Total Tayangan Halaman

Rabu, 24 Mei 2017

Skip Challenge; Permainan Gila Para Remaja (Terbit 16 Maret 2017,Kabar Madura)

Skip Challenge; Permainan Gila Para Remaja
Oleh : Nanda Dyani Amilla
Apakah Anda suka tantangan? Apakah Anda pernah mengikuti sebuah tantangan atau challenge yang sedang hits di sosial media? Seperti beberapa challenge yang pernah ngetren pada masanya; Chubby Bunny Challenge, Mahmud Challenge, Manequin Challenge, Bus Challenge, Ice Bucket Challenge, atau Samyang Challenge. Beberapa challenge yang penulis sebutkan tadi tentu punya kesan tersendiri bagi yang pernah melakukannya. Tujuan melakukan challenge tersebut tentu saja sebagai bahan lucu-lucuan atau hiburan semata. Tapi bagaimana jika sebuah challenge yang Anda mainkan justru malah akan berakibat fatal atau dapat mengundang kematian?
Skip Challenge; sebuah challenge yang baru-baru ini menjadi viral di sosial media. Bagaimana tidak, skip challenge merupakan sebuah permainan atau tantangan yang dilakukan oleh dua orang. Orang pertama akan menyilangkan kedua tangannya di dada, lalu orang kedua akan menekan dada temannya dengan sangat keras selama beberapa detik dengan tujuan menghambat oksigen hingga pemain jatuh pingsan. Challenge berbahaya ini tentu saja paling banyak dilakukan oleh anak-anak remaja secara berkelompok.
Hal ini tentu saja berbahaya dan dapat mengancam nyawa. Anehnya, para remaja terkesan senang memainkan challenge tersebut dan dengan bangga mendokumentasikannya dalam bentuk video dan disebar melalui sosial media. Dari beberapa video yang beredar di sosial media, penulis melihat bahwa pemain skip challenge ini kebanyakan adalah anak sekolah. Entah apa yang mendasari para remaja melakukan permainan berbahaya ini. Mereka tidak tahu bahwa dampak dari challenge tersebut dapat berakibat fatal.
Mengutip dari bintang.com, skip challenge ini sangat berbahaya karena berpotensi menyebabkan hipoksia, kejang, pingsan, kerusakan otak, bahkan kematian. Dr. Flynn memaparkan, yang terjadi pada otak saat skip challenge sebenarnya mirip dengan waktu seseorang tenggelam, tersedak atau mengalami serangan jantung. Kondisi itu menyebabkan hipoksia dan dapat memicu kejang bahkan kematian. Meski kesadaran bisa kembali, namun resiko lain dari skip challenge yakni terjatuh atau cedera setelah siuman dari pingsan. Disamping itu, jika otak kekurangan oksigen lebih dari tiga menit maka akan mengakibatkan kerusakan otak, bila lebih dari 5 menit akibatnya jauh lebih fatal.
Dikutip dari laman harianjogja.com, bahaya tren skip challenge sangatlah nyata. Pada bulan Maret 2016, bocah 11 tahun asal Karolina Utara, Amerika Serikat, Da Vorious, ditemukan tidak sadarkan diri di kamar mandi. Ia meninggal dunia saat mendapat penanganan di rumah sakit. Seperti dilansir NYdailynews.com, pihak keluarga menyatakan Da Vorious meninggal karena ikut mempraktikkan skip challenge. Tren berbahaya itu diketahui bocah tersebut dari media sosial.
Kita semua tahu bahwa remaja memiliki keingintahuan yang besar, adrenalin yang tinggi, serta keberanian yang tidak bisa diprediksi. Mereka senang mencoba hal-hal baru yang memicu keberanian, merasa tertantang jika ditantang melakukan sesuatu hal tanpa memikirkan akibatnya. Sah-sah saja, jika challenge yang mereka ikuti adalah challenge yang wajar dan tidak berbahaya. Tidak menimbulkan efek negatif dan tidak merugikan orang lain. Bukankah tujuan dari challenge adalah untuk hiburan semata? Jangan sampai kita salah memaknainya.
Dari video yang banyak beredar di sosial media, anak-anak remaja itu melakukan skip challenge di dalam ruang lingkup sekolah, entah itu di kelas atau di taman belakang sekolah. Kurangnya pantauan dari pihak guru membuat anak-anak tersebut leluasa dalam melakukan challenge tersebut. Terbukti, video tersebut dibuat saat kelas sedang tidak dalam pengawasan guru. Kebanyakan dari mereka beranggapan bahwa dengan mengikuti skip challenge ini mereka akan dinilai hebat dan kekinian. Mereka juga sangat merasa tertantang karena ketika mereka berhasil melakukannya mereka akan mendapat pengakuan dan bisa membagikan video tersebut di sosial media. Lalu menantang orang lain lagi untuk dapat melakukannya juga.
Sungguh, ini bukan suatu prestasi yang patut dibanggakan. Permainan yang berbahaya ini justru malah akan mengancam nyawa. Kematian adalah bayarannya. Mirisnya, banyak orangtua yang belum tahu mengenai challenge berbahaya satu ini. Untuk itu penulis mengimbau, agar orangtua atau teman-teman yang masih memiliki adik usia sekolah, agar lebih mengawasi setiap kegiatan yang dilakukannya. Orangtua juga dapat menasehati anak agar mereka menjauhi segala jenis permainan yang berbahaya. Menjelaskan dampak buruk yang terjadi jika mereka berani melakukan permainan tersebut. Serta memberi pengertian agar mereka bisa memilah mana permainan atau challenge yang tujuannya untuk bersenang-senang atau challenge yang tujuannya malah membahayakan dan menyakiti diri sendiri.
Menurut hemat penulis, pihak sekolah juga harus lebih ketat mengawasi anak didik ketika berada di sekolah. Sebab kita semua tahu bahwa remaja zaman sekarang cenderung terlalu berani atau nekat dalam melakukan sesuatu. Memberikan mereka pengertian dan nasehat dengan cara-cara yang baik mungkin akan sangat bermanfaat dan membantu. Juga meletakkan sanksi bagi anak didik yang melakukan kesalahan.
Untuk itu, pandai-pandailah kita dalam bertindak. Juga harus pandai dan bijak dalam menggunakan sosial media. Semua kejadian tadi terjadi dan berawal dari melihat atau menonton challenge yang tersebar di sosial media. Tidak semua hal yang tersebar di internet harus kita ikuti. Tak perlulah menjadi kekinian jika akhirnya merugikan diri sendiri. Mari, jadilah pengguna sosial media yang cerdas agar kita tak mudah terlindas.

(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 7)

Trik Penulis Menjinakkan Writer's Block (Terbit 09 Maret 2017, Kabar Madura)

Trik Penulis Menjinakkan Writer’s Block
Oleh : Nanda Dyani Amilla
Pernahkah Anda mengalami writers block? Atau pernahkah Anda tiba-tiba berhenti menulis karena semua konsep cerita yang ada di kepala tiba-tiba hilang dan buyar entah kemana? Lalu ketika Anda ingin melanjutkan menulis, tidak ada yang dapat Anda tulis selain diam menatap kursor laptop yang berkedip. Kondisi inilah yang dinamakan writers block. Kondisi dimana seseorang tidak dapat mengembangkan ide yang ada di kepala menjadi sebuah tulisan utuh, seolah-olah stuck dan tidak dapat berpikir untuk melanjutkan tulisan, padahal awalnya ide sudah bergentayangan di dalam batok kepala kita.
Setiap penulis tentu mempunyai cerita tersendiri mengenai writers block. Namun, ada pula yang mengaku tidak percaya dengan adanya writers block, seperti Fachri Asiza dalam artikel yang pernah saya baca beberapa tahun lalu. Bicara mengenai writers block, tentu saja ada penyebabnya. Dan memang benar,  dari beberapa referensi bacaan yang saya baca, writers block disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: terlalu banyak ide yang ada di kepala, namun menunda untuk menuliskannya.
Tidak percaya diri dengan tulisan sendiri, takut akan komentar pembaca terhadap tulisan kita, tidak fokus dalam mengembangkan ide cerita, sehingga pikiran terbagi-bagi terhadap hal lain yang tidak ada hubungannya dengan menulis. Selain itu, tempat menulis yang kurang nyaman juga menjadi salah satu penyebabnya, dan masih banyak lagi faktor penyebab lainnya.
Setiap penulis juga pernah mengalami kondisi tersebut. dan setiap penulis juga pasti punya cara tersendiri untuk mengatasinya. Karena jika terlalu lama dibiarkan, bisa jadi tulisan kita tidak akan pernah menemu kata selesai. Saya sendiri juga pernah mengalami kondisi writers block. Beberapa penulis profesional pun bahkan juga pernah mengalami kejadian serupa. Writers block dan penulis seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Berikut trik atau cara saya dalam menjinakkan writers block berdasarkan pengalaman saya: Pertama, ketika kita merasa sedang tidak bisa menuliskan kelanjutan cerita dalam tulisan kita, ada baiknya untuk berhenti sejenak. Pergi ke luar atau berjalan-jalan di sekitar rumah atau halaman akan me-refresh otak kita dari kepenatan yang ada. Mood menulis pun akan kembali lagi dan kita bisa melanjutkan tulisan yang tertunda.
Kedua, lakukanlah hal-hal yang dapat menambah ide dalam menuliskan cerita. Seperti membaca buku-buku yang bergenre serupa dengan tulisan yang hendak dituliskan. Semakin banyak ide, maka kehadiran writers block bisa diminimalisir. Ketiga, tidak ada salahnya mendengarkan musik ketika sedang menulis. Dengan mendengarkan musik, biasanya akan membangkitkan atau menumbuhkan inspirasi. Tentu tidak ada tempat bagi writers block untuk hadir ditengah-tengah kegiatan menulis.
Keempat, jangan terlalu banyak melamun ketika menulis. Hal ini biasanya dapat memicu kita terserang writers block. Kelima, jaga fokus dan semangat kita di dalam dunia literasi. Masih banyak hal yang dapat dilakukan untuk menjinakkan writers block. Semua tergantung kita dalam menyikapinya. Semua penulis pun tentu punya caranya masing-masing.
Writers block bagi sebagian penulis adalah musuh yang wajib ditaklukkan. Namun bagi saya, writers block adalah sebuah tantangan dalam menulis. Untuk menyelesaikan sebuah tulisan yang bagus dan berkualitas, tentu ada banyak tantangan yang harus dilalui, baik dari dalam maupun dari luar diri.
Bagaimanapun itu, sebagai penulis yang bijak, kita tentu tahu kiat-kiat dalam mempertahankan semangat menulis. Termasuk dalam mengatasi writers block dengan versi masing-masing. Semangat yang naik turun dalam menulis adalah hal biasa. Di sinilah konsistensi menulis kita diuji. Apakah kita mampu bertahan atau malah terseleksi alam dengan sendirinya. Orang-orang yang mampu bertahan inilah yang akan tetap eksis dalam dunia kepenulisan.
Semoga dengan berhasilnya kita keluar dari kondisi writers block tersebut, kita mampu menulis dan menghasilkan sebuah tulisan yang hebat dan berkualitas. Yang mampu menginspirasi dan menjadi pembelajaran bagi pembaca, karena tulisan itu lahir dari kerja keras dan kejujuran penulisnya. Tetaplah semangat dalam menulis meski writers block terus menghantui. Salam semangat!

(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 7)

Membuminya Bahasa Indonesia di Tanah Internasional (Terbit 05 Februari 2017, Kabar Madura)

Membuminya Bahasa Indonesia di Tanah Internasional
Oleh : Nanda Dyani Amilla
Banyak dari kita yang tidak tahu bahwa bahasa Indonesia saat ini sudah dipakai dan dipelajari di belahan dunia lain selain Indonesia. Ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri untuk bangsa Indonesia, mengetahui bahwa bahasa nasional kita sudah mulai mendunia. Meski banyak kawula muda yang menganggap bahwa bahasa Indonesia kalah menarik dengan bahasa-bahasa asing, nyatanya bahasa Indonesia sudah mampu menembus kancah internasional.
Beberapa fakta cukup mencengangkan adalah bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling populer di negara Paman Sam, yakni Amerika. Bahasa Indonesia juga termasuk bahasa yang resmi di negara Vietnam. Dan bahasa Indonesia juga dikembangkan di negara Piramid yaitu Mesir. Masih banyak lagi negara-negara yang menggunakan bahasa Indonesia, baik itu dalam sebuah percakapan maupun pelajaran.
Lantas, mengapa orang Indonesia masih enggan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar? Kenyataannya adalah kita terlalu sering mencampur-adukkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing, seperti bahasa Inggris. Alasan yang paling banyak dilontarkan adalah agar terlihat keren dan kekinian. Orang-orang yang berdialog dengan menggunakan bahasa Inggris dinilai lebih berkelas dibanding orang-orang yang menggunakan bahasa Indonesia.
Dalam rapat, pertemuan, ataupun seminar-seminar resmi, beberapa orang juga kerap menggunakan bahasa Inggris. Pamflet, spanduk, dan poster-poster yang ada di jalanan juga telah terinfeksi menggunakan bahasa Inggris. Memang benar, bahasa Inggris adalah bahasa internasional, yang berarti bahasa pemersatu suatu bangsa dengan bangsa lain. Namun kelirunya adalah mengapa kita warga negara Indonesia malah menggunakan bahasa Inggris? Bukankah dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional kita saja sudah lebih dari cukup untuk memahami sesuatu?
Pro dan kontra pun mulai bermunculan. Bagaimana mungkin bangsa lain lebih mencintai bahasa Indonesia dibanding bangsa Indonesia itu sendiri. Bukankah kalimat “Aku cinta padamu” akan terasa lebih syahdu diucapkan ketimbang menggunakan kata “I love you”? Bukankah kata “contact person” lebih baik jika diganti dengan “narahubung”?  Bukankah kata “loudspeaker” lebih enak jika diganti dengan “pengeras suara”? dan bukankah kata “presenter” lebih baik jika diganti dengan “pewara”?
Kata-kata yang penulis contohkan di atas tadi adalah sebagian kecil kata-kata yang kurang dipahami oleh masyarakat Indonesia jika diubah ke dalam bahasa Indonesia. Mereka terlalu sering dijejali kata-kata hasil saduran bahasa Inggris, sehingga kurang mengenal bahasa asli Indonesia. Sangat disayangkan, di saat bangsa lain jatuh hati pada bahasa Indonesia, bangsa Indonesia sendiri kurang menghargai bahasa nasionalnya.
Anjani Mutter dalam soulofjakarta.com menuliskan bahwa bahasa Indonesia telah dipelajari di lebih dari 45 negara di dunia. Minat orang-orang asing untuk mempelajari bahasa Indonesia terbilang tinggi. Menurut Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri, Andri Hadi, saat ini ada 45 negara yang mengajarkan bahasa Indonesia di wilayahnya, seperti Australia, Amerika, Kanada, Vietnam, dan sebagainya. Di Australia bahkan bahasa Indonesia menjadi bahasa populer ke-4 dan ada 500 sekolah yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran.
Sungguh sebuah kenyataan yang membanggakan. Di saat bangsa Indonesia tidak begitu jatuh hati pada bahasanya sendiri, bangsa-bangsa lain malah amat sangat mencintai bahasa Indonesia. Kenyataan yang penulis alami sendiri adalah banyaknya cemoohan dan sindiran dari orang lain terhadap jurusan bahasa Indonesia di perkuliahan. Mereka menganggap bahwa pelajaran bahasa Indonesia terbilang mudah. Padahal kenyataannya adalah jika disurvey secara random, maka nilai bahasa Indonesia adalah nilai yang paling rendah dan sulit mendapatkan nilai tinggi dibanding nilai-nilai mata pelajaran yang lain. Itu berarti bahasa Indonesia bukanlah sebuah mata pelajaran yang bisa dipandang sebelah mata.
Orang-orang di luar jurusan bahasa Indonesia, akan selalu berpikir bahwa jurusan bahasa Indonesia adalah jurusan termudah di semua universitas. Padahal jika kalian mau mengintip sedikit saja, betapa babak belurnya anak-anak jurusan bahasa Indonesia yang bertemu dengan linguistik, fonetik, morfologi, sintaksis, semiotik, sosiolingusitik, psikolinguistik, kritik sastra, dan lain sebagainya. Jelas itu bukan perkara mudah dibanding apa yang kalian lihat.
Tribunnews.com menuliskan membuminya bahasa Indonesia juga berasal dari segi makanan yang bisa menyumbang banyak kosakata melalui diplomasi dalam acara berstandar internasional. Upaya juga dilakukan dengan membuka pameran makanan di luar negeri. Kosakata dalam penyajian makanan seperti cara membuatnya, bisa tetap menggunakan bahasa Inggris. Tetapi penyebutan nama makanan tetap bahasa Indonesia, sehingga bisa jadi kosakata dunia.
Berbanggalah kita sebagai bangsa Indonesia. Cintailah bahasa kita seperti orang-orang asing yang jatuh hati pada bahasa kita. Mulailah untuk mencintai bahasa Indonesia dengan cara menggunakannya dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Tidakkah kita semua sadar bahwa bahasa Indonesia tak kalah keren dari bahasa-bahasa asing? Bahasa Indonesia itu syahdu dan penuh makna. Sunggguh, tidak ada larangan untuk mempelajari bahasa asing, tetapi orang yang baik adalah orang yang tidak akan pernah melupakan rumahnya sendiri, yakni bangsa dan bahasa Indonesia.


(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 7)

Antara Pembaca dan Pembenci (Terbit 25 Januari 2017, Kabar Madura)

Antara Pembaca dan Pembenci
Oleh : Nanda Dyani Amilla
Mengutip kalimat dari penulis novel Jus Alpukat; Win R.G, beliau pernah mengatakan bahwa penulis itu kerjanya hanya menulis dan menyelesaikan tulisan. Ketika tulisan telah selesai dan melemparkannya kepada pembaca, maka tugas penulis itu telah selesai. Bagaimanapun tanggapan pembaca tentang tulisan kita, itu bukanlah menjadi urusan kita. Sebab penulis hanya bertanggung jawab dalam menulis. Urusan pembaca suka atau tidak suka terhadap tulisan kita, itu adalah sepenuhnya hak mereka.
Pembaca yang baik tentu menilai suatu karya sastra secara objektif. Maksudnya adalah menilai dengan cara membaca secara langsung karya sastra itu, kemudian memahaminya. Namun yang terjadi sekarang adalah kebanyakan dari pembaca lebih condong menilai suatu karya sastra secara subjektif. Misal, ketika mereka menyukai seorang penulis atau mengidolakan seorang penulis. Mereka akan cenderung menyukai sekalipun tulisan yang dihasilkan penulis tersebut adalah kurang baik.
Kecenderungan ini terjadi karena pembaca telah sepenuhnya percaya terhadap apapun yang dituliskan oleh penulis tersebut. Dalam meresensi sebuah buku atau novel pun kita cenderung memilih bacaan yang sesuai dengan selera kita untuk diresensi. Kebanyakan resensi yang kita lakukan adalah buku dan novel karya penulis favorit kita.
Jika resensi dilakukan untuk menilai kualitas suatu buku dengan cara yang baik, yakni dengan membaca keseluruhan isi buku terlebih dahulu, maka semua pendapat pembaca mengenai buku tersebut adalah sah untuk diterima. Lain halnya dengan yang ditemukan pada saat sekarang ini. Pembaca lebih suka menilai secara objektif. Pembaca lebih mudah terhasut oleh anggapan teman yang mengatakan bahwa buku atau novel dengan judul X tidak enak untuk dinikmati.
Ini adalah hal keliru. Jika kita menjadi pembaca yang baik, tentunya kita tidak termakan omongan teman yang mengatakan ini-itu terhadap suatu karya sastra. Bijaklah dalam menilai, contoh dengan membaca isi buku tersebut. Setelah itu, barulah kita bisa berkomentar. Jenis pembaca lainnya adalah pembaca yang ikut-ikutan membenci suatu karya sastra atau tulisan dari seorang penulis. Mereka bukan saja membenci karyanya, namun turut membenci penulisnya.
Ini juga suatu hal yang saya rasa keliru. penilaian subjektif memang tak dapat terlepas dari diri manusia. Banyak faktor yang mempengaruhinya, seperti mengenal dekat seseorang itu, mengetahui kepribadiannya, atau menilai dari bisik-bisik orang lain.
Pembaca nakal seperti ini bisa menjelma menjadi pembenci. Apa pun yang ditulis oleh salah sastrawan yang memang sudah tidak disukainya, maka seseorang itu tetap tak akan suka dengan berbagai alasan. Mereka akan tetap menilai karya kita sebagai sesuatu yang buruk dan tak layak baca. Saya sendiri pernah mengalami hal serupa ketika menghadapi suatu masalah dalam dunia literasi.
Pembenci seperti ini sebenarnya tak tahu benar apa yang yang sedang ia benci. Ia tak punya alasan pasti mengenai alasan jika ditanyakan. Ketika seorang penulis mendapati suatu masalah, dan masalah tersebut terlalu di blow up, saya rasa akan banyak pembenci yang bermunculan. Pembenci-pembenci dadakan ini memiliki kemungkinan memanfaatkan situasi yang tengah memanas.
Suka menjelekkan padahal tidak tahu apa yang dijelekkan. Suka berkomentar kasar tentang tulisan seseorang padahal tidak mengerti apa yang dikomentarin. Suka menghujat dan menghina hanya karena ikut-ikutan. Pembenci hanya tidak tahu bagaimana menempatkan cinta dan rasa peduli di dalam hati. Tidak paham menghargai karya orang lain. Dan tidak pernah terima untuk dinasehati.
Pembaca dan pembenci seperti dua sisi logam. Di dunia literasi tentu akan ada yang mengaku pro dan kontra. Merupakan hal yang wajar jika ada yang suka dan menyenangi tulisan kita, dan sebaliknya juga. Pasti ada yang membenci atau tidak menyukai tulisan kita. Tulisan saya kali ini saya tujukan untuk menyemangati penulis-penulis yang punya pembenci dengan alasan yang tidak jelas.
Pembenci adalah seseorang yang tidak mampu menjadi seperti kita. Barangkali mereka menilai tulisan kita adalah bagus, namun tidak bisa mengungkapkannya dengan cara yang lebih baik. Saya sangat setuju dengan kalimat yang sering dilontarkan oleh penulis novel Raksasa dari Jogja yakni Dwitasari, beliau mengatakan bahwa pembencimu adalah penggemarmu nomor satu.
Kalimat tersebut ada benarnya, pembenci adalah penggemar tulisan kita yang malu mengakui saja. Mari terus berpikiran positif terhadap orang lain. Jangan merusak hati kita dengan anggapan-anggapan buruk terhadap pembenci. Jika kita terus berbuat baik dan produktif berkarya, maka kelak mereka akan dapat menilai sendiri. Mereka akan tahu bahwa karya sastra yang kita hasilkan layak untuk dibaca.  Jangan habiskan waktu kita untuk mengurusi komentar pedas dari mulut mereka, jika sekarang mereka menertawakan karyamu, suatu saat kamu juga berhak menertawakan mereka karena tidak menghasilkan satu karya pun. Salam semangat!

(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 7)

Romantisme Kopi dengan Penulis (Terbit 13 Januari 2017, Kabar Madura)

Romantisme Kopi dengan Penulis
Oleh : Nanda Dyani Amilla
Mengapa penulis suka minum kopi? Mungkin itu salah satu alasan saya menuliskan ini. Pertanyaan itu bahkan saya lontarkan untuk diri saya sendiri. Sebab saya pun mencintai kopi seperti saya mencintai pena.  Bagi penulis seperti saya, kopi merupakan minuman wajib yang harus ada ketika akan mulai menulis. Satu gelas kopi adalah inspirasi terbaik dalam menciptakan satu buah tulisan hebat. Jika diamati, kebanyakan penulis besar juga punya hubungan baik dengan minuman beraroma khas satu ini.
Kopi selalu identik dengan dunia tulis menulis. Banyak rekan penulis yang mengaku jatuh cinta pada minuman berwarna pekat ini. Selain aromanya yang dapat menenangkan pikiran, kandungan kafeinnya pun dapat membantu meningkatkan konsentrasi, setidaknya begitu yang pernah saya dengar dari ayah saya. Tidak ada kopi sama dengan tidak ada tulisan hari ini. Jika ingin ditelisik lebih dalam, beberapa coffee shop pun lebih banyak dikunjungi oleh para penulis.
Di daerah kampus saya sendiri, ada sebuah warung kopi yang dibangun oleh anak-anak pecinta sastra. Sepertinya kopi dan sastra adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Di sana mereka sering mengadakan musikalisasi puisi atau pembacaan puisi secara tunggal. Pengunjung juga boleh unjuk kebolehan jika berminat. Bahkan tidak sedikit penulis-penulis besar mengangkat tema tentang kopi, seperti yang dilakukan oleh Dee penulis novel Filosofi Kopi, yang juga telah tayang di layar lebar beberapa waktu lalu.
Beberapa alasan yang pernah dilontarkan oleh sebagian penulis tentang kopi adalah dengan mengkonsumsi minuman itu, mereka lebih bisa berkonsentrasi dalam menyelesaikan tulisannya. Selain itu, penulis yang mempunyai jadwal menulis pada tengah malam, mengaku suka dengan kopi karena bisa menghalau rasa kantuk yang berlebih. Sehingga mereka bisa menyelesaikan tulisannya dengan baik.
Secangkir kopi juga bisa membantu kita untuk lebih bersemangat. Menulis adalah pekerjaan yang membutuhkan semangat tinggi. Tidak akan jadi suatu tulisan jika kita tergolong orang yang malas. Imajinasi akan terus lahir jika kita semangat menggali ide-ide yang bertebaran di sekitar kita. Peka terhadap suatu masalah dan sikap mau menerima merupakan hal terbaik dalam menciptakan ide.
Kopi juga membantu memperbaiki mood yang semula berantakan, menjadi rapi kembali. Kegiatan menulis yang terlihat begitu membosankan pun akan menjadi menyenangkan jika sambil menikmati secangkir kopi. Kopi adalah minuman penghasil imajinasi.
Meski kopi terdengar kontroversial, ada yang membahas sisi positif dan negatifnya, saya sendiri punya prinsip dalam menikmati kopi. Maksimal satu gelas sehari. Itu pun tidak terlalu sering, sebab segala sesuatu yang berlebihan jatuhnya tidak akan baik buat kesehatan. Menjadi penulis bukan berarti harus mencintai kopi. Banyak juga penulis yang tidak akrab dengan minuman satu ini. Semua kembali pada selera masing-masing saja.
 Dari teman penulis saya, saya mengetahui bahwa kafein yang terdapat dalam kopi dapat merangsang kreativitas seorang penulis. Mungkin itulah sebab mengapa banyak penulis atau editor sangat mencintai minuman satu ini. Selain sebagai penumbuh kreativitas, kopi juga dapat meningkatkan kepercayaan diri kita sebagai seorang penulis. Meski tulisan yang dihasilkan kurang maksimal, namun ketika sudah ngopi, rasa malu, takut, dan tidak percaya diri akan hilang, berganti dengan rasa optimis bahwa pembaca akan menyukai tulisan kita.
Jika boleh mengutip artikel dari rezkyfirmansyah.com, beliau mengatakan bahwa ada banyak kesamaan antara penulis dengan kopi. Menurutnya, kopi dan tulisan yang nikmat itu selalu butuh waktu. Kopi yang nikmat tentu akan melewati sederet proses pengerjaan yang panjang, dari biji kopi sampai menjadi bubuk kopi yang siap dinikmati. Pun dengan tulisan, akan ada proses kreatif yang panjang untuk menghasilkan tulisan yang baik dan disenangi pembaca.
Beliau juga menuturkan bahwa kopi dan tulisan mempunyai banyak jenis. Seiring perkembangan zaman, kopi bukan lagi dibagi menjadi Robusta dan Arabica, namun telah melahirkan kopi dengan jenis campuran lainnya, seperti cappuccino, coffelatte, dan moccacino. Begitu juga dengan penulis, mereka punya genre yang berbeda-beda. Ada yang menghasilkan tulisan fiksi, nonfiksi, sejarah, dan lainnya.
Dalam rezkyfirmansyah.com juga menuliskan bahwa kopi dan tulisan punya penikmat tersendiri. Saya sangat setuju dengan pendapatnya satu ini. Kopi dengan rasa tertentu juga punya penikmat sendiri. Tulisan kita pun begitu, punya pembaca setianya sendiri. Dia juga berpendapat bahwa kopi dan menulis memiliki efek candu yang berlebih. Ini jelas sekali terlihat pada kopi yang mengandung kafein. Menulis pun demikian, saya pribadi kecanduan menulis setelah tulisan saya menang dalam suatu perlombaan nasional dan dimuat di media cetak.
Masih banyak sekali romantisme kopi dengan penulis jika ditelaah lebih dalam lagi. Segala sesuatu tentu punya dampak positif maupun negatif. Hanya saja semua kembali lagi bagaimana kita menyikapinya. Menjadi seorang penulis memang tak harus mencintai kopi, tapi penulis yang dahsyat adalah pecinta kopi yang hebat. Mari terus ngopi, mari terus menulis!

(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 7)

Air Mata Nasuha & Tuhan (Terbit 14 Mei 2017, Harian Medan Pos)

Air Mata Nasuha
Oleh : Nanda Dyani Amilla
Ada yang jatuh dari bilik-bilik matanya
Gemuruh syahdu yang merindukan Rabb-nya
Juga jiwa pesakitan yang haus cahaya surga
Tertatih dalam doa
Jejari hina menyeka bulir nasuha
Membersihkan diri dengan ayat-ayat suci
Kesampingkan duniawi demi taubat yang telah terpatri

Tuhan
Oleh : Nanda Dyani Amilla

Dari ciumku di tengah bisik jejangkrik
Engkau adalah tempat terindah untuk pulang
Rumah ternyaman untuk bertahan
Muara rindu berpeluh-peluh
Dari segala tengadah tangan di gelap malam
Engkau segala nikmat untuk tergugu
Tempat semesta menundukkan kepala
Menyembah dengan sesungguh rasa
Sebab dalam pertiga malam
Kau kupuja dalam butir-butir tasbih cinta


(Mahasiswi FKIP UMSU)

Menjahit Jarak & Kepada Tuan Penawar Bahagia (Terbit 09 April 2017, Harian Medan Pos)

Menjahit Jarak
Oleh : Nanda Dyani Amilla
Aku ingin menjahit jarak di antara kita
Menyatukan perih dengan rasa bahagia
Menukar rindu dengan kecupan-kecupan mesra
Atau sekadar membangunkan sepi dengan temu yang dinanti
Meski benang kepercayaan telah ditali mati
Namun terkadang rindu meranggas tak tahu diri
Mencabik setiap lorong hati
Memporakporanda yang harus berdiri
Karena jauh darimu
adalah cara terperih untuk bunuh diri

Kepada Tuan Penawar Bahagia
Oleh : Nanda Dyani Amilla
Jadilah air untuk segala apiku
Jadilah kumbang untuk segala bungaku
Jadilah tawa untuk segala sedihku
Jadilah terik untuk segala hujanku
Sebab tanpamu,
Aku hanyalah puan yang kerap dihantam rindu


(Mahasiswi FKIP UMSU)

Kau Puisi & Tuan Pencuri (Terbit 19 Maret 2017, Harian Medan Pos)

Kau Puisi
Oleh : Nanda Dyani Amilla
Kau adalah puisiku yang tak pernah usai
Imajinasi yang tak pernah selesai
Cerita yang tak mungkin jadi bangkai
Dan sajak yang tak kubiarkan abai
Sebab kau adalah sosok yang lahir dari rahim penaku
Berkembang biak dalam setiap coretanku
Hidup dan bertumbuh dalam lembaran-lembaran buku
Dan bernapas dalam sajak-sajak penuh rindu
Karena aku cinta padamu,
Itulah sebab kau menjadi tokohku

Tuan Pencuri
Oleh : Nanda Dyani Amilla
Pada setiap tatap yang kau dermakan padaku
Aku tahu, aku telah kehilangan sesuatu
Untuk setiap kedipan mata teduhmu
Kau berhasil mencuri detak jantungku
Untuk seulas senyum dinginmu itu
Kau berhasil mencuri sekotak hatiku
Dan untuk sebuah dialog satu-satu
Kau berhasil mencuri sekantung rinduku
Hey, aku telah kehilangan banyak
Kau mencuri dengan pelan namun tepat sasaran
Sekarang,

Bolehkah aku marah dengan memintamu memberikan cinta?

Kepada Ummu Abiha (Juara 1 Lomba Cipta Puisi IMMSSAC PK IMM FKIP UMSU)

Kepada Ummu Abiha
Oleh : Nanda Dyani Amilla
Dari penggemarmu
shalihah di ranah Indonesia

Kujahit doa untukmu Ummu Abiha,
Wanita perkasa saksi pembangkangan kafir Quraisy di masanya
Wanita luar biasa yang berorasi lantang membela agama
Wanita istimewa yang amat mencintai ayahandanya
Menjalani embargo yang menganak-sungaikan airmata
Dan menjahit ujian menjadi butir-butir pahala

Sebab lahirmu bak pencerah dunia wanita
Manifes nyata nilai-nilai Islam yang ada
Seperti ajaranmu sebelum kau khusnul khotimah
Itulah sebab kau kujadikan idola; Wahai Fatimah Az-Zahra


Medan, 01 April 2017

Resensi : Refleksi Masa Depan dalam Novel Hujan (Terbit 05 Maret 2017, Harian Medan Bisnis)

Judul               : Hujan
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Pertama, Januari 2016
Halaman          : 320 hal
ISBN               : 978-602-03-2478-4

Novel Tere Liye kali ini menceritakan tentang kehidupan manusia di tahun 2043. Dimana pada masa itu seluruh manusia telah menggunakan alat teknologi paling mutakhir dalam menyelesaikan berbagai persoalan hidup. Cerita dimulai oleh seorang gadis bernama Lail yang sangat ingin melupakan hujan. Lail pergi menemui Elijah, seorang paramedis senior yang akan membantunya melupakan hujan dan segala kenangan menyakitkan dalam hidupnya. Dalam percakapan yang dibangun Lail dan Elijah, Tere Liye menggambarkan bentuk peralatan super canggih yang digunakan di masa depan.
Persis saat ketukan itu mengenai layar, lewat perintah nirkabel, lantai pualam, dua meter dari kursi, mulai merekah. Sebuah belalai robot keluar, membawa peranti berbentuk bando. Ujung belalai robot bergerak ke arah Elijah, lalu berhenti. Elijah mengambil bando itu (hal. 6) “Kamu harus mengenakan pemindai ini.” Elijah memberikan bando yang terbuat dari logam, berwarna perak, kepada gadis di atas sofa. Gadis itu menurut, mengenakannya. Sementara belalai robot kembali ke posisinya. Lantai pualam kembali menutup, seolah tidak pernah ada lubang merekah di atasnya satu detik lalu (hal.7)
Lail adalah gadis dengan banyak kisah saat hujan datang. Ia sangat mencintai hujan—dulu—sebelum ia kehilangan segalanya. Gempa dahsyat yang mengguncang bumi saat itu, membuatnya harus rela kehilangan ibu untuk selamanya. Saat itu, Lail dan ibunya sedang berada di kereta api menuju sekolah. Lail kehilangan ibunya ketika turun hujan. Lail bertemu Esok—anak laki-laki yang menyelamatkannya saat gempa—juga saat turun hujan. Lail belajar arti kerja keras dan persahabatan dengan Maryam pun saat turun hujan. Lail jatuh cinta pada Esok pun ketika turun hujan. Segala kisah hidupnya selalu disaksikan oleh tetes air hujan.
Waktu melesat tanpa terasa, dua tahun sejak bencana gunung meletus, kemajuan teknologi yang terhenti menggeliat kembali. Di jalanan kota sebagian besar orang telah mengenakan chip berbentuk layar kecil di lengan—seperti prototype yang dulu dimiliki Ibu Lail. Layar kecil itu multifungsi, mulai dari alat pembayaran, pengganti tiket bus, trem, belanja di toko, hingga sistem presensi kantor. Cukup melewati sensor, semua data tercatat. Peranti itu juga sekaligus sebagai alat komunikasi, melakukan sambungan telepon konvensional, konferensi video, dan keperluan lain, termasuk fitur generasi terbarunya, mengirim pesan hanya lewat memikirkan kalimatnya, layar di lengan akun akan menuliskannya (hal. 95)
Alat-alat canggih lainnya juga ditunjukkan Tere Liye dalam novelnya ini. Di tahun 2043, konstruksi sipil juga mengalami revolusi besar, kemajuan medis, pabrik-pabrik manufaktur, dan bangunan-bangunan baru mengadopsi sistem pintar. Permasalahan lain yang disuguhkan dalam novel ini adalah pembahasan dari Konferensi Tingkat Tinggi mengenai perubahan iklim akibat dari gempa bumi. Petinggi berniat melakukan intervensi pada lapisan stratosfer yang ternyata ditentang mati-matian oleh negara-negara tropis, karena akan menyebabkan musim dingin yang berkepanjangan. Ilmuwan memproyeksikan iklim dunia tidak akan stabil hingga 50 tahun ke depan.
Cerita lain dalam novel ini bukan saja berpusat pada masalah keluarga, persahabatan, cinta, kehilangan harapan, dan trauma. Cerita ini justru berpusat pada masalah dunia sejak gempa bumi itu terjadi. Hal paling mencengangkan berikutnya adalah saat diketahui bahwa Esok adalah Soke Bahtera yang merupakan ilmuwan muda paling terkemuka saat usianya baru menginjak 17 tahun. Soke Bahtera dikenal sebagai penemu banyak teknologi canggih, terutama mesin terbang. Ia jugalah yang akhirnya menemukan cara menyelamatkan sebagian manusia dengan cara mengirimkan mereka ke luar angkasa menggunakan pesawat.
Novel ini sangat layak dibaca, baik untuk anak-anak, remaja, pecinta science fiction, dan dewasa. Novel ini mengajak kita berpikir maju dan membayangkan masa depan lebih dalam. Novel ini merefleksikan tentang sesuatu yang mungkin akan terjadi di masa depan, juga polemik yang mungkin saja akan dihadapi. Tere Liye sangat apik memadupadankan kisah cinta, persahabatan, keluarga, dan polemik bernegara dalam satu bacaan yang menarik. Pemilihan kover dengan warna biru muda yang soft membuat pembaca menangkap kesan estetik dari novel ini.
Kelemahan dari novel ini terletak pada penggunaan kata-kata ilmiah, seperti peranti, prototype, polimer, material cartridge, konsorsium, dan lain sebagainya. Kata-kata imiah tersebut barangkali akan menyulitkan pembaca awam dalam memahami isi cerita. Tere Liye juga tidak memberikan penjelasan singkat atau foot note untuk mengartikan kata-kata imiah tersebut.

(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia)

Perempuan dalam Loteng Rumahku (Terbit 21 Mei 2017, Flores Sastra)

Aku tidak begitu paham apa yang membuat ayah tidak mengizinkanku memasuki loteng rumah ini. Sejak usiaku lima belas tahun, tepatnya sejak setahun kepergian ibu ke pangkuan Tuhan, ayah tidak pernah lagi mengizinkanku membuka pintu loteng itu. Entah bersebab apa, padahal setahuku loteng itu selalu dibersihkan ayah dua minggu sekali. Setidaknya tidak akan ada hal-hal aneh yang akan terjadi di sana jika aku masuk ke loteng itu. Tapi tetap saja, ayah melarang keras aku untuk masuk ke dalam sana.
Aku berpikir, barangkali terlalu banyak kenangan indah di dalam loteng itu tentang ibu. Sebab yang aku tahu, ayah telah memindahkan seluruh barang-barang kepunyaan ibu ke dalam loteng itu sejak ibu meninggal. Mulai dari piano kesayangan, baju-baju, hingga semua perlengkapan ibu, ayah pindahkan ke atas sana. Ayah juga mulai mengunci loteng itu dan menyembunyikan kuncinya di tempat yang aku tidak tahu. Setiap kali ditanya, ayah selalu diam. Enggan menjawab,
Aku adalah anak tunggal di keluarga ini. Sejak usiaku lima belas tahun, ibu telah pergi menghadap Tuhan. Ibu meninggal dunia karena sakit. Sakitnya tak kunjung sembuh, hingga membuat ayah kerap murung berminggu-minggu. Hingga hari buruk itu datang, ibu pergi dan ayah menjadi sangat menutup diri. Ia mulai malas untuk bertemu orang-orang. Ia juga tidak lagi banyak mengajakku bicara. Aku dan ayah hanya berkomunikasi di meja makan, saat sarapan dan makan malam. Selebihnya, ayah akan pergi bekerja dan pulang mendekam di kamarnya.
Sesekali ia menuju loteng rumah tanpa mengajakku. Aku sering memperhatikan ayah sebelum beranjak menuju loteng itu. Wajah murungnya sedikit cerah, beberapa kali kulihat ayah membawa peralatan untuk bersih-bersih. Tidak jarang juga kulihat ayah membawa senampan makanan ke atas sana. Aku berpikir bahwa mungkin itu untuk camilan ayah setelah membersihkan loteng itu. “Perlu kubantu, Yah?” tanyaku menawarkan suatu ketika. “Tidak usah, Jaz. Terima kasih.” Ayah menggeleng dan menaiki tangga.
Biasanya, jika sudah seperti itu, aku hanya bisa diam dan beranjak menuju kamarku. Atau aku akan pamit untuk mengunjungi teman-temanku di kafetaria. Usiaku 20 tahun saat ini, dan ayah tidak pernah melarangku pergi kemana saja selama itu tidak berbahaya. Pernah suatu ketika, ketika aku pulang ke rumah, ayah belum juga turun dari loteng itu. Penasaran, kususul ayah ke atas sana. Dengan langkah kaki yang sangat hati-hati, aku mendekat ke arah pintu loteng itu. Mengendap-endap mencari tahu apa yang tengah dilakukan ayah selama berjam-jam di dalam sana.
Kurapatkan telingaku dengan pintu, kudengar ayah tengah mengobrol dengan seseorang. Bukan, bukan mengobrol. Ayah tengah bermonolog, dia berbicara seorang diri. Tapi seakan-akan sedang ada yang diajaknya bicara. Rasa penasaranku semakin menjadi-jadi, aku semakin berkonsentrasi, berusaha mendengarkan apa yang sedang diutarakan ayah. Samar, yang terdengar hanya suara ayah yang terdengar sangat bersedih. Sesekali kudengar ayah terisak. Ah, mungkinkah ayah sedang rindu ibu? batinku. Sebab di dalam loteng itu, banyak sekali barang-barang kenangan yang akan mengingatkan ayah tentang ibu.
Setelah agak lama dan ayah tak kunjung keluar, aku memilih turun dan balik ke kamarku. Pikiranku kacau, mengapa ayah menangis sesedih itu? Kenapa pula ayah tidak mau berbagi cerita tentang risaunya padaku? Esoknya di meja makan, aku mencoba menanyakan hal itu pada ayah. “Kemarin, aku tak sengaja mendengar ayah menangis di dalam loteng itu. Apa ada sesuatu yang terjadi, Yah?” aku menatap ayah. Seketika air muka ayah berubah, dia langsung menatapku tajam. “Berapa kali ayah bilang, kau tidak boleh naik dan mengunjungi loteng itu!” ayah berkata dingin.
“Memangnya kenapa, Yah?” tanyaku lagi. “Kalau ayah bilang tidak boleh, ya jangan kau lakukan! Jangan juga kau tanyakan lagi!” nada bicara ayah naik beberapa oktaf. Aku diam sejenak, mencoba membaca raut wajah ayah. Firasatku mengatakan bahwa ayah tengah menyembunyikan sesuatu dariku. Atau memang ayah belum mau bicara dan terbuka padaku untuk saat ini? Entahlah, yang jelas ayah selalu marah jika aku membahas soal loteng rumah ini.
Selesai makan, ayah mengoles dua roti dengan selai stroberi. Lalu beranjak naik ke atas loteng. Aku mengernyitkan dahi, apa yang dilakukan ayah dengan dua roti itu? Siapa pula yang hendak diberi ayah di atas sana? Mungkinkah tikus-tikus jaman sekarang sudah mulai doyan makan roti? aku membatin. Tapi tanpa mau ambil pusing, aku segera meraih tas kuliahku, dan beranjak pergi ke kampus.
* * *
Malam ini, saat aku tengah bermesraan dengan tugas-tugas kuliah di ruang keluarga, aku melihat ayah mengambil kunci loteng itu lagi. Setelah sebelumnya ia membuat dua gelas teh dan membawa sebuah bungkusan besar. “Ayah habis belanja?” tanyaku. Dia menggeleng. “Lalu, bungkusan apa itu? Seperti kantung plastik dari sebuah mol?” tanyaku lagi. Ayah menatapku tajam. Tatapannya sungguh dingin. Aku memilih bungkam dan kembali menekuri laptopku.
Kulihat ayah menaiki tangga menuju loteng itu. Sikap ayah semakin hari semakin bertambah aneh. Aku tidak habis pikir, apa yang selama ini dilakukan ayah selama berjam-jam di atas sana. Belakangan ini aku juga sering mendengar ayah tertawa-tawa dari atas loteng itu. Hari berikutnya, kulihat ayah membawakan makanan lezat ke dalam loteng itu. Dan berikutnya lagi, kulihat ayah membawa peralatan make up ibu. Ayah seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Dan ia tidak mau aku tahu.
Beberapa jam kemudian, ayah turun membawa satu gelas kosong. Bekas teh yang tadi dibawanya ke atas. Mana satunya lagi? pikirku. Ayah mendekat ke arahku, aku segera berpura-pura sibuk dengan tugasku. Ayah memperhatikan apa yang tengah aku kerjakan, lantas mengelus kepalaku lembut. Aku menengadah, menatap wajah ayah. Wajahnya yang tak lagi muda itu, penuh gurat bahagia. Seperti baru bertemu sang pujaan hati. Merona.
“Jangan terlalu larut.” ayah menepuk pundakku dan berjalan menuju kamar tidur. Sudut mataku mengikuti langkah kaki ayah, hingga akhirnya masuk ke dalam kamar. Rasa penasaranku kembali muncul. Malam ini, aku akan mencari tahu segala hal yang tengah disembunyikan ayah. Aku tidak sanggup lagi melihat keanehan-keanehan dalam diri ayah yang dengan sengaja ia sembunyikan. Bagaimana pun juga, aku tidak ingin terjadi hal-hal buruk pada ayah.
Setelah sejak semalam aku menguntit ayah, akhirnya aku mengetahui di mana kunci loteng itu ia sembunyikan. Aku mengambilnya dan segera menuju lantai atas. Aku berjalan pelan sembari memikirkan apa yang akan kutemukan di dalam loteng itu. Sejak dulu, aku selalu ingin melihat-lihat isi di dalamnya. Bahkan ketika ayah semakin melarangku, ambisiku untuk masuk malah semakin membuncah.
Perlahan, aku memasukkan kunci dan memutarnya dua kali. Dengan perasaan berdebar, aku membuka pintu loteng itu sedikit. Gelap. Tidak ada terlihat apa-apa di dalam sana. Aku meraba dinding pelan-pelan, berharap menemukan saklar. Aku bahkan tidak ingat lagi, di mana saklar loteng ini berada. Sejak lima tahun lalu, ayah tidak lagi mengizinkanku masuk ke dalam sini.
Ah, akhirnya ketemu, batinku takut-takut. Dengan sekali tekan, lampu mulai menerangi seluruh ruangan. Aku hampir pingsan ketika aku melihat ada seseorang tengah duduk membelakangi daun pintu. Perempuan dengan baju hitam yang lusuh. Rambutnya tergerai sebahu. Namun dia sama sekali tidak bergerak ketika aku menyalakan lampu. Perempuan itu masih bergeming di tempatnya. Darahku berdesir hebat, lututku terasa lemas. Apa ini? Apa yang selama ini dilakukan ayah bersama perempuan ini? Pikiran burukku menjadi-jadi.
Aku menyeret kakiku untuk mendekat. Berusaha menguasai hati dan pikiranku yang mulai kacau. Rasa takut tiba-tiba menyergapku. Hawa di dalam loteng ini menjadi semakin tidak enak. Jarakku dengan perempuan itu tinggal beberapa meter lagi. Dengan tubuh yang bergetar hebat, bola mataku mulai menangkap wajah perempuan itu.
“AAAAAARRGGHH!!!” aku teriak sekencang-kencangnya. Badanku jatuh ke lantai, tanpa sengaja turut menarik kain putih yang menutupi meja besar yang letaknya tak jauh dari kursi perempuan itu. Aku terperangah atas apa yang kulihat. Napasku memburu, bulu kudukku berdiri. Aku menangis sejadi-jadinya. Masih dengan tubuh yang gemetar hebat, aku melirik perempuan itu lagi. Astaga! Teganya ayah melakukan ini! Tangisku semakin menderas membasahi pipi.
Perempuan yang duduk di kursi itu adalah ibuku. Ya, perempuan itu adalah ibu. Ibu yang sejak lima tahun lalu telah divonis dokter untuk mati. Ibu yang nyatanya telah dipanggil Tuhan menuju surga. Tidak.. ibuku belum di surga, ibu dipenjara ayah di loteng rumah ini. Tangisku meraung kencang. Aku berusaha menutup mulutku agar tak terdengar ayah. Dengan segala kekuatan yang tersisa, aku melihat apa yang ada dibalik kain putih tadi.
Lihatlah, segala bentuk keperluan ibu ada di sana. Makanan kesukaan ibu, segelas teh, semangkuk sup, dua roti berselai stroberi, juga baju baru dan lipstick merah ada di sana. Ayahku telah gila. Bagaimana mungkin dia berani melakukan hal bodoh ini? Bagaimana mungkin ia tega melakukannya pada ibu? Bagaimana mungkin? Kepalaku berdenyut. Air mataku jatuh kembali.
Ibu telah mati dan ayah tidak bisa menerima semua ini. Oh Tuhan, gilakah ayahku menculik ibu dari keharibaan-Mu? Tak jauh dari kursi itu, di sudut ruangan, aku menemukan botol berisi cairan yang entah apa. Aku meyakini itu adalah cairan yang digunakan ayah untuk mengawetkan ibu. Dadaku terasa sakit, seperti ditimbun beribu-ribu bata yang besar. Lihat, ibu lelap dalam tidurnya. Seharusnya ibu sudah bahagia di dalam surga, bukan di dalam loteng rumah ini.
Tiba-tiba aku menangkap bayangan seseorang dari balik pintu. Ayah, itu pasti ayah. Dengan wajah penuh murka, ayah menatapku marah. “Kurang ajar!” desisnya. Ayah mendekat dan menjambak rambutku kasar. Aku meraung memohon ampun. Ayah kalap, dia membanting semua yang ada di dekatnya, lalu menghempaskanku kasar. Kepalaku membentur ujung pintu, darah segar mengalir di sana. Tapi aku masih terus berusaha untuk bertahan.
Dengan memegangi kepalaku yang berlumuran darah, aku menangis dengan segenap sakit yang ada. “Mengapa ayah tega melakukan ini pada ibu?” tanyaku pelan. Tubuhku kembali bergetar hebat. Ada perasaan sakit, takut, kecewa, dan marah yang masuk dalam hatiku. “Mengapa ayah mengurung ibu di sini? Mengapa ayah mengambil ibu kembali dari tanah pekuburan itu? Bagaimana bisa ayah melakukannya??!!!” aku membentak ayah. Ayah diam, wajahnya merah padam.
“Diam kau! Sudah kuperingatkan berkali-kali, jangan pernah masuk ke dalam loteng ini! Kenapa kau selalu saja membantah?!!! HAA!!” bentak ayah tak mau kalah. “Ayah gila! Kau gila!” bentakku sekali lagi. Mendengar kalimatku, murka ayah kembali menjadi-jadi. Diambilnya pisau yang ada di meja besar itu, lalu sekilas dia melirikku. Kepalaku yang masih terasa sakit akibat benturan tadi, mulai kehilangan keseimbangannya.
Aku mencoba berdiri dan melarikan diri dari tempat ini. Namun sia-sia, kekuatanku telah luruh. Aku hanya bisa menatap ayah dengan sisa-sisa air mata. “Jangan, Yah..” ucapku memelas. Aku merangkak, mencoba menjauhi ayah. Ayah menyeret kakinya untuk mendekatiku, pisau itu ia acungkan ke arahku. Aku masih terus merangkak menjauh, menangis sejadi-jadinya. Mengapa ayah jadi seperti ini? batinku kecewa. “Aku mohon jangan, Yah. Jangan lakukan hal bodoh ini lagi.”

Sayang, saat ini, ayahku telah dirasuki murka yang dalam. Ia tidak lagi bisa membedakan mana binatang dan mana anak kandungnya sendiri. Pisau itu akhirnya menancap di perutku. Empat kali tusukan sudah cukup untuk merobohkanku. Aku jatuh dengan lantai yang memerah. Oksigen mulai sulit untuk kuhirup. Napasku tersengal. Sesak mulai meraja. Samar-samar, penglihatanku juga mulai gelap. Hingga detik berikutnya, badanku kaku seperti ibu.

Tutup Cangkir (Terbit 29 April 2017, Wartalambar)

“Abiiiii…” teriak seseorang dari arah belakang.
Abi baru saja keluar dari perpustakaan. Kepalanya segera menoleh ke asal suara itu. Abi hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Rin berada dua meter di depannya, tengah melambaikan tangan dengan sebuah senyuman. Kepala Abi tiba-tiba berdenyut. Kejutan apa lagi ini? Kenapa gadis itu seperti jamur saja? Dimana-mana ada. Rin berjalan mendekat ke arah Abi. Abi menggaruk tengkuknya.
“Nggak nyangka ya ternyata kita satu kampus,” suara Rin terdengar mengerikan di telinga Abi.
Bagaimana tidak, ia mengira siang kemarin adalah pertemuan pertama dan terakhirnya dengan gadis itu. Dia tidak mau lagi bertemu atau bahkan berbicara basa-basi lagi dengannya. Namun semua terjadi di luar kendalinya. Bagaimana bisa Rin berkuliah di sini juga? Rutuknya dalam hati. Itu artinya, dia akan semakin sering bertemu dengan gadis itu. Dan Giska akan semakin salah paham. Ini benar-benar gawat.
“Hmm.. aku buru-buru. Sorry!” Abi segera berbalik, menjauh dari gadis itu.
Tanpa sadar seorang anak laki-laki yang tampak terburu-buru juga, menabrak lengan Abi. Tabrakan itu cukup membuat tubuh Abi sedikit oleng. Buku tulis yang ada di pelukannya terjatuh. Abi tidak menyadari itu. Dia langsung pergi dan menghilang di balik kerumunan mahasiswa lainnya. Rin memungut buku tulis itu. Menatap punggung Abi yang semakin menjauh. Dia hendak memanggil Abi, namun sepertinya anak laki-laki itu memang tengah berusaha menjauhinya. Rin menatap buku tulis itu, lalu membawanya. Dia berniat akan mengembalikannya di jam istirahat nanti.
Lunch time! Kantin kampus tengah ramai. Hampir seluruh siswa memenuhi kantin itu untuk mengisi perut. Giska duduk di meja kecil di ujung kantin bersama Abi dan Yoana. Mereka menikmati pizza mini dan sebotol cola. Ketika tiba-tiba seorang gadis mendekat ke arah mereka bertiga. Yoana yang lebih dulu menoleh, sementara Abi dan Giska tengah asik menyeruput colanya. Masih jelas diingatannya, gadis itu adalah gadis yang sama saat di café kemarin siang. Yoana menyikut lengan Giska pelan. Giska menoleh, lantas mengikuti arah mata Yoana. Sedikit terkejut, mata Giska terbelalak. Benarkah dengan apa yang dilihatnya?
“Hai semua..” sapa Rin.
Abi langsung menoleh. Rin lagi? Abi memutar bola matanya. Dilihatnya air muka Giska sudah berubah sejak tadi. Yoana sendiri sudah tersenyum kaku.
“Boleh aku gabung disi­­­­­…”
“Nggak!” sergah Abi cepat. Ucapan Abi sontak membuat Giska dan Yoana terkejut. Bahkan mulut Yoana sedikit terbuka. “Kenapa?” tanya Rin pelan, nyaris tak terdengar.
Raut wajah Abi jauh dari kesan bersahabat. Dia menatap tajam ke arah Rin. Hening menelingkup sejenak di antara mereka. Sementara Giska memilih diam, hanya memperhatikan. Dia benar-benar dibuat bingung oleh kemunculan Rin. Semakin bingung ketika menyadari bahwa gadis itu satu sekolah dengannya, juga Abi. Namun dia bersyukur melihat sikap Abi yang tegas seperti tadi. Bukan maksudnya dia bahagia melihat Abi memperlakukan Rin seperti itu, tapi lebih kepada Abi menepati janjinya.
Seperti yang diketahui, Rin adalah seseorang dari masa lalu Abi. Kemunculan Rin sempat membuat Giska berang. Bagaimana tidak, gadis itu muncul disaat Abi telah sah menjadi kekasihnya. Menurut cerita Yoana, gadis itu telah meninggalkan Abi untuk sesuatu yang terlihat lebih. Dan ketika sekarang Abi memilih dirinya, gadis itu tanpa perasaan menunjukkan batang hidungnya. Benar-benar menyebalkan, rutuk Giska dalam hati.
“Kalian udah selesai makan, kan? Kita balik sekarang!” Ajak Abi seraya melirik Giska dan Yoana.
Giska hanya menatap Abi datar. Yoana sendiri sudah bangkit. Abi segera menarik lembut tangan Giska dan mengajaknya kembali ke kelas. Kejadian itu jelas tertangkap oleh kedua mata Rin Abi menarik tangan gadis itu? Hatinya terasa sakit. Tiba-tiba ada gemuruh di dalam dadanya, ingin rasanya dia menangis saat itu juga. Giska.. gadis itu benar-benar telah merebut posisinya.
Langit kembali menangis. Gemuruh petir membuat Giska ngeri, gelegarnya seperti melucuti nyali. Awan hitam jelas terlihat di atas sana. Dalam keadaan seperti ini rasanya tak mungkin ia nekat untuk menerobos hujan. Di sudut kanan kelas itu, Abi menatapnya datar. Giska yang saat ini duduk di meja sudut kiri kelas, meliriknya sekilas lalu membuang muka. Keadaan selalu menjadi tidak enak setelah mereka bertemu Rin. Ada pikiran dan dugaan-dugaan tertentu yang tidak bisa dienyahkan Giska dari dalam hatinya. Ketakutan akan Abi yang akan berpaling darinya, membuatnya semakin hari semakin mudah marah. Untungnya Abi paham akan hal itu. Itulah sebabnya mengapa dia memperlakukan Rin seperti saat di kantin tadi.
“Ngambek mulu, sih?” celetuk Abi di antara suara hujan.
Giska diam saja. Dia merebahkan kepalanya di atas meja.
“Aku baik sama dia, salah. Aku jutek sama dia, lebih salah. Benernya itu gimana?” tanya Abi lagi.
Giska menoleh, menatap pemilik mata indah itu beberapa detik. Ada perasaan bersalah dalam dirinya. Sikapnya seperti ini yang akan justeru membuat Abi lelah. Separuh hatinya membenarkan pernyataan Abi barusan. Lalu sekarang apa? Bahkan dia sendiri tidak tahu apa yang dia inginkan. Duh, wanita!
“Aku cuma takut,” Giska akhirnya bersuara.
“Takut aku tergoda dengan dia lagi?” Abi beranjak dari duduknya, berjalan mendekat ke arah tempat duduk Giska.
Abi menatap Giska sambil nyengir. Giska membuang muka, dia paling benci ditatap seperti itu. “Dengar baik-baik, Dear, yang perlu kamu ingat saat ini adalah hatiku serupa gembok. Dan kamu adalah kuncinya. Kita, dua tubuh yang selalu ingin menjadi satu,” Abi mengusap lembut kepala Giska. “Aku tahu, ketampananku sulit ditolak banyak gadis. Tapi percayalah, aku cuma bisa jatuh cinta pada satu orang gadis yaitu kamu,” tambah Abi lagi sambil tertawa.
Giska menyikut lengan Abi. Dia ikut tertawa. “Karena lelaki baik selalu tahu perihal mana yang diinginkannya dan mana yang dibutuhkannya. Dan aku lebih memilih membutuhkanmu, Dear. Gimana? Sekarang udah percaya?” Abi tersenyum puas. “Oke, aku percaya,” Giska membalas dengan senyum yang tak kalah puas. “Bersikaplah dewasa, Giska-ku. Besok atau lusa, mungkin kita akan bertengkar lagi. Namun teruslah berusaha mencintai tanpa letih. Teruslah menyetia tanpa alpa,” Abi menyentuh pipi Giska lembut.
Giska tertunduk. Ucapan Abi benar-benar menyadarkannya betapa dia masih terlalu childish untuk gadis seusianya. “Seberapapun kamu ingin pergi, semoga kamu tak lupa kembali. Seberapapun kamu ingin menjauh, semoga kamu selalu mengingatku, seseorang yang akan selalu menjadi tutup cangkirmu,” Ucap Giska tersenyum.
“Kamu bisa mempercayaiku, Dear..” Abi menarik tubuh Giska. Lantas memeluknya. Keduanya tersenyum, membayangkan panggilan sayang yang disematkan Giska pada Abi. Tutup cangkir; ia yang akan selalu menjadi pasangan cangkir. Ia yang akan selalu menghangatkan isinya. Ia yang akan selalu menjaga suhunya. Dan Giska, adalah tutup cangkir bagi Abi yang kedinginan.

Ingin rasanya dia berbisik pada gadis itu, bahwa saat ini dia telah menemukan yang tepat. Giska adalah gadis luar biasa yang pernah ditemuinya. Perasaan sayang sejak pertama kali bertemu dengan gadis itu masih bertahan sampai detik ini. Dia memang tak sebaik yang Giska pikirkan. Namun Giska perlu mengerti, Abi yang bersamanya kini adalah Abi yang ingin selalu memperbaiki diri. Abi yang selalu ingin melindungi. Dan Abi yang selalu ingin menyembuhkan perih.