Namanya
Teera. Gadis berkacamata yang sudah hampir tiga ratus enam puluh lima hari
kutaksir. Dari kelas sepuluh hingga kelas dua belas ini, aku tak kunjung
mendapatkan hatinya. Wajahnya oval, berlesung pipi dan tinggi semampai. Membuat
hatiku cenat cenut tiap kali berpapasan dengannya. Walaupun banyak cewek cantik
bertebaran di sekolah ini, tapi nggak terlalu kupedulikan. Terlanjur kecantol
sama Teera, sih. Gayanya yang cekatan dan mudah akrab dengan orang lain
membuatku semakin ingin mendekatinya. Masalahnya, Teera begitu dingin padaku.
Hanya denganku saja dia seperti itu, tak mau akrab. Tiap kali aku ingin
beraksi, dia sudah siap dengan tampang ketusnya. Memasang muka paling seram
terhadapku. Beruntung dia tak sampai membawa spanduk bertuliskan ‘ANTI EGA’.
Memangnya apa yang salah dariku, sih? Biarpun terlihat gembel, sampai mati aku
tak akan pernah mengaku kalau aku jelek. Sebab setidaknya pernah ada yang
bilang kalau aku adalah anak laki-laki paling ganteng sedunia. Meski yang
bilang begitu hanya Ibu dan adik perempuanku satu-satunya. “Lo itu gak jelek,
Ga. Cuma kurang ganteng aja.” Ucap Abe, sohib kentalku. Ingin rasanya aku
menjitak jidatnya yang lebar itu. Jujur sekali dia. Tapi sebodo amat. Aku bukan
tipikal orang yang terlalu mendengar komentar orang lain. Bahkan meskipun
banyak yang bilang aku tidak cocok dengan Teera, tetap saja tak kugubris.
Karena sudah kubilang, aku bukan tipe orang seperti itu. Bagiku, Love must be fighting!
Aku
sering mengintip kelas Teera diam-diam. Berpura-pura permisi ke toilet agar
bisa melewati kelasnya. Lantas mataku pun mulai bekerja, mencari dia, objek
terindah yang ada di kelas itu. Sialnya, aku sering tertangkap basah oleh Pak
Sid. Guru satu ini memang hobinya hunting
korban. Dan efek dari sering ketahuan inilah, lantai toilet pria jadi makin
sering mengkilap. Karena biasanya dalam seminggu itu, aku bisa 3-4 hari
ngintipin kelas Teera. Dan hampir selalu ketahuan Pak Sid. Parah. Dan orang
yang paling berbahagia atas kejadian itu adalah Abe. “Usaha banget sih lo
deketin monster cantik itu.” Abe memulai komentar pertamanya setelah
kuceritakan kejadian memalukan itu. Saat itu kami sedang di kantin sekolah. Abe
menyeruput kuah baksonya. Mengelap hidungnya yang basah akibat kepedasan. “Cinta
harus diperjuangkan.” Kataku lemah, meletakkan kepala di atas meja. “Kalimat
basi.” Celetuk Abe, masih sibuk menghabiskan sisa kuah bakso. “Kayak lo dapetin
Sarah mudah aja.” Cibirku. Abe mendongak.
Kenapa jadi bawa-bawa kisah cinta gue? begitu kira-kira ekspresi wajahnya.
“Masalahnya beda, bro. Wajah gue
memadai untuk memikat cewek-cewek di sekolah ini. Jadi, Sarah mau sama gue itu
hal biasa.” Abe mulai narsis. “Lebay lo!” aku mencibir lagi. “Satu lagi. Karena
Sarah melihat gue dengan cinta, maka gue-lah cowok terkeren di dunia.” Aku
sudah menendang kakinya. Abe mengaduh. Percuma curhat ke Abe, nggak akan dapat
solusi. Yang ada malah naikin tensi.
Esoknya,
aku hanya bisa menatap Teera dari kejauhan. Aku hampir tidak punya kesempatan
untuk sekedar mengobrol dengan pujaan hatiku itu. Teera terlalu sibuk. Apalagi
semenjak sekolahku dinobatkan menjadi sekolah Adiwiyata Mandala atau yang lebih
dikenal dengan Sekolah Berwawasan Lingkungan. Sekolah kami terpilih menjadi
sekolah Adiwiyata karena program baru tentang lingkungan yang digalakkan kepala
sekolah berjalan mulus tanpa kendala. Peraturan sekolah semakin ketat. Bahkan
sekarang, telah disiapkan tim khusus yang bertugas mendaur ulang sampah-sampah
anorganik yang sulit terurai, seperti sampah plastik dan sebagainya. Tiba-tiba
aku mendapat ide. Aku segera berlari menuju ruang guru, mencari Bu Natalie yang
merupakan guru pembimbing tim khusus Adiwiyata. “Kamu bersedia menjadi anggota?
Apa Ibu tidak salah dengar?” Bu Natalie bertanya serius. “Iya, Bu. Loh, memangnya
kenapa? Ibu meragukan kemampuan saya?” aku bertanya balik. Bu Natalie tertawa,
“Bukan seperti itu maksud Ibu. Tapi apa kamu yakin ingin bergabung dengan
kami?”. “Saya yakin seyakin-yakinnya, Bu.” aku menjawab mantap. “Baiklah, kita
berkumpul setelah pulang sekolah di aula.” Bu Natalie mengakhiri percakapan.
Mempersilahkanku meninggalkan ruangannya.
“Lo
yakin, Ga? Setahu gue tim khusus itu anggotanya cewek semua loh..” Abe
menyeruput jus jeruk dalam kantongan plastik itu sampai habis. “Kenapa enggak?
Gue kan ngelakuin itu semua demi Teera. Biar gue bisa deket terus sama dia.”
Jelasku. “Masih aja ngarepin monster itu. Emang lo punya keahlian apa dalam
mendaur ulang barang bekas?” tanya Abe sambil membuang sampah plastiknya begitu
saja ke kolam ikan yang ada di taman sekolah. “Eh.. eh.. eh.. buang sampah pada
tempatnya dong!” sergahku sambil berusaha mengutip sampah plastik bekas minuman
Abe tadi. Abe bengong melihatku yang tanpa sungkan mengambil sampah plastiknya
itu. “Tumben?” gumam Abe pelan. “Elo itu bisa ngerusak ekosistem
kolam. Apa susahnya sih buang sampah di tempatnya?” aku masih mengomel. “Wah..
wah.. Keliatannya sobat gue berubah gara-gara cinta, nih. Elo baru juga daftar
tadi pagi jadi anggota tim Adiwiyata sekolah, sekarang udah bisa aja kasih contoh
ke gue. Biasanya kan elo yang paling sering buang sampah ke kolam ini.” Ledek
Abe. Aku tertegun, bener juga ya,
lantas nyengir sambil menyikut Abe. “Gue cuma latihan doang kok. Kali aja
dengan gue punya kegiatan yang sama dengan Teera, dia bisa simpatik sama gue.”
Aku berharap lagi. Sepertinya Abe melihat kesungguhan di mataku. Dan kali ini
ia mendukung penuh apa yang kulakukan.
“Teera..”
Panggilku saat melihat Teera berjalan di koridor sekolah. “Mau apa lagi?” tanya
Teera acuh sambil terus melanjutkan langkah. “Mau kemana? Bareng , yuk?” aku
sudah menyejajari langkahnya. “Mau ke toilet! Mau ikut?” ketus Teera. Aduh..
aku menggaruk kepala yang tak gatal. Tapi sejak kapan toilet sekolah arahnya ke
sini, ya? “Haaa.. kamu pasti bohong, kan?” aku nyengir. Teera mendengus kesal.
Mempercepat langkahnya. Lantas duduk di bangku kayu disudut taman. Aku masih
membuntutinya. Asal, tanganku memetik bunga yang
ada di sebelahnya. “Teera, bunganya cantik, ya? Kayak kamu.” aku mulai
mengeluarkan jurus gombal yang kupelajari dari Abe. Maksud hati ingin membuat
Teera tersipu, tapi malah sebaliknya. Teera melotot ke arahku. Raut wajahnya
tampak kesal menahan marah. Aku melirik bunga yang baru saja di petiknya, “Eh..
Maaf.” Ucapku salah tingkah. Setelah ditahan-tahan, namun tetap tak
tertahankan, akhirnya keluar juga sumpah serapah dari mulut mungil Teera. “Huh!
Dasar! Kamu pikir nanam mawar ini nggak pake capek? Hah? Kamu pikir mawar ini
nenek moyangmu yang menanamnya? Iya? Dan kamu pikir, caramu barusan itu
membuatku tersanjung? Tidak! Tidak sama sekali. Kamu itu udah ngerusak tanaman,
Egaaa. Sekolah kita ini sekolah berwawasan lingkungan, jadi kamu gak boleh
sembarangan merusak tanaman kayak tadi. Kamu ngerti gak, sih? Atau
jangan-jangan, selama ini yang merusak anggrek di sebelah kelasmu itu kamu
sendiri? Iya, kan? Ayo, ngaku!! Kalo semua orang di sekolah ini kayak kamu,
trus semua tanaman di sekolah ini rusak, apa lagi yang bisa diharapkan dari
semakin banyaknya polusi udara? Kamu kan tahu
sendiri, kalau fungsi tanaman itu menyerap polutan-polutan yang berbahaya. Egaaa,
kenapa diem aja, sih?” Teera mengakhiri omelannya. Napasnya ngos-ngosan. Aku terdiam tanpa kata
mendengar semua unek-unek Teera. Kok
malah curhat, sih? “Bener-bener monster! Eh, monster cantik.” Gumamku
pelan, sedikit gemetar. Tak kusangka hal kecil yang kulakukan tadi mampu
membuat Teera mengamuk parah.
Bu
Natalie baru saja akan memberi pengarahan kepada semuanya, ketika aku tiba-tiba
masuk. Semua siswi memperhatikanku. Aku nyengir. Bingung harus bagaimana. “Mau
apa dia?” kudengar bisik-bisik mereka. “Silahkan masuk, Ega. Kita baru saja
akan mulai.” Ramah Bu Natalie menyapaku. Aku mengambil tempat duduk yang dekat
dengan Teera. “Sudah terlambat, nyengir pula.” Kudengar Teera mencibirku. Aku
senyum saja, menyimpulkan bahwa sejak tadi dia memperhatikanku. Teman-temannya
kasak-kusuk. Mungkin masih bingung kenapa bisa ada murid laki-laki yang mau
bergabung dengan tim khusus Adiwiyata program daur ulang sampah. Aku melihat ke
sekeliling. Tersenyum geli. Aku paling tampan diantara semuanya. Jelas saja. Bu
Natalie membagi kami dalam beberapa kelompok. Rasanya aku ingin sujud syukur
mendengar namaku sekelompok dengan Teera. Tapi itu tak mungkin kulakukan di
depan semuanya. Teera yang ditunjuk sebagai ketua kelompok di kelompok kami,
menjelaskan beberapa hal sebagai pembuka. “Guys, tahukah kalian bahwa sampah
plastik adalah musuh bumi?” Teera bertanya. Semua diam. “Karena plastik
membutuhkan lebih dari lima puluh tahun untuk di daur ulang oleh bumi kita.”
Teera tersenyum. Aku makin kagum padanya. Selain cantik, walau galak, dia
selalu pintar. Aku semakin bersyukur bisa bergabung dengan tim khusus ini.
Karena disini aku bisa melihat matahariku, monster cantikku.
Tugas
kelompok kami adalah mendaur ulang kertas bekas. Kami sudah mengumpulkan kertas
bekas kosong, majalah dan kertas tulis untuk di daur ulang menjadi kertas daur
ulang. Tadi Teera juga menjelaskan bahwa di Indonesia, penggunaan kertas daur
ulang untuk bahan baku industri kertas telah banyak digunakan. Produk kertas
daur ulang ini berupa jenis kertas seperti kertas kemasan atau kertas untuk
industri, kertas cetak atau kertas tulis, tissue dan cetakan untuk media massa.
Dalam jumlah terbatas, kertas daur ulang dapat juga digunakan untuk media
tanaman isolasi, box dan produk kertas cetak seperti wadah telur, karton, baki
makanan dan pot tanaman. Aku bersama Teera dan dua siswi lainnya mendapat tugas
mendaur ulang kertas Koran. Bu Natalie bilang, khusus untuk daur ulang kertas
Koran diperlukan beberapa tambahan proses kimiawi untuk menghilangkan tinta
yang ada pada kertas atau de-ingking
process. Proses ini menggunakan sabun untuk menghilangkan tinta. Kami
dibantu dan diawasi oleh asisten Bu Natalie. Sementara Bu Natalie mengawasi yang
lain. Petugas itu menjelaskan sedikit tentang membuat kertas daur ulang yang
baik dan dapat digunakan kembali. Untuk membuatnya diperlukan modifikasi
campuran kertas yang terdiri dari campuran kertas Koran bekas, majalah dan
bubur kertas yang asli atau virgin pulp
dari bahan baku awal.
Seusai
kelas, Teera memanggilku. Aku yang saat itu sedang jongkok mengikat tali sepatu
mendongak ke atas. Teera tepat di atas kepalaku. Tersenyum. Ya, dia tersenyum.
Untuk pertama kalinya, Teera tersenyum padaku. Aku jadi salah tingkah. “Ada
apa?” tanyaku gugup. “Kamu hebat!” ucapnya tersenyum. Keningku berkerut. Hebat
apanya? “Tadi aku perhatiin, kamu cekatan banget ngerjain daur ulangnya.
Belajar dari mana?” tanyanya ingin tahu. Aku terkekeh, lalu menggeleng. “Aku
gabung di tim khusus ini kan karena kamu.” Ucapku jujur. Untuk pertama kalinya,
kulihat Teera tersipu. Manis sekali. “Kalau begitu, kamu harus bayar!” Teera
menaikkan sebelah alisnya. “Bayar untuk apa?” tanyaku bingung. “Karena sudah
berani menjadikanku alasan keikutsertaanmu dalam tim ini!” seru Teera menahan
senyum. “Anak berekonomi lemah macam aku, harus bayar pake apa?” tanyaku
pura-pura memelas. Teera tertawa, lepas sekali. “Yuk, ikut aku! Temenin aku
makan di warung nasi goreng depan sekolah. Itu sebagai bayaran.” Teera
mengedipkan sebelah matanya. Aku sumringah. Akhirnya aku tahu bagaimana cara
mendekati Teera. Dia suka cowok pintar dan apa adanya. Dan itu modalku untuk
melanjutkan misi mendapatkan hatinya. Dan di
sore hari yang cerah ini, aku punya kesempatan untuk memandang wajah
Teera dengan jarak sedekat ini. Duduk berdua dengan perbincangan-perbincangan
seru yang tak kuduga sebelumnya. Because,
the concerns never bothered me anyway.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar