Total Tayangan Halaman

Selasa, 16 Januari 2018

Perempuanmu (Terbit 24 Desember 2017, Harian Medan Pos)

“Aku ingin menamatkan cintaku pada sepetak tanah pekuburan itu. Agar aku tahu, apakah ia akan menangisiku untuk yang pertama kali. Menangis untuk jasadku yang mulai kaku ini.”
* * *
Lagi. Perempuan itu lagi-lagi kau hadiahi luka. Tanpa kau sadar, bahwa ia sudah tidak mampu lagi untuk menampungnya. Kau tetap saja hadiahi ia luka. Bertubi-tubi, setiap hari. Bahkan di dua puluh empat jam-mu, tiada pernah kau hadiahi ia bahagia. Ia ingin tumpahkan air mata tepat di wajahmu, tepat di depan bola matamu, tapi ia tahan. Sebab baginya saat itu, cintanya kadung memenuhi rongga dada. Sulit sekali untuk dilepas. Tidak mudah untuk dipangkas.
Di matamu, ia hanya seorang perempuan yang menyusahkan. Yang kerapkali ingin diperhatikan. Yang selalu ingin diutamakan. Padahal kamu punya segudang kesibukan, yang bagi kepalamu, itu jauh lebih prioritas. Bagimu, perempuan itu hanya membuat susah. Sering mengganggu dan membuat rusuh hatimu. Bahkan sesekali merusak pikiranmu. Membuat pekerjaanmu menjadi terbengkalai karena ulahnya.
Padahal, apa kau tahu? Itu adalah bagian dari rencananya untuk mendapat perhatianmu. Sesekali perempuanmu merasa kesepian, karena dia bukan lagi hal utama yang kau segerakan seperti dulu. Perempuanmu merasa dia hampir kehilangan wadah bahagianya, tapi kau malah dengan tega mengatakannya dia pengganggu segala. Perempuanmu hanya tidak ingin kau berubah, menjadi sibuk hingga akhirnya ia terlupakan.
Dia berusaha untuk tidak menumpahkan air mata di hadapanmu. Dia pun berusaha untuk menekan emosi agar kamu tidak tersakiti. Meski beberapa kali, dadanya telah remuk oleh kata-katamu. Hatinya sudah lebam oleh ucapanmu. Perempuanmu mencoba sabar, masih terus berharap agar kalian baik-baik saja. Ia pasang kembali topeng penerimaan, hingga kamu mengira bahwa lukanya telah sirna. Padahal apa kamu tahu, jauh di dalam sana, hatinya sudah rusak parah.
Tidak.
Kamu tidak pernah tahu. Bahkan untuk sekadar mengintip bentuk hatinya saja, kamu tidak mau. Perempuanmu hanya ingin dicinta. Sesekali ia butuh dimengerti, bahwa apresiasimu terhadap cintanya dapat kau realisasikan di kehidupan nyata. Bukan sekadar kata-kata, bukan cuma diksi indah.
 Berulang kali perempuanmu ingin menyerah. Tapi ketika ia mengungkap segalanya, kau menggenggam tangannya dengan sangat erat. Kau tahu, kau takkan bisa hidup tanpanya. Dan kau menyadari, bahwa tanpanya cintamu akan mati. Tapi tetap saja, kau perlakukan dia dengan sayatan-sayatan duka. Membuat dia berkali-kali ingin menyerah. Membuat dia ingin pergi dan menyendiri.
Bagaimana bisa kau perlakukan dia seperti itu?
Hingga beberapa kali kau tampar dia dengan sikapmu yang semakin kacau. Kau habisi dia dengan kata-katamu. Kau buat dia terluka dengan intonasi suaramu. Berkali-kali ia menangis dalam hening. Bersahut-sahutan saat jangkrik menyuarakan kekelaman malam. Tertidur dengan bekas air mata. Terbangun dengan sembab yang meraja. Apa kau tahu itu? Tidak! Kau sama sekali tidak tahu bahwa perempuanmu terluka parah.
Perempuanmu terluka parah di bagian hatinya. Bentuknya sudah porakporanda tak terkira. Dan dia harus merasakan perihnya seorang diri. Dia berusaha kembali menyusunnya, tapi sayang, pondasinya tak lagi kuat seperti dulu. Apa kau tahu itu? Tidak! Lagi-lagi kau tidak tahu semua perihal perempuanmu. Perihal yang ia suka, perihal yang ia murka. Kau tak lagi peduli akan itu. Di kepalamu hanya bagaimana menjadi bahagia dengan duniamu saja.
Sesekali lihatlah,
Perempuanmu tidak lagi seperti dulu. Ia sekarang lebih banyak diam. Menerima segala kotak luka yang kau suguhi padanya. Ia tak lagi memberontak, ia juga tak lagi memberitahumu perihal kesakitannya. Bahkan tembok tinggi nan gagah itu pun akan hancur berkeping-keping, ketika dipukuli bertubi-tubi. Konon lagi hatinya yang hanya sebatas gumpalan daging beserta darah?
Kamu yang selalu mengatakan dia tidak sempurna. Kamu yang kerapkali mengatakan dia bukan segalanya. Suatu saat kau akan mengerti mengapa kerewelannya ia jatuhkan padamu. Mengapa segala suka dukanya ia hanya ingin kau yang tahu. Mengapa hari-harinya tak ingin ia lewatkan tanpa kamu. Suatu saat nanti kau akan mengerti. Bahwa bukan karena ia tak bisa membagi cintanya pada lelaki lain. Tapi karena baginya, dirimu adalah sebuah tujuan. Meski kamu hanya menganggapnya sebuah pelarian.
Teruskanlah, jika dengan menyakiti perempuanmu dapat membuatmu merasa lebih bahagia. Teruskanlah, jika dengan mengeksplor kekurangannya, dapat membuatmu merasa lebih sukacita. Teruskanlah menyakitinya dengan hal-hal yang kau anggap biasa. Meski baginya, itu bukan sekadar luka.
Perempuan yang berusaha membahagiakanmu. Perempuan yang berusaha memahami setiap kondisimu. Perempuan yang tidak pernah peduli bagaimana masa lalu kamu.  Dan perempuan (malang) yang nyatanya tidak begitu berharga dihadapan kamu. Ia masih terus mengais kasih dari dua bola matamu, berharap kamu bisa berubah seperti yang ia suka. Berharap kamu tidak lagi menyakiti dengan cara yang sama. Dengan cara yang parah.
 “Aku ingin menamatkan cintaku pada sepetak tanah pekuburan itu. Agar aku tahu, apakah ia akan menangisiku untuk yang pertama kali. Menangis untuk jasadku yang mulai kaku ini.”
Perempuanmu akhirnya benar-benar mengakhiri segalanya. Ia menamatkan cintanya pada kesakitan yang maha panjang. Beralaskan namamu, mengingat sikap-sikapmu, ia jatuhkan dirinya ke dasar jurang. Agar kau yang tak peduli, tidak kerepotan mencari jasadnya nanti. Perempuanmu memang payah, ia bahagiakan kau dengan cara yang salah. Meski begitu, dalam sisa napasnya ia berdoa, semoga kelak ada perempuan lain yang lebih bisa kau cintai. Semoga ada perempuan lain yang lebih bisa kau hargai. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar