Heka
Niat Noto, pemuda kelahiran Stabat, 17 Desember 1993 ini patut diacungi jempol.
Mahasiswa hebat kepunyaan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) ini
telah banyak menorehkan prestasi di bidang akademik. Namanya kian banyak
dikenal warga kampus, terutama di kalangan dosen. Terlebih lagi ia adalah
seorang aktivis kampus yang terkenal down
to earth. Heka saat ini menjabat sebagai Sekretaris Umum di Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah atau yang sering dikenal dengan IMM. Ia juga menjabat
sebagai Ketua Divisi Advokasi dan KIE di Pusat Informasi dan Konseling
Mahasiswa Syahadah (PIK-M Syahadah) UMSU. Selain itu, ia juga menjabat sebagai
Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan di Himpunan Mahasiswa
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP, UMSU.
Aktivis
adalah orang yang sangat loyal kepada organisasi yang mereka ikuti. Hal ini
terbukti dari keikhlasan mereka untuk mencurahkan waktu, tenaga dan pikirannya
dalam mewujudkan cita-cita bersama. Sehingga, tidak sedikit dari mereka yang
merelakan waktu kuliah demi memastikan bahwa organisasi yang diikutinya
berjalan dengan baik. Itu pulalah yang dilakukan Heka semenjak dirinya tercatut
sebagai seorang aktivis kampus. Menurut penulis, Heka hadir untuk
menginspirasi. Menginspirasi orang-orang di sekitarnya untuk terus maju. Di
tengah kesibukannya, ia pun masih meluangkan waktu untuk bergabung di sebuah
wadah yang menaungi kreatifitas ilmiah mahasiswa yang diberi nama Unit
Pengembangan Kreativitas Ilmiah Mahasiaswa Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UPKIM FKIP UMSU).
Dua
judul proposalnya bersama kedua temannya, Eka Prasetio dan Iman Sofian Sijabat,
pernah lulus dalam perhelatan akbar PEKAN ILMIAH MAHASISWA NASIONAL (PIMNAS) yang diadakan tahun
2014 silam. Proposal dengan judul “Pengolahan Melinjo (Gnetum Gnemon) Sebagai Susu
Diet Sehat Bernutrisi & Bernilai Jual Tinggi” mampu mengantarkannya menjadi
pemenang dalam perlombaan hebat itu. Selain itu, ia juga pernah memenangkan Karya
Tulis Ilmiah Mahasiswa Program KKB dan PK Tahun 2014 BKKBN Provinsi Sumatera
Utara, dengan judul tulisan: Pengaruh Sosial Budaya Terhadap Fertilitas di Desa
Jaring Halus Kecamatan Secanggang.
Prestasi lain yang
berhasil disabetnya adalah Juara 2 Debat Bahasa yang dilaksanakan oleh Balai
Bahasa Sumatera Utara. Juara 2 Dance GenRe dan juga Harapan 2 Jelajah GenRe
dalam acara Jambore Nasional BKKBN Pusat di Bogor. Tak heran banyak orang
menggambarkan sosoknya berkarakter dan mempunyai idealisme tinggi sebagai
aktivis mahasiswa. Bukan suatu yang berlebihan karena memang Heka adalah orang
yang mempunyai ketulusan hati untuk mengabdi, dedikasi yang tinggi, dan mampu
menjadi sang pelopor perubahan.
Heka yang saat ini
berstatus sebagai Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan, mengaku bahwa sebelum kuliah, ia mengambil
jurusan otomotif. Jiwanya adalah di mesin (teknik). Keinginan terbesarnya
adalah bisa bekerja sebagai mekanik di Jepang. Tapi kendala ekonomi, ia
akhirnya memutuskan untuk kuliah terlebih dahulu. Setelah mempertimbangkan,
akhirnya ia memilih profesi guru sebagai pilihan akhir. Bergaji iya, pahala
juga mengalir terus. Begitu pikirnya saat itu. Ia berusaha menyesuaikan diri
dengan jurusan yang telah ia pilih meski pun jiwa yang sebenarnya tidak berada
di situ. Ia selalu paham bahwa ada konsekuensi yang harus di terima di setiap
keputusan yang ia ambil. Kedewasaannya ternyata memudahkan langkahnya hingga
saat ini.
Dari yang penulis amati,
orang-orang yang berada di sekeliling Heka merasa terpantik semangatnya untuk
berkontribusi menyelesaikan permasalahan yang ada. Mereka berusaha optimistis
meskipun lingkungan di sekitarnya membentengi. Ibaratnya, Heka adalah nyala api
yang tidak pernah padam. Dan ia lebih memilih menjadi lilin yang hidup di
antara lilin yang mati. Karena ia ingin ada dan hadir untuk menginspirasi
orang-orang yang ada di sekitarnya. Inilah sosok pemuda yang seharusnya
dimiliki bangsa Indonesia. Penuh tekad dan semangat. Semangat yang kuat untuk
melakukan perubahan di keseharian mereka.
Kampus
adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa. Kampus dijadikan
tempat menimba ilmu, mempersiapkan masa depan, dan mengembangkan diri menjadi
pribadi yang utuh. Di suatu hari, penulis berkesempatan mewawancarai beliau.
Penulis sedikit penasaran dengan motivasi beliau yang tetap bertahan di kondisi
yang bisa dibilang super sibuk. “Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang
bisa bermanfaat bagi orang lain. Selebihnya, ilmu itukan dicari, bukan
ditunggu. Kalau saya hanya mengharapkan duduk manis menunggu dosen di bangku
kuliah, saya rasa, saya cuma bisa menghapal huruf abjad dari A sampai Z,
selebihnya tak ada ilmu yang saya dapat.” Terangnya dengan yakin.
Suatu
statement luar biasa yang membuat
penulis mengangguk berkali-kali. Membangun idealisme itu penting. Organisasi
melatih kita untuk mengenal lingkungan yang sebenarnya . Membangun idealisme
akan memunculkan semangat untuk mencapai harapan . Berbagai macam strategi
pasti digunakan. Pantang menyerah ketika melihat permasalahan, hambatan dan
rintangan. Dengan idealisme, penulis rasa, mahasiwa mampu memompa semangat tak
kenal menyerah. “Dengan sabar, sholat, doa, dan usaha, semua masalah akan
terasa mudah.” Tambahnya dengan bijaksana.
Menjadi
mahasiswa idaman (mahasiswa aktivis akademis) memang tidak mudah. Dibutuhkan
keyakinan, kesungguhan, dan pengorbanan untuk mewujudkan idealismenya. Oleh
karena itu mahasiswa harus mampu merencanakan masa depannya sekarang juga
sehingga nanti tidak menyesal di kemudian hari. Mahasiwa harus selalu memupuk
semangat dan komitmennya demi terwujudnya idealisme mereka. Selain itu
mahasiswa harus memulai dari yang terkecil dulu, dari apa yang bisa dilakukannya.
Percayalah selalu, bahwa usaha keras itu tidak akan pernah mengkhianati. Mari
cintai proses. Dan teruslah berusaha tanpa kenal lelah!
(Penulis adalah
Mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 3, Universitas
Muhammadiyah Sumatera Utara)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar