Total Tayangan Halaman

Rabu, 24 Mei 2017

Skip Challenge; Permainan Gila Para Remaja (Terbit 16 Maret 2017,Kabar Madura)

Skip Challenge; Permainan Gila Para Remaja
Oleh : Nanda Dyani Amilla
Apakah Anda suka tantangan? Apakah Anda pernah mengikuti sebuah tantangan atau challenge yang sedang hits di sosial media? Seperti beberapa challenge yang pernah ngetren pada masanya; Chubby Bunny Challenge, Mahmud Challenge, Manequin Challenge, Bus Challenge, Ice Bucket Challenge, atau Samyang Challenge. Beberapa challenge yang penulis sebutkan tadi tentu punya kesan tersendiri bagi yang pernah melakukannya. Tujuan melakukan challenge tersebut tentu saja sebagai bahan lucu-lucuan atau hiburan semata. Tapi bagaimana jika sebuah challenge yang Anda mainkan justru malah akan berakibat fatal atau dapat mengundang kematian?
Skip Challenge; sebuah challenge yang baru-baru ini menjadi viral di sosial media. Bagaimana tidak, skip challenge merupakan sebuah permainan atau tantangan yang dilakukan oleh dua orang. Orang pertama akan menyilangkan kedua tangannya di dada, lalu orang kedua akan menekan dada temannya dengan sangat keras selama beberapa detik dengan tujuan menghambat oksigen hingga pemain jatuh pingsan. Challenge berbahaya ini tentu saja paling banyak dilakukan oleh anak-anak remaja secara berkelompok.
Hal ini tentu saja berbahaya dan dapat mengancam nyawa. Anehnya, para remaja terkesan senang memainkan challenge tersebut dan dengan bangga mendokumentasikannya dalam bentuk video dan disebar melalui sosial media. Dari beberapa video yang beredar di sosial media, penulis melihat bahwa pemain skip challenge ini kebanyakan adalah anak sekolah. Entah apa yang mendasari para remaja melakukan permainan berbahaya ini. Mereka tidak tahu bahwa dampak dari challenge tersebut dapat berakibat fatal.
Mengutip dari bintang.com, skip challenge ini sangat berbahaya karena berpotensi menyebabkan hipoksia, kejang, pingsan, kerusakan otak, bahkan kematian. Dr. Flynn memaparkan, yang terjadi pada otak saat skip challenge sebenarnya mirip dengan waktu seseorang tenggelam, tersedak atau mengalami serangan jantung. Kondisi itu menyebabkan hipoksia dan dapat memicu kejang bahkan kematian. Meski kesadaran bisa kembali, namun resiko lain dari skip challenge yakni terjatuh atau cedera setelah siuman dari pingsan. Disamping itu, jika otak kekurangan oksigen lebih dari tiga menit maka akan mengakibatkan kerusakan otak, bila lebih dari 5 menit akibatnya jauh lebih fatal.
Dikutip dari laman harianjogja.com, bahaya tren skip challenge sangatlah nyata. Pada bulan Maret 2016, bocah 11 tahun asal Karolina Utara, Amerika Serikat, Da Vorious, ditemukan tidak sadarkan diri di kamar mandi. Ia meninggal dunia saat mendapat penanganan di rumah sakit. Seperti dilansir NYdailynews.com, pihak keluarga menyatakan Da Vorious meninggal karena ikut mempraktikkan skip challenge. Tren berbahaya itu diketahui bocah tersebut dari media sosial.
Kita semua tahu bahwa remaja memiliki keingintahuan yang besar, adrenalin yang tinggi, serta keberanian yang tidak bisa diprediksi. Mereka senang mencoba hal-hal baru yang memicu keberanian, merasa tertantang jika ditantang melakukan sesuatu hal tanpa memikirkan akibatnya. Sah-sah saja, jika challenge yang mereka ikuti adalah challenge yang wajar dan tidak berbahaya. Tidak menimbulkan efek negatif dan tidak merugikan orang lain. Bukankah tujuan dari challenge adalah untuk hiburan semata? Jangan sampai kita salah memaknainya.
Dari video yang banyak beredar di sosial media, anak-anak remaja itu melakukan skip challenge di dalam ruang lingkup sekolah, entah itu di kelas atau di taman belakang sekolah. Kurangnya pantauan dari pihak guru membuat anak-anak tersebut leluasa dalam melakukan challenge tersebut. Terbukti, video tersebut dibuat saat kelas sedang tidak dalam pengawasan guru. Kebanyakan dari mereka beranggapan bahwa dengan mengikuti skip challenge ini mereka akan dinilai hebat dan kekinian. Mereka juga sangat merasa tertantang karena ketika mereka berhasil melakukannya mereka akan mendapat pengakuan dan bisa membagikan video tersebut di sosial media. Lalu menantang orang lain lagi untuk dapat melakukannya juga.
Sungguh, ini bukan suatu prestasi yang patut dibanggakan. Permainan yang berbahaya ini justru malah akan mengancam nyawa. Kematian adalah bayarannya. Mirisnya, banyak orangtua yang belum tahu mengenai challenge berbahaya satu ini. Untuk itu penulis mengimbau, agar orangtua atau teman-teman yang masih memiliki adik usia sekolah, agar lebih mengawasi setiap kegiatan yang dilakukannya. Orangtua juga dapat menasehati anak agar mereka menjauhi segala jenis permainan yang berbahaya. Menjelaskan dampak buruk yang terjadi jika mereka berani melakukan permainan tersebut. Serta memberi pengertian agar mereka bisa memilah mana permainan atau challenge yang tujuannya untuk bersenang-senang atau challenge yang tujuannya malah membahayakan dan menyakiti diri sendiri.
Menurut hemat penulis, pihak sekolah juga harus lebih ketat mengawasi anak didik ketika berada di sekolah. Sebab kita semua tahu bahwa remaja zaman sekarang cenderung terlalu berani atau nekat dalam melakukan sesuatu. Memberikan mereka pengertian dan nasehat dengan cara-cara yang baik mungkin akan sangat bermanfaat dan membantu. Juga meletakkan sanksi bagi anak didik yang melakukan kesalahan.
Untuk itu, pandai-pandailah kita dalam bertindak. Juga harus pandai dan bijak dalam menggunakan sosial media. Semua kejadian tadi terjadi dan berawal dari melihat atau menonton challenge yang tersebar di sosial media. Tidak semua hal yang tersebar di internet harus kita ikuti. Tak perlulah menjadi kekinian jika akhirnya merugikan diri sendiri. Mari, jadilah pengguna sosial media yang cerdas agar kita tak mudah terlindas.

(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 7)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar