Hujan
makin menderas. Gelegar petir sesekali bersahut-sahutan. Pucuk-pucuk pohon
pinggir jalan berayun mengikuti arah angin. Aku merapatkan jaket, berusaha
meminimalisir rasa dingin yang sejak tadi menyergap. Kulirik arloji kecil di
pergelangan tangan kiriku; sudah sore. Berapa lama lagi hujan ini akan
berhenti? Kirana tentu sudah menungguku di rumah. Roti bakar yang kujanjikan
padanya pasti sudah dingin sejak tadi di dalam tasku. Aku menghela napas berat.
Cuaca hari ini benar-benar di luar prediksiku. Siang panas terik, sorenya hujan
deras. Sungguh menyebalkan.
Halte
ini pun masih lengang sejak tadi. Siapa pula yang mau keluar rumah saat hujan
deras seperti ini? Hanya beberapa kendaraan bermotor yang sejak tadi lalu
lalang di hadapanku. Aku kembali merapatkan jaketku. Dinginnya kembali menusuk
tulang. Pikiranku kembali singgah pada Kirana, gadis kecil yang tiga tahun lalu
dititip Tuhan dalam rahimku. Pasti dia sekarang sedang bolak-balik mengintip jendela,
menunggu ibunya pulang.
Ah,
semoga Mbak Ratna tidak kerepotan menjaganya. Sebab belakangan ini Kirana
tampak sedikit rewel dari biasanya. Andai saja aku tak harus bekerja seperti
ini, tentu Kirana tidak akan merasa kesepian. Dan tentu aku bisa menjadi ibu
yang seutuhnya bisa melihat perkembangan buah hatiku. Tapi mau bagaimana lagi,
keadaan memaksaku untuk bekerja. Mas Sultan tentu bangga melihat istrinya
mandiri seperti ini. Mandiri mengurus anak seorang diri. Mandiri menghidupi
segalanya sendiri.
Aku
mematung. Tiba-tiba halte ini menjadi sangat dingin. Kuperhatikan tiang-tiang
penyangga halte ini. Kudongakkan kepalaku untuk memperhatikan bentuk halte ini.
Masih sama seperti dulu. Hanya warna catnya saja yang berubah. Ah, tiba-tiba
aku teringat Dilan. Lelaki yang pertama kali mengatakan cinta padaku di halte
ini. Lelaki yang pertama kali memaksaku menjadi kekasihnya. Lelaki yang
mengajakku duduk berlama-lama di halte ini hanya untuk makan es krim.
Dilanku.
Ya, dia adalah Dilanku. Meski sejak pertama kali dia lahir ke dunia ini tidak
dengan nama itu. Nama aslinya Kuma. Lucu memang. Seperti nama buah. Oh, bukan.
Itu kurma. Teman-teman di kelasku sering menambahkan fonem r di tengah-tengah
namanya. Atau sesekali mereka menambahkan fonem n diakhir namanya. Kalian tahu,
Dilanku tak pernah marah. Dia malah ikut tertawa. Lucunya, tawanyalah yang
paling kuat ketika orang lain mengolok namanya.
Pikiranku
terbang ke masa 10 tahun yang lalu. Saat itu, hujan deras mampir ke kotaku. Dilan
mengajakku berteduh dan menunggu hujan reda di halte ini. Halte yang tidak
terlalu jauh dari sekolahku. Tentu saja aku tidak menolak, menghabiskan waktu
bersama Dilan selalu menyenangkan. Dia tidak pernah berhenti bicara. Dia juga
tidak pernah berhenti membuatku tertawa. Di hujan deras siang ini, Dilan
memberikanku sebuah novel. Novel yang ditulis oleh seorang penulis besar
bernama Pidi Baiq. Novel yang saat itu digandrungi sekali oleh para remaja.
Tidak terkecuali aku.
“Kalau
suka dibaca. Kalau enggak, dijual saja,” kata Dilan sambil menyodorkan novel
itu ke tanganku.
Aku
mencibir, tidakkah dia bisa lebih romantis sedikit ketika memberikan ini? Aku
tahu dia membeli novel ini dari uang jajannya sendiri. Mengapa memberinya tidak
bisa lebih lembut sedikit? Aku mendengus sebal. Menatapnya sekali lagi dengan
pandangan kesal. “Ceritanya bagus. Milea-nya cantik. Kayak kamu,” celetuknya
tiba-tiba. Mataku membesar, tidak menyangka akan mendengar kalimat itu dari
mulutnya.
“Kalau
kata orang Inggris sih, I’m your Dilan
and you’re my Milea.” tambahnya lagi. Aku sudah merasa ingin meledak
mendengar perkataannya. Frontal sekali. Meski disampaikan dengan nada suara
bercanda, tapi aku yakin sekali bahwa dia mengatakannya dari hati. Dasar cowok
aneh! Mau romantis saja harus gengsi. Meski saat itu tidak pernah ada ucapan
bahwa Dilan menyukaiku, aku tetap saja senang. Kalimat-kalimatnya barusan sudah
cukup membangunkan kupu-kupu di dalam perutku. Terasa menggelitik dan
menyenangkan.
Tiba-tiba
saja, Dilan menyentuh ujung jemariku. Hujan kelihatannya belum mau berhenti. Meski
kala itu atmosfer udara terasa dingin, tapi aku tidak peduli. Yang aku
pedulikan adalah apa kalimat selanjutnya yang akan diucapkan Dilanku. Jantungku
berdetak lebih cepat dari biasanya. “Kamu harus jadi pacarku,” ucapnya sejurus
kemudian.
Aku
hampir tersedak mendengarnya. Kalimat macam apa itu? Bukankah di film-film yang
kutonton, hal teromantis yang dilakukan oleh seorang lelaki yang menyukai
seorang perempuan adalah bertanya dengan kalimat “maukah kau menjadi pacarku?”
Mengapa laki-laki yang ada di sebelahku ini malah mengatakan hal itu? Dia bukan
bertanya, bukan pula memberitahu. Dia seolah memerintah, menyuruhku untuk
menjadi kekasihnya. Dan bagaikan titah seorang raja, maka aku tidak
diperkenankan untuk menolak.
Cara
mengungkapkan cinta yang aneh. Tapi sekali lagi kuberitahu, lelaki mana yang
bisa melakukan hal itu selain Dilanku? Nothing!
Hanya Dilanku yang berani mengatakan hal itu. Dan aku menghargai keberaniannya.
Dengan anggukan kepala, detik itu juga dia benar-benar menjadi Dilanku. Dan aku
sekarang adalah Milea-nya. Bahagia, tentu saja. Dia adalah anak lelaki yang
baik. Meski masih suka bolos sekolah, tidak mengerjakan tugas, atau berkelahi
dengan teman, dia tetaplah lelaki yang baik. Setidaknya di mataku. Bukankah
anak-anak SMA juga pernah melakukan semua itu?
Menginjak
usia satu tahun sejak Dilanku menyatakan perasaannya, dia main ke rumahku di
suatu sore. Ketika aku baru saja membuka pintu, hal pertama yang diucapkannya
adalah “aku mau menikah denganmu.” Refleks aku menjitak dahinya kuat. Dia
mengaduh dan mundur beberapa langkah ke belakang. Tapi lagi-lagi, dia mengulangi
kalimatnya itu.
“Milea,
ayo kita menikah!” katanya.
Aku
mendengus sebal, harusnya kujitak lebih kuat saja tadi. Ada yang tidak beres
dengan otaknya sore itu. “Menikah saja sana dengan kucing!” balasku. Dia
menatapku kesal. Aku membalas tatapannya lebih kesal. “Jadi, kapan kita akan
menikah?” tanyanya lagi. Oh Tuhan, aku tidak tahu apa yang terjadi pada Dilanku
sore itu. Dia memaksaku untuk membahas pernikahan yang bahkan aku sendiri tidak
bisa membayangkannya.
“Kita
harus menikah, Milea. Harus. Suatu saat nanti.” katanya menutup pembicaraan.
Aku tersenyum padanya. Aku tahu, semua ucapannya adalah bercanda. Dia selalu
bisa membuatku shock secara
tiba-tiba. Dia selalu bisa menghadirkan hal-hal baru yang mengejutkanku.
Menjalani hari bersama Dilanku benar-benar terasa menyenangkan. Dan aku
menyukai itu.
Aku
menghela napas berat. Tersenyum pedih mengingat kenangan itu. Sesekali kecipak
air hujan mampir di sepatuku. Membuat ujungnya lembab sedikit. Apa kabar Dilan
di sana? Aku merindukannya saat ini. Semua ucapan Dilanku sore itu tidak pernah
terwujud. Di penghujung tahun, saat acara perpisahan sekolah akan digelar. Aku
mendengar kabar itu. Duniaku seakan runtuh. Aku tidak menangis saat itu. Aku
hanya terdiam, berusaha menenangkan dentuman keras dalam dadaku.
Dilanku
telah pergi. Pergi ke tempat yang jauh tanpa aku. Juga tanpa salam perpisahan.
Tanpa pemberitahuan. Bukan karena sakit. Bukan pula karena kecelakaan. Dilan
pergi untuk selamanya karena Tuhan sangat sayang padanya. Aku sendiri tidak
bisa mendefinisikan rasa sakitku. Air mataku tidak jatuh setetes pun saat
pemakaman Dilanku dilakukan. Hanya gemuruh hebat yang terus terdengar dari
dalam diriku. Aku ingin meledak, tapi tidak akan kulakukan saat itu. Dilanku
tak pernah suka melihat aku menangis. Dilanku tak pernah mau melihat aku
bersedih.
Usai
pemakaman, aku memeluk ibu Dilan dengan erat. Kami saling menguatkan. Beliau
membasahi pundakku dengan airmatanya. Aku pun ingin berbuat demikian, tapi
tidak kulakukan. Sedetik berikutnya aku izin pulang. Aku benar-benar tak tahan
berada di situ berlama-lama. Tiba di rumah aku berlari menuju kamar. Mencari
novel pemberian Dilan saat itu, lalu memeluknya erat.
Satu
persatu bulir itu berlompatan dari mataku. Hingga akhirnya aku menangis dalam
sendu. Kuciumi novel pemberian Dilan. Dan aku merasakan aroma tangannya di
sana. Astaga, sesakit inikah rasanya kehilangan? Tubuhku bergetar menerima luka
yang kurasa datangnya amat tiba-tiba. Kepalaku berdenyut. Sejurus kemudian,
mataku telah sembab.
Hujan
mulai berhenti. Rintik mulai menghiasi. Aku menarik napas panjang. Kenangan itu
telah berlalu puluhan tahun. Dilanku menjadi suami dalam kenangan. Sementara
Mas Sultan-lah yang akhirnya menjadi suami di kehidupan nyataku. Meski saat ini
pun, Mas Sultan telah menyusul Dilanku di surga. Yang kupunya saat ini hanyalah
Kirana. Gadis kecilku yang baru berusia tiga tahun.
Aku
selalu ingin menghidupinya dengan cinta. Tanpa luka dan airmata. Suatu saat nanti,
Kirana juga akan menemui Dilannya. Dan aku selalu berdoa, semoga gadis kecilku
itu tidak menghimpun luka seperti yang terjadi pada ibunya. Aku merapikan
jaketku, juga mengusap wajahku perlahan. Kenangan itu sudah tersimpan rapi
sejak dulu, dan dalam sekali duduk aku malah membongkarnya.
Aku
menghela napas, kemudian tersenyum. Dilanku sudah bahagia di sana. Dan
sekarang, ada Kirana yang menungguku di rumah. Aku berdiri, lalu menyeret
langkah perlahan. Meninggalkan halte dan kenangan tentang Dilan. Setidaknya
untuk saat ini, aku tak mau mencumbuinya terlalu lama dalam ingatan.
(Penulis
adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
Semester 7)
Luar biasa dek...Insya Allah kakak memastikan kamu masih yang terbaik menyusun bait-bait yang membuat pembaca terkesima, kemana Dilan, lenyap dari mata tapi tetap melekat di hati kekasihnya.... Dilan ga pernah mati disana.... cihuyyy...mantaaaap
BalasHapusHehehe, terima kasih kakak redaktur :)
HapusMantap mbae☺️, you're my milea
BalasHapusHihi, terima kasih sudah baca ya.
Hapus