Sisa
minggu itu berjalan begitu cepat hingga Fin tidak punya waktu untuk memikirkan
hal lain selain perkataan Mama. Sore itu Mama membuat keputusan yang sebenarnya
tidak pernah disetujuinya. Bagaimana tidak, Mama membawa kabar baik sekaligus
kabar buruk di sore cerah itu. Kabar baiknya, Mama dan Dokter Ivana bersepakat
akan memberikannya terapi bertahap untuk meminimalisir gangguan disleksia yang
dideritanya. Kabar buruknya adalah Mama meminta pihak sekolah untuk memberikan
izin yang cukup lama, agar Fin bisa berkonsentrasi pada terapi itu untuk
kesembuhannya.
Tapi
ia tak bisa membantah. Besok adalah hari terakhirnya bersekolah. Hari
terakhirnya duduk berdampingan bersama Yoana. Hari terakhirnya mendengar guru
menjelaskan di depan kelas. Hari terakhirnya bertemu Agil. Ah, anak laki-laki
itu terlalu sulit untuk dilupakan. Bahkan dalam keadaan seperti ini pun, dia
masih tetap berada di sisi Fin. Bagaimana mungkin ia akan melupakan segala
cerita hangat yang selalu Agil lukiskan di kanvas kosongnya selama ini?
Tanpa
ia sadari, sabtu malam pun tiba dan bersama Agil, ia tengah berada di taman
Ayodia. Cuaca masih terasa dingin, habis hujan. Fin merapatkan sweter, menatap
sekitar. Taman ini tidak terlalu ramai, juga tidak sepi. Agil mengajaknya
bersantai sambil memandang air mancur di taman seluas tujuh ribu meter persegi
ini. Ada banyak bangku yang tersedia. Fin bisa melihat banyak pedagang penjual
makanan di pinggir taman. Agil baru saja kembali, membawa dua buah roti bakar
dan dua gelas cokelat panas. Menyerahkannya pada Fin, tersenyum sambil berkata,
“Sepuluh ribu,” Fin tertawa mendengar candaannya. Lantas Agil duduk di
sebelahnya.
“Boleh
aku tanya sesuatu?” Fin menoleh ke arah Agil yang masih asik mengunyah roti
bakarnya.
“Apa?”
“Apa
pendapatmu tentang perpisahan?”
Pertanyaan
Fin membuat Agil berhenti dari aktivitas santapnya. Dia menoleh, memandang
wajah Fin dari arah kiri. “Menyakitkan. Aku benci perpisahan,” Agil merasakan
ada getar dalam suaranya. Entahlah, tiba-tiba dia merasa ada yang aneh
menelusup masuk dalam hatinya.
“Kenapa
kau menanyakan itu?”
Fin
menggeleng, lantas tersenyum. Senyuman hambar. Tidak ada energi bahagia dalam
senyumannnya kali ini. Agil merasakan ada sesuatu yang hendak disampaikan gadis
itu. Angin malam berhembus, meneriapkan anak rambut Fin. Poninya sedikit
menutupi matanya. Roti bakar itu tak tersentuh. Entahlah apa yang tengah
dipikirkannya.
“Maukah
kau melakukan satu hal untukku?” Fin bersuara lagi.
Abi
mengangguk.
“Jangan
temui aku lagi besok, lusa, dan sampai waktu yang belum bisa kutentukan. Jangan
temui aku sebelum aku yang memintanya,” suara Fin terdengar datar.
“Kau
bergurau? Ini tidak lucu,” Agil tertawa sinis. Ada perasaan takut dalam
hatinya. Kali ini jauh lebih besar dari sebelumnya. “Tidak. Aku serius. Kau
tahu kan aku sakit. Aku butuh pengobatan. Aku tidak ingin kau menghabiskan
waktumu dengan mengurusiku,” Fin mencoba tersenyum. “Kau harus mengerti,”
“Jangan
bercanda! Aku sudah bilang sejak awal mengenalmu, itu semua bukan alasan.
Jangan memintaku melakukan sesuatu hal yang tak bisa kulakukan,” Agil
mengatupkan gerahamnya.
“Kau
bisa. Kau pasti bisa melakukannya,” Fin tersenyum, mengusap bahu Agil pelan.
“Mulai senin, aku tidak lagi datang untuk sekolah,”
“Kau
kenapa? Ada apa sebenarnya? Fin, beritahu aku,” Agil mengguncang bahu Fin. Raut
wajah khawatirnya tak dapat lagi ia sembunyikan. Fin menceritakan padanya
tentang sore itu, tentang terapi yang akan dijalaninya. Sebelum akhirnya
penjelasan itu benar-benar berakhir, Fin bertanya apakah ada yang bisa
diharapkan lagi dari dirinya untuk hubungan ini.
“Kau
tidak sendiri,” Agil mengusap kepala Fin lembut. “Tidak, aku bisa mengatasi
semuanya. Kau harus percaya padaku,” Fin menyentuh ujung hidung Agil, lalu ia
tertawa. Tawa yang tentu tidak mengandung molekul bahagia. Tawa yang ia buat
semata-mata untuk menenangkan Agil, bahwa ia akan baik-baik saja.
“Kau
sayang padaku?” tanya Agil. “Ya, tentu saja. Tidak ada yang keliru tentang
itu,” Fin menjawab mantap.“Berjanjilah padaku kau akan sembuh,” Fin tersenyum,
lalu mengangguk.
“Bagus,”
jawabnya, walaupun membayangkan tidak bertemu Fin sehari saja membuatnya begitu
khawatir. “Ahh ya, aku punya sesuatu untukmu,” Agil mengeluarkan sesuatu dari
saku jaket birunya.
“Ini..”
katanya menyerahkan benda itu ke tangan Fin. Fin meletakkan cokelat panasnya di bangku
kosong sebelah. “Dream Catcher?” dia bergumam pelan, menatapnya tak percaya. Agil
tersenyum, lantas mengangguk mantap. “Iya! Dream
Catcher. Atau yang biasa orang sebut sebagai penangkap mimpi. Ini pada
tradisi orang-orang penduduk pribumi Amerika. Mereka menggantungkan sebuah
jaring-jaring simbolis di atas tubuh seseorang yang sedang tidur untuk melindunginya
dari mimpi buruk,”
“Kenapa
kau memberikan ini untukku?” Fin menatapnya sekali lagi.
“Aku
memberikannya karena aku ingin,” Agil tersenyum. “Di beberapa buku, aku pernah
membaca bahwa seseorang yang memberikan Dream
Catcher merupakan sepasang kekasih yang ingin sekali menjaga pasangannya namun
di luar batas kemampuannya. Menjaga sang kekasih dari mimpi buruk dan menangkap
mimpi-mimpi baik untuk dimasukkan ke dalam mimpi kekasihnya,”
Fin
masih memperhatikan media penyaring mimpi itu. Dream Catcher berwarna biru muda ini terlihat begitu indah
dipandang mata. Sebuah simpul kayu
berbentuk lingkaran yang di dalamnya terdapat sebuah jaring anyaman dengan
lubang di tengahnya. Di bagian bawah lingkaran kayu itu terdapat dua atau lebih
bulu yang tergantung-gantung. Sempurna. Fin bahkan tidak pernah berpikir Agil
akan memberikannya benda istimewa ini. Dia suka, sangat suka. Sama sukanya
seperti Agil yang menyukai benda-benda mitos seperti ini. Seperti teru-teru bozu yang pernah diberikannya
beberapa waktu lalu. Benda mitos yang kini telah berubah menjadi trend fashion.
“Supaya
kau terhindar dari mimpi buruk. Dream
Catcher ini akan menyaring mimpi-mimpi dari udara malam, dan hanya akan
membiarkan mimpi-mimpi baik dan pesan positif saja yang akan masuk ke dalam
mimpimu,” Agil mengacak lembut rambut hitam Fin. “Sebab aku tak selalu bisa
menjagamu,” tambahnya. Kalimat terakhirnya membuat mata Giska berkaca-kaca. “Terima
kasih,” ucapnya singkat.
“Oh
iya, selama aku tidak ada. Kau jangan coba-coba selingkuh. Apalagi dengan
mantanmu itu,” seloroh Fin.
Agil
tergelak, “Kenapa? Kau cemburu?”
Fin
merengut, mencubit pinggang Agil kencang.
“Aww,
lagi dong?” Agil tertawa, tubuhnya berguncang hebat. Fin pun begitu, di
tinjunya lengan Agil pelan.
Suasana
malam yang indah. Meski esok dua insan itu tak lagi bertemu. Fin melarang Agil
menemuinya, sebab dia tak ingin Agil sedih. Dia tak ingin Agil terlalu
mengkhawatirkannya. Kelak, ketika ia sudah lebih sehat, dia yang akan menemui
anak laki-laki baik hati itu. Keramaian di taman itu sudah hampir padam. Langit
semakin gelap, Fin melihat Agil melirik jam di pergelangan tangannya.
“Balik,
yuk. Udah larut, nih,” Agil meminta persetujuannya.
Fin
mengangguk, lantas Agil menjabat tangannya erat dan menatap matanya dengan
pandangan pekat. Tiba-tiba saja ia merindukan dunia yang sejak dulu ingin
diselaminya. Fin pun menyambut genggaman tangan Agil dengan hangat. Melangkah
bersama menuju motor yang di parkir di pinggir taman. Sebelum angin malam
kembali menerpa wajahnya, menandakan hujan akan segera turun, Fin mendekapnya. Seolah
tidak ingin berpisah lama. Agil memang menyebalkan. Namun di sisi lain, dia
juga menyenangkan. Fin tersenyum, rasanya ia tak ingin malam ini segera habis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar