Total Tayangan Halaman

Minggu, 27 Agustus 2017

Merindukan Dilan (Terbit 27 Agustus 2017, Harian Medan Pos)

Hujan makin menderas. Gelegar petir sesekali bersahut-sahutan. Pucuk-pucuk pohon pinggir jalan berayun mengikuti arah angin. Aku merapatkan jaket, berusaha meminimalisir rasa dingin yang sejak tadi menyergap. Kulirik arloji kecil di pergelangan tangan kiriku; sudah sore. Berapa lama lagi hujan ini akan berhenti? Kirana tentu sudah menungguku di rumah. Roti bakar yang kujanjikan padanya pasti sudah dingin sejak tadi di dalam tasku. Aku menghela napas berat. Cuaca hari ini benar-benar di luar prediksiku. Siang panas terik, sorenya hujan deras. Sungguh menyebalkan.
Halte ini pun masih lengang sejak tadi. Siapa pula yang mau keluar rumah saat hujan deras seperti ini? Hanya beberapa kendaraan bermotor yang sejak tadi lalu lalang di hadapanku. Aku kembali merapatkan jaketku. Dinginnya kembali menusuk tulang. Pikiranku kembali singgah pada Kirana, gadis kecil yang tiga tahun lalu dititip Tuhan dalam rahimku. Pasti dia sekarang sedang bolak-balik mengintip jendela, menunggu ibunya pulang.
Ah, semoga Mbak Ratna tidak kerepotan menjaganya. Sebab belakangan ini Kirana tampak sedikit rewel dari biasanya. Andai saja aku tak harus bekerja seperti ini, tentu Kirana tidak akan merasa kesepian. Dan tentu aku bisa menjadi ibu yang seutuhnya bisa melihat perkembangan buah hatiku. Tapi mau bagaimana lagi, keadaan memaksaku untuk bekerja. Mas Sultan tentu bangga melihat istrinya mandiri seperti ini. Mandiri mengurus anak seorang diri. Mandiri menghidupi segalanya sendiri.
Aku mematung. Tiba-tiba halte ini menjadi sangat dingin. Kuperhatikan tiang-tiang penyangga halte ini. Kudongakkan kepalaku untuk memperhatikan bentuk halte ini. Masih sama seperti dulu. Hanya warna catnya saja yang berubah. Ah, tiba-tiba aku teringat Dilan. Lelaki yang pertama kali mengatakan cinta padaku di halte ini. Lelaki yang pertama kali memaksaku menjadi kekasihnya. Lelaki yang mengajakku duduk berlama-lama di halte ini hanya untuk makan es krim.
Dilanku. Ya, dia adalah Dilanku. Meski sejak pertama kali dia lahir ke dunia ini tidak dengan nama itu. Nama aslinya Kuma. Lucu memang. Seperti nama buah. Oh, bukan. Itu kurma. Teman-teman di kelasku sering menambahkan fonem r di tengah-tengah namanya. Atau sesekali mereka menambahkan fonem n diakhir namanya. Kalian tahu, Dilanku tak pernah marah. Dia malah ikut tertawa. Lucunya, tawanyalah yang paling kuat ketika orang lain mengolok namanya.
Pikiranku terbang ke masa 10 tahun yang lalu. Saat itu, hujan deras mampir ke kotaku. Dilan mengajakku berteduh dan menunggu hujan reda di halte ini. Halte yang tidak terlalu jauh dari sekolahku. Tentu saja aku tidak menolak, menghabiskan waktu bersama Dilan selalu menyenangkan. Dia tidak pernah berhenti bicara. Dia juga tidak pernah berhenti membuatku tertawa. Di hujan deras siang ini, Dilan memberikanku sebuah novel. Novel yang ditulis oleh seorang penulis besar bernama Pidi Baiq. Novel yang saat itu digandrungi sekali oleh para remaja. Tidak terkecuali aku.
“Kalau suka dibaca. Kalau enggak, dijual saja,” kata Dilan sambil menyodorkan novel itu ke tanganku.
Aku mencibir, tidakkah dia bisa lebih romantis sedikit ketika memberikan ini? Aku tahu dia membeli novel ini dari uang jajannya sendiri. Mengapa memberinya tidak bisa lebih lembut sedikit? Aku mendengus sebal. Menatapnya sekali lagi dengan pandangan kesal. “Ceritanya bagus. Milea-nya cantik. Kayak kamu,” celetuknya tiba-tiba. Mataku membesar, tidak menyangka akan mendengar kalimat itu dari mulutnya.
“Kalau kata orang Inggris sih, I’m your Dilan and you’re my Milea.” tambahnya lagi. Aku sudah merasa ingin meledak mendengar perkataannya. Frontal sekali. Meski disampaikan dengan nada suara bercanda, tapi aku yakin sekali bahwa dia mengatakannya dari hati. Dasar cowok aneh! Mau romantis saja harus gengsi. Meski saat itu tidak pernah ada ucapan bahwa Dilan menyukaiku, aku tetap saja senang. Kalimat-kalimatnya barusan sudah cukup membangunkan kupu-kupu di dalam perutku. Terasa menggelitik dan menyenangkan.
Tiba-tiba saja, Dilan menyentuh ujung jemariku. Hujan kelihatannya belum mau berhenti. Meski kala itu atmosfer udara terasa dingin, tapi aku tidak peduli. Yang aku pedulikan adalah apa kalimat selanjutnya yang akan diucapkan Dilanku. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. “Kamu harus jadi pacarku,” ucapnya sejurus kemudian.
Aku hampir tersedak mendengarnya. Kalimat macam apa itu? Bukankah di film-film yang kutonton, hal teromantis yang dilakukan oleh seorang lelaki yang menyukai seorang perempuan adalah bertanya dengan kalimat “maukah kau menjadi pacarku?” Mengapa laki-laki yang ada di sebelahku ini malah mengatakan hal itu? Dia bukan bertanya, bukan pula memberitahu. Dia seolah memerintah, menyuruhku untuk menjadi kekasihnya. Dan bagaikan titah seorang raja, maka aku tidak diperkenankan untuk menolak.
Cara mengungkapkan cinta yang aneh. Tapi sekali lagi kuberitahu, lelaki mana yang bisa melakukan hal itu selain Dilanku? Nothing! Hanya Dilanku yang berani mengatakan hal itu. Dan aku menghargai keberaniannya. Dengan anggukan kepala, detik itu juga dia benar-benar menjadi Dilanku. Dan aku sekarang adalah Milea-nya. Bahagia, tentu saja. Dia adalah anak lelaki yang baik. Meski masih suka bolos sekolah, tidak mengerjakan tugas, atau berkelahi dengan teman, dia tetaplah lelaki yang baik. Setidaknya di mataku. Bukankah anak-anak SMA juga pernah melakukan semua itu?
Menginjak usia satu tahun sejak Dilanku menyatakan perasaannya, dia main ke rumahku di suatu sore. Ketika aku baru saja membuka pintu, hal pertama yang diucapkannya adalah “aku mau menikah denganmu.” Refleks aku menjitak dahinya kuat. Dia mengaduh dan mundur beberapa langkah ke belakang. Tapi lagi-lagi, dia mengulangi kalimatnya itu.
“Milea, ayo kita menikah!” katanya.
Aku mendengus sebal, harusnya kujitak lebih kuat saja tadi. Ada yang tidak beres dengan otaknya sore itu. “Menikah saja sana dengan kucing!” balasku. Dia menatapku kesal. Aku membalas tatapannya lebih kesal. “Jadi, kapan kita akan menikah?” tanyanya lagi. Oh Tuhan, aku tidak tahu apa yang terjadi pada Dilanku sore itu. Dia memaksaku untuk membahas pernikahan yang bahkan aku sendiri tidak bisa membayangkannya.
“Kita harus menikah, Milea. Harus. Suatu saat nanti.” katanya menutup pembicaraan. Aku tersenyum padanya. Aku tahu, semua ucapannya adalah bercanda. Dia selalu bisa membuatku shock secara tiba-tiba. Dia selalu bisa menghadirkan hal-hal baru yang mengejutkanku. Menjalani hari bersama Dilanku benar-benar terasa menyenangkan. Dan aku menyukai itu.
Aku menghela napas berat. Tersenyum pedih mengingat kenangan itu. Sesekali kecipak air hujan mampir di sepatuku. Membuat ujungnya lembab sedikit. Apa kabar Dilan di sana? Aku merindukannya saat ini. Semua ucapan Dilanku sore itu tidak pernah terwujud. Di penghujung tahun, saat acara perpisahan sekolah akan digelar. Aku mendengar kabar itu. Duniaku seakan runtuh. Aku tidak menangis saat itu. Aku hanya terdiam, berusaha menenangkan dentuman keras dalam dadaku.
Dilanku telah pergi. Pergi ke tempat yang jauh tanpa aku. Juga tanpa salam perpisahan. Tanpa pemberitahuan. Bukan karena sakit. Bukan pula karena kecelakaan. Dilan pergi untuk selamanya karena Tuhan sangat sayang padanya. Aku sendiri tidak bisa mendefinisikan rasa sakitku. Air mataku tidak jatuh setetes pun saat pemakaman Dilanku dilakukan. Hanya gemuruh hebat yang terus terdengar dari dalam diriku. Aku ingin meledak, tapi tidak akan kulakukan saat itu. Dilanku tak pernah suka melihat aku menangis. Dilanku tak pernah mau melihat aku bersedih.
Usai pemakaman, aku memeluk ibu Dilan dengan erat. Kami saling menguatkan. Beliau membasahi pundakku dengan airmatanya. Aku pun ingin berbuat demikian, tapi tidak kulakukan. Sedetik berikutnya aku izin pulang. Aku benar-benar tak tahan berada di situ berlama-lama. Tiba di rumah aku berlari menuju kamar. Mencari novel pemberian Dilan saat itu, lalu memeluknya erat.
Satu persatu bulir itu berlompatan dari mataku. Hingga akhirnya aku menangis dalam sendu. Kuciumi novel pemberian Dilan. Dan aku merasakan aroma tangannya di sana. Astaga, sesakit inikah rasanya kehilangan? Tubuhku bergetar menerima luka yang kurasa datangnya amat tiba-tiba. Kepalaku berdenyut. Sejurus kemudian, mataku telah sembab.
Hujan mulai berhenti. Rintik mulai menghiasi. Aku menarik napas panjang. Kenangan itu telah berlalu puluhan tahun. Dilanku menjadi suami dalam kenangan. Sementara Mas Sultan-lah yang akhirnya menjadi suami di kehidupan nyataku. Meski saat ini pun, Mas Sultan telah menyusul Dilanku di surga. Yang kupunya saat ini hanyalah Kirana. Gadis kecilku yang baru berusia tiga tahun.
Aku selalu ingin menghidupinya dengan cinta. Tanpa luka dan airmata. Suatu saat nanti, Kirana juga akan menemui Dilannya. Dan aku selalu berdoa, semoga gadis kecilku itu tidak menghimpun luka seperti yang terjadi pada ibunya. Aku merapikan jaketku, juga mengusap wajahku perlahan. Kenangan itu sudah tersimpan rapi sejak dulu, dan dalam sekali duduk aku malah membongkarnya.
Aku menghela napas, kemudian tersenyum. Dilanku sudah bahagia di sana. Dan sekarang, ada Kirana yang menungguku di rumah. Aku berdiri, lalu menyeret langkah perlahan. Meninggalkan halte dan kenangan tentang Dilan. Setidaknya untuk saat ini, aku tak mau mencumbuinya terlalu lama dalam ingatan.

(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 7)

4 komentar:

  1. Luar biasa dek...Insya Allah kakak memastikan kamu masih yang terbaik menyusun bait-bait yang membuat pembaca terkesima, kemana Dilan, lenyap dari mata tapi tetap melekat di hati kekasihnya.... Dilan ga pernah mati disana.... cihuyyy...mantaaaap

    BalasHapus
  2. Mantap mbae☺️, you're my milea

    BalasHapus