“Aku
ingin menamatkan cintaku pada sepetak tanah pekuburan itu. Agar aku tahu,
apakah ia akan menangisiku untuk yang pertama kali. Menangis untuk jasadku yang
mulai kaku ini.”
*
* *
Lagi.
Perempuan itu lagi-lagi kau hadiahi luka. Tanpa kau sadar, bahwa ia sudah tidak
mampu lagi untuk menampungnya. Kau tetap saja hadiahi ia luka. Bertubi-tubi,
setiap hari. Bahkan di dua puluh empat jam-mu, tiada pernah kau hadiahi ia
bahagia. Ia ingin tumpahkan air mata tepat di wajahmu, tepat di depan bola
matamu, tapi ia tahan. Sebab baginya saat itu, cintanya kadung memenuhi rongga
dada. Sulit sekali untuk dilepas. Tidak mudah untuk dipangkas.
Di
matamu, ia hanya seorang perempuan yang menyusahkan. Yang kerapkali ingin
diperhatikan. Yang selalu ingin diutamakan. Padahal kamu punya segudang
kesibukan, yang bagi kepalamu, itu jauh lebih prioritas. Bagimu, perempuan itu
hanya membuat susah. Sering mengganggu dan membuat rusuh hatimu. Bahkan
sesekali merusak pikiranmu. Membuat pekerjaanmu menjadi terbengkalai karena
ulahnya.
Padahal,
apa kau tahu? Itu adalah bagian dari rencananya untuk mendapat perhatianmu.
Sesekali perempuanmu merasa kesepian, karena dia bukan lagi hal utama yang kau
segerakan seperti dulu. Perempuanmu merasa dia hampir kehilangan wadah
bahagianya, tapi kau malah dengan tega mengatakannya dia pengganggu segala.
Perempuanmu hanya tidak ingin kau berubah, menjadi sibuk hingga akhirnya ia
terlupakan.
Dia
berusaha untuk tidak menumpahkan air mata di hadapanmu. Dia pun berusaha untuk
menekan emosi agar kamu tidak tersakiti. Meski beberapa kali, dadanya telah
remuk oleh kata-katamu. Hatinya sudah lebam oleh ucapanmu. Perempuanmu mencoba
sabar, masih terus berharap agar kalian baik-baik saja. Ia pasang kembali
topeng penerimaan, hingga kamu mengira bahwa lukanya telah sirna. Padahal apa
kamu tahu, jauh di dalam sana, hatinya sudah rusak parah.
Tidak.
Kamu
tidak pernah tahu. Bahkan untuk sekadar mengintip bentuk hatinya saja, kamu
tidak mau. Perempuanmu hanya ingin dicinta. Sesekali ia butuh dimengerti, bahwa
apresiasimu terhadap cintanya dapat kau realisasikan di kehidupan nyata. Bukan
sekadar kata-kata, bukan cuma diksi indah.
Berulang kali perempuanmu ingin menyerah. Tapi
ketika ia mengungkap segalanya, kau menggenggam tangannya dengan sangat erat.
Kau tahu, kau takkan bisa hidup tanpanya. Dan kau menyadari, bahwa tanpanya
cintamu akan mati. Tapi tetap saja, kau perlakukan dia dengan sayatan-sayatan
duka. Membuat dia berkali-kali ingin menyerah. Membuat dia ingin pergi dan menyendiri.
Bagaimana
bisa kau perlakukan dia seperti itu?
Hingga
beberapa kali kau tampar dia dengan sikapmu yang semakin kacau. Kau habisi dia
dengan kata-katamu. Kau buat dia terluka dengan intonasi suaramu. Berkali-kali
ia menangis dalam hening. Bersahut-sahutan saat jangkrik menyuarakan kekelaman
malam. Tertidur dengan bekas air mata. Terbangun dengan sembab yang meraja. Apa
kau tahu itu? Tidak! Kau sama sekali tidak tahu bahwa perempuanmu terluka
parah.
Perempuanmu
terluka parah di bagian hatinya. Bentuknya sudah porakporanda tak terkira. Dan
dia harus merasakan perihnya seorang diri. Dia berusaha kembali menyusunnya,
tapi sayang, pondasinya tak lagi kuat seperti dulu. Apa kau tahu itu? Tidak!
Lagi-lagi kau tidak tahu semua perihal perempuanmu. Perihal yang ia suka,
perihal yang ia murka. Kau tak lagi peduli akan itu. Di kepalamu hanya
bagaimana menjadi bahagia dengan duniamu saja.
Sesekali
lihatlah,
Perempuanmu
tidak lagi seperti dulu. Ia sekarang lebih banyak diam. Menerima segala kotak
luka yang kau suguhi padanya. Ia tak lagi memberontak, ia juga tak lagi
memberitahumu perihal kesakitannya. Bahkan tembok tinggi nan gagah itu pun akan
hancur berkeping-keping, ketika dipukuli bertubi-tubi. Konon lagi hatinya yang
hanya sebatas gumpalan daging beserta darah?
Kamu
yang selalu mengatakan dia tidak sempurna. Kamu yang kerapkali mengatakan dia
bukan segalanya. Suatu saat kau akan mengerti mengapa kerewelannya ia jatuhkan
padamu. Mengapa segala suka dukanya ia hanya ingin kau yang tahu. Mengapa
hari-harinya tak ingin ia lewatkan tanpa kamu. Suatu saat nanti kau akan
mengerti. Bahwa bukan karena ia tak bisa membagi cintanya pada lelaki lain.
Tapi karena baginya, dirimu adalah sebuah tujuan. Meski kamu hanya
menganggapnya sebuah pelarian.
Teruskanlah,
jika dengan menyakiti perempuanmu dapat membuatmu merasa lebih bahagia.
Teruskanlah, jika dengan mengeksplor kekurangannya, dapat membuatmu merasa
lebih sukacita. Teruskanlah menyakitinya dengan hal-hal yang kau anggap biasa.
Meski baginya, itu bukan sekadar luka.
Perempuan
yang berusaha membahagiakanmu. Perempuan yang berusaha memahami setiap
kondisimu. Perempuan yang tidak pernah peduli bagaimana masa lalu kamu. Dan perempuan (malang) yang nyatanya tidak
begitu berharga dihadapan kamu. Ia masih terus mengais kasih dari dua bola
matamu, berharap kamu bisa berubah seperti yang ia suka. Berharap kamu tidak
lagi menyakiti dengan cara yang sama. Dengan cara yang parah.
“Aku ingin menamatkan cintaku pada sepetak
tanah pekuburan itu. Agar aku tahu, apakah ia akan menangisiku untuk yang
pertama kali. Menangis untuk jasadku yang mulai kaku ini.”
Perempuanmu akhirnya
benar-benar mengakhiri segalanya. Ia menamatkan cintanya pada kesakitan yang
maha panjang. Beralaskan namamu, mengingat sikap-sikapmu, ia jatuhkan dirinya
ke dasar jurang. Agar kau yang tak peduli, tidak kerepotan mencari jasadnya
nanti. Perempuanmu memang payah, ia bahagiakan kau dengan cara yang salah.
Meski begitu, dalam sisa napasnya ia berdoa, semoga kelak ada perempuan lain
yang lebih bisa kau cintai. Semoga ada perempuan lain yang lebih bisa kau
hargai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar