Total Tayangan Halaman

Selasa, 16 Januari 2018

Menyoal Kenangan dan Ironi Kehidupan (Resensi Buku Penjual Kenangan Karya Widyawati Oktavia, Terbit di Medan Bisnis, 31 Desember 2017)

Judul               : Penjual Kenangan
Penulis             : Widyawati Oktavia
Penyunting      : Gita Romadhona & Yulliya Febria
Penerbit           : Bukune
Cetakan           : Pertama, Januari 2013
Halaman          : 214 hal
ISBN               : 978-602-220-089-5

Kumcer dengan judul Penjual Kenangan karya Widyawati Oktavia ini berisikan sebelas cerita yang mengangkat tema kenangan dan ironi kehidupan. Dengan begitu apik, Widyawati meramu kisah kehidupan dengan balutan fiksi yang tidak biasa. Cerita pertama menempatkan “Carano” sebagai pembuka cerita yang manis. Carano menceritakan tentang kepatah-hatian seorang gadis Minang yang dikhianati kekasihnya. Padahal sang ibu sangat menaruh harapan kepada lelaki itu dan selalu menanyakan kapan ia dan keluarga bisa membawakan carano untuk kekasihnya tersebut.
Alur cerita maju-mundur yang disajikan Widyawati pun membuat pembaca terhanyut bersama konflik sang tokoh. Keteguhan hati tokoh utama yang akhirnya memilih mundur meski kekasihnya kini sudah tak bersama perempuan lain, membuat pembaca merasa puas. Repih kenangan kedua dilanjutkan dengan cerita fiksi “Dalam Harap Bintang Pagi” yang bercerita tentang seorang wanita yang suka mendengarkan cerita dari lelaki yang dikaguminya. Lelaki itu mulai bercerita tentang Rayina, bintang yang selalu muncul pada pukul satu pagi. Menurut ceritanya, Rayina itu adalah jelmaan peri.
“Awalnya, Rayina—peri itu—tidak ingin terbang. Dia telah menikmati langkah-langkah kakinya,” lanjutmu. “Sampai....” “Sampai apa?” Aku belum mendengar bagian cerita yang ini. “Sampai dia jatuh cinta.” Mungkin cerita kali ini tidak pernah benar-benar terjadi. Mungkin kau hanya ingin agar kita tak kehabisan percakapan. Tak apa. Aku menikmati setiap kata-katamu—meskipun kadang timbul rasa tak percaya di sudut hatiku.”Pastilah dia jatuh cinta kepada seseorang yang bisa terbang, ya?” tebakku—mengikuti skenariomu. “Bukan. Dia hanya jatuh cinta kepada seorang petualang.” Aku mencuri pandang ke arah matamu, entah untuk apa—tetapi kau tak tahu” (hal.64)
Tanpa lelaki itu sangka, bahwa cerita yang ia ceritakan sama persis dengan perasaan perempuan itu terhadapnya. “Malam itu, aku duduk di depan nyala api. Sebuah cerita perlahan-lahan menjadi abu di sana. Ya, cerita tentang Rayina—bintang pagi—yang baru saja kau ceritakan kepadaku. Aku harus membakarnya. Menebarkan abunya sebelum matahari tiba esok. Sebelum bertumpuk. Sebelum aku sempat mengulang-ulang membacanya dan bersedih untuk Rayina. Atau petualang itu. Sebelum aku begitu mencintai keeping cerita itu. Sebelum aku ingin menjelma Rayina dan menginginkan sayap. Karena, itu hanya dongeng, katamu.” (hal. 74)
Cerita berikutnya berjudul “Percakapan Nomor-Nomor”, “Kunang-Kunang”, “Perempuan Tua di Balik Kaca Jendela”, ”Penjual Kenangan”, “Tengara Langit”, “Menjelma Hujan”, “Nelangsa”, “Tembang Cahaya”, dan “Bawa Musim Kembali, Nak...” juga menampilkan ironi kehidupan dan setumpuk kenangan. Widyawati Oktavia sangat teliti menggambarkan kehidupan para tokoh di dalam ceritanya. Seperti dalam cerita Menjelma Hujan. Widyawati menggambarkan tokoh utama yang merasakan sakit hati karena ditinggal menikah oleh lelaki yang dicintainya. Konflik batin yang kuat mampu tersampaikan dengan baik kepada pembaca, sehingga pembaca cukup mampu merasakan permasalahan yang disajikan dalam cerita tersebut.
Selain itu, Widyawati juga berhasil membawakan setiap cerita dengan topik serius namun tetap konsisten dengan kekentalan fiksinya. Beliau juga mampu membuat filosofi untuk beberapa cerita di dalam buku ini, seperti dalam cerita Kunang-Kunang, Menjelma Hujan, Dalam Harap Bintang pagi, dan Nelangsa. Kelebihan lain dari buku ini adalah cerita yang disajikan sangat sarat dengan pesan moral yang tinggi. Gaya bahasa yang dipilih juga sangat segar dan bervariatif.
Selain itu, pengenalan kosakata dalam bahasa daerah juga merupakan suatu kelebihan dalam buku ini. Terlihat di dalam cerita Carano yang membawakan dialog-dialog dengan bahasa Minang. Sehingga pembaca juga mendapatkan pembelajaran dari sana. Jiwa sastra yang kental juga sangat terasa ketika pertama kali membaca buku ini. Dan pilihan tema dalam cerita ini juga sangat menarik untuk dibaca.
Adapun kelemahan dalam buku ini menurut saya adalah alur cerita yang dibuat campuran (maju-mundur), sehingga agak membingungkan pembaca. Membuat pembaca harus berkonsentrasi penuh jika ingin mendapatkan pesan dan inti dari cerita dalam buku ini. Selebihnya, menurut saya, buku ini sangat layak untuk dibeli dan dikoleksi.


(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar