Total Tayangan Halaman

Senin, 27 November 2017

Resensi "Meneladani Kisah Wanita Penghuni Surga" (Terbit 05 November 2017, Harian Singgalang)

Judul               : Aisyah
Penulis             : Sibel Eraslan
Penyunting      : Anwar Kholid
Penerbit           : Kaysa Media (Puspa Swara Group)
Cetakan           : Pertama, 2015
Halaman          : 474 hal
ISBN               : 978-979-1479-89-9

Novel Aisyah adalah novel seri pertama dalam Serial The Greatest Woman yang ditulis oleh penulis ternama, Sibel Eraslan. Novel yang kental dengan nilai religiusitas ini menceritakan tentang kehidupan Ibunda kaum mukmin, yakni Aisyah (ra). Aisyah adalah istri sekaligus murid Rasulullah. Dan Aisyah merupakan putri dari Abu Bakar Ash-Shiddiq; orang pertama yang memeluk agama Islam.
Novel ini bercerita tentang kehidupan Aisyah yang dapat dijadikan teladan dan pelajaran bagi kita semua. Dengan gaya penceritaan yang mengambil sudut pandang orang pertama, novel ini terasa seperti curahan hati Aisyah sendiri. Dalam novel ini, cerita dibagi dalam fase lima waktu Aisyah, yakni subuh, zuhur, ashar, maghrib, dan isya. Dalam tiap pembagiannya, Sibel Eraslan membagi kisah-kisah tentang ketegaran hidup sang bunda mukmin tersebut dengan sangat apik. Masa subuh Aisyah dimulai dengan kenangan-kenangan masa kecilnya. Dimana ia lahir dari keluarga pedagang yang sukses. Dan masa kecilnya sangat bahagia.
Kehidupan keluarganya mulai terguncang ketika Muhammad menyatakan dirinya sebagai rasul dan nabi di Mekah. Dan ayahnya adalah orang pertama yang memeluk Islam. “Wahai sahabat baikku, siapa yang mengajari apa yang kau katakan ini?” “Malaikat agung yang juga memberi kabar kepada para nabi sebelumku, Wahai Abu Bakar.” Ayah kemudian berseru “Atas nama ayahku, ibuku, dan sahabat-sahabatku, aku percaya dengan apa yang kau jelaskan kepadaku. Ulurkanlah tanganmu! Aku bersyahadat bahwa tak ada Tuhan selain Allah. Kau adalah Rasulullah!” (hal.23)
Sebagai pemeluk Islam, tekanan dan siksaan kerap menghantui keluarga Aisyah. Dan Aisyah adalah salah satu saksi atas seluruh perlakuan kaum Quraisy kepada umat Muslim, termasuk kepada keluarganya. “Aku jatuh pingsan ketika mereka mendesak berjalan ke arah ayah dan mulai memukuli ayah sambil melontarkan ejekan-ejekan yang lebih tajam dari ujung belati. Aku kemudian mendengar ternyata wajah ayah terkena tendangan sepatu Utbah bin Rabia yang keras dan tajam. Tubuhnya diseret ke tanah. Bibir dan hidungnya penuh darah. Jika tidak ada pemuda dari suku Tamim, mungkin tubuh ayah sudah akan penuh luka.” (hal. 48)
Waktu asar Aisyah bercerita tentang syiar Islam yang kian berkembang. Tentang keadaan awal Madinah, tentang Rasulullah yang menyuruh ia untuk berpuasa, pengkhianatan Bani Qaynuqa dan Perang Uhud, sampai pendeskripsian Aisyah tentang ciri fisik Rasulullah. “Tinggi badannya sedang, tak begitu pendek, tak juga begitu tinggi hingga mata sulit menjangkaunya. Badannya tinggi dan memancarkan sinar keperak-perakan. Kepalanya besar dan kuat, sementara rambutnya bergelombang, tak keriting tak juga lurus. Layaknya hati terbelah dua, rambutnya disisir ke sisi kanan dan sisi kiri. Dia menyisipkan rambutnya di telinga bila sudah terurai memanjang. Kulitnya putih dan cerah, pipinya kemerahan.” (hal. 266)
Pada bagian ini juga diceritakan tentang hubungan pernikahan Rasulullah dengan para istrinya yang lain. Juga tentang kecemburuan Aisyah yang begitu manis. Membuat pembaca ikut terhanyut dan bisa merasakan gejolak batin Aisyah. “Apakah kau mencintai Aisyah?” “Iya, aku mencintai Aisyah...” “Bolehkah aku bertanya satu pertanyaan lagi?” Sekali lagi dia menganggukkan kepala sambil tersenyum. Seakan-akan bintang-bintang bertaburan di kepalanya ingin mendengarkan pembicaraan kami. “Bagaimana engkau mencintai Aisyah?” Beliau malah terdiam seperti malu. Beban hidup dirinya sudah sangat berat. Dia adalah seorang jenderal. Hatiku sesak ketika dia malah mempercepat langkah untanya maju untuk pergi. Sungguh terlalu banyak pertanyaan yang aku utarakan. Kemudian dia menunduk seakan-akan tahu bahwa aku menatapnya. Entah bagaimana mendadak dia memutar balik untanya dan memacu cepat-cepat dan berkata kepadaku, “Seperti hari pertama...” (hal. 288)
Kisah berlanjut hingga pada akhirnya Aisyah harus hidup sebagai Ibunda kaum Mukmin sepeninggal Rasulullah. Sibel Eraslan mampu menyihir pembaca untuk tetap melahap kisah ini sampai penghabisan isi buku. Saya hampir tidak merasakan ada kekurangan yang berarti di dalam novel ini. Layout yang bagus juga menambah kesan baik pembaca pada novel ini. Novel ini sangat layak untuk dibaca, baik dari kalangan anak-anak hingga dewasa. Sebab banyak pembelajaran baik yang bisa dipetik dari novel setebal 474 halaman ini.

(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar