Judul :
Penjual Kenangan
Penulis : Widyawati Oktavia
Penyunting : Gita Romadhona & Yulliya Febria
Penerbit
: Bukune
Cetakan : Pertama, Januari 2013
Halaman
: 214 hal
ISBN
: 978-602-220-089-5
Kumcer dengan judul Penjual Kenangan karya Widyawati
Oktavia ini berisikan sebelas cerita yang mengangkat tema kenangan dan ironi
kehidupan. Dengan begitu apik, Widyawati meramu kisah kehidupan dengan balutan
fiksi yang tidak biasa. Cerita pertama menempatkan “Carano” sebagai pembuka
cerita yang manis. Carano menceritakan tentang kepatah-hatian seorang gadis Minang
yang dikhianati kekasihnya. Padahal sang ibu sangat menaruh harapan kepada
lelaki itu dan selalu menanyakan kapan ia dan keluarga bisa membawakan carano
untuk kekasihnya tersebut.
Alur cerita maju-mundur yang disajikan Widyawati pun
membuat pembaca terhanyut bersama konflik sang tokoh. Keteguhan hati tokoh
utama yang akhirnya memilih mundur meski kekasihnya kini sudah tak bersama
perempuan lain, membuat pembaca merasa puas. Repih kenangan kedua dilanjutkan
dengan cerita fiksi “Dalam Harap Bintang Pagi” yang bercerita tentang seorang
wanita yang suka mendengarkan cerita dari lelaki yang dikaguminya. Lelaki itu
mulai bercerita tentang Rayina, bintang yang selalu muncul pada pukul satu
pagi. Menurut ceritanya, Rayina itu adalah jelmaan peri.
“Awalnya,
Rayina—peri itu—tidak ingin terbang. Dia telah menikmati langkah-langkah
kakinya,” lanjutmu. “Sampai....” “Sampai apa?” Aku belum mendengar bagian
cerita yang ini. “Sampai dia jatuh cinta.” Mungkin cerita kali ini tidak pernah
benar-benar terjadi. Mungkin kau hanya ingin agar kita tak kehabisan
percakapan. Tak apa. Aku menikmati setiap kata-katamu—meskipun kadang timbul
rasa tak percaya di sudut hatiku.”Pastilah dia jatuh cinta kepada seseorang
yang bisa terbang, ya?” tebakku—mengikuti skenariomu. “Bukan. Dia hanya jatuh
cinta kepada seorang petualang.” Aku mencuri pandang ke arah matamu, entah
untuk apa—tetapi kau tak tahu” (hal.64)
Tanpa lelaki itu sangka, bahwa cerita yang ia
ceritakan sama persis dengan perasaan perempuan itu terhadapnya. “Malam itu, aku duduk di depan nyala api. Sebuah
cerita perlahan-lahan menjadi abu di sana. Ya, cerita tentang Rayina—bintang
pagi—yang baru saja kau ceritakan kepadaku. Aku harus membakarnya. Menebarkan
abunya sebelum matahari tiba esok. Sebelum bertumpuk. Sebelum aku sempat
mengulang-ulang membacanya dan bersedih untuk Rayina. Atau petualang itu.
Sebelum aku begitu mencintai keeping cerita itu. Sebelum aku ingin menjelma
Rayina dan menginginkan sayap. Karena, itu hanya dongeng, katamu.” (hal. 74)
Cerita berikutnya berjudul “Percakapan Nomor-Nomor”,
“Kunang-Kunang”, “Perempuan Tua di Balik Kaca Jendela”, ”Penjual Kenangan”,
“Tengara Langit”, “Menjelma Hujan”, “Nelangsa”, “Tembang Cahaya”, dan “Bawa
Musim Kembali, Nak...” juga menampilkan ironi kehidupan dan setumpuk kenangan. Widyawati
Oktavia sangat teliti menggambarkan kehidupan para tokoh di dalam ceritanya.
Seperti dalam cerita Menjelma Hujan. Widyawati menggambarkan tokoh utama yang
merasakan sakit hati karena ditinggal menikah oleh lelaki yang dicintainya.
Konflik batin yang kuat mampu tersampaikan dengan baik kepada pembaca, sehingga
pembaca cukup mampu merasakan permasalahan yang disajikan dalam cerita
tersebut.
Selain itu, Widyawati juga berhasil membawakan
setiap cerita dengan topik serius namun tetap konsisten dengan kekentalan
fiksinya. Beliau juga mampu membuat filosofi untuk beberapa cerita di dalam
buku ini, seperti dalam cerita Kunang-Kunang, Menjelma Hujan, Dalam Harap
Bintang pagi, dan Nelangsa. Kelebihan lain dari buku ini adalah cerita yang
disajikan sangat sarat dengan pesan moral yang tinggi. Gaya bahasa yang dipilih
juga sangat segar dan bervariatif.
Selain itu, pengenalan kosakata dalam bahasa daerah
juga merupakan suatu kelebihan dalam buku ini. Terlihat di dalam cerita Carano
yang membawakan dialog-dialog dengan bahasa Minang. Sehingga pembaca juga
mendapatkan pembelajaran dari sana. Jiwa sastra yang kental juga sangat terasa
ketika pertama kali membaca buku ini. Dan pilihan tema dalam cerita ini juga
sangat menarik untuk dibaca.
Adapun kelemahan dalam buku ini menurut saya adalah alur
cerita yang dibuat campuran (maju-mundur), sehingga agak membingungkan pembaca.
Membuat pembaca harus berkonsentrasi penuh jika ingin mendapatkan pesan dan
inti dari cerita dalam buku ini. Selebihnya, menurut saya, buku ini sangat
layak untuk dibeli dan dikoleksi.
(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa
dan Sastra Indonesia)