Total Tayangan Halaman

Selasa, 13 September 2016

Terperangkap Cinta Monster Cantik (Antologi Cekers Go Green, Elex Media Komputindo, Gramedia Group, 2014)

Namanya Teera. Gadis berkacamata yang sudah hampir tiga ratus enam puluh lima hari kutaksir. Dari kelas sepuluh hingga kelas dua belas ini, aku tak kunjung mendapatkan hatinya. Wajahnya oval, berlesung pipi dan tinggi semampai. Membuat hatiku cenat cenut tiap kali berpapasan dengannya. Walaupun banyak cewek cantik bertebaran di sekolah ini, tapi nggak terlalu kupedulikan. Terlanjur kecantol sama Teera, sih. Gayanya yang cekatan dan mudah akrab dengan orang lain membuatku semakin ingin mendekatinya. Masalahnya, Teera begitu dingin padaku. Hanya denganku saja dia seperti itu, tak mau akrab. Tiap kali aku ingin beraksi, dia sudah siap dengan tampang ketusnya. Memasang muka paling seram terhadapku. Beruntung dia tak sampai membawa spanduk bertuliskan ‘ANTI EGA’. Memangnya apa yang salah dariku, sih? Biarpun terlihat gembel, sampai mati aku tak akan pernah mengaku kalau aku jelek. Sebab setidaknya pernah ada yang bilang kalau aku adalah anak laki-laki paling ganteng sedunia. Meski yang bilang begitu hanya Ibu dan adik perempuanku satu-satunya. “Lo itu gak jelek, Ga. Cuma kurang ganteng aja.” Ucap Abe, sohib kentalku. Ingin rasanya aku menjitak jidatnya yang lebar itu. Jujur sekali dia. Tapi sebodo amat. Aku bukan tipikal orang yang terlalu mendengar komentar orang lain. Bahkan meskipun banyak yang bilang aku tidak cocok dengan Teera, tetap saja tak kugubris. Karena sudah kubilang, aku bukan tipe orang seperti itu. Bagiku, Love must be fighting!
Aku sering mengintip kelas Teera diam-diam. Berpura-pura permisi ke toilet agar bisa melewati kelasnya. Lantas mataku pun mulai bekerja, mencari dia, objek terindah yang ada di kelas itu. Sialnya, aku sering tertangkap basah oleh Pak Sid. Guru satu ini memang hobinya hunting korban. Dan efek dari sering ketahuan inilah, lantai toilet pria jadi makin sering mengkilap. Karena biasanya dalam seminggu itu, aku bisa 3-4 hari ngintipin kelas Teera. Dan hampir selalu ketahuan Pak Sid. Parah. Dan orang yang paling berbahagia atas kejadian itu adalah Abe. “Usaha banget sih lo deketin monster cantik itu.” Abe memulai komentar pertamanya setelah kuceritakan kejadian memalukan itu. Saat itu kami sedang di kantin sekolah. Abe menyeruput kuah baksonya. Mengelap hidungnya yang basah akibat kepedasan. “Cinta harus diperjuangkan.” Kataku lemah, meletakkan kepala di atas meja. “Kalimat basi.” Celetuk Abe, masih sibuk menghabiskan sisa kuah bakso. “Kayak lo dapetin Sarah mudah aja.” Cibirku. Abe mendongak. Kenapa jadi bawa-bawa kisah cinta gue? begitu kira-kira ekspresi wajahnya. “Masalahnya beda, bro. Wajah gue memadai untuk memikat cewek-cewek di sekolah ini. Jadi, Sarah mau sama gue itu hal biasa.” Abe mulai narsis. “Lebay lo!” aku mencibir lagi. “Satu lagi. Karena Sarah melihat gue dengan cinta, maka gue-lah cowok terkeren di dunia.” Aku sudah menendang kakinya. Abe mengaduh. Percuma curhat ke Abe, nggak akan dapat solusi. Yang ada malah naikin tensi.
Esoknya, aku hanya bisa menatap Teera dari kejauhan. Aku hampir tidak punya kesempatan untuk sekedar mengobrol dengan pujaan hatiku itu. Teera terlalu sibuk. Apalagi semenjak sekolahku dinobatkan menjadi sekolah Adiwiyata Mandala atau yang lebih dikenal dengan Sekolah Berwawasan Lingkungan. Sekolah kami terpilih menjadi sekolah Adiwiyata karena program baru tentang lingkungan yang digalakkan kepala sekolah berjalan mulus tanpa kendala. Peraturan sekolah semakin ketat. Bahkan sekarang, telah disiapkan tim khusus yang bertugas mendaur ulang sampah-sampah anorganik yang sulit terurai, seperti sampah plastik dan sebagainya. Tiba-tiba aku mendapat ide. Aku segera berlari menuju ruang guru, mencari Bu Natalie yang merupakan guru pembimbing tim khusus Adiwiyata. “Kamu bersedia menjadi anggota? Apa Ibu tidak salah dengar?” Bu Natalie bertanya serius. “Iya, Bu. Loh, memangnya kenapa? Ibu meragukan kemampuan saya?” aku bertanya balik. Bu Natalie tertawa, “Bukan seperti itu maksud Ibu. Tapi apa kamu yakin ingin bergabung dengan kami?”. “Saya yakin seyakin-yakinnya, Bu.” aku menjawab mantap. “Baiklah, kita berkumpul setelah pulang sekolah di aula.” Bu Natalie mengakhiri percakapan. Mempersilahkanku meninggalkan ruangannya.
“Lo yakin, Ga? Setahu gue tim khusus itu anggotanya cewek semua loh..” Abe menyeruput jus jeruk dalam kantongan plastik itu sampai habis. “Kenapa enggak? Gue kan ngelakuin itu semua demi Teera. Biar gue bisa deket terus sama dia.” Jelasku. “Masih aja ngarepin monster itu. Emang lo punya keahlian apa dalam mendaur ulang barang bekas?” tanya Abe sambil membuang sampah plastiknya begitu saja ke kolam ikan yang ada di taman sekolah. “Eh.. eh.. eh.. buang sampah pada tempatnya dong!” sergahku sambil berusaha mengutip sampah plastik bekas minuman Abe tadi. Abe bengong melihatku yang tanpa sungkan mengambil sampah plastiknya itu. “Tumben?” gumam Abe pelan. “Elo itu bisa ngerusak ekosistem kolam. Apa susahnya sih buang sampah di tempatnya?” aku masih mengomel. “Wah.. wah.. Keliatannya sobat gue berubah gara-gara cinta, nih. Elo baru juga daftar tadi pagi jadi anggota tim Adiwiyata sekolah, sekarang udah bisa aja kasih contoh ke gue. Biasanya kan elo yang paling sering buang sampah ke kolam ini.” Ledek Abe. Aku tertegun, bener juga ya, lantas nyengir sambil menyikut Abe. “Gue cuma latihan doang kok. Kali aja dengan gue punya kegiatan yang sama dengan Teera, dia bisa simpatik sama gue.” Aku berharap lagi. Sepertinya Abe melihat kesungguhan di mataku. Dan kali ini ia mendukung penuh apa yang kulakukan.
“Teera..” Panggilku saat melihat Teera berjalan di koridor sekolah. “Mau apa lagi?” tanya Teera acuh sambil terus melanjutkan langkah. “Mau kemana? Bareng , yuk?” aku sudah menyejajari langkahnya. “Mau ke toilet! Mau ikut?” ketus Teera. Aduh.. aku menggaruk kepala yang tak gatal. Tapi sejak kapan toilet sekolah arahnya ke sini, ya? “Haaa.. kamu pasti bohong, kan?” aku nyengir. Teera mendengus kesal. Mempercepat langkahnya. Lantas duduk di bangku kayu disudut taman. Aku masih membuntutinya. Asal, tanganku memetik bunga yang ada di sebelahnya. “Teera, bunganya cantik, ya? Kayak kamu.” aku mulai mengeluarkan jurus gombal yang kupelajari dari Abe. Maksud hati ingin membuat Teera tersipu, tapi malah sebaliknya. Teera melotot ke arahku. Raut wajahnya tampak kesal menahan marah. Aku melirik bunga yang baru saja di petiknya, “Eh.. Maaf.” Ucapku salah tingkah. Setelah ditahan-tahan, namun tetap tak tertahankan, akhirnya keluar juga sumpah serapah dari mulut mungil Teera. “Huh! Dasar! Kamu pikir nanam mawar ini nggak pake capek? Hah? Kamu pikir mawar ini nenek moyangmu yang menanamnya? Iya? Dan kamu pikir, caramu barusan itu membuatku tersanjung? Tidak! Tidak sama sekali. Kamu itu udah ngerusak tanaman, Egaaa. Sekolah kita ini sekolah berwawasan lingkungan, jadi kamu gak boleh sembarangan merusak tanaman kayak tadi. Kamu ngerti gak, sih? Atau jangan-jangan, selama ini yang merusak anggrek di sebelah kelasmu itu kamu sendiri? Iya, kan? Ayo, ngaku!! Kalo semua orang di sekolah ini kayak kamu, trus semua tanaman di sekolah ini rusak, apa lagi yang bisa diharapkan dari semakin banyaknya polusi udara? Kamu kan tahu sendiri, kalau fungsi tanaman itu menyerap polutan-polutan yang berbahaya. Egaaa, kenapa diem aja, sih?” Teera mengakhiri omelannya. Napasnya ngos-ngosan. Aku terdiam tanpa kata mendengar semua unek-unek Teera. Kok malah curhat, sih? “Bener-bener monster! Eh, monster cantik.” Gumamku pelan, sedikit gemetar. Tak kusangka hal kecil yang kulakukan tadi mampu membuat Teera mengamuk parah.
Bu Natalie baru saja akan memberi pengarahan kepada semuanya, ketika aku tiba-tiba masuk. Semua siswi memperhatikanku. Aku nyengir. Bingung harus bagaimana. “Mau apa dia?” kudengar bisik-bisik mereka. “Silahkan masuk, Ega. Kita baru saja akan mulai.” Ramah Bu Natalie menyapaku. Aku mengambil tempat duduk yang dekat dengan Teera. “Sudah terlambat, nyengir pula.” Kudengar Teera mencibirku. Aku senyum saja, menyimpulkan bahwa sejak tadi dia memperhatikanku. Teman-temannya kasak-kusuk. Mungkin masih bingung kenapa bisa ada murid laki-laki yang mau bergabung dengan tim khusus Adiwiyata program daur ulang sampah. Aku melihat ke sekeliling. Tersenyum geli. Aku paling tampan diantara semuanya. Jelas saja. Bu Natalie membagi kami dalam beberapa kelompok. Rasanya aku ingin sujud syukur mendengar namaku sekelompok dengan Teera. Tapi itu tak mungkin kulakukan di depan semuanya. Teera yang ditunjuk sebagai ketua kelompok di kelompok kami, menjelaskan beberapa hal sebagai pembuka. “Guys, tahukah kalian bahwa sampah plastik adalah musuh bumi?” Teera bertanya. Semua diam. “Karena plastik membutuhkan lebih dari lima puluh tahun untuk di daur ulang oleh bumi kita.” Teera tersenyum. Aku makin kagum padanya. Selain cantik, walau galak, dia selalu pintar. Aku semakin bersyukur bisa bergabung dengan tim khusus ini. Karena disini aku bisa melihat matahariku, monster cantikku.
Tugas kelompok kami adalah mendaur ulang kertas bekas. Kami sudah mengumpulkan kertas bekas kosong, majalah dan kertas tulis untuk di daur ulang menjadi kertas daur ulang. Tadi Teera juga menjelaskan bahwa di Indonesia, penggunaan kertas daur ulang untuk bahan baku industri kertas telah banyak digunakan. Produk kertas daur ulang ini berupa jenis kertas seperti kertas kemasan atau kertas untuk industri, kertas cetak atau kertas tulis, tissue dan cetakan untuk media massa. Dalam jumlah terbatas, kertas daur ulang dapat juga digunakan untuk media tanaman isolasi, box dan produk kertas cetak seperti wadah telur, karton, baki makanan dan pot tanaman. Aku bersama Teera dan dua siswi lainnya mendapat tugas mendaur ulang kertas Koran. Bu Natalie bilang, khusus untuk daur ulang kertas Koran diperlukan beberapa tambahan proses kimiawi untuk menghilangkan tinta yang ada pada kertas atau de-ingking process. Proses ini menggunakan sabun untuk menghilangkan tinta. Kami dibantu dan diawasi oleh asisten Bu Natalie. Sementara Bu Natalie mengawasi yang lain. Petugas itu menjelaskan sedikit tentang membuat kertas daur ulang yang baik dan dapat digunakan kembali. Untuk membuatnya diperlukan modifikasi campuran kertas yang terdiri dari campuran kertas Koran bekas, majalah dan bubur kertas yang asli atau virgin pulp dari bahan baku awal.

Seusai kelas, Teera memanggilku. Aku yang saat itu sedang jongkok mengikat tali sepatu mendongak ke atas. Teera tepat di atas kepalaku. Tersenyum. Ya, dia tersenyum. Untuk pertama kalinya, Teera tersenyum padaku. Aku jadi salah tingkah. “Ada apa?” tanyaku gugup. “Kamu hebat!” ucapnya tersenyum. Keningku berkerut. Hebat apanya? “Tadi aku perhatiin, kamu cekatan banget ngerjain daur ulangnya. Belajar dari mana?” tanyanya ingin tahu. Aku terkekeh, lalu menggeleng. “Aku gabung di tim khusus ini kan karena kamu.” Ucapku jujur. Untuk pertama kalinya, kulihat Teera tersipu. Manis sekali. “Kalau begitu, kamu harus bayar!” Teera menaikkan sebelah alisnya. “Bayar untuk apa?” tanyaku bingung. “Karena sudah berani menjadikanku alasan keikutsertaanmu dalam tim ini!” seru Teera menahan senyum. “Anak berekonomi lemah macam aku, harus bayar pake apa?” tanyaku pura-pura memelas. Teera tertawa, lepas sekali. “Yuk, ikut aku! Temenin aku makan di warung nasi goreng depan sekolah. Itu sebagai bayaran.” Teera mengedipkan sebelah matanya. Aku sumringah. Akhirnya aku tahu bagaimana cara mendekati Teera. Dia suka cowok pintar dan apa adanya. Dan itu modalku untuk melanjutkan misi mendapatkan hatinya. Dan di  sore hari yang cerah ini, aku punya kesempatan untuk memandang wajah Teera dengan jarak sedekat ini. Duduk berdua dengan perbincangan-perbincangan seru yang tak kuduga sebelumnya. Because, the concerns never bothered me anyway.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar