Di
bawah hujan deras siang ini, aku ingin mengucapkan banyak-banyak terima kasih
kepada Dia yang telah menghadirkanmu di hidupku. Mengganti segala sedih dengan
bahagia. Menukar segala ganjil dengan genapnya. Aku ingin berterima kasih
kepada Dia, yang memberikan jumat indah untuk bisa bersamamu. Menghabiskan satu
hari dengan tawa. Menyelesaikan dua puluh empat jam dengan ceria. Dan aku masih
ingin terus berterima kasih kepada Dia, yang membuat diriku seolah istimewa
ketika berada di dekatmu. Menghadirkan seseorang yang begitu mempedulikan
keadaanku. Seseorang yang selalu ingin menjadi penawar sakitku. Dan sungguh,
kata terima kasih sebenarnya tak mampu membalas rasa bahagiaku di hari itu.
Dan
ini… adalah sekelumit kisah perjalanan kita. Tentang rasa bahagia yang kini
bergelayut manja di pelupuk mataku. Yang terus menari-nari nakal menjelang
tidurku. Entahlah, aku rasa ini terlalu berkesan buatku. Aku terlalu bahagia di
hari itu. Penyebab seluruh tawaku hanya satu, yaitu kamu. Iya, kamu. Kamu; Si
Tuan Penawar Bahagiaku.
Terima
kasih untuk jumat menyenangkan itu. Ketahuilah, ini bukan sebuah jawabku untuk
keinginanmu waktu itu yang mengatakan ingin menghabiskan 24 jam bersamaku. Ini
adalah kerja tangan Tuhan. Dia yang mengatur segala hingga kita bisa
menghabiskan 24 jam dengan rasa suka tanpa duka. Dia yang mengatur semua hingga
kita bisa tertawa dalam sama. Tuanku, kau masih sama seperti yang kukenal
pertama kali. Kau masih tak berubah. Dan kau masih Si Tuan Penawar Bahagia
untuk seorang Nanda.
Aku
selalu suka caramu menatapku. Aku suka caramu memperlakukanku. Aku suka caramu
menggenggam tanganku. Dan aku sangat suka caramu mengusap kepalaku. Aku tahu,
kau begitu sayang padaku. Dan kau perlu tahu,
bahwa aku pun turut sayang kepadamu. Tapi satu hal yang aku tak bisa
lakukan sekarang, menjadi kekasihmu lagi. Jangan sedih. Ini hanya soal waktu.
Aku perlu waktu untuk memantapkan hatiku. Aku hanya tak ingin “jalan” denganmu
sementara hati ini masih menetap di tempat lain. Ketahuilah Tuan, aku tak ingin
membuatmu terluka. Karena aku tahu, kau sudah terlalu banyak terluka karena
aku.
Tuan,
kau masih yang termanis di hatiku. Semakin lama, aku semakin mengenalimu. Bahwa
kau adalah laki-laki yang juga punya emosi. Aku hargai segala kejujuran tentang
pertengkaran kita beberapa waktu lalu. Ya, kau benar. Aku adalah gadis paling
keras kepala yang pernah kau temui. Dan aku paham, aku adalah gadis egois yang
sebenarnya tak ingin kehilanganmu. Tapi terlepas dari itu semua, aku sayang
kamu apa adanya.
Oh
ya, terima kasih untuk 24 jam yang menyenangkan kemarin. Aku senang bisa
menghabiskan waktu denganmu. Dan aku senang, bisa hujan-hujanan bersamamu. Kau
tahu, aku tersenyum sepanjang perjalanan pulang malam itu. Aku bahagia berada
di momen ini. Menikmati hujan bersama orang yang menyayangiku. Menikmati hujan
bersama orang yang aku sayangi. Di balik punggungmu, aku menyimpan banyak doa.
Salah satunya adalah aku ingin kau tetap sehat meski hujan-hujanan di malam
hari bersamaku. Tuan, sebenarnya aku khawatir. Aku khawatir kau jatuh sakit karena
suatu hal yang kusukai, yaitu hujan. Tapi aku percaya, hujan terlalu kecil
untuk membuat Tuan Penawar Bahagiaku sakit. Iya, kan?
Terima
kasih untuk segala perhatianmu. Yang masih sempat menanyakan aku basah atau
tidak, sementara kau sudah kuyup begitu. Terima kasih yang rela basah-basahan
di perjalanan pulang. Terima kasih yang sudah menghangatkan dinginku dengan
menggenggam tanganku. Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan kesehatanku.
Terima kasih banyak, Tuan. Sungguh, sudah terlalu banyak hal indah yang kau
buat untuk membahagiakanku.
Kepadamu,
yang masih terus berjuang mendapatkan hatiku. Aku tak bisa menjanjikan apa-apa
selain melakukan yang terbaik ketika bersamamu. Kau perlu tahu, bahwa aku tak
pernah sedekat ini dengan laki-laki manapun sebelum dirimu. Kau juga perlu
tahu, bahwa kau adalah laki-laki pertama yang begitu memperjuangkanku. Dan aku
merasa teristimewa karena itu. Tapi sekali lagi aku katakan, untuk saat ini,
aku belum bisa menerimamu kembali. Kendati pun aku sangat menyayangimu.
Tuan,
kuharap kau mengerti dengan kondisi ini. Aku sedang dalam tahap mencari. Aku
sedang dalam tahap memantapkan hati. Perihal kepada siapa aku akan berlabuh,
biar saja itu menjadi rahasia Tuhan. Aku hanya ingin menikmati hidupku seperti
air yang mengalir. Aku selalu berdoa agar aku dibersamakan dengan orang-orang
terbaik. Dan di antara nama orang-orang terbaik itu, aku tak lupa menyebut
namamu. Tuan, pahamilah bahwa menyayangi dan mencintai seseorang itu tak perlu
label khusus. Cukup perasaan yang menjadi saksi atas segalanya.
Kau
tak perlu me-labeli aku. Kau tak perlu membuat label pada diriku. Aku tak perlu
mendapat label “pacar” darimu. Sebab semua yang aku rasakan adalah benar. Bahwa
aku sayang padamu. Kau tak usah takut kalau aku tak punya rasa yang sama
padamu. Kau juga tak usah takut kalau nanti kita tak dibersamakan Tuhan. Kau
hanya perlu takut, kalau ada orang yang mencintaimu dalam kepura-puraan. Sebab
segala sesuatu yang pura-pura itu akan berujung menyakitkan. Tuan, aku sayang
padamu. Dan kau pun sayang padaku. Lantas apa? Biarkan Tuhan dan doa-doa kita
yang menjadi saksi paling abadi dalam kisah ini. Jangan pernah memaksakan
kehendak. Tulisan tangan Tuhan jauh lebih indah dari apa yang terbersit dalam
pikiran kita.
Tetaplah
menjadi Tuan Penawar Bahagiaku. Untuk kemarin, esok, dan selamanya. Aku pernah
bilang kan, bahwa aku tak pernah ingin jauh darimu. Bahwa aku sudah terlalu
nyaman bersamamu. Bahwa aku sudah terbiasa dekat denganmu. Aku tak ingin ada
yang berubah, kendati pun kita tak bisa bersama-sama. Aku ingin perasaan ini
menjadi pendewasa untuk kita berdua. Masalah ending, biarlah kita lihat nanti
di depan sana. Tanpa ada yang menjadi berbeda karenanya. Teruslah menjadi
penggenap dalam ganjilku. Teruslah menjadi penyemangat dalam putus asaku.
Teruslah menjadi penyaman dalam gelisahku. Dan teruslah menjadi yang termanis
di hatiku. Aku sayang kamu, dan mereka tak perlu paham itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar