Total Tayangan Halaman

Selasa, 13 September 2016

Media Sosial Awal dari Penyakit Hati (Terbit 01 September 2016, Tribun Bone)

Fenomena membenci di zaman sekarang ini bukan lagi dilakukan oleh orang perorangan, melainkan secara berkelompok. Adanya media sosial merupakan salah satu penyebab fenomena membenci semakin banyak ditemukan. Penulis sendiri berpendapat bahwa media sosial dijadikan wadah dalam membibitkan akhlakul madzmumah. Di mana media sosial dapat menyebarkan segala sesuatu yang belum tentu benar mengenai seseorang atau sesuatu hal. Hasut menghasut pun terjadi. Dan fenomena membenci pun semakin marak.
Di zaman Facebook seperti sekarang ini, banyak orang yang berlomba-lomba menjadi narsis, ingin menunjukkan kehebatan diri, dan ingin memamerkan segalanya kepada orang banyak. Sebenarnya ini adalah hak pribadi masing-masing individu, namun karena ini adalah media sosial di mana semua orang bisa berkomentar. Penyakit hati yang pertama tentu saja timbul rasa iri terhadap postingan orang lain. Rasa iri ini muncul karena orang tersebut tidak mampu menjadi seperti yang demikian. Dari rasa iri yang dipupuk sedikit demi sedikit inilah akhirnya menumpuk, timbul perasaan benci dalam diri terhadap seseorang yang memposting tersebut. Meski tanpa adanya alasan yang jelas.
Penyakit hati selanjutnya adalah adanya kecenderungan untuk pamer atau memamerkan. Seorang teman penulis berkata, “Media sosial itu memang tempatnya untuk pamer, kalau tidak mau pamer ya mending nulis diary saja.” Begitu ungkapnya. Entah harus menanggapi seperti apa, namun itulah yang terjadi saat ini. Hal-hal semacam itu dianggap lumrah dan sudah biasa. Memang benar, itu hidup mereka, mereka bebas memposting apa saja yang dia suka di media sosial pribadinya. Tidak menjadi masalah selama itu tidak mengganggu orang lain, seperti menyindir atau menghujat.
Jika mengambil kata-kata dari penulis hebat sekelas Tere Liye, media sosial ini ibarat rumah. Mereka tentu saja bebas berbuat sesukanya di rumah sendiri. Mengapa harus repot? Kita pun demikian, kita juga memiliki rumah yang kita bebas menatanya sesuka hati kita, termasuk dalam membagikan sesuatu. Namun tentu saja kita hanya boleh membagikan hal-hal baik dan bermanfaat kepada orang lain. Jika mendapati orang-orang semacam itu, cukup kendalikan hati kita masing-masing, agar tak terjerat penyakit hati. Jika baik boleh diambil, jika buruk tinggalkan saja. Tapi yang terjadi sekarang justru sebaliknya, kita yang terlalu sibuk mengurusi rumah orang lain.
Kalau boleh mengambil bahasa anak muda zaman sekarang yaitu stalking, mengintip “rumah orang lain” lalu mencoba mencari-cari kesalahannya. Bukankah itu suatu perbuatan tercela yang harus dihindari? Cukuplah kita mengetahui aib dan kesalahan masing-masing, tidak perlu repot mengurusi aib dan kesalahan orang lain. Barangkali tanpa kita sadari, aib kita malah jauh lebih banyak dari pada mereka yang kita cari-cari kesalahannya.
Penyakit hati berikutnya adalah timbul rasa bangga pada diri sendiri, sehingga menganggap orang lain lebih kecil dari dirinya. Ini biasa muncul di diri orang yang memposting. Merasa tak ada orang yang menandinginya. Itulah mengapa media sosial lebih banyak memberikan dampak negatif di kehidupan, sebab manusia sekarang tampaknya kurang mahir dalam menyetir hati masing-masing. Mereka mudah dihasut dan terhasut. Bahkan yang terparah adalah bisa membenci sesuatu padahal tidak paham betul apa yang dibenci, menghujat orang yang tidak pernah melakukan salah padanya, dan merasa paling benar serta paling tahu mengenai pribadi seseorang, padahal bertatap muka dan mengobrol pun tidak pernah.
Inilah fenomena yang terjadi saat ini. Manusia mudah sekali dibakar. Media sosial juga seperti wadah untuk cibir dan menyindir. Dalam suatu kasus yang tentu kita semua pernah mengalami, ketika menyindir si A, yang merasa tersindir justru si C. Rumit sekali jika sudah begini. Kesalahpahaman pun terjadi, dan rasa benci semakin menjadi-jadi. Latar belakang sikap yang dimiliki adalah sesuatu yang mempengaruhi ucapan yang dikeluarkan. Banyak orang sensitif terhadap sesuatu yang padahal bukan ditujukan untuk dirinya.
Mereka terlalu suka menyimpulkan dan membuat lingkaran yang saling bertautan di kepala, lantas menganggap semua yang dipikirkannya adalah benar. Padahal yang terjadi sebenarnya belum tentu seperti itu. Belajar berhusnudzan terhadap orang lain adalah keminiman sifat yang dimiliki manusia. Padahal dengan berprasangka baik/husnudzan pada orang lain, dapat membuat hati dan pikiran kita lebih tenang, perasaan lebih damai, dan tetap menjaga silaturahmi. Bukankah Allah SWT juga sangat menyukai sifat yang satu ini? Lalu mengapa kita masih saja berkutat pada semua prasangka buruk terhadap orang lain?
Dampak negatif dari keberadaan media sosial lainnya adalah kecenderungan menyebarkan hal yang tidak benar, memancing permasalahan baru, menggunjing seseorang yang bersalah, dan menghujat seseorang dengan kalimat-kalimat kasar. Penulis sependapat lagi dengan kalimat Tere Liye yang diposting di halaman fanpage-nya, yang mengatakan, “Ini hanya dunia maya, jangan menghabiskan waktu mengurusi orang-orang yang suka komen nyolot, ngajak bertengkar, spam dan jorok. Sekali merasa terganggu, langsung delete, remove, unlike, dan unfollow.” Kita cukup menjauhi akun-akun yang bisa menimbulkan penyakit hati.
Dalam menyikapi kesalahan orang lain pun kita tidak perlu berlebihan, cukuplah kita tahu bahwa dia seperti itu. Tidak perlu meributkan dan memancing pertengkaran. Jika bisa, ya hindari saja hal-hal semacam itu, tidak terlalu berguna. Jaga hati kita dari sifat-sifat buruk yang dapat menetap menjadi pola pikir. Terus berhusnudzan dalam situasi apa pun. Ingat, semua orang pernah salah dan melakukan khilaf, kita tidak perlu menghujat, cukup menjadikannya pelajaran agar hidup kita menjadi lebih baik.

(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 5)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar