Keluarga
Agatha tidak sedingin yang aku kira. Keramahan tampak keluar dari retina mata
para penghuninya ketika aku sampai dan mengetuk pintu rumah mereka tiga kali.
Saat itu, pintu dibuka oleh seorang perempuan berusia 30 tahunan. Perempuan
dengan senyum ramah itu mempersilakanku masuk dan menggiringku menuju ruang
keluarga. Kedatanganku ternyata telah ditunggu oleh orangtua dan kedua kakak
Agatha. Ternyata perempuan yang membukakan pintu tadi adalah kakak iparnya,
istri dari kakak laki-laki Agatha.
Setelah
membaca pesan Agatha dan menimbangnya cukup lama, aku akhirnya memutuskan untuk
menurunkan ego dan rasa takut, memilih siap menemui ayahandanya. Tentu ini
bukan perkara mudah. Bagaimana bisa seorang lelaki muslim yang begitu taat
kepada Tuhannya, tidak tergoyah sedikitpun imannya, berani mendatangi rumah
gadis yang berbeda keyakinan dengannya. Bagaimana yakin ia bahwa keluarga gadis
protestan itu akan menerimanya? Keberanian apa yang akan ia bawa untuk
berhadapan dengan orangtua gadis tersebut?
Jawabannya
hanya satu, lelaki itu mencintai gadis berwajah oriental itu. Lelaki itu ingin
menjadikan gadis itu sebagai pasangan hidupnya. Dan ia akan berusaha semampu
yang ia bisa, urusan hasil biarlah Tuhan yang menentukan. Sebelum pergi, aku
sudah menyiapkan jawaban terbaik. Jika diterima, aku akan sangat bersyukur.
Namun jika tidak, barangkali memang inilah takdir yang sudah Tuhan gariskan
untukku.
Ayah
Agatha mempersilakanku duduk. Aku berusaha meminimalisir gejolak dalam dadaku.
Berusaha untuk tetap tenang, meski banyak pasang mata yang seolah melucuti
keberanianku. Kulihat Agatha melirikku sekilas dan melemparkan senyum simpul.
Aku membalas senyumnya, tipis saja.
“Silakan
diminum tehnya, Nak Satya,” suara berwibawa itu keluar dari mulut ayahnya. Aku
mengangguk kecil kepada lelaki yang kutaksir usianya sekitar 60 tahun itu.
Kemudian menyeruput teh melati yang mereka suguhkan padaku.
“Saya
rasa, Nak Satya ini sudah mengenal Agatha lumayan lama. Benar begitu?” bapak
berkumis tebal itu kembali bersuara.
Aku
mengangguk, “Benar, Pak,”
“Dan
menurut cerita Agatha, kalian sudah menjalin hubungan spesial sejak Agatha
masuk dan bekerja di perusahaan yang sekarang menjadi kantor bagi kalian
berdua,”
“Iya,
Pak. Benar sekali,” aku masih menjawab dengan tenang.
“Terima
kasih sudah banyak mengajarkan dan membantu Agatha selama ia berada di
perusahaan tersebut,” ayahnya tersenyum padaku. Sama sekali tidak tersirat
kebekuan di dalam senyumnya.
Aku
membalas senyum beliau, “Sama-sama, Pak. Sebenarnya Agatha juga banyak membantu
saya di kantor. Dia adalah rekan kerja yang baik,” pujiku sambil melirik
Agatha. Yang dilirik malah tersipu, meski tidak dengan ekspresi berlebihan.
“Apakah
benar Nak Satya ini adalah seorang muslim?” tanya ayahnya lagi.
Aku
rasa, pembicaraan ini akan segera menjurus ke hal-hal yang serius. Aku
mengangguk tersenyum.
“Dan
Nak Satya masih tetap bertahan menjalin sesuatu yang sama meski tahu bahwa
Agatha itu berbeda?” tanyanya lagi.
Aku
kembali tersenyum dan mengangguk, “Saya mencintai Agatha, Pak,” entah kekuatan
darimana yang kudapatkan hingga aku berani mengatakan hal sekonyol itu di depan
ayahandanya.
Kulihat
beliau tersenyum, begitu juga dengan ibu dan kedua kakak Agatha. “Kalau saya
boleh tahu, apa alasan Nak Satya bertahan sejauh ini dengan Agatha? Apakah
memang sudah seserius itu?” beliau menatapku tajam. Seperti berusaha
menjatuhkan keberanianku. Tapi lebih terkesan ingin menguji rasaku kepada anak
gadisnya.
“Tidak
ada alasan lain selain saya meyakini perasaan saya sendiri, Pak. Bahwa saya
mencintai putri bapak. Terlepas dari segala perbedaan kami,” ungkapku. Aku
masih berusaha tenang.
“Lalu,
langkah apa yang akan Nak Satya tempuh untuk membuktikan ini semua? Sekaligus
untuk meyakinkan kami sebagai keluarganya, bahwa benar-benar ada seorang lelaki
yang begitu menginginkan Agatha?” beliau tersenyum lagi.
Aku
menarik napas dalam. Mungkin inilah saatnya aku mengutarakan keinginanku sejak
dulu. Demi rasaku, aku tidak ingin bermain-main dalam urusan perasaan. Dan
setelah meminta pendapat ibu dari jauh-jauh hari, ada satu hal yang selalu
kuingat. Bahwa sejatinya Tuhan menciptakan beda dan cinta dalam satu lingkup
yang sama. Beda adalah penyakitnya, dan cinta sebagai penawarnya. Perbedaan
tidak selalu menyakitkan. Perbedaan hanyalah ujian untuk membuktikan seberapa
kuat kita menerima segala ketentuan Tuhan.
Ayah
Agatha menyeruput tehnya, lalu melirikku. Masih menunggu jawaban. Dengan
bismillah, aku utarakan keinginanku untuk menikahi Agatha. “Jika diizinkan,
saya ingin meminta Agatha dari bapak dan ibu untuk masuk ke dalam keyakinan
saya. Dengan sebuah janji, bahwa saya akan dengan sabar dan penuh cinta
mengajarkan ia tentang segala ilmu di dalam keyakinan saya,” aku menunduk,
tidak begitu berani menatap mata ayah Agatha lagi.
Aku
menangkap raut-raut kaget dari kedua kakak Agatha. Untuk kemudian, kakak
perempuan yang merupakan ipar Agatha menyahut, “Kenapa tidak Satya saja yang
masuk ke dalam keyakinan kami?” terdengar seperti sebuah tawaran yang menampar
keras gendang telingaku. Aku diam saja. Misiku bukan untuk memperdebatkan
keyakinan di dalam rumah ini. Aku hanya ingin mendapatkan izin dan juga restu
dari kedua orangtua Agatha. Khususnya ayahandanya.
Aku
kembali menatap ayahnya, seperti meminta jawaban atas segala penjelasanku tadi.
Ayahnya tersenyum, lalu menjawab, “Agatha sudah besar sekarang. Dia sudah
dewasa. Saya yakin dia sudah bisa memilih mana yang baik dan buruk. Masalah
keyakinan, saya serahkan seutuhnya pada Agatha. Dia yang akan menjalani
hidupnya. Dia yang akan mengerti tentang pilihannya kelak. Tugas saya sebagai
orangtua adalah mendidiknya sesuai dengan ajaran agama yang saya anut, sebab
dia adalah anak saya. Ketika dewasa, dia berhak memilih keyakinannya sendiri,”
terang beliau dengan sangat bijaksana.
Aku
seperti mendapat angin segar. Seolah-olah ada setumpuk kebahagiaan yang
tiba-tiba memenuhi rongga dadaku. “Agatha, apa kamu menerima segala yang telah
diutarakan Satya?” beliau bertanya kepada putri bungsunya. Kulihat senyum
Agatha merekah. Senyum itu jauh lebih indah dari biasanya. Agatha hanya
mengangguk, lalu beranjak untuk kemudian memeluk ayah terkasihnya.
Percakapan
menegangkan itu ditutup dengan jamuan makan siang bersama. Sambil membahas
rencana hubunganku dengan Agatha selanjutnya, ruang makan itu terasa begitu
hangat dan penuh dengan cinta. Aku sendiri begitu salut dan terpukau dengan
kalimat yang tadi diungkapkan oleh ayah Agatha yang nantinya juga akan menjadi
ayahku. Beruntungnya aku dipertemukan dengan orang-orang yang sepaham bahwa perbedaan
bukanlah alat untuk memecah belah segala. Perbedaan ada untuk saling menguatkan
rasa cinta.
Usai
makan siang selesai, Agatha mengantarku sampai halaman. Aku pamit dengan banyak
ucapan terima kasih atas pertemuan sehangat ini. Tak lepas kuperhatikan senyum
menghiasi wajah Agatha.
“Kau
tambah cantik,” kataku membuka percakapan.
“Jelas
saja. Aku tambah cantik sepuluh kali lipat setelah mendengar restu itu keluar
dari mulut ayahku,” Agatha tertawa.
“Usaha
kita tidak sia-sia, bukan?” aku mengedipkan sebelah mataku.
“Iya,
karena calon suamiku begitu gigih memperjuangkan segala. Dia berani menemui
calon mertuanya dalam waktu yang mendadak seperti ini,” Agatha masih tertawa.
“Iya,
dan kelak akan kuajarkan kepada anak laki-laki kita,” aku ikut tergelak.
“Sat…”
panggil Agatha usai tawa kami reda.
“Ya?”
aku menoleh dengan senyum.
“Aku
sayang kamu,” katanya tersenyum.
“Tumben?
Biasanya susah sekali mengatakan itu?” godaku.
Agatha
menggebuk dua kali helm yang sudah kukenakan. “Aku sedang belajar mengatakan
itu setiap hari. Karena setelah menikah nanti, aku akan mengatakan sayang
padamu setiap pagi,” dia terkekeh sendiri.
Aku
tertawa, mengacak rambutnya perlahan. Aku pamit pada Agatha. Dia melepasku
dengan senyum bahagia. Hari-hari berikutnya akan terasa lebih mudah bagi kami
berdua. Perbedaan ini akan segera menjadi sama. Tidak akan ada lagi
kekhawatiran. Tidak akan ada lagi ketakutan. Beda yang kami jahit hampir
sempurna. Dan akan terus menyempurna. Karena kami akan selalu belajar, bahwa
perbedaan adalah bentuk cinta dalam bungkus yang berbeda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar