Kemarau
panjang melanda hati wanita berusia setengah abad itu. Matanya tak lagi cerah
sejak bertubi-tubi cobaan Tuhan menimpa rumah tangganya. Hari-hari ia habiskan
dengan tangis. Meratapi mengapa kehidupan dunia sekejam ini. Tubuhnya tak lagi
gemuk, hanya kulit yang membungkus tulang-tulangnya. Semangatnya tak lagi ada,
hingga berjalan pun ia terpapah. Kepahitan memakan habis sisa bahagia di umur
senjanya. Tak ada lagi yang tersisa, hanya bongkahan duka yang terasa
menghantam keras dadanya.
Bik
Jah, begitu warga kampung Pinangjaga memanggilnya. Ia hanya buruh cuci yang
setiap hari melahap baju kotor warga yang memerlukan tenaganya. Dari
helai-helai baju itulah, ia bisa mengenyangkan perut kelima anaknya. Juga suaminya
yang belakangan ini jarang pulang ke rumah. Entah bersebab apa, lelaki yang tujuh
tahun lebih tua darinya itu mulai jarang berdiam diri di rumah. Pagi buta sudah
pergi, malamnya lupa kembali.
Bik
Jah tidak terlalu memikirkan kelakukan suaminya. Baginya, anak-anak adalah
alasan mengapa ia terus bekerja keras. Suaminya bukan lagi prioritas. Ditengah
ekonomi yang menghimpit, rasa-rasanya cinta bukan lagi hal pertama untuk
dipikirkan. Biarlah hatinya patah-patah mendengar segala bisikan tetangga.
Biarlah dadanya berlubang duka dihujani tatapan rasa iba.
Bukan
Bik Jah tak bisa marah. Tapi ia memilih mengalah. Tak ada guna meributkan
hal-hal yang belum tentu terjadi, usianya sudah tua, akan malu jika tengkarnya
hinggap di telinga tetangga. Anak pertama dan keduanya pun kerap berkata
demikian. Keduanya sudah bukan lagi anak-anak. Marni, anak pertama, bahkan
sudah menikah. Namun suaminya entah kemana. Itulah mengapa ia masih tinggal
serumah dengan Bik Jah dan keluarga.
Sementara
anak keduanya, Ahmad, senangnya berkumpul di cakro yang ada di simpang
rumahnya. Pagi ke siang ia tidur, sore ke malam ia memetik gitar bersama
teman-temannya. Sesekali menggoda para gadis yang lewat di sana. Ingin Bik Jah
memaki dan menyeret anak lelakinya itu untuk pulang ke rumah. Namun Bik Jah
sadar, anaknya bukan lagi bocah yang bisa dimarahi sesuka hati. Beberapa kali
dinasehati, Ahmad tidak peduli. Beberapa kali disuruh bekerja, ia mengomel
sendiri.
“Mau
kerja apa, Bu? Tamatan SD sepertiku mana ada yang mau terima,” katanya ketus.
“Kerja
apa saja. Kuli bangunan juga tidak apa-apa,” jawab Bik Jah kala itu.
“Malu.
Gengsi!” bantahnya masih dengan nada ketus.
“Ibu
kalau modal gengsi dan rasa malu, mungkin kau dan adik-adikmu tidak akan hidup
sampai detik ini!” Bik Jah menatapnya tajam. Marah sekali ia mendengar jawaban
anaknya.
“Itu
kan ibu, beda denganku!” Ahmad tetap membantah.
Sedih
rasanya mendengar kalimat itu dari mulut anak lelakinya. Sementara Bik Jah
dihujani tatap penasaran dari ketiga anaknya yang masih berusia SD dan SMP. Mereka
masih belum mengerti apa yang tengah didebatkan ibu dan abangnya. Sambil
menahan letupan kekecewaan, Bik Jah bangkit dari duduknya dan beranjak ke
kamar. Meninggalkan gumpalan keheranan dari raut wajah anak-anaknya.
*
* *
Bik
Jah masuk rumah sakit. Bukan. Bukan karena kelelahan mencuci. Bukan pula karena
sakit kepala menghadapi tingkah kelima anaknya. Tapi bersebab pikiran dan rasa
sakit di hatinya yang berkepanjangan. Dua hari lalu, tengkar hebat terjadi di
rumah kecil itu. Rumah yang sejak puluhan tahun ia tinggali bersama suami dan
anak-anaknya. Rumah yang dikenal tetangga jarang terdengar pertengkaran di
dalamnya. Dua hari lalu, berubah seketika.
Pecah
sudah sabar Bik Jah menghadapi suaminya. Tak tanggung-tanggung, tangisnya ia
tumpahkan tanpa jeda. Isaknya terdengar oleh tetangga. Tak peduli lagi
bagaimana ia akan menjawab segala pertanyaan mereka esok hari. Suaminya pulang
dengan kabar menjijikkan.
“Aku
sudah menikah lagi.”
Sepenggal
kalimat itu merobohkan pertahanan Bik Jah selama ini. Tangisnya, kesalnya,
kekecewaannya, juga rasa sakitnya kini luruh satu-satu. Malam itu, Bik Jah
menangis di hadapannya suaminya. Rasa sakit hati menghantam dadanya. Mengoyak
sisa kekuatannya untuk tetap bertahan hidup. Lelahnya tidak lagi diperhitungkan
lelaki yang puluhan tahun menjadi suaminya. Semuanya terasa amat sia-sia.
Bagaimana
bisa suaminya menikahi wanita lain tanpa seizin darinya? Bukan hanya tanpa
izin, tapi juga tanpa sepengetahuannya. Cincin lain sudah melekat di jari
suaminya. Itu artinya bukan hanya ia yang kini menjadi makmumnya, melainkan ada
wanita lain yang kini posisinya sama dengannya. Keterlaluan! Tangis Bik Jah tak
bisa berhenti malam itu. Dadanya seperti terhimpit ribuan batu. Anak-anak
mengintip dari kamar, menyaksikan ibu mereka bertarung dengan air mata. Tidak
ada raut menyesal dari wajah lelaki yang tak lagi muda itu. Tak ada rasa
kasihan yang ia tunjukkan lagi pada Bik Jah, wanita yang telah memberinya lima
orang anak.
Bik
Jah masih menangis. Dihapusnya berkali-kali, tetap saja air matanya jatuh lagi.
Hatinya bukan saja tersakiti oleh kabar pernikahan itu. Melainkan kenyataan
baru yang dilontarkan suaminya bahwa ia telah pindah agama. Habis sudah cinta
Bik Jah pada lelaki itu. Habis sudah percayanya pada ayah kelima anaknya.
Suaminya
menikahi wanita yang beda agama. Dan kini, suaminya tidak satu keyakinan lagi
dengannya. Bagaimana ini? Bik Jah merasakan sakit yang luar biasa di bagian
kepalanya. Mendadak ia terhuyung. Jatuh berdebam di atas lantai. Sontak jerit
histeris keluar dari mulut anak-anaknya. Malam itu, Bik Jah bermalam di rumah
sakit.
Seminggu
sudah sejak kejadian itu. Bik Jah tak lagi seperti dulu. Ia tidak lagi menjadi
buruh cuci. Marni-lah yang menggantikan tenaganya. Anak sulungnya itu mendadak
menjadi yang paling mengerti ketika kondisinya tengah sekarat seperti ini.
Sejak kejadian menyakitkan itu, kondisi Bik Jah semakin memburuk. Habis sudah
tubuhnya kini, tinggal tulang yang menampakkan bahwa kondisinya tak sebaik
dulu. Kini ia begitu kurus dan lesu. Tidak ada semangat dalam bola matanya
lagi. Tidak ada cerah dalam raut mukanya kini.
Cobaan
tidak berhenti sampai di situ. Imah, anak ketiganya yang masih duduk di kelas 3
SMP, mendadak membawa kabar duka bagi hati Bik Jah. Tercabik lagi jiwanya.
Sepertinya Tuhan belum mau berhenti menguraikan tangisnya. Bik Jah jatuh
pingsan mendengar pengakuan anak perempuannya itu. Imah telah hamil di luar
nikah. Tamparan keras dari Marni pun mendarat tepat ke pipi kiri adiknya. Marni
murka dan menusuknya dengan kalimat berurai air mata.
Selesai
menunggui pejam Bik Jah karena pingsan, Marni mendekati ibunya. Dibelainya
lembut tangan sang ibu dengan penuh kasih sayang. Dihapusnya sisa air mata yang
masih menempel di sudut pipi sang ibu. Betapa Marni ikut merasakan kesakitan
yang dirasakan ibunya selama ini. Dengan berurai air mata, Marni memeluk erat
ibunya yang lemah. Bik Jah hanya diam. Air matanya ikut tumpah.
“Maafkan
kami, Bu. Sungguh, maafkan kelakuan kami,” Marni bersuara dalam isaknya.
Dadanya bergemuruh hebat. Tangisnya membasahi baju Bik Jah.
Bik
Jah hanya menggeleng pelan, air matanya masih tumpah, susah payah ia berkata
‘tidak apa-apa’ namun suaranya tercekat dalam dada. Tubuhnya terasa tidak lagi
bertenaga. Setelah apa yang telah ia alami belakangan ini, rasanya Bik Jah tak
sanggup lagi untuk berdiri. Marni melepas pelukannya. Matanya merah, pipinya
sudah basah. Ia menyekanya perlahan. Lantas tersenyum menatap Bik Jah.
“Ibu
mau minum susu?” tanyanya.
Bik
Jah menarik sudut bibirnya. Sudah lama ia tak mendapat perhatian seperti itu
dari anak sulungnya. Sekilas Bik Jah mengangguk. Marni keluar kamar dan
beberapa menit kemudian, ia kembali dengan susu putih di tangannya.
“Minumlah,
Bu. Habiskan.” Marni menyodorkan gelas itu pada ibunya.
Tanpa
rasa curiga, Bik Jah menghabiskan semuanya. Sementara Marni tampak menahan air
mata. Ia menggigit bibir bawahnya. Kuat. Kuat sekali. Bik Jah telah
menghabiskan isi dalam gelas itu. Ia merasa perutnya mulai hangat, pikirannya
pun demikian. Hingga beberapa menit kemudian, ia merasakan sesuatu yang aneh
dalam tubuhnya. Marni mulai menangis, menutup mulutnya.
Bik
Jah mulai mengejang. Kepalanya pusing tak berkesudahan. Untuk setelahnya, buih
menghiasi sudut bibirnya, Banyak, banyak sekali. Tangis Marni semakin kencang,
ia pegang tangan ibunya yang memucat.
“Maafkan
aku, Bu. Maafkan aku…” tubuhnya terguncang hebat.
Marni
dengan sengaja mencampurkan obat serangga ke dalam gelas susu itu. Tak tahan
hatinya melihat ibunya menderita lebih lama lagi. Maka dengan tega, ia ingin
menyudahi kesedihan itu. Baginya, sang ibu sudah cukup menderita berada di
dunia ini. Dengan gila, Marni melakukan semua ini. Dengan sesak di dada, Marni
tega membunuh ibunya sendiri.
Napas Bik Jah mulai
jatuh satu-satu. Kesusahan ia menghirup oksigen yang tampaknya semakin sempit.
Matanya berkunang-kunang. Sebelum akhirnya ia menutup mata, Bik Jah menatap
Marni tuk terakhir kalinya. Sulungnya berurai air mata, memanggil-manggil
namanya. Begitulah adanya Bik Jah, bahkan menghadap kematiannya pun, ia tidak
pernah berburuk sangka. Baginya, lumrah manusia menyakiti, lumrah baginya untuk
memahami dan memaafkan tanpa henti. Bik Jah tidur untuk selamanya, sementara
tangis Marni meraung di udara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar