Judul :
Soul Match
Penulis : Alfian Daniear
Penerbit
: teen@noura (Noura Books)
Cetakan : Pertama, Mei 2014
Halaman
: 218 hal
ISBN
: 978-602-1606-83-4
Novel Alfian Daniear kali ini menceritakan kisah cinta,
persahabatan, juga impian yang dibalut dalam pesona dan eksotisme Rio de
Janeiro. Cerita dibuka oleh seorang tokoh utama perempuan bernama Janitra
Dewantari yang merupakan seorang siswi pertukaran pelajar dari Indonesia.
Janitra adalah gadis manis yang tumbuh dengan kecintaannya terhadap dunia sepak
bola. Meskipun ia adalah seorang perempuan, namun rasa cintanya terhadap bola
tidak pernah berubah, sekalipun Ibunya menentang.
Di Brazil inilah, peluang untuk mewujudkan impian
besarnya menjadi pemain sepak bola wanita akan terwujud. Ia bertemu dengan
Flavia dan Beatriz yang merupakan teman satu sekolah Janitra di Escola St.
Monica. Janitra bertemu keduanya di sebuah pantai eksotis di Brazil bernama
Pantai Ipanema. Keduanya mempunyai kesukaan yang sama yaitu bermain sepak bola.
Dalam novel ini, Alfian Daniear lebih menekankan isi cerita terhadap tekad dan
semangat peran utama dalam mewujudkan mimpinya.
Janitra
mengangkat tangannya. “Bukankah baru dua belas orang, Pelatih?” “Lalu?” “Di
awal tadi pelatih bilang ada tiga belas orang.” “Oh ya? Mungkin aku salah
bilang. Semua nama yang tertulis di sini sudah kusebutkan.” Paulinho
menunjukkan kertas yang terjepit di papan alasnya. Janitra tertegun tak
percaya. “Apakah Anda yakin?” Tanya Janitra ragu-ragu. “Kupikir...begitulah,”
jawab Paulinho datar. “Tapi...saya merasa lebih baik dari mereka. Kenapa saya
tak disebut?” telunjuk Janitra menunjuk gadis-gadis yang terpilih. Paulinho
mendekati Janitra, sangat dekat. “Kupikir kau terlalu percvaya diri.” “Karena
saya memang punya kemampuan, Pelatih,” jawab Janitra mencoba tegas. Dia
menegakkan dagunya (hal.79-80)
Janitra akhirnya terpilih menjadi kapten dalam tim
sepak bola wanita Escola St.Monica karena semangat dan rasa percaya dirinya
yang kuat. Meski begitu, kepercayaan dirinya yang terlalu besar berdampak buruk
terhadap eksistensinya di dalam tim tersebut. Masalah pun perlahan menghampiri
Janitra. “Kau membuatku terkesan dengan
aksimu selama seleksi, Janitra. Bahkan kau menjadi harapan utamaku untuk
menjadi kapten. Tapi, kenapa sekarang kau jadi begini. Kenapa kau begitu sulit
beradaptasi dalam tim ini.” Kata-kata Paulinho kemarin masih terngiang-ngiang
di telinga Janitra. “Kita mengikuti kompetisi dalam sebuah tim, bukan individu.
Kupikir kau masih terlalu egois.” (hal. 103-104)
Dalam kekalutan dan keputusasaan yang dirasakan
Janitra, Kaisar-lah yang menjadi sosok paling berpengaruh dalam merubah
sikapnya. “Kau tahu, apa yang seharusnya
kau lakukan sekarang?” Kaisar mendengus lega. Setidaknya Janitra tak meneruskan
godaannya. “Hilangkanlah rasa ‘akulah yang terhebat’ saat kau bermain dalam
sebuah tim. Kau harus mampu menyatu dengan pola permainan. Tiap pemain punya
posisinya. Dan kau harus memainkan peran sesuai posisi yang telah pelatih
tentukan.” Janitra mulai sadar kelemahannya. Selama ini dia hanya ingin tampil
sebagai yang terhebat. Dia ingin terlihat mencolok dalam timnya. “Satu hal yang
lebih penting, kau harus sering berinteraksi dengan sesama anggota tim.” (hal.
106)
Kedekatan Janitra dengan Kaisar ternyata menimbulkan
masalah. Sebab menurut cerita teman-temannya, Flavia merupakan kekasih Kaisar.
Hal ini juga kembali mengganggu jalan Janitra dalam mewujudkan mimpinya, yaitu
ingin melanjutkan dan memenangkan kompetisi sepak bola wanita se-SMA di Rio de
Janeiro. Dalam novel ini, Alfian Daniear juga mengajak pembaca untuk
membayangkan dan merasakan keindahan Negara Brazil lewat sentuhan diksinya.
Kelebihan novel ini adalah penulis mengangkat cerita yang tidak biasa, yaitu
mengupas dunia sepak bola wanita. Membuktikan bahwa olahraga sepak bola bukan
hanya untuk dimainkan oleh laki-laki, tetapi wanita pun bisa memainkannya.
Selain itu, kelebihan lainnya adalah penulis mampu mendeskripsikan
tempat-tempat menarik di negara tersebut secara detail, seperti Pantai Ipanema, Favela, Feira da Gloria, dan Lagoa
Rodrigo de Freitas yang terletak di tengah-tengah kota Rio. Penulis juga
menyinggung tentang makanan khas dari Brazil yakni Tapioka.
Kelemahan dari novel ini adalah terdapat beberapa
salah ketik atau slip of the pen yang
dilakukan penulis. Juga terdapat kata-kata asing dalam bahasa Brazil yang tidak
diberi keterangan atau penjelasan dalam bahasa Indonesia, sehingga agak
menyulitkan pembaca dalam memahami kalimat. Selebihnya, novel ini sangat seru,
menarik dan layak untuk dibaca. Khususnya bagi kalian yang cinta dengan sepak
bola.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar