Judul :
Karena Aku Tak Buta
Penulis : Redy Kuswanto
Editor : Antik
Penerbit
: Tiga Serangkai
Cetakan : Pertama, 2015
Halaman
: 332 hal
ISBN
: 978-602-257-107-0
Novel
Karena Aku Tak Buta karya Redy
Kuswanto ini mengangkat cerita tentang pesta budaya lokal dan permainan
tradisional yang dikemas dengan cara yang begitu apik. Cerita bermula dari
kedatangan Zad ke sebuah desa di pedalaman Muntilan, tepatnya di Dusun Gopakan,
Desa Ngargolumyo, Kecamatan Dukuh, Kabupaten Magelang. Saat itu niatnya hanya
untuk menemui Gendis, seorang gadis desa yang cerdas dan mandiri yang kebetulan
adalah kekasihnya sendiri. Namun, kedatangannya ke desa itu justru malah
mengantarkannya pada dunia yang selama ini tak pernah disentuhnya.
Redy
Kuswanto memperkenalkan pembaca pada tokoh-tokoh yang memiliki kesadaran tinggi
guna mempertahankan apa pun yang menjadi milik negeri ini, salah satunya adalah
kekayaan budaya, termasuk di dalamnya permainan tradisional. “Pada intinya, aku pribadi mendukung penuh
museum dan program-programnya,” Yudha kembali mendekati Zad dan Gendis, “Yang
lebih penting lagi, bagaimana kita berusaha menghargai, merawat, dan menjaga
mainan dan permainan anak zaman dulu agar tetap hidup di tengah gempuran zaman
meskipun ini tidak mudah. Ini sudah menjadi kewajiban kita bersama. Kalau bukan
kita, siapa lagi? (hal.131)
Zad
juga sangat mengagumi kekasihnya, Gendis, yang merupakan gadis desa di
pedalaman Magelang. Mereka adalah teman sekampus. Berkat beasiswa-lah, Gendis
memiliki kesempatan mengenyam bangku sekolah hingga ke jenjang universitas.
Gendis adalah gadis yang tidak pernah malu ataupun merasa minder, meskipun ia
menyadari penampilannya jauh dari kata modis. Berkat Gendis pulalah, rasa cinta
Zad kepada hal-hal yang berbau budaya dan tradisional semakin bertumbuh.
Zad,
pemuda metropolitan itu juga merasa tertampar sekali ketika mendapai kenyataan
bahwa Museum Anak Kolong Tangga, yang merupakan museum permainan tradisional di
Yogyakarta didirikan oleh seorang pria berkebangsaan Belgia. Mr. Rudolf
namanya, atau lebih akrab disapa dengan panggilan Pak Rudi. Pria yang usianya
menginjak 80 tahun itu ternyata sangat peduli dengan tradisi dan kebudayaan di
Indonesia, khususnya permainan tradisional. Pria bule itu melihat permainan
tradisional yang mulai menghilang, membuat anak zaman sekarang tidak
mengenalnya lagi.
Zad menyadari, apa yang
dikhawatirkan pria bule itu benar-benar terjadi pada banyak anak muda
Indonesia, termasuk dirinya. Ia tak pernah mengenal mainan dan permainan
tradisional yang merupakan salah satu aset bangsa. Generasi muda saat ini
seolah tak mau peduli. Yah, ia tak pernah peduli. Lantas, mengapa justru orang
asing yang memiliki kepedulian besar itu? Jujur, ia merasa malu pada dirinya
sendiri. Sebagai anak bangsa, apa yang sudah ia sumbangkan untuk negeri ini?
Tak ada! (hal. 123)
Redy
Kuswanto mencoba membuka pikiran pembaca mengenai pentingnya menjaga kebudayaan
nusantara lewat dialog-dialog dan konflik batin yang dirasakan setiap tokohnya.
Zad sangat merasa terkesan dengan cerita Gendis, terutama kisah Yudha dan
lelaki Belgia berusia 80 tahun tersebut. Ia pun mencari informasi mengenai
keduanya. Hingga akhirnya ia pun menemukan alasan yang membuatnya terkagum-kagum
kepada pria bule itu.
“Mengapa saya
mendirikan museum di Yogyakarta, dan bukan di Belgia, tanah kelahiran saya,
atau bahkan Negara lain? Pertama, mungkin ini terdengar terlalu berlebihan,
tetapi memang benar, bahwa saya menyukai Yogyakarta. Saya mencintai anak-anak
di sini. Kedua, hal yang paling penting, saya melihat anak-anak di sini banyak
yang tidak paham dan melupakan trdisi dan budaya bangsa sendiri. Bagi saya, ini
sangat memprihatinkan. Apa yang akan terjadi nanti jika hal ini terus dibiarkan
berlarut-larut?” (hal. 136)
Novel
ini juga mengajarkan pembaca untuk mencintai budaya sendiri dan tidak boleh
membiarkan kekayaan budaya nusantara hilang tergerus modernisasi. Redy Kuswanto
juga berhasil membangkitkan kesadaran pembaca akan jiwa “Indonesia” dalam diri
masing-masing yang nyatanya selama ini terkubur. Alur cerita yang apik, dengan ending yang surprise membuat pembaca akan puas melahap novel keren ini.
(Penulis
adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 7)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar