hujan sore itu belum mau berhenti. Seolah ia setia menemani Rumaysa yang tengah meluruhkan rindunya menjadi butir-butir air mata.
Kecelakaan yang menimpa Hayan sepulang bekerja itu terjadi satu minggu lalu. Kabar buruk itu akhirnya mengantarkan Rumaysa dan keluarga pada kepedihan yang maha panjang. Berusaha mengikhlaskan kepergian Hayan yang baru beberapa bulan menjadi suaminya ke pangkuan Tuhan. Betapa Rumaysa merasa bahwa ini adalah kepahitan yang paling pahit selama hidupnya. Dan betapa ia tidak pernah menyangka bahwa kekasihnya kini tengah tidur untuk selamanya.
Rumaysa mengukir doa-doa dalam hati dan tangisnya. Meminta kekuatan dari pemilik kehidupan. Bahwa sejatinya perasaan sakit ini benar-benar menghancurkannya. Dan detik ini ia benar-benar merindukan suaminya. Meski kini ia telah rela ditinggalkan seorang diri, tapi butiran rindu terus-menerus ada setiap hari. Dan ia harus dengan tegar menyulam butir-butir rindu itu menjadi doa-doa paling syahdu untuk dihantarkannya pada suaminya di singgasana surga. Betapa pun, ditinggalkan ketika sayang bersarang di dada bukanlah sebuah hal yang mudah. Begitupun bagi Rumaysa. Hanya kesembuhan hati yang kini diharapkannya. Tidak kurang. Pun tidak lebih.

Resensi "Meneladani Kisah Wanita Penghuni Surga" (Terbit 05 November 2017, Harian Singgalang)

Judul               : Aisyah
Penulis             : Sibel Eraslan
Penyunting      : Anwar Kholid
Penerbit           : Kaysa Media (Puspa Swara Group)
Cetakan           : Pertama, 2015
Halaman          : 474 hal
ISBN               : 978-979-1479-89-9

Novel Aisyah adalah novel seri pertama dalam Serial The Greatest Woman yang ditulis oleh penulis ternama, Sibel Eraslan. Novel yang kental dengan nilai religiusitas ini menceritakan tentang kehidupan Ibunda kaum mukmin, yakni Aisyah (ra). Aisyah adalah istri sekaligus murid Rasulullah. Dan Aisyah merupakan putri dari Abu Bakar Ash-Shiddiq; orang pertama yang memeluk agama Islam.
Novel ini bercerita tentang kehidupan Aisyah yang dapat dijadikan teladan dan pelajaran bagi kita semua. Dengan gaya penceritaan yang mengambil sudut pandang orang pertama, novel ini terasa seperti curahan hati Aisyah sendiri. Dalam novel ini, cerita dibagi dalam fase lima waktu Aisyah, yakni subuh, zuhur, ashar, maghrib, dan isya. Dalam tiap pembagiannya, Sibel Eraslan membagi kisah-kisah tentang ketegaran hidup sang bunda mukmin tersebut dengan sangat apik. Masa subuh Aisyah dimulai dengan kenangan-kenangan masa kecilnya. Dimana ia lahir dari keluarga pedagang yang sukses. Dan masa kecilnya sangat bahagia.
Kehidupan keluarganya mulai terguncang ketika Muhammad menyatakan dirinya sebagai rasul dan nabi di Mekah. Dan ayahnya adalah orang pertama yang memeluk Islam. “Wahai sahabat baikku, siapa yang mengajari apa yang kau katakan ini?” “Malaikat agung yang juga memberi kabar kepada para nabi sebelumku, Wahai Abu Bakar.” Ayah kemudian berseru “Atas nama ayahku, ibuku, dan sahabat-sahabatku, aku percaya dengan apa yang kau jelaskan kepadaku. Ulurkanlah tanganmu! Aku bersyahadat bahwa tak ada Tuhan selain Allah. Kau adalah Rasulullah!” (hal.23)
Sebagai pemeluk Islam, tekanan dan siksaan kerap menghantui keluarga Aisyah. Dan Aisyah adalah salah satu saksi atas seluruh perlakuan kaum Quraisy kepada umat Muslim, termasuk kepada keluarganya. “Aku jatuh pingsan ketika mereka mendesak berjalan ke arah ayah dan mulai memukuli ayah sambil melontarkan ejekan-ejekan yang lebih tajam dari ujung belati. Aku kemudian mendengar ternyata wajah ayah terkena tendangan sepatu Utbah bin Rabia yang keras dan tajam. Tubuhnya diseret ke tanah. Bibir dan hidungnya penuh darah. Jika tidak ada pemuda dari suku Tamim, mungkin tubuh ayah sudah akan penuh luka.” (hal. 48)
Waktu asar Aisyah bercerita tentang syiar Islam yang kian berkembang. Tentang keadaan awal Madinah, tentang Rasulullah yang menyuruh ia untuk berpuasa, pengkhianatan Bani Qaynuqa dan Perang Uhud, sampai pendeskripsian Aisyah tentang ciri fisik Rasulullah. “Tinggi badannya sedang, tak begitu pendek, tak juga begitu tinggi hingga mata sulit menjangkaunya. Badannya tinggi dan memancarkan sinar keperak-perakan. Kepalanya besar dan kuat, sementara rambutnya bergelombang, tak keriting tak juga lurus. Layaknya hati terbelah dua, rambutnya disisir ke sisi kanan dan sisi kiri. Dia menyisipkan rambutnya di telinga bila sudah terurai memanjang. Kulitnya putih dan cerah, pipinya kemerahan.” (hal. 266)
Pada bagian ini juga diceritakan tentang hubungan pernikahan Rasulullah dengan para istrinya yang lain. Juga tentang kecemburuan Aisyah yang begitu manis. Membuat pembaca ikut terhanyut dan bisa merasakan gejolak batin Aisyah. “Apakah kau mencintai Aisyah?” “Iya, aku mencintai Aisyah...” “Bolehkah aku bertanya satu pertanyaan lagi?” Sekali lagi dia menganggukkan kepala sambil tersenyum. Seakan-akan bintang-bintang bertaburan di kepalanya ingin mendengarkan pembicaraan kami. “Bagaimana engkau mencintai Aisyah?” Beliau malah terdiam seperti malu. Beban hidup dirinya sudah sangat berat. Dia adalah seorang jenderal. Hatiku sesak ketika dia malah mempercepat langkah untanya maju untuk pergi. Sungguh terlalu banyak pertanyaan yang aku utarakan. Kemudian dia menunduk seakan-akan tahu bahwa aku menatapnya. Entah bagaimana mendadak dia memutar balik untanya dan memacu cepat-cepat dan berkata kepadaku, “Seperti hari pertama...” (hal. 288)
Kisah berlanjut hingga pada akhirnya Aisyah harus hidup sebagai Ibunda kaum Mukmin sepeninggal Rasulullah. Sibel Eraslan mampu menyihir pembaca untuk tetap melahap kisah ini sampai penghabisan isi buku. Saya hampir tidak merasakan ada kekurangan yang berarti di dalam novel ini. Layout yang bagus juga menambah kesan baik pembaca pada novel ini. Novel ini sangat layak untuk dibaca, baik dari kalangan anak-anak hingga dewasa. Sebab banyak pembelajaran baik yang bisa dipetik dari novel setebal 474 halaman ini.

(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU)

Cerita di Balik Muffin Coklat (Terbit 05 November 2017, Harian Medan Pos)

Setahun belakangan ini, mataku akrab sekali dengan perempuan bersyal merah jambu yang datang ke café tempatku bekerja. Perempuan bermata abu-abu yang datang setiap hari Rabu dan Jumat. Aku kerap melihatnya datang seorang diri dengan sebuah buku notes di tangannya. Setiap kali membuka pintu café, dia akan dengan tenang berjalan menuju meja dekat jendela yang menghadap ke luar.
Setelahnya, dia akan duduk termenung. Menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. Satu tangannya menopang dagu, satunya lagi dibiarkan tergeletak di pangkuannya. Entahlah apa yang tengah ia pikirkan. Perempuan yang kutaksir usianya tidak jauh denganku itu tampak cantik dengan wajah tanpa riasan. Matanya yang berwarna abu-abu semakin menambah kesan dingin pada dirinya. Membuat beberapa orang akan berpikir dua kali untuk sekadar menyapa atau mengganggunya.
Tiba-tiba dia melambaikan tangan padaku. Ya, dia menatapku sekilas, untuk kemudian mengalihkan pandangannya secepat mungkin. Seolah-olah ia takut sekali orang lain menyantap wajah indahnya. Aku menghampirinya. Berpikir ia akan memesan sesuatu. Sedetik. Dua detik. Sepi. Aku pandangi perempuan itu dari sisi kananku. Kulihat dia sekali lagi menghadap ke luar jendela, lantas tersenyum tipis. Nyaris tidak terlihat. Benang-benang rambutnya terurai oleh kipas angin kecil di atas kepalanya.
Perempuan itu masih diam. Barangkali dia akan selalu diam dan tak pernah menaruh tatap sedetik pun pada lelaki yang tengah menunggunya untuk berbicara. Aku mulai berdeham pelan. Perempuan itu tampak bangkit dari segumpal lamunannya. Dia menatapku sekilas, lalu berkata “Segelas cappuccino dan beberapa muffin coklat.”
Aku menggeram dalam hati. Seharusnya aku tak perlu menanyakan pesanan perempuan aneh itu. Sejak setahun belakangan ini, ia selalu memesan cappuccino dan muffin coklat. Tidak pernah berubah. Seminggu dua kali berkunjung ke café ini pun, pesanannya tak pernah berubah. Tapi tak pantas juga jika aku langsung membawakan cappuccino dan muffin coklat tanpa perintahnya. Bagaimana jika suatu hari nanti ia malah beralih memesan menu lain? Tapi sampai detik ini pun, ia tak pernah mengganti menu pesanannya.
Aku beranjak dari tempatku berdiri dan memberikan selembar pesanannya pada Mikha.
“Cappucino dan muffin coklat lagi?” tanya Mikha menahan senyum.
Mikha tahu sekali bahwa aku sebal melayani perempuan itu setiap kali dia datang berkunjung. Perempuan itu selalu berkunjung tepat saat shift bekerjaku full. Hingga setiap kali datang, akulah yang harus menghampirinya dan bertanya dia hendak memesan apa. Beberapa menit kemudian, Mikha kembali dengan pesanan perempuan itu di tangannya. Pesanan itu pun dengan cepat berpindah tangan kepadaku.
“Nganternya pake senyum, ya. Biar muffin-nya tambah manis.” goda Mikha.
Aku memberinya tatapan supersebal, membuat Mikha tergelak. Kuseret kakiku menuju tempat perempuan itu berdiam diri. Tangannya sibuk menuliskan sesuatu di notes merah jambu miliknya. Aku selalu penasaran dengan apa yang dikerjakannya. Mungkinkah dia seorang wanita karir yang frustasi karena tidak kunjung naik jabatan? Atau dia seorang mahasiswi tingkat akhir yang skripsinya tak kunjung selesai? Sebab dia selalu membawa wajah mendung tiap kali datang ke café ini.
Pernah beberapa kali aku berniat mengintip tulisan tangannya di notes itu. Tapi ketika mendengar langkah kaki mendekat, perempuan itu dengan cepat menutup notes miliknya. Lalu mengalihkan pandangnya kembali ke luar jendela. Entah apa yang dinikmatinya di ujung jalan itu. Hanya sebuah bangku panjang kosong yang tidak terawat pemiliknya. Sama sekali tidak menarik untuk dipandangi berkali-kali.
Aku meletakkan pesanannya di atas meja. Mempersilakannya untuk menikmati. Dia hanya mengangguk tanpa membalas keramahanku. Aku kembali ke belakang meja bar, memperhatikannya dari sini tentu tidak akan membuatnya curiga. Entah mengapa pula, aku begitu tertarik memandangi perempuan itu. Sejak beberapa kali hingga setahun ini dia berkunjung ke sini, dia begitu menarik perhatianku.
Anehnya, sore ini tidak sama seperti biasa. Aku melihat gerimis di matanya yang mendung. Ah, aku paham sekali bahwa perempuan itu tentu sedang melalui masa-masa sulit dalam hidupnya. Meski aku tidak tahu, ingin sekali aku menyodorkan tisu dan mencoba membujuknya untuk menceritakan masalahnya. Tapi itu tidak mungkin kulakukan. Tatapan matanya yang sedingin es itu tidak membuatku cukup berani untuk mengatakan hal semacam itu. Dan kurasa dia bukan tipikal perempuan yang mudah berbagi masalah hidupnya pada orang asing.
Aku melihat cahaya jingga mulai membuncah dari celah jendela kaca café ini. Sinar keemasannya menerpa sebagian wajah perempuan yang tengah menghapus gerimis di pipi kirinya. Dia meneguk cappucinonya beberapa kali. Untuk kemudian bergegas pergi ketika langit mulai gelap. Senja telah dimakan malam. Lagi-lagi perempuan itu meninggalkan bekas tisu gerimisnya dan muffin coklat yang sama sekali tak tersentuh.
* * *
Jumat sore seperti biasa. Perempuan bersyal merah jambu dengan corak berbeda itu datang lagi. Setelah rabu lalu dia meninggalkan café ini dengan beribu pertanyaan yang bermunculan dalam benakku. Apa yang sebenarnya terjadi pada perempuan manis itu? Mengapa dia datang membawa wajah mendung, memesan cappuccino dan muffin coklat, lantas meluruhkan gerimis di sudut café ini?
Perempuan itu tidak sama dengan para pengunjung yang lain. Aku bahkan hanya mengenali perempuan itu sebagai satu-satunya gadis yang kerap berkunjung satu minggu dua kali ke café ini. Dan yang dilakukannya adalah diam, menatap jalan, tersenyum, dan kemudian menangis. Seperti perahu kecil yang tak bertuan, terombang-ambing dalam kepahitan. Seperti ingin menepi tapi yang terinjak adalah kumpulan duri.
Perempuan itu terdiam. Pesanannya sudah sejak tadi kuantarkan. Dan kemudian aku akan memandanginya dari balik meja bar. Kulihat dia menyentuh gelas cappucinonya, meneguknya sekali. Dia menatap muffin coklat itu lama. Menyentuhnya sedikit lalu kembali menatap jalanan. Aku mengikuti arah pandangnya. Kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana. Apa yang membuat perempuan itu suka sekali menatap ke luar jendela? Hanya lalu lalang kendaraan bermotor yang sesekali memenuhi jalan raya. Selebihnya tidak ada.
Ditengah keasyikanku menatapnya, tiba-tiba Mikha menyodorkan pesanan lain ke arahku. Menyuruhku mengantarkan pesanan ini ke meja 13. Meja yang tepat berada di belakangnya. Aku meraih pesanan itu dan beranjak menuju meja sang pemesan. Tampaknya dia tidak menyadari bahwa kini aku tengah berada di dekatnya. Dia masih terus menulis. Rasa penasaranku kembali memantul-mantul. Melahirkan beragam pertanyaan tenntang apa yang sebenarnya tengah dia kerjakan.
Aku berdiri agak lama di belakang kursinya. Mengamatinya dengan hati-hati. Takut kalau perempuan itu menyadari kehadiranku dan malah membuatnya merasa terganggu. Suasana café saat itu tidak terlalu ramai. Pengunjung tidak akan mengamati seorang waiter yang tengah diam-diam memperhatikan seorang pengunjung perempuan seperti ini. Meja yang terletak di sudut ruangan, tidak akan membuat mata banyak orang bisa menelanjangi.
Dia sedang menulis puisi. Puisi cinta dengan banyak metafora di dalam kalimatnya. Hanya ada satu kalimat yang sempat tertangkap mataku dan membuat napasku tertahan.
Isinya kira-kira begini: “Aku sering memandang ke luar jendela café ini, Cinta. Dan mendapatimu tidak seperti biasanya. Pakaianmu berbeda. Apa kau suka dengan jubah putih melambai-lambai itu, Sayang?”
Aku bergidik, lalu beranjak pergi menuju meja bar. Keringat dingin menjalar di tubuhku. Mungkin wajahku telah pucat saat itu. Kulihat perempuan itu tersenyum sendiri. Membuatku mengerti apa yang selama ini dilamunkannya dalam pedih. Membuatku paham bahwa ia sedang depresi. Berusaha menjalani hari demi menyembuhkan hati. Dan muffin coklat itu… Ah, perempuan itu telah kehilangan kekasihnya.

Jumat, 03 November 2017

Opini "Menularkan Virus Menulis Pada Anak" (Terbit 29 Oktober 2017, di Harian Medan Pos)

Sebagai seorang guru yang mengajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia, saya merasa wajib untuk menularkan berbagai macam ilmu yang berkaitan dengan bahasa dan sastra. Bukan hanya itu, saya merasa perlu mengajak anak didik saya untuk melakukan sesuatu yang kreatif sesuai dengan mata pelajaran yang saya bawa. Salah satunya adalah soal menulis. Bukan hanya menulis kalimat atau paragraf, tapi lebih dari itu. Menulis sebuah cerita yang dihasilkan dari imajinasi mereka sendiri.
Menulis adalah suatu kegiatan menuangkan pikiran melalui kata-kata. Bagi sebagian orang, menulis adalah suatu pekerjaan sulit dan membosankan. Menulis selalu saja menjadi momok yang menakutkan, terlebih bagi anak-anak usia sekolah menengah pertama. Terbukti, ketika saya mengajak mereka untuk menghasilkan sebuah tulisan, sebagian besar dari mereka menjawab bahwa mereka tidak mampu melakukannya.
  Dari sanalah saya merasa tertantang untuk menumbuhkan kecintaan mereka terhadap dunia literasi. Anak-anak cenderung lebih cepat mengikuti apa yang dilakukan orang dewasa. Untuk itu, hal yang perlu dilakukan adalah memberikan bukti nyata melalui kegiatan yang bersifat positif. Setiap kali akan memulai pelajaran di kelas, saya selalu memberikan sedikit wejangan atau cerita singkat yang memotivasi mereka untuk menulis.
Saya menjelaskan apa itu menulis, bagaimana proses kreatif sebuah tulisan, bagaimana mencari ide dan data-data untuk diolah menjadi sebuah tulisan, atau bagaimana cara memublikasikan tulisan agar bisa dibaca dan dinikmati oleh banyak orang. Di awal-awal penjelasan saya mengenai dunia tulis menulis, hanya beberapa siswa saja yang merasa tertarik. Selebihnya mengatakan kalau mereka tidak tertarik dengan hal yang saya ucapkan.
Tapi ketika saya mulai mencoba praktik yang sederhana, yaitu menyuruh mereka untuk membuat sebuah judul cerita. Dengan antusias, mereka menyanggupi permintaan saya. Dan hasil yang saya dapatkan sungguh mencengangkan. Untuk anak-anak usia 12 tahun seperti mereka, daya imajinasi yang tinggi membuat apa yang mereka tulis terlihat begitu menarik. Mereka menulis judul yang saya rasa tidak biasa. Meski dengan frasa yang sederhana, namun dari judul yang mereka tulis, saya yakin kelak mereka akan bisa menghasilkan tulisan yang baik.
Usia anak-anak adalah usia yang cenderung cepat sekali meniru sesuatu. Daya tangkap dan imajinasi mereka pun tak kalah luar biasa. Bagi anak-anak yang senang menonton kartun atau film animasi, saya rasa akan lebih mudah dalam menulis. Sebab mereka akan cepat berimajinasi dan menciptakan suatu cerita di dalam kepalanya. Untuk kemudian dengan mudah bisa ia tuangkan ke dalam kata-kata.
Saya sendiri berusaha mengarahkan mereka dalam hal itu. Tidak membatasi mereka dengan “peraturan menulis”. Saya membiarkan mereka untuk menuangkan segala apa yang mereka rasakan ke dalam tulisan. Menulis adalah kegiatan yang menyenangkan jika anak-anak sudah terbiasa melakukannya. Kecintaan mereka terhadap literasi pun bisa jadi akan semakin membaik, hingga tidak ada lagi anak-anak yang merasa tidak mampu untuk menulis. Ajaklah adik-adik kita untuk mulai menuliskan hal-hal sederhana yang mereka alami. Atau menuliskan sesuatu yang mereka sukai.
Bukankah di sekolah, guru-guru lain juga tak luput mengajarkan cara menulis? Setidaknya yang paling sederhana adalah menulis pengalaman pribadi. Anak-anak biasanya akan senang jika disuruh menuliskan pengalaman paling menarik yang pernah mereka alami. Dengan terus mengasah kegiatan seperti ini, dengan sendirinya menulis menjadi hal yang biasa untuk mereka lakukan.
Berilah penjelasan kepada anak-anak bahwa menulis adalah kegiatan yang menyenangkan. Arahkan mereka untuk terus berlatih menulis. Sesekali ajari mereka untuk berani menampilkan tulisannya agar bisa dibaca oleh banyak orang. Misal, ketika mereka mampu menyelesaikan tulisannya dengan baik, kita sebagai guru akan mencoba mengajak mereka untuk memublikasikan hasil tulisannya di mading sekolah atau di media cetak. Dengan begitu, mereka akan semakin termotivasi untuk menulis dan menghasilkan karya yang lebih baik lagi.
Saya sendiri sudah berhasil mempraktikkannya melalui anak didik saya dan juga adik saya yang berusia 14 tahun. Bahkan ia sudah bisa menembus media cetak lokal. Merupakan kebanggaan untuk kita para guru yang menginginkan anak-anak semakin mencintai dunia literasi. Sebab mereka adalah cikal bakal penerus segala hal di bumi ini. Anak-anak adalah aset berharga, untuk itu mari kita didik mereka menjadi seseorang yang mampu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi sesama.
Dengan menulis, berarti kita telah mengajak mereka untuk mengabadikan nama. Menulis juga mengajari mereka untuk berbagi dan menyebarkan hal-hal yang bermanfaat. Menulis juga merupakan kegiatan yang mampu mengubah hidup seseorang. Bukan tidak mungkin, seseorang akan tergerak hatinya setelah membaca tulisan-tulisan kita. Tulisan selalu mampu mengubah hal-hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Seperti tulisan Andrea Hirata dalam novel Laskar Pelangi yang mampu memberikan pencerahan terhadap dunia pendidikan di Indonesia.
Untuk itu, sebagai penulis sekaligus pendidik, saya merasa perlu menyampaikan hal ini. Teruslah menularkan virus menulis kepada anak-anak Indonesia. Kelak mereka akan menjadi seseorang yang berguna, bukan hanya untuk diri sendiri melainkan juga untuk negeri. Bukankah tidak akan ada perubahan jika tanpa tindakan? Untuk itu budayakanlah menulis sejak dini. Salam literasi!

Resensi "Tentang Perempuan, Impian, dan Kesempatan" (Terbit 01 Oktober 2017, di Harian Singgalang)

Judul               : Soul Match
Penulis             : Alfian Daniear
Penerbit           : teen@noura (Noura Books)
Cetakan           : Pertama, Mei 2014
Halaman          : 218 hal
ISBN               : 978-602-1606-83-4

Novel Alfian Daniear kali ini menceritakan kisah cinta, persahabatan, juga impian yang dibalut dalam pesona dan eksotisme Rio de Janeiro. Cerita dibuka oleh seorang tokoh utama perempuan bernama Janitra Dewantari yang merupakan seorang siswi pertukaran pelajar dari Indonesia. Janitra adalah gadis manis yang tumbuh dengan kecintaannya terhadap dunia sepak bola. Meskipun ia adalah seorang perempuan, namun rasa cintanya terhadap bola tidak pernah berubah, sekalipun Ibunya menentang.
Di Brazil inilah, peluang untuk mewujudkan impian besarnya menjadi pemain sepak bola wanita akan terwujud. Ia bertemu dengan Flavia dan Beatriz yang merupakan teman satu sekolah Janitra di Escola St. Monica. Janitra bertemu keduanya di sebuah pantai eksotis di Brazil bernama Pantai Ipanema. Keduanya mempunyai kesukaan yang sama yaitu bermain sepak bola. Dalam novel ini, Alfian Daniear lebih menekankan isi cerita terhadap tekad dan semangat peran utama dalam mewujudkan mimpinya.
Janitra mengangkat tangannya. “Bukankah baru dua belas orang, Pelatih?” “Lalu?” “Di awal tadi pelatih bilang ada tiga belas orang.” “Oh ya? Mungkin aku salah bilang. Semua nama yang tertulis di sini sudah kusebutkan.” Paulinho menunjukkan kertas yang terjepit di papan alasnya. Janitra tertegun tak percaya. “Apakah Anda yakin?” Tanya Janitra ragu-ragu. “Kupikir...begitulah,” jawab Paulinho datar. “Tapi...saya merasa lebih baik dari mereka. Kenapa saya tak disebut?” telunjuk Janitra menunjuk gadis-gadis yang terpilih. Paulinho mendekati Janitra, sangat dekat. “Kupikir kau terlalu percvaya diri.” “Karena saya memang punya kemampuan, Pelatih,” jawab Janitra mencoba tegas. Dia menegakkan dagunya (hal.79-80)
Janitra akhirnya terpilih menjadi kapten dalam tim sepak bola wanita Escola St.Monica karena semangat dan rasa percaya dirinya yang kuat. Meski begitu, kepercayaan dirinya yang terlalu besar berdampak buruk terhadap eksistensinya di dalam tim tersebut. Masalah pun perlahan menghampiri Janitra. “Kau membuatku terkesan dengan aksimu selama seleksi, Janitra. Bahkan kau menjadi harapan utamaku untuk menjadi kapten. Tapi, kenapa sekarang kau jadi begini. Kenapa kau begitu sulit beradaptasi dalam tim ini.” Kata-kata Paulinho kemarin masih terngiang-ngiang di telinga Janitra. “Kita mengikuti kompetisi dalam sebuah tim, bukan individu. Kupikir kau masih terlalu egois.” (hal. 103-104)
Dalam kekalutan dan keputusasaan yang dirasakan Janitra, Kaisar-lah yang menjadi sosok paling berpengaruh dalam merubah sikapnya. “Kau tahu, apa yang seharusnya kau lakukan sekarang?” Kaisar mendengus lega. Setidaknya Janitra tak meneruskan godaannya. “Hilangkanlah rasa ‘akulah yang terhebat’ saat kau bermain dalam sebuah tim. Kau harus mampu menyatu dengan pola permainan. Tiap pemain punya posisinya. Dan kau harus memainkan peran sesuai posisi yang telah pelatih tentukan.” Janitra mulai sadar kelemahannya. Selama ini dia hanya ingin tampil sebagai yang terhebat. Dia ingin terlihat mencolok dalam timnya. “Satu hal yang lebih penting, kau harus sering berinteraksi dengan sesama anggota tim.” (hal. 106)
Kedekatan Janitra dengan Kaisar ternyata menimbulkan masalah. Sebab menurut cerita teman-temannya, Flavia merupakan kekasih Kaisar. Hal ini juga kembali mengganggu jalan Janitra dalam mewujudkan mimpinya, yaitu ingin melanjutkan dan memenangkan kompetisi sepak bola wanita se-SMA di Rio de Janeiro. Dalam novel ini, Alfian Daniear juga mengajak pembaca untuk membayangkan dan merasakan keindahan Negara Brazil lewat sentuhan diksinya. Kelebihan novel ini adalah penulis mengangkat cerita yang tidak biasa, yaitu mengupas dunia sepak bola wanita. Membuktikan bahwa olahraga sepak bola bukan hanya untuk dimainkan oleh laki-laki, tetapi wanita pun bisa memainkannya. Selain itu, kelebihan lainnya adalah penulis mampu mendeskripsikan tempat-tempat menarik di negara tersebut secara detail, seperti Pantai Ipanema, Favela, Feira da Gloria, dan Lagoa Rodrigo de Freitas yang terletak di tengah-tengah kota Rio. Penulis juga menyinggung tentang makanan khas dari Brazil yakni Tapioka.

Kelemahan dari novel ini adalah terdapat beberapa salah ketik atau slip of the pen yang dilakukan penulis. Juga terdapat kata-kata asing dalam bahasa Brazil yang tidak diberi keterangan atau penjelasan dalam bahasa Indonesia, sehingga agak menyulitkan pembaca dalam memahami kalimat. Selebihnya, novel ini sangat seru, menarik dan layak untuk dibaca. Khususnya bagi kalian yang cinta dengan sepak bola.

Haruskah Kugoreng Diksi Setiap Hari? (Terbit 22 Oktober 2017, di Harian Medan Pos)

“Mau berapa jam lagi aku menunggumu, Pak?” suara Kinar membuyarkan lamunan suaminya. Lelaki berusia tiga puluhan itu menggaruk tengkuknya kasar. Lalu menepuk-nepuk kepalanya seolah-olah ingin mencairkan sesuatu di dalam kepalanya yang beku. “Imajinasiku buyar gara-gara kau, Kinar. Tak bisakah kau tidak berdiri mematung di situ? Aku seperti seorang pencuri yang baru keluar dari jeruji besi. Kau mengawasiku tanpa henti!” celoteh suaminya.
Kinar mendengus kesal, “Lalu, mau kau kasih makan apa si Tedi itu, Pak? Berhentilah menangkap aksara yang kau bilang bertebaran di langit-langit rumah kita! Keluarlah, pergi mencari kerja. Tedi butuh makanan sungguhan, Pak! Bukan diksi yang kugoreng setiap hari!” Kinar menampilkan wajah tak suka atas sikap suaminya.
“Diamlah kau sebentar, Sayang. Aku sedang bekerja juga di sini. Meski ini komputer tua, tapi setidaknya aku masih bisa mengenyangkan perutmu dan anak kita,” jawab suaminya lagi.
“Tapi kerjamu setiap hari hanya duduk terpekur di depan sana, menangkap pintalan-pintalan kata lalu menjahitnya dan membuatnya jatuh cinta. Jika kau rasa cukuplah umurnya, kau akan membuat mereka beranak pinak, menghasilkan banyak kata dan makna. Lantas berjam-jam lamanya kau jahit mereka menjadi satu kisah abstrak yang hanya kau dan Tuhan yang mengerti. Untuk setelahnya kau kirim ke seseorang yang kau yakini bisa menerbitkan segala buah pikirmu itu. Berbulan-bulan lamanya baru kisahmu muncul ke permukaan dan uang baru bisa berpindah ke telapak tanganmu! Bukankah itu sangat membosankan, Pak?” Kinar mencoba membuka pikiran suaminya.
“Lalu kau mau aku ini kerja apa, Sayang?”
“Aku mau kau pergi keluar rumah, banyak pekerjaan yang bisa kau kerjakan di luar sana, Pak. Tanya si Pendi, dia bisa mencarikan kau pekerjaan yang mendapat upah bulanan. Kau bisa menerima uang setiap bulannya, Pak. Bukan menunggu uang dalam tempo yang kau sendiri saja tidak tahu kapan. Kita manusia, Pak. Makannya setiap hari, bukan setahun dua kali!” sungut Kinar lagi.
Terhenti jemari suaminya mengetik di komputer tua itu. Tampak lelaki itu berpikir panjang, sesekali mengusap wajahnya yang mulai sendu. Termakan ucapan istrinya sendiri. Bagaimanalah ini, sejak awal menikah, dia sudah mengkhawatirkan bahwa ini akan terjadi. Dia pikir, dia bisa menafkahi keluarganya kelak dengan cinta dan gumpalan diksi indah, sebagaimana yang selama ini menjadi kemahirannya. Namun ia salah, istrinya mulai jengah memakan cinta dan kata-kata setiap harinya.
Kinar sendiri mulai jenuh dengan tingkah suaminya itu. Ia pergi keluar rumah, meninggalkan suara bantingan di pintu. Selalu begitu, ketika percakapan tidak menemui titik temu, Kinar akan memilih pergi keluar dan baru akan kembali saat senja dimakan malam. Sementara suaminya, masih tetap terpekur di depan komputer tuanya. Ia kembali mengetik lagi, tapi kali ini ia tidak sendiri. Setitik dua titik air mata pelan-pelan jatuh membasahi.
* * *
“Bapak sedang apa?” tanya Tedi sambil mengunyah kerupuk. Anak laki-laki berusia 10 tahun itu mendekati bapaknya dan melongokkan kepalanya ke arah kotak segiempat dengan banyak huruf dan kata.
“Sedang mencipta kehidupan bagi para pemudi dalam cerita ini,” jawabnya.
“Bapakmu itu hanya bisa mencipta kehidupan bagi tokoh-tokoh ceritanya. Tapi dia lupa untuk mencipta kehidupan untuk kau dan ibu,” celetuk Kinar tiba-tiba. Wanita itu baru kembali dari pasar, di tangannya penuh dengan barang belanjaan.
“Kau ini bicara apa?!” tanya suaminya tidak terima.
“Bapakmu itu tidak bisa berjalan, Tedi. Makanya ia hanya bekerja dan duduk di situ sepanjang hari. Kalau bapakmu bekerja keluar rumah, bisa mati tokoh-tokoh cerita dalam komputer tua itu. Bapakmu lebih sayang mereka dibanding kita,” sindir Kinar lagi.
“Apa? Bapak lebih sayang orang lain daripada kita?” Tedi mengulang pernyataan ibunya.
“Jangan dengarkan ibumu! Mana mungkin bapak lebih sayang orang lain daripada kalian. Bapak hanya sedang bekerja, nanti kalau bapak dapat uang dari hasil menikahkan aksara ini, bapak janji akan membelikanmu sepeda,” jawab lelaki itu mantap, betapa yakin dirinya bahwa tulisan kali ini akan dicetak.
“Sepatunya saja tidak terbeli dari bulan lalu, mengapa sekarang menjanjikannya sepeda?” cibir istrinya.
“Sudah, daripada kau sibuk menjejali otak Tedi dengan kekesalanmu yang bersebab aku, lebih baik kau siapkan makanan enak. Aku butuh nutrisi bagus agar bisa mencipta karangan yang luar biasa. Bila perlu tambahkan sedikit diksi ke dalam masakanmu, taburi dengan bumbu cinta agar rasanya gurih dan renyah,” tawa suaminya berderai.
Kinar mendengus. Dia tidak pernah paham dengan semua ucapan suaminya. Barangkali beginilah nasib menikahi penyair, kegilaan suaminya terhadap kata-kata tidak bisa lagi dipisah dari kehidupan nyata.
Ketika makan malam pun, suaminya kembali berulah.
“Sambal terasi ibu lezat sekali rasanya,” puji Tedi. Kinar tersenyum, “Kalau kau suka, kau bisa tambah. Kau harus makan yang banyak, agar ketika kau dewasa kau tidak hanya mengurusi imajinasi dan kata-kata. Akan lebih berguna jika kau jadi polisi atau dokter gigi.”
“Kau tahu kenapa sambal ini rasanya lezat?” tanya lelaki itu pada anaknya.
“Kenapa, Pak?” tanya Tedi ingin tahu. Mulutnya masih sibuk mengunyah nasi yang dicampur dengan tempe dan sambal terasi.
“Karena sambalnya dibumbui dengan penuh cinta. Ada cinta ibumu dalam terasi itu. Ada sentuhan kasih sayang saat ia mengulek sambalnya,” jelas lelaki itu tersenyum.
Kinar mendengus lagi, “Sambal itu kubuat dengan potongan cabai merah, bawang merah, bawang putih, garam, gula, dan sepotong terasi tentunya. Tidak ada bumbu cinta seperti yang kau sebutkan tadi. Jangan mengada-ada!”
“Pantas sambalnya pedas, ibumu sedang marah ketika memasaknya ternyata,” sembur suaminya lagi.
“Sambalnya pedas karena aku terlalu sedikit menambahkan gula ke dalamnya. Gula di dapur hampir habis, aku harus menghematnya. Bagaimana lagi, suamiku sibuk menekan-nekan keyboard komputer tua itu setiap hari,” Kinar kembali menyindir suaminya.
“Jangan sepelekan pekerjaan orang, Kinar. Bisa jadi kita akan kaya raya jika suatu saat nanti naskahku ini diterbitkan penerbit besar. Kau akan tersenyum setiap hari melihatku mengetik seperti ini. Kau tidak lagi akan mengomeliku,” terang suaminya.
“Aku tidak menyepelekanmu, Pak. Aku juga tidak melarangmu menulis. Tapi bukankah menulis itu tidak bisa dijadikan pekerjaan tetap? Kau masih bisa menulis jika itu menjadi bagian kesukaanmu, tapi kau juga harus bekerja. Kau menikahiku bukan untuk mengomelimu setiap hari kan? Bukan untuk mendengar imajinasi dan diksi-diksimu terus kan? Kau butuh istri untuk apa sebenarnya? Coba beritahu aku!” Kinar tidak bisa mengontrol emosinya lagi.
Di sebelahnya, Tedi sudah ternganga mendengar ibunya marah-marah. Sementara suaminya sudah mengurut kening.
“Aku menikahimu karena kamu adalah air untuk apiku. Kamu adalah genap bagi ganjilku. Kamu adalah biru untuk langitku. Bagaimana bisa aku tidak menikahimu jika di dekatmu kehidupanmu terasa begitu mengesankan?” ucap suaminya lembut.
“Bagaimana bisa kau membercandaiku dengan diksi menjijikkan itu disaat aku sedang marah begini, Paakk?!” teriak istrinya.
“Aku tidak bercanda. Dan aku tidak pernah seserius ini.” tambah suaminya lagi.
Raut wajah wanita itu memerah, antara terharu dan berusaha menahan amarah. Berdiri ia segera untuk membereskan sisa makan malam itu. Tedi sudah diusirnya untuk kembali masuk ke kamar. Mengerjakan tugas sekolah. Diantara dentingan piring yang disusun menjadi satu, lelaki itu menatap istrinya sambil tersenyum. Puas sekali bisa melihat istrinya marah-marah seperti tadi. Jadi kelihatan tambah cantik. Tidak, perempuan itu tetap cantik dalam tawa dan amarahnya. Dan semakin cantik ketika wanita itu melahirkan Tedi untuknya.
* * *
Tedi terbangun dari tidurnya. Terseok dia melangkah ke luar untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Suara berisik itu datang dari arah dapur. Apa sudah subuh? pikirnya lagi. Tetapi ia terkejut ketika melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 1 malam. Dibukanya tirai penutup pintu yang membatasi ruang dapur.
“Ibu sedang apa? Kenapa berisik sekali malam-malam begini?”
Kinar menoleh, matanya sembab. “Ibu sedang menggoreng doa-doa, Nak. Sesekali ibu campurkan air mata. Barangkali esok pagi bapakmu mendapat kerja. Semoga Tuhan mengabulkannya.”
Tedi terdiam mendengar ucapan ibunya.  Tiba-tiba dadanya sesak. Pikirannya melalangbuana. Keringat dingin berkumpul di dahinya, hanya satu yang ia pikirkan saat itu, “Apa.. Apakah.. Apakah ibu sudah gila?”

Cemburu (Terbit 15 Oktober 2017, di Harian Medan Pos)

Gue baru akan membuka pintu mobil ketika hape gue berbunyi. Gue mengira itu telepon dari Eril. Secepat yang gue bisa, gue merogoh saku celana. Jauh api dari panggang. Yang menelepon bukan Eril, melainkan Melisa. Mau apa dia? Batin gue kesal.
“Ada apa?” Tanya gue tanpa basa-basi.
“Bisa temui aku sekarang? Di coffe shop daerah Bintaro,” pinta suara dari seberang sana.
“Nggak bisa. Aku ada keperluan dengan Eril. Nggak bisa diganggu,” suara gue meninggi.
“Ayolah, sebentar saja. Ada yang ingin kubicarakan padamu. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku hanya ingin kau datang,” suara itu kini terdengar serak. Melisa menangis? batin gue.
Lama gue terdiam. Berpikir jawaban terbaik apa yang akan gue berikan pada gadis itu. “Jika kau tak datang, maafkan aku karena tidak bisa menemuimu lagi setelah ini. Aku ingin pulang. Pulang ke tempat yang sebenarnya. Aku sudah sangat lelah,” ucap gadis itu lagi, kini suaranya terdengar parau.
Gue menghela napas panjang. Takdir apa lagi ini? Bagaimana? Apa yang harus gue perbuat? Apa gue harus menemui Melisa dan membatalkan janji yang gue buat sama Eril? Apa Eril bisa menerima alasannya? Lalu gimana jika gue gak datang ke coffe shop itu, apa mungkin Melisa benar-benar akan mengakhiri hidupnya setelah ini? Gue menggaruk kepala, bingung. Yang gue paham dari gadis manja itu cuma satu, dia selalu gegabah dan tak pernah berpikir panjang. Telepon masih menggantung di sana. Lama gue berpikir. Hingga akhirnya gue memutuskan sesuatu.
“Baik, aku segera datang. Kau.. jangan lakukan hal-hal aneh sampai aku tiba di sana,” KLIK. Sambungan telepon terputus. Gue segera melajukan mobil menuju daerah Bintaro. Gue berpikir ini tidak akan mengganggu kencan gue dengan Eril. Gue bisa mengirimkan pesan singkat pada Eril bahwa gue akan telat beberapa menit. Dan gue akan segera datang menuju taman kota ketika gue sudah berhasil membujuk dan menenangkan hati Melisa. Mantan kekasih gue itu memang payah.
* * *
Gue berdiri di pintu coffe shop dengan perasaan tidak menentu. Hujan di luar belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Gue mengutuk diri sendiri yang tidak bisa kabur dengan cepat dari tempat memuakkan ini. Gue melirik Melisa yang masih duduk manis di bangku berpelitur cokelat itu sejak tadi. Omong kosong! Masalah Melisa yang disampaikannya tidak lagi menjadi masalahku. Bodohnya gue mau tertipu oleh mulut manisnya. Masalah kandasnya hubungan percintaannya dengan laki-laki pilihannya dulu tidak akan membuatnya bunuh diri. Dia gadis yang licik, umpat gue dalam hati.
Kini gue benar-benar merasa bersalah dengan Eril. Harusnya ini menjadi momen paling bahagia di hidup gue. Harusnya ini menjadi malam paling istimewa untuk gue dan juga Eril. “Happy birthday, Dear,” ucap gue lirih seraya menggenggam kotak kecil berwarna tosca itu. Penyesalan memang selalu datang belakangan. Andai saja gue mau berpikir sedikit lebih panjang. Mungkin Eril sudah pulang sejak tadi. Nggak mungkin dia akan menunggu gue hingga hujan seperti ini. Dan hape ini… ahh sial! Lowbat. Gue tak henti-hentinya memaki diri sendiri. Besok gue harus menemui Eril dan menjelaskan semuanya.
Ini hari ulang tahun Eril dan gue merusak semuanya. Eril pasti marah besar sama gue. Semua yang gue rencanakan gagal total hanya karena malam ini gue lebih mengutamakan bertemu Melisa dibanding dirinya. Gue yakin Eril tidak akan bisa menerima penjelasan gue kali ini. Tapi bagaimana pun juga, ini semua harus dijelaskan. Eril harus tahu kalau ada alasan dibalik kegagalan malam ini.
* * *
Gue berlari mengejar Eril yang berjalan santai di halaman sekolah. Pagi ini dia menolak untuk dijemput. Gue tahu, ini bagian dari kemarahannya tadi malam karena gue telah mengingkari janji. Gue memanggil namanya berkali-kali, namun dia cuek. Terus berjalan santai menuju kelas. “Ril.. gue mau ngomong,” kata gue saat tiba di kelas. Eril meletakkan tas sekenanya di atas meja. “Kalo mau ngomong, ya ngomong aja,” dia acuh menjawab, seraya memainkan hape. “Gue mau bicara di pendopo belakang, nggak di sini. Bisa?” pinta gue lagi. “Sori, gue sibuk!” katanya datar.
Gue lirik hapenya. Dia sedang bermain game online. Gue menarik napas panjang, “Sebentar aja,” Eril melirik gue sinis. Lantas berjalan meninggalkan kelas menuju pendopo belakang. Gue meraih tas dengan cepat. Jam pelajaran dimulai masih 15 menit lagi. Masih ada waktu untuk membicarakan masalah ini. Gue duduk di sebelah Eril yang masih sibuk dengan game-nya. Gue tahu itu salah satu cara Eril nyuekin gue. Menganggap gue nggak lebih penting dari mainannya. Eril pun enggan mengeluarkan suara.
“Kenapa semalam gak angkat telpon gue?” gue membuka percakapan. “Peduli apa sama gue?” jawab Eril sengit. “Kenapa jawabnya gitu?” gue kaget mendapati jawaban Eril gak sehangat biasanya. “Kenapa menanyakan itu?”
“Lo kenapa?”
Eril menatap gue tajam. “Lo yang kenapa? Kenapa tadi malam gak datang? Kenapa membuat janji tapi malah lo ingkari sendiri? Kenapa mengirimi gue surat gak penting itu? Kenapa meminta gue datang ke taman kota dengan kue dan lilin angka 18? Kenapa lo bilang kalau lo akan telat hanya untuk beberapa menit? Kenapa lo bohong sama gue?” kali ini Eril menatap wajah gue dengan penuh amarah. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan tangis. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku roknya, lalu melemparkannya ke arah gue. Surat itu. Surat yang kemarin siang gue titipkan pada Kak Yudith di rumahnya, saat Eril sedang latihan renang dengan teman-temannya.
“Buka! Baca! Gue harap lo masih bisa baca dan paham maksud surat itu!” Eril berkata ketus. Gue mengambil kertas yang sudah mulai lusuh itu. Gue buka perlahan dengan perasaan yang sulit digambarkan. Gue merasa bersalah sekali pada Eril.
Happy Birthday, Dear. Temui gue di taman kota jam 7 malam nanti dengan kue dan lilin angka 18. Gue akan membawakan lo sebuah kado istimewa. Sampai nanti. Gue sayang elo J ( A R A S H )
Gue diam membacanya. Baru kali ini gue ngerasa udah benar-benar mengecewakan Eril, pacar sekaligus sahabat gue. Gue sudah menduga Eril akan semarah ini. Gue juga sudah menduga gadis itu akan kecewa karena sikap gue. “Kenapa diam saja?” Nada suara Eril meninggi, meminta jawaban. Gue menatap wajah Eril perlahan. Bola mata kami kini bertabrakan. Gue dapat merasakan kekecewaan masih bersarang di mata indah itu. Sungguh, gue gak bermaksud begitu. Gue mengakui ini semua memang kesalahan fatal.
“Gue minta maaf. Malam itu hujan deras, gue gak bisa datang,” Gue nggak punya alasan lain yang lebih logis. “Gitu, ya?” Eril mengangguk pelan, lalu membuang pandangan ke arah lain. “Kenapa lo gak balas pesan singkat atau menjawab telepon gue?” “Apa menurut lo itu penting? Tiga jam gue nunggu lo di sana. Gue datang tepat waktu seperti yang lo minta. Gue bawa semua yang lo inginkan. Gue terima alasan lo yang mengatakan kalau lo cuma akan telat beberapa menit. Tapi apa yang gue terima? Kemana lo malam itu?” Mata Eril sudah penuh dengan air mata, sekali kedip air mata itu tentu akan mengalir deras mengaliri pipinya.
Gue menunduk. Gue tahu kali ini dia benar-benar melakukan kesalahan fatal. Eril merasakan ada sesuatu yang lain yang sedang gue sembunyikan. Mata itu menatap gue meminta jawaban. “Gue menemui Melisa, tapi bukan untuk pertemuan yang sudah dijanjikan. Dia meminta gue datang karena ada hal penting yang ingin ia bicarakan,” Gue akhirnya berkata jujur. “Ketika itu gue baru akan berangkat menuju taman kota. Gue pikir pertemuan itu bisa sebentar saja. Tapi ternyata hujan lebih dulu datang. Gue jadi nggak bisa menemui lo. Gue minta maaf, Ril…” Gue menghela napas panjang.
“Ah, akhirnya gue ngerti. Gue ngelihat ada beberapa hal yang nggak akan pernah berubah dari diri lo,” kata Eril akhirnya seraya tersenyum kecut.
“Apa?”
“Perasaan lo pada gadis itu,” Eril sudah menghapus air matanya. Gue tertegun mendengar jawaban Eril. Apa yang dipikirkan gadis itu? Begitu burukkah gue di matanya? Kami hanyut dalam diam. Eril enggan bersuara lagi. Ia alihkan pandangannya ke tempat lain. “Gue gak tahu lagi apa yang harus gue katakan sama lo selain kata maaf. Maafin gue, Ril,” Eril tetap diam, tak menoleh barang sedikit pun. Gue melanjutkan. “Sekali lagi gue ngomong jujur sama lo, gue nggak melakukan sesuatu yang penting dengannya malam itu. Gue nggak kencan, juga nggak bersenang-senang. Sekiranya lo paham apa yang akan lo lakukan jika seseorang meminta lo hadir ketika ia sedang kalut oleh masalah. Ketika ia mau bunuh diri,”
Eril menoleh, “Bunuh diri? Dan lo percaya?!” dia mendengus kesal. “Ya, dia mengancam akan bunuh diri jika gue gak datang,” Gue meraih tas dan merogoh sesuatu dari sana. Mata Eril melebar ketika gue menunjukkan sesuatu. “Maksudnya apa?” Eril menerima benda itu. “Ini hadiah ulang tahun lo,” jawab gue datar. Eril mengernyit bingung. “Ini tisu buat ngehapus air mata lo. Gue tahu lo semalaman nangis karena gue. Iya, kan? Harganya gratis! Asalkan lo janji nggak nangis lagi!” gue mengambil selembar dan menghapus bekas air mata di pipi Eril.
“Emangnya yang mau bayar siapa?!” Eril melengos. Gue nyengir. “Jadi… ini kado istimewa yang lo bilang dalam surat itu?” Eril tak terima. Gue tertawa, “Iya..” jawab gue sengaja meledeknya. Eril mendengus sebal, “Kalo beginian di rumah gue juga banyak!” Gue menghapus bekas air mata di pipi kanannya lagi. Eril terdiam. “Maafin gue, ya. Udah mengacaukan mood lo di hari ulang tahun semalam,” Eril menatap gue dalam. Gue yakin Eril tidak akan marah lama-lama sama gue. Sejak dulu dia memang begitu. Hatinya cepat sembuh dan mood-nya juga cepat membaik. Eril mengangguk sekilas.
“Tapi ada syaratnya!”
“Apa?”
“Traktir gue makan siomay 2 mangkok, coklat 2 batang, plus jus jambu 2 gelas! Deal?”
“Pemerasan!” kata gue menjitak dahinya. Eril meleletkan lidah tak peduli. “Happy birthday, Papan ujianku. Meski telat satu hari,” Gue menatap Eril sambil tersenyum. Mengeluarkan sesuatu dari saku celana sekolah, sebuah kotak kecil merah jambu berisi dua buah gelang couple berwarna coklat tua. Masing-masing bertuliskan nama dan foto gue juga Eril. Gue memakaikannya di pergelangan tangan Eril dengan gelang bertuliskan nama gue. Dan memakai gelang satunya lagi yang bertuliskan nama Eril.
Eril balas tersenyum. Ia tidak mengucapkan apa-apa. Hatinya terlalu riuh dengan setiap momen abstrak yang gue tujukan padanya hari ini. Jadi dia memilih mendekat ke arah gue, sambil memperhatikan kedua gelang itu. Dari matanya gue tahu, dia tak ingin kesalahpahaman ini berlanjut lebih lama lagi. Cewek papan ujian yang keras kepala namun pemaaf. Gadis keras kepala yang absurd tingkahnya namun membuat nyaman tiap kali gue bersamanya. Gak aka nada yang mengerti gue seperti dia mengerti gue saat ini. Gue bermonolog dalam hati. Gue menepuk bahunya pelan, tepukan seorang sahabat. Tepukan terima kasih karena sudah mau memaafkan gilanya kesalahan gue. Di mata gue, kita adalah satu, apa pun yang mengganggu. Karena gue percaya, semua akan baik-baik saja, selama gue meyakini itu.