Total Tayangan Halaman

Minggu, 27 Agustus 2017

Jadi Remaja Berbudaya (Resensi terbit 27 Agustus 2017, Harian Singgalang)

Judul               : Karena Aku Tak Buta
Penulis             : Redy Kuswanto
Editor              : Antik
Penerbit           : Tiga Serangkai
Cetakan           : Pertama, 2015
Halaman          : 332 hal
ISBN               : 978-602-257-107-0
Novel Karena Aku Tak Buta karya Redy Kuswanto ini mengangkat cerita tentang pesta budaya lokal dan permainan tradisional yang dikemas dengan cara yang begitu apik. Cerita bermula dari kedatangan Zad ke sebuah desa di pedalaman Muntilan, tepatnya di Dusun Gopakan, Desa Ngargolumyo, Kecamatan Dukuh, Kabupaten Magelang. Saat itu niatnya hanya untuk menemui Gendis, seorang gadis desa yang cerdas dan mandiri yang kebetulan adalah kekasihnya sendiri. Namun, kedatangannya ke desa itu justru malah mengantarkannya pada dunia yang selama ini tak pernah disentuhnya.
Redy Kuswanto memperkenalkan pembaca pada tokoh-tokoh yang memiliki kesadaran tinggi guna mempertahankan apa pun yang menjadi milik negeri ini, salah satunya adalah kekayaan budaya, termasuk di dalamnya permainan tradisional. “Pada intinya, aku pribadi mendukung penuh museum dan program-programnya,” Yudha kembali mendekati Zad dan Gendis, “Yang lebih penting lagi, bagaimana kita berusaha menghargai, merawat, dan menjaga mainan dan permainan anak zaman dulu agar tetap hidup di tengah gempuran zaman meskipun ini tidak mudah. Ini sudah menjadi kewajiban kita bersama. Kalau bukan kita, siapa lagi? (hal.131)
Zad juga sangat mengagumi kekasihnya, Gendis, yang merupakan gadis desa di pedalaman Magelang. Mereka adalah teman sekampus. Berkat beasiswa-lah, Gendis memiliki kesempatan mengenyam bangku sekolah hingga ke jenjang universitas. Gendis adalah gadis yang tidak pernah malu ataupun merasa minder, meskipun ia menyadari penampilannya jauh dari kata modis. Berkat Gendis pulalah, rasa cinta Zad kepada hal-hal yang berbau budaya dan tradisional semakin bertumbuh.
Zad, pemuda metropolitan itu juga merasa tertampar sekali ketika mendapai kenyataan bahwa Museum Anak Kolong Tangga, yang merupakan museum permainan tradisional di Yogyakarta didirikan oleh seorang pria berkebangsaan Belgia. Mr. Rudolf namanya, atau lebih akrab disapa dengan panggilan Pak Rudi. Pria yang usianya menginjak 80 tahun itu ternyata sangat peduli dengan tradisi dan kebudayaan di Indonesia, khususnya permainan tradisional. Pria bule itu melihat permainan tradisional yang mulai menghilang, membuat anak zaman sekarang tidak mengenalnya lagi.
Zad menyadari, apa yang dikhawatirkan pria bule itu benar-benar terjadi pada banyak anak muda Indonesia, termasuk dirinya. Ia tak pernah mengenal mainan dan permainan tradisional yang merupakan salah satu aset bangsa. Generasi muda saat ini seolah tak mau peduli. Yah, ia tak pernah peduli. Lantas, mengapa justru orang asing yang memiliki kepedulian besar itu? Jujur, ia merasa malu pada dirinya sendiri. Sebagai anak bangsa, apa yang sudah ia sumbangkan untuk negeri ini? Tak ada! (hal. 123)
Redy Kuswanto mencoba membuka pikiran pembaca mengenai pentingnya menjaga kebudayaan nusantara lewat dialog-dialog dan konflik batin yang dirasakan setiap tokohnya. Zad sangat merasa terkesan dengan cerita Gendis, terutama kisah Yudha dan lelaki Belgia berusia 80 tahun tersebut. Ia pun mencari informasi mengenai keduanya. Hingga akhirnya ia pun menemukan alasan yang membuatnya terkagum-kagum kepada pria bule itu.
“Mengapa saya mendirikan museum di Yogyakarta, dan bukan di Belgia, tanah kelahiran saya, atau bahkan Negara lain? Pertama, mungkin ini terdengar terlalu berlebihan, tetapi memang benar, bahwa saya menyukai Yogyakarta. Saya mencintai anak-anak di sini. Kedua, hal yang paling penting, saya melihat anak-anak di sini banyak yang tidak paham dan melupakan trdisi dan budaya bangsa sendiri. Bagi saya, ini sangat memprihatinkan. Apa yang akan terjadi nanti jika hal ini terus dibiarkan berlarut-larut?” (hal. 136)
Novel ini juga mengajarkan pembaca untuk mencintai budaya sendiri dan tidak boleh membiarkan kekayaan budaya nusantara hilang tergerus modernisasi. Redy Kuswanto juga berhasil membangkitkan kesadaran pembaca akan jiwa “Indonesia” dalam diri masing-masing yang nyatanya selama ini terkubur. Alur cerita yang apik, dengan ending yang surprise membuat pembaca akan puas melahap novel keren ini.

(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 7)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar