Aku
melirik seorang lelaki dengan pakaian rapi yang ada di sebelahku. Mulutnya
masih sibuk mengunyah sambil terus bergumam tidak jelas. Sepertinya dia sedang
mengomel. Rumah makan yang cukup luas ini ternyata tidak membuatnya merasa malu
untuk berbicara keras seperti yang tengah dilakukannya beberapa saat lalu.
Tangannya masih sibuk mengambil makanan dalam piring yang ada di hadapannya,
lalu dengan cepat menyumpalkannya ke dalam mulut. Kulihat teman yang diajaknya
bicara hanya mengangguk-angguk tanpa memberikan komentar. Barangkali dia juga
malas mendengarkan ocehan lelaki itu tanpa henti.
“Kau
tahu, aku telat tiba di kantor hanya gara-gara menunggu seorang wanita tua yang
tidak tahu bagaimana caranya mengirim surat lewat kantor pos. Menyebalkan
sekali!” sungutnya. Kutaksir usia lelaki yang mengomel itu sekitar 30 tahunan.
Dari cara berpakaiannya, aku bisa menduga bahwa dia adalah seorang karyawan
kantor.
“Jadi,
apa sudah kau kirim berkas penting yang diamanahkan Pak Bos kemarin itu?” tanya
temannya menanggapi.
“Sudah.
Tapi ya begitu, bos marah-marah karena aku telat hari ini. Tadi itu ada wanita
tua yang bertanya ini-itu pada petugas pos. Membuatku mengantri lama. Dan entah
kenapa, hari ini kantor pos lumayan ramai. Hariku berantakan hanya gara-gara
wanita tua itu!” dia masih emosi.
“Dia
kan tidak bertanya padamu, kenapa kau emosi?” timpal temannya lagi.
“Memang,
tapi dia membuat waktuku habis hanya untuk menunggu dia bertanya banyak hal
pada petugas pos. Lagian jaman sekarang masa tidak tahu bagaimana cara mengirim
sesuatu lewat kantor pos. Kampungan sekali!” omelnya tanpa henti.
“Namanya
orang tua,” sahut temannya.
“Usia
boleh tua, tapi jaman kan terus berkembang. Update dong! Jadi orang tua tidak
boleh terbelakang!”
Telingaku
mulai panas mendengar percakapan mereka. Lebih tepatnya mendengar ocehan lelaki
berdasi itu. Bagaimana mungkin dia mengomel sepanjang hari hanya karena seorang
wanita tua yang tidak tahu cara berkirim lewat kantor pos?
“Lalu,
apa yang kau buat selanjutnya?” temannya menunggu jawaban lelaki itu.
“Kuserobot
sajalah! Habis bisa panjang urusannya kalau aku terus sabar menunggu hingga
wanita tua itu menyelesaikan semua rasa penasaran di dalam kepalanya. Lagipula
aku hanya mengirimkan beberapa berkas, tidak akan merugikan dia juga,” jawab
lelaki itu enteng.
Kudengar
temannya menghela napas. Seperti sudah tahu bagaimana watak lelaki yang duduk
berhadapan dengannya itu. Aku melirik meja mereka. Mejaku yang tepat sekali
berada di belakang meja mereka, jelas sekali mendengar semua percakapannya
sejak tadi. Apalagi intonasi suara yang dikeluarkan lelaki berdasi itu cukup
kuat.
Heran, menyerobot
antrian orang lain kok bangga, sungutku dalam hati.
Dan mudah sekali baginya menyebutkan orang lain dengan sebutan kampungan, hanya
gara-gara orang tersebut tidak tahu-menahu soal kantor pos. Aku beranjak dari
dudukku, bergegas pergi dari rumah makan yang mulai terasa gerah itu.
Aku
tiba di kampus 10 menit sejak aku beranjak dari rumah makan itu. Kelas saat itu sudah ramai. Tepatnya ketika
segerombol perempuan-perempuan sosialita memasuki ruangan kelas. Gea dan
teman-temannya. Kelompok wanita sosialita yang suka sekali membuat sensasi. Kemarin
aku baru mendengar kabar bahwa Gea bertengkar dengan seorang gadis di kafetaria
dekat kampus. Persoalannya amat sepele bagi Gea, yakni tidak jauh beda dengan
yang baru kudengar beberapa saat lalu ketika di rumah makan. Gea menyerobot
antrian seorang gadis yang telah lama berdiri menunggu pesanan.
Dengan
dalih bahwa dia adalah teman dari si pemilik kafe, Gea dengan sombongnya
memotong antrian gadis itu. Tidak seperti wanita tua dalam cerita laki-laki
berdasi pagi tadi, sang gadis yang merasa tak terima dengan perlakuan Gea pun
akhirnya menghardik keras. Setelahnya terjadi adu mulut yang tidak bisa
dihindarkan. Kudengar dari teman-teman, Gea mengumpat keras dengan mengatakan
bahwa gadis itu kampungan. Setelah sebelumnya dia melirik sinis gadis sederhana
itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Lupakan!
Siang ini gadis sosialita itu kembali berulah. Dengan suara yang jelas sekali
dimanja-manjakan, gadis itu bercerita tentang bagaimana kampungannya seorang
anak perempuan seusianya yang tidak mengerti bagaimana menggunakan lift di
sebuah mall besar di kota ini. Kudengar tawa cekikikan teman satu gengnya
meresapi cerita gadis itu. Barangkali cerita itu tampak begitu menarik di mata
keempat gadis yang kurasa tidak bisa dibanggakan apa-apa kecuali kekayaan orang
tuanya.
“Kemarin
aku juga ketemu orang udik yang makan steak pake tangan. Padahal itu resto
mahal loh, bayangin coba siapa yang bawa manusia purba ke tempat semewah itu.”
temannya yang memakai lipstik paling merah itu bersuara. Telingaku seperti
ingin meledak mendengar gurauan mereka yang sama sekali tidak lucu. Sementara
dentuman tawa dari mulut keempat gadis itu terus membentur gendang telingaku.
Membuatku tidak tahan lagi untuk angkat suara.
Aku
menolehkan kepala tepat ke arah keempat gadis itu. Mataku sedikit terpicing.
Kukirimkan raut wajah paling dingin tepat ke arah Gea. Gadis itu terdiam,
menghentikan tawanya seketika. “Ada apa?” tanyanya bingung. “Apa aku mengganggu
konsentrasi belajarmu?” suaranya berubah lembut.
Aku
sadar sekali bahwa Gea sejak lama menyukaiku. Tapi lihatlah, bagaimana mungkin
aku bisa menyukai perempuan dengan watak seperti itu? Aku kemudian tersenyum,
membalasnya dengan gelengan. Lantas berdiri dan berjalan mendekat ke arah empat
gadis itu.
“Kalian
sama sekali tidak menggangguku, meski suara kalian memenuhi ruangan kelas ini.
Kalian juga tidak membuat konsentrasiku buyar, meski sejak awal kalian masuk ke
sini suara kalian mengganggu sekali,” aku menatap mereka secara bergantian.
“Lalu?”
tanya seseorang dari mereka.
“Apa
kalian ingin tahu, siapa seseorang yang pantas disebut kampungan?” tanyaku
kemudian. Kulihat Gea melirik teman-temannya. Ia tahu bahwa aku tidak begitu
suka dengan topik pembicaraan mereka sejak tadi. Aku yang terkenal dengan sikap
dinginku di kelas, membuat beberapa orang menaruh segan berlebih padaku. Tak
terkecuali empat gadis ini.
“Izinkan
aku menjelaskan sedikit makna kampungan yang sebenarnya kepada kalian,” aku
melempar raut wajah paling beku kepada mereka. “Apa kalian tahu, kampungan itu
bukan tentang ketidakpintaran kalian dalam melakukan sesuatu hal. Kampungan itu
bukan kalian yang tidak mengerti gadget canggih, tidak mengerti cara mengirim
sesuatu lewat kantor pos, tidak tahu bagaimana cara makan steak, atau tidak
tahu cara menggunakan lift di sebuah mall besar. Tapi kampungan itu adalah
orang-orang yang suka menyerobot antrian orang lain, memamerkan gadget
canggihnya, atau menertawakan orang lain karena tidak bisa menggunakan lift dan
sebagainya. Lebih kampungan lagi jika mereka menertawakannya dengan nada keras,
padahal mereka paham sekali bahwa latar belakang kehidupan tiap orang itu
berbeda,” aku menyelesaikan kalimat terakhirku. Lantas menatap keempat gadis
itu dengan tatapan yang semakin beku.
Tumpah sudah
kekesalanku sejak pagi tadi. Sungguh menyebalkan mengenal orang-orang seperti
ini. Gea dan tiga temannya tidak dapat berkata apa-apa, selain saling sikut
karena baru saja mendapat serangan sebegitu dinginnya dariku. Aku mendekat dan
merogoh saku celana jeansku. Mengeluarkan beberapa permen mint yang tadi kubeli
di minimarket depan kampus. Lalu meletakkannya di meja depan keempat gadis itu.
Mereka saling pandang bingung. Sebelum akhirnya aku bersuara: “Ini untuk
kalian. Semoga permen mint ini bisa meredakan bau mulut kalian karena suka
menggunjing orang lain.” Kemudian berlalu, meninggalkan keempat gadis itu dengan
wajah merah padam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar