Total Tayangan Halaman

Sabtu, 10 Juni 2017

Tiket Menuju Surga (Terbit 11 Juni 2017, Harian Medan Pos)

“Duhh, rajin banget sih, pagi-pagi udah bersih-bersih,” aku berteriak dari halaman depan rumahku. Tentu saja, pagi ini aku kembali mengusili Khasina, tetangga depan rumahku yang umurnya satu tahun lebih muda daripadaku. Dia adalah adik kelasku di sekolah.
“Mendingan aku kan, pagi-pagi di bulan Ramadhan ada sesuatu yang dikerjakan dan menimbulkan manfaat. Ketimbang kamu? Setiap pagi masih aja main petasan. Kayak bocah!” ejeknya tak mau kalah.
“Eeehh, jangan salah. Main petasan juga menimbulkan manfaat. Main petasan itu juga termasuk olahraga, loh.. Nih ya, aku kasih contoh. Misal ada seseorang atau lawan main kamu yang ngelempar petasannya ke arahmu, apa coba yang akan kamu lakukan? Lari, kan? Pasti kamu bakalan lari. Nah, itu apa? Lari itu juga ada manfaatnya. Pagi-pagi main petasan sambil lari-lari kan juga termasuk olahraga!” jelasku. Kali ini aku sudah mendekat ke halaman rumah Khasina. Dia masih ngedumel dan terus menyapu halaman.
“Teori dari mana itu? Selama 11 tahun aku sekolah, belum ada tuh teori permainan olahraga yang seperti itu. Dasar si tukang ngarang!” ejeknya lagi.
“Memang susah deh ngomong sama anak perempuan,” celetukku usil.
Khasina masih terus melanjutkan pekerjaan rumahnya. Dia tak menggubrisku meski aku sedang berusaha menarik perhatiannya agar marah. Yah, anak perempuan berhijab itu memang terkesan cuek, itulah sebabnya aku seringkali menggodanya dengan keusilanku.
“Sudah sana, kamu pergi,” Khasina kembali bersuara.
“Eh eh eh, kamu ngusir aku?” aku memegang dadaku, seolah-olah merasa terkejut.
“Jangan lebay deh! Keberadaanmu di sini membuat atmosfer halaman rumahku jadi gerah,” cibirnya.
“Dasar anak kecil! Berani sekali kamu mengusirku. Awas yaaa…” aku mengeluarkan satu buah petasan dari saku celanaku.
“Eh, mau ngapain?! Awas saja kalau kamu berani melemparnya padaku!” ancam Khasina lucu. Aku masih terus berpura-pura untuk menghidupkan korek api, berusaha menakut-nakutinya.
“Aku bilang pergiii! Pergi, Andiiii!” Khasina berteriak nyaring. Sayang sekali, niatku ingin menakut-nakuti Khasina dengan petasan dan berpura-pura ingin melempar ke arahnya, gagal total. Gadis itu malah dengan sengaja melempar sapu lidinya tepat ke arahku. Dan berlari secepat mungkin masuk ke dalam rumahnya. Aku yang kaget karena lemparan sapu lidinya, hanya bisa terdiam. Detik berikutnya, tawaku sudah menyembur kemana-mana.
* * *
 Sore ini, sehabis mandi aku kembali mendapati Khasina ada di rumahku. Tepatnya dia sedang cekikian berdua sama Mama di dapur. Aku yang masih dongkol dengan ulahnya pagi tadi, kembali mengganggunya. “Lemparan sapu lidimu ternyata mantap juga, ya,” aku mulai menggodanya. Khasina tampak sedikit kaget dengan kehadiran suaraku secara tiba-tiba. Kemudian dia nyengir, “Maaf deh, lagipula aku yakin sekali, terkena lemparan sapu lidiku tidak akan sesakit jika terkena lemparan petasanmu,” dia membela diri.
Aku melengos dan duduk di kursi yang menghadap ke dapur.  “Apa itu, Ma? Kelihatannya enak,” tanyaku pada Mama yang sedang menyalin sesuatu dari rantang kecil.
“Ini puding cokelat buatan Khasina, Ndi. Dia baru belajar memasak. Iya, kan, Sayang?” Mama mengelus jilbab peach Khasina. Yang dipuji hanya tersenyum simpul.
“Waahh, pasti nggak enak tuh,” celetukku. Kulihat wajah Khasina berubah cemberut.
“Oh ya, Ndi.. nanti sehabis maghrib kamu ikut tarawih ke masjid, ya. Pergi bareng saja sama Khasina. Nanti sesudah tarawih, kamu ikut tadarusan. Khasina juga tadarus di masjid, kan?” Mama bertanya sambil menoleh pada Khasina.
“Iya, Bu. Saya tiap malam ikut tadarusan di masjid dengan Ustad Hasan. Lumayanlah, Bu, tiap malam bisa dapat tiket,” Khasina tersenyum, begitu pula dengan Mama. Bedanya, Mama melirikku untuk menyetujui usulan Mama.
“Em… anu, Ma. Kayaknya Andi bakal ada acara nanti malam sama teman-teman, Ma. Hmm.. ituuu makan besar di rumah Tomi, kan dia hari ini masuk rumah baru, Ma,” aku mencoba beralasan.
“Untuk malam ini, Mama tidak izinkan kamu kemana-mana. Kamu harus tarawih dan ikut tadarus. Malu dong, sudah kelas 12 tapi baca Al-Qurannya masih macet-macet. Nanti di sana kamu bisa belajar banyak. Selain ada Ustad Hasan, ada Khasina juga kok. Nanti kamu bisa minta diajarkan sama Khasina. Ya, Sayang, ya?” Mama kembali memanggil Khasina dengan sebutan sayang. Menyebalkan.
“Ya sudah, saya pamit dulu, ya, Bu. Oh ya, Andi, selepas maghrib, aku tunggu kamu di depan rumahku, ya. Kita pergi tarawihan bareng,” Khasina tersenyum penuh kemenangan. Aku tahu sekali, dia pasti bahagia melihat aku tersiksa. Dia adalah satu-satunya anak perempuan di lingkungan rumahku yang dekat dengan Mama. Dan aku yakin, Mama sudah cerita banyak tentang aku yang jarang puasa, jarang sholat, jarang tarawih, dan jarang tadarusan.
* * *
Malam ini, perjalanan ke masjid terasa begitu panjang. Bukan, bukan karena aku tidak setuju dengan usulan Mama untuk ikut tarawih dan tadarus bersama teman-teman. Tapi lebih kepada aku sangat keberatan jika harus pergi berdua dengan Khasina, gadis berhijab yang tingkahnya sungguh menyebalkan.
“Ini masih Ramadhan kelima lho, Ndi,” Suara Khasina memecah keheningan.
“Panggil aku abang!” kataku tak terima. Khasina terkikik geli, “Untuk apa aku memanggilmu abang?” tanyanya masih dengan sisa tawa.
“Yaaa karena usiaku satu tahun lebih tua daripada kamu,” jawabku kesal.
“Aku hanya akan memanggilmu abang, jika sikap dan tingkah lakumu menunjukkan dirimu yang benar-benar sudah dewasa,” Khasina mencibirku.
Lihat, betapa beraninya dia mengejekku dengan kalimat menyakitkan itu. Kalau saja dia bukan seorang anak perempuan, tentu sudah kuajak berkelahi sejak pertama kali bertemu. Tiba-tiba aku teringat dengan ucapan Khasina pada Mama tentang tiket yang dibahas tadi sore di rumahku.
“Ehm… tadi kamu bilang ke Mama, kalau setiap malam tarawih dan tadarusan, kamu mendapat satu tiket. Tiket apa, ya, kalau aku boleh tahu?” aku menatap Khasina dengan wajah penasaran.
Khasina tertawa, “Ciyeee, yang penasaran dengan kalimatku tadi sore,”
Aku menggerutu, “Sudah, jawab saja. Aku sedang tidak ingin bercanda,” kilahku.
“Begini, kalau memang kamu ingin tahu tiket apa yang aku maksudkan tadi, nanti saja aku jelaskan setelah pulang tarawih. Itu sudah adzan Isya, aku masuk duluan, ya.” Khasina pergi menuju kanan masjid dan bergabung dengan para perempuan lain. Aku yang masih bingung dengan ujung kalimat Khasina, tertegun sejenak. Tiket apa yang dimaksudkan? Apa mungkin Ustad Hasan menghadiahi para remaja yang mau tadarusan dengan satu tiket nonton konser musik atau tiket nonton di bioskop? Jika memang benar seperti itu, kenapa aku baru tahu sekarang? Kan lumayan, jika tiap malam aku mendapat satu tiket gratis nonton di bioskop, bisa ngajak teman-teman buat nonton bareng dengan tiket gratis itu. Aku terkikik sendiri dengan khayalanku, lalu masuk ke masjid untuk menunaikan Isya dan tarawih.
* * *
Setelah selesai tarawih dan tadarusan dengan dibimbing Ustad Hasan, kami pun diizinkan untuk pulang. Aku terheran karena tidak satupun dari kami yang mendapatkan tiket nonton konser musik atau tiket nonton bioskop. Bahkan Ustad Hasan tidak membahas sedikitpun mengenai tiket seperti yang digadang-gadangkan Khasina padaku. Maka, ketika kami berdua beriringan menuju rumah, aku meluapkan penasaran dan rasa kesalku pada gadis menyebalkan itu.
“Dasar pembohong kamu! Mana tiket yang kamu janjikan padaku jika aku ikut tarawih dan tadarusan malam ini?” Aku mencecarnya dengan penuh kekesalan.
Khasina yang tampak kaget dengan ucapanku, melirikku sekilas, lalu menghela napas, “Memangnya kamu mengharapkan tiket seperti apa ketika aku mengatakan itu sore tadi?”
“Yaaa, minimal tiket nonton bioskop atau nonton konser musik, kek…” ujarku.
Khasina hanya tertawa, kudengar suara tawanya yang khas memenuhi gendang telingaku. “Andi, bagaimana mungkin kamu berpikiran seperti itu? Masa kamu beribadah kepada Allah hanya untuk mengharapkan sebuah tiket nonton bioskop dan konser musik?” Khasina masih belum usai dengan tawanya. Aku terdiam. Merasa bodoh ketika Khasina menertawakanku seperti ini.
Ketika tawanya selesai, Khasina mulai berbicara lagi.
“Usia kita sudah bukan kanak-kanak lagi, Ndi. Seharusnya, di bulan Ramadhan yang penuh keberkahan ini, kita tidak menyia-nyiakannya dengan percuma. Segala hal yang dilakukan di bulan Ramadhan ini, pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Bahkan saking berkahnya bulan suci ini, kegiatan tidur pun mendapatkan pahala. Begitu baiknya Allah pada kita, masa kamu hanya berharap mendapat tiket nonton bioskop dan konser musik, sih?” tanya Khasina serius. Kulihat dia tersenyum saat aku meliriknya.
“Seharusnya kamu bisa berharap lebih dari pada itu. Aku lihat, kamu itu adalah anak laki-laki yang baik. Ya, meskipun setiap bertemu kita selalu bertengkar. Aku minta maaf jika aku teramat menyebalkan di matamu. Tapi, aku di sini hanya ingin membantumu menjadi lebih baik lagi. Mulai besok, kamu harus puasa. Orang-orang yang tidak berpuasa, tidak berhak mencium bau surga. Atau paling tidak, tidak berhak menemu hari lebaran. Karena lebaran itu hanya untuk mereka yang sudah berpuasa penuh selama satu bulan.”
“Mulai besok juga, kamu harus sholat lima waktu. Puasa tanpa sholat, ibarat memakai baju tapi tidak memakai celana. Ibarat bekerja tapi tidak mendapat gaji. Akan sia-sia, bukan? Dan kamu juga harus tarawih. Sholat tarawih itu hanya ada di bulan Ramadhan, jadi jangan ditinggalkan dan disia-siakan. Dan kamu harus membaca Al-Quran atau tadarus. Ingat, Ndi, kita sudah baligh, dosa kita bukan lagi urusan ayah-ibu kita.” jelas Khasina panjang lebar.
Aku terdiam. Segala ucapan Khasina benar-benar menyentuh hatiku. Dan dia menyadarkanku akan kekeliruanku selama ini. Tapi, rasa penasaranku akan tiket itu kembali membuncah, “Jadi, maksud tiket yang kamu katakan tadi itu, apa?”
Khasina tersenyum, “Di bulan Ramadhan ini, semua umat muslim di dunia memang sedang berburu tiket itu, Ndi. Tiket menuju surga. Menuju surganya Allah, menuju keberkahan dan kemenangan.”

Aku haru sekali mendengar penjelasan Khasina. Anak perempuan menyebalkan itu ternyata lebih dewasa dari usianya. Kagum sekali aku padanya malam ini. Dia telah membukakan pikiranku tentang indahnya Ramadhan. Dan aku rasa, tidak ada alasan lagi bagiku untuk tidak segera memperbaiki diri di bulan suci ini. Tanpa sadar, aku mengucapkan terima kasih pada Khasina atas nasihat baiknya malam ini. Khasina tersenyum, manis sekali. Kami melanjutkan langkah menuju rumah. Diam-diam aku mulai mengaguminya. Mungkin ini nih yang dikatakan Mama sebagai calon istri idaman. Aku tertawa dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar