Total Tayangan Halaman

Jumat, 03 November 2017

Cemburu (Terbit 15 Oktober 2017, di Harian Medan Pos)

Gue baru akan membuka pintu mobil ketika hape gue berbunyi. Gue mengira itu telepon dari Eril. Secepat yang gue bisa, gue merogoh saku celana. Jauh api dari panggang. Yang menelepon bukan Eril, melainkan Melisa. Mau apa dia? Batin gue kesal.
“Ada apa?” Tanya gue tanpa basa-basi.
“Bisa temui aku sekarang? Di coffe shop daerah Bintaro,” pinta suara dari seberang sana.
“Nggak bisa. Aku ada keperluan dengan Eril. Nggak bisa diganggu,” suara gue meninggi.
“Ayolah, sebentar saja. Ada yang ingin kubicarakan padamu. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku hanya ingin kau datang,” suara itu kini terdengar serak. Melisa menangis? batin gue.
Lama gue terdiam. Berpikir jawaban terbaik apa yang akan gue berikan pada gadis itu. “Jika kau tak datang, maafkan aku karena tidak bisa menemuimu lagi setelah ini. Aku ingin pulang. Pulang ke tempat yang sebenarnya. Aku sudah sangat lelah,” ucap gadis itu lagi, kini suaranya terdengar parau.
Gue menghela napas panjang. Takdir apa lagi ini? Bagaimana? Apa yang harus gue perbuat? Apa gue harus menemui Melisa dan membatalkan janji yang gue buat sama Eril? Apa Eril bisa menerima alasannya? Lalu gimana jika gue gak datang ke coffe shop itu, apa mungkin Melisa benar-benar akan mengakhiri hidupnya setelah ini? Gue menggaruk kepala, bingung. Yang gue paham dari gadis manja itu cuma satu, dia selalu gegabah dan tak pernah berpikir panjang. Telepon masih menggantung di sana. Lama gue berpikir. Hingga akhirnya gue memutuskan sesuatu.
“Baik, aku segera datang. Kau.. jangan lakukan hal-hal aneh sampai aku tiba di sana,” KLIK. Sambungan telepon terputus. Gue segera melajukan mobil menuju daerah Bintaro. Gue berpikir ini tidak akan mengganggu kencan gue dengan Eril. Gue bisa mengirimkan pesan singkat pada Eril bahwa gue akan telat beberapa menit. Dan gue akan segera datang menuju taman kota ketika gue sudah berhasil membujuk dan menenangkan hati Melisa. Mantan kekasih gue itu memang payah.
* * *
Gue berdiri di pintu coffe shop dengan perasaan tidak menentu. Hujan di luar belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Gue mengutuk diri sendiri yang tidak bisa kabur dengan cepat dari tempat memuakkan ini. Gue melirik Melisa yang masih duduk manis di bangku berpelitur cokelat itu sejak tadi. Omong kosong! Masalah Melisa yang disampaikannya tidak lagi menjadi masalahku. Bodohnya gue mau tertipu oleh mulut manisnya. Masalah kandasnya hubungan percintaannya dengan laki-laki pilihannya dulu tidak akan membuatnya bunuh diri. Dia gadis yang licik, umpat gue dalam hati.
Kini gue benar-benar merasa bersalah dengan Eril. Harusnya ini menjadi momen paling bahagia di hidup gue. Harusnya ini menjadi malam paling istimewa untuk gue dan juga Eril. “Happy birthday, Dear,” ucap gue lirih seraya menggenggam kotak kecil berwarna tosca itu. Penyesalan memang selalu datang belakangan. Andai saja gue mau berpikir sedikit lebih panjang. Mungkin Eril sudah pulang sejak tadi. Nggak mungkin dia akan menunggu gue hingga hujan seperti ini. Dan hape ini… ahh sial! Lowbat. Gue tak henti-hentinya memaki diri sendiri. Besok gue harus menemui Eril dan menjelaskan semuanya.
Ini hari ulang tahun Eril dan gue merusak semuanya. Eril pasti marah besar sama gue. Semua yang gue rencanakan gagal total hanya karena malam ini gue lebih mengutamakan bertemu Melisa dibanding dirinya. Gue yakin Eril tidak akan bisa menerima penjelasan gue kali ini. Tapi bagaimana pun juga, ini semua harus dijelaskan. Eril harus tahu kalau ada alasan dibalik kegagalan malam ini.
* * *
Gue berlari mengejar Eril yang berjalan santai di halaman sekolah. Pagi ini dia menolak untuk dijemput. Gue tahu, ini bagian dari kemarahannya tadi malam karena gue telah mengingkari janji. Gue memanggil namanya berkali-kali, namun dia cuek. Terus berjalan santai menuju kelas. “Ril.. gue mau ngomong,” kata gue saat tiba di kelas. Eril meletakkan tas sekenanya di atas meja. “Kalo mau ngomong, ya ngomong aja,” dia acuh menjawab, seraya memainkan hape. “Gue mau bicara di pendopo belakang, nggak di sini. Bisa?” pinta gue lagi. “Sori, gue sibuk!” katanya datar.
Gue lirik hapenya. Dia sedang bermain game online. Gue menarik napas panjang, “Sebentar aja,” Eril melirik gue sinis. Lantas berjalan meninggalkan kelas menuju pendopo belakang. Gue meraih tas dengan cepat. Jam pelajaran dimulai masih 15 menit lagi. Masih ada waktu untuk membicarakan masalah ini. Gue duduk di sebelah Eril yang masih sibuk dengan game-nya. Gue tahu itu salah satu cara Eril nyuekin gue. Menganggap gue nggak lebih penting dari mainannya. Eril pun enggan mengeluarkan suara.
“Kenapa semalam gak angkat telpon gue?” gue membuka percakapan. “Peduli apa sama gue?” jawab Eril sengit. “Kenapa jawabnya gitu?” gue kaget mendapati jawaban Eril gak sehangat biasanya. “Kenapa menanyakan itu?”
“Lo kenapa?”
Eril menatap gue tajam. “Lo yang kenapa? Kenapa tadi malam gak datang? Kenapa membuat janji tapi malah lo ingkari sendiri? Kenapa mengirimi gue surat gak penting itu? Kenapa meminta gue datang ke taman kota dengan kue dan lilin angka 18? Kenapa lo bilang kalau lo akan telat hanya untuk beberapa menit? Kenapa lo bohong sama gue?” kali ini Eril menatap wajah gue dengan penuh amarah. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan tangis. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku roknya, lalu melemparkannya ke arah gue. Surat itu. Surat yang kemarin siang gue titipkan pada Kak Yudith di rumahnya, saat Eril sedang latihan renang dengan teman-temannya.
“Buka! Baca! Gue harap lo masih bisa baca dan paham maksud surat itu!” Eril berkata ketus. Gue mengambil kertas yang sudah mulai lusuh itu. Gue buka perlahan dengan perasaan yang sulit digambarkan. Gue merasa bersalah sekali pada Eril.
Happy Birthday, Dear. Temui gue di taman kota jam 7 malam nanti dengan kue dan lilin angka 18. Gue akan membawakan lo sebuah kado istimewa. Sampai nanti. Gue sayang elo J ( A R A S H )
Gue diam membacanya. Baru kali ini gue ngerasa udah benar-benar mengecewakan Eril, pacar sekaligus sahabat gue. Gue sudah menduga Eril akan semarah ini. Gue juga sudah menduga gadis itu akan kecewa karena sikap gue. “Kenapa diam saja?” Nada suara Eril meninggi, meminta jawaban. Gue menatap wajah Eril perlahan. Bola mata kami kini bertabrakan. Gue dapat merasakan kekecewaan masih bersarang di mata indah itu. Sungguh, gue gak bermaksud begitu. Gue mengakui ini semua memang kesalahan fatal.
“Gue minta maaf. Malam itu hujan deras, gue gak bisa datang,” Gue nggak punya alasan lain yang lebih logis. “Gitu, ya?” Eril mengangguk pelan, lalu membuang pandangan ke arah lain. “Kenapa lo gak balas pesan singkat atau menjawab telepon gue?” “Apa menurut lo itu penting? Tiga jam gue nunggu lo di sana. Gue datang tepat waktu seperti yang lo minta. Gue bawa semua yang lo inginkan. Gue terima alasan lo yang mengatakan kalau lo cuma akan telat beberapa menit. Tapi apa yang gue terima? Kemana lo malam itu?” Mata Eril sudah penuh dengan air mata, sekali kedip air mata itu tentu akan mengalir deras mengaliri pipinya.
Gue menunduk. Gue tahu kali ini dia benar-benar melakukan kesalahan fatal. Eril merasakan ada sesuatu yang lain yang sedang gue sembunyikan. Mata itu menatap gue meminta jawaban. “Gue menemui Melisa, tapi bukan untuk pertemuan yang sudah dijanjikan. Dia meminta gue datang karena ada hal penting yang ingin ia bicarakan,” Gue akhirnya berkata jujur. “Ketika itu gue baru akan berangkat menuju taman kota. Gue pikir pertemuan itu bisa sebentar saja. Tapi ternyata hujan lebih dulu datang. Gue jadi nggak bisa menemui lo. Gue minta maaf, Ril…” Gue menghela napas panjang.
“Ah, akhirnya gue ngerti. Gue ngelihat ada beberapa hal yang nggak akan pernah berubah dari diri lo,” kata Eril akhirnya seraya tersenyum kecut.
“Apa?”
“Perasaan lo pada gadis itu,” Eril sudah menghapus air matanya. Gue tertegun mendengar jawaban Eril. Apa yang dipikirkan gadis itu? Begitu burukkah gue di matanya? Kami hanyut dalam diam. Eril enggan bersuara lagi. Ia alihkan pandangannya ke tempat lain. “Gue gak tahu lagi apa yang harus gue katakan sama lo selain kata maaf. Maafin gue, Ril,” Eril tetap diam, tak menoleh barang sedikit pun. Gue melanjutkan. “Sekali lagi gue ngomong jujur sama lo, gue nggak melakukan sesuatu yang penting dengannya malam itu. Gue nggak kencan, juga nggak bersenang-senang. Sekiranya lo paham apa yang akan lo lakukan jika seseorang meminta lo hadir ketika ia sedang kalut oleh masalah. Ketika ia mau bunuh diri,”
Eril menoleh, “Bunuh diri? Dan lo percaya?!” dia mendengus kesal. “Ya, dia mengancam akan bunuh diri jika gue gak datang,” Gue meraih tas dan merogoh sesuatu dari sana. Mata Eril melebar ketika gue menunjukkan sesuatu. “Maksudnya apa?” Eril menerima benda itu. “Ini hadiah ulang tahun lo,” jawab gue datar. Eril mengernyit bingung. “Ini tisu buat ngehapus air mata lo. Gue tahu lo semalaman nangis karena gue. Iya, kan? Harganya gratis! Asalkan lo janji nggak nangis lagi!” gue mengambil selembar dan menghapus bekas air mata di pipi Eril.
“Emangnya yang mau bayar siapa?!” Eril melengos. Gue nyengir. “Jadi… ini kado istimewa yang lo bilang dalam surat itu?” Eril tak terima. Gue tertawa, “Iya..” jawab gue sengaja meledeknya. Eril mendengus sebal, “Kalo beginian di rumah gue juga banyak!” Gue menghapus bekas air mata di pipi kanannya lagi. Eril terdiam. “Maafin gue, ya. Udah mengacaukan mood lo di hari ulang tahun semalam,” Eril menatap gue dalam. Gue yakin Eril tidak akan marah lama-lama sama gue. Sejak dulu dia memang begitu. Hatinya cepat sembuh dan mood-nya juga cepat membaik. Eril mengangguk sekilas.
“Tapi ada syaratnya!”
“Apa?”
“Traktir gue makan siomay 2 mangkok, coklat 2 batang, plus jus jambu 2 gelas! Deal?”
“Pemerasan!” kata gue menjitak dahinya. Eril meleletkan lidah tak peduli. “Happy birthday, Papan ujianku. Meski telat satu hari,” Gue menatap Eril sambil tersenyum. Mengeluarkan sesuatu dari saku celana sekolah, sebuah kotak kecil merah jambu berisi dua buah gelang couple berwarna coklat tua. Masing-masing bertuliskan nama dan foto gue juga Eril. Gue memakaikannya di pergelangan tangan Eril dengan gelang bertuliskan nama gue. Dan memakai gelang satunya lagi yang bertuliskan nama Eril.
Eril balas tersenyum. Ia tidak mengucapkan apa-apa. Hatinya terlalu riuh dengan setiap momen abstrak yang gue tujukan padanya hari ini. Jadi dia memilih mendekat ke arah gue, sambil memperhatikan kedua gelang itu. Dari matanya gue tahu, dia tak ingin kesalahpahaman ini berlanjut lebih lama lagi. Cewek papan ujian yang keras kepala namun pemaaf. Gadis keras kepala yang absurd tingkahnya namun membuat nyaman tiap kali gue bersamanya. Gak aka nada yang mengerti gue seperti dia mengerti gue saat ini. Gue bermonolog dalam hati. Gue menepuk bahunya pelan, tepukan seorang sahabat. Tepukan terima kasih karena sudah mau memaafkan gilanya kesalahan gue. Di mata gue, kita adalah satu, apa pun yang mengganggu. Karena gue percaya, semua akan baik-baik saja, selama gue meyakini itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar