Total Tayangan Halaman

Selasa, 16 Januari 2018

Tentang Lelaki yang Patah Hati (Terbit 07 Januari 2018, Harian Medan Pos)

Bagaimana rasanya hidup tanpa aku? Masihkah ada yang menghabiskan pinggiran rotimu yang tak termakan? Masihkah ada yang mengelap lipstikmu yang belepotan? Atau masihkah ada yang sabar menunggumu di toko buku berjam-jam? Beritahu aku, bagaimana rasanya menjauhiku? Apakah kau bahagia? Apakah kau baik-baik saja? Apakah kau telah terbiasa? Seberapa kuat aku menghapus ingatan tentangmu, tidak sebanding dengan perasaan rindu yang kerap bertamu. Saat malam-malam dingin mencipta puisi, saat itulah rinduku datang tak tahu diri.
Boleh jadi, akulah lelaki yang paling kau benci. Ketika sepersekian detik lalu, malam itu, kau memilih berlalu menjauhiku. Memberikan tapal batas yang tidak boleh aku lewati. Membangun jarak yang sesungguhnya tidak aku ingini. Bukan tengkar kita yang berlebihan, tapi luka di dadamu yang kelewatan. Semua bersebab aku, semua karena ulahku, begitu katamu.
Tidak bisa aku pungkiri, malam itu sesak memenuhi rongga dada. Menjalar ke sendi dan hati yang terluka parah. Kepalaku berdenyut, membayangkan hidup tanpamu adalah kesakitan yang maha dahsyat. Tujuh tahun bersama, ternyata tidak membuatmu mengenaliku seutuhnya. Telah ada orang lain yang menggantikanku. Telah ada orang lain yang mengisi hatimu. Lupakah kamu pada semua prinsip kita dulu? Untuk tidak saling melangkah dan berpindah ke lain rupa.
Dia yang hadir saat bahtera kita goyah. Membantumu berdiri ketika kau terluka. Memperbaiki hatimu yang seharusnya menjadi tugasku. Sementara kamu membiarkannya masuk terlalu dalam. Menikmati segala perhatian yang dia berikan. Hingga kamu lupa, bahwa masih ada aku sebagai pegangan. Arogan sekali kamu. Tidak memperhatikan lukaku yang semakin menganga. Malah semakin membuatku terluka.
 Aku cukup dewasa ketika bibirmu mengucapkan kata pisah. Tidak ada air mata di sana. Hanya gemuruh dalam dada yang nyaring bersuara. Juga retinaku yang tak lepas melahap wajahmu. Untuk yang terakhir kali, aku menatapmu lamat-lamat. Berharap mataku bisa menyimpan lebih banyak memori tentang wajahmu. Hingga jika suatu saat nanti aku rindu, aku bisa memutarnya kembali bermain di otakku.
Aku coba mencari sesuatu dalam matamu. Tentang rasa cinta yang dulu kau simpan di sana. Atau tentang tumpukan rindu yang dulu lahir dari sudut itu. Mengapa kini tak ada lagi? Secepat itukah kau menghapusnya? Hingga tiada berbekas kenangan tentang kita. Yang tinggal hanya keburukan tentangku saja.
Ah, apakah selama bersamaku kau tidak bahagia? Apakah kekuranganku adalah penyebabnya? Atau mencintaiku hanya melelahkanmu saja? Mengapa tidak pernah kau katakan semua itu padaku. Padahal jika saja kau mau mengatakannya, aku akan berusaha keras untuk mengubah semuanya. Membuatmu kembali nyaman dan jatuh cinta, seperti saat pertama kali dulu mata kita bertemu.
Aku akan mengubah kesakitanmu menjadi gumpalan bahagia. Aku akan meredam emosiku untuk membuatmu baik-baik saja. Tidak mengapa jika aku harus selalu salah. Tidak mengapa jika argumenku selalu kalah. Untukmu, aku ingin selalu mengalah. Sebab mencintaimu adalah aku tidak pura-pura.
Lantas apa yang terjadi kini? Kamu memilih pergi dan meninggalkan aku seorang diri. Kamu melupakan semua hal indah tentang hubungan ini. Tidak bisakah kau ingat-ingat lagi bahwa akulah lelaki yang begitu mengasihimu? Yang berjuang keras mendapatkanmu. Dan tetap menjalani semuanya bersamamu bahkan ketika hatimu belum sepenuhnya milikku.
Aku yang kerap menjadi tester masakanmu. Meski rasanya tidak begitu bagus, aku habiskan demi melihat senyummu. Aku yang selalu menjadi tempat marah-marahmu. Meski menyebalkan, aku selalu menyukai omelanmu. Dan aku yang selalu menjadi sasaran cubitanmu, ketika aku telat menjemputmu karena sesuatu. Sungguh, tidak ada keberatanku untuk semua itu. Aku menikmati masa-masa menyebalkan bersamamu. Dan aku ingin selalu menikmati masa-masa tegang mencintaimu.
Tapi apa yang aku dapat? Ah, ingin rasanya aku menghabisi lelaki itu. Lelaki yang dengan tega merebutmu dariku. Lelaki yang telah memporakporanda hubungan kita. Menyisakan puing-puing kedukaan yang tak tersembuhkan. Malam itu, kamu menepuk pundakku. Seolah menyakinkanku bahwa inilah pilihan terbaik kita. Padahal jelas, aku akan menjadi gila. Hatiku akan rusak parah. Hidupku menjadi tak sempurna. Bagaimana bisa aku menerima, jika sumber kebahagiaanku malah pergi menjauh?
Ingin rasanya kutarik tubuhmu. Kudekap erat agar kau tak menjauh. Aku tidak bisa berpikir bagus kala itu. Yang hatiku ingin hanya kau tidak berlalu. Aku ingin memelukmu dan berbisik bahwa aku tidak ingin kehilanganmu. Tujuh tahun bukan waktu singkat untukku mencintaimu. Aku pikir aku akan menghabiskan seluruh hidupku bersamamu. Tapi ternyata, perempuanku memilih hal yang tak pernah kubayangkan.
Alih-alih menarik tubuhmu ke pelukanku, aku hanya diam mematung. Menatap punggungmu yang mulai menjauh. Sekali lagi aku katakan, tidak ada air mata saat itu. Aku hanya sedang berpikir keras tentang segalanya. Duniaku tidak benar-benar runtuh saat itu. Tapi hatiku rasanya seperti terhimpit ribuan batu. Sakit. Sakit sekali.
* * *
Enam bulan setelah perpisahan kita. Aku masih sering melihat wajahmu. Meski ketika berpapasan denganku, kamu memilih memalingkan wajah cantikmu. Mengapa? Apakah dengan melihatku akan melahirkan tumpukan rindu di dadamu? Ah ya, aku terlalu percaya diri memikirkan hal itu. Tidak mungkin. Kamu yang dingin tidak akan mungkin melahirkan rindu untukku.
Setelah perpisahan itu, apa kau masih sering merinduiku? Seperti aku yang tiap malam melukis wajahmu dalam kenang. Apakah kau sesekali memikirkan aku? Seperti aku yang setiap saat menguncimu dalam otakku. Tidak ada yang berubah hingga saat ini. Meski aku tahu, tanganmu tidak lagi ingin digenggam olehku.
Entah lelucon apa yang ingin dimainkan Tuhan. Usai hubungan kita tak lagi bersama, Dia semakin rutin menyatukan pertemuan-pertemuan kita. Aku yang selalu kelabakan ketika bertemu kamu di toko buku. Dan kamu yang selalu kelimpungan saat mata kita bertemu di kafetaria kampus. Bagaimana bisa aku menghapus wajahmu, jika setiap saat malah kamu yang aku lihat?
Sayang, maukah kau kembali pulang? Maukah kau kembali belajar memaafkan segala salah dan menghapuskan benci yang ada di dada? Maukah kau kembali menjadi bagian dari hidupku? Kembali membetulkan kerah bajuku, atau kembali menjadi inspirasi untuk setiap puisiku? Maukah kau kembali menjadi puan atas segala perasaan cinta ini?

Aku masih menunggumu. Aku masih menjadi rumah yang siap untuk kau tinggali lagi. Tidak peduli seberapa besar kesalahanmu. Tidak peduli seberapa hebat kerusakan kita. Yang aku tahu, aku menerimamu sejak saat mata kita bertemu. Dan betapa mengasyikkannya mencintai segala kekuranganmu. Kembalilah, untuk kemudian kita benahi segala yang patah. Kembalilah, untuk memperbaiki luka dalam dada. Dan kembalilah, bahagia tanpa kata pisah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar