Pernahkah anda memperhatikan wanita muslim yang syar’i namun juga bisa melakukan aktivitas dengan bebas? Bebas melakukan apa saja yang ia suka. Entah itu bersepeda, bermain skateboard, atau melakukan olahraga-olahraga ekstrim lainnya? Pernahkah anda mendapati seorang wanita muslim yang paham agama namun masih sangat menyukai hal-hal yang berbeda dari kebanyakan wanita muslim sesungguhnya? Entah itu berselfie ria, menyukai jenis musik yang berbeda, mempunyai life style ala dirinya, maupun gaya berpakaiannya?
Jika anda pernah melihat wanita muslim seperti itu, kemungkinan besar seseorang yang anda lihat itu adalah Mipsterz. Mungkin sebagian dari anda sudah tidak asing lagi mendengar kata Mipsterz. Ya, Mipsterz adalah singkatan dari kalimat Muslim Hipster. Sebuah komunitas yang didirikan oleh sekelompok kaum muslim muda yang berada di negara Amerika Serikat. Umumnya, mereka adalah kaum muslim dengan rentang usia 17-40 tahun. Para perempuan-perempuan yang mengaku produktif dalam bekerja, beraktivitas, dan berkarya ini mengaku dirinya sebagai golongan hipster.
Anda tahu apa itu hipster?
Hipster adalah sebuah budaya yang berusaha membedakan dirinya dari kebanyakan orang, bisa dari gaya hidup, gaya berpakaian, selera bermusik, pandangan hidup, sampai pada pandangan tentang agama. Mereka tidak ingin kelihatan sama dengan yang lain. Selalu ingin merasa berbeda dan memang memiliki selera yang berbeda. Wabah Mipsterz ini pun telah menjangkiti berbagai negara-negara besar, salah satunya termasuk Indonesia.
Pro dan kontra pun mulai bermunculan dari adanya wabah Mipsterz di Indonesia.
Mipsterz ini sendiri berkembang pesat karena dapat diterima dengan baik oleh para penduduknya. Di lingkungan tempat tinggal penulis sendiri, banyak dari mereka yang juga mengaku terinspirasi dan mulai mengikuti Mipsterz. Meski mereka tidak sampai men-cap diri mereka sebagai anggota dari sebuah kelompok Mipsterz.
Jika ditelisik lebih dalam, keberadaan Mipsterz ini menunjukkan bahwa agama Islam bukanlah agama yang kolot, kuno, dan kaku.
Para perempuan Mipsterz berpendapat bahwa Islam tidak selalu harus mengikat mati bentuk aktivitas yang boleh dijalani perempuan atau tidak. Perempuan bisa berekspresi sebebas-bebasnya namun dengan catatan tetap berjalan dalam koridor Islam. Perempuan Mipsterz lebih senang berpakaian casual santai yang syar’i, tidak terikat pada baju-baju gamis panjang yang mereka mengira akan sangat merepotkan. Sebenarnya ini hanya masalah selera fashion saja.
Mereka berpendapat bahwa Islam bisa menerima segala bentuk perubahan zaman, Islam harus mampu berjalan seiring zaman namun tidak terhanyut ke dalamnya. Para Mipsterz juga lebih senang dengan jenis musik yang sedang tren di masa kini, entah itu pop, jazz, rock, atau RnB.
Pada segi fashion dan life style pun mereka selalu berusaha mengikuti perkembangan zaman agar tetap terlihat modis dan kekinian.
Beberapa artis muslimah kepunyaan Indonesia yang tergolong ke dalam Mipsterz adalah Zaskia Adya Mecca, Ria Ricis, dan Wirda Mansyur. Lihatlah para selebritis muslimah itu, tetap cantik dibalik jilbabnya, namun juga begitu aktif berkarya dalam dunia seni dan hiburan.
Ada pun kontra yang diteriakkan dari kubu lain tentang Mipsterz ini adalah bagaimana seharusnya perempuan muslim bersikap. Penulis pernah mendengar dari suatu majelis ta’lim, bahwa sebenarnya Islam tidak mengenal adanya musik dan nyanyian. Karena bagi Islam, musik adalah haram. Dan segala jenis musik yang dimainkan pada saat sekarang ini juga haram. Islam pun tidak membenarkan mengenai nyanyian, di mana yang pada saat ini terlalu banyak nyanyian dan juga penyanyi yang bertebaran di Indonesia. Menurut Islam, nyanyian itu adalah kebiasaan orang-orang Yahudi dan Nasrani.
Kontra lain pun bermunculan mengenai fashion perempuan Mipsterz. Mulai dari jilbab yang dikenakan, riasan wajah, sampai baju yang dipakai.
Di Indonesia sendiri, tren hijab sudah ada sejak lama. Gaya, bentuk, dan cara pemakaiannya pun beragam. Padahal dalam Islam dikatakan sebaik-baiknya mengenakan jilbab adalah yang sederhana pemakaiannya dan tidak menyusahkan si pemakai. Jilbab juga dianjurkan untuk diulur hingga menutupi dada. Ini bertolak belakang dengan para Mipsterz yang mayoritasnya menggunakan jilbab dengan cara dililit.
Namun Mipsterz sendiri berpendapat bahwa dengan mengenakan pakaian yang longgar, tentu bukan suatu masalah, karena tidak menerawang dan menampakkan bentuk tubuh/tidak ketat.
Seorang teman penulis ketika ditanya mengenai wabah Mipsterz di Indonesia berkomentar, “Bukan sesuatu yang harus diperdebatkan. Sebab kita adalah manusia masa kini, yang hidup di zaman sekarang ini. Kita bukan manusia yang hidup di zaman Nabi, oleh sebab itu kita boleh saja mengikuti zaman asal mampu mengendalikan diri. Dan sah-sah saja selama itu tidak melanggar aturan Islam.”
Kiranya penulis memiliki pendapat yang sama dengan beliau. Semua kembali lagi ke niat kita masing-masing. Sebagai umat muslim yang cerdas, kita pasti tahu mana yang baik dan buruk, juga mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Selama apa yang kita perbuat masih dalam koridor Islam dan tak melupakan ajaran Islam, itu bukanlah sesuatu yang harus kita debatkan. Hanya Allah SWT yang paling tahu soal kebenaran yang sesungguhnya. Tugas kita sebagai manusia hanya terus berusaha memperbaiki diri dan berjalan sesuai dengan ketentuan-Nya. Wallahu’alam bishawab…
(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 5)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar