Giska
menyandarkan kepalanya ke bahu Abi, seperti yang sering ia lakukan setiap kali
bertemu. Tapi hari ini beda, gadis itu juga menggenggam lengannya sedikit
kencang, seakan-akan takut berpisah jauh. Wangi sampo yang menguar dari rambut
panjang Giska memenuhi indera penciumannya. Desahan napas gadis itu seakan
desahan napas terindah yang pernah didengar Abi. Saat itu mereka sedang berada
di padang rumput yang penuh dengan dandelion. Giska tidak melepas genggaman
tangannya barang sedetik pun. Ia menggumam pelan, seperti hendak mengatakan
sesuatu.
“Abi…”
suara Giska terdengar bergetar di bahunya. “Ya?” sahutnya lembut. “Aku lelah.
Lelah sekali. Kau tahu, ini adalah hari paling melelahkan dalam hidupku,” “Kau
sakit?” tanyanya khawatir. Giska mengangguk. Selama mengenalnya, Abi bahkan
tidak pernah melihat Giska menunjukkan bahwa ia sakit. Meski gadis itu
menderita disleksia sejak kecil, tapi Giska tidak pernah mau menyebutkan bahwa
dirinya sakit. Ia berusaha tampak sehat. Bahkan tidak pernah mau dibilang
sakit. Tapi kali ini kenapa? Kenapa ia malah menganggukkan kepala? Apa ia
sekarang sedang benar-benar sakit? Abi bertanya dalam hati, menerka-nerka
jawabannya.
“Aku
lelah, Bi. Aku ingin tidur. Tidur panjang sampai waktu yang tidak bisa
kutentukan,” ucapnya gemetar. “Apa yang kau katakan?” Abi menggeser duduknya,
membuat Giska terpaksa mengangkat kepalanya dari bahu itu. Lantas keduanya
bersitatap. Abi menatap dalam mata hazzel itu. Ia berusaha keras menyelami apa
yang ada dipikiran gadis itu lewat mata indahnya. “Kau.. baik-baiklah di sini.
Aku perginya lama. Jangan menungguku. Lanjutkan sekolahmu. Ah iya, sebentar
lagi kita lulus, dan kau akan melanjut kuliah. Belajarlah dengan giat, jangan
kecewakan orang tuamu,” Giska mengusap lembut pipinya.
Abi
tidak mengerti dengan segala ucapan Giska. Namun tanpa sadar, setetes air mata
luruh dan mengalir lembut di pipinya. “Jangan menangisi aku. Jangan keluarkan
air matamu untuk orang tak berguna sepertiku,” Abi sudah menyentuh bibir gadis
itu dengan telunjuknya. Ia tidak mengatakan apa-apa selain menatap mata gadis
itu dengan penuh kesedihan. Ia berada bersama gadis yang selama ini
mengharapkan kekuatan darinya. Tetapi apa yang terjadi sekarang? Ia menangis,
merasa putus asa dan dikuatkan oleh seseorang yang justru seharusnya ia hibur.
Seketika itu juga Abi mengambil keputusan. Dihapusnya pipi yang basah. Ia tidak
boleh menangis lagi! Dengan tangannya yang bebas, kedua telapak tangan Giska
diremasnya kuat.
“Maafkan
aku, Giska,” katanya, suaranya masih parau. “Seharusnya aku tidak boleh
memperlihatkan kelemahan hatiku seperti ini di depanmu,” Lewat matanya yang
masih buram oleh air mata, ia lihat Giska tersenyum. Mata gadis itu tampak
merah. “Abi…” bisik Giska parau. “Sesungguhnya aku bahagia pernah mengenalmu.
Aku bahagia pernah menjadi orang paling penting di hidupmu. Dan aku bahagia
pernah menjadi orang nomor satu dalam hatimu,” Abi tersenyum. Dirasakannya lagi
matanya terasa panas.
“Giska,
aku mencintaimu…” bisik Abi. Dan untuk pertama kalinya, ia mencium kening gadis
itu. Ia pejamkan matanya lama. Air matanya ikut tumpah, membasahi poni Giska.
“Aku lebih dari itu, Bi,” bisik Giska kemudian. “Jaga dirimu baik-baik,” Lalu
Abi tersentak. Ketika Abi membuka matanya, dia tak menemukan Giska di
sampingnya.
Ia
terbangun dari tidurnya. Yang dilihatnya hanyalah ruangan putih dengan bau obat
yang begitu menusuk hidung. Ini semua hanya mimpi? Tanyanya dalam hati. Ia
menyentuh sudut matanya, basah. Abi benar-benar menangis. Ia sendiri masih
bingung dengan mimpi barusan. Otaknya kembali memutar kenangan tentang Giska.
Gadis itu… aku harus melihatnya, batinnya. Perlahan Abi bangun dan keluar dari
ruangan itu. Kesehatannya sudah jauh lebih baik dari kemarin. Jadi ia merasa
tidak ada masalah jika ia pamit untuk kabur sebentar ke ruangan Giska. Sekarang
ia sudah tiba di lorong rumah sakit di lantai tiga, ketika dilihatnya beberapa
orang suster terburu-buru keluar dari sebuah ruangan.
“Pasien
yang baru masuk dua hari lalu, bagaimana keadaannya?” tanya seorang Dokter
dengan napas yang sedikit terengah-engah. Abi berpikir bahwa Dokter itu baru
saja berlari, mengejar waktu untuk sampai ke ruangan salah satu pasien. “Pasien
itu… telah meninggal dunia, Dok,” jawab sang suster. Dokter segera berlari
menuju ruangan yang disebutkan sang suster itu, “310, Dok,” teriak sang suster
sesaat sebelum Dokter beranjak pergi.
DEG!
Jantung Abi seakan berhenti berdetak mendengarnya. 310? Abi tidak bisa
mengendalikan perasaannya. Ia seakan dijatuhkan ke dasar jurang paling dalam
lalu ditimpa batu besar yang amat menyakitkan. Dengan segala kekuatan yang
tersisa, ia mencoba berlari menuju ruangan itu, ruangan yang tidak lain adalah
ruang rawat Giska. Ia mendorong pintu itu pelan, berusaha memastikan bahwa apa
yang didengar dan dilihatnya kini berbeda. Ia berharap pasien di ruangan itu
bukanlah Giska. Ia berharap Giska telah dipindahkan ke ruangan lain dan yang
meninggal dunia bukanlah kekasihnya.
Namun
apa yang dipikirkan dan diharapkannya tak akan pernah terjadi. Sebab ketika
pintu itu terbuka, ia melihat Kiki dan Mario yang tengah banjir air mata. Kiki
menatapnya dengan tatapan yang sangat menyayat hati. Ia bahkan tidak lagi
sempat berpikir mengapa Abi bisa ada di sini sekarang. Abi melangkah masuk,
mencoba mengajak kaki-kakinya berdamai agar mau bergerak. Dilihatnya Dokter dan
para suster membereskan alat-alat medis yang awalnya memenuhi tubuh kekasihnya.
Oksigen, selang infus, dan beberapa alat medis yang bertebaran di tubuh Giska.
Dia
telah sampai tepat di samping Mama Giska. Wanita paruh baya itu tak sanggup
lagi menahan bongkahan kesedihan yang menjalari hatinya, perempuan itu menubruk
tubuhnya, memeluknya kencang, dengan isakan yang menyayat perasaan. Abi hanya
merasa tubuhnya sudah bergetar hebat. Air matanya sudah mengalir deras sejak
tadi, meski tanpa ekspresi. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya
kini. Di depan kedua matanya, gadis itu diam tak bergerak. Tidak ada lagi
hembusan napas di sana. Tidak ada lagi nyawa di tubuh mungil itu.
Giska
benar-benar telah berbeda. Meski ia masih tetap cantik di balik wajah pucatnya.
Abi menggenggam tangan Giska. Dingin. Tak ada lagi aliran darah yang mengalir
di sana. Abi menggigit bibir bawahnya kuat sekali. Ingatannya kembali pada
malam terakhir ia bersama Giska. Es krim. Candaan hangat. Mawar putih.
Kecelakaan itu. Tubuh Abi bergetar hebat, tangisnya meledak. Ia masih
menggenggam tangan dingin itu. “Buka matamu, Giska,” katanya tertahan. Semua
yang ada di ruangan itu menatap Abi sendu. “Ayo, buka matamu. Kau berhutang banyak
padaku. Kita masih harus bersama. Kita masih harus menyelesaikan ujian. Masih
banyak yang belum kita lakukan bersama,” Abi menjambak rambutnya. “Maafkan aku,
Giska. Maafkan aku,” isaknya lagi.
Kiki
mendekat ke arahnya, merangkulnya dari belakang. Sungguh berat cobaan ini. Tak
pernah ia menyangka Giska secepat ini pergi dari sisinya. Kehilangan ini
benar-benar memukulnya habis-habisan. Rasanya ia direnggut dari tempat yang
masih ingin ia nikmati. Mengapa secepat ini? Mengapa harus dengan cara seperti
ini? Salahku. Ini benar-benar salahku, bisik Abi dalam hati.
Percuma.
Ia tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi pada Giska. Masalah penyakit
itu, ia banyak membeli buku-buku yang berkaitan dengan disleksia. Ia paham
bahwa disleksia tidak akan mengambil Giska darinya. Buku-buku itu memberinya
pemahaman bahwa disleksia hanya sebatas kelainan disfungsi abu-abu pada otak.
Tapi Tuhan tetap menginginkan Giska. Ia ambil Giska dengan cara seperti ini.
Bahkan Tuhan tak membiarkannya menatap bola mata indah itu untuk terakhir
kalinya. Abi mengusap wajahnya. Hatinya bertambah sakit mengingat itu semua. “Selamat
tidur, Giska,” ucapnya lirih. Mulai sekarang kita tak bisa bertemu lagi,
tambahnya dalam hati.
*
* *
Rabu
mendung di rumah Giska. Selepas Dzuhur jenazahnya akan dimakamkan. Semua yang
hadir memakai pakaian berkabung dengan tatapan kosong di udara. Isak tangis
terdengar bersahut-sahutan memenuhi udara. Abi memejamkan matanya. Pikirannya
berjalan. Terlalu banyak memori indah yang digoreskan gadis itu di hatinya. Ini
ada kali kedua ia menangis sejak tiga tahun belakangan. Terakhir ketika Melisa
pergi meninggalkannya tanpa sebab. Dan kini, ia harus kembali merasakan
kehilangan. Bahkan lebih dalam dari sebelumnya
Dia
harus kuat, harus. Mimpi itu, adalah salah satu cara Giska memberitahu bahwa ia
terlalu lelah di dunia ini. Giska bahkan masih mau menemuinya dalam mimpi meski
saat itu ia tak sedang memikirkan gadis itu. Abi melangkah mendekat beberapa
meter dari tempat dimana Giska dibaringkan. Ia ingin menatap gadis itu untuk
yang terakhir kalinya. Ia yakin, Giska pun ingin melihatnya meski dengan mata
tertutup. Tangannya terus dikepal dan bibirnya terus menerus digigit agar ia
tak menuruti keinginan hatinya untuk menubruk tubuh mungil yang terbaring tenang
di tengah ruangan itu. Abi mengusap air matanya yang berulang kali jatuh, Ya
Tuhan, betapa jauhnya dia kini walau jasadnya masih bisa terlihat mataku, batin
Abi menangis.
Abi
segera menjauh tatkala melihat keluarga Giska yang lain memasuki ruangan. Di
sudut ruangan itu, ia berpegangan pada tepi pintu. Kakinya gemetaran, dadanya
sesak sekali menyimpan gumpalan-gumpalan tangis yang sejak tadi tak kunjung
mengering. Bisa dilihatnya Yoana memeluk tubuh kaku itu dengan duka yang tak
kalah dalam. Alangkah nyeri hatinya mendapati sosok ceria itu tak lagi ada di
dunia. Tamu-tamu terus mengalir dan menyalami Mama Giska, Kiki juga Mario,
mengucapkan belasungkawa pada mereka. Bahkan Mario yang Abi tahu dulunya sangat
dingin pada Giska, kini menangis terang-terangan untuknya.
Yoana
mendekat, lantas memeluknya erat. Menumpahkan air mata kesedihan yang entah
berapa banyaknya. Tak dihiraukannya, matanya menatap sayu ke tubuh kaku itu. ia
pejamkan matanya lama, untuk mengurangi gemuruh di dadanya yang seakan mau
meledak. Abi merintih dalam hati; kau gadis istimewa yang Tuhan berikan padaku.
Kau mengajariku banyak hal tanpa kau tahu. Cinta, kesetiaan dan rasa saling
menerima. Kenapa harus mempermasalahkan sakitmu? Sebab aku yakin kau takkan
meninggalkanku karena penyakit itu. Mari kita lewati hari bersama. Berdua.
Menjadi sepasang kekasih yang bersahabat.
Aku
tahu dirimu tak sempurna. Namun untukku, kau lebih dari indah. Lalu kenapa kau
tertidur? Hey, bangun! Buka matamu! Hentikan lelucon ini. Kau berhasil
membuatku menangis untuk pertama kalinya. Kau berhasil membuatku seperti orang
gila. Lihat Ibumu, kakakmu, juga sahabatmu, mereka semua menangis. Kau jahat!
Kau telah membuat mereka menangis. Bahkan Mario, dia tak pernah menangis
untukmu, kan? Tapi lihat sekarang, dia yang paling deras menitikkan air mata.
Seperti
rasa yang ditali mati, demikian aku ingin memelukmu detik ini. Jangan pergi!
Ini terlalu sakit buatku. Dua ratus enam puluh satu hari. Ya, ini hari ke dua
ratus enam puluh satu aku mencintaimu. Ralat, bukan aku, tapi kita. Dua ratus
enam puluh satu hari kita saling mencintai. Dan untuk selamanya kau akan
kucintai.. Jaga dirimu baik-baik juga. Aku mencintaimu. Selalu
Abi menarik napasnya
panjang. Ia buka matanya perlahan. Air matanya jatuh lagi. Namun kali ini ia
merasa lega, sebab segala yang ingin diutarakannya telah ia ucapkan meski dalam
hati. Sekarang, ia hanya punya satu keinginan, mengantar jasad kekasihnya
disemayamkan ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar