Ketika
diksiku tak lagi mampu membuatmu yakin bahwa rumahku masih cukup hangat untuk
kau tinggali. Ketika ujarku tak lagi bisa menahan langkahmu untuk tidak
beranjak pergi. Ketika harapku pun tak lagi bisa menghentikan keputusanmu untuk
lari dan menyendiri. Ketika itu pula, aku meragukan rasa yang pernah kita jaga
bersama. Apakah memang sebesar itu? Atau waktu memang telah lelah untuk
memaklumi semua keegoisan kita?
Aku tidak pernah ingin berada di posisi ini.
Bahkan untuk membayangkannya saja aku enggan. Meski sakit, aku selalu mampu
membujuk hatiku untuk tetap mempertahankanmu. Menjalani semuanya sekalipun kau
berbuat salah. Aku berusaha menelan semua kecewa agar tak pernah kita berpisah.
Aku berusaha meminimalisir luka, memaafkan agar kita tetap bahagia. Aku tahu
kau pun turut melakukan hal yang sama. Namun, apakah kali ini kita benar-benar
menyerah?
Kau
memaksaku untuk melupa. Kau memaksaku untuk berjalan sendiri. Kau memaksaku
untuk pergi. Meski aku tidak ingin, aku kembali melakukannya untukmu. Dan kali
ini, sakitnya melebihi batas mampuku. Haruskah kita berakhir dengan cara
seperti ini? Haruskah kau mengusirku dengan paksa dari hatimu? Ataukah kau
telah menemukan seseorang yang baru?
Aku
berusaha untuk tidak menangis ketika menuliskan ini. Sebab aku tahu, kau juga
tidak akan menangis ketika membacanya nanti. Untuk sekadar kau tahu, perasaanku
masih bertahan di tempat semula. Tidak akan pernah bergeser sedikitpun dari
sana. Tak akan pernah berubah meski ada seseorang yang menawarkan bahagia. Kau
perlu tahu, mencintaimu tidak pernah benar-benar sederhana. Aku mencintaimu
dengan segala upaya terbaik yang kupunya. Aku memperlakukanmu dengan sangat
istimewa. Meski sesekali kau merasa akulah penyebab segala luka.
Maaf,
jika selama mencintaiku kau begitu kelelahan. Maaf, jika selama bersamaku aku
begitu menyebalkan. Aku hanya sedang berusaha mencintaimu dengan baik, meski di
matamu segala usahaku tak pernah terasa penuh. Hari ini, aku kembali mengais-ais ingatan
tentangmu. Tentang perjalanan kita melewati purnama-purnama. Tentang sedih
bahagia yang kita cipta bersama.
Senja
beberapa waktu lalu, kita masih menghabiskan waktu bersama. Duduk di taman
berdua. Dan bercerita tentang apa saja. Aku masih bisa menatap wajah teduhmu
dari jarak sedekat itu. Juga merasakan tawa bahagiamu yang memenuhi gendang
telinga. Kita bicara tentang masa depan. Tentang hal-hal yang ingin kita capai
bersama. Tentang impian yang ingin diwujudkan berdua.
Barangkali
kita lupa, bahwa kita pernah melewati masa-masa paling sulit. Lebih sulit
daripada saat ini. Tapi kecewaku adalah mendapati kenyataan bahwa dengan
mudahnya kau menyerah. Begitu mudahnya kau melupakan segala. Kau lupa bahwa
akulah perempuan yang rela menerima semua kekuranganmu. Akulah perempuan yang
menangis ketika rindu kamu. Dan akulah perempuan yang selalu berdoa untuk
kebahagiaanmu. Kau lupa menghitung berapa banyak airmata yang pernah tumpah
atas namamu. Kau lupa menghitung berapa banyak sakit yang dipertaruhkannya
bersamamu. Kau lupa menghitung berapa banyak cinta yang dijauhinya demi kamu.
Tidak.
Aku tidak perlu menjelaskan seberapa banyak buih perasaan yang kupunya untukmu.
Aku paham, kau mengerti jika soal ini. Kau hanya tidak paham, bagaimana cara
menyelamatkan hatimu dari rasa marah. Sekuat apapun kini aku berusaha, kau
tidak akan merubah prinsip itu.
Pergilah,
jika rumahku kini tak lagi menghangatkanmu. Pergilah, jika kurangku terasa
memberatkanmu. Pergilah, jika bahagiamu bukan lagi terletak padaku. Jangan
khawatir, aku sudah bersahabat dengan luka sejak lama. Aku hanya harus terbiasa
dengan dunia yang tanpamu. Aku hanya harus terbiasa saat membuka mata dan tidak
lagi menemukanmu pada tempat yang sama. Bukankah setiap pertemuan memang akan
bermuara pada kata pisah? Bukankah bahagia juga bisa berganti menjadi labirin
luka?
Kembalilah,
jika di kemudian hari kau tidak menemukan bahagia pada hati lain. Kembalilah,
jika suatu hari nanti kau kembali merindu kisah kebersamaan kita. Sejatinya,
kau tidak pernah menempati ruang benci di dalam hatiku. Untuk saat ini,
bantulah aku untuk bisa menerima keadaan. Bantulah aku untuk menyembuhkan hati.
Dengan cara pergi dan jangan menoleh lagi. Setidaknya sampai aku bisa melupakan
rasa sakit ini. Setidaknya sampai perasaanku mati di kemudian hari.
untuk seseorang
yang kerapkali
kubuat patah hatinya
Borgata Hotel Casino & Spa, Atlantic City - Mapyro
BalasHapusHotel Address 충주 출장샵 : Borgata Hotel Casino & Spa, Atlantic City. Map. Address 창원 출장안마 : Borgata Hotel Casino & 양산 출장마사지 Spa, Atlantic City. Map. Phone : baoji titanium (609) 거제 출장샵 770-1000.