Total Tayangan Halaman

Selasa, 13 September 2016

Terperangkap Cinta Monster Cantik (Antologi Cekers Go Green, Elex Media Komputindo, Gramedia Group, 2014)

Namanya Teera. Gadis berkacamata yang sudah hampir tiga ratus enam puluh lima hari kutaksir. Dari kelas sepuluh hingga kelas dua belas ini, aku tak kunjung mendapatkan hatinya. Wajahnya oval, berlesung pipi dan tinggi semampai. Membuat hatiku cenat cenut tiap kali berpapasan dengannya. Walaupun banyak cewek cantik bertebaran di sekolah ini, tapi nggak terlalu kupedulikan. Terlanjur kecantol sama Teera, sih. Gayanya yang cekatan dan mudah akrab dengan orang lain membuatku semakin ingin mendekatinya. Masalahnya, Teera begitu dingin padaku. Hanya denganku saja dia seperti itu, tak mau akrab. Tiap kali aku ingin beraksi, dia sudah siap dengan tampang ketusnya. Memasang muka paling seram terhadapku. Beruntung dia tak sampai membawa spanduk bertuliskan ‘ANTI EGA’. Memangnya apa yang salah dariku, sih? Biarpun terlihat gembel, sampai mati aku tak akan pernah mengaku kalau aku jelek. Sebab setidaknya pernah ada yang bilang kalau aku adalah anak laki-laki paling ganteng sedunia. Meski yang bilang begitu hanya Ibu dan adik perempuanku satu-satunya. “Lo itu gak jelek, Ga. Cuma kurang ganteng aja.” Ucap Abe, sohib kentalku. Ingin rasanya aku menjitak jidatnya yang lebar itu. Jujur sekali dia. Tapi sebodo amat. Aku bukan tipikal orang yang terlalu mendengar komentar orang lain. Bahkan meskipun banyak yang bilang aku tidak cocok dengan Teera, tetap saja tak kugubris. Karena sudah kubilang, aku bukan tipe orang seperti itu. Bagiku, Love must be fighting!
Aku sering mengintip kelas Teera diam-diam. Berpura-pura permisi ke toilet agar bisa melewati kelasnya. Lantas mataku pun mulai bekerja, mencari dia, objek terindah yang ada di kelas itu. Sialnya, aku sering tertangkap basah oleh Pak Sid. Guru satu ini memang hobinya hunting korban. Dan efek dari sering ketahuan inilah, lantai toilet pria jadi makin sering mengkilap. Karena biasanya dalam seminggu itu, aku bisa 3-4 hari ngintipin kelas Teera. Dan hampir selalu ketahuan Pak Sid. Parah. Dan orang yang paling berbahagia atas kejadian itu adalah Abe. “Usaha banget sih lo deketin monster cantik itu.” Abe memulai komentar pertamanya setelah kuceritakan kejadian memalukan itu. Saat itu kami sedang di kantin sekolah. Abe menyeruput kuah baksonya. Mengelap hidungnya yang basah akibat kepedasan. “Cinta harus diperjuangkan.” Kataku lemah, meletakkan kepala di atas meja. “Kalimat basi.” Celetuk Abe, masih sibuk menghabiskan sisa kuah bakso. “Kayak lo dapetin Sarah mudah aja.” Cibirku. Abe mendongak. Kenapa jadi bawa-bawa kisah cinta gue? begitu kira-kira ekspresi wajahnya. “Masalahnya beda, bro. Wajah gue memadai untuk memikat cewek-cewek di sekolah ini. Jadi, Sarah mau sama gue itu hal biasa.” Abe mulai narsis. “Lebay lo!” aku mencibir lagi. “Satu lagi. Karena Sarah melihat gue dengan cinta, maka gue-lah cowok terkeren di dunia.” Aku sudah menendang kakinya. Abe mengaduh. Percuma curhat ke Abe, nggak akan dapat solusi. Yang ada malah naikin tensi.
Esoknya, aku hanya bisa menatap Teera dari kejauhan. Aku hampir tidak punya kesempatan untuk sekedar mengobrol dengan pujaan hatiku itu. Teera terlalu sibuk. Apalagi semenjak sekolahku dinobatkan menjadi sekolah Adiwiyata Mandala atau yang lebih dikenal dengan Sekolah Berwawasan Lingkungan. Sekolah kami terpilih menjadi sekolah Adiwiyata karena program baru tentang lingkungan yang digalakkan kepala sekolah berjalan mulus tanpa kendala. Peraturan sekolah semakin ketat. Bahkan sekarang, telah disiapkan tim khusus yang bertugas mendaur ulang sampah-sampah anorganik yang sulit terurai, seperti sampah plastik dan sebagainya. Tiba-tiba aku mendapat ide. Aku segera berlari menuju ruang guru, mencari Bu Natalie yang merupakan guru pembimbing tim khusus Adiwiyata. “Kamu bersedia menjadi anggota? Apa Ibu tidak salah dengar?” Bu Natalie bertanya serius. “Iya, Bu. Loh, memangnya kenapa? Ibu meragukan kemampuan saya?” aku bertanya balik. Bu Natalie tertawa, “Bukan seperti itu maksud Ibu. Tapi apa kamu yakin ingin bergabung dengan kami?”. “Saya yakin seyakin-yakinnya, Bu.” aku menjawab mantap. “Baiklah, kita berkumpul setelah pulang sekolah di aula.” Bu Natalie mengakhiri percakapan. Mempersilahkanku meninggalkan ruangannya.
“Lo yakin, Ga? Setahu gue tim khusus itu anggotanya cewek semua loh..” Abe menyeruput jus jeruk dalam kantongan plastik itu sampai habis. “Kenapa enggak? Gue kan ngelakuin itu semua demi Teera. Biar gue bisa deket terus sama dia.” Jelasku. “Masih aja ngarepin monster itu. Emang lo punya keahlian apa dalam mendaur ulang barang bekas?” tanya Abe sambil membuang sampah plastiknya begitu saja ke kolam ikan yang ada di taman sekolah. “Eh.. eh.. eh.. buang sampah pada tempatnya dong!” sergahku sambil berusaha mengutip sampah plastik bekas minuman Abe tadi. Abe bengong melihatku yang tanpa sungkan mengambil sampah plastiknya itu. “Tumben?” gumam Abe pelan. “Elo itu bisa ngerusak ekosistem kolam. Apa susahnya sih buang sampah di tempatnya?” aku masih mengomel. “Wah.. wah.. Keliatannya sobat gue berubah gara-gara cinta, nih. Elo baru juga daftar tadi pagi jadi anggota tim Adiwiyata sekolah, sekarang udah bisa aja kasih contoh ke gue. Biasanya kan elo yang paling sering buang sampah ke kolam ini.” Ledek Abe. Aku tertegun, bener juga ya, lantas nyengir sambil menyikut Abe. “Gue cuma latihan doang kok. Kali aja dengan gue punya kegiatan yang sama dengan Teera, dia bisa simpatik sama gue.” Aku berharap lagi. Sepertinya Abe melihat kesungguhan di mataku. Dan kali ini ia mendukung penuh apa yang kulakukan.
“Teera..” Panggilku saat melihat Teera berjalan di koridor sekolah. “Mau apa lagi?” tanya Teera acuh sambil terus melanjutkan langkah. “Mau kemana? Bareng , yuk?” aku sudah menyejajari langkahnya. “Mau ke toilet! Mau ikut?” ketus Teera. Aduh.. aku menggaruk kepala yang tak gatal. Tapi sejak kapan toilet sekolah arahnya ke sini, ya? “Haaa.. kamu pasti bohong, kan?” aku nyengir. Teera mendengus kesal. Mempercepat langkahnya. Lantas duduk di bangku kayu disudut taman. Aku masih membuntutinya. Asal, tanganku memetik bunga yang ada di sebelahnya. “Teera, bunganya cantik, ya? Kayak kamu.” aku mulai mengeluarkan jurus gombal yang kupelajari dari Abe. Maksud hati ingin membuat Teera tersipu, tapi malah sebaliknya. Teera melotot ke arahku. Raut wajahnya tampak kesal menahan marah. Aku melirik bunga yang baru saja di petiknya, “Eh.. Maaf.” Ucapku salah tingkah. Setelah ditahan-tahan, namun tetap tak tertahankan, akhirnya keluar juga sumpah serapah dari mulut mungil Teera. “Huh! Dasar! Kamu pikir nanam mawar ini nggak pake capek? Hah? Kamu pikir mawar ini nenek moyangmu yang menanamnya? Iya? Dan kamu pikir, caramu barusan itu membuatku tersanjung? Tidak! Tidak sama sekali. Kamu itu udah ngerusak tanaman, Egaaa. Sekolah kita ini sekolah berwawasan lingkungan, jadi kamu gak boleh sembarangan merusak tanaman kayak tadi. Kamu ngerti gak, sih? Atau jangan-jangan, selama ini yang merusak anggrek di sebelah kelasmu itu kamu sendiri? Iya, kan? Ayo, ngaku!! Kalo semua orang di sekolah ini kayak kamu, trus semua tanaman di sekolah ini rusak, apa lagi yang bisa diharapkan dari semakin banyaknya polusi udara? Kamu kan tahu sendiri, kalau fungsi tanaman itu menyerap polutan-polutan yang berbahaya. Egaaa, kenapa diem aja, sih?” Teera mengakhiri omelannya. Napasnya ngos-ngosan. Aku terdiam tanpa kata mendengar semua unek-unek Teera. Kok malah curhat, sih? “Bener-bener monster! Eh, monster cantik.” Gumamku pelan, sedikit gemetar. Tak kusangka hal kecil yang kulakukan tadi mampu membuat Teera mengamuk parah.
Bu Natalie baru saja akan memberi pengarahan kepada semuanya, ketika aku tiba-tiba masuk. Semua siswi memperhatikanku. Aku nyengir. Bingung harus bagaimana. “Mau apa dia?” kudengar bisik-bisik mereka. “Silahkan masuk, Ega. Kita baru saja akan mulai.” Ramah Bu Natalie menyapaku. Aku mengambil tempat duduk yang dekat dengan Teera. “Sudah terlambat, nyengir pula.” Kudengar Teera mencibirku. Aku senyum saja, menyimpulkan bahwa sejak tadi dia memperhatikanku. Teman-temannya kasak-kusuk. Mungkin masih bingung kenapa bisa ada murid laki-laki yang mau bergabung dengan tim khusus Adiwiyata program daur ulang sampah. Aku melihat ke sekeliling. Tersenyum geli. Aku paling tampan diantara semuanya. Jelas saja. Bu Natalie membagi kami dalam beberapa kelompok. Rasanya aku ingin sujud syukur mendengar namaku sekelompok dengan Teera. Tapi itu tak mungkin kulakukan di depan semuanya. Teera yang ditunjuk sebagai ketua kelompok di kelompok kami, menjelaskan beberapa hal sebagai pembuka. “Guys, tahukah kalian bahwa sampah plastik adalah musuh bumi?” Teera bertanya. Semua diam. “Karena plastik membutuhkan lebih dari lima puluh tahun untuk di daur ulang oleh bumi kita.” Teera tersenyum. Aku makin kagum padanya. Selain cantik, walau galak, dia selalu pintar. Aku semakin bersyukur bisa bergabung dengan tim khusus ini. Karena disini aku bisa melihat matahariku, monster cantikku.
Tugas kelompok kami adalah mendaur ulang kertas bekas. Kami sudah mengumpulkan kertas bekas kosong, majalah dan kertas tulis untuk di daur ulang menjadi kertas daur ulang. Tadi Teera juga menjelaskan bahwa di Indonesia, penggunaan kertas daur ulang untuk bahan baku industri kertas telah banyak digunakan. Produk kertas daur ulang ini berupa jenis kertas seperti kertas kemasan atau kertas untuk industri, kertas cetak atau kertas tulis, tissue dan cetakan untuk media massa. Dalam jumlah terbatas, kertas daur ulang dapat juga digunakan untuk media tanaman isolasi, box dan produk kertas cetak seperti wadah telur, karton, baki makanan dan pot tanaman. Aku bersama Teera dan dua siswi lainnya mendapat tugas mendaur ulang kertas Koran. Bu Natalie bilang, khusus untuk daur ulang kertas Koran diperlukan beberapa tambahan proses kimiawi untuk menghilangkan tinta yang ada pada kertas atau de-ingking process. Proses ini menggunakan sabun untuk menghilangkan tinta. Kami dibantu dan diawasi oleh asisten Bu Natalie. Sementara Bu Natalie mengawasi yang lain. Petugas itu menjelaskan sedikit tentang membuat kertas daur ulang yang baik dan dapat digunakan kembali. Untuk membuatnya diperlukan modifikasi campuran kertas yang terdiri dari campuran kertas Koran bekas, majalah dan bubur kertas yang asli atau virgin pulp dari bahan baku awal.

Seusai kelas, Teera memanggilku. Aku yang saat itu sedang jongkok mengikat tali sepatu mendongak ke atas. Teera tepat di atas kepalaku. Tersenyum. Ya, dia tersenyum. Untuk pertama kalinya, Teera tersenyum padaku. Aku jadi salah tingkah. “Ada apa?” tanyaku gugup. “Kamu hebat!” ucapnya tersenyum. Keningku berkerut. Hebat apanya? “Tadi aku perhatiin, kamu cekatan banget ngerjain daur ulangnya. Belajar dari mana?” tanyanya ingin tahu. Aku terkekeh, lalu menggeleng. “Aku gabung di tim khusus ini kan karena kamu.” Ucapku jujur. Untuk pertama kalinya, kulihat Teera tersipu. Manis sekali. “Kalau begitu, kamu harus bayar!” Teera menaikkan sebelah alisnya. “Bayar untuk apa?” tanyaku bingung. “Karena sudah berani menjadikanku alasan keikutsertaanmu dalam tim ini!” seru Teera menahan senyum. “Anak berekonomi lemah macam aku, harus bayar pake apa?” tanyaku pura-pura memelas. Teera tertawa, lepas sekali. “Yuk, ikut aku! Temenin aku makan di warung nasi goreng depan sekolah. Itu sebagai bayaran.” Teera mengedipkan sebelah matanya. Aku sumringah. Akhirnya aku tahu bagaimana cara mendekati Teera. Dia suka cowok pintar dan apa adanya. Dan itu modalku untuk melanjutkan misi mendapatkan hatinya. Dan di  sore hari yang cerah ini, aku punya kesempatan untuk memandang wajah Teera dengan jarak sedekat ini. Duduk berdua dengan perbincangan-perbincangan seru yang tak kuduga sebelumnya. Because, the concerns never bothered me anyway.

Kepada Tuan Pemintal Kebekuan (Terbit 03 Februari 2016, Tribun Bone)

Sebelumnya, aku ingin menegaskan bahwa sosokmu masih aman dalam ingatan. Jangan khawatir, pembaca belum mengetahui siapa dirimu sebenarnya. Meski sering kuukir namamu dalam setiap goresan tangan. Meski sering kubanggakan kau di depan teman-teman. Sekalipun aku masih menamai dirimu sebagai hujan. Sengaja kututupi dengan sangat rapat, semua kisah yang kurasa hebat. Kisah manis yang sengaja kulipat dan kudekap erat.
Aku tidak bisa menamai ini cinta. Sebab seringkali aku merasa, aku tak pernah engkau baca. Karena ada yang bilang, cinta itu bukan diam. Cinta itu akan bergerak sekalipun sangat lambat. Cinta akan memperhatikan sekalipun terlihat mengabaikan. Namun, aku tak merasakan itu dari sikapmu. Tapi tenang, aku adalah sosok perempuan yang sabar dalam penantian. Perempuan yang menyulam namamu dalam tiap pertiga malam.
Wahai Tuan pemintal kebekuan;
Terkadang sikapmu membuat aku tertawa dan terluka dalam satu waktu. Terkadang sikapmu membuat aku yakin dan ragu dalam satu waktu. Dan terkadang sikapmu membuat aku ingin bertahan dan melepaskan dalam satu waktu juga. Aku tahu aku sedang jatuh cinta. Pada sosok laki-laki yang punya tingkat kebekuan di atas rata-rata. Yang sulit sekali untuk kucairkan. Yang (mungkin) sampai kapan pun tak bisa aku taklukkan. Sebab, siapalah diriku. Hanya gadis penyulam aksara yang tak punya nyali sama sekali. Maklum, aku hanya bisa menghebat di balik sajak-sajak amatirku. Sajak-sajak yang masih sering dipandang sinis dan juga sadis.
Jika saja kau tahu bagaimana kerasnya aku berusaha untuk tak jatuh cinta padamu. Mengutuk diri sendiri yang berani-beraninya mengagumi sosokmu. Sementara aku, hanya gadis biasa yang tak punya kehebatan apa-apa. Rasanya malu, membayangkan yang lebih dari sekarang kita jalani. Tak akan mungkin gadis biasa berdampingan dengan seorang raja. Itu hanya cerita di negeri dongeng, kan?
Satu kisah di bulan desember yang (mungkin) juga akan sulit kulupakan. Sesungguhnya aku benci memperbanyak kisah denganmu. Namun aku bisa apa, ketika semesta mendukung aksiku. Aku tidak bisa menolak jika Tuhan sudah menuliskan itu. Kebodohan yang ternyata berakhir manis. Lagi-lagi taman hatiku berbunga. Ingin aku merusaknya, namun aku tak tega, sebab ia begitu indah. Bagaimana mungkin pemilik taman menghancurkan isi tamannya sendiri? Namun yang kukhawatirkan adalah jika bunga-bunga itu semakin banyak, aku akan semakin kewalahan mengurusnya sendiri.
Hari ke tujuh belas di bulan desember. Sore sunyi di sebuah gedung lantai empat. Aku mencarimu di antara lalu lalang orang-orang. Tak kutemui. Putus asa, tentu saja. Kembali hatiku memberontak “Bodoh! Untuk apa melakukan semua itu? Pergilah jika hadirmu tak lagi dihargai.” Sore sebentar lagi ditelan malam. Hatiku gelisah, antara menunggu atau membatalkan semuanya. Kubilang pada teman-teman bahwa aku tak kecewa. Namun mereka memicingkan mata tak percaya. Oh Tuhan, aku benci berada di situasi seperti ini.
Jauh sebelum detik ini, hatiku sudah menangis. Mengapa menjumpaimu harus sesulit ini? Hatiku marah-marah karena kecewa. Tapi kau harus tahu, bahwa rinduku lebih besar dari marah-marahku. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk kembali menunggu. Menunggu seseorang yang tidak minta untuk ditunggu. Menunggu seseorang yang sama sekali tidak tahu ditunggu. Fix, aku wanita paling bodoh dalam urusan cinta.
Senja telah dimakan malam. Dan baru kusadari bahwa menunggu itu membosankan. Dalam hati aku berdoa, semoga saja pilihanku tak salah. Menit berikutnya mungkin adalah cerita bahagia. Bahagia dalam versi mereka. Versiku? Biasa saja. Aku tak mau memproklamirkan diriku untuk menjadi bahagia di malam itu. Yang aku ingin hanya kau saja yang bahagia. Tak usah pedulikan aku. Kecewaku terbayar kok ketika melihat senyummu. Kali ini antara bodoh dan pasrah. Aku tidak tahu.
Andai saja kau mau tahu, bahwa aku ingin bersibuk saja membahagiakan kamu, agar aku tak punya waktu untuk memikirkan kesedihanku. Maafkan jika selama ini aku membawa namamu dalam setiap tulisanku. Maafkan jika selama ini aku berani membawa namamu dalam setiap sholatku. Dan maafkan jika aku telah lancang merindukan sosokmu di setiap malamku. Jangan khawatir, aku sedang berusaha mengecilkan perasaan ini. Sulit bukan berarti tak bisa, kan? Ya, aku masih terus berusaha untuk itu.
Kekasih yang kupikirkan; barangkali masih sendiri, menjelma doa yang terlantun di atas sajadah. Dia masih menunggu, dalam keyakinan dan keimanan penuh. Jangan salahkan air mata yang turut mengambil bagian. Kau, tak perlu cemas jika aku menangis, Sayang. Tangisku bukan berarti melemahkan. Tangisku adalah penguat untuk terus merindukanmu setiap waktu.
Kepadamu lelaki hujanku;
Desember ini sama berartinya seperti Mei lalu. Sama-sama memberi kesan yang sulit aku hapuskan. Izinkanlah aku menyimpan semua kisah yang kau anggap biasa, namun kuanggap istimewa. Izinkanlah  aku untuk terus membawa sosokmu dalam setiap tulisanku. Sebab aku menulis, karena aku selalu percaya, selalu ada yang lebih baik ditulis ketimbang diucapkan dengan suara. Kau harus pahami itu.
Dan kau jangan pernah berpikir bahwa aku baik-baik saja tanpamu. Sebab, kealpaanmulah yang kerap menyakitiku. Sederhananya, aku ingin menjadi yang paling indah di hati kecilmu itu. Teruslah seperti ini. Manis dalam kebekuanmu. Karena aku menyukaimu seperti apa adanya dirimu.
Suatu hari, jika ending tulisan Tuhan sama dengan tulisan yang kubuat, aku berjanji akan menunjukkanmu pada pembaca. Karena kau perlu tahu, pembaca ingin tahu sosokmu. Pembaca terus menanyakan siapa dirimu padaku. Pembaca begitu penasaran dengan dirimu. Tapi untuk saat ini, percayalah, hanya aku yang tahu dan bisa merasakan keberadaanmu. Hujanku, kau bukan sekadar pilihan, kau seperti sebuah keharusan. Aku berjuang banyak untukmu! Tuhan yang baik, bahagiakan dia sebagaimana aku begitu bahagia mengagumi sosoknya.
Oh iya, aku suka nama belakangmu. Boleh aku memilikinya?

-gadishujan-

Medan, 241215

Heka Niat Noto, Aktivis UMSU yang Menginspirasi (Terbit 30 Desember 2015, Tribun Bone)

Heka Niat Noto, pemuda kelahiran Stabat, 17 Desember 1993 ini patut diacungi jempol. Mahasiswa hebat kepunyaan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) ini telah banyak menorehkan prestasi di bidang akademik. Namanya kian banyak dikenal warga kampus, terutama di kalangan dosen. Terlebih lagi ia adalah seorang aktivis kampus yang terkenal down to earth. Heka saat ini menjabat sebagai Sekretaris Umum di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah atau yang sering dikenal dengan IMM. Ia juga menjabat sebagai Ketua Divisi Advokasi dan KIE di Pusat Informasi dan Konseling Mahasiswa Syahadah (PIK-M Syahadah) UMSU. Selain itu, ia juga menjabat sebagai Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan di Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP, UMSU.
Aktivis adalah orang yang sangat loyal kepada organisasi yang mereka ikuti. Hal ini terbukti dari keikhlasan mereka untuk mencurahkan waktu, tenaga dan pikirannya dalam mewujudkan cita-cita bersama. Sehingga, tidak sedikit dari mereka yang merelakan waktu kuliah demi memastikan bahwa organisasi yang diikutinya berjalan dengan baik. Itu pulalah yang dilakukan Heka semenjak dirinya tercatut sebagai seorang aktivis kampus. Menurut penulis, Heka hadir untuk menginspirasi. Menginspirasi orang-orang di sekitarnya untuk terus maju. Di tengah kesibukannya, ia pun masih meluangkan waktu untuk bergabung di sebuah wadah yang menaungi kreatifitas ilmiah mahasiswa yang diberi nama Unit Pengembangan Kreativitas Ilmiah Mahasiaswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UPKIM FKIP UMSU).
Dua judul proposalnya bersama kedua temannya, Eka Prasetio dan Iman Sofian Sijabat, pernah lulus dalam perhelatan akbar PEKAN ILMIAH MAHASISWA NASIONAL (PIMNAS) yang diadakan tahun 2014 silam. Proposal dengan judul “Pengolahan Melinjo (Gnetum Gnemon) Sebagai Susu Diet Sehat Bernutrisi & Bernilai Jual Tinggi” mampu mengantarkannya menjadi pemenang dalam perlombaan hebat itu. Selain itu, ia juga pernah memenangkan Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Program KKB dan PK Tahun 2014 BKKBN Provinsi Sumatera Utara, dengan judul tulisan: Pengaruh Sosial Budaya Terhadap Fertilitas di Desa Jaring Halus Kecamatan Secanggang.
Prestasi lain yang berhasil disabetnya adalah Juara 2 Debat Bahasa yang dilaksanakan oleh Balai Bahasa Sumatera Utara. Juara 2 Dance GenRe dan juga Harapan 2 Jelajah GenRe dalam acara Jambore Nasional BKKBN Pusat di Bogor. Tak heran banyak orang menggambarkan sosoknya berkarakter dan mempunyai idealisme tinggi sebagai aktivis mahasiswa. Bukan suatu yang berlebihan karena memang Heka adalah orang yang mempunyai ketulusan hati untuk mengabdi, dedikasi yang tinggi, dan mampu menjadi sang pelopor perubahan.
Heka yang saat ini berstatus sebagai Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, mengaku bahwa sebelum kuliah, ia mengambil jurusan otomotif. Jiwanya adalah di mesin (teknik). Keinginan terbesarnya adalah bisa bekerja sebagai mekanik di Jepang. Tapi kendala ekonomi, ia akhirnya memutuskan untuk kuliah terlebih dahulu. Setelah mempertimbangkan, akhirnya ia memilih profesi guru sebagai pilihan akhir. Bergaji iya, pahala juga mengalir terus. Begitu pikirnya saat itu. Ia berusaha menyesuaikan diri dengan jurusan yang telah ia pilih meski pun jiwa yang sebenarnya tidak berada di situ. Ia selalu paham bahwa ada konsekuensi yang harus di terima di setiap keputusan yang ia ambil. Kedewasaannya ternyata memudahkan langkahnya hingga saat ini.
Dari yang penulis amati, orang-orang yang berada di sekeliling Heka merasa terpantik semangatnya untuk berkontribusi menyelesaikan permasalahan yang ada. Mereka berusaha optimistis meskipun lingkungan di sekitarnya membentengi. Ibaratnya, Heka adalah nyala api yang tidak pernah padam. Dan ia lebih memilih menjadi lilin yang hidup di antara lilin yang mati. Karena ia ingin ada dan hadir untuk menginspirasi orang-orang yang ada di sekitarnya. Inilah sosok pemuda yang seharusnya dimiliki bangsa Indonesia. Penuh tekad dan semangat. Semangat yang kuat untuk melakukan perubahan di keseharian mereka.
Kampus adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa. Kampus dijadikan tempat menimba ilmu, mempersiapkan masa depan, dan mengembangkan diri menjadi pribadi yang utuh. Di suatu hari, penulis berkesempatan mewawancarai beliau. Penulis sedikit penasaran dengan motivasi beliau yang tetap bertahan di kondisi yang bisa dibilang super sibuk. “Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Selebihnya, ilmu itukan dicari, bukan ditunggu. Kalau saya hanya mengharapkan duduk manis menunggu dosen di bangku kuliah, saya rasa, saya cuma bisa menghapal huruf abjad dari A sampai Z, selebihnya tak ada ilmu yang saya dapat.” Terangnya dengan yakin.
Suatu statement luar biasa yang membuat penulis mengangguk berkali-kali. Membangun idealisme itu penting. Organisasi melatih kita untuk mengenal lingkungan yang sebenarnya . Membangun idealisme akan memunculkan semangat untuk mencapai harapan . Berbagai macam strategi pasti digunakan. Pantang menyerah ketika melihat permasalahan, hambatan dan rintangan. Dengan idealisme, penulis rasa, mahasiwa mampu memompa semangat tak kenal menyerah. “Dengan sabar, sholat, doa, dan usaha, semua masalah akan terasa mudah.” Tambahnya dengan bijaksana.
Menjadi mahasiswa idaman (mahasiswa aktivis akademis) memang tidak mudah. Dibutuhkan keyakinan, kesungguhan, dan pengorbanan untuk mewujudkan idealismenya. Oleh karena itu mahasiswa harus mampu merencanakan masa depannya sekarang juga sehingga nanti tidak menyesal di kemudian hari. Mahasiwa harus selalu memupuk semangat dan komitmennya demi terwujudnya idealisme mereka. Selain itu mahasiswa harus memulai dari yang terkecil dulu, dari apa yang bisa dilakukannya. Percayalah selalu, bahwa usaha keras itu tidak akan pernah mengkhianati. Mari cintai proses. Dan teruslah berusaha tanpa kenal lelah!


(Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 3, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara)

Puisi Setelah dan Aku (Terbit 19 Juni 2016, Harian Medan Bisnis)

Setelah
Oleh : Nanda Dyani Amilla

Setelah punya rumah, kau ingin apa?
Kecil saja; ingin cepat sampai rumah saat senja, lalu minum teh berdua di depan jendela
Setelah punya anak, kau ingin apa?
Kecil saja; ingin mengganti popoknya kala dia terlelap di malam buta
Setelah punya cinta, kau ingin apa?
Kecil saja; ingin mengaminimu dalam tengadah tangan penuh doa di atas sajadah
Sebab cinta hanya satu kata; dia

Aku
Oleh : Nanda Dyani Amilla

Kepadamu, yang selalu aku doakan diam-diam
Mungkin aku terlihat acuh di depanmu
Tak peduli dengan segala tentangmu
Tak mau tahu dengan bagaimananya dirimu
Tapi ketahuilah, aku satu-satunya gadis yang menangis ketika rindu kamu
Cuma aku. Dan hanya aku.

Puisi Untuk Ayah (Terbit 22 Juli 2016, Flores Sastra)

Untuk Ayah
Oleh : Nanda Dyani Amilla

Aku menemukan kuyup tabah menempel di bahunya
Juga tetes sabar di sela jemarinya
Pun semangat hebat di balik peluhnya
Atau di mana saja yang kian menambah keriput tuanya
Seperti doa-doa panjang dalam tahajud malamku;
Senantiasa ingin memberi bahagia dalam lelahnya
Memekarkan cita untuk sekotak bahagia di dada
Menyemai apa-apa yang ia tabur dalam doa
Sebab hanya untukmu, Ayah
Aku ingin menjadi alasan kau bahagia

Puisi Perihal Bengisnya Rindu (Terbit 06 Maret 2016, Harian Waspada)

Perihal Bengisnya Rindu
Oleh : Nanda Dyani Amilla

Perihal bengisnya rindu;
ia adalah jelmaan kelalaian pada temu
potongan kata yang terasa semakin kelu
kepingan-kepingan rasa yang tak sampai pada tuju
Perihal bengisnya rindu;
Barangkali ia ingin menjadi amin-mu
Menjadi Tuan atas tengadah tanganmu
Ia ingin menghiasi langit-langit malam
Di antara beribu doa yang beterbangan
Sebab rindu adalah awal yang takkan pernah berakhir

Puisi Romansa Hujan, Metamorfosis Hati, dan 3 Puisi Lainnya (Terbit 26 Agustus 2016, Riau Realita)

Romansa Hujan
Oleh : Nanda Dyani Amilla

Apa yang tersisa dari hujan
Selain hatiku yang kedinginan
Jaketku yang kebasahan
Juga rinduku yang kau gigilkan
Barangkali kita menyimpan beribu-ribu doa di tengah malam yang gulita
Untuk seseorang yang namanya kian tersebut di ujung sajadah
Terbiaskan ke dalam kata-kata
Atau di puji dalam balutan sajak cinta
Kelak, semua akan tahu
Bahwa rintik hujan yang syahdu itu
Adalah bentuk rindu yang bergemuruh

Metamorfosis Hati
Oleh : Nanda Dyani Amilla

Bagaimana mungkin aku melupa
Ketika kau tebar biji-bijian cinta
Di sepetak tanah hati yang tersedia
Bagaimana bisa aku tak ingat
Ketika berhektar hatiku yang engkau rawat
Cinta bertumbuh kian merambat
Bagaimana mungkin kau kudustakan
Ketika musim hujan berdatangan
Dan bunga cinta kita bermekaran
Bila suatu senja nanti aku layu
Kenanglah perjuanganmu, bahwa kau pernah menanamku
Dengan segenap doa dalam peluh rindu

Kau Tak Kusemogakan Lagi
Oleh : Nanda Dyani Amilla

Aku pernah menari dalam sepotong senja yang hujan
Menobatkanmu pada rintik rindu bahagia
Kedinginan dengan tingkahmu yang membosankan
Dalam paruh waktu yang kukira ada akhirnya
Namun kenyataannya, aku tersingkir oleh tulip-tulip yang kau cipta
Menumbangkan doa-doa yang kurawat dengan payah
Menginjak habis harapku tanpa sisa
Ketahuilah, segala apa yang telah kulepas
Sampai mati takkan lagi kukejar
Selamat menjadi bayang-bayang
Kepada kau, yang tak kusemogakan lagi!

Cinta Bukan Matematika
Oleh : Nanda Dyani Amilla

Jika kau namai dirimu dengan sebutan mars yang ganjil
Semoga aku dapat menjadi venus yang menggenapkan
Karena rasa bukan semata tentang genap dan ganjil
Bukan pula tentang takaran matematika
Namun rasa adalah kalimat indah
dari penyair-penyair gila

Tulisan Tangan Tuhan
Oleh : Nanda Dyani Amilla

Jika rindumu tak pernah sampai padaku
Barangkali Tuhan sedang memanjangkan batas sabarmu
Jika kasihmu tak pernah terbaca olehku
Barangkali Tuhan butakan aku untuk mengujimu
Jika cintamu tak pernah menyentuh hatiku
Barangkali Tuhan senang melihat usahamu
Dia bahagia mendengar segala doamu
Ingin rindumu dan rinduku berpacu di pedal waktu
Oh, lelakiku yang menawan
Sadarkah kau cerita kita adalah tulisan tangan Tuhan?

(Diikutsertakan dalam Lomba HUT ke-1 sastra.riaurealita.com)

Media Sosial Awal dari Penyakit Hati (Terbit 01 September 2016, Tribun Bone)

Fenomena membenci di zaman sekarang ini bukan lagi dilakukan oleh orang perorangan, melainkan secara berkelompok. Adanya media sosial merupakan salah satu penyebab fenomena membenci semakin banyak ditemukan. Penulis sendiri berpendapat bahwa media sosial dijadikan wadah dalam membibitkan akhlakul madzmumah. Di mana media sosial dapat menyebarkan segala sesuatu yang belum tentu benar mengenai seseorang atau sesuatu hal. Hasut menghasut pun terjadi. Dan fenomena membenci pun semakin marak.
Di zaman Facebook seperti sekarang ini, banyak orang yang berlomba-lomba menjadi narsis, ingin menunjukkan kehebatan diri, dan ingin memamerkan segalanya kepada orang banyak. Sebenarnya ini adalah hak pribadi masing-masing individu, namun karena ini adalah media sosial di mana semua orang bisa berkomentar. Penyakit hati yang pertama tentu saja timbul rasa iri terhadap postingan orang lain. Rasa iri ini muncul karena orang tersebut tidak mampu menjadi seperti yang demikian. Dari rasa iri yang dipupuk sedikit demi sedikit inilah akhirnya menumpuk, timbul perasaan benci dalam diri terhadap seseorang yang memposting tersebut. Meski tanpa adanya alasan yang jelas.
Penyakit hati selanjutnya adalah adanya kecenderungan untuk pamer atau memamerkan. Seorang teman penulis berkata, “Media sosial itu memang tempatnya untuk pamer, kalau tidak mau pamer ya mending nulis diary saja.” Begitu ungkapnya. Entah harus menanggapi seperti apa, namun itulah yang terjadi saat ini. Hal-hal semacam itu dianggap lumrah dan sudah biasa. Memang benar, itu hidup mereka, mereka bebas memposting apa saja yang dia suka di media sosial pribadinya. Tidak menjadi masalah selama itu tidak mengganggu orang lain, seperti menyindir atau menghujat.
Jika mengambil kata-kata dari penulis hebat sekelas Tere Liye, media sosial ini ibarat rumah. Mereka tentu saja bebas berbuat sesukanya di rumah sendiri. Mengapa harus repot? Kita pun demikian, kita juga memiliki rumah yang kita bebas menatanya sesuka hati kita, termasuk dalam membagikan sesuatu. Namun tentu saja kita hanya boleh membagikan hal-hal baik dan bermanfaat kepada orang lain. Jika mendapati orang-orang semacam itu, cukup kendalikan hati kita masing-masing, agar tak terjerat penyakit hati. Jika baik boleh diambil, jika buruk tinggalkan saja. Tapi yang terjadi sekarang justru sebaliknya, kita yang terlalu sibuk mengurusi rumah orang lain.
Kalau boleh mengambil bahasa anak muda zaman sekarang yaitu stalking, mengintip “rumah orang lain” lalu mencoba mencari-cari kesalahannya. Bukankah itu suatu perbuatan tercela yang harus dihindari? Cukuplah kita mengetahui aib dan kesalahan masing-masing, tidak perlu repot mengurusi aib dan kesalahan orang lain. Barangkali tanpa kita sadari, aib kita malah jauh lebih banyak dari pada mereka yang kita cari-cari kesalahannya.
Penyakit hati berikutnya adalah timbul rasa bangga pada diri sendiri, sehingga menganggap orang lain lebih kecil dari dirinya. Ini biasa muncul di diri orang yang memposting. Merasa tak ada orang yang menandinginya. Itulah mengapa media sosial lebih banyak memberikan dampak negatif di kehidupan, sebab manusia sekarang tampaknya kurang mahir dalam menyetir hati masing-masing. Mereka mudah dihasut dan terhasut. Bahkan yang terparah adalah bisa membenci sesuatu padahal tidak paham betul apa yang dibenci, menghujat orang yang tidak pernah melakukan salah padanya, dan merasa paling benar serta paling tahu mengenai pribadi seseorang, padahal bertatap muka dan mengobrol pun tidak pernah.
Inilah fenomena yang terjadi saat ini. Manusia mudah sekali dibakar. Media sosial juga seperti wadah untuk cibir dan menyindir. Dalam suatu kasus yang tentu kita semua pernah mengalami, ketika menyindir si A, yang merasa tersindir justru si C. Rumit sekali jika sudah begini. Kesalahpahaman pun terjadi, dan rasa benci semakin menjadi-jadi. Latar belakang sikap yang dimiliki adalah sesuatu yang mempengaruhi ucapan yang dikeluarkan. Banyak orang sensitif terhadap sesuatu yang padahal bukan ditujukan untuk dirinya.
Mereka terlalu suka menyimpulkan dan membuat lingkaran yang saling bertautan di kepala, lantas menganggap semua yang dipikirkannya adalah benar. Padahal yang terjadi sebenarnya belum tentu seperti itu. Belajar berhusnudzan terhadap orang lain adalah keminiman sifat yang dimiliki manusia. Padahal dengan berprasangka baik/husnudzan pada orang lain, dapat membuat hati dan pikiran kita lebih tenang, perasaan lebih damai, dan tetap menjaga silaturahmi. Bukankah Allah SWT juga sangat menyukai sifat yang satu ini? Lalu mengapa kita masih saja berkutat pada semua prasangka buruk terhadap orang lain?
Dampak negatif dari keberadaan media sosial lainnya adalah kecenderungan menyebarkan hal yang tidak benar, memancing permasalahan baru, menggunjing seseorang yang bersalah, dan menghujat seseorang dengan kalimat-kalimat kasar. Penulis sependapat lagi dengan kalimat Tere Liye yang diposting di halaman fanpage-nya, yang mengatakan, “Ini hanya dunia maya, jangan menghabiskan waktu mengurusi orang-orang yang suka komen nyolot, ngajak bertengkar, spam dan jorok. Sekali merasa terganggu, langsung delete, remove, unlike, dan unfollow.” Kita cukup menjauhi akun-akun yang bisa menimbulkan penyakit hati.
Dalam menyikapi kesalahan orang lain pun kita tidak perlu berlebihan, cukuplah kita tahu bahwa dia seperti itu. Tidak perlu meributkan dan memancing pertengkaran. Jika bisa, ya hindari saja hal-hal semacam itu, tidak terlalu berguna. Jaga hati kita dari sifat-sifat buruk yang dapat menetap menjadi pola pikir. Terus berhusnudzan dalam situasi apa pun. Ingat, semua orang pernah salah dan melakukan khilaf, kita tidak perlu menghujat, cukup menjadikannya pelajaran agar hidup kita menjadi lebih baik.

(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 5)

Wabah Mipsterz di Indonesia (Terbit 30 Agustus 2016, Tribun Bone)

Pernahkah anda memperhatikan wanita muslim yang syar’i namun juga bisa melakukan aktivitas dengan bebas? Bebas melakukan apa saja yang ia suka. Entah itu bersepeda, bermain skateboard, atau melakukan olahraga-olahraga ekstrim lainnya? Pernahkah anda mendapati seorang wanita muslim yang paham agama namun masih sangat menyukai hal-hal yang berbeda dari kebanyakan wanita muslim sesungguhnya? Entah itu berselfie ria, menyukai jenis musik yang berbeda, mempunyai life style ala dirinya, maupun gaya berpakaiannya?
Jika anda pernah melihat wanita muslim seperti itu, kemungkinan besar seseorang yang anda lihat itu adalah Mipsterz. Mungkin sebagian dari anda sudah tidak asing lagi mendengar kata Mipsterz. Ya, Mipsterz adalah singkatan dari kalimat Muslim Hipster. Sebuah komunitas yang didirikan oleh sekelompok kaum muslim muda yang berada di negara Amerika Serikat. Umumnya, mereka adalah kaum muslim dengan rentang usia 17-40 tahun. Para perempuan-perempuan yang mengaku produktif dalam bekerja, beraktivitas, dan berkarya ini mengaku dirinya sebagai golongan hipster.
Anda tahu apa itu hipster? Hipster adalah sebuah budaya yang berusaha membedakan dirinya dari kebanyakan orang, bisa dari gaya hidup, gaya berpakaian, selera bermusik, pandangan hidup, sampai pada pandangan tentang agama. Mereka tidak ingin kelihatan sama dengan yang lain. Selalu ingin merasa berbeda dan memang memiliki selera yang berbeda. Wabah Mipsterz ini pun telah menjangkiti berbagai negara-negara besar, salah satunya termasuk Indonesia. Pro dan kontra pun mulai bermunculan dari adanya wabah Mipsterz di Indonesia.
Mipsterz ini sendiri berkembang pesat karena dapat diterima dengan baik oleh para penduduknya. Di lingkungan tempat tinggal penulis sendiri, banyak dari mereka yang juga mengaku terinspirasi dan mulai mengikuti Mipsterz. Meski mereka tidak sampai men-cap diri mereka sebagai anggota dari sebuah kelompok Mipsterz. Jika ditelisik lebih dalam, keberadaan Mipsterz ini menunjukkan bahwa agama Islam bukanlah agama yang kolot, kuno, dan kaku.
Para perempuan Mipsterz berpendapat bahwa Islam tidak selalu harus mengikat mati bentuk aktivitas yang boleh dijalani perempuan atau tidak. Perempuan bisa berekspresi sebebas-bebasnya namun dengan catatan tetap berjalan dalam koridor Islam. Perempuan Mipsterz lebih senang berpakaian casual santai yang syar’i, tidak terikat pada baju-baju gamis panjang yang mereka mengira akan sangat merepotkan. Sebenarnya ini hanya masalah selera fashion saja. Mereka berpendapat bahwa Islam bisa menerima segala bentuk perubahan zaman, Islam harus mampu berjalan seiring zaman namun tidak terhanyut ke dalamnya. Para Mipsterz juga lebih senang dengan jenis musik yang sedang tren di masa kini, entah itu pop, jazz, rock, atau RnB.
Pada segi fashion dan life style pun mereka selalu berusaha mengikuti perkembangan zaman agar tetap terlihat modis dan kekinian. Beberapa artis muslimah kepunyaan Indonesia yang tergolong ke dalam Mipsterz adalah Zaskia Adya Mecca, Ria Ricis, dan Wirda Mansyur. Lihatlah para selebritis muslimah itu, tetap cantik dibalik jilbabnya, namun juga begitu aktif berkarya dalam dunia seni dan hiburan. Ada pun kontra yang diteriakkan dari kubu lain tentang Mipsterz ini adalah bagaimana seharusnya perempuan muslim bersikap. Penulis pernah mendengar dari suatu majelis ta’lim, bahwa sebenarnya Islam tidak mengenal adanya musik dan nyanyian. Karena bagi Islam, musik adalah haram. Dan segala jenis musik yang dimainkan pada saat sekarang ini juga haram. Islam pun tidak membenarkan mengenai nyanyian, di mana yang pada saat ini terlalu banyak nyanyian dan juga penyanyi yang bertebaran di Indonesia. Menurut Islam, nyanyian itu adalah kebiasaan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Kontra lain pun bermunculan mengenai fashion perempuan Mipsterz. Mulai dari jilbab yang dikenakan, riasan wajah, sampai baju yang dipakai.
Di Indonesia sendiri, tren hijab sudah ada sejak lama. Gaya, bentuk, dan cara pemakaiannya pun beragam. Padahal dalam Islam dikatakan sebaik-baiknya mengenakan jilbab adalah yang sederhana pemakaiannya dan tidak menyusahkan si pemakai. Jilbab juga dianjurkan untuk diulur hingga menutupi dada. Ini bertolak belakang dengan para Mipsterz yang mayoritasnya menggunakan jilbab dengan cara dililit. Namun Mipsterz sendiri berpendapat bahwa dengan mengenakan pakaian yang longgar, tentu bukan suatu masalah, karena tidak menerawang dan menampakkan bentuk tubuh/tidak ketat.
Seorang teman penulis ketika ditanya mengenai wabah Mipsterz di Indonesia berkomentar, “Bukan sesuatu yang harus diperdebatkan. Sebab kita adalah manusia masa kini, yang hidup di zaman sekarang ini. Kita bukan manusia yang hidup di zaman Nabi, oleh sebab itu kita boleh saja mengikuti zaman asal mampu mengendalikan diri. Dan sah-sah saja selama itu tidak melanggar aturan Islam.” Kiranya penulis memiliki pendapat yang sama dengan beliau. Semua kembali lagi ke niat kita masing-masing. Sebagai umat muslim yang cerdas, kita pasti tahu mana yang baik dan buruk, juga mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Selama apa yang kita perbuat masih dalam koridor Islam dan tak melupakan ajaran Islam, itu bukanlah sesuatu yang harus kita debatkan. Hanya Allah SWT yang paling tahu soal kebenaran yang sesungguhnya. Tugas kita sebagai manusia hanya terus berusaha memperbaiki diri dan berjalan sesuai dengan ketentuan-Nya. Wallahu’alam bishawab…

(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 5)

Sandal Neraka Untuk Zuhra (Terbit 05 Agustus 2016, Tribun Bone)

Lagi. Entah sudah berapa kali aku mendengar ayah dan ibu bertengkar. Pertengkaran yang kurasa bersebab itu-itu saja. Pertengkaran yang menurut ayah adalah ibu pelakunya. Sebaliknya, ibu pun beranggapan demikian, bahwa ayahlah yang salah. Aku merangkul Zuhra dan menutup kedua telinganya. Adikku masih terlalu kecil untuk mendengar kalimat-kalimat kasar yang keluar dari mulut keduanya. Saling menyumpahserapahi satu sama lain, menyalahkan, juga menyudutkan. Kuseret Zuhra ke luar rumah. Menyuruhnya mengambil bekas karung beras yang lumayan besar. Daripada harus melihat ayah dan ibu bertengkar, lebih baik mencari sedikit rupiah untuk mengenyangkan perut Zuhra nanti siang. Keluarga kami memang utuh, namun kasih sayang dan cinta telah luruh. Tidak ada lagi kata-kata manis yang kudengar semenjak ayah di PHK 2 tahun lalu, bersebab tuduhan ayah mencuri di tempat kerjanya sendiri. Ibu mulai uring-uringan dan menyesali telah dinikahi ayah. Saat itu, usiaku masih 13 tahun. Dan aku dipaksa bertahan dalam kondisi keluarga yang mulai kacau balau. Zuhra masih berumur 7 tahun kala itu. Aku dan Zuhra mulai berkeliling kampung, mencari barang bekas. Ya, mau tak mau kami harus memulung. Masyarakat sekitar tahu bahwa kami sering melakukan itu. Kadang sepulang sekolah aku mengajak Zuhra untuk pergi memulung. Kami singgah dari tempat sampah satu ke tempat sampah yang lain. Dengan bermodalkan karung bekas yang kami jinjing di pundak, aku dan Zuhra berjalan di teriknya aspal kota Medan itu. Dengan bertelanjang kaki, aku dan Zuhra mencari barang-barang bekas untuk bisa dijual kembali pada pengumpul barang bekas yang tak jauh dari rumah. Biasanya, kami bisa mendapat lima belas ribu rupiah per satu orang dari hasil memulung. Cukup lumayan untuk sekadar mengenyangkan lambung kecil kami. Seperti biasa, aku dan Zuhra berkeliling. Selain tempat sampah yang ada dipinggiran jalan raya, aku suka membawa Zuhra ke tempat sampah yang ada di setiap rumah warga. Kami memulung ketika siang hari, saat-saat sepi. “Aduh, Kak Rania, kaki Zuhra sakit,” dia mengeluh dna terduduk di pinggir aspal. Kulihat telapak kakinya yang merah dan melepuh akibat aspal panas yang kami susuri. Hatiku sakit melihatnya. Aku merasa berdosa telah mengajak Zuhra ikut memulung denganku. Kaki mungil itu kini lecet di sana-sini. Dia terduduk sambil memegangi telapak kakinya. Kulihat dia menangis menahan sakit. “Ayo, Zuhra. Sini, Kak Rania gendong,” aku menarik tubuhnya dan mendekapnya pelan. Mencoba menghapus air matanya. Sekuat tenaga aku menahan mataku yang mulai panas. Aku tidak boleh menangis di depan Zuhra. Tidak boleh. Aku menggendongnya di punggungku. Kucari tempat beristirahat untuk sekadar mengobati kakinya. Aku memutar otak mencari cara bagaimana agar kaki Zuhra tidak lagi terluka. Aku meninggalkan Zuhra dengan alasan akan membeli sesuatu. Zuhra berjanji akan menunggu sampai aku kembali. Lima belas menit kemudian, aku kembali dengan menenteng sepasang sandal merah jambu seukuran kaki Zuhra. Dia terlihat senang ketika aku memasangkannya di kaki mungilnya. “Kak Rania beli, ya? Terima kasih ya, Kak. Zuhra suka sekali,” Hatiku teriris mendengarnya. Kalian perlu tahu, sebenarnya aku tidak membeli sandal itu. Aku mencurinya. Ya, aku mencurinya karena terpaksa. Tadi ketika memulung di dekat perumahan elit itu, aku melihat sepasang sandal cantik seukuran kaki Zuhra. Aku mengambilnya diam-diam. Biarlah ini menjadi dosaku, aku hanya tidak ingin melihat Zuhra menangis karena menahan sakit di telapak kakinya. Aku tahu bahwa ini salah. Aku telah memasangkan sandal neraka di kaki adikku sendiri. Sandal hasil curian itu bisa jadi lebih panas dibanding aspal kota yang setiap hari kami susuri. Dalam hati aku berdoa, semoga tidak ada orang lain yang melihat perbuatanku. Dalam hati juga aku berdoa, semoga Tuhan memaklumi apa yang aku lakukan. Tapi selang dua hari sejak kejadian itu, rumahku diketuk seseorang. Seorang ibu dengan perhiasan banyak di tubuhnya, berdiri tegak di bawah bingkai pintu rumahku. Saat itu, ibu dan ayah sedang tidak ada di rumah. Hanya ada aku dan Zuhra. Wajah ibu tersebut tampak marah. Dia bersama seseorang yang kukenal, yaitu kepala desa. “Dasar maling!” umpatnya sambil menjambak rambutku. Ya Tuhan, sakit sekali rasanya. Tangan besar ibu itu menarik rambutku hingga aku tersungkur ke lantai. Kepala desa dan beberapa orang yang dibawanya menenangkan ibu yang murka itu. Zuhra sudah menangis melihat aku diperlakukan seperti itu. Dia membantuku berdiri. Air mataku jatuh, menahan sakit antara di hati dan di kepalaku. “Dia yang mencuri sandal anak saya, Pak. Anak saya melihatnya sendiri dari balik jendela,” terangnya. Nyaliku ciut, aku tahu aku bersalah dalam kasus ini. “Masih kecil, sudah jadi maling! Mana orangtuamu, HAH? Nggak pernah diajarin sopan santun dan tata krama, ya?!” bentaknya lagi padaku. Aku diam saja. Masalah itu selesai ketika aku minta maaf dan mengembalikan sandal itu kepada pemiliknya. Pak kepala desa menasehatiku dan memeluk aku juga Zuhra. Aku malu sekali pada adikku saat itu. Pak kepala desa berjanji akan membelikan sandal baru untuk aku dan Zuhra. “Bapak paham dengan kondisi keluarga kamu, Nak. Bapak kenal dekat dengan ayahmu. Berjanjilah untuk tidak mengulangi kesalahan ini, ya.” Nasihat beliau lembut. Aku menangis sejadi-jadinya. Memeluk Zuhra erat dan meminta maaf karena telah berbohong padanya perihal sandal itu. Satu hal yang membuat aku tersentak, kalimat manis dari mulut Zuhra untuk pertama kalinya menyentuh hatiku, “Semoga Alah mengampuni kita. Mau bagaimana pun, Kak Rania adalah kakak terhebat dunia akhirat.” (Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 5)