“Menjadi
kekasihmu seperti menanak luka dan menyiramnya dengan cuka,” katamu di suatu
sore. Kala itu, kita sedang menikmati pesanan es krim di sebuah café langganan
kita—double truffle dan mint chocolate chip untukmu, vanilla chip dan cheesecake untukku. Kita duduk di salah satu meja kecil yang
menempel di dinding. Sore ini kau tampak begitu cantik, dengan dress pink fuschia dengan sweater warna
senada. Rambut panjangmu tergerai indah, dengan bandana putih di atasnya.
Aku
menyendok es krim ke mulut, “Tapi kau selalu punya penawarnya, kan?” sahutku.
“Tidak
selalu. Terkadang tembok itu membuatku berpikir bahwa aku tidak akan mampu
melewatinya,” kudengar suara pesimis dari nada suaramu. Aku membetulkan letak
dudukku, mencoba menangkap sesuatu dari tirai matamu. Ada sekelebat takut di
sana, juga secercah lelah menghiasinya.
“Kau
ingin menyerah?” tanyaku kemudian. Gadis dengan lesung pipi yang sejak dua
tahun lalu menjadi kekasihku itu menggeleng.
“Lalu
kenapa membahas hal ini lagi? Bukankah kita sudah sama-sama sepakat bahwa kita
akan menjahit beda? Kau tidak ingin mengingkari omonganmu sendiri, kan?”
tegasku lagi.
“Tidak,
Satya. Belakangan ini aku hanya terlalu banyak berpikir, apakah tengadah
tanganmu dan lipatan tanganku bisa bersatu?” suaranya mulai bergetar. Gadis itu
mengaduk-aduk sisa es krimnya. Sudah tak berniat lagi untuk menghabiskan.
Barangkali selera makannya juga sudah menguap entah kemana.
“Jika
dua tahun ini baik-baik saja, mengapa sore ini kau begitu gelisah, Agatha?”
tanyaku kemudian. Aku mencoba menenangkannya dengan tatapanku. Meyakinkannya
bahwa segalanya bisa dijalani sama-sama. Agatha menatapku, masih sama
tatapannya seperti pertama kali kami berkenalan. Bertemu dalam sebuah pekerjaan
adalah hal biasa. Tetapi selalu kepikiran hingga malam menjelang adalah bagian
dari rencana Tuhan. Begitu pikirku kala itu.
Kami
dekat dan semakin akrab tatkala aku tahu bahwa dia juga seorang penulis. Tulisannya
melalangbuana di berbagai media dan aku mengetahuinya karena aku pecandu
aksara. Aku suka membaca. Dan sudah jatuh cinta dengan buku sejak zaman batu.
Agatha tertawa jika aku mengatakan hal itu. Dia bilang aku adalah tipe
laki-laki unik. Terunik yang pernah ditemuinya selama 22 tahun hidupnya.
Kami
sering membahas hal-hal seputar dunia kepenulisan. Tentang novel-novel keluaran
terbaru, tentang Afi Nihaya Faradisa yang begitu kontroversial dengan
tulisannya, atau tentang impian Agatha menelurkan sebuah novel terbarunya. Aku
bukan hanya menjadi pendengar yang baik untuk tulisan-tulisannya, terkadang aku
juga senang memberi kritik dan saran untuk kemajuan tulisannya. Dan Agatha
selalu menerima itu dengan senang hati.
Lamunanku
buyar ketika kudengar suara adzan maghrib berkumandang. Agatha menatapku, “Mau
kutemani ke masjid?” dia tersenyum manis sekali. Aku membalas senyumnya dan
bangkit dari dudukku. Membayar bill dan
langsung menuju masjid terdekat dari café ini. Beginilah, keyakinan kami
berbeda, namun cinta kami sama. Agatha selalu suka menemaniku pergi ke masjid
jika kami sedang berada di luar rumah bersama. Atau jika kami sedang melakukan
pekerjaan berdua.
“Kau
tidak mau masuk denganku?” aku menggodanya.
Agatha
meninju bahuku, “Mungkin lain kali. Sampaikan salamku pada Tuhanmu, ya,” dia
tersenyum, membalas gurauanku.
Aku
berbalik dan menuju tempat berwudhu. Sementara Agatha menungguku di atas sepeda
motor. Kami berbeda, namun rasa kami sama. Sehingga apapun yang terjadi, kami
akan melewatinya bersama-sama. Meski beberapa pasang mata di tempat kerja
memandang sinis, meski beberapa keluarga Agatha menatap tak suka, terlebih
ayahandanya. Tapi aku selalu berkata pada Agatha bahwa apa-apa yang telah
ditulis Tuhan di Mahfudz-Nya, tidak akan bisa dihancurkan manusia. Siapapun
dia.
Aku
yakin Agatha tak terlalu paham dengan ucapanku, tapi aku tahu bahwa dia adalah
gadis yang cerdas. Dia pasti bisa mengartikan maksudku. Kini, dua tahun sudah
kami berjuang walau kesakitan. Dua tahun sudah kami menjahit beda agar menjadi
sama. Dan dua tahun pula, kami sibuk berdoa dengan bahasa masing-masing. Aku
masih tetap mencumbu Al-Quran, dan Agatha masih tetap mencumbu Al-Kitab. Aku
masih sibuk berdoa dengan menengadahkan tangan, Agatha masih asik berdoa dengan
melipat tangan. Aku masih sibuk dengan butiran tasbih, Agatha pun sibuk dengan
kalung salibnya.
Segalanya
kami jalani dengan cara yang berbeda, namun demi tujuan dan perasaan yang sama.
Pernah suatu waktu, Agatha menanyakan keadilan Tuhan padanya. Saat kutemui ia
pulang dari gereja seusai misa pagi.
“Mengapa
aku harus jatuh cinta pada lelaki muslim yang sangat mencintai Tuhannya?” itu
pertanyaan kesekian yang Agatha lontarkan padaku.
“Mengapa
kau suka bertanya hal yang aku tidak tahu jawabannya?” aku mencoba bergurau.
“Kau
tahu, terkadang aku merasa tersiksa. Mengapa Tuhan membuat kita saling jatuh
cinta, jika pada akhirnya kita tidak akan bisa bersama? Mengapa Tuhan sisipkan
luka saat kita berdua sedang jatuh cinta? Mengapa pula Tuhan membuat perbedaan,
jika pada akhirnya yang beda ingin disatukan?” Agatha mulai berceracau.
Begitulah
perempuan. Dia selalu berusaha mengungkapkan hal-hal yang menjadi ketakutannya
pada kekasihnya. Dia selalu berusaha mengais jawaban untuk segala kekalutannya.
Dia selalu mencoba mencari jalan agar keinginannya dikabulkan. Tapi
mengertilah, Sayang, selalu ada hal yang hanya Tuhan yang tahu jawaban
tepatnya.
“Bukankah
hidup umat manusia memang selalu penuh dengan perbedaan? Mengapa
dipermasalahkan, jika beberapa orang bilang bahwa perbedaan itu indah.
Tergantung bagaimana cara kita menyikapinya. Mengapa sekarang kau seolah-olah
sedang menghakimi Tuhan, Agatha?” tanyaku.
“Kau
tahu, apa yang pastor katakan saat misa pagi tadi?” Agatha menatapku tajam.
“Apa?”
aku menjawabnya tenang.
“Dia
bilang, jika salah satu dari kami mencintai yang beda agama, itu sama saja
dengan sengaja kami menyakiti hati Tuhan,” Agatha menarik napas dalam, kemudian
menunduk.
Aku
juga diam. Tidak mau berdebat dengannya terlalu dalam. Kau adalah Protestan
yang taat, aku tahu itu. Namun, aku juga amat sangat mencintai Rabb-ku. Aku
mencintai Rasul-ku. Untuk hal-hal macam ini, aku tidak berani mencecarmu
terlalu jauh. Keyakinan kita masih sama-sama kuat. Tidak ada yang ingin
terbantahkan. Tidak ada yang bersedia mengalah.
“Pastor
bilang begitu. Tapi dia tidak tahu, bahwa aku sangat mencintaimu,” Agatha
bersuara lagi. Kali ini, dia menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.
Oh,
sungguh aku tidak bisa ditatap seperti itu. Sedalam itukah sayang perempuan ini
padaku? Dan tak bisa dipungkiri, aku pun telah sayang padanya sejak hari-hari
lalu. Meski selalu ada luka, namun bersamanya selalu saja aku bahagia.
Aku
keluar dari masjid dan menghampiri Agatha yang sedang asik dengan handphone-nya. Kulihat dia tidak
menyadari kedatanganku. Aku menjawil telinganya. Dia kaget dan memelototiku,
“Jangan jahil deh…” sungutnya lucu.
Aku
mengantar Agatha kembali ke rumahnya. Kami tiba dalam waktu 20 menit. Sebelum
dia masuk ke dalam rumah, aku iseng menarik setangkai mawar putih yang ada di
pot kecil berwarna emas di samping gerbang. Lalu kusodorkan pada Agatha.
Dia
melotot dan kembali dengan kebiasaannya; marah-marah, “Ih, itukan bunga
kesayangan mama!” Aku cuma bisa nyengir, “Will
you marry me?” kataku kemudian. Agatha tampak salah tingkah. Aku menatapnya
dengan senyum simpul. Dia menggaruk tengkuknya. Detik berikutnya, aku sudah
terbahak. Wajah Agatha merah padam. Dia malu, dan itu terlihat sangat lucu. Aku
masih sibuk dengan gelakku. Dia meninju bahuku kuat.
“Aktingmu
jelek!” sungutnya.
“Ini
hanya latihan, siapa tahu suatu hari nanti aku akan mengatakan itu padamu,”
jawabku tersenyum.
“Memangnya
kau berani?” tantangnya.
“Kenapa
tidak? Aku ini Romeo masa kini, yang akan selalu memperjuangkan cintanya.
Apalagi kenyataannya, kekasihku lebih cantik dari Juliet,” aku menggodanya
lagi.
Agatha
mencibir, “Coba saja kalau berani, malam ini kau sudah merusak bunga kesayangan
mama. Jika besok kau kemari, habislah kau kena pelototannya,” Agatha
menakut-nakutiku.
“Ahh,
calon mertuaku tidak akan sejahat itu, Sayang…” aku terbahak. Agatha kembali
tersenyum lebar. Tidak habis pikir mengapa ia bisa jatuh cinta pada lelaki
muslim yang doyan guyon ini.
Kami
berpisah ketika kupastikan Agatha sudah masuk ke dalam rumah. Aku pun mulai
menstater motorku dan membawanya pulang ke rumah. Aku rebah setelah lima belas
menit bertarung dengan dingin dan debu jalanan. Kulirik arlojiku, pukul 11
malam. Pikiranku melayang dan hinggap di percakapan depan gerbang beberapa
waktu lalu. Jujur, aku adalah lelaki yang berhak memilih. Dan aku sangat ingin
memilih Agatha untuk menjadi pasangan hidupku. Tapi, apakah Tuhan akan
merestui? Jika perbedaan yang mengikat kami sangatlah kuat?
Bip bip..
Pesan
blackberry messanger dari Agatha
masuk ke hapeku.
Papa ingin bertemu kamu besok.
Aku
terlonjak dari rebahku. Kaget. Tidak percaya dengan apa yang kubaca.
Ini sudah malam, Agatha. Leluconmu
tidak lucu, ah… balasku dengan emoji kesal.
Kulihat
Agatha sedang mengetik lagi : “Aku tidak
sedang bercanda. Datanglah pukul 10 pagi. Malam ini, aku telah menceritakan
semuanya pada Papa. Termasuk tentang pilihanku hidup bersamamu. Papa menungguku
di ruang keluarga tadi, dan bertanya tentang seberapa serius kamu padaku. Untuk
itu, datanglah besok. Yakinkan Papa…”
Aku
menelan ludah membacanya. Kulirik arloji lagi, hanya tinggal menghitung jam,
aku akan bertemu pagi. Mengapa secepat ini? Ah, dua tahun bukanlah waktu yang
singkat. Luka dan ketakutan Agatha akan terjawab esok pagi. Tapi, aku bahkan
belum menyiapkan amunisi apapun untuk bertemu ayahnya besok. Bagaimana pun, aku
harus menemuinya dengan dua kemungkinan: ditolak atau menolak. Bersama atau
berpisah. Tapi, bagaimana jika aku beralasan saja? Haruskah kutemui ayahnya?
Atau menghindar saja? Bukankah ini terlalu mendadak? Tiba-tiba, kepalaku
berdenyut. Haruskah aku menyerah?
bersambung…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar