Aku
tidak begitu paham apa yang membuat ayah tidak mengizinkanku memasuki loteng
rumah ini. Sejak usiaku lima belas tahun, tepatnya sejak setahun kepergian ibu
ke pangkuan Tuhan, ayah tidak pernah lagi mengizinkanku membuka pintu loteng
itu. Entah bersebab apa, padahal setahuku loteng itu selalu dibersihkan ayah
dua minggu sekali. Setidaknya tidak akan ada hal-hal aneh yang akan terjadi di
sana jika aku masuk ke loteng itu. Tapi tetap saja, ayah melarang keras aku
untuk masuk ke dalam sana.
Aku
berpikir, barangkali terlalu banyak kenangan indah di dalam loteng itu tentang
ibu. Sebab yang aku tahu, ayah telah memindahkan seluruh barang-barang
kepunyaan ibu ke dalam loteng itu sejak ibu meninggal. Mulai dari piano
kesayangan, baju-baju, hingga semua perlengkapan ibu, ayah pindahkan ke atas
sana. Ayah juga mulai mengunci loteng itu dan menyembunyikan kuncinya di tempat
yang aku tidak tahu. Setiap kali ditanya, ayah selalu diam. Enggan menjawab,
Aku
adalah anak tunggal di keluarga ini. Sejak usiaku lima belas tahun, ibu telah
pergi menghadap Tuhan. Ibu meninggal dunia karena sakit. Sakitnya tak kunjung
sembuh, hingga membuat ayah kerap murung berminggu-minggu. Hingga hari buruk
itu datang, ibu pergi dan ayah menjadi sangat menutup diri. Ia mulai malas
untuk bertemu orang-orang. Ia juga tidak lagi banyak mengajakku bicara. Aku dan
ayah hanya berkomunikasi di meja makan, saat sarapan dan makan malam.
Selebihnya, ayah akan pergi bekerja dan pulang mendekam di kamarnya.
Sesekali
ia menuju loteng rumah tanpa mengajakku. Aku sering memperhatikan ayah sebelum
beranjak menuju loteng itu. Wajah murungnya sedikit cerah, beberapa kali
kulihat ayah membawa peralatan untuk bersih-bersih. Tidak jarang juga kulihat
ayah membawa senampan makanan ke atas sana. Aku berpikir bahwa mungkin itu
untuk camilan ayah setelah membersihkan loteng itu. “Perlu kubantu, Yah?”
tanyaku menawarkan suatu ketika. “Tidak usah, Jaz. Terima kasih.” Ayah
menggeleng dan menaiki tangga.
Biasanya,
jika sudah seperti itu, aku hanya bisa diam dan beranjak menuju kamarku. Atau
aku akan pamit untuk mengunjungi teman-temanku di kafetaria. Usiaku 20 tahun
saat ini, dan ayah tidak pernah melarangku pergi kemana saja selama itu tidak
berbahaya. Pernah suatu ketika, ketika aku pulang ke rumah, ayah belum juga
turun dari loteng itu. Penasaran, kususul ayah ke atas sana. Dengan langkah
kaki yang sangat hati-hati, aku mendekat ke arah pintu loteng itu. Mengendap-endap
mencari tahu apa yang tengah dilakukan ayah selama berjam-jam di dalam sana.
Kurapatkan
telingaku dengan pintu, kudengar ayah tengah mengobrol dengan seseorang. Bukan,
bukan mengobrol. Ayah tengah bermonolog, dia berbicara seorang diri. Tapi
seakan-akan sedang ada yang diajaknya bicara. Rasa penasaranku semakin
menjadi-jadi, aku semakin berkonsentrasi, berusaha mendengarkan apa yang sedang
diutarakan ayah. Samar, yang terdengar hanya suara ayah yang terdengar sangat
bersedih. Sesekali kudengar ayah terisak. Ah, mungkinkah ayah sedang rindu ibu?
batinku. Sebab di dalam loteng itu, banyak sekali barang-barang kenangan yang
akan mengingatkan ayah tentang ibu.
Setelah
agak lama dan ayah tak kunjung keluar, aku memilih turun dan balik ke kamarku.
Pikiranku kacau, mengapa ayah menangis sesedih itu? Kenapa pula ayah tidak mau
berbagi cerita tentang risaunya padaku? Esoknya di meja makan, aku mencoba
menanyakan hal itu pada ayah. “Kemarin, aku tak sengaja mendengar ayah menangis
di dalam loteng itu. Apa ada sesuatu yang terjadi, Yah?” aku menatap ayah.
Seketika air muka ayah berubah, dia langsung menatapku tajam. “Berapa kali ayah
bilang, kau tidak boleh naik dan mengunjungi loteng itu!” ayah berkata dingin.
“Memangnya
kenapa, Yah?” tanyaku lagi. “Kalau ayah bilang tidak boleh, ya jangan kau lakukan!
Jangan juga kau tanyakan lagi!” nada bicara ayah naik beberapa oktaf. Aku diam
sejenak, mencoba membaca raut wajah ayah. Firasatku mengatakan bahwa ayah
tengah menyembunyikan sesuatu dariku. Atau memang ayah belum mau bicara dan
terbuka padaku untuk saat ini? Entahlah, yang jelas ayah selalu marah jika aku
membahas soal loteng rumah ini.
Selesai
makan, ayah mengoles dua roti dengan selai stroberi. Lalu beranjak naik ke atas
loteng. Aku mengernyitkan dahi, apa yang dilakukan ayah dengan dua roti itu?
Siapa pula yang hendak diberi ayah di atas sana? Mungkinkah tikus-tikus jaman
sekarang sudah mulai doyan makan roti? aku membatin. Tapi tanpa mau ambil
pusing, aku segera meraih tas kuliahku, dan beranjak pergi ke kampus.
*
* *
Malam
ini, saat aku tengah bermesraan dengan tugas-tugas kuliah di ruang keluarga,
aku melihat ayah mengambil kunci loteng itu lagi. Setelah sebelumnya ia membuat
dua gelas teh dan membawa sebuah bungkusan besar. “Ayah habis belanja?”
tanyaku. Dia menggeleng. “Lalu, bungkusan apa itu? Seperti kantung plastik dari
sebuah mol?” tanyaku lagi. Ayah menatapku tajam. Tatapannya sungguh dingin. Aku
memilih bungkam dan kembali menekuri laptopku.
Kulihat
ayah menaiki tangga menuju loteng itu. Sikap ayah semakin hari semakin
bertambah aneh. Aku tidak habis pikir, apa yang selama ini dilakukan ayah
selama berjam-jam di atas sana. Belakangan ini aku juga sering mendengar ayah
tertawa-tawa dari atas loteng itu. Hari berikutnya, kulihat ayah membawakan
makanan lezat ke dalam loteng itu. Dan berikutnya lagi, kulihat ayah membawa
peralatan make up ibu. Ayah seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Dan ia tidak
mau aku tahu.
Beberapa
jam kemudian, ayah turun membawa satu gelas kosong. Bekas teh yang tadi
dibawanya ke atas. Mana satunya lagi? pikirku. Ayah mendekat ke arahku, aku
segera berpura-pura sibuk dengan tugasku. Ayah memperhatikan apa yang tengah
aku kerjakan, lantas mengelus kepalaku lembut. Aku menengadah, menatap wajah
ayah. Wajahnya yang tak lagi muda itu, penuh gurat bahagia. Seperti baru bertemu
sang pujaan hati. Merona.
“Jangan
terlalu larut.” ayah menepuk pundakku dan berjalan menuju kamar tidur. Sudut
mataku mengikuti langkah kaki ayah, hingga akhirnya masuk ke dalam kamar. Rasa
penasaranku kembali muncul. Malam ini, aku akan mencari tahu segala hal yang
tengah disembunyikan ayah. Aku tidak sanggup lagi melihat keanehan-keanehan dalam
diri ayah yang dengan sengaja ia sembunyikan. Bagaimana pun juga, aku tidak
ingin terjadi hal-hal buruk pada ayah.
Setelah
sejak semalam aku menguntit ayah, akhirnya aku mengetahui di mana kunci loteng
itu ia sembunyikan. Aku mengambilnya dan segera menuju lantai atas. Aku
berjalan pelan sembari memikirkan apa yang akan kutemukan di dalam loteng itu.
Sejak dulu, aku selalu ingin melihat-lihat isi di dalamnya. Bahkan ketika ayah
semakin melarangku, ambisiku untuk masuk malah semakin membuncah.
Perlahan,
aku memasukkan kunci dan memutarnya dua kali. Dengan perasaan berdebar, aku
membuka pintu loteng itu sedikit. Gelap. Tidak ada terlihat apa-apa di dalam
sana. Aku meraba dinding pelan-pelan, berharap menemukan saklar. Aku bahkan
tidak ingat lagi, di mana saklar loteng ini berada. Sejak lima tahun lalu, ayah
tidak lagi mengizinkanku masuk ke dalam sini.
Ah,
akhirnya ketemu, batinku takut-takut. Dengan sekali tekan, lampu mulai
menerangi seluruh ruangan. Aku hampir pingsan ketika aku melihat ada seseorang
tengah duduk membelakangi daun pintu. Perempuan dengan baju hitam yang lusuh.
Rambutnya tergerai sebahu. Namun dia sama sekali tidak bergerak ketika aku
menyalakan lampu. Perempuan itu masih bergeming di tempatnya. Darahku berdesir
hebat, lututku terasa lemas. Apa ini? Apa yang selama ini dilakukan ayah
bersama perempuan ini? Pikiran burukku menjadi-jadi.
Aku
menyeret kakiku untuk mendekat. Berusaha menguasai hati dan pikiranku yang
mulai kacau. Rasa takut tiba-tiba menyergapku. Hawa di dalam loteng ini menjadi
semakin tidak enak. Jarakku dengan perempuan itu tinggal beberapa meter lagi.
Dengan tubuh yang bergetar hebat, bola mataku mulai menangkap wajah perempuan itu.
“AAAAAARRGGHH!!!”
aku teriak sekencang-kencangnya. Badanku jatuh ke lantai, tanpa sengaja turut
menarik kain putih yang menutupi meja besar yang letaknya tak jauh dari kursi
perempuan itu. Aku terperangah atas apa yang kulihat. Napasku memburu, bulu kudukku
berdiri. Aku menangis sejadi-jadinya. Masih dengan tubuh yang gemetar hebat,
aku melirik perempuan itu lagi. Astaga! Teganya ayah melakukan ini! Tangisku
semakin menderas membasahi pipi.
Perempuan
yang duduk di kursi itu adalah ibuku. Ya, perempuan itu adalah ibu. Ibu yang
sejak lima tahun lalu telah divonis dokter untuk mati. Ibu yang nyatanya telah
dipanggil Tuhan menuju surga. Tidak.. ibuku belum di surga, ibu dipenjara ayah
di loteng rumah ini. Tangisku meraung kencang. Aku berusaha menutup mulutku
agar tak terdengar ayah. Dengan segala kekuatan yang tersisa, aku melihat apa
yang ada dibalik kain putih tadi.
Lihatlah,
segala bentuk keperluan ibu ada di sana. Makanan kesukaan ibu, segelas teh,
semangkuk sup, dua roti berselai stroberi, juga baju baru dan lipstick merah
ada di sana. Ayahku telah gila. Bagaimana mungkin dia berani melakukan hal
bodoh ini? Bagaimana mungkin ia tega melakukannya pada ibu? Bagaimana mungkin?
Kepalaku berdenyut. Air mataku jatuh kembali.
Ibu
telah mati dan ayah tidak bisa menerima semua ini. Oh Tuhan, gilakah ayahku
menculik ibu dari keharibaan-Mu? Tak jauh dari kursi itu, di sudut ruangan, aku
menemukan botol berisi cairan yang entah apa. Aku meyakini itu adalah cairan
yang digunakan ayah untuk mengawetkan ibu. Dadaku terasa sakit, seperti
ditimbun beribu-ribu bata yang besar. Lihat, ibu lelap dalam tidurnya.
Seharusnya ibu sudah bahagia di dalam surga, bukan di dalam loteng rumah ini.
Tiba-tiba
aku menangkap bayangan seseorang dari balik pintu. Ayah, itu pasti ayah. Dengan
wajah penuh murka, ayah menatapku marah. “Kurang ajar!” desisnya. Ayah mendekat
dan menjambak rambutku kasar. Aku meraung memohon ampun. Ayah kalap, dia
membanting semua yang ada di dekatnya, lalu menghempaskanku kasar. Kepalaku
membentur ujung pintu, darah segar mengalir di sana. Tapi aku masih terus
berusaha untuk bertahan.
Dengan
memegangi kepalaku yang berlumuran darah, aku menangis dengan segenap sakit
yang ada. “Mengapa ayah tega melakukan ini pada ibu?” tanyaku pelan. Tubuhku
kembali bergetar hebat. Ada perasaan sakit, takut, kecewa, dan marah yang masuk
dalam hatiku. “Mengapa ayah mengurung ibu di sini? Mengapa ayah mengambil ibu
kembali dari tanah pekuburan itu? Bagaimana bisa ayah melakukannya??!!!” aku
membentak ayah. Ayah diam, wajahnya merah padam.
“Diam
kau! Sudah kuperingatkan berkali-kali, jangan pernah masuk ke dalam loteng ini!
Kenapa kau selalu saja membantah?!!! HAA!!” bentak ayah tak mau kalah. “Ayah
gila! Kau gila!” bentakku sekali lagi. Mendengar kalimatku, murka ayah kembali
menjadi-jadi. Diambilnya pisau yang ada di meja besar itu, lalu sekilas dia
melirikku. Kepalaku yang masih terasa sakit akibat benturan tadi, mulai
kehilangan keseimbangannya.
Aku
mencoba berdiri dan melarikan diri dari tempat ini. Namun sia-sia, kekuatanku
telah luruh. Aku hanya bisa menatap ayah dengan sisa-sisa air mata. “Jangan,
Yah..” ucapku memelas. Aku merangkak, mencoba menjauhi ayah. Ayah menyeret
kakinya untuk mendekatiku, pisau itu ia acungkan ke arahku. Aku masih terus
merangkak menjauh, menangis sejadi-jadinya. Mengapa ayah jadi seperti ini?
batinku kecewa. “Aku mohon jangan, Yah. Jangan lakukan hal bodoh ini lagi.”
Sayang,
saat ini, ayahku telah dirasuki murka yang dalam. Ia tidak lagi bisa membedakan
mana binatang dan mana anak kandungnya sendiri. Pisau itu akhirnya menancap di
perutku. Empat kali tusukan sudah cukup untuk merobohkanku. Aku jatuh dengan
lantai yang memerah. Oksigen mulai sulit untuk kuhirup. Napasku tersengal.
Sesak mulai meraja. Samar-samar, penglihatanku juga mulai gelap. Hingga detik
berikutnya, badanku kaku seperti ibu.