Skip
Challenge;
Permainan Gila Para Remaja
Oleh : Nanda Dyani Amilla
Apakah
Anda suka tantangan? Apakah Anda pernah mengikuti sebuah tantangan atau challenge yang sedang hits di sosial
media? Seperti beberapa challenge
yang pernah ngetren pada masanya; Chubby
Bunny Challenge, Mahmud Challenge, Manequin Challenge, Bus Challenge, Ice
Bucket Challenge, atau Samyang
Challenge. Beberapa challenge
yang penulis sebutkan tadi tentu punya kesan tersendiri bagi yang pernah melakukannya.
Tujuan melakukan challenge tersebut
tentu saja sebagai bahan lucu-lucuan atau hiburan semata. Tapi bagaimana jika
sebuah challenge yang Anda mainkan
justru malah akan berakibat fatal atau dapat mengundang kematian?
Skip Challenge;
sebuah challenge yang baru-baru ini
menjadi viral di sosial media. Bagaimana tidak, skip challenge merupakan sebuah permainan atau tantangan yang
dilakukan oleh dua orang. Orang pertama akan menyilangkan kedua tangannya di
dada, lalu orang kedua akan menekan dada temannya dengan sangat keras selama
beberapa detik dengan tujuan menghambat oksigen hingga pemain jatuh pingsan. Challenge berbahaya ini tentu saja
paling banyak dilakukan oleh anak-anak remaja secara berkelompok.
Hal
ini tentu saja berbahaya dan dapat mengancam nyawa. Anehnya, para remaja
terkesan senang memainkan challenge tersebut
dan dengan bangga mendokumentasikannya dalam bentuk video dan disebar melalui
sosial media. Dari beberapa video yang beredar di sosial media, penulis melihat
bahwa pemain skip challenge ini
kebanyakan adalah anak sekolah. Entah apa yang mendasari para remaja melakukan
permainan berbahaya ini. Mereka tidak tahu bahwa dampak dari challenge tersebut dapat berakibat
fatal.
Mengutip
dari bintang.com, skip challenge ini sangat berbahaya karena berpotensi menyebabkan
hipoksia, kejang, pingsan, kerusakan otak, bahkan kematian. Dr. Flynn
memaparkan, yang terjadi pada otak saat skip
challenge sebenarnya mirip dengan waktu seseorang tenggelam, tersedak atau
mengalami serangan jantung. Kondisi itu menyebabkan hipoksia dan dapat memicu
kejang bahkan kematian. Meski kesadaran bisa kembali, namun resiko lain dari skip challenge yakni terjatuh atau
cedera setelah siuman dari pingsan. Disamping itu, jika otak kekurangan oksigen
lebih dari tiga menit maka akan mengakibatkan kerusakan otak, bila lebih dari 5
menit akibatnya jauh lebih fatal.
Dikutip
dari laman harianjogja.com, bahaya tren skip challenge sangatlah nyata. Pada
bulan Maret 2016, bocah 11 tahun asal Karolina Utara, Amerika Serikat, Da
Vorious, ditemukan tidak sadarkan diri di kamar mandi. Ia meninggal dunia saat
mendapat penanganan di rumah sakit. Seperti dilansir NYdailynews.com, pihak
keluarga menyatakan Da Vorious meninggal karena ikut mempraktikkan skip challenge. Tren berbahaya itu
diketahui bocah tersebut dari media sosial.
Kita
semua tahu bahwa remaja memiliki keingintahuan yang besar, adrenalin yang
tinggi, serta keberanian yang tidak bisa diprediksi. Mereka senang mencoba
hal-hal baru yang memicu keberanian, merasa tertantang jika ditantang melakukan
sesuatu hal tanpa memikirkan akibatnya. Sah-sah saja, jika challenge yang mereka ikuti adalah challenge yang wajar dan tidak berbahaya. Tidak menimbulkan efek
negatif dan tidak merugikan orang lain. Bukankah tujuan dari challenge adalah
untuk hiburan semata? Jangan sampai kita salah memaknainya.
Dari
video yang banyak beredar di sosial media, anak-anak remaja itu melakukan skip challenge di dalam ruang lingkup
sekolah, entah itu di kelas atau di taman belakang sekolah. Kurangnya pantauan
dari pihak guru membuat anak-anak tersebut leluasa dalam melakukan challenge
tersebut. Terbukti, video tersebut dibuat saat kelas sedang tidak dalam
pengawasan guru. Kebanyakan dari mereka beranggapan bahwa dengan mengikuti skip challenge ini mereka akan dinilai
hebat dan kekinian. Mereka juga sangat merasa tertantang karena ketika mereka
berhasil melakukannya mereka akan mendapat pengakuan dan bisa membagikan video
tersebut di sosial media. Lalu menantang orang lain lagi untuk dapat
melakukannya juga.
Sungguh,
ini bukan suatu prestasi yang patut dibanggakan. Permainan yang berbahaya ini
justru malah akan mengancam nyawa. Kematian adalah bayarannya. Mirisnya, banyak
orangtua yang belum tahu mengenai challenge
berbahaya satu ini. Untuk itu penulis mengimbau, agar orangtua atau teman-teman
yang masih memiliki adik usia sekolah, agar lebih mengawasi setiap kegiatan
yang dilakukannya. Orangtua juga dapat menasehati anak agar mereka menjauhi
segala jenis permainan yang berbahaya. Menjelaskan dampak buruk yang terjadi
jika mereka berani melakukan permainan tersebut. Serta memberi pengertian agar
mereka bisa memilah mana permainan atau challenge
yang tujuannya untuk bersenang-senang atau challenge
yang tujuannya malah membahayakan dan menyakiti diri sendiri.
Menurut
hemat penulis, pihak sekolah juga harus lebih ketat mengawasi anak didik ketika
berada di sekolah. Sebab kita semua tahu bahwa remaja zaman sekarang cenderung
terlalu berani atau nekat dalam melakukan sesuatu. Memberikan mereka pengertian
dan nasehat dengan cara-cara yang baik mungkin akan sangat bermanfaat dan
membantu. Juga meletakkan sanksi bagi anak didik yang melakukan kesalahan.
Untuk
itu, pandai-pandailah kita dalam bertindak. Juga harus pandai dan bijak dalam
menggunakan sosial media. Semua kejadian tadi terjadi dan berawal dari melihat
atau menonton challenge yang tersebar
di sosial media. Tidak semua hal yang tersebar di internet harus kita ikuti.
Tak perlulah menjadi kekinian jika akhirnya merugikan diri sendiri. Mari,
jadilah pengguna sosial media yang cerdas agar kita tak mudah terlindas.
(Penulis
adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 7)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar