“Aku
tidak mencintaimu!” tegas Noe.
“Tapi
aku mencintaimu!” balas Ido.
“Itu
bukan urusanku!” Noe melenggang pergi meninggalkan anak laki-laki itu dengan
gemas. Hentakan kakinya menyiratkan kalau ia sedang kesal. Tapi yang
ditinggalkan malah tersenyum nakal, seolah berhasil mengerjai gadis pujaannya
itu. Taman sekolah mulai sepi. Jam pelajaran sudah selesai sejak tadi.
“Hey,
tunggu!” Ido mengejar Noe yang semakin menjauh. “Milea jangan tinggalin Dilan,
dong!” keluh Ido masih dengan berlari-lari kecil. Noe muak sekali,
dipercepatnya langkah demi terhindar dari kejaran anak laki-laki nyentrik itu.
Tapi sayang, Ido menarik tasnya dari belakang. “Aku bilang tunggu, Sayang!”
suara Ido membuat wajah Noe memerah.
Gadis
itu berhenti. Lantas menoleh ke belakang dengan perasaan meledak-ledak. Entah
mau sampai kapan Ido bersikap seperti ini. Mengganggunya setiap kali pulang
sekolah. Bahkan di setiap kesempatan saat guru tidak ada di kelas. Ia bahkan
telah kehabisan akal untuk membuat anak laki-laki itu menjauh. Namun semua
sia-sia, Ido tetap saja berusaha mendekatinya.
“Bisa
pergi nggak sihhh!” bentak Noe kalap. Detik itu juga Ido terdiam. Napas Noe
naik turun tak beraturan. Rasanya ia sudah begitu sabar menghadapi Ido sejak
tadi. Tapi anak laki-laki itu terus saja mengganggunya. Noe tidak sadar, bahwa
Ido hanya ingin mendapatkan perhatiannya. Ido hanya ingin dekat. Ido hanya
ingin Noe melihat ke arahnya.
Ido
masih diam. Noe juga diam. Namun detik berikutnya, suara Ido membuat Noe
tertegun. “Nggak apa-apa kamu marah. Masih tetap cantik, kok.” suara Ido pelan
terdengar, namun menyusup lembut dalam telinganya. Noe terdiam. Belum ada
laki-laki yang begitu sabar mendekatinya seperti yang Ido lakukan. Noe hampir saja
tersentuh, namun cepat-cepat ia halau pikiran aneh itu.
“Pergi!”
Noe menatap Ido tajam. Ido menggeleng. Noe menarik napas kesal. “Oh Tuhan,
makhluk seperti apa yang sedang aku hadapi kini?” Noe membatin dalam hati.
“Kamu kenapa, sih? Sensi banget sama aku?” Ido buka suara. Noe terus berjalan
menuju gerbang sekolah. Ia berdoa dalam hati semoga mobil jemputan sudah
menunggunya di depan, agar ia tak lagi berlama-lama dengan makhluk macam Ido.
Langit
sore mulai gelap. Awan hitam bergerak-gerak. Bergantian dengan matahari yang
tadi begitu pongah bersinar. Cuaca minggu ini memang kacau sekali. Noe
merapatkan tangannya, berusaha memeluk tubuhnya sendiri. Mereka sudah menunggu
di gerbang, namun jemputan Noe belum juga datang. “Sudah mau hujan, aku antar,
yuk?” tawar Ido lembut. Noe meliriknya. Masih dengan tatapan kesal.
“Pulang
saja sana duluan!” ketus Noe. Berharap Ido akan segera pergi. “Mana mungkin aku
meninggalkan kekasihku seorang diri di sini,” jawab Ido dengan nada percaya
diri. Noe melotot. Ido nyengir, lantas meralat ucapannya, “Iya..iya.. teman!
Mana mungkin aku meninggalkan temanku sendirian di sini…” Noe membuang muka
menghadap ujung jalan, diam-diam dia tersenyum. Tersenyum atas tingkah konyol
yang selalu ditunjukkan Ido padanya.
Guruh
mulai terdengar bersahut-sahutan. Noe mulai cemas. Tidak biasanya mama telat
seperti ini, batinnya. Berkali-kali dihubungi juga tidak tersambung. Noe mulai
resah. Dan raut wajahnya terbaca jelas sekali. “Kamu keberatan, ya, pulang
bareng aku?” tanya Ido akhirnya. Kali ini nada suaranya tidak seriang biasanya.
Itu artinya, anak laki-laki tengil ini sedang berbicara serius.
Noe
menoleh. Lantas hanya menatap Ido sekilas. “Ini yang pertama dan terakhir deh.
Besok-besok, aku tidak akan mengganggumu lagi,” ucapan Ido terdengan serius. Noe
menggigit bibir bawahnya, gadis itu tampak berpikir. “Kok tumben dia ngomong
begini?” tanya Noe dalam hati. “Sebentar ya, aku ambil motorku dulu di
parkiran,” Ido berlari menuju parkir, meninggalkan Noe yang masih tampak
berpikir.
Ingin
rasanya menolak, tapi sudah sore begini ia harus naik apa ke rumah. Angin juga
mulai kencang dan langit semakin gelap. Mengiyakan tawaran Ido tentu bukan hal
yang buruk. Anak laki-laki itu tentu tidak akan berani macam-macam dengannya.
Karena meski begitu, ia tahu sekali bahwa Ido anak yang baik. Ido datang dengan
motor maticnya. “Ayo, naik.” Ido tersenyum.
Noe
mengambil helm yang diserahkan Ido padanya. Lantas mengenakannya dengan cepat.
“Tunggu.. tunggu..” kata Ido sesaat sebelum Noe naik ke boncengan. Ido melepas
jaketnya, lantas memberikannya pada Noe. Noe tidak mengambilnya, hanya menatap
Ido dengan datar. Maksudnya apa coba?
“Aku
nggak mau Milea-ku kena hujan,” Ido mulai dengan sikap tengilnya, lantas ia
nyengir lebar. Noe mendengus kesal, lalu mengambil jaket itu dan memakainya.
Ido tampak senang. Wajahnya cerah sekali, berbanding terbalik dengan cuaca sore
itu. Mereka mulai membelah jalanan, dan rintik mulai jatuh satu persatu. Tidak
begitu deras, namun cukup membuat seragam Ido basah.
Setengah
jam kemudian, mereka tiba di rumah berpagar cokelat. Noe turun dan melepas
helm. Ido tampak mengigil. Noe bingung harus memulai dari mana. Ia mulai merasa
tak enak karena sikapnya yang sejak tadi terlihat tidak bersahabat. “Hmm..
bajumu basah. Mau singgah untuk minum teh?” tawar Noe akhirnya.
Ido
tersenyum, lalu menggeleng. “Aku langsung balik aja. Terima kasih sudah mau
diantar,” ucapan Ido membuat Noe tertawa. “Harusnya aku yang bilang terima
kasih, dong!” sanggah Noe lucu. “Nggak apa-apa, biar beda aja.” tambah Ido lagi.
Setelah pamit, Ido meluncur dengan sepeda motornya. meninggalkan Noe yang masih
berdiri mematung di sudut gerbang. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. “Ah,
jaketnyaaa..” Noe lupa melepas jaket Ido.
Tiba-tiba
Noe tersenyum. Entah untuk apa dan karena apa. Semuanya berjalan begitu cepat.
Hingga Noe bahkan tidak bisa mengatasi degup jantung dalam dadanya. Noe
tersenyum mengingat semua tingkah Ido. Anak laki-laki paling aneh namun baik
hati. Noe menutup gerbang. Diam-diam dia tak sabar, untuk bertemu Ido esok
hari.
(Penulis
adalah ALUMNI FKIP UMSU, 2018)