Tak
ada yang lebih menyebalkan selain berjalan sendirian menuju rumah sepulang
bekerja. Jalan setapak yang kulalui ini selalu saja sepi. Padahal jam masih
menunjukkan pukul 8 malam. Seharusnya jalan ini masih ramai dilalui kendaraan
seperti malam-malam sebelumnya. Tapi belakangan ini, isu-isu tidak mengenakkan
mulai merebak ke telinga penduduk. Sehingga mereka lebih memilih berdiam diri
di rumah, daripada harus keluyuran usai maghrib bertandang.
Jalan
setapak ini basah, hujan membuat beberapa lubang di jalan itu tergenang air.
Hawa dingin menyergap, membuatku segera merapatkan jaket. Malam gelap yang
dingin membuat suasana jalan setapak ini terasa begitu mencekam. Aku berjalan
menunduk, sampai tiba-tiba sudut mataku melihat sekelebat bayangan. Aku sigap
menoleh, ah.. sial, gubuk kecil di bawah pohon besar itu selalu saja berhasil
membuat bulu kudukku meremang. Gubuk yang tidak diketahui milik siapa itu,
selalu mampu membuat aku takut melintas di jalan ini. Tapi mau bagaimana lagi,
jalan ini adalah jalan yang paling singkat dan cepat menuju rumah.
Aku
memperhatikan gubuk tua itu sambil berjalan perlahan. Mataku menelanjangi
seluruh bagian dari gubuk yang tidak jauh dari jalan setapak ini. Gubuk tua
yang masih kokoh berdiri itu berada tepat di belakang sebuah pohon besar tak
jauh dari jalan. Selalu menarik perhatian karena hanya gubuk itulah
satu-satunya yang ada di sekitar jalan setapak ini. Retinaku menangkap bayangan
seseorang yang mulai terlihat dari jendela gubuk. Seorang perempuan yang
kutaksir seusia denganku, tengah membersihkan sesuatu. Hanya sebagian dari
tubuhnya yang kelihatan dari jendela itu. Sesudah melakukan tugasnya, perempuan
itu segera menutup jendela tanpa tahu aku sedang memperhatikannya sejak tadi.
Pikiranku
mulai berdiskusi, menanya dan menjawab sendiri. Siapa perempuan cantik itu?
Bukankah selama ini gubuk itu hanya dipakai untuk warga yang tengah menjaga
kebunnya di sekitar sini? Atau aku yang tidak tahu-menahu soal kedatangan
penduduk baru yang menempati gubuk di jalan itu? Ah, entahlah.. barangkali aku
mulai tidak acuh pada hal-hal di sekitarku karena beban pekerjaan yang selalu
mengejar deadline. Pikiranku
benar-benar tersita dengan pekerjaan, bahkan kekasihku pun ikut uring-uringan
jika aku lebih menomorsatukan pekerjaan dibanding dirinya.
Aku
tiba di rumah dengan suguhan teh buatan ibu. Meski telah sampai di rumah,
pikiranku masih tertuju pada apa yang aku lihat di gubuk tua jalan setapak itu.
Penasaran, kutanya ibu yang tengah menjahit seragam sekolah Beni. “Ibu tahu
gubuk kecil yang ada di tengah jalan setapak menuju rumah kita?” tanyaku
memandang ibu. “Gubuk tua di lahan Pak Karno maksudmu, Zal?” ibu bertanya balik
padaku. Aku mengiyakan,”Kenapa memangnya?” tanya ibu lagi. Aku mendekat ke arah
ibu, “Ketika melewati gubuk itu tadi, Zal melihat ada seorang perempuan cantik
di sana, Bu. Ibu tahu dia siapa?” tanyaku antusias.
Ibu
yang masih sibuk menjahit, dengan cepat menggeleng. “Barangkali keponakan Pak
Karno, Zal.” Jawab ibu santai. Aku mengangguk perlahan, tapi pertanyaan di
hatiku seolah belum terpuaskan oleh jawaban ibu. Aku melirik jam dan segera
bergegas menuju kamar. Tapi kemudian, Beni datang dengan terengah-engah,
membuka pintu dengan dengan sedikit mendobrak. Aku memelototinya, bikin kaget saja, batinku. “Ada
pembunuhan, Bu,” cepat Beni memberi tahu. Kantukku serta merta hilang, berganti
rasa penasaran dengan cerita yang baru saja dibawa Beni. “Pembunuhan di mana?”
tanyaku ingin tahu. “Siapa yang dibunuh?” ibu tak kalah menyerbu.
“Nggak
tahu namanya, Bu. Tapi yang jelas, pemuda yang sering membantu Pak Karno di
kebunnya. Ada bekas sayatan di lehernya, panjang sekali. Hiii..” Beni bergidik
ngeri. Aku menelan ludah,”Kapan kejadiannya?” tanyaku lagi. “Barusan, Bang. Di
ujung jalan setapak itu. Pak Rahman yang tadi hendak ke masjid, menemukan mayat
pemuda itu, sebab ada darah yang tercecer di sepanjang jalan,” Beni mengusap
wajahnya. “Tega sekali…” ucap ibu berbisik.
Aku
terdiam, mengapa tiba-tiba aku jadi merasa takut? Baru saja aku melewati jalan
setapak itu, dan aku tidak melihat ada tanda-tanda bahaya di sana. Mengapa
selang beberapa jam aku di rumah, ada kejadian mengerikan seperti itu? Bukankah
tadi jalanan itu sepi sekali? Dan memang biasanya sangat sepi? Aku pamit pada
ibu untuk masuk ke kamar, jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Besok masih ada
pekerjaan penting yang harus kuselesaikan.
*
* *
Aku
baru akan berangkat kerja, ketika kulihat Beni tengah berkumpul di teras rumah
dengan teman-teman sekolahnya. “Bang Hadi penjaga kebun Pak Karno itu, ternyata
mati karena dibunuh hantu.” ucap salah seorang teman Beni. “Iya, padahal cerita
itu sudah lama, ya. Hantu wanita yang pernah jatuh didorong seseorang tak
dikenal di rel kereta api simpang jalan itu. Dan badannya terlindas hingga terbelah
dua dibagian pinggang. Konon katanya ia selalu membawa sabit besar yang tajam
dan berjalan mencari korban untuk balas dendam.” teman yang lain menimpali.
Kulihat Beni hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan teman-temannya. Aku
hanya mendengus sebal mendengar ucapan mereka. Dasar anak sekolah! Bisanya
menggosip dan mengada-ada cerita saja. Aku menyalami ibu dan beranjak pergi
bekerja, setelah sebelumnya melempar senyum kepada teman-teman Beni.
Aku
merentangkan kedua tanganku. Berjam-jam menatap layar persegi empat ini,
ternyata membuat mataku lelah. Aku mengucek mata dan melirik jam tanganku,
pukul 9 malam. Ya ampun, ternyata kekasihku benar. Aku terlalu maniak dalam
bekerja, hingga terkadang lupa waktu. Kubereskan semuanya dan aku beranjak
meninggalkan ruang kerja. Beberapa teman masih sibuk menyelesaikan bahan untuk
pertemuan besok. Aku pamit dan segera berlalu, mencari bis tercepat untuk bisa
segera tiba di rumah. Tiba-tiba aku menjadi sangat rindu dengan teh buatan ibu.
Bis
berhenti tepat ketika aku tiba di simpang jalan setapak. Aku turun sambil
merapatkan jaket pemberian ibu. Usiaku 24 tahun, dan aku masih sangat menyukai
semua barang yang dibelikan ibu. Dan kuakui, aku terkadang lebih manja dari
adikku. Angin bertiup agak kencang, awan hitam mulai kelihatan menutup langit.
Sepertinya hujan akan segera datang. Aku berjalan lebih cepat dari biasanya.
Ah, kenapa aku harus pulang selarut ini? Aku mengutuk diriku sendiri, teringat
kejadian malam kemarin soal pembunuhan Bang Hadi di ujung jalan. Juga terngiang
percakapan ngaco Beni dengan teman-temannya
pagi tadi. Padahal sejak tadi, aku sama sekali tidak memikirkan hal itu.
Tiba-tiba
perasaanku menjadi tidak enak. Dan semakin bertambah tidak enak saat aku sadar
bahwa aku harus melintasi gubuk tua di pertengahan jalan setapak ini. Dengan
keberanian yang kubesar-besarkan, aku membaca bismillah dan berusaha menyeret
kakiku untuk bisa segera tiba di rumah. Kubuang pikiran burukku jauh-jauh. Aku
berjalan sambil bersenandung kecil, berusaha meminimalisir rasa takut. Jalan
ini masih saja sepi, aku berdoa agar ada satu-dua orang yang melintas. Tapi
nihil, jalan ini kosong melompong seperti pekuburan.
Tiba-tiba
aku tersentak ketika mendengar suara aneh menyentuh gendang telingaku. Seperti
suara seretan kaki yang dipaksa. Tapi aku tidak tahu suara itu berasal dari
mana. Suara itu semakin jelas terdengar, ketika aku mulai mendekati gubuk tua
itu. Aku menelan ludah, suara itu semakin menakutiku. Tiba-tiba, kakiku gemetar
hebat ketika aku tak kuasa menerima apa yang telah aku lihat. Dibawah pohon
besar yang menghadap utara itu, aku melihat seorang perempuan tanpa kaki tengah
membersihkan sesuatu.
Wujud
perempuan yang tak asing dimataku itu terlihat begitu mengerikan. Dengan tubuh
yang hanya sebatas pinggang, tanpa kaki yang melengkapi. Kulihat dia memegang
sabit tajam yang berlumuran darah. Dan astaga.. apa itu? Di belakang pohon
besar yang terlihat retinaku, menjorok keluar kepala perempuan dengan rambut
sebahu. Perempuan itu sudah tak bernyawa. Darahku berdesir hebat, merasa tak
terima atas apa yang baru saja kusaksikan.
Perempuan
yang memegang sabit itu adalah perempuan cantik yang malam kemarin kulihat di
gubuk tua pertengahan jalan. Bulu kudukku sudah berdiri sejak tadi, tapi kakiku
seakan tak bisa diajak kompromi untuk berlari. Aku menepi dan bersembunyi di
balik pohon untuk melihat semuanya. Perempuan mengerikan itu berjalan
menggunakan kedua sikunya sebagai penopang. Berjalan terseok-seok kesusahan
untuk menyingkirkan mayat wanita yang telah dibunuhnya. Aku hampir gila
melihatnya, betapa aku tidak mempercayai hal-hal mistik semacam itu. Tapi
bagaimana mungkin aku bisa menyangkal lagi, jika sekarang kedua mataku
menyaksikan hal semenyeramkan ini.
Tubuhku
gemetar hebat, seumur hidup aku tidak pernah bermimpi dan berkeinginan melihat
hal semacam ini. Ternyata apa yang diperbincangkan Beni dan teman-temannya pagi
tadi adalah benar. Perempuan itu menggelindingkan jasad wanita yang berlumuran
darah itu ke sudut jalan. Aku menahan napas, berusaha mengatur detak jantungku
yang bertengkar. Lihat, wajah pucat miliknya terasa begitu menyeramkan. Dengan
luka dipelipis kirinya yang dalam, membuatnya semakin tampak mengerikan. Usai
menyelesaikan dendamnya, hantu perempuan yang memiliki tubuh sepinggang itu,
menyeringai dingin.
Dia
berlari menuju gubuk tuanya. Dia berlari dengan sikunya, terseok-seok menyeret
dirinya untuk kembali bersembunyi. Sementara aku, berbalik arah dan berlari
sekencang mungkin. Dengan degup jantung yang tak karuan, aku memilih berbalik
dan melewati jalan lain. Aku tidak cukup berani melanjutkan langkah melewati
gubuk tua itu. Keringat dingin masih membanjiri tubuhku hingga aku tiba di
rumah. Ketika ibu membuka pintu, aku tersenyum dengan wajah yang aku yakin
lebih pucat dari orang sakit. Sedetik berikutnya, aku limbung, tersungkur, dan
kudengar teriakan ibu memanggil Beni. Setelahnya, aku tidak ingat apa-apa lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar