Total Tayangan Halaman

Senin, 27 November 2017

Hari Ketika Kau Pergi (Terbit 19 November 2017, Harian Medan Pos)

Giska menyandarkan kepalanya ke bahu Abi, seperti yang sering ia lakukan setiap kali bertemu. Tapi hari ini beda, gadis itu juga menggenggam lengannya sedikit kencang, seakan-akan takut berpisah jauh. Wangi sampo yang menguar dari rambut panjang Giska memenuhi indera penciumannya. Desahan napas gadis itu seakan desahan napas terindah yang pernah didengar Abi. Saat itu mereka sedang berada di padang rumput yang penuh dengan dandelion. Giska tidak melepas genggaman tangannya barang sedetik pun. Ia menggumam pelan, seperti hendak mengatakan sesuatu.
“Abi…” suara Giska terdengar bergetar di bahunya. “Ya?” sahutnya lembut. “Aku lelah. Lelah sekali. Kau tahu, ini adalah hari paling melelahkan dalam hidupku,” “Kau sakit?” tanyanya khawatir. Giska mengangguk. Selama mengenalnya, Abi bahkan tidak pernah melihat Giska menunjukkan bahwa ia sakit. Meski gadis itu menderita disleksia sejak kecil, tapi Giska tidak pernah mau menyebutkan bahwa dirinya sakit. Ia berusaha tampak sehat. Bahkan tidak pernah mau dibilang sakit. Tapi kali ini kenapa? Kenapa ia malah menganggukkan kepala? Apa ia sekarang sedang benar-benar sakit? Abi bertanya dalam hati, menerka-nerka jawabannya.
“Aku lelah, Bi. Aku ingin tidur. Tidur panjang sampai waktu yang tidak bisa kutentukan,” ucapnya gemetar. “Apa yang kau katakan?” Abi menggeser duduknya, membuat Giska terpaksa mengangkat kepalanya dari bahu itu. Lantas keduanya bersitatap. Abi menatap dalam mata hazzel itu. Ia berusaha keras menyelami apa yang ada dipikiran gadis itu lewat mata indahnya. “Kau.. baik-baiklah di sini. Aku perginya lama. Jangan menungguku. Lanjutkan sekolahmu. Ah iya, sebentar lagi kita lulus, dan kau akan melanjut kuliah. Belajarlah dengan giat, jangan kecewakan orang tuamu,” Giska mengusap lembut pipinya.
Abi tidak mengerti dengan segala ucapan Giska. Namun tanpa sadar, setetes air mata luruh dan mengalir lembut di pipinya. “Jangan menangisi aku. Jangan keluarkan air matamu untuk orang tak berguna sepertiku,” Abi sudah menyentuh bibir gadis itu dengan telunjuknya. Ia tidak mengatakan apa-apa selain menatap mata gadis itu dengan penuh kesedihan. Ia berada bersama gadis yang selama ini mengharapkan kekuatan darinya. Tetapi apa yang terjadi sekarang? Ia menangis, merasa putus asa dan dikuatkan oleh seseorang yang justru seharusnya ia hibur. Seketika itu juga Abi mengambil keputusan. Dihapusnya pipi yang basah. Ia tidak boleh menangis lagi! Dengan tangannya yang bebas, kedua telapak tangan Giska diremasnya kuat.
“Maafkan aku, Giska,” katanya, suaranya masih parau. “Seharusnya aku tidak boleh memperlihatkan kelemahan hatiku seperti ini di depanmu,” Lewat matanya yang masih buram oleh air mata, ia lihat Giska tersenyum. Mata gadis itu tampak merah. “Abi…” bisik Giska parau. “Sesungguhnya aku bahagia pernah mengenalmu. Aku bahagia pernah menjadi orang paling penting di hidupmu. Dan aku bahagia pernah menjadi orang nomor satu dalam hatimu,” Abi tersenyum. Dirasakannya lagi matanya terasa panas.
“Giska, aku mencintaimu…” bisik Abi. Dan untuk pertama kalinya, ia mencium kening gadis itu. Ia pejamkan matanya lama. Air matanya ikut tumpah, membasahi poni Giska. “Aku lebih dari itu, Bi,” bisik Giska kemudian. “Jaga dirimu baik-baik,” Lalu Abi tersentak. Ketika Abi membuka matanya, dia tak menemukan Giska di sampingnya.
Ia terbangun dari tidurnya. Yang dilihatnya hanyalah ruangan putih dengan bau obat yang begitu menusuk hidung. Ini semua hanya mimpi? Tanyanya dalam hati. Ia menyentuh sudut matanya, basah. Abi benar-benar menangis. Ia sendiri masih bingung dengan mimpi barusan. Otaknya kembali memutar kenangan tentang Giska. Gadis itu… aku harus melihatnya, batinnya. Perlahan Abi bangun dan keluar dari ruangan itu. Kesehatannya sudah jauh lebih baik dari kemarin. Jadi ia merasa tidak ada masalah jika ia pamit untuk kabur sebentar ke ruangan Giska. Sekarang ia sudah tiba di lorong rumah sakit di lantai tiga, ketika dilihatnya beberapa orang suster terburu-buru keluar dari sebuah ruangan.
“Pasien yang baru masuk dua hari lalu, bagaimana keadaannya?” tanya seorang Dokter dengan napas yang sedikit terengah-engah. Abi berpikir bahwa Dokter itu baru saja berlari, mengejar waktu untuk sampai ke ruangan salah satu pasien. “Pasien itu… telah meninggal dunia, Dok,” jawab sang suster. Dokter segera berlari menuju ruangan yang disebutkan sang suster itu, “310, Dok,” teriak sang suster sesaat sebelum Dokter beranjak pergi.
DEG! Jantung Abi seakan berhenti berdetak mendengarnya. 310? Abi tidak bisa mengendalikan perasaannya. Ia seakan dijatuhkan ke dasar jurang paling dalam lalu ditimpa batu besar yang amat menyakitkan. Dengan segala kekuatan yang tersisa, ia mencoba berlari menuju ruangan itu, ruangan yang tidak lain adalah ruang rawat Giska. Ia mendorong pintu itu pelan, berusaha memastikan bahwa apa yang didengar dan dilihatnya kini berbeda. Ia berharap pasien di ruangan itu bukanlah Giska. Ia berharap Giska telah dipindahkan ke ruangan lain dan yang meninggal dunia bukanlah kekasihnya.
Namun apa yang dipikirkan dan diharapkannya tak akan pernah terjadi. Sebab ketika pintu itu terbuka, ia melihat Kiki dan Mario yang tengah banjir air mata. Kiki menatapnya dengan tatapan yang sangat menyayat hati. Ia bahkan tidak lagi sempat berpikir mengapa Abi bisa ada di sini sekarang. Abi melangkah masuk, mencoba mengajak kaki-kakinya berdamai agar mau bergerak. Dilihatnya Dokter dan para suster membereskan alat-alat medis yang awalnya memenuhi tubuh kekasihnya. Oksigen, selang infus, dan beberapa alat medis yang bertebaran di tubuh Giska.
Dia telah sampai tepat di samping Mama Giska. Wanita paruh baya itu tak sanggup lagi menahan bongkahan kesedihan yang menjalari hatinya, perempuan itu menubruk tubuhnya, memeluknya kencang, dengan isakan yang menyayat perasaan. Abi hanya merasa tubuhnya sudah bergetar hebat. Air matanya sudah mengalir deras sejak tadi, meski tanpa ekspresi. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya kini. Di depan kedua matanya, gadis itu diam tak bergerak. Tidak ada lagi hembusan napas di sana. Tidak ada lagi nyawa di tubuh mungil itu.
Giska benar-benar telah berbeda. Meski ia masih tetap cantik di balik wajah pucatnya. Abi menggenggam tangan Giska. Dingin. Tak ada lagi aliran darah yang mengalir di sana. Abi menggigit bibir bawahnya kuat sekali. Ingatannya kembali pada malam terakhir ia bersama Giska. Es krim. Candaan hangat. Mawar putih. Kecelakaan itu. Tubuh Abi bergetar hebat, tangisnya meledak. Ia masih menggenggam tangan dingin itu. “Buka matamu, Giska,” katanya tertahan. Semua yang ada di ruangan itu menatap Abi sendu.  “Ayo, buka matamu. Kau berhutang banyak padaku. Kita masih harus bersama. Kita masih harus menyelesaikan ujian. Masih banyak yang belum kita lakukan bersama,” Abi menjambak rambutnya. “Maafkan aku, Giska. Maafkan aku,” isaknya lagi.
Kiki mendekat ke arahnya, merangkulnya dari belakang. Sungguh berat cobaan ini. Tak pernah ia menyangka Giska secepat ini pergi dari sisinya. Kehilangan ini benar-benar memukulnya habis-habisan. Rasanya ia direnggut dari tempat yang masih ingin ia nikmati. Mengapa secepat ini? Mengapa harus dengan cara seperti ini? Salahku. Ini benar-benar salahku, bisik Abi dalam hati.
Percuma. Ia tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi pada Giska. Masalah penyakit itu, ia banyak membeli buku-buku yang berkaitan dengan disleksia. Ia paham bahwa disleksia tidak akan mengambil Giska darinya. Buku-buku itu memberinya pemahaman bahwa disleksia hanya sebatas kelainan disfungsi abu-abu pada otak. Tapi Tuhan tetap menginginkan Giska. Ia ambil Giska dengan cara seperti ini. Bahkan Tuhan tak membiarkannya menatap bola mata indah itu untuk terakhir kalinya. Abi mengusap wajahnya. Hatinya bertambah sakit mengingat itu semua. “Selamat tidur, Giska,” ucapnya lirih. Mulai sekarang kita tak bisa bertemu lagi, tambahnya dalam hati.
* * *
Rabu mendung di rumah Giska. Selepas Dzuhur jenazahnya akan dimakamkan. Semua yang hadir memakai pakaian berkabung dengan tatapan kosong di udara. Isak tangis terdengar bersahut-sahutan memenuhi udara. Abi memejamkan matanya. Pikirannya berjalan. Terlalu banyak memori indah yang digoreskan gadis itu di hatinya. Ini ada kali kedua ia menangis sejak tiga tahun belakangan. Terakhir ketika Melisa pergi meninggalkannya tanpa sebab. Dan kini, ia harus kembali merasakan kehilangan. Bahkan lebih dalam dari sebelumnya
Dia harus kuat, harus. Mimpi itu, adalah salah satu cara Giska memberitahu bahwa ia terlalu lelah di dunia ini. Giska bahkan masih mau menemuinya dalam mimpi meski saat itu ia tak sedang memikirkan gadis itu. Abi melangkah mendekat beberapa meter dari tempat dimana Giska dibaringkan. Ia ingin menatap gadis itu untuk yang terakhir kalinya. Ia yakin, Giska pun ingin melihatnya meski dengan mata tertutup. Tangannya terus dikepal dan bibirnya terus menerus digigit agar ia tak menuruti keinginan hatinya untuk menubruk tubuh mungil yang terbaring tenang di tengah ruangan itu. Abi mengusap air matanya yang berulang kali jatuh, Ya Tuhan, betapa jauhnya dia kini walau jasadnya masih bisa terlihat mataku, batin Abi menangis.
Abi segera menjauh tatkala melihat keluarga Giska yang lain memasuki ruangan. Di sudut ruangan itu, ia berpegangan pada tepi pintu. Kakinya gemetaran, dadanya sesak sekali menyimpan gumpalan-gumpalan tangis yang sejak tadi tak kunjung mengering. Bisa dilihatnya Yoana memeluk tubuh kaku itu dengan duka yang tak kalah dalam. Alangkah nyeri hatinya mendapati sosok ceria itu tak lagi ada di dunia. Tamu-tamu terus mengalir dan menyalami Mama Giska, Kiki juga Mario, mengucapkan belasungkawa pada mereka. Bahkan Mario yang Abi tahu dulunya sangat dingin pada Giska, kini menangis terang-terangan untuknya.
Yoana mendekat, lantas memeluknya erat. Menumpahkan air mata kesedihan yang entah berapa banyaknya. Tak dihiraukannya, matanya menatap sayu ke tubuh kaku itu. ia pejamkan matanya lama, untuk mengurangi gemuruh di dadanya yang seakan mau meledak. Abi merintih dalam hati; kau gadis istimewa yang Tuhan berikan padaku. Kau mengajariku banyak hal tanpa kau tahu. Cinta, kesetiaan dan rasa saling menerima. Kenapa harus mempermasalahkan sakitmu? Sebab aku yakin kau takkan meninggalkanku karena penyakit itu. Mari kita lewati hari bersama. Berdua. Menjadi sepasang kekasih yang bersahabat.
Aku tahu dirimu tak sempurna. Namun untukku, kau lebih dari indah. Lalu kenapa kau tertidur? Hey, bangun! Buka matamu! Hentikan lelucon ini. Kau berhasil membuatku menangis untuk pertama kalinya. Kau berhasil membuatku seperti orang gila. Lihat Ibumu, kakakmu, juga sahabatmu, mereka semua menangis. Kau jahat! Kau telah membuat mereka menangis. Bahkan Mario, dia tak pernah menangis untukmu, kan? Tapi lihat sekarang, dia yang paling deras menitikkan air mata.
Seperti rasa yang ditali mati, demikian aku ingin memelukmu detik ini. Jangan pergi! Ini terlalu sakit buatku. Dua ratus enam puluh satu hari. Ya, ini hari ke dua ratus enam puluh satu aku mencintaimu. Ralat, bukan aku, tapi kita. Dua ratus enam puluh satu hari kita saling mencintai. Dan untuk selamanya kau akan kucintai.. Jaga dirimu baik-baik juga. Aku mencintaimu. Selalu
Abi menarik napasnya panjang. Ia buka matanya perlahan. Air matanya jatuh lagi. Namun kali ini ia merasa lega, sebab segala yang ingin diutarakannya telah ia ucapkan meski dalam hati. Sekarang, ia hanya punya satu keinginan, mengantar jasad kekasihnya disemayamkan ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar