Sebelumnya,
aku ingin menegaskan bahwa sosokmu masih aman dalam ingatan. Jangan khawatir,
pembaca belum mengetahui siapa dirimu sebenarnya. Meski sering kuukir namamu
dalam setiap goresan tangan. Meski sering kubanggakan kau di depan teman-teman.
Sekalipun aku masih menamai dirimu sebagai hujan. Sengaja kututupi dengan
sangat rapat, semua kisah yang kurasa hebat. Kisah manis yang sengaja kulipat
dan kudekap erat.
Aku
tidak bisa menamai ini cinta. Sebab seringkali aku merasa, aku tak pernah
engkau baca. Karena ada yang bilang, cinta itu bukan diam. Cinta itu akan
bergerak sekalipun sangat lambat. Cinta akan memperhatikan sekalipun terlihat
mengabaikan. Namun, aku tak merasakan itu dari sikapmu. Tapi tenang, aku adalah
sosok perempuan yang sabar dalam penantian. Perempuan yang menyulam namamu
dalam tiap pertiga malam.
Wahai
Tuan pemintal kebekuan;
Terkadang
sikapmu membuat aku tertawa dan terluka dalam satu waktu. Terkadang sikapmu
membuat aku yakin dan ragu dalam satu waktu. Dan terkadang sikapmu membuat aku
ingin bertahan dan melepaskan dalam satu waktu juga. Aku tahu aku sedang jatuh
cinta. Pada sosok laki-laki yang punya tingkat kebekuan di atas rata-rata. Yang
sulit sekali untuk kucairkan. Yang (mungkin) sampai kapan pun tak bisa aku
taklukkan. Sebab, siapalah diriku. Hanya gadis penyulam aksara yang tak punya
nyali sama sekali. Maklum, aku hanya bisa menghebat di balik sajak-sajak
amatirku. Sajak-sajak yang masih sering dipandang sinis dan juga sadis.
Jika
saja kau tahu bagaimana kerasnya aku berusaha untuk tak jatuh cinta padamu.
Mengutuk diri sendiri yang berani-beraninya mengagumi sosokmu. Sementara aku,
hanya gadis biasa yang tak punya kehebatan apa-apa. Rasanya malu, membayangkan
yang lebih dari sekarang kita jalani. Tak akan mungkin gadis biasa berdampingan
dengan seorang raja. Itu hanya cerita di negeri dongeng, kan?
Satu
kisah di bulan desember yang (mungkin) juga akan sulit kulupakan. Sesungguhnya
aku benci memperbanyak kisah denganmu. Namun aku bisa apa, ketika semesta
mendukung aksiku. Aku tidak bisa menolak jika Tuhan sudah menuliskan itu.
Kebodohan yang ternyata berakhir manis. Lagi-lagi taman hatiku berbunga. Ingin
aku merusaknya, namun aku tak tega, sebab ia begitu indah. Bagaimana mungkin
pemilik taman menghancurkan isi tamannya sendiri? Namun yang kukhawatirkan
adalah jika bunga-bunga itu semakin banyak, aku akan semakin kewalahan
mengurusnya sendiri.
Hari
ke tujuh belas di bulan desember. Sore sunyi di sebuah gedung lantai empat. Aku
mencarimu di antara lalu lalang orang-orang. Tak kutemui. Putus asa, tentu
saja. Kembali hatiku memberontak “Bodoh! Untuk apa melakukan semua itu?
Pergilah jika hadirmu tak lagi dihargai.” Sore sebentar lagi ditelan malam.
Hatiku gelisah, antara menunggu atau membatalkan semuanya. Kubilang pada
teman-teman bahwa aku tak kecewa. Namun mereka memicingkan mata tak percaya. Oh
Tuhan, aku benci berada di situasi seperti ini.
Jauh
sebelum detik ini, hatiku sudah menangis. Mengapa menjumpaimu harus sesulit
ini? Hatiku marah-marah karena kecewa. Tapi kau harus tahu, bahwa rinduku lebih
besar dari marah-marahku. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk kembali
menunggu. Menunggu seseorang yang tidak minta untuk ditunggu. Menunggu
seseorang yang sama sekali tidak tahu ditunggu. Fix, aku wanita paling bodoh
dalam urusan cinta.
Senja
telah dimakan malam. Dan baru kusadari bahwa menunggu itu membosankan. Dalam
hati aku berdoa, semoga saja pilihanku tak salah. Menit berikutnya mungkin
adalah cerita bahagia. Bahagia dalam versi mereka. Versiku? Biasa saja. Aku tak
mau memproklamirkan diriku untuk menjadi bahagia di malam itu. Yang aku ingin
hanya kau saja yang bahagia. Tak usah pedulikan aku. Kecewaku terbayar kok
ketika melihat senyummu. Kali ini antara bodoh dan pasrah. Aku tidak tahu.
Andai
saja kau mau tahu, bahwa aku ingin bersibuk saja membahagiakan kamu, agar aku tak
punya waktu untuk memikirkan kesedihanku. Maafkan jika selama ini aku membawa namamu
dalam setiap tulisanku. Maafkan jika selama ini aku berani membawa namamu dalam
setiap sholatku. Dan maafkan jika aku telah lancang merindukan sosokmu di
setiap malamku. Jangan khawatir, aku sedang berusaha mengecilkan perasaan ini.
Sulit bukan berarti tak bisa, kan? Ya, aku masih terus berusaha untuk itu.
Kekasih
yang kupikirkan; barangkali masih sendiri, menjelma doa yang terlantun di
atas sajadah. Dia masih menunggu, dalam keyakinan dan keimanan penuh. Jangan salahkan
air mata yang turut mengambil bagian. Kau, tak perlu cemas jika aku
menangis, Sayang. Tangisku bukan berarti melemahkan. Tangisku adalah penguat untuk
terus merindukanmu setiap waktu.
Kepadamu
lelaki hujanku;
Desember
ini sama berartinya seperti Mei lalu. Sama-sama memberi kesan yang sulit aku
hapuskan. Izinkanlah aku menyimpan semua kisah yang kau anggap biasa, namun
kuanggap istimewa. Izinkanlah aku untuk
terus membawa sosokmu dalam setiap tulisanku. Sebab aku menulis, karena aku
selalu percaya, selalu ada yang lebih baik ditulis ketimbang
diucapkan dengan suara. Kau harus pahami itu.
Dan
kau jangan pernah berpikir bahwa aku baik-baik saja tanpamu. Sebab,
kealpaanmulah yang kerap menyakitiku. Sederhananya, aku ingin menjadi yang
paling indah di hati kecilmu itu. Teruslah seperti ini. Manis dalam kebekuanmu.
Karena aku menyukaimu seperti apa adanya dirimu.
Suatu
hari, jika ending tulisan Tuhan sama dengan tulisan yang kubuat, aku berjanji
akan menunjukkanmu pada pembaca. Karena kau perlu tahu, pembaca ingin tahu
sosokmu. Pembaca terus menanyakan siapa dirimu padaku. Pembaca begitu penasaran
dengan dirimu. Tapi untuk saat ini, percayalah, hanya aku yang tahu dan bisa
merasakan keberadaanmu. Hujanku, kau bukan sekadar pilihan, kau seperti sebuah keharusan. Aku berjuang banyak untukmu! Tuhan yang baik, bahagiakan dia sebagaimana aku
begitu bahagia mengagumi sosoknya.
Oh
iya, aku suka nama belakangmu. Boleh aku memilikinya?
-gadishujan-
Medan,
241215
Tidak ada komentar:
Posting Komentar