Pendopo
ini masih lengang. Tidak ada yang mampir kecuali dingin dan sisa air hujan yang
menempel di bangkunya. Tidak ada yang hadir kecuali ingatan tentangmu yang
berlompatan keluar. Tidak ada yang mampu kutahan, saat jemariku dengan lihai
menuliskan kembali diksi indah tentang wajahmu. Dan lagi-lagi, pendopo ini
menjadi saksi bisu atas kelakukan rinduku. Tumpah ruah segala ingatan yang
kutanam dalam-dalam. Mencabik pondasi kekuatanku untuk tidak menumpahkan air
mata.
Menginjak
tahun terakhirku di kampus, izinkan aku mengais kembali kenangan tentang masa
silam yang pernah kutitipkan pada matamu. Jauh sebelum aku menyadari, Tuhan
pernah menempelkan cinta pada pelupuk mata ini. Bertuankan namamu yang hingga sekarang
melekat di hati. Sulit bagiku melupakan cinta pertama. Apalagi saat kondisi
pahit berbenturan dengan segala asa yang hampir patah. Menyadari tidak ada kamu
di sini lagi, seperti kehilangan pegangan saat kapalku mulai goyang.
Ada
banyak yang harus kupikirkan, dan semuanya tidak seberat dulu saat hatiku masih
memilihmu. Menautkannya dan berpegangan erat pada nama dan nasihat-nasihatmu.
Aku butuh. Aku rapuh. Butuh kamu di saat aku tidak mampu memilih mana yang
paling baik untuk diriku. Rapuh karena sekarang aku merasa akan jatuh dan
melangkah bersama ragu. Tolong, kembalikan masa-masa sakit karena
mengharapkanmu. Bagiku, itu lebih baik daripada harus menanggung sakit karena
bersama cinta tidak pernah berbuat baik.
Aku
memandang sekeliling. Pendopo ini menguarkan aroma kerinduan yang teramat
dalam. Masa-masa nakalku mencuri pandang aktivitasmu. Masa-masa bodohku
memperhatikan gerakmu dari sudut pendopo ini. Tidak ada yang hal-hal berarti
yang kudapatkan sejak duduk di pendopo ini dan memanjakan retinaku dengan
bayangmu, kecuali satu; ketenangan.
Jangan
tertawakan, ya. Sebab itu adalah kelakuan bodoh mahasiswi semester satu yang
baru tersentuh cupid merah jambu. Dan menjadi mahasiswi semester akhir yang
kembali menziarahimu dalam kenangan paling jauh. Kupikir masa-masa sibukku di
kampus ini akan menghapus kamu dari ingatan. Nyatanya, pendopo ini saja masih
menyimpan kamu di sudut-sudut tiangnya. Lalu, harus kuapakan rindu yang hampir
tumpah ini?
Menutup
kran-nya dan kembali ke dunia nyata. Atau kubuka saja kran-nya agar rinduku
tidak menjadi pesakitan. Pada akhirnya semua kembali ke pilihanku sendiri.
Kamu, sadarkah bahwa sampai detik ini ada perempuan yang sakit karena
merindukanmu? Yang bahkan rela berjam-jam menuntaskan rindunya lewat tulisan di
sudut pendopo kampus. Tempat di mana ia pertama kali menjatuhkan hatinya
padamu. Pada kesederhanaan dan kedewasaanmu.
Tidak.
Aku tidak lagi mengharapkanmu. Tidak lagi mencatut namamu dalam doa. Mengadukan
dan memintanya pada Tuhan. Karena toh sebenarnya jodoh itu sederhana. Kita
sibuk berdoa dan Tuhanlah yang tetap bisa menentukannya. Aku belajar dari
mencintai rasa sakit, bahwa sesungguh rasa adalah menyimpannya dalam diam dan
tidak merasa memiliki seutuhnya. Begitu pun kamu. Sesederhana itu aku memaknai
rindu atas wajahmu.
“Bagaimana
kuliahnya?”
“Lancarkah
menulisnya?”
Dua
pertanyaan yang tidak pernah alpa tiap dulu kita berjumpa. Bahkan sampai detik
ini, kamu selalu menanyakan hal yang sama. Pertanyaan basa basi-kah? Atau
memang hanya itu yang berputar dalam kepalamu ketika mengingat aku? Tidak
bisakah kamu menanyakan hal-hal yang membuatku tersenyum? Seperti “Bagaimana
perasaanmu? Masihkah mencintaiku?” Ah, maaf. Jika rinduku telah tumpah dan
membanjiri pendopo ini. Hingga pikiranku dipenuhi dengan pertanyaan bodoh yang
membuatku malu sendiri.
Mana
mungkin kamu akan menanyakan itu. Kamu bukan tipikal lelaki seperti itu. Bahkan
untuk sekadar mengintip apa yang ada di hatimu saja aku belum mampu. Pernah
kucoba tapi tidak berhasil. Terlalu rapat kamu menyimpan segalanya. Terlalu
erat kamu merahasiakan semuanya. Kamu tidak menjauhiku. Kamu juga tidak
mendekatiku. Semuanya berjalan laksana perintah Tuhan.
Titik-titik
rindu ini membuatku sadar, bahwa sesungguhnya kini aku tidak lagi ada dalam
wadah itu. Bahkan untuk menceritakan kegundahanku padamu saja rasanya sudah tak
pantas. Kuputuskan untuk tidak menyukaimu lagi waktu itu. Padahal hatiku
seperti kutub utara dan wajahmu seperti kutub selatan. Yang mana akan selalu
tertarik saat kita berdekatan. Ah, bagaimana juga aku yang memutuskan. Untuk
tetap mencintaimu atau pulang meninggalkanmu.
Aku
menghela napas dalam-dalam. Mendongakkan kepala agar bulir air mata tidak jatuh
ke bawah. Bagaimana bisa aku terbawa suasana saat kembali menuliskan tentangmu
di sudut pendopo ini. Matahari mulai merangkak naik, cahayanya persis seperti
dulu saat kita berkegiatan di sini. Apa kamu tahu, semua slide-slide itu
berlompatan dari kepalaku. Rinduku belum juga usai, sementara pendopo ini mulai
dipadati mahasiswa lain.
Konsentrasiku
buyar. Namun rinduku tidak. Gilanya, aku bahkan berharap ada wajahmu di antara
kerumunan itu. Mataku haus menatap wajahmu diam-diam. Memperhatikannya dengan
perasaan yang dalam. Untuk kemudian mengalihkannya cepat-cepat karena takut
ketahuan.
Apa
kamu tahu, banyak sekali perasaan bimbang yang hadir di benakku saat ini.
Berpikir keras apakah jalan melupakanmu adalah keputusan terbaik. Atau hanya
akan menumbuhkan rasa susah sendiri di hatiku. Nyatanya, aku kelimpungan
menghadapinya seorang diri. Di saat aku merasa telah salah memilih jalan dan
merasa sendirian menghadapinya. Meski saat dulu pun aku tetap sendirian tanpa
kamu tahu bagaimana bentuk perasaanku.
Bantu
aku menumpahkan kesusahan ini. Semester akhirku sudah menyita banyak pikiran,
bagaimana lagi aku akan menghadapi hal-hal buruk di luar itu? Aku hanya bisa
meluapkannya lewat air mata, menangisi segalanya. Andai aku tidak melangkah
sejauh ini, tentu aku masih bisa sebahagia dulu. Tanpa ada beban pikiran yang
berarti.
Ketahuilah,
menjadi aku tidak mudah. Spesies perempuan yang sulit mengatasi hatinya
sendiri. Yang selalu kesusahan menempatkan diri. Bahkan terlalu lugu menerima
segala perhatian orang lain. Tak perlu
kusebutkan semuanya, pendopo ini jelas tahu sekali bagaimana rindu perempuan
ini. Sebab ia telah membanjirinya dengan kata-kata.
Kamu,
menyehatlah selalu dalam doaku.
Berbahagialah
atas segala pilihan dan pekerjaanmu sekarang. Tidak usah mencemaskan rindu yang
berlebihan dari gadis bodoh ini. Ia sudah lega ketika mendoakan segala yang
baik atas namamu. Tidak lagi memintamu pada Tuhan. Tidak lagi mengharapkan
perhatianmu yang memang sebenarnya tidak akan mungkin terjadi untukku.
Sudahlah. Pendopo
semakin ramai. Aku harus memunguti rindu ini sebelum jam perkuliahan dimulai.
Sebelum terinjak sepatu mahasiswa lain. Pendopo ini telah membantuku
menuntaskan rindu meski tanpa melihat wajahmu. Sudutnya masih basah oleh titik
rindu yang terbuang. Meski begitu aku tenang. Terima kasih telah bertandang ke
pikiranku sepagi ini. Membuat hangat pendopoku kali ini. Baik-baik di sana.
Dengan doa yang tak terputus. Dengan harapan yang tak tergerus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar