“Duhh,
rajin banget sih, pagi-pagi udah bersih-bersih,” aku berteriak dari halaman
depan rumahku. Tentu saja, pagi ini aku kembali mengusili Khasina, tetangga
depan rumahku yang umurnya satu tahun lebih muda daripadaku. Dia adalah adik
kelasku di sekolah.
“Mendingan
aku kan, pagi-pagi di bulan Ramadhan ada sesuatu yang dikerjakan dan
menimbulkan manfaat. Ketimbang kamu? Setiap pagi masih aja main petasan. Kayak
bocah!” ejeknya tak mau kalah.
“Eeehh,
jangan salah. Main petasan juga menimbulkan manfaat. Main petasan itu juga
termasuk olahraga, loh.. Nih ya, aku kasih contoh. Misal ada seseorang atau
lawan main kamu yang ngelempar petasannya ke arahmu, apa coba yang akan kamu
lakukan? Lari, kan? Pasti kamu bakalan lari. Nah, itu apa? Lari itu juga ada
manfaatnya. Pagi-pagi main petasan sambil lari-lari kan juga termasuk
olahraga!” jelasku. Kali ini aku sudah mendekat ke halaman rumah Khasina. Dia
masih ngedumel dan terus menyapu halaman.
“Teori
dari mana itu? Selama 11 tahun aku sekolah, belum ada tuh teori permainan
olahraga yang seperti itu. Dasar si tukang ngarang!” ejeknya lagi.
“Memang
susah deh ngomong sama anak perempuan,” celetukku usil.
Khasina
masih terus melanjutkan pekerjaan rumahnya. Dia tak menggubrisku meski aku
sedang berusaha menarik perhatiannya agar marah. Yah, anak perempuan berhijab
itu memang terkesan cuek, itulah sebabnya aku seringkali menggodanya dengan
keusilanku.
“Sudah
sana, kamu pergi,” Khasina kembali bersuara.
“Eh
eh eh, kamu ngusir aku?” aku memegang dadaku, seolah-olah merasa terkejut.
“Jangan
lebay deh! Keberadaanmu di sini membuat atmosfer halaman rumahku jadi gerah,”
cibirnya.
“Dasar
anak kecil! Berani sekali kamu mengusirku. Awas yaaa…” aku mengeluarkan satu
buah petasan dari saku celanaku.
“Eh,
mau ngapain?! Awas saja kalau kamu berani melemparnya padaku!” ancam Khasina
lucu. Aku masih terus berpura-pura untuk menghidupkan korek api, berusaha
menakut-nakutinya.
“Aku
bilang pergiii! Pergi, Andiiii!” Khasina berteriak nyaring. Sayang sekali, niatku
ingin menakut-nakuti Khasina dengan petasan dan berpura-pura ingin melempar ke
arahnya, gagal total. Gadis itu malah dengan sengaja melempar sapu lidinya
tepat ke arahku. Dan berlari secepat mungkin masuk ke dalam rumahnya. Aku yang
kaget karena lemparan sapu lidinya, hanya bisa terdiam. Detik berikutnya,
tawaku sudah menyembur kemana-mana.
*
* *
Sore ini, sehabis mandi aku kembali mendapati
Khasina ada di rumahku. Tepatnya dia sedang cekikian berdua sama Mama di dapur.
Aku yang masih dongkol dengan ulahnya pagi tadi, kembali mengganggunya.
“Lemparan sapu lidimu ternyata mantap juga, ya,” aku mulai menggodanya. Khasina
tampak sedikit kaget dengan kehadiran suaraku secara tiba-tiba. Kemudian dia
nyengir, “Maaf deh, lagipula aku yakin sekali, terkena lemparan sapu lidiku
tidak akan sesakit jika terkena lemparan petasanmu,” dia membela diri.
Aku
melengos dan duduk di kursi yang menghadap ke dapur. “Apa itu, Ma? Kelihatannya enak,” tanyaku
pada Mama yang sedang menyalin sesuatu dari rantang kecil.
“Ini
puding cokelat buatan Khasina, Ndi. Dia baru belajar memasak. Iya, kan,
Sayang?” Mama mengelus jilbab peach
Khasina. Yang dipuji hanya tersenyum simpul.
“Waahh,
pasti nggak enak tuh,” celetukku. Kulihat wajah Khasina berubah cemberut.
“Oh
ya, Ndi.. nanti sehabis maghrib kamu ikut tarawih ke masjid, ya. Pergi bareng
saja sama Khasina. Nanti sesudah tarawih, kamu ikut tadarusan. Khasina juga
tadarus di masjid, kan?” Mama bertanya sambil menoleh pada Khasina.
“Iya,
Bu. Saya tiap malam ikut tadarusan di masjid dengan Ustad Hasan. Lumayanlah,
Bu, tiap malam bisa dapat tiket,” Khasina tersenyum, begitu pula dengan Mama.
Bedanya, Mama melirikku untuk menyetujui usulan Mama.
“Em…
anu, Ma. Kayaknya Andi bakal ada acara nanti malam sama teman-teman, Ma. Hmm..
ituuu makan besar di rumah Tomi, kan dia hari ini masuk rumah baru, Ma,” aku
mencoba beralasan.
“Untuk
malam ini, Mama tidak izinkan kamu kemana-mana. Kamu harus tarawih dan ikut
tadarus. Malu dong, sudah kelas 12 tapi baca Al-Qurannya masih macet-macet.
Nanti di sana kamu bisa belajar banyak. Selain ada Ustad Hasan, ada Khasina
juga kok. Nanti kamu bisa minta diajarkan sama Khasina. Ya, Sayang, ya?” Mama
kembali memanggil Khasina dengan sebutan sayang. Menyebalkan.
“Ya
sudah, saya pamit dulu, ya, Bu. Oh ya, Andi, selepas maghrib, aku tunggu kamu
di depan rumahku, ya. Kita pergi tarawihan bareng,” Khasina tersenyum penuh
kemenangan. Aku tahu sekali, dia pasti bahagia melihat aku tersiksa. Dia adalah
satu-satunya anak perempuan di lingkungan rumahku yang dekat dengan Mama. Dan
aku yakin, Mama sudah cerita banyak tentang aku yang jarang puasa, jarang
sholat, jarang tarawih, dan jarang tadarusan.
*
* *
Malam
ini, perjalanan ke masjid terasa begitu panjang. Bukan, bukan karena aku tidak
setuju dengan usulan Mama untuk ikut tarawih dan tadarus bersama teman-teman.
Tapi lebih kepada aku sangat keberatan jika harus pergi berdua dengan Khasina,
gadis berhijab yang tingkahnya sungguh menyebalkan.
“Ini
masih Ramadhan kelima lho, Ndi,” Suara Khasina memecah keheningan.
“Panggil
aku abang!” kataku tak terima. Khasina terkikik geli, “Untuk apa aku
memanggilmu abang?” tanyanya masih dengan sisa tawa.
“Yaaa
karena usiaku satu tahun lebih tua daripada kamu,” jawabku kesal.
“Aku
hanya akan memanggilmu abang, jika sikap dan tingkah lakumu menunjukkan dirimu
yang benar-benar sudah dewasa,” Khasina mencibirku.
Lihat,
betapa beraninya dia mengejekku dengan kalimat menyakitkan itu. Kalau saja dia
bukan seorang anak perempuan, tentu sudah kuajak berkelahi sejak pertama kali
bertemu. Tiba-tiba aku teringat dengan ucapan Khasina pada Mama tentang tiket
yang dibahas tadi sore di rumahku.
“Ehm…
tadi kamu bilang ke Mama, kalau setiap malam tarawih dan tadarusan, kamu
mendapat satu tiket. Tiket apa, ya, kalau aku boleh tahu?” aku menatap Khasina
dengan wajah penasaran.
Khasina
tertawa, “Ciyeee, yang penasaran dengan kalimatku tadi sore,”
Aku
menggerutu, “Sudah, jawab saja. Aku sedang tidak ingin bercanda,” kilahku.
“Begini,
kalau memang kamu ingin tahu tiket apa yang aku maksudkan tadi, nanti saja aku
jelaskan setelah pulang tarawih. Itu sudah adzan Isya, aku masuk duluan, ya.”
Khasina pergi menuju kanan masjid dan bergabung dengan para perempuan lain. Aku
yang masih bingung dengan ujung kalimat Khasina, tertegun sejenak. Tiket apa
yang dimaksudkan? Apa mungkin Ustad Hasan menghadiahi para remaja yang mau
tadarusan dengan satu tiket nonton konser musik atau tiket nonton di bioskop?
Jika memang benar seperti itu, kenapa aku baru tahu sekarang? Kan lumayan, jika
tiap malam aku mendapat satu tiket gratis nonton di bioskop, bisa ngajak
teman-teman buat nonton bareng dengan tiket gratis itu. Aku terkikik sendiri
dengan khayalanku, lalu masuk ke masjid untuk menunaikan Isya dan tarawih.
*
* *
Setelah
selesai tarawih dan tadarusan dengan dibimbing Ustad Hasan, kami pun diizinkan
untuk pulang. Aku terheran karena tidak satupun dari kami yang mendapatkan
tiket nonton konser musik atau tiket nonton bioskop. Bahkan Ustad Hasan tidak
membahas sedikitpun mengenai tiket seperti yang digadang-gadangkan Khasina padaku.
Maka, ketika kami berdua beriringan menuju rumah, aku meluapkan penasaran dan
rasa kesalku pada gadis menyebalkan itu.
“Dasar
pembohong kamu! Mana tiket yang kamu janjikan padaku jika aku ikut tarawih dan
tadarusan malam ini?” Aku mencecarnya dengan penuh kekesalan.
Khasina
yang tampak kaget dengan ucapanku, melirikku sekilas, lalu menghela napas,
“Memangnya kamu mengharapkan tiket seperti apa ketika aku mengatakan itu sore
tadi?”
“Yaaa,
minimal tiket nonton bioskop atau nonton konser musik, kek…” ujarku.
Khasina
hanya tertawa, kudengar suara tawanya yang khas memenuhi gendang telingaku.
“Andi, bagaimana mungkin kamu berpikiran seperti itu? Masa kamu beribadah
kepada Allah hanya untuk mengharapkan sebuah tiket nonton bioskop dan konser
musik?” Khasina masih belum usai dengan tawanya. Aku terdiam. Merasa bodoh
ketika Khasina menertawakanku seperti ini.
Ketika
tawanya selesai, Khasina mulai berbicara lagi.
“Usia
kita sudah bukan kanak-kanak lagi, Ndi. Seharusnya, di bulan Ramadhan yang
penuh keberkahan ini, kita tidak menyia-nyiakannya dengan percuma. Segala hal
yang dilakukan di bulan Ramadhan ini, pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah
SWT. Bahkan saking berkahnya bulan suci ini, kegiatan tidur pun mendapatkan
pahala. Begitu baiknya Allah pada kita, masa kamu hanya berharap mendapat tiket
nonton bioskop dan konser musik, sih?” tanya Khasina serius. Kulihat dia
tersenyum saat aku meliriknya.
“Seharusnya
kamu bisa berharap lebih dari pada itu. Aku lihat, kamu itu adalah anak
laki-laki yang baik. Ya, meskipun setiap bertemu kita selalu bertengkar. Aku
minta maaf jika aku teramat menyebalkan di matamu. Tapi, aku di sini hanya
ingin membantumu menjadi lebih baik lagi. Mulai besok, kamu harus puasa.
Orang-orang yang tidak berpuasa, tidak berhak mencium bau surga. Atau paling
tidak, tidak berhak menemu hari lebaran. Karena lebaran itu hanya untuk mereka
yang sudah berpuasa penuh selama satu bulan.”
“Mulai
besok juga, kamu harus sholat lima waktu. Puasa tanpa sholat, ibarat memakai
baju tapi tidak memakai celana. Ibarat bekerja tapi tidak mendapat gaji. Akan
sia-sia, bukan? Dan kamu juga harus tarawih. Sholat tarawih itu hanya ada di
bulan Ramadhan, jadi jangan ditinggalkan dan disia-siakan. Dan kamu harus
membaca Al-Quran atau tadarus. Ingat, Ndi, kita sudah baligh, dosa kita bukan
lagi urusan ayah-ibu kita.” jelas Khasina panjang lebar.
Aku
terdiam. Segala ucapan Khasina benar-benar menyentuh hatiku. Dan dia
menyadarkanku akan kekeliruanku selama ini. Tapi, rasa penasaranku akan tiket
itu kembali membuncah, “Jadi, maksud tiket yang kamu katakan tadi itu, apa?”
Khasina
tersenyum, “Di bulan Ramadhan ini, semua umat muslim di dunia memang sedang
berburu tiket itu, Ndi. Tiket menuju surga. Menuju surganya Allah, menuju
keberkahan dan kemenangan.”
Aku
haru sekali mendengar penjelasan Khasina. Anak perempuan menyebalkan itu
ternyata lebih dewasa dari usianya. Kagum sekali aku padanya malam ini. Dia
telah membukakan pikiranku tentang indahnya Ramadhan. Dan aku rasa, tidak ada
alasan lagi bagiku untuk tidak segera memperbaiki diri di bulan suci ini. Tanpa
sadar, aku mengucapkan terima kasih pada Khasina atas nasihat baiknya malam ini.
Khasina tersenyum, manis sekali. Kami melanjutkan langkah menuju rumah. Diam-diam
aku mulai mengaguminya. Mungkin ini nih yang dikatakan Mama sebagai calon istri
idaman. Aku tertawa dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar