Total Tayangan Halaman

Selasa, 16 Januari 2018

Tulalit (Terbit 14 Januari 2018, Harian Medan Pos)

Tiga hari berlalu sejak kejadian Zen nembak Eril di arena bowling. Gue masih sering ngeliat Zen berusaha keras untuk mendekati cewek tomboy itu, baik dengan memberinya coklat, bunga mawar, puisi bahkan memaksa untuk mengantar pulang. Terang saja Eril menolak mentah-mentah. Selain dia gak ingin memberi angin pada Zen, gue yakin Eril gak tertarik sedikit pun dengan semua yang ditawarkan Zen. Gue jadi bersyukur, biar jelek gue gak sebodoh dia. Eril seorang cewek tomboy, harusnya kalau dia bisa sedikit lebih pintar, dia bisa kasih Eril topi, nah kebetulan sekarang Eril lagi seneng mengoleksi itu. Atau kasih dia bola basket, jam tangan atau headphone. Barang-barang yang berbau maskulin.
Ngomongin soal cinta, kadang membuat gue berpikir; gimana sih rasanya jatuh cinta itu? Apa aja yang dilakukan orang ketika jatuh cinta? Gue sama sekali belum pernah ngerasain yang namanya jatuh cinta. Kalau sekedar naksir sih sering. Contoh, gue pernah naksir sama seorang cewek berkacamata yang selalu nangkring di perpustakaan sekolah. Sehari dua hari gue nguntit dia kemana pun dia pergi. Dia dan kacamatanya gak pernah tahu itu. Dia gak peka, dia gak pernah ngelirik atau bahkan tahu kalau ada seseorang yang mengaguminya dari balik rak-rak buku. Entahlah apa yang salah, apakah kacamatanya yang terlalu tebal atau gue yang terlalu kecil dan tak berarti macam kutu.
Akhirnya gue jengah sendiri. Merasa gak di respon dan gak ada manfaatnya juga, gue mundur teratur. Kali kedua gue naksir adalah dengan seorang cewek cantik, berkulit putih, tinggi dan seksi. Dia sebaya gue, kebetulan kelas kita bersebelahan. Tiap hari gue musti nemenin dia belanja, shopping ini-itu yang gak penting. Liat barang yang lucu dikit langsung di beli. Liat diskonan apalagi. Tahan banget kakinya yang kurus itu mengelilingi mall sebesar ini. Tapi gue gak ambil pusing, namanya juga hawa. Gue maklum. Dan tiap hari juga gue harus jadi pendengar yang baik buat dia. Dia suka curhat, nyeritain semua yang dialaminya hari itu. Kalau gue gak dengerin dengan saksama, dia bisa ngamuk. Ngebentak-bentak gue dengan suara sok imut. Gue bukannya takut, tapi malah geli.
Dan yang paling bikin perasaan suka gue buyar ke dia adalah kejadian di suatu sore, ketika gue lagi dinner sama dia di sebuah café. Gue memandang dia penuh rasa kikuk saat itu. Di hadapan gue, cewek itu memberikan senyum termanis yang dia punya. Matanya kedip-kedip ke arah gue kayak orang kelilipan sesuatu. Gue yakin tak ada satu cowok pun yang tak tergila-gila melihat senyuman mautnya itu. Berkali-kali gue meyakinkan diri bahwa gue tampil sempurna sore itu, nggak mau-maluin. Gue memang terpesona dengan kecantikannya. Dengan bibir mungil berwarna pink, hidung mancung, mata bulat boneka dan rambut sebahu berwarna kecokelatan itu. Tapi sore itu gue menyadari satu hal, bahwa dia tak sesempurna yang gue bayangkan. Cewek itu fisiknya saja yang cantik, tapi otaknya setengah.
“Eh, handphone gue bisa twitter-an lho…” katanya membuka percakapan sambil menunjukkan handphone canggihnya kala itu, membuat gue semakin takjub.
“Jadi handphone lo bisa buat internetan, ya? Baru beli?” tanya gue terpukau.
“Iya dong.. canggih, kan, ya?” Dia senyum-senyum sendiri.
“Iya, canggih banget! Lo suka searching tentang apa sih?” gue mulai antusias.
Hening. Cewek itu terlihat sedang berpikir tanpa menjawab.
“Atau mungkin, lo suka ikut main Pokemon kayak orang-orang, ya? Udah berapa banyak Pokemon yang lo kumpulin? Udah sampe jalan mana aja yang lo susurin?” tanya gue kembali.
Masih hening, gue ngeliat mukanya mulai menunjukkan raut bingung. Dia yang nggak ngerti sama pertanyaan gue atau gue yang terlalu banyak memberikan pertanyaan, ya?
“Hmm, emang hape gue bisa buat main Pokemon, ya?” tanyanya dengan tampang bingung tingkat dewa.
“Hah?!” gue terbengong. Tak percaya kalau jawaban seperti itu yang bakal keluar dari mulutnya. Itu kan hape canggih keluaran terbaru. Ya jelas saja ada aplikasi untuk bermain game Pokemon Go begitulah. Tapi gue gak ingin ngerusak suasana dan segera mencari topik pembicaraan baru yang mungkin bisa menyegarkan suasana.
“Punya instagram, dong? Suka upload foto juga, kan?”
Kali ini dia mengangguk dengan mantap. Senyumnya masih merekah, menghiasi wajah cantiknya.
“Followers gue udah banyak tau nggak,” pamernya.
“Berapa banyak?”
“Seribu dua ratus,”
Glek! Itu mah masih belum ada apa-apanya. Gue kira dia bakal bilang setidaknya 10k atau lebih.
“Iya, bagus itu. Tapi hati-hati kalau bikin caption, jangan sampai ada yang tersinggung atau jadi marah-marah, trus lebih baik jangan ikutan komen di IG artis-artis besar, ya, apalagi sampai membully, ntar bisa kena kasus kayak user yang dilaporin Deddy Corbuzier, lho,” kata gue sambil tertawa, mencoba mencairkan suasana dengan sedikit humor.
“Eh, emang caption itu apaan? Terus, Deddy Corbuzier kenapa?” tanya dia dengan wajah super bego. Lebih bego dari yang tadi.
Kali ini gue bener-bener terperangah. Aduhh, nih anak taunya apaan, sih? Batin gue. Mendadak gue tak lagi merasakan yakiniku di hadapan gue seenak tadi. Gue merasakan sesuatu yang hambar. Gue emang menyukai cewek cantik, tapi gue jelas lebih tertarik sama cewek yang nyambung. Yang bisa diajak ngobrolin apa aja. Yang wawasannya luas. Yang punya banyak pengalaman. Yang humorisnya gak ketolongan. Dan yang gak kelihatan aneh seperti dia. Gue gak suka cewek cantik tapi tulalit. Atau cewek cantik tapi isi kepalanya sedikit.
“Hmm.. jadi gimana? Lo kapan mau bawa gue ke rumah? Kenalin gue sama Mama lo, dong?” tanya cewek itu tak berdosa, pake nyengir pula.
Gue tertegun sejenak, bawa ke rumah? Kenalin ke mama? Bisa kena ceramah 20 ayat kalau sampai bawa yang model beginian ke rumah. Gue takut mama salah paham ketika ngobrol dengan dia, soalnya anaknya susah banget buat di connecting-in. Lelet, kayak komputer yang pentiumnya masih rendah banget. Gue bergidik ngeri membayangkannya.
Untuk kemudian dengan mantap gue berkata, “Lo emang cantik, cantik banget malah,” sesaat gue ngeliat pipinya memerah, tersipu malu. Senyum kemenangannya pun terkembang parah.
“Tapi… kayaknya lain waktu aja deh, ya!” tandas gue cepat.
“Maksudnya gimana, sih?”
“Gue ke toilet bentar, ya,” Gue bergegas sebelum dia mengizinkan.
Sekilas gue bisa melihat wajahnya berubah menjadi pias, dia menggigit bibir bawahnya. Gue tahu dia kecewa. Tapi gue lebih kecewa karena merasa tertipu dengan kecantikannya. Bukan dia yang nipu sih, tapi gue yang ketipu. Sebenernya gue gak ke toilet, ketika gue lihat cewek itu tak memperhatikan gue lagi, gue langsung ke meja kasir untuk membayar bill. Lalu dengan tergesa, gue meninggalkannya begitu saja. Jahat memang, tapi sudahlah. Gue gak mau memberikan harapan terlalu besar ke dia. Gue itu kan, cowok ganteng yang gak hobi PHP-in cewek lain.
Semenjak itu, gue ngerasa cinta itu benar-benar bullshit, omong kosong semata. Sulitnya mencari seseorang yang sempurna membuat gue berpikir bahwa cinta itu pembodohan. Cinta itu banyak menipu. Cinta itu suka berkamuflase. Gue jadi berhenti naksir cewek. Eh,bukan berarti gue jadi naksir cowok, ya! Gue tidak sehina itu. Makanya ketika gue ketemu sama Eril, dan ngeliat gayanya yang maskulin seperti itu, gue jadi tertarik. Gue ngerasa kalo dia beda. Meskipun dia tetap cewek, tapi cara pemikirannya gak kayak cewek kebanyakan. Eril yang paling ngertiin gue. Eril sahabat sejati gue, yang ngebuka mata gue bahwa cinta itu gak perlu dikejar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar