Total Tayangan Halaman

Selasa, 16 Januari 2018

Menyoal Kenangan dan Ironi Kehidupan (Resensi Buku Penjual Kenangan Karya Widyawati Oktavia, Terbit di Medan Bisnis, 31 Desember 2017)

Judul               : Penjual Kenangan
Penulis             : Widyawati Oktavia
Penyunting      : Gita Romadhona & Yulliya Febria
Penerbit           : Bukune
Cetakan           : Pertama, Januari 2013
Halaman          : 214 hal
ISBN               : 978-602-220-089-5

Kumcer dengan judul Penjual Kenangan karya Widyawati Oktavia ini berisikan sebelas cerita yang mengangkat tema kenangan dan ironi kehidupan. Dengan begitu apik, Widyawati meramu kisah kehidupan dengan balutan fiksi yang tidak biasa. Cerita pertama menempatkan “Carano” sebagai pembuka cerita yang manis. Carano menceritakan tentang kepatah-hatian seorang gadis Minang yang dikhianati kekasihnya. Padahal sang ibu sangat menaruh harapan kepada lelaki itu dan selalu menanyakan kapan ia dan keluarga bisa membawakan carano untuk kekasihnya tersebut.
Alur cerita maju-mundur yang disajikan Widyawati pun membuat pembaca terhanyut bersama konflik sang tokoh. Keteguhan hati tokoh utama yang akhirnya memilih mundur meski kekasihnya kini sudah tak bersama perempuan lain, membuat pembaca merasa puas. Repih kenangan kedua dilanjutkan dengan cerita fiksi “Dalam Harap Bintang Pagi” yang bercerita tentang seorang wanita yang suka mendengarkan cerita dari lelaki yang dikaguminya. Lelaki itu mulai bercerita tentang Rayina, bintang yang selalu muncul pada pukul satu pagi. Menurut ceritanya, Rayina itu adalah jelmaan peri.
“Awalnya, Rayina—peri itu—tidak ingin terbang. Dia telah menikmati langkah-langkah kakinya,” lanjutmu. “Sampai....” “Sampai apa?” Aku belum mendengar bagian cerita yang ini. “Sampai dia jatuh cinta.” Mungkin cerita kali ini tidak pernah benar-benar terjadi. Mungkin kau hanya ingin agar kita tak kehabisan percakapan. Tak apa. Aku menikmati setiap kata-katamu—meskipun kadang timbul rasa tak percaya di sudut hatiku.”Pastilah dia jatuh cinta kepada seseorang yang bisa terbang, ya?” tebakku—mengikuti skenariomu. “Bukan. Dia hanya jatuh cinta kepada seorang petualang.” Aku mencuri pandang ke arah matamu, entah untuk apa—tetapi kau tak tahu” (hal.64)
Tanpa lelaki itu sangka, bahwa cerita yang ia ceritakan sama persis dengan perasaan perempuan itu terhadapnya. “Malam itu, aku duduk di depan nyala api. Sebuah cerita perlahan-lahan menjadi abu di sana. Ya, cerita tentang Rayina—bintang pagi—yang baru saja kau ceritakan kepadaku. Aku harus membakarnya. Menebarkan abunya sebelum matahari tiba esok. Sebelum bertumpuk. Sebelum aku sempat mengulang-ulang membacanya dan bersedih untuk Rayina. Atau petualang itu. Sebelum aku begitu mencintai keeping cerita itu. Sebelum aku ingin menjelma Rayina dan menginginkan sayap. Karena, itu hanya dongeng, katamu.” (hal. 74)
Cerita berikutnya berjudul “Percakapan Nomor-Nomor”, “Kunang-Kunang”, “Perempuan Tua di Balik Kaca Jendela”, ”Penjual Kenangan”, “Tengara Langit”, “Menjelma Hujan”, “Nelangsa”, “Tembang Cahaya”, dan “Bawa Musim Kembali, Nak...” juga menampilkan ironi kehidupan dan setumpuk kenangan. Widyawati Oktavia sangat teliti menggambarkan kehidupan para tokoh di dalam ceritanya. Seperti dalam cerita Menjelma Hujan. Widyawati menggambarkan tokoh utama yang merasakan sakit hati karena ditinggal menikah oleh lelaki yang dicintainya. Konflik batin yang kuat mampu tersampaikan dengan baik kepada pembaca, sehingga pembaca cukup mampu merasakan permasalahan yang disajikan dalam cerita tersebut.
Selain itu, Widyawati juga berhasil membawakan setiap cerita dengan topik serius namun tetap konsisten dengan kekentalan fiksinya. Beliau juga mampu membuat filosofi untuk beberapa cerita di dalam buku ini, seperti dalam cerita Kunang-Kunang, Menjelma Hujan, Dalam Harap Bintang pagi, dan Nelangsa. Kelebihan lain dari buku ini adalah cerita yang disajikan sangat sarat dengan pesan moral yang tinggi. Gaya bahasa yang dipilih juga sangat segar dan bervariatif.
Selain itu, pengenalan kosakata dalam bahasa daerah juga merupakan suatu kelebihan dalam buku ini. Terlihat di dalam cerita Carano yang membawakan dialog-dialog dengan bahasa Minang. Sehingga pembaca juga mendapatkan pembelajaran dari sana. Jiwa sastra yang kental juga sangat terasa ketika pertama kali membaca buku ini. Dan pilihan tema dalam cerita ini juga sangat menarik untuk dibaca.
Adapun kelemahan dalam buku ini menurut saya adalah alur cerita yang dibuat campuran (maju-mundur), sehingga agak membingungkan pembaca. Membuat pembaca harus berkonsentrasi penuh jika ingin mendapatkan pesan dan inti dari cerita dalam buku ini. Selebihnya, menurut saya, buku ini sangat layak untuk dibeli dan dikoleksi.


(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia)

Tulalit (Terbit 14 Januari 2018, Harian Medan Pos)

Tiga hari berlalu sejak kejadian Zen nembak Eril di arena bowling. Gue masih sering ngeliat Zen berusaha keras untuk mendekati cewek tomboy itu, baik dengan memberinya coklat, bunga mawar, puisi bahkan memaksa untuk mengantar pulang. Terang saja Eril menolak mentah-mentah. Selain dia gak ingin memberi angin pada Zen, gue yakin Eril gak tertarik sedikit pun dengan semua yang ditawarkan Zen. Gue jadi bersyukur, biar jelek gue gak sebodoh dia. Eril seorang cewek tomboy, harusnya kalau dia bisa sedikit lebih pintar, dia bisa kasih Eril topi, nah kebetulan sekarang Eril lagi seneng mengoleksi itu. Atau kasih dia bola basket, jam tangan atau headphone. Barang-barang yang berbau maskulin.
Ngomongin soal cinta, kadang membuat gue berpikir; gimana sih rasanya jatuh cinta itu? Apa aja yang dilakukan orang ketika jatuh cinta? Gue sama sekali belum pernah ngerasain yang namanya jatuh cinta. Kalau sekedar naksir sih sering. Contoh, gue pernah naksir sama seorang cewek berkacamata yang selalu nangkring di perpustakaan sekolah. Sehari dua hari gue nguntit dia kemana pun dia pergi. Dia dan kacamatanya gak pernah tahu itu. Dia gak peka, dia gak pernah ngelirik atau bahkan tahu kalau ada seseorang yang mengaguminya dari balik rak-rak buku. Entahlah apa yang salah, apakah kacamatanya yang terlalu tebal atau gue yang terlalu kecil dan tak berarti macam kutu.
Akhirnya gue jengah sendiri. Merasa gak di respon dan gak ada manfaatnya juga, gue mundur teratur. Kali kedua gue naksir adalah dengan seorang cewek cantik, berkulit putih, tinggi dan seksi. Dia sebaya gue, kebetulan kelas kita bersebelahan. Tiap hari gue musti nemenin dia belanja, shopping ini-itu yang gak penting. Liat barang yang lucu dikit langsung di beli. Liat diskonan apalagi. Tahan banget kakinya yang kurus itu mengelilingi mall sebesar ini. Tapi gue gak ambil pusing, namanya juga hawa. Gue maklum. Dan tiap hari juga gue harus jadi pendengar yang baik buat dia. Dia suka curhat, nyeritain semua yang dialaminya hari itu. Kalau gue gak dengerin dengan saksama, dia bisa ngamuk. Ngebentak-bentak gue dengan suara sok imut. Gue bukannya takut, tapi malah geli.
Dan yang paling bikin perasaan suka gue buyar ke dia adalah kejadian di suatu sore, ketika gue lagi dinner sama dia di sebuah café. Gue memandang dia penuh rasa kikuk saat itu. Di hadapan gue, cewek itu memberikan senyum termanis yang dia punya. Matanya kedip-kedip ke arah gue kayak orang kelilipan sesuatu. Gue yakin tak ada satu cowok pun yang tak tergila-gila melihat senyuman mautnya itu. Berkali-kali gue meyakinkan diri bahwa gue tampil sempurna sore itu, nggak mau-maluin. Gue memang terpesona dengan kecantikannya. Dengan bibir mungil berwarna pink, hidung mancung, mata bulat boneka dan rambut sebahu berwarna kecokelatan itu. Tapi sore itu gue menyadari satu hal, bahwa dia tak sesempurna yang gue bayangkan. Cewek itu fisiknya saja yang cantik, tapi otaknya setengah.
“Eh, handphone gue bisa twitter-an lho…” katanya membuka percakapan sambil menunjukkan handphone canggihnya kala itu, membuat gue semakin takjub.
“Jadi handphone lo bisa buat internetan, ya? Baru beli?” tanya gue terpukau.
“Iya dong.. canggih, kan, ya?” Dia senyum-senyum sendiri.
“Iya, canggih banget! Lo suka searching tentang apa sih?” gue mulai antusias.
Hening. Cewek itu terlihat sedang berpikir tanpa menjawab.
“Atau mungkin, lo suka ikut main Pokemon kayak orang-orang, ya? Udah berapa banyak Pokemon yang lo kumpulin? Udah sampe jalan mana aja yang lo susurin?” tanya gue kembali.
Masih hening, gue ngeliat mukanya mulai menunjukkan raut bingung. Dia yang nggak ngerti sama pertanyaan gue atau gue yang terlalu banyak memberikan pertanyaan, ya?
“Hmm, emang hape gue bisa buat main Pokemon, ya?” tanyanya dengan tampang bingung tingkat dewa.
“Hah?!” gue terbengong. Tak percaya kalau jawaban seperti itu yang bakal keluar dari mulutnya. Itu kan hape canggih keluaran terbaru. Ya jelas saja ada aplikasi untuk bermain game Pokemon Go begitulah. Tapi gue gak ingin ngerusak suasana dan segera mencari topik pembicaraan baru yang mungkin bisa menyegarkan suasana.
“Punya instagram, dong? Suka upload foto juga, kan?”
Kali ini dia mengangguk dengan mantap. Senyumnya masih merekah, menghiasi wajah cantiknya.
“Followers gue udah banyak tau nggak,” pamernya.
“Berapa banyak?”
“Seribu dua ratus,”
Glek! Itu mah masih belum ada apa-apanya. Gue kira dia bakal bilang setidaknya 10k atau lebih.
“Iya, bagus itu. Tapi hati-hati kalau bikin caption, jangan sampai ada yang tersinggung atau jadi marah-marah, trus lebih baik jangan ikutan komen di IG artis-artis besar, ya, apalagi sampai membully, ntar bisa kena kasus kayak user yang dilaporin Deddy Corbuzier, lho,” kata gue sambil tertawa, mencoba mencairkan suasana dengan sedikit humor.
“Eh, emang caption itu apaan? Terus, Deddy Corbuzier kenapa?” tanya dia dengan wajah super bego. Lebih bego dari yang tadi.
Kali ini gue bener-bener terperangah. Aduhh, nih anak taunya apaan, sih? Batin gue. Mendadak gue tak lagi merasakan yakiniku di hadapan gue seenak tadi. Gue merasakan sesuatu yang hambar. Gue emang menyukai cewek cantik, tapi gue jelas lebih tertarik sama cewek yang nyambung. Yang bisa diajak ngobrolin apa aja. Yang wawasannya luas. Yang punya banyak pengalaman. Yang humorisnya gak ketolongan. Dan yang gak kelihatan aneh seperti dia. Gue gak suka cewek cantik tapi tulalit. Atau cewek cantik tapi isi kepalanya sedikit.
“Hmm.. jadi gimana? Lo kapan mau bawa gue ke rumah? Kenalin gue sama Mama lo, dong?” tanya cewek itu tak berdosa, pake nyengir pula.
Gue tertegun sejenak, bawa ke rumah? Kenalin ke mama? Bisa kena ceramah 20 ayat kalau sampai bawa yang model beginian ke rumah. Gue takut mama salah paham ketika ngobrol dengan dia, soalnya anaknya susah banget buat di connecting-in. Lelet, kayak komputer yang pentiumnya masih rendah banget. Gue bergidik ngeri membayangkannya.
Untuk kemudian dengan mantap gue berkata, “Lo emang cantik, cantik banget malah,” sesaat gue ngeliat pipinya memerah, tersipu malu. Senyum kemenangannya pun terkembang parah.
“Tapi… kayaknya lain waktu aja deh, ya!” tandas gue cepat.
“Maksudnya gimana, sih?”
“Gue ke toilet bentar, ya,” Gue bergegas sebelum dia mengizinkan.
Sekilas gue bisa melihat wajahnya berubah menjadi pias, dia menggigit bibir bawahnya. Gue tahu dia kecewa. Tapi gue lebih kecewa karena merasa tertipu dengan kecantikannya. Bukan dia yang nipu sih, tapi gue yang ketipu. Sebenernya gue gak ke toilet, ketika gue lihat cewek itu tak memperhatikan gue lagi, gue langsung ke meja kasir untuk membayar bill. Lalu dengan tergesa, gue meninggalkannya begitu saja. Jahat memang, tapi sudahlah. Gue gak mau memberikan harapan terlalu besar ke dia. Gue itu kan, cowok ganteng yang gak hobi PHP-in cewek lain.
Semenjak itu, gue ngerasa cinta itu benar-benar bullshit, omong kosong semata. Sulitnya mencari seseorang yang sempurna membuat gue berpikir bahwa cinta itu pembodohan. Cinta itu banyak menipu. Cinta itu suka berkamuflase. Gue jadi berhenti naksir cewek. Eh,bukan berarti gue jadi naksir cowok, ya! Gue tidak sehina itu. Makanya ketika gue ketemu sama Eril, dan ngeliat gayanya yang maskulin seperti itu, gue jadi tertarik. Gue ngerasa kalo dia beda. Meskipun dia tetap cewek, tapi cara pemikirannya gak kayak cewek kebanyakan. Eril yang paling ngertiin gue. Eril sahabat sejati gue, yang ngebuka mata gue bahwa cinta itu gak perlu dikejar.

Tentang Lelaki yang Patah Hati (Terbit 07 Januari 2018, Harian Medan Pos)

Bagaimana rasanya hidup tanpa aku? Masihkah ada yang menghabiskan pinggiran rotimu yang tak termakan? Masihkah ada yang mengelap lipstikmu yang belepotan? Atau masihkah ada yang sabar menunggumu di toko buku berjam-jam? Beritahu aku, bagaimana rasanya menjauhiku? Apakah kau bahagia? Apakah kau baik-baik saja? Apakah kau telah terbiasa? Seberapa kuat aku menghapus ingatan tentangmu, tidak sebanding dengan perasaan rindu yang kerap bertamu. Saat malam-malam dingin mencipta puisi, saat itulah rinduku datang tak tahu diri.
Boleh jadi, akulah lelaki yang paling kau benci. Ketika sepersekian detik lalu, malam itu, kau memilih berlalu menjauhiku. Memberikan tapal batas yang tidak boleh aku lewati. Membangun jarak yang sesungguhnya tidak aku ingini. Bukan tengkar kita yang berlebihan, tapi luka di dadamu yang kelewatan. Semua bersebab aku, semua karena ulahku, begitu katamu.
Tidak bisa aku pungkiri, malam itu sesak memenuhi rongga dada. Menjalar ke sendi dan hati yang terluka parah. Kepalaku berdenyut, membayangkan hidup tanpamu adalah kesakitan yang maha dahsyat. Tujuh tahun bersama, ternyata tidak membuatmu mengenaliku seutuhnya. Telah ada orang lain yang menggantikanku. Telah ada orang lain yang mengisi hatimu. Lupakah kamu pada semua prinsip kita dulu? Untuk tidak saling melangkah dan berpindah ke lain rupa.
Dia yang hadir saat bahtera kita goyah. Membantumu berdiri ketika kau terluka. Memperbaiki hatimu yang seharusnya menjadi tugasku. Sementara kamu membiarkannya masuk terlalu dalam. Menikmati segala perhatian yang dia berikan. Hingga kamu lupa, bahwa masih ada aku sebagai pegangan. Arogan sekali kamu. Tidak memperhatikan lukaku yang semakin menganga. Malah semakin membuatku terluka.
 Aku cukup dewasa ketika bibirmu mengucapkan kata pisah. Tidak ada air mata di sana. Hanya gemuruh dalam dada yang nyaring bersuara. Juga retinaku yang tak lepas melahap wajahmu. Untuk yang terakhir kali, aku menatapmu lamat-lamat. Berharap mataku bisa menyimpan lebih banyak memori tentang wajahmu. Hingga jika suatu saat nanti aku rindu, aku bisa memutarnya kembali bermain di otakku.
Aku coba mencari sesuatu dalam matamu. Tentang rasa cinta yang dulu kau simpan di sana. Atau tentang tumpukan rindu yang dulu lahir dari sudut itu. Mengapa kini tak ada lagi? Secepat itukah kau menghapusnya? Hingga tiada berbekas kenangan tentang kita. Yang tinggal hanya keburukan tentangku saja.
Ah, apakah selama bersamaku kau tidak bahagia? Apakah kekuranganku adalah penyebabnya? Atau mencintaiku hanya melelahkanmu saja? Mengapa tidak pernah kau katakan semua itu padaku. Padahal jika saja kau mau mengatakannya, aku akan berusaha keras untuk mengubah semuanya. Membuatmu kembali nyaman dan jatuh cinta, seperti saat pertama kali dulu mata kita bertemu.
Aku akan mengubah kesakitanmu menjadi gumpalan bahagia. Aku akan meredam emosiku untuk membuatmu baik-baik saja. Tidak mengapa jika aku harus selalu salah. Tidak mengapa jika argumenku selalu kalah. Untukmu, aku ingin selalu mengalah. Sebab mencintaimu adalah aku tidak pura-pura.
Lantas apa yang terjadi kini? Kamu memilih pergi dan meninggalkan aku seorang diri. Kamu melupakan semua hal indah tentang hubungan ini. Tidak bisakah kau ingat-ingat lagi bahwa akulah lelaki yang begitu mengasihimu? Yang berjuang keras mendapatkanmu. Dan tetap menjalani semuanya bersamamu bahkan ketika hatimu belum sepenuhnya milikku.
Aku yang kerap menjadi tester masakanmu. Meski rasanya tidak begitu bagus, aku habiskan demi melihat senyummu. Aku yang selalu menjadi tempat marah-marahmu. Meski menyebalkan, aku selalu menyukai omelanmu. Dan aku yang selalu menjadi sasaran cubitanmu, ketika aku telat menjemputmu karena sesuatu. Sungguh, tidak ada keberatanku untuk semua itu. Aku menikmati masa-masa menyebalkan bersamamu. Dan aku ingin selalu menikmati masa-masa tegang mencintaimu.
Tapi apa yang aku dapat? Ah, ingin rasanya aku menghabisi lelaki itu. Lelaki yang dengan tega merebutmu dariku. Lelaki yang telah memporakporanda hubungan kita. Menyisakan puing-puing kedukaan yang tak tersembuhkan. Malam itu, kamu menepuk pundakku. Seolah menyakinkanku bahwa inilah pilihan terbaik kita. Padahal jelas, aku akan menjadi gila. Hatiku akan rusak parah. Hidupku menjadi tak sempurna. Bagaimana bisa aku menerima, jika sumber kebahagiaanku malah pergi menjauh?
Ingin rasanya kutarik tubuhmu. Kudekap erat agar kau tak menjauh. Aku tidak bisa berpikir bagus kala itu. Yang hatiku ingin hanya kau tidak berlalu. Aku ingin memelukmu dan berbisik bahwa aku tidak ingin kehilanganmu. Tujuh tahun bukan waktu singkat untukku mencintaimu. Aku pikir aku akan menghabiskan seluruh hidupku bersamamu. Tapi ternyata, perempuanku memilih hal yang tak pernah kubayangkan.
Alih-alih menarik tubuhmu ke pelukanku, aku hanya diam mematung. Menatap punggungmu yang mulai menjauh. Sekali lagi aku katakan, tidak ada air mata saat itu. Aku hanya sedang berpikir keras tentang segalanya. Duniaku tidak benar-benar runtuh saat itu. Tapi hatiku rasanya seperti terhimpit ribuan batu. Sakit. Sakit sekali.
* * *
Enam bulan setelah perpisahan kita. Aku masih sering melihat wajahmu. Meski ketika berpapasan denganku, kamu memilih memalingkan wajah cantikmu. Mengapa? Apakah dengan melihatku akan melahirkan tumpukan rindu di dadamu? Ah ya, aku terlalu percaya diri memikirkan hal itu. Tidak mungkin. Kamu yang dingin tidak akan mungkin melahirkan rindu untukku.
Setelah perpisahan itu, apa kau masih sering merinduiku? Seperti aku yang tiap malam melukis wajahmu dalam kenang. Apakah kau sesekali memikirkan aku? Seperti aku yang setiap saat menguncimu dalam otakku. Tidak ada yang berubah hingga saat ini. Meski aku tahu, tanganmu tidak lagi ingin digenggam olehku.
Entah lelucon apa yang ingin dimainkan Tuhan. Usai hubungan kita tak lagi bersama, Dia semakin rutin menyatukan pertemuan-pertemuan kita. Aku yang selalu kelabakan ketika bertemu kamu di toko buku. Dan kamu yang selalu kelimpungan saat mata kita bertemu di kafetaria kampus. Bagaimana bisa aku menghapus wajahmu, jika setiap saat malah kamu yang aku lihat?
Sayang, maukah kau kembali pulang? Maukah kau kembali belajar memaafkan segala salah dan menghapuskan benci yang ada di dada? Maukah kau kembali menjadi bagian dari hidupku? Kembali membetulkan kerah bajuku, atau kembali menjadi inspirasi untuk setiap puisiku? Maukah kau kembali menjadi puan atas segala perasaan cinta ini?

Aku masih menunggumu. Aku masih menjadi rumah yang siap untuk kau tinggali lagi. Tidak peduli seberapa besar kesalahanmu. Tidak peduli seberapa hebat kerusakan kita. Yang aku tahu, aku menerimamu sejak saat mata kita bertemu. Dan betapa mengasyikkannya mencintai segala kekuranganmu. Kembalilah, untuk kemudian kita benahi segala yang patah. Kembalilah, untuk memperbaiki luka dalam dada. Dan kembalilah, bahagia tanpa kata pisah.

Perempuanmu (Terbit 24 Desember 2017, Harian Medan Pos)

“Aku ingin menamatkan cintaku pada sepetak tanah pekuburan itu. Agar aku tahu, apakah ia akan menangisiku untuk yang pertama kali. Menangis untuk jasadku yang mulai kaku ini.”
* * *
Lagi. Perempuan itu lagi-lagi kau hadiahi luka. Tanpa kau sadar, bahwa ia sudah tidak mampu lagi untuk menampungnya. Kau tetap saja hadiahi ia luka. Bertubi-tubi, setiap hari. Bahkan di dua puluh empat jam-mu, tiada pernah kau hadiahi ia bahagia. Ia ingin tumpahkan air mata tepat di wajahmu, tepat di depan bola matamu, tapi ia tahan. Sebab baginya saat itu, cintanya kadung memenuhi rongga dada. Sulit sekali untuk dilepas. Tidak mudah untuk dipangkas.
Di matamu, ia hanya seorang perempuan yang menyusahkan. Yang kerapkali ingin diperhatikan. Yang selalu ingin diutamakan. Padahal kamu punya segudang kesibukan, yang bagi kepalamu, itu jauh lebih prioritas. Bagimu, perempuan itu hanya membuat susah. Sering mengganggu dan membuat rusuh hatimu. Bahkan sesekali merusak pikiranmu. Membuat pekerjaanmu menjadi terbengkalai karena ulahnya.
Padahal, apa kau tahu? Itu adalah bagian dari rencananya untuk mendapat perhatianmu. Sesekali perempuanmu merasa kesepian, karena dia bukan lagi hal utama yang kau segerakan seperti dulu. Perempuanmu merasa dia hampir kehilangan wadah bahagianya, tapi kau malah dengan tega mengatakannya dia pengganggu segala. Perempuanmu hanya tidak ingin kau berubah, menjadi sibuk hingga akhirnya ia terlupakan.
Dia berusaha untuk tidak menumpahkan air mata di hadapanmu. Dia pun berusaha untuk menekan emosi agar kamu tidak tersakiti. Meski beberapa kali, dadanya telah remuk oleh kata-katamu. Hatinya sudah lebam oleh ucapanmu. Perempuanmu mencoba sabar, masih terus berharap agar kalian baik-baik saja. Ia pasang kembali topeng penerimaan, hingga kamu mengira bahwa lukanya telah sirna. Padahal apa kamu tahu, jauh di dalam sana, hatinya sudah rusak parah.
Tidak.
Kamu tidak pernah tahu. Bahkan untuk sekadar mengintip bentuk hatinya saja, kamu tidak mau. Perempuanmu hanya ingin dicinta. Sesekali ia butuh dimengerti, bahwa apresiasimu terhadap cintanya dapat kau realisasikan di kehidupan nyata. Bukan sekadar kata-kata, bukan cuma diksi indah.
 Berulang kali perempuanmu ingin menyerah. Tapi ketika ia mengungkap segalanya, kau menggenggam tangannya dengan sangat erat. Kau tahu, kau takkan bisa hidup tanpanya. Dan kau menyadari, bahwa tanpanya cintamu akan mati. Tapi tetap saja, kau perlakukan dia dengan sayatan-sayatan duka. Membuat dia berkali-kali ingin menyerah. Membuat dia ingin pergi dan menyendiri.
Bagaimana bisa kau perlakukan dia seperti itu?
Hingga beberapa kali kau tampar dia dengan sikapmu yang semakin kacau. Kau habisi dia dengan kata-katamu. Kau buat dia terluka dengan intonasi suaramu. Berkali-kali ia menangis dalam hening. Bersahut-sahutan saat jangkrik menyuarakan kekelaman malam. Tertidur dengan bekas air mata. Terbangun dengan sembab yang meraja. Apa kau tahu itu? Tidak! Kau sama sekali tidak tahu bahwa perempuanmu terluka parah.
Perempuanmu terluka parah di bagian hatinya. Bentuknya sudah porakporanda tak terkira. Dan dia harus merasakan perihnya seorang diri. Dia berusaha kembali menyusunnya, tapi sayang, pondasinya tak lagi kuat seperti dulu. Apa kau tahu itu? Tidak! Lagi-lagi kau tidak tahu semua perihal perempuanmu. Perihal yang ia suka, perihal yang ia murka. Kau tak lagi peduli akan itu. Di kepalamu hanya bagaimana menjadi bahagia dengan duniamu saja.
Sesekali lihatlah,
Perempuanmu tidak lagi seperti dulu. Ia sekarang lebih banyak diam. Menerima segala kotak luka yang kau suguhi padanya. Ia tak lagi memberontak, ia juga tak lagi memberitahumu perihal kesakitannya. Bahkan tembok tinggi nan gagah itu pun akan hancur berkeping-keping, ketika dipukuli bertubi-tubi. Konon lagi hatinya yang hanya sebatas gumpalan daging beserta darah?
Kamu yang selalu mengatakan dia tidak sempurna. Kamu yang kerapkali mengatakan dia bukan segalanya. Suatu saat kau akan mengerti mengapa kerewelannya ia jatuhkan padamu. Mengapa segala suka dukanya ia hanya ingin kau yang tahu. Mengapa hari-harinya tak ingin ia lewatkan tanpa kamu. Suatu saat nanti kau akan mengerti. Bahwa bukan karena ia tak bisa membagi cintanya pada lelaki lain. Tapi karena baginya, dirimu adalah sebuah tujuan. Meski kamu hanya menganggapnya sebuah pelarian.
Teruskanlah, jika dengan menyakiti perempuanmu dapat membuatmu merasa lebih bahagia. Teruskanlah, jika dengan mengeksplor kekurangannya, dapat membuatmu merasa lebih sukacita. Teruskanlah menyakitinya dengan hal-hal yang kau anggap biasa. Meski baginya, itu bukan sekadar luka.
Perempuan yang berusaha membahagiakanmu. Perempuan yang berusaha memahami setiap kondisimu. Perempuan yang tidak pernah peduli bagaimana masa lalu kamu.  Dan perempuan (malang) yang nyatanya tidak begitu berharga dihadapan kamu. Ia masih terus mengais kasih dari dua bola matamu, berharap kamu bisa berubah seperti yang ia suka. Berharap kamu tidak lagi menyakiti dengan cara yang sama. Dengan cara yang parah.
 “Aku ingin menamatkan cintaku pada sepetak tanah pekuburan itu. Agar aku tahu, apakah ia akan menangisiku untuk yang pertama kali. Menangis untuk jasadku yang mulai kaku ini.”
Perempuanmu akhirnya benar-benar mengakhiri segalanya. Ia menamatkan cintanya pada kesakitan yang maha panjang. Beralaskan namamu, mengingat sikap-sikapmu, ia jatuhkan dirinya ke dasar jurang. Agar kau yang tak peduli, tidak kerepotan mencari jasadnya nanti. Perempuanmu memang payah, ia bahagiakan kau dengan cara yang salah. Meski begitu, dalam sisa napasnya ia berdoa, semoga kelak ada perempuan lain yang lebih bisa kau cintai. Semoga ada perempuan lain yang lebih bisa kau hargai. 

Membunuh Ibu (Terbit 23 Desember 2017, Buana Kata)

Kemarau panjang melanda hati wanita berusia setengah abad itu. Matanya tak lagi cerah sejak bertubi-tubi cobaan Tuhan menimpa rumah tangganya. Hari-hari ia habiskan dengan tangis. Meratapi mengapa kehidupan dunia sekejam ini. Tubuhnya tak lagi gemuk, hanya kulit yang membungkus tulang-tulangnya. Semangatnya tak lagi ada, hingga berjalan pun ia terpapah. Kepahitan memakan habis sisa bahagia di umur senjanya. Tak ada lagi yang tersisa, hanya bongkahan duka yang terasa menghantam keras dadanya.
Bik Jah, begitu warga kampung Pinangjaga memanggilnya. Ia hanya buruh cuci yang setiap hari melahap baju kotor warga yang memerlukan tenaganya. Dari helai-helai baju itulah, ia bisa mengenyangkan perut kelima anaknya. Juga suaminya yang belakangan ini jarang pulang ke rumah. Entah bersebab apa, lelaki yang tujuh tahun lebih tua darinya itu mulai jarang berdiam diri di rumah. Pagi buta sudah pergi, malamnya lupa kembali.
Bik Jah tidak terlalu memikirkan kelakukan suaminya. Baginya, anak-anak adalah alasan mengapa ia terus bekerja keras. Suaminya bukan lagi prioritas. Ditengah ekonomi yang menghimpit, rasa-rasanya cinta bukan lagi hal pertama untuk dipikirkan. Biarlah hatinya patah-patah mendengar segala bisikan tetangga. Biarlah dadanya berlubang duka dihujani tatapan rasa iba.
Bukan Bik Jah tak bisa marah. Tapi ia memilih mengalah. Tak ada guna meributkan hal-hal yang belum tentu terjadi, usianya sudah tua, akan malu jika tengkarnya hinggap di telinga tetangga. Anak pertama dan keduanya pun kerap berkata demikian. Keduanya sudah bukan lagi anak-anak. Marni, anak pertama, bahkan sudah menikah. Namun suaminya entah kemana. Itulah mengapa ia masih tinggal serumah dengan Bik Jah dan keluarga.
Sementara anak keduanya, Ahmad, senangnya berkumpul di cakro yang ada di simpang rumahnya. Pagi ke siang ia tidur, sore ke malam ia memetik gitar bersama teman-temannya. Sesekali menggoda para gadis yang lewat di sana. Ingin Bik Jah memaki dan menyeret anak lelakinya itu untuk pulang ke rumah. Namun Bik Jah sadar, anaknya bukan lagi bocah yang bisa dimarahi sesuka hati. Beberapa kali dinasehati, Ahmad tidak peduli. Beberapa kali disuruh bekerja, ia mengomel sendiri.
“Mau kerja apa, Bu? Tamatan SD sepertiku mana ada yang mau terima,” katanya ketus.
“Kerja apa saja. Kuli bangunan juga tidak apa-apa,” jawab Bik Jah kala itu.
“Malu. Gengsi!” bantahnya masih dengan nada ketus.
“Ibu kalau modal gengsi dan rasa malu, mungkin kau dan adik-adikmu tidak akan hidup sampai detik ini!” Bik Jah menatapnya tajam. Marah sekali ia mendengar jawaban anaknya.
“Itu kan ibu, beda denganku!” Ahmad tetap membantah.
Sedih rasanya mendengar kalimat itu dari mulut anak lelakinya. Sementara Bik Jah dihujani tatap penasaran dari ketiga anaknya yang masih berusia SD dan SMP. Mereka masih belum mengerti apa yang tengah didebatkan ibu dan abangnya. Sambil menahan letupan kekecewaan, Bik Jah bangkit dari duduknya dan beranjak ke kamar. Meninggalkan gumpalan keheranan dari raut wajah anak-anaknya.
* * *
Bik Jah masuk rumah sakit. Bukan. Bukan karena kelelahan mencuci. Bukan pula karena sakit kepala menghadapi tingkah kelima anaknya. Tapi bersebab pikiran dan rasa sakit di hatinya yang berkepanjangan. Dua hari lalu, tengkar hebat terjadi di rumah kecil itu. Rumah yang sejak puluhan tahun ia tinggali bersama suami dan anak-anaknya. Rumah yang dikenal tetangga jarang terdengar pertengkaran di dalamnya. Dua hari lalu, berubah seketika.
Pecah sudah sabar Bik Jah menghadapi suaminya. Tak tanggung-tanggung, tangisnya ia tumpahkan tanpa jeda. Isaknya terdengar oleh tetangga. Tak peduli lagi bagaimana ia akan menjawab segala pertanyaan mereka esok hari. Suaminya pulang dengan kabar menjijikkan.
“Aku sudah menikah lagi.”
Sepenggal kalimat itu merobohkan pertahanan Bik Jah selama ini. Tangisnya, kesalnya, kekecewaannya, juga rasa sakitnya kini luruh satu-satu. Malam itu, Bik Jah menangis di hadapannya suaminya. Rasa sakit hati menghantam dadanya. Mengoyak sisa kekuatannya untuk tetap bertahan hidup. Lelahnya tidak lagi diperhitungkan lelaki yang puluhan tahun menjadi suaminya. Semuanya terasa amat sia-sia.
Bagaimana bisa suaminya menikahi wanita lain tanpa seizin darinya? Bukan hanya tanpa izin, tapi juga tanpa sepengetahuannya. Cincin lain sudah melekat di jari suaminya. Itu artinya bukan hanya ia yang kini menjadi makmumnya, melainkan ada wanita lain yang kini posisinya sama dengannya. Keterlaluan! Tangis Bik Jah tak bisa berhenti malam itu. Dadanya seperti terhimpit ribuan batu. Anak-anak mengintip dari kamar, menyaksikan ibu mereka bertarung dengan air mata. Tidak ada raut menyesal dari wajah lelaki yang tak lagi muda itu. Tak ada rasa kasihan yang ia tunjukkan lagi pada Bik Jah, wanita yang telah memberinya lima orang anak.
Bik Jah masih menangis. Dihapusnya berkali-kali, tetap saja air matanya jatuh lagi. Hatinya bukan saja tersakiti oleh kabar pernikahan itu. Melainkan kenyataan baru yang dilontarkan suaminya bahwa ia telah pindah agama. Habis sudah cinta Bik Jah pada lelaki itu. Habis sudah percayanya pada ayah kelima anaknya.
Suaminya menikahi wanita yang beda agama. Dan kini, suaminya tidak satu keyakinan lagi dengannya. Bagaimana ini? Bik Jah merasakan sakit yang luar biasa di bagian kepalanya. Mendadak ia terhuyung. Jatuh berdebam di atas lantai. Sontak jerit histeris keluar dari mulut anak-anaknya. Malam itu, Bik Jah bermalam di rumah sakit.
Seminggu sudah sejak kejadian itu. Bik Jah tak lagi seperti dulu. Ia tidak lagi menjadi buruh cuci. Marni-lah yang menggantikan tenaganya. Anak sulungnya itu mendadak menjadi yang paling mengerti ketika kondisinya tengah sekarat seperti ini. Sejak kejadian menyakitkan itu, kondisi Bik Jah semakin memburuk. Habis sudah tubuhnya kini, tinggal tulang yang menampakkan bahwa kondisinya tak sebaik dulu. Kini ia begitu kurus dan lesu. Tidak ada semangat dalam bola matanya lagi. Tidak ada cerah dalam raut mukanya kini.
Cobaan tidak berhenti sampai di situ. Imah, anak ketiganya yang masih duduk di kelas 3 SMP, mendadak membawa kabar duka bagi hati Bik Jah. Tercabik lagi jiwanya. Sepertinya Tuhan belum mau berhenti menguraikan tangisnya. Bik Jah jatuh pingsan mendengar pengakuan anak perempuannya itu. Imah telah hamil di luar nikah. Tamparan keras dari Marni pun mendarat tepat ke pipi kiri adiknya. Marni murka dan menusuknya dengan kalimat berurai air mata.
Selesai menunggui pejam Bik Jah karena pingsan, Marni mendekati ibunya. Dibelainya lembut tangan sang ibu dengan penuh kasih sayang. Dihapusnya sisa air mata yang masih menempel di sudut pipi sang ibu. Betapa Marni ikut merasakan kesakitan yang dirasakan ibunya selama ini. Dengan berurai air mata, Marni memeluk erat ibunya yang lemah. Bik Jah hanya diam. Air matanya ikut tumpah.
“Maafkan kami, Bu. Sungguh, maafkan kelakuan kami,” Marni bersuara dalam isaknya. Dadanya bergemuruh hebat. Tangisnya membasahi baju Bik Jah.
Bik Jah hanya menggeleng pelan, air matanya masih tumpah, susah payah ia berkata ‘tidak apa-apa’ namun suaranya tercekat dalam dada. Tubuhnya terasa tidak lagi bertenaga. Setelah apa yang telah ia alami belakangan ini, rasanya Bik Jah tak sanggup lagi untuk berdiri. Marni melepas pelukannya. Matanya merah, pipinya sudah basah. Ia menyekanya perlahan. Lantas tersenyum menatap Bik Jah.
“Ibu mau minum susu?” tanyanya.
Bik Jah menarik sudut bibirnya. Sudah lama ia tak mendapat perhatian seperti itu dari anak sulungnya. Sekilas Bik Jah mengangguk. Marni keluar kamar dan beberapa menit kemudian, ia kembali dengan susu putih di tangannya.
“Minumlah, Bu. Habiskan.” Marni menyodorkan gelas itu pada ibunya.
Tanpa rasa curiga, Bik Jah menghabiskan semuanya. Sementara Marni tampak menahan air mata. Ia menggigit bibir bawahnya. Kuat. Kuat sekali. Bik Jah telah menghabiskan isi dalam gelas itu. Ia merasa perutnya mulai hangat, pikirannya pun demikian. Hingga beberapa menit kemudian, ia merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhnya. Marni mulai menangis, menutup mulutnya.
Bik Jah mulai mengejang. Kepalanya pusing tak berkesudahan. Untuk setelahnya, buih menghiasi sudut bibirnya, Banyak, banyak sekali. Tangis Marni semakin kencang, ia pegang tangan ibunya yang memucat.
“Maafkan aku, Bu. Maafkan aku…” tubuhnya terguncang hebat.
Marni dengan sengaja mencampurkan obat serangga ke dalam gelas susu itu. Tak tahan hatinya melihat ibunya menderita lebih lama lagi. Maka dengan tega, ia ingin menyudahi kesedihan itu. Baginya, sang ibu sudah cukup menderita berada di dunia ini. Dengan gila, Marni melakukan semua ini. Dengan sesak di dada, Marni tega membunuh ibunya sendiri.
Napas Bik Jah mulai jatuh satu-satu. Kesusahan ia menghirup oksigen yang tampaknya semakin sempit. Matanya berkunang-kunang. Sebelum akhirnya ia menutup mata, Bik Jah menatap Marni tuk terakhir kalinya. Sulungnya berurai air mata, memanggil-manggil namanya. Begitulah adanya Bik Jah, bahkan menghadap kematiannya pun, ia tidak pernah berburuk sangka. Baginya, lumrah manusia menyakiti, lumrah baginya untuk memahami dan memaafkan tanpa henti. Bik Jah tidur untuk selamanya, sementara tangis Marni meraung di udara.

Fragmen Cinta (Terbit 17 Desember 2017, Harian Medan Pos)

Menjadi kekasihmu ternyata tidak mudah. Sesekali aku harus menjadi dewasa, untuk memahami bahwa kau lelaki yang punya ego tinggi. Sesekali aku harus menjadi pemarah, untuk mengarahkanmu agar tidak berlaku gila. Dan sesekali aku harus menjadi yang mengalah, untuk memastikan bahwa hubungan kita akan baik-baik saja. Melakoni kesemuanya ternyata tidak mudah. Tapi karena aku mencintaimu, kuyakinkan padamu bahwa aku mampu.
Barangkali belakangan ini kita sering berkutat dengan emosi. Bukan, bukan karena cinta kita semakin menipis. Bukan pula karena rasa kita yang kian terkikis. Namun karena jarak dan intensitas temu yang tak kunjung bertamu. Membuat retinaku kewalahan menuangkan rindu. Sementara cangkirnya sedang berada di tempat yang jauh. Aku paham bahwa cinta kita bukanlah cinta usia remaja. Yang harus selalu bersama kemana-mana. Atau selalu pergi berdua menyulam bahagia. Cinta kita tidak lagi berada di tempat itu. Dia harus mendewasa dengan jarak dan waktu yang terus beradu.
Sering kita bertengkar meributkan hal-hal kecil. Aku tidak sepenuhnya menyalahkanmu atas kejadian rusuhnya hatiku. Yang nyatanya sering kuucapkan bahwa aku kehilangan waktumu. Pun aku kehilangan wadah rinduku. Dan kamu selalu menanggapinya dengan diksi yang salah. Salah menurut pandanganku. Membuat kita kembali beradu emosi. Kembali mengundang perih padahal saat itu rindu tengah membumbung tinggi.
Aku yang berisik, bertemu kamu yang diam. Tengkar kita tidak selesai. Berlanjut ke hari berikutnya. Inginku menyelesaikan segalanya sebelum fajar tiba. Sementara kamu didera lelah yang tak berkesudahan, bersebab ragamu yang kian letih di makan hari. Bukan aku tak paham tentang sibuknya kamu dan pekerjaan itu. Tapi sebagai perempuan, aku hanya tidak ingin hariku terlewatkan tanpa kamu. Aku hanya ingin kamu ada, meski hanya lima menit. Setidaknya hariku tidak kosong karena kealpaan raut wajahmu.
Tapi pola pikir lelaki merusak segalanya. Kamu beranggapan bahwa berbicara dan menyelesaikan tengkar dengan letih yang dipaksakan, hanya akan melahirkan perdebatan. Jika warasku utuh, barangkali aku menerima saranmu. Untuk menyudahi percakapan kita malam itu dan berakhir dengan pejam dan senyum terkembang. Nyatanya, aku sendiri kesulitan mewaraskan diri ketika dihinggapi emosi.
Ah, barangkali kita adalah sepasang kekasih yang tahan diterpa emosi. Meski sesekali saling melubangi dada, nyatanya kita berusaha kembali mengobatinya. Kamu obati lukaku. Aku obati lukamu. Kemudian, untaian maaf akan kembali memenuhi gendang telinga, dan bermuara di dalam dada.
Ratusan hari aku menjadi kekasihmu. Aku menyadari bahwa menjadi sempurna bukanlah tujuan utama. Sebab telah banyak pula luka-luka di dadamu bersebab ulahku. Meski semua kulakukan tanpa sengaja, tetap saja itu menimbulkan bekas yang tak mudah hilang. Maafmu selalu tumpah di tubuhku. Untukku, kamu lebih banyak mengalah. Mengalah untuk aku yang selalu ingin memenangkan pendapat. Mengalah untuk aku yang egois dan mudah menangis.
Barangkali tengkar kita selalu dapat melahirkan cinta. Sebab debit perasaanku kian bertambah, ketika aku mendengarmu marah-marah. Meski kesal, aku menyadari satu hal. Bahwa rasaku tidak hilang hanya karena kamu menyebalkan.
“Bisa nggak sih satu hari aja, nggak bikin aku marah-marah?” tanyaku dengan nada tinggi.
“Nggak bisa!” jawabmu datar. “Itukan sudah keahlianku,” tambahmu lagi.
“Terus saja lakukan, buat aku muak dan ingin meninggalkan semuanya!” ancamku lagi. Kali ini terdengar lebih serius.
“Coba saja kalau berani!” kamu malah balik mengancamku.
“Jangan menyesal, ya!” tegasku.
“Kamu yang akan menyesal nanti,” bantahmu. Membuat aku kewalahan melancarkan serangan balik.
“Jangan sampai menyesal jika tidak ada lagi yang membuatmu kesal, namun kemudian membujukmu dengan sangat dalam seperti aku,” tambahmu. Kali ini aku yang ciut. Sial!
“Di luar sana mungkin banyak yang suka kamu. Tapi tidak akan ada yang mencintai kamu seserius aku!” ungkapmu. Kurasakan jemarimu mengelus kepalaku. Mendinginkan emosi yang sempat mendidih.
Begitulah. Tengkar kita selalu bisa menumbuhkan cinta. Tengkar kita selalu mampu membuat aku ingin meninju rahangmu kuat-kuat,untuk kemudian mendekapmu dengan sangat erat.
Teruntuk kamu; seseorang yang tak ingin aku ganti.
Bila suatu hari nanti tengkar menampar kesabaran kita. Jauh lebih keras dari yang pernah kita rasakan. Bertahanlah, sebab cinta kita tidak dibangun dari lapuknya kesetiaan. Bila suatu hari nanti amarah mengguncang sudut dada kita. Jauh lebih kuat dari yang pernah kita rasakan. Menguatlah, sebab cinta kita selalu dibangun dengan saling memaafkan.
Teruntuk kamu; seseorang yang kusebut kekasih.
Menyetialah, sebab kamu adalah muara segala perasaan cinta. Sebab kamu adalah gumpalan rindu dalam bentuk nyata. Sebab kamu, aku selalu ingin mengakadkan rasa. Hingga rumah kita satu, hingga bahtera kita utuh.

Siapa yang Kampungan? (Terbit 10 Desember 2017, Harian Medan Pos)

Aku melirik seorang lelaki dengan pakaian rapi yang ada di sebelahku. Mulutnya masih sibuk mengunyah sambil terus bergumam tidak jelas. Sepertinya dia sedang mengomel. Rumah makan yang cukup luas ini ternyata tidak membuatnya merasa malu untuk berbicara keras seperti yang tengah dilakukannya beberapa saat lalu. Tangannya masih sibuk mengambil makanan dalam piring yang ada di hadapannya, lalu dengan cepat menyumpalkannya ke dalam mulut. Kulihat teman yang diajaknya bicara hanya mengangguk-angguk tanpa memberikan komentar. Barangkali dia juga malas mendengarkan ocehan lelaki itu tanpa henti.
“Kau tahu, aku telat tiba di kantor hanya gara-gara menunggu seorang wanita tua yang tidak tahu bagaimana caranya mengirim surat lewat kantor pos. Menyebalkan sekali!” sungutnya. Kutaksir usia lelaki yang mengomel itu sekitar 30 tahunan. Dari cara berpakaiannya, aku bisa menduga bahwa dia adalah seorang karyawan kantor.
“Jadi, apa sudah kau kirim berkas penting yang diamanahkan Pak Bos kemarin itu?” tanya temannya menanggapi.
“Sudah. Tapi ya begitu, bos marah-marah karena aku telat hari ini. Tadi itu ada wanita tua yang bertanya ini-itu pada petugas pos. Membuatku mengantri lama. Dan entah kenapa, hari ini kantor pos lumayan ramai. Hariku berantakan hanya gara-gara wanita tua itu!” dia masih emosi.
“Dia kan tidak bertanya padamu, kenapa kau emosi?” timpal temannya lagi.
“Memang, tapi dia membuat waktuku habis hanya untuk menunggu dia bertanya banyak hal pada petugas pos. Lagian jaman sekarang masa tidak tahu bagaimana cara mengirim sesuatu lewat kantor pos. Kampungan sekali!” omelnya tanpa henti.
“Namanya orang tua,” sahut temannya.
“Usia boleh tua, tapi jaman kan terus berkembang. Update dong! Jadi orang tua tidak boleh terbelakang!”
Telingaku mulai panas mendengar percakapan mereka. Lebih tepatnya mendengar ocehan lelaki berdasi itu. Bagaimana mungkin dia mengomel sepanjang hari hanya karena seorang wanita tua yang tidak tahu cara berkirim lewat kantor pos?
“Lalu, apa yang kau buat selanjutnya?” temannya menunggu jawaban lelaki itu.
“Kuserobot sajalah! Habis bisa panjang urusannya kalau aku terus sabar menunggu hingga wanita tua itu menyelesaikan semua rasa penasaran di dalam kepalanya. Lagipula aku hanya mengirimkan beberapa berkas, tidak akan merugikan dia juga,” jawab lelaki itu enteng.
Kudengar temannya menghela napas. Seperti sudah tahu bagaimana watak lelaki yang duduk berhadapan dengannya itu. Aku melirik meja mereka. Mejaku yang tepat sekali berada di belakang meja mereka, jelas sekali mendengar semua percakapannya sejak tadi. Apalagi intonasi suara yang dikeluarkan lelaki berdasi itu cukup kuat.
Heran, menyerobot antrian orang lain kok bangga, sungutku dalam hati. Dan mudah sekali baginya menyebutkan orang lain dengan sebutan kampungan, hanya gara-gara orang tersebut tidak tahu-menahu soal kantor pos. Aku beranjak dari dudukku, bergegas pergi dari rumah makan yang mulai terasa gerah itu.
Aku tiba di kampus 10 menit sejak aku beranjak dari rumah makan itu.  Kelas saat itu sudah ramai. Tepatnya ketika segerombol perempuan-perempuan sosialita memasuki ruangan kelas. Gea dan teman-temannya. Kelompok wanita sosialita yang suka sekali membuat sensasi. Kemarin aku baru mendengar kabar bahwa Gea bertengkar dengan seorang gadis di kafetaria dekat kampus. Persoalannya amat sepele bagi Gea, yakni tidak jauh beda dengan yang baru kudengar beberapa saat lalu ketika di rumah makan. Gea menyerobot antrian seorang gadis yang telah lama berdiri menunggu pesanan.
Dengan dalih bahwa dia adalah teman dari si pemilik kafe, Gea dengan sombongnya memotong antrian gadis itu. Tidak seperti wanita tua dalam cerita laki-laki berdasi pagi tadi, sang gadis yang merasa tak terima dengan perlakuan Gea pun akhirnya menghardik keras. Setelahnya terjadi adu mulut yang tidak bisa dihindarkan. Kudengar dari teman-teman, Gea mengumpat keras dengan mengatakan bahwa gadis itu kampungan. Setelah sebelumnya dia melirik sinis gadis sederhana itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Lupakan! Siang ini gadis sosialita itu kembali berulah. Dengan suara yang jelas sekali dimanja-manjakan, gadis itu bercerita tentang bagaimana kampungannya seorang anak perempuan seusianya yang tidak mengerti bagaimana menggunakan lift di sebuah mall besar di kota ini. Kudengar tawa cekikikan teman satu gengnya meresapi cerita gadis itu. Barangkali cerita itu tampak begitu menarik di mata keempat gadis yang kurasa tidak bisa dibanggakan apa-apa kecuali kekayaan orang tuanya.
“Kemarin aku juga ketemu orang udik yang makan steak pake tangan. Padahal itu resto mahal loh, bayangin coba siapa yang bawa manusia purba ke tempat semewah itu.” temannya yang memakai lipstik paling merah itu bersuara. Telingaku seperti ingin meledak mendengar gurauan mereka yang sama sekali tidak lucu. Sementara dentuman tawa dari mulut keempat gadis itu terus membentur gendang telingaku. Membuatku tidak tahan lagi untuk angkat suara.
Aku menolehkan kepala tepat ke arah keempat gadis itu. Mataku sedikit terpicing. Kukirimkan raut wajah paling dingin tepat ke arah Gea. Gadis itu terdiam, menghentikan tawanya seketika. “Ada apa?” tanyanya bingung. “Apa aku mengganggu konsentrasi belajarmu?” suaranya berubah lembut.
Aku sadar sekali bahwa Gea sejak lama menyukaiku. Tapi lihatlah, bagaimana mungkin aku bisa menyukai perempuan dengan watak seperti itu? Aku kemudian tersenyum, membalasnya dengan gelengan. Lantas berdiri dan berjalan mendekat ke arah empat gadis itu.
“Kalian sama sekali tidak menggangguku, meski suara kalian memenuhi ruangan kelas ini. Kalian juga tidak membuat konsentrasiku buyar, meski sejak awal kalian masuk ke sini suara kalian mengganggu sekali,” aku menatap mereka secara bergantian.
“Lalu?” tanya seseorang dari mereka.
“Apa kalian ingin tahu, siapa seseorang yang pantas disebut kampungan?” tanyaku kemudian. Kulihat Gea melirik teman-temannya. Ia tahu bahwa aku tidak begitu suka dengan topik pembicaraan mereka sejak tadi. Aku yang terkenal dengan sikap dinginku di kelas, membuat beberapa orang menaruh segan berlebih padaku. Tak terkecuali empat gadis ini.
“Izinkan aku menjelaskan sedikit makna kampungan yang sebenarnya kepada kalian,” aku melempar raut wajah paling beku kepada mereka. “Apa kalian tahu, kampungan itu bukan tentang ketidakpintaran kalian dalam melakukan sesuatu hal. Kampungan itu bukan kalian yang tidak mengerti gadget canggih, tidak mengerti cara mengirim sesuatu lewat kantor pos, tidak tahu bagaimana cara makan steak, atau tidak tahu cara menggunakan lift di sebuah mall besar. Tapi kampungan itu adalah orang-orang yang suka menyerobot antrian orang lain, memamerkan gadget canggihnya, atau menertawakan orang lain karena tidak bisa menggunakan lift dan sebagainya. Lebih kampungan lagi jika mereka menertawakannya dengan nada keras, padahal mereka paham sekali bahwa latar belakang kehidupan tiap orang itu berbeda,” aku menyelesaikan kalimat terakhirku. Lantas menatap keempat gadis itu dengan tatapan yang semakin beku.
Tumpah sudah kekesalanku sejak pagi tadi. Sungguh menyebalkan mengenal orang-orang seperti ini. Gea dan tiga temannya tidak dapat berkata apa-apa, selain saling sikut karena baru saja mendapat serangan sebegitu dinginnya dariku. Aku mendekat dan merogoh saku celana jeansku. Mengeluarkan beberapa permen mint yang tadi kubeli di minimarket depan kampus. Lalu meletakkannya di meja depan keempat gadis itu. Mereka saling pandang bingung. Sebelum akhirnya aku bersuara: “Ini untuk kalian. Semoga permen mint ini bisa meredakan bau mulut kalian karena suka menggunjing orang lain.” Kemudian berlalu, meninggalkan keempat gadis itu dengan wajah merah padam.

Seminar Nasional Kepenulisan FKIP UMSU Hadirkan Penulis Romantis (Citizen News, Terbit 10 Desember 2017, Harian Medan Pos)

Rona keromantisan terjadi di acara Seminar Nasional Kepenulisan yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bahasa dan Sastra Indonesia pada Sabtu, 9 Desember 2017 di Aula Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Seminar Nasional Kepenulisan yang mengangkat tema “Sebuah Goresan untuk Keabadian” ini mengundang Boy Candra dan Win RG sebagai pembicara. Dua penulis yang terkenal lewat diksi-diksi romantisnya.
Sebanyak 394 peserta pun turut ambil bagian dalam seminar kepenulisan ini. Peserta yang hadir bukan hanya berasal dari mahasiswa saja, melainkan dari mereka yang menggilai tulisan-tulisan Boy Candra dan Win RG. Boy Candra sendiri adalah penulis novel best seller yang kerapkali mengangkat sisi romance dalam tulisannya. Novel-novelnya dapat dijumpai di Gramedia seluruh Indonesia. Beberapa karyanya seperti Jatuh dan Cinta, Catatan Pendek untuk Cinta yang Panjang, dan Sebuah Usaha Melupakan juga merupakan yang paling banyak disukai oleh remaja.
Sedangkan Win RG sendiri adalah dosen sekaligus sastrawan perempuan di Sumatera Utara. Beliau merupakan dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UMSU. Penulis yang senang sekali menggunakan jilbab putih ini merupakan idola bagi mahasiswanya. Beberapa karyanya seperti Jus Alpukat, Gelas Jodoh, dan Bintang juga merupakan novel paling dicari di UMSU.
Acara seminar nasional kepenulisan ini dibuka dengan kata sambutan dari ketua panitia; Ahmad Razali Nasution. Menyampaikan tentang laporan kegiatan seminar nasional kepenulisan ini, mulai dari laporan jumlah kepanitiaan, kendala yang dihadapi, hingga ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah menyukseskan acara tersebut. Kata sambutan juga diberikan oleh Ketua Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia; Bapak Dr. Mhd Isman, M.Hum. Beliau mengungkapkan rasa terima kasih atas kerja keras anggota HMJ Bahasa dan Sastra Indonesia dalam menjalankan acara ini.
Seminar nasional kepenulisan ini juga menampilkan sebuah pembacaan puisi oleh salah satu anggota HMJ Bahasa dan Sastra Indonesia, yaitu Ricci Novita Sari. Juga penampilan musikalisasi puisi yang dibawakan pada sesi kedua oleh grup musikalisasi puisi HMJ Bahasa dan Sastra Indonesia, dengan memusikalisasikan puisi karya penyair hebat; WS. Rendra.
Acara seminar ini dibuka oleh pemateri pertama, yakni Win RG yang memaparkan tentang dunia tulis menulis yang akan membawa kita pada sebuah keabadian. Beliau juga mengupas tuntas keuntungan serta hal-hal positif yang bisa dipetik oleh seorang penulis. Beliau menjelaskan bahwa dengan menulis hidup kita akan dikenang banyak orang. Tulisan kita akan tetap abadi dalam sejarah. Beliau pun memaparkan tentang konsep dan cara-cara dalam menulis sastra. Dimana terdapat penekanan yang dikatakan beliau, bahwa sastra dan bahasa tidak bisa dinikahkan.
Pada sesi kedua, pembicara yang ditunggu-tunggu oleh ratusan peserta ini pun akhirnya muncul. Dengan gaya khasnya yang murah senyum, Boy Candra menyapa seluruh penggemarnya di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Boy Candra membuka materi seminar dengan menceritakan asal mula ia menjadi seorang penulis. Beliau berbagi tips dan trik dalam menaklukkan penerbit. Dalam materinya ini, Boy Candra membawakan tema “Menulis untuk Menyuarakan Kegelisahan”.
Boy Candra mengambil tema ini sebagai cara untuk menyampaikan proses kreatifnya dalam menciptakan novel-novelnya. Selain itu, Boy Candra juga memberikan tips menulis novel bagi pemula, yakni peserta seminar yang baru ingin atau sedang menyelesaikan draft novelnya. Boy Candra meyakini bahwa tidak perlu menjadi hebat dengan menuliskan hal-hal besar, cukup menulislah dari yang kecil yang kemudian akan membawamu untuk terus menghebat.
Selama kurang lebih 2 jam Boy Candra memberikan materi tersebut, beberapa peserta seminar juga turut menyumbang pertanyaan dalam sesi tanya jawab yang langsung diarahkan oleh moderator. Suasana bertambah romantis ketika Boy Candra menjawab pertanyaan dari beberapa peserta dengan diksi-diksi manisnya. Riuh tepuk tangan dan kekaguman peserta seminar pun tidak dapat terelakkan. Suasana menjadi sangat antusias dan penuh dengan keakraban.
Acara seminar nasional kepenulisan ini pun akhirnya ditutup dengan sesi foto bersama Boy Candra dan Win RG. Bahkan beberapa peserta seminar ada yang memberanikan diri meminta selfie bersama para pembicara. Acara ditutup dengan pembagian sertifikat oleh panitia kepada peserta.