Total Tayangan Halaman

Jumat, 03 November 2017

Resensi "Tentang Perempuan, Impian, dan Kesempatan" (Terbit 01 Oktober 2017, di Harian Singgalang)

Judul               : Soul Match
Penulis             : Alfian Daniear
Penerbit           : teen@noura (Noura Books)
Cetakan           : Pertama, Mei 2014
Halaman          : 218 hal
ISBN               : 978-602-1606-83-4

Novel Alfian Daniear kali ini menceritakan kisah cinta, persahabatan, juga impian yang dibalut dalam pesona dan eksotisme Rio de Janeiro. Cerita dibuka oleh seorang tokoh utama perempuan bernama Janitra Dewantari yang merupakan seorang siswi pertukaran pelajar dari Indonesia. Janitra adalah gadis manis yang tumbuh dengan kecintaannya terhadap dunia sepak bola. Meskipun ia adalah seorang perempuan, namun rasa cintanya terhadap bola tidak pernah berubah, sekalipun Ibunya menentang.
Di Brazil inilah, peluang untuk mewujudkan impian besarnya menjadi pemain sepak bola wanita akan terwujud. Ia bertemu dengan Flavia dan Beatriz yang merupakan teman satu sekolah Janitra di Escola St. Monica. Janitra bertemu keduanya di sebuah pantai eksotis di Brazil bernama Pantai Ipanema. Keduanya mempunyai kesukaan yang sama yaitu bermain sepak bola. Dalam novel ini, Alfian Daniear lebih menekankan isi cerita terhadap tekad dan semangat peran utama dalam mewujudkan mimpinya.
Janitra mengangkat tangannya. “Bukankah baru dua belas orang, Pelatih?” “Lalu?” “Di awal tadi pelatih bilang ada tiga belas orang.” “Oh ya? Mungkin aku salah bilang. Semua nama yang tertulis di sini sudah kusebutkan.” Paulinho menunjukkan kertas yang terjepit di papan alasnya. Janitra tertegun tak percaya. “Apakah Anda yakin?” Tanya Janitra ragu-ragu. “Kupikir...begitulah,” jawab Paulinho datar. “Tapi...saya merasa lebih baik dari mereka. Kenapa saya tak disebut?” telunjuk Janitra menunjuk gadis-gadis yang terpilih. Paulinho mendekati Janitra, sangat dekat. “Kupikir kau terlalu percvaya diri.” “Karena saya memang punya kemampuan, Pelatih,” jawab Janitra mencoba tegas. Dia menegakkan dagunya (hal.79-80)
Janitra akhirnya terpilih menjadi kapten dalam tim sepak bola wanita Escola St.Monica karena semangat dan rasa percaya dirinya yang kuat. Meski begitu, kepercayaan dirinya yang terlalu besar berdampak buruk terhadap eksistensinya di dalam tim tersebut. Masalah pun perlahan menghampiri Janitra. “Kau membuatku terkesan dengan aksimu selama seleksi, Janitra. Bahkan kau menjadi harapan utamaku untuk menjadi kapten. Tapi, kenapa sekarang kau jadi begini. Kenapa kau begitu sulit beradaptasi dalam tim ini.” Kata-kata Paulinho kemarin masih terngiang-ngiang di telinga Janitra. “Kita mengikuti kompetisi dalam sebuah tim, bukan individu. Kupikir kau masih terlalu egois.” (hal. 103-104)
Dalam kekalutan dan keputusasaan yang dirasakan Janitra, Kaisar-lah yang menjadi sosok paling berpengaruh dalam merubah sikapnya. “Kau tahu, apa yang seharusnya kau lakukan sekarang?” Kaisar mendengus lega. Setidaknya Janitra tak meneruskan godaannya. “Hilangkanlah rasa ‘akulah yang terhebat’ saat kau bermain dalam sebuah tim. Kau harus mampu menyatu dengan pola permainan. Tiap pemain punya posisinya. Dan kau harus memainkan peran sesuai posisi yang telah pelatih tentukan.” Janitra mulai sadar kelemahannya. Selama ini dia hanya ingin tampil sebagai yang terhebat. Dia ingin terlihat mencolok dalam timnya. “Satu hal yang lebih penting, kau harus sering berinteraksi dengan sesama anggota tim.” (hal. 106)
Kedekatan Janitra dengan Kaisar ternyata menimbulkan masalah. Sebab menurut cerita teman-temannya, Flavia merupakan kekasih Kaisar. Hal ini juga kembali mengganggu jalan Janitra dalam mewujudkan mimpinya, yaitu ingin melanjutkan dan memenangkan kompetisi sepak bola wanita se-SMA di Rio de Janeiro. Dalam novel ini, Alfian Daniear juga mengajak pembaca untuk membayangkan dan merasakan keindahan Negara Brazil lewat sentuhan diksinya. Kelebihan novel ini adalah penulis mengangkat cerita yang tidak biasa, yaitu mengupas dunia sepak bola wanita. Membuktikan bahwa olahraga sepak bola bukan hanya untuk dimainkan oleh laki-laki, tetapi wanita pun bisa memainkannya. Selain itu, kelebihan lainnya adalah penulis mampu mendeskripsikan tempat-tempat menarik di negara tersebut secara detail, seperti Pantai Ipanema, Favela, Feira da Gloria, dan Lagoa Rodrigo de Freitas yang terletak di tengah-tengah kota Rio. Penulis juga menyinggung tentang makanan khas dari Brazil yakni Tapioka.

Kelemahan dari novel ini adalah terdapat beberapa salah ketik atau slip of the pen yang dilakukan penulis. Juga terdapat kata-kata asing dalam bahasa Brazil yang tidak diberi keterangan atau penjelasan dalam bahasa Indonesia, sehingga agak menyulitkan pembaca dalam memahami kalimat. Selebihnya, novel ini sangat seru, menarik dan layak untuk dibaca. Khususnya bagi kalian yang cinta dengan sepak bola.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar