Total Tayangan Halaman

Rabu, 09 Agustus 2017

Things Called Destiny (Terbit 06 Agustus 2017, Harian Medan Pos)

Setiap keriuhan nggak ada yang benar-benar bertahan lama. Seminggu-dua minggu keriuhan soal hubungan gue dan Alila yang terekspos oleh paparazzi sekolah, belakangan ini kembali normal. Meski masih ada satu-dua teman yang suka nyindir-nyindir manja, kepo-kepo gemes, atau batuk-batuk gak jelas. Gue dan Alila sudah sepakat akan menangkis segala jenis serangan mereka dengan satu cara, yaitu “senyumin aja”.
Siang itu gue dan Alila sedang berada di sebuah café tak jauh dari sekolah. Makan siang, sembari mengerjakan tugas sosiologi yang akan dikumpulkan lusa. Memang sudah menjadi kebiasaan gue dan Alila menghabiskan waktu sepulang sekolah di café ini. Gue mengutak-atik hape sambil menunggu Alila balik dari toilet. Mata gue teralihkan saat pintu café itu terbuka. Seorang gadis seusia gue masuk dan langsung menuju meja bar untuk memesan. Gadis itu mengenakan t-shirt putih dan rok lipit mini warna biru muda. Tak lupa dia juga memakai legging putih yang semakin memamerkan kaki indahnya. Rambutnya yang panjang bergelombang dibiarkan tergerai. Gadis itu menyapu pandang keseluruh pengunjung, mencari meja kosong.
Tapi tiba-tiba matanya tertuju pada gue. Tampak raut wajah kaget dari gadis itu. Gue juga nggak kalah kaget. Awalnya gue lihat dia ragu, apakah harus menyapa atau pura-pura tidak lihat saja. Namun, tampaknya hatinya berkata lain. Gadis itu memutuskan untuk melangkah mendekati meja gue dan Alila. Gue kikuk setengah mati. Gue mengalihkan pandang kembali ke layar hape.
“Fath..” sapanya.
Gue menoleh ke arah suara. Shock. Satu kata itulah yang menggambarkan perasaan gue saat ini. Bagaimana bisa gadis itu ada di sini? Sedang apa dia? Gue benar-benar tak bisa menutupi kekagetan gue saat ini. Dua tahun tidak bertemu, tidak saling kontak, tidak saling tahu kabar masing-masing, kini tiba-tiba saja gadis itu muncul di hadapan gue. Tiba-tiba Alila sudah kembali dari toilet dan melongo melihat gue berdua dengan gadis itu. Gue terlihat begitu awkward saat itu.
“Yuri?” gue menjawab sapaannya sedikit gemetar.
“Apa kabar?” tanya gadis yang diketahui bernama Yuri itu.
“Bb.. baik,” jawab gue gugup.
Alila melirik gue. Melihat sinis seolah berkata “Kenapa tiba-tiba elo terlihat nggak santai?” Gue terlihat gugup. Alila mulai curiga.
“Oh iya, kenalin. Ini Alila, temanku,” gue mulai berbasa-basi ketika sudah berhasil menguasai diri. Gue keliru menyebutkan Alila sebagai teman gue. Gue lihat ekspresi tidak terima dari wajah manisnya.
Sambutan hai dan hallo serta jabatan tangan mewarnai mereka. Saat menjabat tangan Yuri, Alila kembali melirik gue sekilas. Yuri meminta izin pada Alila untuk mengajak gue keluar sebentar, ada yang ingin dibicarakan. Alila hanya mengiyakan ketika gue bertanya apakah dirinya mengizinkan. Yuri sempat melemparkan senyum pada Alila. Dengan sedikit kaku, Alila membalas senyuman itu.
“Aku nggak nyangka kita bisa ketemu di sini,” Yuri memulai percakapan. Saat itu kami duduk di sebuah kursi panjang di halaman café. Gue tersenyum simpul. “Gimana keadaan kamu selama ini?” Gue melirik Yuri, lalu tersenyum sinis, “Seperti yang kamu liat. Aku baik-baik aja,” tandasku. “Aku bener-bener kangen sama kamu, Fath. Dua tahun bukan waktu yang singkat. Aku baru ngerasain sakitnya rindu waktu aku jauh dari kamu. Aku nggak bisa…”
“Sejak kapan ada di Jakarta?” Gue memotong kalimat Yuri. “Aku baru sampai kemarin sore,” Lengang. Hanya suara deru motor dan kendaraan lain yang lalu lalang di jalan raya depan café itu. Gue seperti enggan memberi pertanyaan lagi. Gue sama sekali tidak mengerti, mengapa sekarang Tuhan mempertemukan gue dengan gadis itu lagi. Gadis yang dulu begitu gue sayangi. Gadis yang berjanji tidak akan pernah membiarkan gue sendiri. Gadis yang dulu selalu ada di hari-hari gue. Tapi kini semuanya terasa berbeda. Sejak hari di mana Yuri memutuskan pindah ke luar kota. Jauh dari gue. Dengan alasan orangtuanya dipindahtugaskan. Tapi gue merasa ada yang disembunyikan. Gue merasa Yuri tidak sepenuhnya jujur tentang alasan kepindahannya. Terakhir gue dengar dari Fayya, sahabat Yuri, kepindahannya ke Pontianak bukan hanya karena tugas orangtuanya. Tapi lebih kepada Yuri sedang didekatkan oleh anak rekan kerja ayahnya.
Kenyataan itu sungguh tak bisa gue tolak. Gue berusaha mati-matian membujuk Yuri agar tidak pergi. Tapi Yuri bersikeras ingin pergi. Yuri memang cantik, hanya saja dia tidak bisa melihat sesuatu yang lebih. Gue yakin, Yuri sudah mengetahui rencana ayahnya untuk mendekatkannya dengan laki-laki itu. Mereka juga pasti telah saling kontak lewat sosial media. Yuri pergi tanpa pamit di minggu pagi. Dia berangkat tanpa meninggalkan pesan apa pun untuk gue. Juga tanpa menunggu gue datang untuk mengucapkan selamat tinggal padanya. Kesalahan fatal telah ia buat. Gue terlanjur sakit hati. Cinta pertama itu telah merusak hati gue. Dua tahun tanpa kabar, sekarang Melisa kembali dengan cara seperti ini. Menampakkan diri di depan gue dan kekasih gue, Alila.
“Aku minta maaf. Untuk dua tahun ini. Aku minta maaf karena tidak memberikan kabar,” ucap Yuri jujur. “Aku tidak menunggu kabarmu,” tegas gue. “Aku tahu ini kesalahan fatal. Tapi, hubungan kita belum putus, kan? Tidak pernah ada kata putus diantara kita, kan? Iya kan, Fath?” Yuri menyentuh tangan gue. Gue menghempaskan tangannya pelan. “Hubungan ini memang belum putus, tapi perasaan ini telah lama mati,” Gue menatap ke depan. “You have someone else?” suara Yuri terdengar bergetar. “Ya..” jawab gue singkat “Siapa?” tanyanya lagi. Kali ini dia mendekat ke arah gue. “Kamu nggak perlu tahu. Sama kayak aku dulu, yang nggak perlu tahu siapa seseorang itu,” sindir gue dalam.
            Yuri terdiam. Dia mengerti sekali, bahwa sekarang posisinya benar-benar salah. “Aku minta maaf, Fath,” Yuri kembali menyentuh tangan gue, kali ini lebih terlihat seperti menggenggam. Gue membiarkannya. Berpikir bahwa gadis itu benar-benar tidak tahu malu. “Apa aku masih punya kesempatan?” tanyanya. Gue menatap gadis itu. Sebulir air mata mengalir lembut di pipinya. Yuri menangis. Gue hanya menatapnya datar saja. Tidak ada lagi gue yang dulu selalu sigap menghapus air matanya ketika dia menangis. Tidak ada lagi gue yang selalu mengelus kepalanya ketika dia bersedih. Perasaan gue benar-benar telah mati untuknya.
“Perasaanku udah nggak kayak dulu lagi. Semuanya udah berbeda. Lagian itu sudah 2 tahun lalu. Cinta masa anak-anak. Sekarang aku sudah punya pilihan lain. Aku harap kamu ngerti,” gue berucap pelan. “Satu kesempatan, please,” Yuri terus membujuk. Gue melepaskan genggamannya, “Sorry, Ri, sekarang aku udah punya kisahku sendiri. Dan kamu berhak dapetin yang lebih baik dari aku,” Gue beranjak dari duduk, bermaksud masuk kembali ke dalam café untuk menemui Alila. Tapi Yuri justru menarik tangan gue. Gue terkesiap. Yuri masih sama seperti dulu, selalu berusaha keras untuk mendapatkan apa yang dia mau. Tapi tidak untuk hal ini, gue menghempasnya kasar. Dan segera berjalan cepat meninggalkan Yuri seorang diri. Masuk ke dalam café dan mengajak Alila untuk segera pergi dari sini.
* * *
Gerimis. Gue menatap sendu tetesan gerimis yang jatuh seirama dari langit. Bunga bougenvil yang berada di bawah jendela kamar telah basah. Saat itu pukul tujuh malam, gue berdiri mematung menatap jalanan dari balik jendela kamar. Semilir angin yang menggoyangkan pepohonan di depan rumah membawa serta kenangan masa silam yang berusaha gue tanam. Gue memejamkan mata. Semua memori tentang Yuri mulai berjatuhan membuat sakit kepala. Satu persatu muncul seperti slide film terburuk sepanjang masa. Gue segera membuka mata. Tak ingin larut dalam kenangan yang menyakitkan itu.
Gadis itu telah menggoreskan kenangan yang terlalu dalam di hidup gue. Terutama di bagian hati. Dia memanah cinta, namun panahannya terlalu dalam menusuk hati gue. Membuatnya rusak parah. Cinta pertama yang menyenangkan sekaligus menyakitkan. Yuri yang mengajarkan gue tentang cinta, dia jugalah yang menorehkan luka dan menyuruh gue mengobatinya sendirian. Gue tersenyum. Jauh dalam lubuk hati gue, gue merindukan gadis itu. Munafik jika gue berkata bahwa gue nggak rindu.
Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar. Tiba-tiba gue teringat percakapan dengan Yuri siang tadi. Yuri benar, saat dia memutuskan untuk pindah ke luar kota, hubungan mereka memang masih berjalan, belum ada kata putus. Lalu, jika sekarang Yuri kembali, apa itu artinya mereka masih jadian?
Kini, bayangan suara tawa Yuri jelas terngiang di telinga gue. Suaranya jelas terdengar. Bahkan, sekarang gue tak lagi bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang maya. Lelucon apa lagi ini, Tuhan? Kenapa gadis itu kembali lagi ke hidupku ketika aku sudah bersama Alila? Batin gue parau. Yang jelas, saat tadi Yuri menggenggam tangan gue, gue seperti merasakan ada desiran rindu yang hebat di dalam hati. Bolehkah gue menyalahkan takdir? Takdir yang dulu memisahkan gue dan dia, dan takdir jugalah yang kini mempertemukannya.
Gue mengusap wajah pelan. Bagaimana pun juga, gue harus melupakan Yuri. Sekarang gue punya Alila yang jauh lebih baik darinya. Ngomongin soal Alila, gue jadi teringat dengan ekspresi wajah tak suka yang tersirat di wajahnya tadi siang saat bertemu Yuri. Apa dia cemburu? Atau jangan-jangan dia telah berpikir macam-macam tentang gue?
Gue langsung tersadar, sejak pulang dari café tadi, Alila tidak ada sedikit pun mengirimkan pesan singkat untuk gue. SMS yang gue kirim juga tidak mendapat balasan. Apa mungkin cewek papan ujian itu marah? Gue segera meraih jaket, berlari meninggalkan kamar. Gue segera menuju rumahnya.
Hujan di luar mulai reda. Tapi angin masih berhembus dingin, menerpa gorden kamar Alila. Jam menunjukkan pukul delapan malam. Gue telah berada di bawah bingkai pintu kamar Alila. Dia menatap gue sekilas lalu kembali menatap jalanan malam dari atas balkon kamarnya. “Kenapa SMS gue nggak dibales? Lo sakit?” tanya gue sambil berjalan mendekat ke arah tempat Alila berdiri. “Enggak, lo ngapain malem-malem ke sini? Nggak biasanya,” ucap Alila datar.
Gue tahu bahwa ada sesuatu yang nggak beres. Sejak mengantar Alila pulang ke rumah, cewek papan ujian itu lebih banyak diam. Tidak seberisik biasanya. Pasti ada sesuatu yang sedang disembunyikannya. “Lo lagi marah ya sama gue?” tanya gue menatap wajahnya. Alila melirik gue sekilas, lalu menggeleng. “Keliatan banget loh ini,” Gue menarik ujung hidung Alila sambil tertawa. “Nggak lucu!” Pekik Alila kesal sambil mengusap hidungnya yang mulai memerah.
Usaha gue untuk mencairkan suasana gagal. Eril masih diam mematung. “Lo seriusan marah sama gue? Salah gue apa?” tanya  gue bingung. “Yang tadi siang itu siapa?” tanya Alila tanpa basa-basi. Oh, jadi ini masalahnya. Gue tergelak melihat ekspresi wajah Alila sudah manyun. Nggak kayak biasanya. “Temen lama. Kenapa? Cemburu, ya?” goda gue. “Temen lama kok pegangan tangan kayak mau nyebrang?” sindirnya. DEG! Jantung gue mencelos. Sial, Alila melihat semuanya. “Kayaknya itu bukan sekadar teman lama,” tambah Alila lagi.
Ya Tuhan… gue benar-benar terdiam. Niatnya untuk merahasiakan ini semua dari Alila terbongkar sudah. Alila pasti bertanya banyak tentang dirinya dan Yuri, lalu berspekulasi sendiri. Jadi tidak ada lagi yang bisa ia tutupi sekarang. “Ini semua nggak kayak yang lo pikir loh, Lil” ucap gue. “Gue sama dia udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Empat tahun dan kami baru ketemu sekarang. Ini cuma kebetulan,” jelas gue. “Jangan berpikiran macam-macam tentang gue dong. Gue gak pernah bohong kan sama lo,” tambah gue meyakinkan.
Alila berbalik, menatap wajah gue. Tentu ada hal yang wajar yang ditakutinya. Cinta pertama datang lagi. Tapi bukan berarti gue akan berpaling karena perasaan yang begitu besar pada gadis itu dulu. Gue yakin hal inilah yang membuat Alila gusar sejak pulang dari café siang tadi. “Jadi sekarang lo udah nggak percaya lagi sama gue?” tanya gue ingin tahu. “Kalo lo gak bisa percaya gue karena hubungan kita yang baru berjalan seumur jagung ini, harusnya lo bisa percaya karena sudah hampir 2 tahun kita bersahabat dan jelas lo tahu baik-buruknya gue seperti apa,” gue menambahi.
It’s called destiny. Dua tahun berpisah, tanpa kabar, dan sekarang kalian bertemu lagi. Ini yang disebut takdir,” ucap Alila pelan, matanya menerawang. Gue menghela napas panjang. Ini semua sama sekali tidak seperti yang Alila bayangkan. Ia salah paham. “Dia tampak sempurna, sangat berbeda dibanding gue,” Alila tersenyum tipis. Rasa minder kembali menyergapnya, gue tahu itu. “Gue udah siap kehilangan jika suatu saat nanti lo pergi untuk yang lebih sempurna dibanding gue. Sebab gue sadar, bahwa kebahagiaan tidak selalu berpihak pada gue,” Alila tersenyum tipis.
“Lo salah paham! Jadi stop banding-bandingin diri lo sama dia!” Ucap gue tegas. Gue menyentuh bahunya, namun dia menghindar. “Atau mungkin kita harus bertukar posisi. Agar lo gak terus merasa tersakiti. Dan gue juga gak lelah lagi untuk menjelaskan sampai inti,” kata gue sambil memijat kening yang berdenyut. Alila diam. Mencoba meresapi perkataan gue. “Maaf..” hanya itu yang keluar dari mulutnya. Gue menoleh, lantas mengacak rambutnya lembut seperti seorang kakak yang tengah menenangkan adiknya.

“Sekarang gue akhirnya tahu, bahwa cemburu itu mengerikan,” gue melirik Alila sekilas, lalu tertawa renyah. Alila meninju bahu gue keras, “Itu buat lo yang suka bikin gue kesel!” Kini hati gue lega. Alila sudah kembali seperti biasa. Suara cemprengnya kembali memenuhi gendang telinga. Pertanyaan seharian ini telah berlabuh pada jawaban yang tepat. Gue tersenyum, ternyata selain cemburu, salah paham itu juga mengerikan.

2 komentar:

  1. Di awal cerita bikin saya ingin terus membacanya hehe teenlit emg bikin kita inget masa2 dulu. Malu2 n malu2in hehehe....

    BalasHapus
  2. Hehe, iya nulisnya juga lebih enak. Ngalirrr :) Terima kasih ya sudah singgah dan baca hihi

    BalasHapus