Total Tayangan Halaman

Selasa, 13 September 2016

Kepada Tuan Pemintal Kebekuan (Terbit 03 Februari 2016, Tribun Bone)

Sebelumnya, aku ingin menegaskan bahwa sosokmu masih aman dalam ingatan. Jangan khawatir, pembaca belum mengetahui siapa dirimu sebenarnya. Meski sering kuukir namamu dalam setiap goresan tangan. Meski sering kubanggakan kau di depan teman-teman. Sekalipun aku masih menamai dirimu sebagai hujan. Sengaja kututupi dengan sangat rapat, semua kisah yang kurasa hebat. Kisah manis yang sengaja kulipat dan kudekap erat.
Aku tidak bisa menamai ini cinta. Sebab seringkali aku merasa, aku tak pernah engkau baca. Karena ada yang bilang, cinta itu bukan diam. Cinta itu akan bergerak sekalipun sangat lambat. Cinta akan memperhatikan sekalipun terlihat mengabaikan. Namun, aku tak merasakan itu dari sikapmu. Tapi tenang, aku adalah sosok perempuan yang sabar dalam penantian. Perempuan yang menyulam namamu dalam tiap pertiga malam.
Wahai Tuan pemintal kebekuan;
Terkadang sikapmu membuat aku tertawa dan terluka dalam satu waktu. Terkadang sikapmu membuat aku yakin dan ragu dalam satu waktu. Dan terkadang sikapmu membuat aku ingin bertahan dan melepaskan dalam satu waktu juga. Aku tahu aku sedang jatuh cinta. Pada sosok laki-laki yang punya tingkat kebekuan di atas rata-rata. Yang sulit sekali untuk kucairkan. Yang (mungkin) sampai kapan pun tak bisa aku taklukkan. Sebab, siapalah diriku. Hanya gadis penyulam aksara yang tak punya nyali sama sekali. Maklum, aku hanya bisa menghebat di balik sajak-sajak amatirku. Sajak-sajak yang masih sering dipandang sinis dan juga sadis.
Jika saja kau tahu bagaimana kerasnya aku berusaha untuk tak jatuh cinta padamu. Mengutuk diri sendiri yang berani-beraninya mengagumi sosokmu. Sementara aku, hanya gadis biasa yang tak punya kehebatan apa-apa. Rasanya malu, membayangkan yang lebih dari sekarang kita jalani. Tak akan mungkin gadis biasa berdampingan dengan seorang raja. Itu hanya cerita di negeri dongeng, kan?
Satu kisah di bulan desember yang (mungkin) juga akan sulit kulupakan. Sesungguhnya aku benci memperbanyak kisah denganmu. Namun aku bisa apa, ketika semesta mendukung aksiku. Aku tidak bisa menolak jika Tuhan sudah menuliskan itu. Kebodohan yang ternyata berakhir manis. Lagi-lagi taman hatiku berbunga. Ingin aku merusaknya, namun aku tak tega, sebab ia begitu indah. Bagaimana mungkin pemilik taman menghancurkan isi tamannya sendiri? Namun yang kukhawatirkan adalah jika bunga-bunga itu semakin banyak, aku akan semakin kewalahan mengurusnya sendiri.
Hari ke tujuh belas di bulan desember. Sore sunyi di sebuah gedung lantai empat. Aku mencarimu di antara lalu lalang orang-orang. Tak kutemui. Putus asa, tentu saja. Kembali hatiku memberontak “Bodoh! Untuk apa melakukan semua itu? Pergilah jika hadirmu tak lagi dihargai.” Sore sebentar lagi ditelan malam. Hatiku gelisah, antara menunggu atau membatalkan semuanya. Kubilang pada teman-teman bahwa aku tak kecewa. Namun mereka memicingkan mata tak percaya. Oh Tuhan, aku benci berada di situasi seperti ini.
Jauh sebelum detik ini, hatiku sudah menangis. Mengapa menjumpaimu harus sesulit ini? Hatiku marah-marah karena kecewa. Tapi kau harus tahu, bahwa rinduku lebih besar dari marah-marahku. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk kembali menunggu. Menunggu seseorang yang tidak minta untuk ditunggu. Menunggu seseorang yang sama sekali tidak tahu ditunggu. Fix, aku wanita paling bodoh dalam urusan cinta.
Senja telah dimakan malam. Dan baru kusadari bahwa menunggu itu membosankan. Dalam hati aku berdoa, semoga saja pilihanku tak salah. Menit berikutnya mungkin adalah cerita bahagia. Bahagia dalam versi mereka. Versiku? Biasa saja. Aku tak mau memproklamirkan diriku untuk menjadi bahagia di malam itu. Yang aku ingin hanya kau saja yang bahagia. Tak usah pedulikan aku. Kecewaku terbayar kok ketika melihat senyummu. Kali ini antara bodoh dan pasrah. Aku tidak tahu.
Andai saja kau mau tahu, bahwa aku ingin bersibuk saja membahagiakan kamu, agar aku tak punya waktu untuk memikirkan kesedihanku. Maafkan jika selama ini aku membawa namamu dalam setiap tulisanku. Maafkan jika selama ini aku berani membawa namamu dalam setiap sholatku. Dan maafkan jika aku telah lancang merindukan sosokmu di setiap malamku. Jangan khawatir, aku sedang berusaha mengecilkan perasaan ini. Sulit bukan berarti tak bisa, kan? Ya, aku masih terus berusaha untuk itu.
Kekasih yang kupikirkan; barangkali masih sendiri, menjelma doa yang terlantun di atas sajadah. Dia masih menunggu, dalam keyakinan dan keimanan penuh. Jangan salahkan air mata yang turut mengambil bagian. Kau, tak perlu cemas jika aku menangis, Sayang. Tangisku bukan berarti melemahkan. Tangisku adalah penguat untuk terus merindukanmu setiap waktu.
Kepadamu lelaki hujanku;
Desember ini sama berartinya seperti Mei lalu. Sama-sama memberi kesan yang sulit aku hapuskan. Izinkanlah aku menyimpan semua kisah yang kau anggap biasa, namun kuanggap istimewa. Izinkanlah  aku untuk terus membawa sosokmu dalam setiap tulisanku. Sebab aku menulis, karena aku selalu percaya, selalu ada yang lebih baik ditulis ketimbang diucapkan dengan suara. Kau harus pahami itu.
Dan kau jangan pernah berpikir bahwa aku baik-baik saja tanpamu. Sebab, kealpaanmulah yang kerap menyakitiku. Sederhananya, aku ingin menjadi yang paling indah di hati kecilmu itu. Teruslah seperti ini. Manis dalam kebekuanmu. Karena aku menyukaimu seperti apa adanya dirimu.
Suatu hari, jika ending tulisan Tuhan sama dengan tulisan yang kubuat, aku berjanji akan menunjukkanmu pada pembaca. Karena kau perlu tahu, pembaca ingin tahu sosokmu. Pembaca terus menanyakan siapa dirimu padaku. Pembaca begitu penasaran dengan dirimu. Tapi untuk saat ini, percayalah, hanya aku yang tahu dan bisa merasakan keberadaanmu. Hujanku, kau bukan sekadar pilihan, kau seperti sebuah keharusan. Aku berjuang banyak untukmu! Tuhan yang baik, bahagiakan dia sebagaimana aku begitu bahagia mengagumi sosoknya.
Oh iya, aku suka nama belakangmu. Boleh aku memilikinya?

-gadishujan-

Medan, 241215

Tidak ada komentar:

Posting Komentar