Total Tayangan Halaman

Sabtu, 10 Juni 2017

Tiket Menuju Surga (Terbit 11 Juni 2017, Harian Medan Pos)

“Duhh, rajin banget sih, pagi-pagi udah bersih-bersih,” aku berteriak dari halaman depan rumahku. Tentu saja, pagi ini aku kembali mengusili Khasina, tetangga depan rumahku yang umurnya satu tahun lebih muda daripadaku. Dia adalah adik kelasku di sekolah.
“Mendingan aku kan, pagi-pagi di bulan Ramadhan ada sesuatu yang dikerjakan dan menimbulkan manfaat. Ketimbang kamu? Setiap pagi masih aja main petasan. Kayak bocah!” ejeknya tak mau kalah.
“Eeehh, jangan salah. Main petasan juga menimbulkan manfaat. Main petasan itu juga termasuk olahraga, loh.. Nih ya, aku kasih contoh. Misal ada seseorang atau lawan main kamu yang ngelempar petasannya ke arahmu, apa coba yang akan kamu lakukan? Lari, kan? Pasti kamu bakalan lari. Nah, itu apa? Lari itu juga ada manfaatnya. Pagi-pagi main petasan sambil lari-lari kan juga termasuk olahraga!” jelasku. Kali ini aku sudah mendekat ke halaman rumah Khasina. Dia masih ngedumel dan terus menyapu halaman.
“Teori dari mana itu? Selama 11 tahun aku sekolah, belum ada tuh teori permainan olahraga yang seperti itu. Dasar si tukang ngarang!” ejeknya lagi.
“Memang susah deh ngomong sama anak perempuan,” celetukku usil.
Khasina masih terus melanjutkan pekerjaan rumahnya. Dia tak menggubrisku meski aku sedang berusaha menarik perhatiannya agar marah. Yah, anak perempuan berhijab itu memang terkesan cuek, itulah sebabnya aku seringkali menggodanya dengan keusilanku.
“Sudah sana, kamu pergi,” Khasina kembali bersuara.
“Eh eh eh, kamu ngusir aku?” aku memegang dadaku, seolah-olah merasa terkejut.
“Jangan lebay deh! Keberadaanmu di sini membuat atmosfer halaman rumahku jadi gerah,” cibirnya.
“Dasar anak kecil! Berani sekali kamu mengusirku. Awas yaaa…” aku mengeluarkan satu buah petasan dari saku celanaku.
“Eh, mau ngapain?! Awas saja kalau kamu berani melemparnya padaku!” ancam Khasina lucu. Aku masih terus berpura-pura untuk menghidupkan korek api, berusaha menakut-nakutinya.
“Aku bilang pergiii! Pergi, Andiiii!” Khasina berteriak nyaring. Sayang sekali, niatku ingin menakut-nakuti Khasina dengan petasan dan berpura-pura ingin melempar ke arahnya, gagal total. Gadis itu malah dengan sengaja melempar sapu lidinya tepat ke arahku. Dan berlari secepat mungkin masuk ke dalam rumahnya. Aku yang kaget karena lemparan sapu lidinya, hanya bisa terdiam. Detik berikutnya, tawaku sudah menyembur kemana-mana.
* * *
 Sore ini, sehabis mandi aku kembali mendapati Khasina ada di rumahku. Tepatnya dia sedang cekikian berdua sama Mama di dapur. Aku yang masih dongkol dengan ulahnya pagi tadi, kembali mengganggunya. “Lemparan sapu lidimu ternyata mantap juga, ya,” aku mulai menggodanya. Khasina tampak sedikit kaget dengan kehadiran suaraku secara tiba-tiba. Kemudian dia nyengir, “Maaf deh, lagipula aku yakin sekali, terkena lemparan sapu lidiku tidak akan sesakit jika terkena lemparan petasanmu,” dia membela diri.
Aku melengos dan duduk di kursi yang menghadap ke dapur.  “Apa itu, Ma? Kelihatannya enak,” tanyaku pada Mama yang sedang menyalin sesuatu dari rantang kecil.
“Ini puding cokelat buatan Khasina, Ndi. Dia baru belajar memasak. Iya, kan, Sayang?” Mama mengelus jilbab peach Khasina. Yang dipuji hanya tersenyum simpul.
“Waahh, pasti nggak enak tuh,” celetukku. Kulihat wajah Khasina berubah cemberut.
“Oh ya, Ndi.. nanti sehabis maghrib kamu ikut tarawih ke masjid, ya. Pergi bareng saja sama Khasina. Nanti sesudah tarawih, kamu ikut tadarusan. Khasina juga tadarus di masjid, kan?” Mama bertanya sambil menoleh pada Khasina.
“Iya, Bu. Saya tiap malam ikut tadarusan di masjid dengan Ustad Hasan. Lumayanlah, Bu, tiap malam bisa dapat tiket,” Khasina tersenyum, begitu pula dengan Mama. Bedanya, Mama melirikku untuk menyetujui usulan Mama.
“Em… anu, Ma. Kayaknya Andi bakal ada acara nanti malam sama teman-teman, Ma. Hmm.. ituuu makan besar di rumah Tomi, kan dia hari ini masuk rumah baru, Ma,” aku mencoba beralasan.
“Untuk malam ini, Mama tidak izinkan kamu kemana-mana. Kamu harus tarawih dan ikut tadarus. Malu dong, sudah kelas 12 tapi baca Al-Qurannya masih macet-macet. Nanti di sana kamu bisa belajar banyak. Selain ada Ustad Hasan, ada Khasina juga kok. Nanti kamu bisa minta diajarkan sama Khasina. Ya, Sayang, ya?” Mama kembali memanggil Khasina dengan sebutan sayang. Menyebalkan.
“Ya sudah, saya pamit dulu, ya, Bu. Oh ya, Andi, selepas maghrib, aku tunggu kamu di depan rumahku, ya. Kita pergi tarawihan bareng,” Khasina tersenyum penuh kemenangan. Aku tahu sekali, dia pasti bahagia melihat aku tersiksa. Dia adalah satu-satunya anak perempuan di lingkungan rumahku yang dekat dengan Mama. Dan aku yakin, Mama sudah cerita banyak tentang aku yang jarang puasa, jarang sholat, jarang tarawih, dan jarang tadarusan.
* * *
Malam ini, perjalanan ke masjid terasa begitu panjang. Bukan, bukan karena aku tidak setuju dengan usulan Mama untuk ikut tarawih dan tadarus bersama teman-teman. Tapi lebih kepada aku sangat keberatan jika harus pergi berdua dengan Khasina, gadis berhijab yang tingkahnya sungguh menyebalkan.
“Ini masih Ramadhan kelima lho, Ndi,” Suara Khasina memecah keheningan.
“Panggil aku abang!” kataku tak terima. Khasina terkikik geli, “Untuk apa aku memanggilmu abang?” tanyanya masih dengan sisa tawa.
“Yaaa karena usiaku satu tahun lebih tua daripada kamu,” jawabku kesal.
“Aku hanya akan memanggilmu abang, jika sikap dan tingkah lakumu menunjukkan dirimu yang benar-benar sudah dewasa,” Khasina mencibirku.
Lihat, betapa beraninya dia mengejekku dengan kalimat menyakitkan itu. Kalau saja dia bukan seorang anak perempuan, tentu sudah kuajak berkelahi sejak pertama kali bertemu. Tiba-tiba aku teringat dengan ucapan Khasina pada Mama tentang tiket yang dibahas tadi sore di rumahku.
“Ehm… tadi kamu bilang ke Mama, kalau setiap malam tarawih dan tadarusan, kamu mendapat satu tiket. Tiket apa, ya, kalau aku boleh tahu?” aku menatap Khasina dengan wajah penasaran.
Khasina tertawa, “Ciyeee, yang penasaran dengan kalimatku tadi sore,”
Aku menggerutu, “Sudah, jawab saja. Aku sedang tidak ingin bercanda,” kilahku.
“Begini, kalau memang kamu ingin tahu tiket apa yang aku maksudkan tadi, nanti saja aku jelaskan setelah pulang tarawih. Itu sudah adzan Isya, aku masuk duluan, ya.” Khasina pergi menuju kanan masjid dan bergabung dengan para perempuan lain. Aku yang masih bingung dengan ujung kalimat Khasina, tertegun sejenak. Tiket apa yang dimaksudkan? Apa mungkin Ustad Hasan menghadiahi para remaja yang mau tadarusan dengan satu tiket nonton konser musik atau tiket nonton di bioskop? Jika memang benar seperti itu, kenapa aku baru tahu sekarang? Kan lumayan, jika tiap malam aku mendapat satu tiket gratis nonton di bioskop, bisa ngajak teman-teman buat nonton bareng dengan tiket gratis itu. Aku terkikik sendiri dengan khayalanku, lalu masuk ke masjid untuk menunaikan Isya dan tarawih.
* * *
Setelah selesai tarawih dan tadarusan dengan dibimbing Ustad Hasan, kami pun diizinkan untuk pulang. Aku terheran karena tidak satupun dari kami yang mendapatkan tiket nonton konser musik atau tiket nonton bioskop. Bahkan Ustad Hasan tidak membahas sedikitpun mengenai tiket seperti yang digadang-gadangkan Khasina padaku. Maka, ketika kami berdua beriringan menuju rumah, aku meluapkan penasaran dan rasa kesalku pada gadis menyebalkan itu.
“Dasar pembohong kamu! Mana tiket yang kamu janjikan padaku jika aku ikut tarawih dan tadarusan malam ini?” Aku mencecarnya dengan penuh kekesalan.
Khasina yang tampak kaget dengan ucapanku, melirikku sekilas, lalu menghela napas, “Memangnya kamu mengharapkan tiket seperti apa ketika aku mengatakan itu sore tadi?”
“Yaaa, minimal tiket nonton bioskop atau nonton konser musik, kek…” ujarku.
Khasina hanya tertawa, kudengar suara tawanya yang khas memenuhi gendang telingaku. “Andi, bagaimana mungkin kamu berpikiran seperti itu? Masa kamu beribadah kepada Allah hanya untuk mengharapkan sebuah tiket nonton bioskop dan konser musik?” Khasina masih belum usai dengan tawanya. Aku terdiam. Merasa bodoh ketika Khasina menertawakanku seperti ini.
Ketika tawanya selesai, Khasina mulai berbicara lagi.
“Usia kita sudah bukan kanak-kanak lagi, Ndi. Seharusnya, di bulan Ramadhan yang penuh keberkahan ini, kita tidak menyia-nyiakannya dengan percuma. Segala hal yang dilakukan di bulan Ramadhan ini, pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Bahkan saking berkahnya bulan suci ini, kegiatan tidur pun mendapatkan pahala. Begitu baiknya Allah pada kita, masa kamu hanya berharap mendapat tiket nonton bioskop dan konser musik, sih?” tanya Khasina serius. Kulihat dia tersenyum saat aku meliriknya.
“Seharusnya kamu bisa berharap lebih dari pada itu. Aku lihat, kamu itu adalah anak laki-laki yang baik. Ya, meskipun setiap bertemu kita selalu bertengkar. Aku minta maaf jika aku teramat menyebalkan di matamu. Tapi, aku di sini hanya ingin membantumu menjadi lebih baik lagi. Mulai besok, kamu harus puasa. Orang-orang yang tidak berpuasa, tidak berhak mencium bau surga. Atau paling tidak, tidak berhak menemu hari lebaran. Karena lebaran itu hanya untuk mereka yang sudah berpuasa penuh selama satu bulan.”
“Mulai besok juga, kamu harus sholat lima waktu. Puasa tanpa sholat, ibarat memakai baju tapi tidak memakai celana. Ibarat bekerja tapi tidak mendapat gaji. Akan sia-sia, bukan? Dan kamu juga harus tarawih. Sholat tarawih itu hanya ada di bulan Ramadhan, jadi jangan ditinggalkan dan disia-siakan. Dan kamu harus membaca Al-Quran atau tadarus. Ingat, Ndi, kita sudah baligh, dosa kita bukan lagi urusan ayah-ibu kita.” jelas Khasina panjang lebar.
Aku terdiam. Segala ucapan Khasina benar-benar menyentuh hatiku. Dan dia menyadarkanku akan kekeliruanku selama ini. Tapi, rasa penasaranku akan tiket itu kembali membuncah, “Jadi, maksud tiket yang kamu katakan tadi itu, apa?”
Khasina tersenyum, “Di bulan Ramadhan ini, semua umat muslim di dunia memang sedang berburu tiket itu, Ndi. Tiket menuju surga. Menuju surganya Allah, menuju keberkahan dan kemenangan.”

Aku haru sekali mendengar penjelasan Khasina. Anak perempuan menyebalkan itu ternyata lebih dewasa dari usianya. Kagum sekali aku padanya malam ini. Dia telah membukakan pikiranku tentang indahnya Ramadhan. Dan aku rasa, tidak ada alasan lagi bagiku untuk tidak segera memperbaiki diri di bulan suci ini. Tanpa sadar, aku mengucapkan terima kasih pada Khasina atas nasihat baiknya malam ini. Khasina tersenyum, manis sekali. Kami melanjutkan langkah menuju rumah. Diam-diam aku mulai mengaguminya. Mungkin ini nih yang dikatakan Mama sebagai calon istri idaman. Aku tertawa dalam hati.

Jumat, 09 Juni 2017

Menjahit Beda *Bag. 2* (Terbit 09 Juni 2017, Buana Kata)

Keluarga Agatha tidak sedingin yang aku kira. Keramahan tampak keluar dari retina mata para penghuninya ketika aku sampai dan mengetuk pintu rumah mereka tiga kali. Saat itu, pintu dibuka oleh seorang perempuan berusia 30 tahunan. Perempuan dengan senyum ramah itu mempersilakanku masuk dan menggiringku menuju ruang keluarga. Kedatanganku ternyata telah ditunggu oleh orangtua dan kedua kakak Agatha. Ternyata perempuan yang membukakan pintu tadi adalah kakak iparnya, istri dari kakak laki-laki Agatha.
Setelah membaca pesan Agatha dan menimbangnya cukup lama, aku akhirnya memutuskan untuk menurunkan ego dan rasa takut, memilih siap menemui ayahandanya. Tentu ini bukan perkara mudah. Bagaimana bisa seorang lelaki muslim yang begitu taat kepada Tuhannya, tidak tergoyah sedikitpun imannya, berani mendatangi rumah gadis yang berbeda keyakinan dengannya. Bagaimana yakin ia bahwa keluarga gadis protestan itu akan menerimanya? Keberanian apa yang akan ia bawa untuk berhadapan dengan orangtua gadis tersebut?
Jawabannya hanya satu, lelaki itu mencintai gadis berwajah oriental itu. Lelaki itu ingin menjadikan gadis itu sebagai pasangan hidupnya. Dan ia akan berusaha semampu yang ia bisa, urusan hasil biarlah Tuhan yang menentukan. Sebelum pergi, aku sudah menyiapkan jawaban terbaik. Jika diterima, aku akan sangat bersyukur. Namun jika tidak, barangkali memang inilah takdir yang sudah Tuhan gariskan untukku.
Ayah Agatha mempersilakanku duduk. Aku berusaha meminimalisir gejolak dalam dadaku. Berusaha untuk tetap tenang, meski banyak pasang mata yang seolah melucuti keberanianku. Kulihat Agatha melirikku sekilas dan melemparkan senyum simpul. Aku membalas senyumnya, tipis saja.
“Silakan diminum tehnya, Nak Satya,” suara berwibawa itu keluar dari mulut ayahnya. Aku mengangguk kecil kepada lelaki yang kutaksir usianya sekitar 60 tahun itu. Kemudian menyeruput teh melati yang mereka suguhkan padaku.
“Saya rasa, Nak Satya ini sudah mengenal Agatha lumayan lama. Benar begitu?” bapak berkumis tebal itu kembali bersuara.
Aku mengangguk, “Benar, Pak,”
“Dan menurut cerita Agatha, kalian sudah menjalin hubungan spesial sejak Agatha masuk dan bekerja di perusahaan yang sekarang menjadi kantor bagi kalian berdua,”
“Iya, Pak. Benar sekali,” aku masih menjawab dengan tenang.
“Terima kasih sudah banyak mengajarkan dan membantu Agatha selama ia berada di perusahaan tersebut,” ayahnya tersenyum padaku. Sama sekali tidak tersirat kebekuan di dalam senyumnya.
Aku membalas senyum beliau, “Sama-sama, Pak. Sebenarnya Agatha juga banyak membantu saya di kantor. Dia adalah rekan kerja yang baik,” pujiku sambil melirik Agatha. Yang dilirik malah tersipu, meski tidak dengan ekspresi berlebihan.
“Apakah benar Nak Satya ini adalah seorang muslim?” tanya ayahnya lagi.
Aku rasa, pembicaraan ini akan segera menjurus ke hal-hal yang serius. Aku mengangguk tersenyum.
“Dan Nak Satya masih tetap bertahan menjalin sesuatu yang sama meski tahu bahwa Agatha itu berbeda?” tanyanya lagi.
Aku kembali tersenyum dan mengangguk, “Saya mencintai Agatha, Pak,” entah kekuatan darimana yang kudapatkan hingga aku berani mengatakan hal sekonyol itu di depan ayahandanya.
Kulihat beliau tersenyum, begitu juga dengan ibu dan kedua kakak Agatha. “Kalau saya boleh tahu, apa alasan Nak Satya bertahan sejauh ini dengan Agatha? Apakah memang sudah seserius itu?” beliau menatapku tajam. Seperti berusaha menjatuhkan keberanianku. Tapi lebih terkesan ingin menguji rasaku kepada anak gadisnya.
“Tidak ada alasan lain selain saya meyakini perasaan saya sendiri, Pak. Bahwa saya mencintai putri bapak. Terlepas dari segala perbedaan kami,” ungkapku. Aku masih berusaha tenang.
“Lalu, langkah apa yang akan Nak Satya tempuh untuk membuktikan ini semua? Sekaligus untuk meyakinkan kami sebagai keluarganya, bahwa benar-benar ada seorang lelaki yang begitu menginginkan Agatha?” beliau tersenyum lagi.
Aku menarik napas dalam. Mungkin inilah saatnya aku mengutarakan keinginanku sejak dulu. Demi rasaku, aku tidak ingin bermain-main dalam urusan perasaan. Dan setelah meminta pendapat ibu dari jauh-jauh hari, ada satu hal yang selalu kuingat. Bahwa sejatinya Tuhan menciptakan beda dan cinta dalam satu lingkup yang sama. Beda adalah penyakitnya, dan cinta sebagai penawarnya. Perbedaan tidak selalu menyakitkan. Perbedaan hanyalah ujian untuk membuktikan seberapa kuat kita menerima segala ketentuan Tuhan.
Ayah Agatha menyeruput tehnya, lalu melirikku. Masih menunggu jawaban. Dengan bismillah, aku utarakan keinginanku untuk menikahi Agatha. “Jika diizinkan, saya ingin meminta Agatha dari bapak dan ibu untuk masuk ke dalam keyakinan saya. Dengan sebuah janji, bahwa saya akan dengan sabar dan penuh cinta mengajarkan ia tentang segala ilmu di dalam keyakinan saya,” aku menunduk, tidak begitu berani menatap mata ayah Agatha lagi.
Aku menangkap raut-raut kaget dari kedua kakak Agatha. Untuk kemudian, kakak perempuan yang merupakan ipar Agatha menyahut, “Kenapa tidak Satya saja yang masuk ke dalam keyakinan kami?” terdengar seperti sebuah tawaran yang menampar keras gendang telingaku. Aku diam saja. Misiku bukan untuk memperdebatkan keyakinan di dalam rumah ini. Aku hanya ingin mendapatkan izin dan juga restu dari kedua orangtua Agatha. Khususnya ayahandanya.
Aku kembali menatap ayahnya, seperti meminta jawaban atas segala penjelasanku tadi. Ayahnya tersenyum, lalu menjawab, “Agatha sudah besar sekarang. Dia sudah dewasa. Saya yakin dia sudah bisa memilih mana yang baik dan buruk. Masalah keyakinan, saya serahkan seutuhnya pada Agatha. Dia yang akan menjalani hidupnya. Dia yang akan mengerti tentang pilihannya kelak. Tugas saya sebagai orangtua adalah mendidiknya sesuai dengan ajaran agama yang saya anut, sebab dia adalah anak saya. Ketika dewasa, dia berhak memilih keyakinannya sendiri,” terang beliau dengan sangat bijaksana.
Aku seperti mendapat angin segar. Seolah-olah ada setumpuk kebahagiaan yang tiba-tiba memenuhi rongga dadaku. “Agatha, apa kamu menerima segala yang telah diutarakan Satya?” beliau bertanya kepada putri bungsunya. Kulihat senyum Agatha merekah. Senyum itu jauh lebih indah dari biasanya. Agatha hanya mengangguk, lalu beranjak untuk kemudian memeluk ayah terkasihnya.
Percakapan menegangkan itu ditutup dengan jamuan makan siang bersama. Sambil membahas rencana hubunganku dengan Agatha selanjutnya, ruang makan itu terasa begitu hangat dan penuh dengan cinta. Aku sendiri begitu salut dan terpukau dengan kalimat yang tadi diungkapkan oleh ayah Agatha yang nantinya juga akan menjadi ayahku. Beruntungnya aku dipertemukan dengan orang-orang yang sepaham bahwa perbedaan bukanlah alat untuk memecah belah segala. Perbedaan ada untuk saling menguatkan rasa cinta.
Usai makan siang selesai, Agatha mengantarku sampai halaman. Aku pamit dengan banyak ucapan terima kasih atas pertemuan sehangat ini. Tak lepas kuperhatikan senyum menghiasi wajah Agatha.
“Kau tambah cantik,” kataku membuka percakapan.
“Jelas saja. Aku tambah cantik sepuluh kali lipat setelah mendengar restu itu keluar dari mulut ayahku,” Agatha tertawa.
“Usaha kita tidak sia-sia, bukan?” aku mengedipkan sebelah mataku.
“Iya, karena calon suamiku begitu gigih memperjuangkan segala. Dia berani menemui calon mertuanya dalam waktu yang mendadak seperti ini,” Agatha masih tertawa.
“Iya, dan kelak akan kuajarkan kepada anak laki-laki kita,” aku ikut tergelak.
“Sat…” panggil Agatha usai tawa kami reda.
“Ya?” aku menoleh dengan senyum.
“Aku sayang kamu,” katanya tersenyum.
“Tumben? Biasanya susah sekali mengatakan itu?” godaku.
Agatha menggebuk dua kali helm yang sudah kukenakan. “Aku sedang belajar mengatakan itu setiap hari. Karena setelah menikah nanti, aku akan mengatakan sayang padamu setiap pagi,” dia terkekeh sendiri.

Aku tertawa, mengacak rambutnya perlahan. Aku pamit pada Agatha. Dia melepasku dengan senyum bahagia. Hari-hari berikutnya akan terasa lebih mudah bagi kami berdua. Perbedaan ini akan segera menjadi sama. Tidak akan ada lagi kekhawatiran. Tidak akan ada lagi ketakutan. Beda yang kami jahit hampir sempurna. Dan akan terus menyempurna. Karena kami akan selalu belajar, bahwa perbedaan adalah bentuk cinta dalam bungkus yang berbeda.

Senin, 05 Juni 2017

Menjahit Beda *Bag. 1* (Terbit 04 Juni 2017, Buana Kata)

“Menjadi kekasihmu seperti menanak luka dan menyiramnya dengan cuka,” katamu di suatu sore. Kala itu, kita sedang menikmati pesanan es krim di sebuah café langganan kita—double truffle dan mint chocolate chip untukmu, vanilla chip dan cheesecake untukku. Kita duduk di salah satu meja kecil yang menempel di dinding. Sore ini kau tampak begitu cantik, dengan dress pink fuschia dengan sweater warna senada. Rambut panjangmu tergerai indah, dengan bandana putih di atasnya.
Aku menyendok es krim ke mulut, “Tapi kau selalu punya penawarnya, kan?” sahutku.
“Tidak selalu. Terkadang tembok itu membuatku berpikir bahwa aku tidak akan mampu melewatinya,” kudengar suara pesimis dari nada suaramu. Aku membetulkan letak dudukku, mencoba menangkap sesuatu dari tirai matamu. Ada sekelebat takut di sana, juga secercah lelah menghiasinya.
“Kau ingin menyerah?” tanyaku kemudian. Gadis dengan lesung pipi yang sejak dua tahun lalu menjadi kekasihku itu menggeleng.
“Lalu kenapa membahas hal ini lagi? Bukankah kita sudah sama-sama sepakat bahwa kita akan menjahit beda? Kau tidak ingin mengingkari omonganmu sendiri, kan?” tegasku lagi.
“Tidak, Satya. Belakangan ini aku hanya terlalu banyak berpikir, apakah tengadah tanganmu dan lipatan tanganku bisa bersatu?” suaranya mulai bergetar. Gadis itu mengaduk-aduk sisa es krimnya. Sudah tak berniat lagi untuk menghabiskan. Barangkali selera makannya juga sudah menguap entah kemana.
“Jika dua tahun ini baik-baik saja, mengapa sore ini kau begitu gelisah, Agatha?” tanyaku kemudian. Aku mencoba menenangkannya dengan tatapanku. Meyakinkannya bahwa segalanya bisa dijalani sama-sama. Agatha menatapku, masih sama tatapannya seperti pertama kali kami berkenalan. Bertemu dalam sebuah pekerjaan adalah hal biasa. Tetapi selalu kepikiran hingga malam menjelang adalah bagian dari rencana Tuhan. Begitu pikirku kala itu.
Kami dekat dan semakin akrab tatkala aku tahu bahwa dia juga seorang penulis. Tulisannya melalangbuana di berbagai media dan aku mengetahuinya karena aku pecandu aksara. Aku suka membaca. Dan sudah jatuh cinta dengan buku sejak zaman batu. Agatha tertawa jika aku mengatakan hal itu. Dia bilang aku adalah tipe laki-laki unik. Terunik yang pernah ditemuinya selama 22 tahun hidupnya.
Kami sering membahas hal-hal seputar dunia kepenulisan. Tentang novel-novel keluaran terbaru, tentang Afi Nihaya Faradisa yang begitu kontroversial dengan tulisannya, atau tentang impian Agatha menelurkan sebuah novel terbarunya. Aku bukan hanya menjadi pendengar yang baik untuk tulisan-tulisannya, terkadang aku juga senang memberi kritik dan saran untuk kemajuan tulisannya. Dan Agatha selalu menerima itu dengan senang hati.
Lamunanku buyar ketika kudengar suara adzan maghrib berkumandang. Agatha menatapku, “Mau kutemani ke masjid?” dia tersenyum manis sekali. Aku membalas senyumnya dan bangkit dari dudukku. Membayar bill dan langsung menuju masjid terdekat dari café ini. Beginilah, keyakinan kami berbeda, namun cinta kami sama. Agatha selalu suka menemaniku pergi ke masjid jika kami sedang berada di luar rumah bersama. Atau jika kami sedang melakukan pekerjaan berdua.
“Kau tidak mau masuk denganku?” aku menggodanya.
Agatha meninju bahuku, “Mungkin lain kali. Sampaikan salamku pada Tuhanmu, ya,” dia tersenyum, membalas gurauanku.
Aku berbalik dan menuju tempat berwudhu. Sementara Agatha menungguku di atas sepeda motor. Kami berbeda, namun rasa kami sama. Sehingga apapun yang terjadi, kami akan melewatinya bersama-sama. Meski beberapa pasang mata di tempat kerja memandang sinis, meski beberapa keluarga Agatha menatap tak suka, terlebih ayahandanya. Tapi aku selalu berkata pada Agatha bahwa apa-apa yang telah ditulis Tuhan di Mahfudz-Nya, tidak akan bisa dihancurkan manusia. Siapapun dia.
Aku yakin Agatha tak terlalu paham dengan ucapanku, tapi aku tahu bahwa dia adalah gadis yang cerdas. Dia pasti bisa mengartikan maksudku. Kini, dua tahun sudah kami berjuang walau kesakitan. Dua tahun sudah kami menjahit beda agar menjadi sama. Dan dua tahun pula, kami sibuk berdoa dengan bahasa masing-masing. Aku masih tetap mencumbu Al-Quran, dan Agatha masih tetap mencumbu Al-Kitab. Aku masih sibuk berdoa dengan menengadahkan tangan, Agatha masih asik berdoa dengan melipat tangan. Aku masih sibuk dengan butiran tasbih, Agatha pun sibuk dengan kalung salibnya.
Segalanya kami jalani dengan cara yang berbeda, namun demi tujuan dan perasaan yang sama. Pernah suatu waktu, Agatha menanyakan keadilan Tuhan padanya. Saat kutemui ia pulang dari gereja seusai misa pagi.
“Mengapa aku harus jatuh cinta pada lelaki muslim yang sangat mencintai Tuhannya?” itu pertanyaan kesekian yang Agatha lontarkan padaku.
“Mengapa kau suka bertanya hal yang aku tidak tahu jawabannya?” aku mencoba bergurau.
“Kau tahu, terkadang aku merasa tersiksa. Mengapa Tuhan membuat kita saling jatuh cinta, jika pada akhirnya kita tidak akan bisa bersama? Mengapa Tuhan sisipkan luka saat kita berdua sedang jatuh cinta? Mengapa pula Tuhan membuat perbedaan, jika pada akhirnya yang beda ingin disatukan?” Agatha mulai berceracau.
Begitulah perempuan. Dia selalu berusaha mengungkapkan hal-hal yang menjadi ketakutannya pada kekasihnya. Dia selalu berusaha mengais jawaban untuk segala kekalutannya. Dia selalu mencoba mencari jalan agar keinginannya dikabulkan. Tapi mengertilah, Sayang, selalu ada hal yang hanya Tuhan yang tahu jawaban tepatnya.
“Bukankah hidup umat manusia memang selalu penuh dengan perbedaan? Mengapa dipermasalahkan, jika beberapa orang bilang bahwa perbedaan itu indah. Tergantung bagaimana cara kita menyikapinya. Mengapa sekarang kau seolah-olah sedang menghakimi Tuhan, Agatha?” tanyaku.
“Kau tahu, apa yang pastor katakan saat misa pagi tadi?” Agatha menatapku tajam.
“Apa?” aku menjawabnya tenang.
“Dia bilang, jika salah satu dari kami mencintai yang beda agama, itu sama saja dengan sengaja kami menyakiti hati Tuhan,” Agatha menarik napas dalam, kemudian menunduk.
Aku juga diam. Tidak mau berdebat dengannya terlalu dalam. Kau adalah Protestan yang taat, aku tahu itu. Namun, aku juga amat sangat mencintai Rabb-ku. Aku mencintai Rasul-ku. Untuk hal-hal macam ini, aku tidak berani mencecarmu terlalu jauh. Keyakinan kita masih sama-sama kuat. Tidak ada yang ingin terbantahkan. Tidak ada yang bersedia mengalah.
“Pastor bilang begitu. Tapi dia tidak tahu, bahwa aku sangat mencintaimu,” Agatha bersuara lagi. Kali ini, dia menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.
Oh, sungguh aku tidak bisa ditatap seperti itu. Sedalam itukah sayang perempuan ini padaku? Dan tak bisa dipungkiri, aku pun telah sayang padanya sejak hari-hari lalu. Meski selalu ada luka, namun bersamanya selalu saja aku bahagia.
Aku keluar dari masjid dan menghampiri Agatha yang sedang asik dengan handphone-nya. Kulihat dia tidak menyadari kedatanganku. Aku menjawil telinganya. Dia kaget dan memelototiku, “Jangan jahil deh…” sungutnya lucu.
Aku mengantar Agatha kembali ke rumahnya. Kami tiba dalam waktu 20 menit. Sebelum dia masuk ke dalam rumah, aku iseng menarik setangkai mawar putih yang ada di pot kecil berwarna emas di samping gerbang. Lalu kusodorkan pada Agatha.
Dia melotot dan kembali dengan kebiasaannya; marah-marah, “Ih, itukan bunga kesayangan mama!” Aku cuma bisa nyengir, “Will you marry me?” kataku kemudian. Agatha tampak salah tingkah. Aku menatapnya dengan senyum simpul. Dia menggaruk tengkuknya. Detik berikutnya, aku sudah terbahak. Wajah Agatha merah padam. Dia malu, dan itu terlihat sangat lucu. Aku masih sibuk dengan gelakku. Dia meninju bahuku kuat.
“Aktingmu jelek!” sungutnya.
“Ini hanya latihan, siapa tahu suatu hari nanti aku akan mengatakan itu padamu,” jawabku tersenyum.
“Memangnya kau berani?” tantangnya.
“Kenapa tidak? Aku ini Romeo masa kini, yang akan selalu memperjuangkan cintanya. Apalagi kenyataannya, kekasihku lebih cantik dari Juliet,” aku menggodanya lagi.
Agatha mencibir, “Coba saja kalau berani, malam ini kau sudah merusak bunga kesayangan mama. Jika besok kau kemari, habislah kau kena pelototannya,” Agatha menakut-nakutiku.
“Ahh, calon mertuaku tidak akan sejahat itu, Sayang…” aku terbahak. Agatha kembali tersenyum lebar. Tidak habis pikir mengapa ia bisa jatuh cinta pada lelaki muslim yang doyan guyon ini.
Kami berpisah ketika kupastikan Agatha sudah masuk ke dalam rumah. Aku pun mulai menstater motorku dan membawanya pulang ke rumah. Aku rebah setelah lima belas menit bertarung dengan dingin dan debu jalanan. Kulirik arlojiku, pukul 11 malam. Pikiranku melayang dan hinggap di percakapan depan gerbang beberapa waktu lalu. Jujur, aku adalah lelaki yang berhak memilih. Dan aku sangat ingin memilih Agatha untuk menjadi pasangan hidupku. Tapi, apakah Tuhan akan merestui? Jika perbedaan yang mengikat kami sangatlah kuat?
Bip bip..
Pesan blackberry messanger dari Agatha masuk ke hapeku.
Papa ingin bertemu kamu besok.
Aku terlonjak dari rebahku. Kaget. Tidak percaya dengan apa yang kubaca.
Ini sudah malam, Agatha. Leluconmu tidak lucu, ah… balasku dengan emoji kesal.
Kulihat Agatha sedang mengetik lagi : “Aku tidak sedang bercanda. Datanglah pukul 10 pagi. Malam ini, aku telah menceritakan semuanya pada Papa. Termasuk tentang pilihanku hidup bersamamu. Papa menungguku di ruang keluarga tadi, dan bertanya tentang seberapa serius kamu padaku. Untuk itu, datanglah besok. Yakinkan Papa…”
Aku menelan ludah membacanya. Kulirik arloji lagi, hanya tinggal menghitung jam, aku akan bertemu pagi. Mengapa secepat ini? Ah, dua tahun bukanlah waktu yang singkat. Luka dan ketakutan Agatha akan terjawab esok pagi. Tapi, aku bahkan belum menyiapkan amunisi apapun untuk bertemu ayahnya besok. Bagaimana pun, aku harus menemuinya dengan dua kemungkinan: ditolak atau menolak. Bersama atau berpisah. Tapi, bagaimana jika aku beralasan saja? Haruskah kutemui ayahnya? Atau menghindar saja? Bukankah ini terlalu mendadak? Tiba-tiba, kepalaku berdenyut. Haruskah aku menyerah?


bersambung…

Minggu, 04 Juni 2017

Long Distance Relationsweet (Terbit 04 Juni 2017, Harian Medan Pos)

Pagi ketujuh tanpa kamu. Ada sembab yang masih bertamu di mataku. Ada rindu yang masih menggebu dalam dadaku. Kiranya aku belum terlalu siap berada di posisi ini. Jauh darimu, dari ragamu, juga harum tubuhmu. Sesekali kusisir kenangan, betapa baru kemarin kamu masih membercandaiku. Menarik hidungku dan mengacak rambutku.  Tapi tiba-tiba, pagi ini, kusadari kamu telah jauh. Jauh ratusan kilometer dari tempatku berpijak. Tidak lagi di sini, membantu mewarnai hari.
Kekasih, baru aku tahu bagaimana rasanya rindu tanpa temu. Dia beranak pinak hingga aku kewalahan menampungnya. Semakin hari ia semakin bertumbuh, padahal kepergianmu baru satu minggu. Bagaimana ini? Hanya keping suaramu dari sambungan telepon-lah yang bisa membantu mengobatinya. Jika tidak, rinduku akan terus membengkak hingga akhirnya meledak.
Aku menghapus sisa air mata tadi malam. Menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakanmu dari pikiran. Hubungan jarak jauh ini sungguh menyiksa. Rindu tak bisa disentuh, perlu tak bisa bertemu. Tapi kamu bilang, ini adalah wadah belajar dewasa. Kamu bilang, ini saatnya belajar menekan egois yang terkadang bengis. Ini saatnya belajar untuk menekan emosi dan sensi. Ini wadah terbaik untuk mendewasakan diri.
Aku menghela napas, mencoba menerima semua diksi yang keluar dari mulutmu. Kulihat kau lebih tegar dari biasanya. Kulihat tak kau umbar lagi kata rindu seperti dulu. Barangkali kau tidak ingin membebaniku terlalu jauh, bahwa rindu tanpa temu seperti pembunuh yang jitu. Ya, aku paham maksudmu. Kamu hanya ingin aku bahagia, meski kamu jauh di sana. Kamu hanya ingin aku bahagia, meski jarak membuat luka.
Kuketik sesuatu dalam layar handphone-ku : “Beberapa malam ini, aku jadi lebih cengeng karenamu. Suka gampang nangis kalau ingat tentang kamu. Maaf, jika aku tak sekuat yang kamu mau. Aku hanya belum siap menerima semuanya. Tapi aku tidak akan pernah lelah untuk berusaha. Sesekali kukirim cinta lewat tirai-tirai doa. Semoga kamu sukses, sehat, dan bahagia di sana.” Kutekan layar sent menuju handphone-mu. Menit berikutnya, kudapati emoji peluk dua puluh kali darimu. Sungguh, rinduku bukan makin sembuh, tapi makin membiru.
Aku masih tetap menjalani hari-hari seperti biasa. Meski kadang sesekali, bayangmu mengetuk-ngetuk isi kepala. Sesak semakin meraja ketika rindu tak bisa diajak bercanda. Menjumpaimu dalam ingatan, nyatanya membuatku semakin kewalahan. Tapi aku terus belajar, meminimalisir luka dan menggantinya dengan bahagia. Hari berikutnya, aku mulai terbiasa. Tidak serta-merta, tapi aku rasa ini sudah lebih baik dari sebelumnya. Aku tidak lagi menangis kala malam. Mataku juga tak lagi sembab kala pagi bertandang. Aku sudah bisa tersenyum, sudah bisa berdamai dengan keadaan. Sudah bisa mengatur hati kala rindu menghampiri.
Ternyata, hubungan jarak jauh tak semudah yang dibayangkan. Namun tak sesulit apa kata orang. Semuanya masih terasa manis meski duka terkadang sering mengikis. Kamu selalu menyempatkan waktu meneleponku. Menanyakan kabar hari ini, juga mengecek kadar rinduku malam ini.
“Sudah makan?” tanyamu lewat sambungan telepon.
“Belum, nanti saja,” jawabku sekenanya.
“Makan dulu sana. Jangan bertingkah,” katamu datar.
“Dengar suaramu saja aku sudah kenyang kok,” jawabku membercandaimu.
Kudengar kau tertawa, “Sudah pandai menggombal ternyata,” celetukmu terkekeh. Di sini, aku tersenyum mendengar tawamu. Membayangkan caramu tertawa, semakin membuatku rindu saja.
“Jangan cengeng-cengeng lagi, ya,” katamu kemudian.
“Nggak bisa. Sekarang, selain nulis, hobiku ya nangis,” jawabku tertawa.
Kamu juga tertawa, “Jangan gitu. Perempuanku harus kuat. Jangan nangis hanya karena aku ngangenin,” balasmu tak mau kalah.
Aku mencibir, kamu kembali tergelak. Suasana malam itu terasa hangat. Membuat rinduku sedikit terobati. Kamu menasehatiku banyak hal, tentang masa depan dan tentang semester tua yang mulai tiba. Kamu juga menasehati agar aku tak lagi menangis. Ah, apakah aku tampak secengeng itu di matamu? Apapun jawabanmu, yang aku tahu, tangisku adalah bentuk rindu yang luruh atas namamu.
“Nanti, jika ada waktu luang, aku akan main lagi ke sana. Main ke rumahmu dan nonton Disney kesukaanmu. Atau makan coklat berdua sambil membantumu merangkai puisi dan cerita fiksi,” suaramu terdengar manis di telingaku. Aku tersenyum, kemudian menjawab dengan berdeham kecil. Kamu melanjutkan kalimatmu, “Jangan takut. Aku di sini tidak akan macam-macam. Lagipula, aku hanya bisa jatuh cinta pada satu perempuan bernama Nanda. Itu saja,” katamu terkekeh. “Gombalanmu menampar sekali,” aku ikut tertawa.
“Doakan ya, agar aku cepat dapat kerja dan kembali menemuimu di sana. Bawa aku selalu dalam doamu. Bawa kenangan kita dalam tiap pijak kakimu. Agar kita tetap merasa utuh meski saat ini kita sedang jauh,”  ungkapmu parau. Aku diam, meresapi setiap kalimat indahmu. Itu bukan sekadar kata-kata, bagiku itu sebuah pengharapan berbungkus doa. Aku mengaminkannya di dalam hati. Kembali menyimak setiap diksi dari mulutmu.
“Semuanya akan baik-baik saja, selama kita terbuka dan saling percaya,” katamu lembut. Aku tersenyum sekali lagi, meski aku tahu kamu tidak bisa melihatnya. “Aku cuma bisa berdoa, semoga di tahun-tahun berikutnya, perasaan kita masih sama. Semoga di tahun-tahun berikutnya, cuma aku perempuan yang menempati hatimu. Cuma kamu laki-laki yang menempati hatiku. Dan semoga di tahun-tahun berikutnya, kita masih bisa saling memahami dan memaafkan. Masih bisa menyelesaikan masalah, apapun itu bentuknya. Sebab bertemu saat ini adalah sebuah kemustahilan,” ucapanku membuatnya tertawa.
“Siaapp, Cantikku. Permintaannya banyak juga, ya,” jawabnya menahan tawa.
“Masih dikit itu,” kataku lagi. “Berjanjilah, kita akan tetap menjaga hubungan ini. Nggak akan ada yang berubah meskipun kita berjauhan?” pintaku. “Iya, aku janji. Berdoalah agar semua usaha kita tidak sia-sia.” dia mengakhiri kalimatnya.
Malam itu, sambungan telepon diputus dengan banyak doa. Juga tenang yang kau hantarkan dalam dada. Raguku selalu mampu kau tangguhkan. Rinduku selalu mampu kau kecilkan. Tidak ada yang mampu melakukannya selain dirimu. Aku tersenyum, ternyata tidak semua hal patut kupercaya dari mulut-mulut maya. Sebab semua yang kurasa bernilai indah. Semua yang kurasa bernilai bahagia. Jika mereka menganggapnya long distance relationsick atau long distance relationshit, bagiku ini adalah long distance relationsweet. Ah, rasanya aku ingin menemuimu dalam mimpi. Mengecupmu mesra dan memelukmu hingga pagi.


(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Semester 7, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Menjabat sebagai Sekbid Riset dan Pengembangan Keilmuan di HMJ Basastrasia FKIP UMSU. Penulis novel remaja “Kejebak Friendzone” ini sedang giat-giatnya menulis cerita fiksi bertema romance, sastra young-adult, dan thriller)