Menjadi
kekasihmu ternyata tidak mudah. Sesekali aku harus menjadi dewasa, untuk
memahami bahwa kau lelaki yang punya ego tinggi. Sesekali aku harus menjadi
pemarah, untuk mengarahkanmu agar tidak berlaku gila. Dan sesekali aku harus
menjadi yang mengalah, untuk memastikan bahwa hubungan kita akan baik-baik
saja. Melakoni kesemuanya ternyata tidak mudah. Tapi karena aku mencintaimu,
kuyakinkan padamu bahwa aku mampu.
Barangkali
belakangan ini kita sering berkutat dengan emosi. Bukan, bukan karena cinta
kita semakin menipis. Bukan pula karena rasa kita yang kian terkikis. Namun
karena jarak dan intensitas temu yang tak kunjung bertamu. Membuat retinaku
kewalahan menuangkan rindu. Sementara cangkirnya sedang berada di tempat yang
jauh. Aku paham bahwa cinta kita bukanlah cinta usia remaja. Yang harus selalu
bersama kemana-mana. Atau selalu pergi berdua menyulam bahagia. Cinta kita
tidak lagi berada di tempat itu. Dia harus mendewasa dengan jarak dan waktu
yang terus beradu.
Sering
kita bertengkar meributkan hal-hal kecil. Aku tidak sepenuhnya menyalahkanmu
atas kejadian rusuhnya hatiku. Yang nyatanya sering kuucapkan bahwa aku
kehilangan waktumu. Pun aku kehilangan wadah rinduku. Dan kamu selalu
menanggapinya dengan diksi yang salah. Salah menurut pandanganku. Membuat kita
kembali beradu emosi. Kembali mengundang perih padahal saat itu rindu tengah
membumbung tinggi.
Aku
yang berisik, bertemu kamu yang diam. Tengkar kita tidak selesai. Berlanjut ke
hari berikutnya. Inginku menyelesaikan segalanya sebelum fajar tiba. Sementara
kamu didera lelah yang tak berkesudahan, bersebab ragamu yang kian letih di
makan hari. Bukan aku tak paham tentang sibuknya kamu dan pekerjaan itu. Tapi
sebagai perempuan, aku hanya tidak ingin hariku terlewatkan tanpa kamu. Aku
hanya ingin kamu ada, meski hanya lima menit. Setidaknya hariku tidak kosong
karena kealpaan raut wajahmu.
Tapi
pola pikir lelaki merusak segalanya. Kamu beranggapan bahwa berbicara dan
menyelesaikan tengkar dengan letih yang dipaksakan, hanya akan melahirkan
perdebatan. Jika warasku utuh, barangkali aku menerima saranmu. Untuk menyudahi
percakapan kita malam itu dan berakhir dengan pejam dan senyum terkembang.
Nyatanya, aku sendiri kesulitan mewaraskan diri ketika dihinggapi emosi.
Ah,
barangkali kita adalah sepasang kekasih yang tahan diterpa emosi. Meski
sesekali saling melubangi dada, nyatanya kita berusaha kembali mengobatinya.
Kamu obati lukaku. Aku obati lukamu. Kemudian, untaian maaf akan kembali
memenuhi gendang telinga, dan bermuara di dalam dada.
Ratusan
hari aku menjadi kekasihmu. Aku menyadari bahwa menjadi sempurna bukanlah
tujuan utama. Sebab telah banyak pula luka-luka di dadamu bersebab ulahku.
Meski semua kulakukan tanpa sengaja, tetap saja itu menimbulkan bekas yang tak
mudah hilang. Maafmu selalu tumpah di tubuhku. Untukku, kamu lebih banyak
mengalah. Mengalah untuk aku yang selalu ingin memenangkan pendapat. Mengalah
untuk aku yang egois dan mudah menangis.
Barangkali
tengkar kita selalu dapat melahirkan cinta. Sebab debit perasaanku kian
bertambah, ketika aku mendengarmu marah-marah. Meski kesal, aku menyadari satu
hal. Bahwa rasaku tidak hilang hanya karena kamu menyebalkan.
“Bisa
nggak sih satu hari aja, nggak bikin aku marah-marah?” tanyaku dengan nada
tinggi.
“Nggak
bisa!” jawabmu datar. “Itukan sudah keahlianku,” tambahmu lagi.
“Terus
saja lakukan, buat aku muak dan ingin meninggalkan semuanya!” ancamku lagi.
Kali ini terdengar lebih serius.
“Coba
saja kalau berani!” kamu malah balik mengancamku.
“Jangan
menyesal, ya!” tegasku.
“Kamu
yang akan menyesal nanti,” bantahmu. Membuat aku kewalahan melancarkan serangan
balik.
“Jangan
sampai menyesal jika tidak ada lagi yang membuatmu kesal, namun kemudian
membujukmu dengan sangat dalam seperti aku,” tambahmu. Kali ini aku yang ciut.
Sial!
“Di
luar sana mungkin banyak yang suka kamu. Tapi tidak akan ada yang mencintai
kamu seserius aku!” ungkapmu. Kurasakan jemarimu mengelus kepalaku.
Mendinginkan emosi yang sempat mendidih.
Begitulah.
Tengkar kita selalu bisa menumbuhkan cinta. Tengkar kita selalu mampu membuat
aku ingin meninju rahangmu kuat-kuat,untuk kemudian mendekapmu dengan sangat
erat.
Teruntuk
kamu; seseorang yang tak ingin aku ganti.
Bila
suatu hari nanti tengkar menampar kesabaran kita. Jauh lebih keras dari yang
pernah kita rasakan. Bertahanlah, sebab cinta kita tidak dibangun dari lapuknya
kesetiaan. Bila suatu hari nanti amarah mengguncang sudut dada kita. Jauh lebih
kuat dari yang pernah kita rasakan. Menguatlah, sebab cinta kita selalu
dibangun dengan saling memaafkan.
Teruntuk
kamu; seseorang yang kusebut kekasih.
Menyetialah, sebab
kamu adalah muara segala perasaan cinta. Sebab kamu adalah gumpalan rindu dalam
bentuk nyata. Sebab kamu, aku selalu ingin mengakadkan rasa. Hingga rumah kita
satu, hingga bahtera kita utuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar