Total Tayangan Halaman

Selasa, 16 Januari 2018

Siapa yang Kampungan? (Terbit 10 Desember 2017, Harian Medan Pos)

Aku melirik seorang lelaki dengan pakaian rapi yang ada di sebelahku. Mulutnya masih sibuk mengunyah sambil terus bergumam tidak jelas. Sepertinya dia sedang mengomel. Rumah makan yang cukup luas ini ternyata tidak membuatnya merasa malu untuk berbicara keras seperti yang tengah dilakukannya beberapa saat lalu. Tangannya masih sibuk mengambil makanan dalam piring yang ada di hadapannya, lalu dengan cepat menyumpalkannya ke dalam mulut. Kulihat teman yang diajaknya bicara hanya mengangguk-angguk tanpa memberikan komentar. Barangkali dia juga malas mendengarkan ocehan lelaki itu tanpa henti.
“Kau tahu, aku telat tiba di kantor hanya gara-gara menunggu seorang wanita tua yang tidak tahu bagaimana caranya mengirim surat lewat kantor pos. Menyebalkan sekali!” sungutnya. Kutaksir usia lelaki yang mengomel itu sekitar 30 tahunan. Dari cara berpakaiannya, aku bisa menduga bahwa dia adalah seorang karyawan kantor.
“Jadi, apa sudah kau kirim berkas penting yang diamanahkan Pak Bos kemarin itu?” tanya temannya menanggapi.
“Sudah. Tapi ya begitu, bos marah-marah karena aku telat hari ini. Tadi itu ada wanita tua yang bertanya ini-itu pada petugas pos. Membuatku mengantri lama. Dan entah kenapa, hari ini kantor pos lumayan ramai. Hariku berantakan hanya gara-gara wanita tua itu!” dia masih emosi.
“Dia kan tidak bertanya padamu, kenapa kau emosi?” timpal temannya lagi.
“Memang, tapi dia membuat waktuku habis hanya untuk menunggu dia bertanya banyak hal pada petugas pos. Lagian jaman sekarang masa tidak tahu bagaimana cara mengirim sesuatu lewat kantor pos. Kampungan sekali!” omelnya tanpa henti.
“Namanya orang tua,” sahut temannya.
“Usia boleh tua, tapi jaman kan terus berkembang. Update dong! Jadi orang tua tidak boleh terbelakang!”
Telingaku mulai panas mendengar percakapan mereka. Lebih tepatnya mendengar ocehan lelaki berdasi itu. Bagaimana mungkin dia mengomel sepanjang hari hanya karena seorang wanita tua yang tidak tahu cara berkirim lewat kantor pos?
“Lalu, apa yang kau buat selanjutnya?” temannya menunggu jawaban lelaki itu.
“Kuserobot sajalah! Habis bisa panjang urusannya kalau aku terus sabar menunggu hingga wanita tua itu menyelesaikan semua rasa penasaran di dalam kepalanya. Lagipula aku hanya mengirimkan beberapa berkas, tidak akan merugikan dia juga,” jawab lelaki itu enteng.
Kudengar temannya menghela napas. Seperti sudah tahu bagaimana watak lelaki yang duduk berhadapan dengannya itu. Aku melirik meja mereka. Mejaku yang tepat sekali berada di belakang meja mereka, jelas sekali mendengar semua percakapannya sejak tadi. Apalagi intonasi suara yang dikeluarkan lelaki berdasi itu cukup kuat.
Heran, menyerobot antrian orang lain kok bangga, sungutku dalam hati. Dan mudah sekali baginya menyebutkan orang lain dengan sebutan kampungan, hanya gara-gara orang tersebut tidak tahu-menahu soal kantor pos. Aku beranjak dari dudukku, bergegas pergi dari rumah makan yang mulai terasa gerah itu.
Aku tiba di kampus 10 menit sejak aku beranjak dari rumah makan itu.  Kelas saat itu sudah ramai. Tepatnya ketika segerombol perempuan-perempuan sosialita memasuki ruangan kelas. Gea dan teman-temannya. Kelompok wanita sosialita yang suka sekali membuat sensasi. Kemarin aku baru mendengar kabar bahwa Gea bertengkar dengan seorang gadis di kafetaria dekat kampus. Persoalannya amat sepele bagi Gea, yakni tidak jauh beda dengan yang baru kudengar beberapa saat lalu ketika di rumah makan. Gea menyerobot antrian seorang gadis yang telah lama berdiri menunggu pesanan.
Dengan dalih bahwa dia adalah teman dari si pemilik kafe, Gea dengan sombongnya memotong antrian gadis itu. Tidak seperti wanita tua dalam cerita laki-laki berdasi pagi tadi, sang gadis yang merasa tak terima dengan perlakuan Gea pun akhirnya menghardik keras. Setelahnya terjadi adu mulut yang tidak bisa dihindarkan. Kudengar dari teman-teman, Gea mengumpat keras dengan mengatakan bahwa gadis itu kampungan. Setelah sebelumnya dia melirik sinis gadis sederhana itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Lupakan! Siang ini gadis sosialita itu kembali berulah. Dengan suara yang jelas sekali dimanja-manjakan, gadis itu bercerita tentang bagaimana kampungannya seorang anak perempuan seusianya yang tidak mengerti bagaimana menggunakan lift di sebuah mall besar di kota ini. Kudengar tawa cekikikan teman satu gengnya meresapi cerita gadis itu. Barangkali cerita itu tampak begitu menarik di mata keempat gadis yang kurasa tidak bisa dibanggakan apa-apa kecuali kekayaan orang tuanya.
“Kemarin aku juga ketemu orang udik yang makan steak pake tangan. Padahal itu resto mahal loh, bayangin coba siapa yang bawa manusia purba ke tempat semewah itu.” temannya yang memakai lipstik paling merah itu bersuara. Telingaku seperti ingin meledak mendengar gurauan mereka yang sama sekali tidak lucu. Sementara dentuman tawa dari mulut keempat gadis itu terus membentur gendang telingaku. Membuatku tidak tahan lagi untuk angkat suara.
Aku menolehkan kepala tepat ke arah keempat gadis itu. Mataku sedikit terpicing. Kukirimkan raut wajah paling dingin tepat ke arah Gea. Gadis itu terdiam, menghentikan tawanya seketika. “Ada apa?” tanyanya bingung. “Apa aku mengganggu konsentrasi belajarmu?” suaranya berubah lembut.
Aku sadar sekali bahwa Gea sejak lama menyukaiku. Tapi lihatlah, bagaimana mungkin aku bisa menyukai perempuan dengan watak seperti itu? Aku kemudian tersenyum, membalasnya dengan gelengan. Lantas berdiri dan berjalan mendekat ke arah empat gadis itu.
“Kalian sama sekali tidak menggangguku, meski suara kalian memenuhi ruangan kelas ini. Kalian juga tidak membuat konsentrasiku buyar, meski sejak awal kalian masuk ke sini suara kalian mengganggu sekali,” aku menatap mereka secara bergantian.
“Lalu?” tanya seseorang dari mereka.
“Apa kalian ingin tahu, siapa seseorang yang pantas disebut kampungan?” tanyaku kemudian. Kulihat Gea melirik teman-temannya. Ia tahu bahwa aku tidak begitu suka dengan topik pembicaraan mereka sejak tadi. Aku yang terkenal dengan sikap dinginku di kelas, membuat beberapa orang menaruh segan berlebih padaku. Tak terkecuali empat gadis ini.
“Izinkan aku menjelaskan sedikit makna kampungan yang sebenarnya kepada kalian,” aku melempar raut wajah paling beku kepada mereka. “Apa kalian tahu, kampungan itu bukan tentang ketidakpintaran kalian dalam melakukan sesuatu hal. Kampungan itu bukan kalian yang tidak mengerti gadget canggih, tidak mengerti cara mengirim sesuatu lewat kantor pos, tidak tahu bagaimana cara makan steak, atau tidak tahu cara menggunakan lift di sebuah mall besar. Tapi kampungan itu adalah orang-orang yang suka menyerobot antrian orang lain, memamerkan gadget canggihnya, atau menertawakan orang lain karena tidak bisa menggunakan lift dan sebagainya. Lebih kampungan lagi jika mereka menertawakannya dengan nada keras, padahal mereka paham sekali bahwa latar belakang kehidupan tiap orang itu berbeda,” aku menyelesaikan kalimat terakhirku. Lantas menatap keempat gadis itu dengan tatapan yang semakin beku.
Tumpah sudah kekesalanku sejak pagi tadi. Sungguh menyebalkan mengenal orang-orang seperti ini. Gea dan tiga temannya tidak dapat berkata apa-apa, selain saling sikut karena baru saja mendapat serangan sebegitu dinginnya dariku. Aku mendekat dan merogoh saku celana jeansku. Mengeluarkan beberapa permen mint yang tadi kubeli di minimarket depan kampus. Lalu meletakkannya di meja depan keempat gadis itu. Mereka saling pandang bingung. Sebelum akhirnya aku bersuara: “Ini untuk kalian. Semoga permen mint ini bisa meredakan bau mulut kalian karena suka menggunjing orang lain.” Kemudian berlalu, meninggalkan keempat gadis itu dengan wajah merah padam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar