Total Tayangan Halaman

Minggu, 04 Juni 2017

Long Distance Relationsweet (Terbit 04 Juni 2017, Harian Medan Pos)

Pagi ketujuh tanpa kamu. Ada sembab yang masih bertamu di mataku. Ada rindu yang masih menggebu dalam dadaku. Kiranya aku belum terlalu siap berada di posisi ini. Jauh darimu, dari ragamu, juga harum tubuhmu. Sesekali kusisir kenangan, betapa baru kemarin kamu masih membercandaiku. Menarik hidungku dan mengacak rambutku.  Tapi tiba-tiba, pagi ini, kusadari kamu telah jauh. Jauh ratusan kilometer dari tempatku berpijak. Tidak lagi di sini, membantu mewarnai hari.
Kekasih, baru aku tahu bagaimana rasanya rindu tanpa temu. Dia beranak pinak hingga aku kewalahan menampungnya. Semakin hari ia semakin bertumbuh, padahal kepergianmu baru satu minggu. Bagaimana ini? Hanya keping suaramu dari sambungan telepon-lah yang bisa membantu mengobatinya. Jika tidak, rinduku akan terus membengkak hingga akhirnya meledak.
Aku menghapus sisa air mata tadi malam. Menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakanmu dari pikiran. Hubungan jarak jauh ini sungguh menyiksa. Rindu tak bisa disentuh, perlu tak bisa bertemu. Tapi kamu bilang, ini adalah wadah belajar dewasa. Kamu bilang, ini saatnya belajar menekan egois yang terkadang bengis. Ini saatnya belajar untuk menekan emosi dan sensi. Ini wadah terbaik untuk mendewasakan diri.
Aku menghela napas, mencoba menerima semua diksi yang keluar dari mulutmu. Kulihat kau lebih tegar dari biasanya. Kulihat tak kau umbar lagi kata rindu seperti dulu. Barangkali kau tidak ingin membebaniku terlalu jauh, bahwa rindu tanpa temu seperti pembunuh yang jitu. Ya, aku paham maksudmu. Kamu hanya ingin aku bahagia, meski kamu jauh di sana. Kamu hanya ingin aku bahagia, meski jarak membuat luka.
Kuketik sesuatu dalam layar handphone-ku : “Beberapa malam ini, aku jadi lebih cengeng karenamu. Suka gampang nangis kalau ingat tentang kamu. Maaf, jika aku tak sekuat yang kamu mau. Aku hanya belum siap menerima semuanya. Tapi aku tidak akan pernah lelah untuk berusaha. Sesekali kukirim cinta lewat tirai-tirai doa. Semoga kamu sukses, sehat, dan bahagia di sana.” Kutekan layar sent menuju handphone-mu. Menit berikutnya, kudapati emoji peluk dua puluh kali darimu. Sungguh, rinduku bukan makin sembuh, tapi makin membiru.
Aku masih tetap menjalani hari-hari seperti biasa. Meski kadang sesekali, bayangmu mengetuk-ngetuk isi kepala. Sesak semakin meraja ketika rindu tak bisa diajak bercanda. Menjumpaimu dalam ingatan, nyatanya membuatku semakin kewalahan. Tapi aku terus belajar, meminimalisir luka dan menggantinya dengan bahagia. Hari berikutnya, aku mulai terbiasa. Tidak serta-merta, tapi aku rasa ini sudah lebih baik dari sebelumnya. Aku tidak lagi menangis kala malam. Mataku juga tak lagi sembab kala pagi bertandang. Aku sudah bisa tersenyum, sudah bisa berdamai dengan keadaan. Sudah bisa mengatur hati kala rindu menghampiri.
Ternyata, hubungan jarak jauh tak semudah yang dibayangkan. Namun tak sesulit apa kata orang. Semuanya masih terasa manis meski duka terkadang sering mengikis. Kamu selalu menyempatkan waktu meneleponku. Menanyakan kabar hari ini, juga mengecek kadar rinduku malam ini.
“Sudah makan?” tanyamu lewat sambungan telepon.
“Belum, nanti saja,” jawabku sekenanya.
“Makan dulu sana. Jangan bertingkah,” katamu datar.
“Dengar suaramu saja aku sudah kenyang kok,” jawabku membercandaimu.
Kudengar kau tertawa, “Sudah pandai menggombal ternyata,” celetukmu terkekeh. Di sini, aku tersenyum mendengar tawamu. Membayangkan caramu tertawa, semakin membuatku rindu saja.
“Jangan cengeng-cengeng lagi, ya,” katamu kemudian.
“Nggak bisa. Sekarang, selain nulis, hobiku ya nangis,” jawabku tertawa.
Kamu juga tertawa, “Jangan gitu. Perempuanku harus kuat. Jangan nangis hanya karena aku ngangenin,” balasmu tak mau kalah.
Aku mencibir, kamu kembali tergelak. Suasana malam itu terasa hangat. Membuat rinduku sedikit terobati. Kamu menasehatiku banyak hal, tentang masa depan dan tentang semester tua yang mulai tiba. Kamu juga menasehati agar aku tak lagi menangis. Ah, apakah aku tampak secengeng itu di matamu? Apapun jawabanmu, yang aku tahu, tangisku adalah bentuk rindu yang luruh atas namamu.
“Nanti, jika ada waktu luang, aku akan main lagi ke sana. Main ke rumahmu dan nonton Disney kesukaanmu. Atau makan coklat berdua sambil membantumu merangkai puisi dan cerita fiksi,” suaramu terdengar manis di telingaku. Aku tersenyum, kemudian menjawab dengan berdeham kecil. Kamu melanjutkan kalimatmu, “Jangan takut. Aku di sini tidak akan macam-macam. Lagipula, aku hanya bisa jatuh cinta pada satu perempuan bernama Nanda. Itu saja,” katamu terkekeh. “Gombalanmu menampar sekali,” aku ikut tertawa.
“Doakan ya, agar aku cepat dapat kerja dan kembali menemuimu di sana. Bawa aku selalu dalam doamu. Bawa kenangan kita dalam tiap pijak kakimu. Agar kita tetap merasa utuh meski saat ini kita sedang jauh,”  ungkapmu parau. Aku diam, meresapi setiap kalimat indahmu. Itu bukan sekadar kata-kata, bagiku itu sebuah pengharapan berbungkus doa. Aku mengaminkannya di dalam hati. Kembali menyimak setiap diksi dari mulutmu.
“Semuanya akan baik-baik saja, selama kita terbuka dan saling percaya,” katamu lembut. Aku tersenyum sekali lagi, meski aku tahu kamu tidak bisa melihatnya. “Aku cuma bisa berdoa, semoga di tahun-tahun berikutnya, perasaan kita masih sama. Semoga di tahun-tahun berikutnya, cuma aku perempuan yang menempati hatimu. Cuma kamu laki-laki yang menempati hatiku. Dan semoga di tahun-tahun berikutnya, kita masih bisa saling memahami dan memaafkan. Masih bisa menyelesaikan masalah, apapun itu bentuknya. Sebab bertemu saat ini adalah sebuah kemustahilan,” ucapanku membuatnya tertawa.
“Siaapp, Cantikku. Permintaannya banyak juga, ya,” jawabnya menahan tawa.
“Masih dikit itu,” kataku lagi. “Berjanjilah, kita akan tetap menjaga hubungan ini. Nggak akan ada yang berubah meskipun kita berjauhan?” pintaku. “Iya, aku janji. Berdoalah agar semua usaha kita tidak sia-sia.” dia mengakhiri kalimatnya.
Malam itu, sambungan telepon diputus dengan banyak doa. Juga tenang yang kau hantarkan dalam dada. Raguku selalu mampu kau tangguhkan. Rinduku selalu mampu kau kecilkan. Tidak ada yang mampu melakukannya selain dirimu. Aku tersenyum, ternyata tidak semua hal patut kupercaya dari mulut-mulut maya. Sebab semua yang kurasa bernilai indah. Semua yang kurasa bernilai bahagia. Jika mereka menganggapnya long distance relationsick atau long distance relationshit, bagiku ini adalah long distance relationsweet. Ah, rasanya aku ingin menemuimu dalam mimpi. Mengecupmu mesra dan memelukmu hingga pagi.


(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Semester 7, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Menjabat sebagai Sekbid Riset dan Pengembangan Keilmuan di HMJ Basastrasia FKIP UMSU. Penulis novel remaja “Kejebak Friendzone” ini sedang giat-giatnya menulis cerita fiksi bertema romance, sastra young-adult, dan thriller)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar