Membaca
kisahmu berkali-kali, sungguh berhasil membawaku menekuri perjalanan masa SMA
yang sejujurnya ingin kulupakan. Pada wajahmu, aku seolah membaca sebuah
kepahitan yang telah lama kuhapus dari ingatan. Sebab pada wajah itu, tepatnya
di matamu, aku pernah menitipkan cinta yang terbungkus dalam iba. Rasaku
menempel pada sosokmu selama seribu sembilan puluh lima hari. Atau bahkan
lebih? Entahlah, aku sendiri tidak mau lagi menghitungnya saat ini.
Aku pun tak begitu paham, mengapa dulu aku
begitu menggilaimu. Padahal saat itu usiaku baru lima belas tahun, saat untuk
pertama kalinya aku memakai seragam putih abu-abu. Dan saat pertama kalinya
mata kita bertemu. Aku jatuh cinta pada tatapan teduhmu. Jatuh cinta pada suara
lembut yang menyentuh gendang telingaku. Juga pada sikap tenangmu kala itu.
Semua hal yang tak kutemui pada diri teman-teman kelas yang lain.
Singkatnya,
aku menimbun rasa sejak pertama kali kita berkenalan. Apalah yang bisa aku
lakukan sebagai seorang gadis pendiam yang tak punya nyali untuk mengatakan
segalanya. Aku memperhatikanmu dari balik kacamataku. Memenuhi buku tulisku
dengan deskripsi manis tentangmu. Atau membuat sajak-sajak romantis atas
namamu. Layaknya gadis remaja yang sedang jatuh cinta, aku suka tersenyum dan
menangis sendirian.
Dan
kamu…
Kamu
masih tetap acuh dengan perasaan gadis dingin sepertiku. Bukan, bukan karena
kamu tidak tahu. Bukan pula karena kamu tidak merasakan semua sinyal yang
pernah kulemparkan padamu. Hanya saja, ada hati yang sedang kamu jaga saat itu.
Dan dia adalah gadis beruntung yang mendapatkan hatimu. Dia adalah gadis cantik
yang telah membersamaimu jauh sebelum kita bertemu. Pantaslah, matamu tidak
lagi memandang ke arah lain. Bahkan untuk sekadar menyadari ada gadis kecil
dengan perasaan besarnya di sini.
Setiap
hari, telingaku dijejali dengan beragam kisah cintamu. Tentu saja bukan
denganku, tapi dengan gadis beruntung itu. Mereka bilang, kalian adalah
pasangan sempurna. Meski aku suka mencibir dalam hati, “Masih kecil sudah
pacar-pacaran.” Untuk setelahnya aku malu sendiri, bahwa sampai saat itu aku
pun masih berharap menjadi kekasihmu. Tapi biarlah, setidaknya itu adalah
bentuk protesku atas cerita yang mampir ke telingaku. Jika boleh jujur, aku
benci mendengar kisah tentangmu dengan gadis itu. Meski hanya sebatas
menyebutkan namanya.
Saat menuliskan ini, aku seperti terseret ke
masa-masa dimana aku tidak ingin melupakanmu. Meski pada kenyataannya, saat ini
aku sudah berhasil melupakan perasaan itu. Anehnya, mengapa Tuhan sekarang
malah mempertemukan kita? Tiga tahun aku menunggu dan menyukaimu secara
diam-diam. Bahkan mendengar helaan napasmu saja itu sudah cukup membuatku
bahagia. Tiga tahun aku memimpikan bisa sedekat ini denganmu. Bisa bercerita
dan menertawakan apa saja.
Tiga
tahun setelahnya, kau menghilang. Aku menghilang. Cerita tentang kita
menghilang. Kita? Bahkan kau dan aku tak pernah menjadi kita. Tapi biarlah, aku
senang mengatakan itu. Aku senang membayangkan bahwa suatu hari kau dan aku
menjadi kita. Itu pikirku dulu. Aku tidak tahu keberadaanmu setelah kita lulus
SMA. Aku juga tidak tahu bagaimana keadaanmu dan apa yang tengah kau kerjakan
di sana. Aku pun tidak lagi mencari tahu apa-apa tentang dirimu. Aku disibukkan
dengan kegiatan baruku. Pergi ke kampus, belajar, dan bercanda dengan
teman-teman.
Perlahan,
aku bisa melupakanmu. Melupakan rasa yang setiap hari hanya membuat perih hati.
Meski di awal-awal masuk kuliah, aku masih sering berharap kau menghubungiku.
Tapi bagaimana mungkin? Jika ketika dulu saja, hubungan kita hanya sebatas
teman biasa. Hanya aku yang punya perasaan berlebih terhadapmu. Kamu? Jangan
tanya. Jawabannya pasti membuat sesak di dada.
Mungkin
sesekali kau harus menjadi aku. Agar kau tahu bagaimana rasanya menunggu selama
itu. Agar juga kau tahu bahwa menunggu tak sebercanda itu. Ya, aku tahu, aku
tak berhak menuntut apa-apa darimu. Karena sejatinya perasaan bukan romusha
yang bisa dipaksa-paksa. Aku paham dan mencoba menerima dengan situasi yang
tercipta saat itu. Menerima kenyataan bahwa mencintai seorang diri ternyata
semenyakitkan ini.
Hingga
enam tahun lamanya, perasaanku terbuang sia-sia. Suatu pagi, tangan Tuhan
bekerja. Entah bagaimana caranya, yang kurasa rencana-Nya sungguh indah. Dia
menjawab doa-doa yang sempat tertunda. Dia menjawab segala harap yang dulu sempat menguap. Dia memberikan kesempatan untuk kita
kembali saling menatap. Kau tahu, apa hal pertama yang kurasa saat mendengar
kabar bahwa kita akan berjumpa? Patah hati.
Aku
merasa tidak ingin bertemu denganmu lagi. Tapi bagaimana caranya aku menolak
ajakan teman-teman yang seakan berkonspirasi mengajakmu untuk bertemu denganku?
Dan aku rasa, aku akan terlihat kekanak-kanakan jika aku membawa-bawa perasaan
enam tahun lalu untuk perjumpaan kita kali ini. Itulah sebab aku mencoba
menyambutmu dengan senang hati. Menjabat tanganmu untuk kedua kalinya. Jabatan
tangan pertama kita, saat aku mengucapkan selamat ulang tahun padamu ketika
masa SMA dulu. Mengucapkan hai-hallo sebagai tanda selamat bertemu kembali.
Aku
melihat kau tidak jauh berbeda seperti dulu. Bedanya hanya wajah teduh itu
tampak sedikit lebih mendewasa. Selebihnya, kamu sama. Masih hangat dan senang
bercanda. Masih lembut dan suka tertawa. Sesekali aku mendapati retinamu
menatapku. Entahlah, aku berusaha menepis semua prasangkaku tentang kamu. Tidak
mungkin saat ini aku terhanyut dalam perasaan enam tahun lalu yang tidak tahu
malu itu.
Sekarang
aku sudah punya kekasih. Aku sudah mengubur dalam-dalam masa SMA kita. Keadaan
sudah berubah. Usia hubunganku dengannya juga sudah beranjak menduduki angka
dua. Meski belum genap sepenuhnya. Aku mencoba menatapmu dengan tatapan
persahabatan. Teman-teman masih suka meledek soal kedekatan kita dahulu. Padahal
aku yakin sekali, lebih tepatnya mereka meledek soal perasaanku yang tidak
pernah berbalas itu.
Hingga
pertemuan kita berakhir, kau berhasil meruntuhkan pertahananku untuk tidak
bersikap biasa saja denganmu. Aku mulai rindu bercerita banyak denganmu.
Membicarakan apa saja, tentang hal-hal yang kita lewati selama itu. Tentang aku
dan kesibukanmu. Hingga akhirnya dari mulutmu sendiri aku tahu, bahwa kau tidak
lagi bersama gadis itu. Ah, gadis cantik yang malang. Jika sekarang kau sia-siakan
“pangeranku” ,mengapa dulu kau sombong sekali menghalangiku untuk
mendapatkannya?
Lupakan!
Itu hanya pikiran burukku saja. Aku tidak sepenuhnya bisa menjadi orang baik.
Terkadang aku dengan sosok lain muncul untuk memenangkan egoisku. Bukankah itu
hal yang wajar untuk setiap manusia? Aku rasa jawabannya adalah ya.
Tapi
aku tidak begitu bahagia mendengar kabar itu. Aku hanya merasa bahagia,
akhirnya aku bisa sedekat ini denganmu lagi. Masa-masa yang begitu aku impikan
sejak enam tahun lalu. Sejak awal aku mengenalmu. Kita menjadi sangat akrab.
Kita pergi nonton film, menikmati milk
shake, dan juga menghabiskan malam dengan tawa. Tidak berdua, tapi itu
cukup menukar luka-luka lama yang ada.
Sepulang
mengantarku ke rumah, aku mendapati sebuah pesan singkat masuk ke layar handphone-ku. Tertera namamu. Dan isinya
cukup membuat rasa penasaranku terbayar. Mengenai sikapmu dua hari ini yang
kurasa tidak biasa. Kalimat singkat tanpa emoticon
itu menelusup masuk dalam otakku. Gila! Selarut itu kau menyuruhku untuk
berpikir keras. Kalimat aku sayang kamu
yang kau kirimkan padaku, sukses membuat aku membacanya berulang kali. Kupikir
ini hanya candaan. Atau kau yang terbawa suasana usai menonton film malam itu.
Tapi ternyata tidak, Kau mengatakan hal yang selama ini aku tunggu. Kau
menyayangiku.
Kau
seperti hujan. Dan aku adalah gadis yang menyukai hujan. Hanya saja, di
antaranya ada payung yang kini tengah melindungiku. Menjagaku agar tetap
terlindung dari hujan. Menjagaku agar hujan tak membuat aku sakit. Menjagaku
agar hujan tak menyentuh kulitku walau sedikit. Payung itu adalah kekasihku.
Kau tahu, gadis penyuka hujan itu sudah lama mencintai payung. Gadis itu telah
lama menggunakan payung untuk berlindung dari balik hujan. Tapi bukan berarti
dia akan selamanya mengenakan payung. Dan bukan selamanya pula dia akan
menyukai hujan. Segalanya bisa berubah. Semua kisah sudah ditulis indah oleh
tangan Yang Maha Kuasa. Si penulis hebat yang tiada tandingannya.
Sekarang,
mari jalani hari-hari kita dengan rasa bahagia. Percaya saja, bahwa semua
kehendak-Nya adalah indah. Menunggu selama enam tahun tidak mudah, tapi
lihatlah… Tuhan menukarnya dengan pertemuan yang tak kalah luar biasa. Aku
hanya ingin kau belajar meresapi segala kejadian lama kita. Bumi ini berputar,
tapi Tuhan selalu menyelipkan bahagia meskipun kita sedang terluka.
Dengarlah…
Dengan
ataupun tanpaku kelak, aku ingin melihat kau bahagia dan baik-baik saja. Tanpa
luka. Tanpa duka.
Teruntuk
pria,
yang
sering memanggilku Milla
teruslah
berbahagia