Bagaimana
rasanya hidup tanpa aku? Masihkah ada yang menghabiskan pinggiran rotimu yang
tak termakan? Masihkah ada yang mengelap lipstikmu yang belepotan? Atau
masihkah ada yang sabar menunggumu di toko buku berjam-jam? Beritahu aku,
bagaimana rasanya menjauhiku? Apakah kau bahagia? Apakah kau baik-baik saja?
Apakah kau telah terbiasa? Seberapa kuat aku menghapus ingatan tentangmu, tidak
sebanding dengan perasaan rindu yang kerap bertamu. Saat malam-malam dingin
mencipta puisi, saat itulah rinduku datang tak tahu diri.
Boleh
jadi, akulah lelaki yang paling kau benci. Ketika sepersekian detik lalu, malam
itu, kau memilih berlalu menjauhiku. Memberikan tapal batas yang tidak boleh
aku lewati. Membangun jarak yang sesungguhnya tidak aku ingini. Bukan tengkar
kita yang berlebihan, tapi luka di dadamu yang kelewatan. Semua bersebab aku,
semua karena ulahku, begitu katamu.
Tidak
bisa aku pungkiri, malam itu sesak memenuhi rongga dada. Menjalar ke sendi dan hati
yang terluka parah. Kepalaku berdenyut, membayangkan hidup tanpamu adalah
kesakitan yang maha dahsyat. Tujuh tahun bersama, ternyata tidak membuatmu
mengenaliku seutuhnya. Telah ada orang lain yang menggantikanku. Telah ada
orang lain yang mengisi hatimu. Lupakah kamu pada semua prinsip kita dulu?
Untuk tidak saling melangkah dan berpindah ke lain rupa.
Dia
yang hadir saat bahtera kita goyah. Membantumu berdiri ketika kau terluka.
Memperbaiki hatimu yang seharusnya menjadi tugasku. Sementara kamu membiarkannya
masuk terlalu dalam. Menikmati segala perhatian yang dia berikan. Hingga kamu
lupa, bahwa masih ada aku sebagai pegangan. Arogan sekali kamu. Tidak
memperhatikan lukaku yang semakin menganga. Malah semakin membuatku terluka.
Aku cukup dewasa ketika bibirmu mengucapkan
kata pisah. Tidak ada air mata di sana. Hanya gemuruh dalam dada yang nyaring
bersuara. Juga retinaku yang tak lepas melahap wajahmu. Untuk yang terakhir
kali, aku menatapmu lamat-lamat. Berharap mataku bisa menyimpan lebih banyak memori
tentang wajahmu. Hingga jika suatu saat nanti aku rindu, aku bisa memutarnya
kembali bermain di otakku.
Aku
coba mencari sesuatu dalam matamu. Tentang rasa cinta yang dulu kau simpan di
sana. Atau tentang tumpukan rindu yang dulu lahir dari sudut itu. Mengapa kini
tak ada lagi? Secepat itukah kau menghapusnya? Hingga tiada berbekas kenangan
tentang kita. Yang tinggal hanya keburukan tentangku saja.
Ah,
apakah selama bersamaku kau tidak bahagia? Apakah kekuranganku adalah
penyebabnya? Atau mencintaiku hanya melelahkanmu saja? Mengapa tidak pernah kau
katakan semua itu padaku. Padahal jika saja kau mau mengatakannya, aku akan
berusaha keras untuk mengubah semuanya. Membuatmu kembali nyaman dan jatuh
cinta, seperti saat pertama kali dulu mata kita bertemu.
Aku
akan mengubah kesakitanmu menjadi gumpalan bahagia. Aku akan meredam emosiku
untuk membuatmu baik-baik saja. Tidak mengapa jika aku harus selalu salah.
Tidak mengapa jika argumenku selalu kalah. Untukmu, aku ingin selalu mengalah.
Sebab mencintaimu adalah aku tidak pura-pura.
Lantas
apa yang terjadi kini? Kamu memilih pergi dan meninggalkan aku seorang diri.
Kamu melupakan semua hal indah tentang hubungan ini. Tidak bisakah kau
ingat-ingat lagi bahwa akulah lelaki yang begitu mengasihimu? Yang berjuang
keras mendapatkanmu. Dan tetap menjalani semuanya bersamamu bahkan ketika
hatimu belum sepenuhnya milikku.
Aku
yang kerap menjadi tester masakanmu. Meski rasanya tidak begitu bagus, aku
habiskan demi melihat senyummu. Aku yang selalu menjadi tempat marah-marahmu.
Meski menyebalkan, aku selalu menyukai omelanmu. Dan aku yang selalu menjadi
sasaran cubitanmu, ketika aku telat menjemputmu karena sesuatu. Sungguh, tidak
ada keberatanku untuk semua itu. Aku menikmati masa-masa menyebalkan bersamamu.
Dan aku ingin selalu menikmati masa-masa tegang mencintaimu.
Tapi
apa yang aku dapat? Ah, ingin rasanya aku menghabisi lelaki itu. Lelaki yang
dengan tega merebutmu dariku. Lelaki yang telah memporakporanda hubungan kita.
Menyisakan puing-puing kedukaan yang tak tersembuhkan. Malam itu, kamu menepuk
pundakku. Seolah menyakinkanku bahwa inilah pilihan terbaik kita. Padahal
jelas, aku akan menjadi gila. Hatiku akan rusak parah. Hidupku menjadi tak
sempurna. Bagaimana bisa aku menerima, jika sumber kebahagiaanku malah pergi
menjauh?
Ingin
rasanya kutarik tubuhmu. Kudekap erat agar kau tak menjauh. Aku tidak bisa
berpikir bagus kala itu. Yang hatiku ingin hanya kau tidak berlalu. Aku ingin
memelukmu dan berbisik bahwa aku tidak ingin kehilanganmu. Tujuh tahun bukan
waktu singkat untukku mencintaimu. Aku pikir aku akan menghabiskan seluruh
hidupku bersamamu. Tapi ternyata, perempuanku memilih hal yang tak pernah
kubayangkan.
Alih-alih
menarik tubuhmu ke pelukanku, aku hanya diam mematung. Menatap punggungmu yang
mulai menjauh. Sekali lagi aku katakan, tidak ada air mata saat itu. Aku hanya
sedang berpikir keras tentang segalanya. Duniaku tidak benar-benar runtuh saat
itu. Tapi hatiku rasanya seperti terhimpit ribuan batu. Sakit. Sakit sekali.
* * *
Enam
bulan setelah perpisahan kita. Aku masih sering melihat wajahmu. Meski ketika
berpapasan denganku, kamu memilih memalingkan wajah cantikmu. Mengapa? Apakah
dengan melihatku akan melahirkan tumpukan rindu di dadamu? Ah ya, aku terlalu
percaya diri memikirkan hal itu. Tidak mungkin. Kamu yang dingin tidak akan mungkin
melahirkan rindu untukku.
Setelah
perpisahan itu, apa kau masih sering merinduiku? Seperti aku yang tiap malam
melukis wajahmu dalam kenang. Apakah kau sesekali memikirkan aku? Seperti aku
yang setiap saat menguncimu dalam otakku. Tidak ada yang berubah hingga saat
ini. Meski aku tahu, tanganmu tidak lagi ingin digenggam olehku.
Entah
lelucon apa yang ingin dimainkan Tuhan. Usai hubungan kita tak lagi bersama,
Dia semakin rutin menyatukan pertemuan-pertemuan kita. Aku yang selalu
kelabakan ketika bertemu kamu di toko buku. Dan kamu yang selalu kelimpungan
saat mata kita bertemu di kafetaria kampus. Bagaimana bisa aku menghapus
wajahmu, jika setiap saat malah kamu yang aku lihat?
Sayang,
maukah kau kembali pulang? Maukah kau kembali belajar memaafkan segala salah
dan menghapuskan benci yang ada di dada? Maukah kau kembali menjadi bagian dari
hidupku? Kembali membetulkan kerah bajuku, atau kembali menjadi inspirasi untuk
setiap puisiku? Maukah kau kembali menjadi puan atas segala perasaan cinta ini?
Aku
masih menunggumu. Aku masih menjadi rumah yang siap untuk kau tinggali lagi.
Tidak peduli seberapa besar kesalahanmu. Tidak peduli seberapa hebat kerusakan
kita. Yang aku tahu, aku menerimamu sejak saat mata kita bertemu. Dan betapa
mengasyikkannya mencintai segala kekuranganmu. Kembalilah, untuk kemudian kita
benahi segala yang patah. Kembalilah, untuk memperbaiki luka dalam dada. Dan
kembalilah, bahagia tanpa kata pisah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar