Total Tayangan Halaman

Rabu, 09 Agustus 2017

Fin dan Penyaring Mimpi (Terbit 23 Juli 2017, Harian Medan Pos)

Sisa minggu itu berjalan begitu cepat hingga Fin tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain selain perkataan Mama. Sore itu Mama membuat keputusan yang sebenarnya tidak pernah disetujuinya. Bagaimana tidak, Mama membawa kabar baik sekaligus kabar buruk di sore cerah itu. Kabar baiknya, Mama dan Dokter Ivana bersepakat akan memberikannya terapi bertahap untuk meminimalisir gangguan disleksia yang dideritanya. Kabar buruknya adalah Mama meminta pihak sekolah untuk memberikan izin yang cukup lama, agar Fin bisa berkonsentrasi pada terapi itu untuk kesembuhannya.
Tapi ia tak bisa membantah. Besok adalah hari terakhirnya bersekolah. Hari terakhirnya duduk berdampingan bersama Yoana. Hari terakhirnya mendengar guru menjelaskan di depan kelas. Hari terakhirnya bertemu Agil. Ah, anak laki-laki itu terlalu sulit untuk dilupakan. Bahkan dalam keadaan seperti ini pun, dia masih tetap berada di sisi Fin. Bagaimana mungkin ia akan melupakan segala cerita hangat yang selalu Agil lukiskan di kanvas kosongnya selama ini?
Tanpa ia sadari, sabtu malam pun tiba dan bersama Agil, ia tengah berada di taman Ayodia. Cuaca masih terasa dingin, habis hujan. Fin merapatkan sweter, menatap sekitar. Taman ini tidak terlalu ramai, juga tidak sepi. Agil mengajaknya bersantai sambil memandang air mancur di taman seluas tujuh ribu meter persegi ini. Ada banyak bangku yang tersedia. Fin bisa melihat banyak pedagang penjual makanan di pinggir taman. Agil baru saja kembali, membawa dua buah roti bakar dan dua gelas cokelat panas. Menyerahkannya pada Fin, tersenyum sambil berkata, “Sepuluh ribu,” Fin tertawa mendengar candaannya. Lantas Agil duduk di sebelahnya.
“Boleh aku tanya sesuatu?” Fin menoleh ke arah Agil yang masih asik mengunyah roti bakarnya.
“Apa?”
“Apa pendapatmu tentang perpisahan?”
Pertanyaan Fin membuat Agil berhenti dari aktivitas santapnya. Dia menoleh, memandang wajah Fin dari arah kiri. “Menyakitkan. Aku benci perpisahan,” Agil merasakan ada getar dalam suaranya. Entahlah, tiba-tiba dia merasa ada yang aneh menelusup masuk dalam hatinya.
“Kenapa kau menanyakan itu?”
Fin menggeleng, lantas tersenyum. Senyuman hambar. Tidak ada energi bahagia dalam senyumannnya kali ini. Agil merasakan ada sesuatu yang hendak disampaikan gadis itu. Angin malam berhembus, meneriapkan anak rambut Fin. Poninya sedikit menutupi matanya. Roti bakar itu tak tersentuh. Entahlah apa yang tengah dipikirkannya.
“Maukah kau melakukan satu hal untukku?” Fin bersuara lagi.
Abi mengangguk.
“Jangan temui aku lagi besok, lusa, dan sampai waktu yang belum bisa kutentukan. Jangan temui aku sebelum aku yang memintanya,” suara Fin terdengar datar.
“Kau bergurau? Ini tidak lucu,” Agil tertawa sinis. Ada perasaan takut dalam hatinya. Kali ini jauh lebih besar dari sebelumnya. “Tidak. Aku serius. Kau tahu kan aku sakit. Aku butuh pengobatan. Aku tidak ingin kau menghabiskan waktumu dengan mengurusiku,” Fin mencoba tersenyum. “Kau harus mengerti,”
“Jangan bercanda! Aku sudah bilang sejak awal mengenalmu, itu semua bukan alasan. Jangan memintaku melakukan sesuatu hal yang tak bisa kulakukan,” Agil mengatupkan gerahamnya.
“Kau bisa. Kau pasti bisa melakukannya,” Fin tersenyum, mengusap bahu Agil pelan. “Mulai senin, aku tidak lagi datang untuk sekolah,”
“Kau kenapa? Ada apa sebenarnya? Fin, beritahu aku,” Agil mengguncang bahu Fin. Raut wajah khawatirnya tak dapat lagi ia sembunyikan. Fin menceritakan padanya tentang sore itu, tentang terapi yang akan dijalaninya. Sebelum akhirnya penjelasan itu benar-benar berakhir, Fin bertanya apakah ada yang bisa diharapkan lagi dari dirinya untuk hubungan ini.
“Kau tidak sendiri,” Agil mengusap kepala Fin lembut. “Tidak, aku bisa mengatasi semuanya. Kau harus percaya padaku,” Fin menyentuh ujung hidung Agil, lalu ia tertawa. Tawa yang tentu tidak mengandung molekul bahagia. Tawa yang ia buat semata-mata untuk menenangkan Agil, bahwa ia akan baik-baik saja.
“Kau sayang padaku?” tanya Agil. “Ya, tentu saja. Tidak ada yang keliru tentang itu,” Fin menjawab mantap.“Berjanjilah padaku kau akan sembuh,” Fin tersenyum, lalu mengangguk.
“Bagus,” jawabnya, walaupun membayangkan tidak bertemu Fin sehari saja membuatnya begitu khawatir. “Ahh ya, aku punya sesuatu untukmu,” Agil mengeluarkan sesuatu dari saku jaket birunya.
“Ini..” katanya menyerahkan benda itu ke tangan Fin.  Fin meletakkan cokelat panasnya di bangku kosong sebelah.  “Dream Catcher?” dia bergumam pelan, menatapnya tak percaya. Agil tersenyum, lantas mengangguk mantap. “Iya! Dream Catcher. Atau yang biasa orang sebut sebagai penangkap mimpi. Ini pada tradisi orang-orang penduduk pribumi Amerika. Mereka menggantungkan sebuah jaring-jaring simbolis di atas tubuh seseorang yang sedang tidur untuk melindunginya dari mimpi buruk,”
“Kenapa kau memberikan ini untukku?” Fin menatapnya sekali lagi.
“Aku memberikannya karena aku ingin,” Agil tersenyum. “Di beberapa buku, aku pernah membaca bahwa seseorang yang memberikan Dream Catcher merupakan sepasang kekasih yang ingin sekali menjaga pasangannya namun di luar batas kemampuannya. Menjaga sang kekasih dari mimpi buruk dan menangkap mimpi-mimpi baik untuk dimasukkan ke dalam mimpi kekasihnya,”
Fin masih memperhatikan media penyaring mimpi itu. Dream Catcher berwarna biru muda ini terlihat begitu indah dipandang mata.  Sebuah simpul kayu berbentuk lingkaran yang di dalamnya terdapat sebuah jaring anyaman dengan lubang di tengahnya. Di bagian bawah lingkaran kayu itu terdapat dua atau lebih bulu yang tergantung-gantung. Sempurna. Fin bahkan tidak pernah berpikir Agil akan memberikannya benda istimewa ini. Dia suka, sangat suka. Sama sukanya seperti Agil yang menyukai benda-benda mitos seperti ini. Seperti teru-teru bozu yang pernah diberikannya beberapa waktu lalu. Benda mitos yang kini telah berubah menjadi trend fashion.
“Supaya kau terhindar dari mimpi buruk. Dream Catcher ini akan menyaring mimpi-mimpi dari udara malam, dan hanya akan membiarkan mimpi-mimpi baik dan pesan positif saja yang akan masuk ke dalam mimpimu,” Agil mengacak lembut rambut hitam Fin. “Sebab aku tak selalu bisa menjagamu,” tambahnya. Kalimat terakhirnya membuat mata Giska berkaca-kaca. “Terima kasih,” ucapnya singkat.
“Oh iya, selama aku tidak ada. Kau jangan coba-coba selingkuh. Apalagi dengan mantanmu itu,” seloroh Fin.
Agil tergelak, “Kenapa? Kau cemburu?”
Fin merengut, mencubit pinggang Agil kencang.
“Aww, lagi dong?” Agil tertawa, tubuhnya berguncang hebat. Fin pun begitu, di tinjunya lengan Agil pelan.
Suasana malam yang indah. Meski esok dua insan itu tak lagi bertemu. Fin melarang Agil menemuinya, sebab dia tak ingin Agil sedih. Dia tak ingin Agil terlalu mengkhawatirkannya. Kelak, ketika ia sudah lebih sehat, dia yang akan menemui anak laki-laki baik hati itu. Keramaian di taman itu sudah hampir padam. Langit semakin gelap, Fin melihat Agil melirik jam di pergelangan tangannya.
“Balik, yuk. Udah larut, nih,” Agil meminta persetujuannya.

Fin mengangguk, lantas Agil menjabat tangannya erat dan menatap matanya dengan pandangan pekat. Tiba-tiba saja ia merindukan dunia yang sejak dulu ingin diselaminya. Fin pun menyambut genggaman tangan Agil dengan hangat. Melangkah bersama menuju motor yang di parkir di pinggir taman. Sebelum angin malam kembali menerpa wajahnya, menandakan hujan akan segera turun, Fin mendekapnya. Seolah tidak ingin berpisah lama. Agil memang menyebalkan. Namun di sisi lain, dia juga menyenangkan. Fin tersenyum, rasanya ia tak ingin malam ini segera habis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar