Tiga
hari berlalu sejak kejadian Zen nembak Eril di arena bowling. Gue masih sering
ngeliat Zen berusaha keras untuk mendekati cewek tomboy itu, baik dengan
memberinya coklat, bunga mawar, puisi bahkan memaksa untuk mengantar pulang.
Terang saja Eril menolak mentah-mentah. Selain dia gak ingin memberi angin pada
Zen, gue yakin Eril gak tertarik sedikit pun dengan semua yang ditawarkan Zen.
Gue jadi bersyukur, biar jelek gue gak sebodoh dia. Eril seorang cewek tomboy, harusnya
kalau dia bisa sedikit lebih pintar, dia bisa kasih Eril topi, nah kebetulan
sekarang Eril lagi seneng mengoleksi itu. Atau kasih dia bola basket, jam
tangan atau headphone. Barang-barang
yang berbau maskulin.
Ngomongin
soal cinta, kadang membuat gue berpikir; gimana sih rasanya jatuh cinta itu?
Apa aja yang dilakukan orang ketika jatuh cinta? Gue sama sekali belum pernah
ngerasain yang namanya jatuh cinta. Kalau sekedar naksir sih sering. Contoh,
gue pernah naksir sama seorang cewek berkacamata yang selalu nangkring di
perpustakaan sekolah. Sehari dua hari gue nguntit dia kemana pun dia pergi. Dia
dan kacamatanya gak pernah tahu itu. Dia gak peka, dia gak pernah ngelirik atau
bahkan tahu kalau ada seseorang yang mengaguminya dari balik rak-rak buku.
Entahlah apa yang salah, apakah kacamatanya yang terlalu tebal atau gue yang
terlalu kecil dan tak berarti macam kutu.
Akhirnya
gue jengah sendiri. Merasa gak di respon dan gak ada manfaatnya juga, gue
mundur teratur. Kali kedua gue naksir adalah dengan seorang cewek cantik,
berkulit putih, tinggi dan seksi. Dia sebaya gue, kebetulan kelas kita
bersebelahan. Tiap hari gue musti nemenin dia belanja, shopping ini-itu yang
gak penting. Liat barang yang lucu dikit langsung di beli. Liat diskonan
apalagi. Tahan banget kakinya yang kurus itu mengelilingi mall sebesar ini.
Tapi gue gak ambil pusing, namanya juga hawa. Gue maklum. Dan tiap hari juga
gue harus jadi pendengar yang baik buat dia. Dia suka curhat, nyeritain semua
yang dialaminya hari itu. Kalau gue gak dengerin dengan saksama, dia bisa
ngamuk. Ngebentak-bentak gue dengan suara sok imut. Gue bukannya takut, tapi
malah geli.
Dan
yang paling bikin perasaan suka gue buyar ke dia adalah kejadian di suatu sore,
ketika gue lagi dinner sama dia di sebuah café. Gue memandang dia penuh rasa
kikuk saat itu. Di hadapan gue, cewek itu memberikan senyum termanis yang dia
punya. Matanya kedip-kedip ke arah gue kayak orang kelilipan sesuatu. Gue yakin
tak ada satu cowok pun yang tak tergila-gila melihat senyuman mautnya itu.
Berkali-kali gue meyakinkan diri bahwa gue tampil sempurna sore itu, nggak
mau-maluin. Gue memang terpesona dengan kecantikannya. Dengan bibir mungil
berwarna pink, hidung mancung, mata bulat boneka dan rambut sebahu berwarna
kecokelatan itu. Tapi sore itu gue menyadari satu hal, bahwa dia tak sesempurna
yang gue bayangkan. Cewek itu fisiknya saja yang cantik, tapi otaknya setengah.
“Eh,
handphone gue bisa twitter-an lho…” katanya membuka percakapan sambil
menunjukkan handphone canggihnya kala itu, membuat gue semakin takjub.
“Jadi
handphone lo bisa buat internetan, ya? Baru beli?” tanya gue terpukau.
“Iya
dong.. canggih, kan, ya?” Dia senyum-senyum sendiri.
“Iya,
canggih banget! Lo suka searching tentang apa sih?” gue mulai antusias.
Hening.
Cewek itu terlihat sedang berpikir tanpa menjawab.
“Atau
mungkin, lo suka ikut main Pokemon kayak orang-orang, ya? Udah berapa banyak
Pokemon yang lo kumpulin? Udah sampe jalan mana aja yang lo susurin?” tanya gue
kembali.
Masih
hening, gue ngeliat mukanya mulai menunjukkan raut bingung. Dia yang nggak
ngerti sama pertanyaan gue atau gue yang terlalu banyak memberikan pertanyaan,
ya?
“Hmm,
emang hape gue bisa buat main Pokemon, ya?” tanyanya dengan tampang bingung
tingkat dewa.
“Hah?!”
gue terbengong. Tak percaya kalau jawaban seperti itu yang bakal keluar dari
mulutnya. Itu kan hape canggih keluaran terbaru. Ya jelas saja ada aplikasi
untuk bermain game Pokemon Go begitulah. Tapi gue gak ingin ngerusak suasana
dan segera mencari topik pembicaraan baru yang mungkin bisa menyegarkan
suasana.
“Punya
instagram, dong? Suka upload foto juga, kan?”
Kali
ini dia mengangguk dengan mantap. Senyumnya masih merekah, menghiasi wajah
cantiknya.
“Followers
gue udah banyak tau nggak,” pamernya.
“Berapa
banyak?”
“Seribu
dua ratus,”
Glek!
Itu mah masih belum ada apa-apanya. Gue kira dia bakal bilang setidaknya 10k
atau lebih.
“Iya,
bagus itu. Tapi hati-hati kalau bikin caption, jangan sampai ada yang
tersinggung atau jadi marah-marah, trus lebih baik jangan ikutan komen di IG
artis-artis besar, ya, apalagi sampai membully, ntar bisa kena kasus kayak user
yang dilaporin Deddy Corbuzier, lho,” kata gue sambil tertawa, mencoba
mencairkan suasana dengan sedikit humor.
“Eh,
emang caption itu apaan? Terus, Deddy Corbuzier kenapa?” tanya dia dengan wajah
super bego. Lebih bego dari yang tadi.
Kali
ini gue bener-bener terperangah. Aduhh, nih anak taunya apaan, sih? Batin gue.
Mendadak gue tak lagi merasakan yakiniku di hadapan gue seenak tadi. Gue
merasakan sesuatu yang hambar. Gue emang menyukai cewek cantik, tapi gue jelas
lebih tertarik sama cewek yang nyambung. Yang bisa diajak ngobrolin apa aja.
Yang wawasannya luas. Yang punya banyak pengalaman. Yang humorisnya gak
ketolongan. Dan yang gak kelihatan aneh seperti dia. Gue gak suka cewek cantik
tapi tulalit. Atau cewek cantik tapi isi kepalanya sedikit.
“Hmm..
jadi gimana? Lo kapan mau bawa gue ke rumah? Kenalin gue sama Mama lo, dong?”
tanya cewek itu tak berdosa, pake nyengir pula.
Gue
tertegun sejenak, bawa ke rumah? Kenalin ke mama? Bisa kena ceramah 20 ayat
kalau sampai bawa yang model beginian ke rumah. Gue takut mama salah paham
ketika ngobrol dengan dia, soalnya anaknya susah banget buat di connecting-in.
Lelet, kayak komputer yang pentiumnya masih rendah banget. Gue bergidik ngeri membayangkannya.
Untuk
kemudian dengan mantap gue berkata, “Lo emang cantik, cantik banget malah,”
sesaat gue ngeliat pipinya memerah, tersipu malu. Senyum kemenangannya pun
terkembang parah.
“Tapi…
kayaknya lain waktu aja deh, ya!” tandas gue cepat.
“Maksudnya
gimana, sih?”
“Gue
ke toilet bentar, ya,” Gue bergegas sebelum dia mengizinkan.
Sekilas
gue bisa melihat wajahnya berubah menjadi pias, dia menggigit bibir bawahnya.
Gue tahu dia kecewa. Tapi gue lebih kecewa karena merasa tertipu dengan kecantikannya.
Bukan dia yang nipu sih, tapi gue yang ketipu. Sebenernya gue gak ke toilet,
ketika gue lihat cewek itu tak memperhatikan gue lagi, gue langsung ke meja
kasir untuk membayar bill. Lalu dengan tergesa, gue meninggalkannya begitu
saja. Jahat memang, tapi sudahlah. Gue gak mau memberikan harapan terlalu besar
ke dia. Gue itu kan, cowok ganteng yang gak hobi PHP-in cewek lain.
Semenjak itu, gue
ngerasa cinta itu benar-benar bullshit, omong kosong semata. Sulitnya mencari
seseorang yang sempurna membuat gue berpikir bahwa cinta itu pembodohan. Cinta
itu banyak menipu. Cinta itu suka berkamuflase. Gue jadi berhenti naksir cewek.
Eh,bukan berarti gue jadi naksir cowok, ya! Gue tidak sehina itu. Makanya
ketika gue ketemu sama Eril, dan ngeliat gayanya yang maskulin seperti itu, gue
jadi tertarik. Gue ngerasa kalo dia beda. Meskipun dia tetap cewek, tapi cara
pemikirannya gak kayak cewek kebanyakan. Eril yang paling ngertiin gue. Eril
sahabat sejati gue, yang ngebuka mata gue bahwa cinta itu gak perlu dikejar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar