Total Tayangan Halaman

Senin, 27 November 2017

Di Sudut Pendopo Kampus (Terbit 26 November 2017, Harian Medan Pos)

Pendopo ini masih lengang. Tidak ada yang mampir kecuali dingin dan sisa air hujan yang menempel di bangkunya. Tidak ada yang hadir kecuali ingatan tentangmu yang berlompatan keluar. Tidak ada yang mampu kutahan, saat jemariku dengan lihai menuliskan kembali diksi indah tentang wajahmu. Dan lagi-lagi, pendopo ini menjadi saksi bisu atas kelakukan rinduku. Tumpah ruah segala ingatan yang kutanam dalam-dalam. Mencabik pondasi kekuatanku untuk tidak menumpahkan air mata.
Menginjak tahun terakhirku di kampus, izinkan aku mengais kembali kenangan tentang masa silam yang pernah kutitipkan pada matamu. Jauh sebelum aku menyadari, Tuhan pernah menempelkan cinta pada pelupuk mata ini. Bertuankan namamu yang hingga sekarang melekat di hati. Sulit bagiku melupakan cinta pertama. Apalagi saat kondisi pahit berbenturan dengan segala asa yang hampir patah. Menyadari tidak ada kamu di sini lagi, seperti kehilangan pegangan saat kapalku mulai goyang.
Ada banyak yang harus kupikirkan, dan semuanya tidak seberat dulu saat hatiku masih memilihmu. Menautkannya dan berpegangan erat pada nama dan nasihat-nasihatmu. Aku butuh. Aku rapuh. Butuh kamu di saat aku tidak mampu memilih mana yang paling baik untuk diriku. Rapuh karena sekarang aku merasa akan jatuh dan melangkah bersama ragu. Tolong, kembalikan masa-masa sakit karena mengharapkanmu. Bagiku, itu lebih baik daripada harus menanggung sakit karena bersama cinta tidak pernah berbuat baik.
Aku memandang sekeliling. Pendopo ini menguarkan aroma kerinduan yang teramat dalam. Masa-masa nakalku mencuri pandang aktivitasmu. Masa-masa bodohku memperhatikan gerakmu dari sudut pendopo ini. Tidak ada yang hal-hal berarti yang kudapatkan sejak duduk di pendopo ini dan memanjakan retinaku dengan bayangmu, kecuali satu; ketenangan.
Jangan tertawakan, ya. Sebab itu adalah kelakuan bodoh mahasiswi semester satu yang baru tersentuh cupid merah jambu. Dan menjadi mahasiswi semester akhir yang kembali menziarahimu dalam kenangan paling jauh. Kupikir masa-masa sibukku di kampus ini akan menghapus kamu dari ingatan. Nyatanya, pendopo ini saja masih menyimpan kamu di sudut-sudut tiangnya. Lalu, harus kuapakan rindu yang hampir tumpah ini?
Menutup kran-nya dan kembali ke dunia nyata. Atau kubuka saja kran-nya agar rinduku tidak menjadi pesakitan. Pada akhirnya semua kembali ke pilihanku sendiri. Kamu, sadarkah bahwa sampai detik ini ada perempuan yang sakit karena merindukanmu? Yang bahkan rela berjam-jam menuntaskan rindunya lewat tulisan di sudut pendopo kampus. Tempat di mana ia pertama kali menjatuhkan hatinya padamu. Pada kesederhanaan dan kedewasaanmu.
Tidak. Aku tidak lagi mengharapkanmu. Tidak lagi mencatut namamu dalam doa. Mengadukan dan memintanya pada Tuhan. Karena toh sebenarnya jodoh itu sederhana. Kita sibuk berdoa dan Tuhanlah yang tetap bisa menentukannya. Aku belajar dari mencintai rasa sakit, bahwa sesungguh rasa adalah menyimpannya dalam diam dan tidak merasa memiliki seutuhnya. Begitu pun kamu. Sesederhana itu aku memaknai rindu atas wajahmu.
“Bagaimana kuliahnya?”
“Lancarkah menulisnya?”
Dua pertanyaan yang tidak pernah alpa tiap dulu kita berjumpa. Bahkan sampai detik ini, kamu selalu menanyakan hal yang sama. Pertanyaan basa basi-kah? Atau memang hanya itu yang berputar dalam kepalamu ketika mengingat aku? Tidak bisakah kamu menanyakan hal-hal yang membuatku tersenyum? Seperti “Bagaimana perasaanmu? Masihkah mencintaiku?” Ah, maaf. Jika rinduku telah tumpah dan membanjiri pendopo ini. Hingga pikiranku dipenuhi dengan pertanyaan bodoh yang membuatku malu sendiri.
Mana mungkin kamu akan menanyakan itu. Kamu bukan tipikal lelaki seperti itu. Bahkan untuk sekadar mengintip apa yang ada di hatimu saja aku belum mampu. Pernah kucoba tapi tidak berhasil. Terlalu rapat kamu menyimpan segalanya. Terlalu erat kamu merahasiakan semuanya. Kamu tidak menjauhiku. Kamu juga tidak mendekatiku. Semuanya berjalan laksana perintah Tuhan.
Titik-titik rindu ini membuatku sadar, bahwa sesungguhnya kini aku tidak lagi ada dalam wadah itu. Bahkan untuk menceritakan kegundahanku padamu saja rasanya sudah tak pantas. Kuputuskan untuk tidak menyukaimu lagi waktu itu. Padahal hatiku seperti kutub utara dan wajahmu seperti kutub selatan. Yang mana akan selalu tertarik saat kita berdekatan. Ah, bagaimana juga aku yang memutuskan. Untuk tetap mencintaimu atau pulang meninggalkanmu.
Aku menghela napas dalam-dalam. Mendongakkan kepala agar bulir air mata tidak jatuh ke bawah. Bagaimana bisa aku terbawa suasana saat kembali menuliskan tentangmu di sudut pendopo ini. Matahari mulai merangkak naik, cahayanya persis seperti dulu saat kita berkegiatan di sini. Apa kamu tahu, semua slide-slide itu berlompatan dari kepalaku. Rinduku belum juga usai, sementara pendopo ini mulai dipadati mahasiswa lain.
Konsentrasiku buyar. Namun rinduku tidak. Gilanya, aku bahkan berharap ada wajahmu di antara kerumunan itu. Mataku haus menatap wajahmu diam-diam. Memperhatikannya dengan perasaan yang dalam. Untuk kemudian mengalihkannya cepat-cepat karena takut ketahuan.
Apa kamu tahu, banyak sekali perasaan bimbang yang hadir di benakku saat ini. Berpikir keras apakah jalan melupakanmu adalah keputusan terbaik. Atau hanya akan menumbuhkan rasa susah sendiri di hatiku. Nyatanya, aku kelimpungan menghadapinya seorang diri. Di saat aku merasa telah salah memilih jalan dan merasa sendirian menghadapinya. Meski saat dulu pun aku tetap sendirian tanpa kamu tahu bagaimana bentuk perasaanku.
Bantu aku menumpahkan kesusahan ini. Semester akhirku sudah menyita banyak pikiran, bagaimana lagi aku akan menghadapi hal-hal buruk di luar itu? Aku hanya bisa meluapkannya lewat air mata, menangisi segalanya. Andai aku tidak melangkah sejauh ini, tentu aku masih bisa sebahagia dulu. Tanpa ada beban pikiran yang berarti.
Ketahuilah, menjadi aku tidak mudah. Spesies perempuan yang sulit mengatasi hatinya sendiri. Yang selalu kesusahan menempatkan diri. Bahkan terlalu lugu menerima segala perhatian orang lain.  Tak perlu kusebutkan semuanya, pendopo ini jelas tahu sekali bagaimana rindu perempuan ini. Sebab ia telah membanjirinya dengan kata-kata.
Kamu, menyehatlah selalu dalam doaku.
Berbahagialah atas segala pilihan dan pekerjaanmu sekarang. Tidak usah mencemaskan rindu yang berlebihan dari gadis bodoh ini. Ia sudah lega ketika mendoakan segala yang baik atas namamu. Tidak lagi memintamu pada Tuhan. Tidak lagi mengharapkan perhatianmu yang memang sebenarnya tidak akan mungkin terjadi untukku.
Sudahlah. Pendopo semakin ramai. Aku harus memunguti rindu ini sebelum jam perkuliahan dimulai. Sebelum terinjak sepatu mahasiswa lain. Pendopo ini telah membantuku menuntaskan rindu meski tanpa melihat wajahmu. Sudutnya masih basah oleh titik rindu yang terbuang. Meski begitu aku tenang. Terima kasih telah bertandang ke pikiranku sepagi ini. Membuat hangat pendopoku kali ini. Baik-baik di sana. Dengan doa yang tak terputus. Dengan harapan yang tak tergerus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar