Total Tayangan Halaman
Selasa, 13 September 2016
Sandal Neraka Untuk Zuhra (Terbit 05 Agustus 2016, Tribun Bone)
Lagi. Entah sudah berapa kali aku mendengar ayah dan ibu bertengkar. Pertengkaran yang kurasa bersebab itu-itu saja. Pertengkaran yang menurut ayah adalah ibu pelakunya. Sebaliknya, ibu pun beranggapan demikian, bahwa ayahlah yang salah. Aku merangkul Zuhra dan menutup kedua telinganya. Adikku masih terlalu kecil untuk mendengar kalimat-kalimat kasar yang keluar dari mulut keduanya. Saling menyumpahserapahi satu sama lain, menyalahkan, juga menyudutkan.
Kuseret Zuhra ke luar rumah. Menyuruhnya mengambil bekas karung beras yang lumayan besar. Daripada harus melihat ayah dan ibu bertengkar, lebih baik mencari sedikit rupiah untuk mengenyangkan perut Zuhra nanti siang. Keluarga kami memang utuh, namun kasih sayang dan cinta telah luruh. Tidak ada lagi kata-kata manis yang kudengar semenjak ayah di PHK 2 tahun lalu, bersebab tuduhan ayah mencuri di tempat kerjanya sendiri.
Ibu mulai uring-uringan dan menyesali telah dinikahi ayah. Saat itu, usiaku masih 13 tahun. Dan aku dipaksa bertahan dalam kondisi keluarga yang mulai kacau balau. Zuhra masih berumur 7 tahun kala itu.
Aku dan Zuhra mulai berkeliling kampung, mencari barang bekas. Ya, mau tak mau kami harus memulung. Masyarakat sekitar tahu bahwa kami sering melakukan itu. Kadang sepulang sekolah aku mengajak Zuhra untuk pergi memulung. Kami singgah dari tempat sampah satu ke tempat sampah yang lain. Dengan bermodalkan karung bekas yang kami jinjing di pundak, aku dan Zuhra berjalan di teriknya aspal kota Medan itu.
Dengan bertelanjang kaki, aku dan Zuhra mencari barang-barang bekas untuk bisa dijual kembali pada pengumpul barang bekas yang tak jauh dari rumah. Biasanya, kami bisa mendapat lima belas ribu rupiah per satu orang dari hasil memulung. Cukup lumayan untuk sekadar mengenyangkan lambung kecil kami.
Seperti biasa, aku dan Zuhra berkeliling. Selain tempat sampah yang ada dipinggiran jalan raya, aku suka membawa Zuhra ke tempat sampah yang ada di setiap rumah warga. Kami memulung ketika siang hari, saat-saat sepi.
“Aduh, Kak Rania, kaki Zuhra sakit,” dia mengeluh dna terduduk di pinggir aspal.
Kulihat telapak kakinya yang merah dan melepuh akibat aspal panas yang kami susuri. Hatiku sakit melihatnya. Aku merasa berdosa telah mengajak Zuhra ikut memulung denganku. Kaki mungil itu kini lecet di sana-sini. Dia terduduk sambil memegangi telapak kakinya. Kulihat dia menangis menahan sakit.
“Ayo, Zuhra. Sini, Kak Rania gendong,” aku menarik tubuhnya dan mendekapnya pelan. Mencoba menghapus air matanya. Sekuat tenaga aku menahan mataku yang mulai panas. Aku tidak boleh menangis di depan Zuhra. Tidak boleh.
Aku menggendongnya di punggungku. Kucari tempat beristirahat untuk sekadar mengobati kakinya. Aku memutar otak mencari cara bagaimana agar kaki Zuhra tidak lagi terluka. Aku meninggalkan Zuhra dengan alasan akan membeli sesuatu. Zuhra berjanji akan menunggu sampai aku kembali.
Lima belas menit kemudian, aku kembali dengan menenteng sepasang sandal merah jambu seukuran kaki Zuhra. Dia terlihat senang ketika aku memasangkannya di kaki mungilnya. “Kak Rania beli, ya? Terima kasih ya, Kak. Zuhra suka sekali,”
Hatiku teriris mendengarnya. Kalian perlu tahu, sebenarnya aku tidak membeli sandal itu. Aku mencurinya. Ya, aku mencurinya karena terpaksa. Tadi ketika memulung di dekat perumahan elit itu, aku melihat sepasang sandal cantik seukuran kaki Zuhra. Aku mengambilnya diam-diam. Biarlah ini menjadi dosaku, aku hanya tidak ingin melihat Zuhra menangis karena menahan sakit di telapak kakinya.
Aku tahu bahwa ini salah. Aku telah memasangkan sandal neraka di kaki adikku sendiri. Sandal hasil curian itu bisa jadi lebih panas dibanding aspal kota yang setiap hari kami susuri. Dalam hati aku berdoa, semoga tidak ada orang lain yang melihat perbuatanku. Dalam hati juga aku berdoa, semoga Tuhan memaklumi apa yang aku lakukan.
Tapi selang dua hari sejak kejadian itu, rumahku diketuk seseorang. Seorang ibu dengan perhiasan banyak di tubuhnya, berdiri tegak di bawah bingkai pintu rumahku. Saat itu, ibu dan ayah sedang tidak ada di rumah. Hanya ada aku dan Zuhra. Wajah ibu tersebut tampak marah. Dia bersama seseorang yang kukenal, yaitu kepala desa.
“Dasar maling!” umpatnya sambil menjambak rambutku.
Ya Tuhan, sakit sekali rasanya. Tangan besar ibu itu menarik rambutku hingga aku tersungkur ke lantai. Kepala desa dan beberapa orang yang dibawanya menenangkan ibu yang murka itu. Zuhra sudah menangis melihat aku diperlakukan seperti itu. Dia membantuku berdiri.
Air mataku jatuh, menahan sakit antara di hati dan di kepalaku. “Dia yang mencuri sandal anak saya, Pak. Anak saya melihatnya sendiri dari balik jendela,” terangnya. Nyaliku ciut, aku tahu aku bersalah dalam kasus ini.
“Masih kecil, sudah jadi maling! Mana orangtuamu, HAH? Nggak pernah diajarin sopan santun dan tata krama, ya?!” bentaknya lagi padaku.
Aku diam saja. Masalah itu selesai ketika aku minta maaf dan mengembalikan sandal itu kepada pemiliknya. Pak kepala desa menasehatiku dan memeluk aku juga Zuhra. Aku malu sekali pada adikku saat itu. Pak kepala desa berjanji akan membelikan sandal baru untuk aku dan Zuhra.
“Bapak paham dengan kondisi keluarga kamu, Nak. Bapak kenal dekat dengan ayahmu. Berjanjilah untuk tidak mengulangi kesalahan ini, ya.” Nasihat beliau lembut.
Aku menangis sejadi-jadinya. Memeluk Zuhra erat dan meminta maaf karena telah berbohong padanya perihal sandal itu. Satu hal yang membuat aku tersentak, kalimat manis dari mulut Zuhra untuk pertama kalinya menyentuh hatiku, “Semoga Alah mengampuni kita. Mau bagaimana pun, Kak Rania adalah kakak terhebat dunia akhirat.”
(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 5)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar