Setiap
keriuhan nggak ada yang benar-benar bertahan lama. Seminggu-dua minggu keriuhan
soal hubungan gue dan Alila yang terekspos oleh paparazzi sekolah, belakangan
ini kembali normal. Meski masih ada satu-dua teman yang suka nyindir-nyindir
manja, kepo-kepo gemes, atau batuk-batuk gak jelas. Gue dan Alila sudah sepakat
akan menangkis segala jenis serangan mereka dengan satu cara, yaitu “senyumin
aja”.
Siang
itu gue dan Alila sedang berada di sebuah café tak jauh dari sekolah. Makan
siang, sembari mengerjakan tugas sosiologi yang akan dikumpulkan lusa. Memang
sudah menjadi kebiasaan gue dan Alila menghabiskan waktu sepulang sekolah di
café ini. Gue mengutak-atik hape sambil menunggu Alila balik dari toilet. Mata
gue teralihkan saat pintu café itu terbuka. Seorang gadis seusia gue masuk dan
langsung menuju meja bar untuk memesan. Gadis itu mengenakan t-shirt putih dan
rok lipit mini warna biru muda. Tak lupa dia juga memakai legging putih yang
semakin memamerkan kaki indahnya. Rambutnya yang panjang bergelombang dibiarkan
tergerai. Gadis itu menyapu pandang keseluruh pengunjung, mencari meja kosong.
Tapi
tiba-tiba matanya tertuju pada gue. Tampak raut wajah kaget dari gadis itu. Gue
juga nggak kalah kaget. Awalnya gue lihat dia ragu, apakah harus menyapa atau
pura-pura tidak lihat saja. Namun, tampaknya hatinya berkata lain. Gadis itu
memutuskan untuk melangkah mendekati meja gue dan Alila. Gue kikuk setengah
mati. Gue mengalihkan pandang kembali ke layar hape.
“Fath..”
sapanya.
Gue
menoleh ke arah suara. Shock. Satu
kata itulah yang menggambarkan perasaan gue saat ini. Bagaimana bisa gadis itu
ada di sini? Sedang apa dia? Gue benar-benar tak bisa menutupi kekagetan gue
saat ini. Dua tahun tidak bertemu, tidak saling kontak, tidak saling tahu kabar
masing-masing, kini tiba-tiba saja gadis itu muncul di hadapan gue. Tiba-tiba
Alila sudah kembali dari toilet dan melongo melihat gue berdua dengan gadis
itu. Gue terlihat begitu awkward saat
itu.
“Yuri?”
gue menjawab sapaannya sedikit gemetar.
“Apa
kabar?” tanya gadis yang diketahui bernama Yuri itu.
“Bb..
baik,” jawab gue gugup.
Alila
melirik gue. Melihat sinis seolah berkata “Kenapa tiba-tiba elo terlihat nggak
santai?” Gue terlihat gugup. Alila mulai curiga.
“Oh
iya, kenalin. Ini Alila, temanku,” gue mulai berbasa-basi ketika sudah berhasil
menguasai diri. Gue keliru menyebutkan Alila sebagai teman gue. Gue lihat
ekspresi tidak terima dari wajah manisnya.
Sambutan
hai dan hallo serta jabatan tangan mewarnai mereka. Saat menjabat tangan Yuri,
Alila kembali melirik gue sekilas. Yuri meminta izin pada Alila untuk mengajak
gue keluar sebentar, ada yang ingin dibicarakan. Alila hanya mengiyakan ketika
gue bertanya apakah dirinya mengizinkan. Yuri sempat melemparkan senyum pada
Alila. Dengan sedikit kaku, Alila membalas senyuman itu.
“Aku
nggak nyangka kita bisa ketemu di sini,” Yuri memulai percakapan. Saat itu kami
duduk di sebuah kursi panjang di halaman café. Gue tersenyum simpul. “Gimana
keadaan kamu selama ini?” Gue melirik Yuri, lalu tersenyum sinis, “Seperti yang
kamu liat. Aku baik-baik aja,” tandasku. “Aku bener-bener kangen sama kamu, Fath.
Dua tahun bukan waktu yang singkat. Aku baru ngerasain sakitnya rindu waktu aku
jauh dari kamu. Aku nggak bisa…”
“Sejak
kapan ada di Jakarta?” Gue memotong kalimat Yuri. “Aku baru sampai kemarin
sore,” Lengang. Hanya suara deru motor dan kendaraan lain yang lalu lalang di
jalan raya depan café itu. Gue seperti enggan memberi pertanyaan lagi. Gue sama
sekali tidak mengerti, mengapa sekarang Tuhan mempertemukan gue dengan gadis
itu lagi. Gadis yang dulu begitu gue sayangi. Gadis yang berjanji tidak akan
pernah membiarkan gue sendiri. Gadis yang dulu selalu ada di hari-hari gue.
Tapi kini semuanya terasa berbeda. Sejak hari di mana Yuri memutuskan pindah ke
luar kota. Jauh dari gue. Dengan alasan orangtuanya dipindahtugaskan. Tapi gue
merasa ada yang disembunyikan. Gue merasa Yuri tidak sepenuhnya jujur tentang
alasan kepindahannya. Terakhir gue dengar dari Fayya, sahabat Yuri, kepindahannya
ke Pontianak bukan hanya karena tugas orangtuanya. Tapi lebih kepada Yuri
sedang didekatkan oleh anak rekan kerja ayahnya.
Kenyataan
itu sungguh tak bisa gue tolak. Gue berusaha mati-matian membujuk Yuri agar
tidak pergi. Tapi Yuri bersikeras ingin pergi. Yuri memang cantik, hanya saja
dia tidak bisa melihat sesuatu yang lebih. Gue yakin, Yuri sudah mengetahui
rencana ayahnya untuk mendekatkannya dengan laki-laki itu. Mereka juga pasti
telah saling kontak lewat sosial media. Yuri pergi tanpa pamit di minggu pagi.
Dia berangkat tanpa meninggalkan pesan apa pun untuk gue. Juga tanpa menunggu
gue datang untuk mengucapkan selamat tinggal padanya. Kesalahan fatal telah ia
buat. Gue terlanjur sakit hati. Cinta pertama itu telah merusak hati gue. Dua tahun
tanpa kabar, sekarang Melisa kembali dengan cara seperti ini. Menampakkan diri
di depan gue dan kekasih gue, Alila.
“Aku
minta maaf. Untuk dua tahun ini. Aku minta maaf karena tidak memberikan kabar,”
ucap Yuri jujur. “Aku tidak menunggu kabarmu,” tegas gue. “Aku tahu ini
kesalahan fatal. Tapi, hubungan kita belum putus, kan? Tidak pernah ada kata
putus diantara kita, kan? Iya kan, Fath?” Yuri menyentuh tangan gue. Gue
menghempaskan tangannya pelan. “Hubungan ini memang belum putus, tapi perasaan
ini telah lama mati,” Gue menatap ke depan. “You have someone else?” suara Yuri terdengar bergetar. “Ya..” jawab
gue singkat “Siapa?” tanyanya lagi. Kali ini dia mendekat ke arah gue. “Kamu
nggak perlu tahu. Sama kayak aku dulu, yang nggak perlu tahu siapa seseorang
itu,” sindir gue dalam.
Yuri terdiam. Dia mengerti sekali,
bahwa sekarang posisinya benar-benar salah. “Aku minta maaf, Fath,” Yuri
kembali menyentuh tangan gue, kali ini lebih terlihat seperti menggenggam. Gue
membiarkannya. Berpikir bahwa gadis itu benar-benar tidak tahu malu. “Apa aku
masih punya kesempatan?” tanyanya. Gue menatap gadis itu. Sebulir air mata
mengalir lembut di pipinya. Yuri menangis. Gue hanya menatapnya datar saja.
Tidak ada lagi gue yang dulu selalu sigap menghapus air matanya ketika dia
menangis. Tidak ada lagi gue yang selalu mengelus kepalanya ketika dia
bersedih. Perasaan gue benar-benar telah mati untuknya.
“Perasaanku
udah nggak kayak dulu lagi. Semuanya udah berbeda. Lagian itu sudah 2 tahun
lalu. Cinta masa anak-anak. Sekarang aku sudah punya pilihan lain. Aku harap
kamu ngerti,” gue berucap pelan. “Satu kesempatan, please,” Yuri terus membujuk. Gue melepaskan genggamannya, “Sorry, Ri,
sekarang aku udah punya kisahku sendiri. Dan kamu berhak dapetin yang lebih
baik dari aku,” Gue beranjak dari duduk, bermaksud masuk kembali ke dalam café
untuk menemui Alila. Tapi Yuri justru menarik tangan gue. Gue terkesiap. Yuri
masih sama seperti dulu, selalu berusaha keras untuk mendapatkan apa yang dia
mau. Tapi tidak untuk hal ini, gue menghempasnya kasar. Dan segera berjalan
cepat meninggalkan Yuri seorang diri. Masuk ke dalam café dan mengajak Alila
untuk segera pergi dari sini.
*
* *
Gerimis.
Gue menatap sendu tetesan gerimis yang jatuh seirama dari langit. Bunga bougenvil
yang berada di bawah jendela kamar telah basah. Saat itu pukul tujuh malam, gue
berdiri mematung menatap jalanan dari balik jendela kamar. Semilir angin yang
menggoyangkan pepohonan di depan rumah membawa serta kenangan masa silam yang
berusaha gue tanam. Gue memejamkan mata. Semua memori tentang Yuri mulai
berjatuhan membuat sakit kepala. Satu persatu muncul seperti slide film
terburuk sepanjang masa. Gue segera membuka mata. Tak ingin larut dalam
kenangan yang menyakitkan itu.
Gadis
itu telah menggoreskan kenangan yang terlalu dalam di hidup gue. Terutama di
bagian hati. Dia memanah cinta, namun panahannya terlalu dalam menusuk hati
gue. Membuatnya rusak parah. Cinta pertama yang menyenangkan sekaligus
menyakitkan. Yuri yang mengajarkan gue tentang cinta, dia jugalah yang
menorehkan luka dan menyuruh gue mengobatinya sendirian. Gue tersenyum. Jauh
dalam lubuk hati gue, gue merindukan gadis itu. Munafik jika gue berkata bahwa
gue nggak rindu.
Dua
tahun bukanlah waktu yang sebentar. Tiba-tiba gue teringat percakapan dengan Yuri
siang tadi. Yuri benar, saat dia memutuskan untuk pindah ke luar kota, hubungan
mereka memang masih berjalan, belum ada kata putus. Lalu, jika sekarang Yuri
kembali, apa itu artinya mereka masih jadian?
Kini,
bayangan suara tawa Yuri jelas terngiang di telinga gue. Suaranya jelas
terdengar. Bahkan, sekarang gue tak lagi bisa membedakan mana yang nyata dan
mana yang maya. Lelucon apa lagi ini, Tuhan? Kenapa gadis itu kembali lagi ke
hidupku ketika aku sudah bersama Alila? Batin gue parau. Yang jelas, saat tadi Yuri
menggenggam tangan gue, gue seperti merasakan ada desiran rindu yang hebat di dalam
hati. Bolehkah gue menyalahkan takdir? Takdir yang dulu memisahkan gue dan dia,
dan takdir jugalah yang kini mempertemukannya.
Gue
mengusap wajah pelan. Bagaimana pun juga, gue harus melupakan Yuri. Sekarang
gue punya Alila yang jauh lebih baik darinya. Ngomongin soal Alila, gue jadi
teringat dengan ekspresi wajah tak suka yang tersirat di wajahnya tadi siang
saat bertemu Yuri. Apa dia cemburu? Atau jangan-jangan dia telah berpikir
macam-macam tentang gue?
Gue
langsung tersadar, sejak pulang dari café tadi, Alila tidak ada sedikit pun
mengirimkan pesan singkat untuk gue. SMS yang gue kirim juga tidak mendapat
balasan. Apa mungkin cewek papan ujian itu marah? Gue segera meraih jaket,
berlari meninggalkan kamar. Gue segera menuju rumahnya.
Hujan
di luar mulai reda. Tapi angin masih berhembus dingin, menerpa gorden kamar Alila.
Jam menunjukkan pukul delapan malam. Gue telah berada di bawah bingkai pintu
kamar Alila. Dia menatap gue sekilas lalu kembali menatap jalanan malam dari
atas balkon kamarnya. “Kenapa SMS gue nggak dibales? Lo sakit?” tanya gue
sambil berjalan mendekat ke arah tempat Alila berdiri. “Enggak, lo ngapain
malem-malem ke sini? Nggak biasanya,” ucap Alila datar.
Gue
tahu bahwa ada sesuatu yang nggak beres. Sejak mengantar Alila pulang ke rumah,
cewek papan ujian itu lebih banyak diam. Tidak seberisik biasanya. Pasti ada
sesuatu yang sedang disembunyikannya. “Lo lagi marah ya sama gue?” tanya gue
menatap wajahnya. Alila melirik gue sekilas, lalu menggeleng. “Keliatan banget
loh ini,” Gue menarik ujung hidung Alila sambil tertawa. “Nggak lucu!” Pekik Alila
kesal sambil mengusap hidungnya yang mulai memerah.
Usaha
gue untuk mencairkan suasana gagal. Eril masih diam mematung. “Lo seriusan
marah sama gue? Salah gue apa?” tanya
gue bingung. “Yang tadi siang itu siapa?” tanya Alila tanpa basa-basi. Oh,
jadi ini masalahnya. Gue tergelak melihat ekspresi wajah Alila sudah manyun.
Nggak kayak biasanya. “Temen lama. Kenapa? Cemburu, ya?” goda gue. “Temen lama
kok pegangan tangan kayak mau nyebrang?” sindirnya. DEG! Jantung gue mencelos.
Sial, Alila melihat semuanya. “Kayaknya itu bukan sekadar teman lama,” tambah Alila
lagi.
Ya
Tuhan… gue benar-benar terdiam. Niatnya untuk merahasiakan ini semua dari Alila
terbongkar sudah. Alila pasti bertanya banyak tentang dirinya dan Yuri, lalu
berspekulasi sendiri. Jadi tidak ada lagi yang bisa ia tutupi sekarang. “Ini
semua nggak kayak yang lo pikir loh, Lil” ucap gue. “Gue sama dia udah nggak
ada hubungan apa-apa lagi. Empat tahun dan kami baru ketemu sekarang. Ini cuma
kebetulan,” jelas gue. “Jangan berpikiran macam-macam tentang gue dong. Gue gak
pernah bohong kan sama lo,” tambah gue meyakinkan.
Alila
berbalik, menatap wajah gue. Tentu ada hal yang wajar yang ditakutinya. Cinta
pertama datang lagi. Tapi bukan berarti gue akan berpaling karena perasaan yang
begitu besar pada gadis itu dulu. Gue yakin hal inilah yang membuat Alila gusar
sejak pulang dari café siang tadi. “Jadi sekarang lo udah nggak percaya lagi
sama gue?” tanya gue ingin tahu. “Kalo lo gak bisa percaya gue karena hubungan
kita yang baru berjalan seumur jagung ini, harusnya lo bisa percaya karena
sudah hampir 2 tahun kita bersahabat dan jelas lo tahu baik-buruknya gue
seperti apa,” gue menambahi.
“It’s called destiny. Dua tahun berpisah,
tanpa kabar, dan sekarang kalian bertemu lagi. Ini yang disebut takdir,” ucap Alila
pelan, matanya menerawang. Gue menghela napas panjang. Ini semua sama sekali
tidak seperti yang Alila bayangkan. Ia salah paham. “Dia tampak sempurna,
sangat berbeda dibanding gue,” Alila tersenyum tipis. Rasa minder kembali
menyergapnya, gue tahu itu. “Gue udah siap kehilangan jika suatu saat nanti lo
pergi untuk yang lebih sempurna dibanding gue. Sebab gue sadar, bahwa
kebahagiaan tidak selalu berpihak pada gue,” Alila tersenyum tipis.
“Lo
salah paham! Jadi stop banding-bandingin diri lo sama dia!” Ucap gue tegas. Gue
menyentuh bahunya, namun dia menghindar. “Atau mungkin kita harus bertukar
posisi. Agar lo gak terus merasa tersakiti. Dan gue juga gak lelah lagi untuk
menjelaskan sampai inti,” kata gue sambil memijat kening yang berdenyut. Alila
diam. Mencoba meresapi perkataan gue. “Maaf..” hanya itu yang keluar dari
mulutnya. Gue menoleh, lantas mengacak rambutnya lembut seperti seorang kakak
yang tengah menenangkan adiknya.
“Sekarang
gue akhirnya tahu, bahwa cemburu itu mengerikan,” gue melirik Alila sekilas,
lalu tertawa renyah. Alila meninju bahu gue keras, “Itu buat lo yang suka bikin
gue kesel!” Kini hati gue lega. Alila sudah kembali seperti biasa. Suara
cemprengnya kembali memenuhi gendang telinga. Pertanyaan seharian ini telah
berlabuh pada jawaban yang tepat. Gue tersenyum, ternyata selain cemburu, salah
paham itu juga mengerikan.
Di awal cerita bikin saya ingin terus membacanya hehe teenlit emg bikin kita inget masa2 dulu. Malu2 n malu2in hehehe....
BalasHapusHehe, iya nulisnya juga lebih enak. Ngalirrr :) Terima kasih ya sudah singgah dan baca hihi
BalasHapus