Gue
baru akan membuka pintu mobil ketika hape gue berbunyi. Gue mengira itu telepon
dari Eril. Secepat yang gue bisa, gue merogoh saku celana. Jauh api dari
panggang. Yang menelepon bukan Eril, melainkan Melisa. Mau apa dia? Batin gue
kesal.
“Ada
apa?” Tanya gue tanpa basa-basi.
“Bisa
temui aku sekarang? Di coffe shop
daerah Bintaro,” pinta suara dari seberang sana.
“Nggak
bisa. Aku ada keperluan dengan Eril. Nggak bisa diganggu,” suara gue meninggi.
“Ayolah,
sebentar saja. Ada yang ingin kubicarakan padamu. Aku tidak tahu harus berbuat
apa lagi. Aku hanya ingin kau datang,” suara itu kini terdengar serak. Melisa
menangis? batin gue.
Lama
gue terdiam. Berpikir jawaban terbaik apa yang akan gue berikan pada gadis itu.
“Jika kau tak datang, maafkan aku karena tidak bisa menemuimu lagi setelah ini.
Aku ingin pulang. Pulang ke tempat yang sebenarnya. Aku sudah sangat lelah,”
ucap gadis itu lagi, kini suaranya terdengar parau.
Gue
menghela napas panjang. Takdir apa lagi ini? Bagaimana? Apa yang harus gue
perbuat? Apa gue harus menemui Melisa dan membatalkan janji yang gue buat sama
Eril? Apa Eril bisa menerima alasannya? Lalu gimana jika gue gak datang ke coffe shop itu, apa mungkin Melisa
benar-benar akan mengakhiri hidupnya setelah ini? Gue menggaruk kepala,
bingung. Yang gue paham dari gadis manja itu cuma satu, dia selalu gegabah dan
tak pernah berpikir panjang. Telepon masih menggantung di sana. Lama gue
berpikir. Hingga akhirnya gue memutuskan sesuatu.
“Baik,
aku segera datang. Kau.. jangan lakukan hal-hal aneh sampai aku tiba di sana,”
KLIK. Sambungan telepon terputus. Gue segera melajukan mobil menuju daerah
Bintaro. Gue berpikir ini tidak akan mengganggu kencan gue dengan Eril. Gue
bisa mengirimkan pesan singkat pada Eril bahwa gue akan telat beberapa menit.
Dan gue akan segera datang menuju taman kota ketika gue sudah berhasil membujuk
dan menenangkan hati Melisa. Mantan kekasih gue itu memang payah.
*
* *
Gue
berdiri di pintu coffe shop dengan
perasaan tidak menentu. Hujan di luar belum menunjukkan tanda-tanda akan
berhenti. Gue mengutuk diri sendiri yang tidak bisa kabur dengan cepat dari
tempat memuakkan ini. Gue melirik Melisa yang masih duduk manis di bangku
berpelitur cokelat itu sejak tadi. Omong kosong! Masalah Melisa yang
disampaikannya tidak lagi menjadi masalahku. Bodohnya gue mau tertipu oleh
mulut manisnya. Masalah kandasnya hubungan percintaannya dengan laki-laki
pilihannya dulu tidak akan membuatnya bunuh diri. Dia gadis yang licik, umpat
gue dalam hati.
Kini
gue benar-benar merasa bersalah dengan Eril. Harusnya ini menjadi momen paling
bahagia di hidup gue. Harusnya ini menjadi malam paling istimewa untuk gue dan
juga Eril. “Happy birthday, Dear,”
ucap gue lirih seraya menggenggam kotak kecil berwarna tosca itu. Penyesalan memang selalu datang belakangan. Andai saja
gue mau berpikir sedikit lebih panjang. Mungkin Eril sudah pulang sejak tadi.
Nggak mungkin dia akan menunggu gue hingga hujan seperti ini. Dan hape ini… ahh
sial! Lowbat. Gue tak henti-hentinya
memaki diri sendiri. Besok gue harus menemui Eril dan menjelaskan semuanya.
Ini
hari ulang tahun Eril dan gue merusak semuanya. Eril pasti marah besar sama
gue. Semua yang gue rencanakan gagal total hanya karena malam ini gue lebih
mengutamakan bertemu Melisa dibanding dirinya. Gue yakin Eril tidak akan bisa
menerima penjelasan gue kali ini. Tapi bagaimana pun juga, ini semua harus
dijelaskan. Eril harus tahu kalau ada alasan dibalik kegagalan malam ini.
*
* *
Gue
berlari mengejar Eril yang berjalan santai di halaman sekolah. Pagi ini dia
menolak untuk dijemput. Gue tahu, ini bagian dari kemarahannya tadi malam
karena gue telah mengingkari janji. Gue memanggil namanya berkali-kali, namun
dia cuek. Terus berjalan santai menuju kelas. “Ril.. gue mau ngomong,” kata gue
saat tiba di kelas. Eril meletakkan tas sekenanya di atas meja. “Kalo mau
ngomong, ya ngomong aja,” dia acuh menjawab, seraya memainkan hape. “Gue mau
bicara di pendopo belakang, nggak di sini. Bisa?” pinta gue lagi. “Sori, gue
sibuk!” katanya datar.
Gue
lirik hapenya. Dia sedang bermain game
online. Gue menarik napas panjang, “Sebentar aja,” Eril melirik gue sinis.
Lantas berjalan meninggalkan kelas menuju pendopo belakang. Gue meraih tas
dengan cepat. Jam pelajaran dimulai masih 15 menit lagi. Masih ada waktu untuk
membicarakan masalah ini. Gue duduk di sebelah Eril yang masih sibuk dengan game-nya. Gue tahu itu salah satu cara
Eril nyuekin gue. Menganggap gue nggak lebih penting dari mainannya. Eril pun
enggan mengeluarkan suara.
“Kenapa
semalam gak angkat telpon gue?” gue membuka percakapan. “Peduli apa sama gue?”
jawab Eril sengit. “Kenapa jawabnya gitu?” gue kaget mendapati jawaban Eril gak
sehangat biasanya. “Kenapa menanyakan itu?”
“Lo
kenapa?”
Eril
menatap gue tajam. “Lo yang kenapa? Kenapa tadi malam gak datang? Kenapa
membuat janji tapi malah lo ingkari sendiri? Kenapa mengirimi gue surat gak
penting itu? Kenapa meminta gue datang ke taman kota dengan kue dan lilin angka
18? Kenapa lo bilang kalau lo akan telat hanya untuk beberapa menit? Kenapa lo
bohong sama gue?” kali ini Eril menatap wajah gue dengan penuh amarah. Ia
menggigit bibir bawahnya, menahan tangis. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku
roknya, lalu melemparkannya ke arah gue. Surat itu. Surat yang kemarin siang
gue titipkan pada Kak Yudith di rumahnya, saat Eril sedang latihan renang
dengan teman-temannya.
“Buka!
Baca! Gue harap lo masih bisa baca dan paham maksud surat itu!” Eril berkata
ketus. Gue mengambil kertas yang sudah mulai lusuh itu. Gue buka perlahan
dengan perasaan yang sulit digambarkan. Gue merasa bersalah sekali pada Eril.
Happy Birthday, Dear.
Temui gue di taman kota jam 7 malam nanti dengan kue dan lilin angka 18. Gue
akan membawakan lo sebuah kado istimewa. Sampai nanti. Gue sayang elo J
( A R A S H )
Gue
diam membacanya. Baru kali ini gue ngerasa udah benar-benar mengecewakan Eril,
pacar sekaligus sahabat gue. Gue sudah menduga Eril akan semarah ini. Gue juga
sudah menduga gadis itu akan kecewa karena sikap gue. “Kenapa diam saja?” Nada
suara Eril meninggi, meminta jawaban. Gue menatap wajah Eril perlahan. Bola
mata kami kini bertabrakan. Gue dapat merasakan kekecewaan masih bersarang di
mata indah itu. Sungguh, gue gak bermaksud begitu. Gue mengakui ini semua
memang kesalahan fatal.
“Gue
minta maaf. Malam itu hujan deras, gue gak bisa datang,” Gue nggak punya alasan
lain yang lebih logis. “Gitu, ya?” Eril mengangguk pelan, lalu membuang
pandangan ke arah lain. “Kenapa lo gak balas pesan singkat atau menjawab
telepon gue?” “Apa menurut lo itu penting? Tiga jam gue nunggu lo di sana. Gue
datang tepat waktu seperti yang lo minta. Gue bawa semua yang lo inginkan. Gue
terima alasan lo yang mengatakan kalau lo cuma akan telat beberapa menit. Tapi
apa yang gue terima? Kemana lo malam itu?” Mata Eril sudah penuh dengan air
mata, sekali kedip air mata itu tentu akan mengalir deras mengaliri pipinya.
Gue
menunduk. Gue tahu kali ini dia benar-benar melakukan kesalahan fatal. Eril
merasakan ada sesuatu yang lain yang sedang gue sembunyikan. Mata itu menatap
gue meminta jawaban. “Gue menemui Melisa, tapi bukan untuk pertemuan yang sudah
dijanjikan. Dia meminta gue datang karena ada hal penting yang ingin ia
bicarakan,” Gue akhirnya berkata jujur. “Ketika itu gue baru akan berangkat
menuju taman kota. Gue pikir pertemuan itu bisa sebentar saja. Tapi ternyata
hujan lebih dulu datang. Gue jadi nggak bisa menemui lo. Gue minta maaf, Ril…”
Gue menghela napas panjang.
“Ah,
akhirnya gue ngerti. Gue ngelihat ada beberapa hal yang nggak akan pernah
berubah dari diri lo,” kata Eril akhirnya seraya tersenyum kecut.
“Apa?”
“Perasaan
lo pada gadis itu,” Eril sudah menghapus air matanya. Gue tertegun mendengar
jawaban Eril. Apa yang dipikirkan gadis itu? Begitu burukkah gue di matanya?
Kami hanyut dalam diam. Eril enggan bersuara lagi. Ia alihkan pandangannya ke
tempat lain. “Gue gak tahu lagi apa yang harus gue katakan sama lo selain kata
maaf. Maafin gue, Ril,” Eril tetap diam, tak menoleh barang sedikit pun. Gue
melanjutkan. “Sekali lagi gue ngomong jujur sama lo, gue nggak melakukan
sesuatu yang penting dengannya malam itu. Gue nggak kencan, juga nggak
bersenang-senang. Sekiranya lo paham apa yang akan lo lakukan jika seseorang
meminta lo hadir ketika ia sedang kalut oleh masalah. Ketika ia mau bunuh
diri,”
Eril
menoleh, “Bunuh diri? Dan lo percaya?!” dia mendengus kesal. “Ya, dia mengancam
akan bunuh diri jika gue gak datang,” Gue meraih tas dan merogoh sesuatu dari
sana. Mata Eril melebar ketika gue menunjukkan sesuatu. “Maksudnya apa?” Eril
menerima benda itu. “Ini hadiah ulang tahun lo,” jawab gue datar. Eril
mengernyit bingung. “Ini tisu buat ngehapus air mata lo. Gue tahu lo semalaman
nangis karena gue. Iya, kan? Harganya gratis! Asalkan lo janji nggak nangis
lagi!” gue mengambil selembar dan menghapus bekas air mata di pipi Eril.
“Emangnya
yang mau bayar siapa?!” Eril melengos. Gue nyengir. “Jadi… ini kado istimewa
yang lo bilang dalam surat itu?” Eril tak terima. Gue tertawa, “Iya..” jawab
gue sengaja meledeknya. Eril mendengus sebal, “Kalo beginian di rumah gue juga
banyak!” Gue menghapus bekas air mata di pipi kanannya lagi. Eril terdiam.
“Maafin gue, ya. Udah mengacaukan mood
lo di hari ulang tahun semalam,” Eril menatap gue dalam. Gue yakin Eril tidak
akan marah lama-lama sama gue. Sejak dulu dia memang begitu. Hatinya cepat
sembuh dan mood-nya juga cepat
membaik. Eril mengangguk sekilas.
“Tapi
ada syaratnya!”
“Apa?”
“Traktir
gue makan siomay 2 mangkok, coklat 2 batang, plus jus jambu 2 gelas! Deal?”
“Pemerasan!”
kata gue menjitak dahinya. Eril meleletkan lidah tak peduli. “Happy birthday, Papan ujianku. Meski
telat satu hari,” Gue menatap Eril sambil tersenyum. Mengeluarkan sesuatu dari
saku celana sekolah, sebuah kotak kecil merah jambu berisi dua buah gelang couple berwarna coklat tua.
Masing-masing bertuliskan nama dan foto gue juga Eril. Gue memakaikannya di
pergelangan tangan Eril dengan gelang bertuliskan nama gue. Dan memakai gelang
satunya lagi yang bertuliskan nama Eril.
Eril balas tersenyum.
Ia tidak mengucapkan apa-apa. Hatinya terlalu riuh dengan setiap momen abstrak
yang gue tujukan padanya hari ini. Jadi dia memilih mendekat ke arah gue,
sambil memperhatikan kedua gelang itu. Dari matanya gue tahu, dia tak ingin
kesalahpahaman ini berlanjut lebih lama lagi. Cewek papan ujian yang keras
kepala namun pemaaf. Gadis keras kepala yang absurd tingkahnya namun membuat
nyaman tiap kali gue bersamanya. Gak aka nada yang mengerti gue seperti dia
mengerti gue saat ini. Gue bermonolog dalam hati. Gue menepuk bahunya pelan,
tepukan seorang sahabat. Tepukan terima kasih karena sudah mau memaafkan
gilanya kesalahan gue. Di mata gue, kita adalah satu, apa pun yang mengganggu.
Karena gue percaya, semua akan baik-baik saja, selama gue meyakini itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar