Pagi
ketujuh tanpa kamu. Ada sembab yang masih bertamu di mataku. Ada rindu yang
masih menggebu dalam dadaku. Kiranya aku belum terlalu siap berada di posisi
ini. Jauh darimu, dari ragamu, juga harum tubuhmu. Sesekali kusisir kenangan,
betapa baru kemarin kamu masih membercandaiku. Menarik hidungku dan mengacak
rambutku. Tapi tiba-tiba, pagi ini,
kusadari kamu telah jauh. Jauh ratusan kilometer dari tempatku berpijak. Tidak
lagi di sini, membantu mewarnai hari.
Kekasih,
baru aku tahu bagaimana rasanya rindu tanpa temu. Dia beranak pinak hingga aku
kewalahan menampungnya. Semakin hari ia semakin bertumbuh, padahal kepergianmu
baru satu minggu. Bagaimana ini? Hanya keping suaramu dari sambungan
telepon-lah yang bisa membantu mengobatinya. Jika tidak, rinduku akan terus
membengkak hingga akhirnya meledak.
Aku
menghapus sisa air mata tadi malam. Menarik napas dalam-dalam, mencoba
meredakanmu dari pikiran. Hubungan jarak jauh ini sungguh menyiksa. Rindu tak
bisa disentuh, perlu tak bisa bertemu. Tapi kamu bilang, ini adalah wadah
belajar dewasa. Kamu bilang, ini saatnya belajar menekan egois yang terkadang
bengis. Ini saatnya belajar untuk menekan emosi dan sensi. Ini wadah terbaik
untuk mendewasakan diri.
Aku
menghela napas, mencoba menerima semua diksi yang keluar dari mulutmu. Kulihat
kau lebih tegar dari biasanya. Kulihat tak kau umbar lagi kata rindu seperti
dulu. Barangkali kau tidak ingin membebaniku terlalu jauh, bahwa rindu tanpa
temu seperti pembunuh yang jitu. Ya, aku paham maksudmu. Kamu hanya ingin aku
bahagia, meski kamu jauh di sana. Kamu hanya ingin aku bahagia, meski jarak
membuat luka.
Kuketik
sesuatu dalam layar handphone-ku : “Beberapa malam ini, aku jadi lebih cengeng
karenamu. Suka gampang nangis kalau ingat tentang kamu. Maaf, jika aku tak
sekuat yang kamu mau. Aku hanya belum siap menerima semuanya. Tapi aku tidak
akan pernah lelah untuk berusaha. Sesekali kukirim cinta lewat tirai-tirai doa.
Semoga kamu sukses, sehat, dan bahagia di sana.” Kutekan layar sent menuju
handphone-mu. Menit berikutnya, kudapati emoji peluk dua puluh kali darimu.
Sungguh, rinduku bukan makin sembuh, tapi makin membiru.
Aku
masih tetap menjalani hari-hari seperti biasa. Meski kadang sesekali, bayangmu
mengetuk-ngetuk isi kepala. Sesak semakin meraja ketika rindu tak bisa diajak
bercanda. Menjumpaimu dalam ingatan, nyatanya membuatku semakin kewalahan. Tapi
aku terus belajar, meminimalisir luka dan menggantinya dengan bahagia. Hari
berikutnya, aku mulai terbiasa. Tidak serta-merta, tapi aku rasa ini sudah
lebih baik dari sebelumnya. Aku tidak lagi menangis kala malam. Mataku juga tak
lagi sembab kala pagi bertandang. Aku sudah bisa tersenyum, sudah bisa berdamai
dengan keadaan. Sudah bisa mengatur hati kala rindu menghampiri.
Ternyata,
hubungan jarak jauh tak semudah yang dibayangkan. Namun tak sesulit apa kata
orang. Semuanya masih terasa manis meski duka terkadang sering mengikis. Kamu
selalu menyempatkan waktu meneleponku. Menanyakan kabar hari ini, juga mengecek
kadar rinduku malam ini.
“Sudah
makan?” tanyamu lewat sambungan telepon.
“Belum,
nanti saja,” jawabku sekenanya.
“Makan
dulu sana. Jangan bertingkah,” katamu datar.
“Dengar
suaramu saja aku sudah kenyang kok,” jawabku membercandaimu.
Kudengar
kau tertawa, “Sudah pandai menggombal ternyata,” celetukmu terkekeh. Di sini,
aku tersenyum mendengar tawamu. Membayangkan caramu tertawa, semakin membuatku
rindu saja.
“Jangan
cengeng-cengeng lagi, ya,” katamu kemudian.
“Nggak
bisa. Sekarang, selain nulis, hobiku ya nangis,” jawabku tertawa.
Kamu
juga tertawa, “Jangan gitu. Perempuanku harus kuat. Jangan nangis hanya karena
aku ngangenin,” balasmu tak mau kalah.
Aku
mencibir, kamu kembali tergelak. Suasana malam itu terasa hangat. Membuat
rinduku sedikit terobati. Kamu menasehatiku banyak hal, tentang masa depan dan
tentang semester tua yang mulai tiba. Kamu juga menasehati agar aku tak lagi
menangis. Ah, apakah aku tampak secengeng itu di matamu? Apapun jawabanmu, yang
aku tahu, tangisku adalah bentuk rindu yang luruh atas namamu.
“Nanti,
jika ada waktu luang, aku akan main lagi ke sana. Main ke rumahmu dan nonton
Disney kesukaanmu. Atau makan coklat berdua sambil membantumu merangkai puisi
dan cerita fiksi,” suaramu terdengar manis di telingaku. Aku tersenyum,
kemudian menjawab dengan berdeham kecil. Kamu melanjutkan kalimatmu, “Jangan
takut. Aku di sini tidak akan macam-macam. Lagipula, aku hanya bisa jatuh cinta
pada satu perempuan bernama Nanda. Itu saja,” katamu terkekeh. “Gombalanmu
menampar sekali,” aku ikut tertawa.
“Doakan
ya, agar aku cepat dapat kerja dan kembali menemuimu di sana. Bawa aku selalu
dalam doamu. Bawa kenangan kita dalam tiap pijak kakimu. Agar kita tetap merasa
utuh meski saat ini kita sedang jauh,”
ungkapmu parau. Aku diam, meresapi setiap kalimat indahmu. Itu bukan sekadar
kata-kata, bagiku itu sebuah pengharapan berbungkus doa. Aku mengaminkannya di
dalam hati. Kembali menyimak setiap diksi dari mulutmu.
“Semuanya
akan baik-baik saja, selama kita terbuka dan saling percaya,” katamu lembut.
Aku tersenyum sekali lagi, meski aku tahu kamu tidak bisa melihatnya. “Aku cuma
bisa berdoa, semoga di tahun-tahun berikutnya, perasaan kita masih sama. Semoga
di tahun-tahun berikutnya, cuma aku perempuan yang menempati hatimu. Cuma kamu
laki-laki yang menempati hatiku. Dan semoga di tahun-tahun berikutnya, kita
masih bisa saling memahami dan memaafkan. Masih bisa menyelesaikan masalah,
apapun itu bentuknya. Sebab bertemu saat ini adalah sebuah kemustahilan,”
ucapanku membuatnya tertawa.
“Siaapp,
Cantikku. Permintaannya banyak juga, ya,” jawabnya menahan tawa.
“Masih
dikit itu,” kataku lagi. “Berjanjilah, kita akan tetap menjaga hubungan ini.
Nggak akan ada yang berubah meskipun kita berjauhan?” pintaku. “Iya, aku janji.
Berdoalah agar semua usaha kita tidak sia-sia.” dia mengakhiri kalimatnya.
Malam
itu, sambungan telepon diputus dengan banyak doa. Juga tenang yang kau
hantarkan dalam dada. Raguku selalu mampu kau tangguhkan. Rinduku selalu mampu
kau kecilkan. Tidak ada yang mampu melakukannya selain dirimu. Aku tersenyum,
ternyata tidak semua hal patut kupercaya dari mulut-mulut maya. Sebab semua
yang kurasa bernilai indah. Semua yang kurasa bernilai bahagia. Jika mereka
menganggapnya long distance relationsick atau long distance relationshit,
bagiku ini adalah long distance relationsweet. Ah, rasanya aku ingin menemuimu
dalam mimpi. Mengecupmu mesra dan memelukmu hingga pagi.
(Penulis
adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Semester 7, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Menjabat sebagai Sekbid Riset dan Pengembangan Keilmuan di HMJ Basastrasia FKIP
UMSU. Penulis novel remaja “Kejebak Friendzone” ini sedang giat-giatnya menulis
cerita fiksi bertema romance, sastra young-adult, dan thriller)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar