Judul :
Aisyah
Penulis : Sibel Eraslan
Penyunting : Anwar Kholid
Penerbit
: Kaysa Media (Puspa Swara
Group)
Cetakan : Pertama, 2015
Halaman
: 474 hal
ISBN
: 978-979-1479-89-9
Novel Aisyah adalah novel seri pertama dalam Serial The Greatest Woman yang ditulis
oleh penulis ternama, Sibel Eraslan. Novel yang kental dengan nilai
religiusitas ini menceritakan tentang kehidupan Ibunda kaum mukmin, yakni
Aisyah (ra). Aisyah adalah istri sekaligus murid Rasulullah. Dan Aisyah
merupakan putri dari Abu Bakar Ash-Shiddiq; orang pertama yang memeluk agama
Islam.
Novel ini bercerita tentang kehidupan Aisyah yang
dapat dijadikan teladan dan pelajaran bagi kita semua. Dengan gaya penceritaan
yang mengambil sudut pandang orang pertama, novel ini terasa seperti curahan
hati Aisyah sendiri. Dalam novel ini, cerita dibagi dalam fase lima waktu
Aisyah, yakni subuh, zuhur, ashar, maghrib, dan isya. Dalam tiap pembagiannya,
Sibel Eraslan membagi kisah-kisah tentang ketegaran hidup sang bunda mukmin
tersebut dengan sangat apik. Masa subuh Aisyah dimulai dengan kenangan-kenangan
masa kecilnya. Dimana ia lahir dari keluarga pedagang yang sukses. Dan masa
kecilnya sangat bahagia.
Kehidupan keluarganya mulai terguncang ketika
Muhammad menyatakan dirinya sebagai rasul dan nabi di Mekah. Dan ayahnya adalah
orang pertama yang memeluk Islam. “Wahai
sahabat baikku, siapa yang mengajari apa yang kau katakan ini?” “Malaikat agung
yang juga memberi kabar kepada para nabi sebelumku, Wahai Abu Bakar.” Ayah
kemudian berseru “Atas nama ayahku, ibuku, dan sahabat-sahabatku, aku percaya
dengan apa yang kau jelaskan kepadaku. Ulurkanlah tanganmu! Aku bersyahadat
bahwa tak ada Tuhan selain Allah. Kau adalah Rasulullah!” (hal.23)
Sebagai pemeluk Islam, tekanan dan siksaan kerap
menghantui keluarga Aisyah. Dan Aisyah adalah salah satu saksi atas seluruh
perlakuan kaum Quraisy kepada umat Muslim, termasuk kepada keluarganya. “Aku jatuh pingsan ketika mereka mendesak
berjalan ke arah ayah dan mulai memukuli ayah sambil melontarkan ejekan-ejekan
yang lebih tajam dari ujung belati. Aku kemudian mendengar ternyata wajah ayah
terkena tendangan sepatu Utbah bin Rabia yang keras dan tajam. Tubuhnya diseret
ke tanah. Bibir dan hidungnya penuh darah. Jika tidak ada pemuda dari suku
Tamim, mungkin tubuh ayah sudah akan penuh luka.” (hal. 48)
Waktu asar Aisyah bercerita tentang syiar Islam yang
kian berkembang. Tentang keadaan awal Madinah, tentang Rasulullah yang menyuruh
ia untuk berpuasa, pengkhianatan Bani Qaynuqa dan Perang Uhud, sampai
pendeskripsian Aisyah tentang ciri fisik Rasulullah. “Tinggi badannya sedang, tak begitu pendek, tak juga begitu tinggi
hingga mata sulit menjangkaunya. Badannya tinggi dan memancarkan sinar keperak-perakan.
Kepalanya besar dan kuat, sementara rambutnya bergelombang, tak keriting tak
juga lurus. Layaknya hati terbelah dua, rambutnya disisir ke sisi kanan dan
sisi kiri. Dia menyisipkan rambutnya di telinga bila sudah terurai memanjang.
Kulitnya putih dan cerah, pipinya kemerahan.” (hal. 266)
Pada bagian ini juga diceritakan tentang hubungan
pernikahan Rasulullah dengan para istrinya yang lain. Juga tentang kecemburuan
Aisyah yang begitu manis. Membuat pembaca ikut terhanyut dan bisa merasakan
gejolak batin Aisyah. “Apakah kau
mencintai Aisyah?” “Iya, aku mencintai Aisyah...” “Bolehkah aku bertanya satu
pertanyaan lagi?” Sekali lagi dia menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Seakan-akan bintang-bintang bertaburan di kepalanya ingin mendengarkan pembicaraan
kami. “Bagaimana engkau mencintai Aisyah?” Beliau malah terdiam seperti malu.
Beban hidup dirinya sudah sangat berat. Dia adalah seorang jenderal. Hatiku
sesak ketika dia malah mempercepat langkah untanya maju untuk pergi. Sungguh
terlalu banyak pertanyaan yang aku utarakan. Kemudian dia menunduk seakan-akan
tahu bahwa aku menatapnya. Entah bagaimana mendadak dia memutar balik untanya
dan memacu cepat-cepat dan berkata kepadaku, “Seperti hari pertama...” (hal.
288)
Kisah berlanjut hingga pada akhirnya Aisyah harus
hidup sebagai Ibunda kaum Mukmin sepeninggal Rasulullah. Sibel Eraslan mampu
menyihir pembaca untuk tetap melahap kisah ini sampai penghabisan isi buku.
Saya hampir tidak merasakan ada kekurangan yang berarti di dalam novel ini. Layout yang bagus juga menambah kesan
baik pembaca pada novel ini. Novel ini sangat layak untuk dibaca, baik dari
kalangan anak-anak hingga dewasa. Sebab banyak pembelajaran baik yang bisa
dipetik dari novel setebal 474 halaman ini.
(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar