Mendung
bukan hanya menghiasi langit Medan kala itu, tapi turut menghiasi mata bulat
Rumaysa. Wanita berusia dua puluh empat tahun itu duduk terpekur seorang diri.
Membiarkan rambutnya dimainkan oleh angin. Awan hitam membentuk
gumpalan-gumpalan menakutkan mulai berarak meratakan langit. Taman kota mulai
lengang, tapi Rumaysa seperti enggan meninggalkan tempat itu.
Ia
memandangi daun maple yang terbuat dari kertas dan telah dilaminasi itu.
Menatapnya lekat-lekat. Seolah ada bongkahan kenangan di dalam sana. Untuk
kemudian dia menarik napas panjang yang berat, mendongakkan kepalanya dan
membiarkan dua tetes air mata menggelinding halus di pipinya. Titik-titik hujan
mulai jatuh satu persatu, membasahi tanah di taman kota itu. Angin melengkapi
gigil hujan meski tidak terlalu kencang. Rumaysa mulai memejamkan matanya.
Menghirup aroma tanah yang dibasahi oleh air hujan. Lalu menarik sedikit ujung
bibirnya hingga membentuk sebuah senyum tipis. Bersama air mata yang jatuh
sekali lagi, Rumaysa mulai bergumam lirih, “Aku rindu kamu, Mas…”
*
* *
Rumaysa
mengintip dari balik pohon besar, memandangi dengan senyum sumringah yang jelas
tidak dapat ditahannya. Matanya tertumbuk pada sosok laki-laki berkacamata yang
tengah sibuk melukis sesuatu. Cuaca sore itu sungguh cerah, secerah hati
Rumaysa melihat pujaan hatinya. Jarak mereka tidak terlalu dekat, namun tidak
juga terlalu jauh. Rumaysa masih sibuk dengan senyum dan gumpalan khayalannya
yang menari-nari di atas kepala. Hingga dua detik kemudian dia menjerit sekuat
tenaga.
Teriakannya
yang tanpa sadar itu jelas menarik perhatian laki-laki berkacamata itu untuk
menoleh dan kemudian mendekatinya. Rumaysa berjongkok sambil memegangi lengan
kirinya. Tanpa sadar ia mulai tersedu.
“Makanya,
kalau mau ngintip itu cari lokasi yang strategis dong!” suara seseorang
mengagetkannya.
Rumaysa
menoleh ke belakang. Tidak menyangka laki-laki yang dijadikannya objek dari
acara menguntitnya itu kini tengah mengomentarinya. Namun sakit di tangannya
membuat ia tidak begitu peduli dengan ocehan lelaki berwajah manis itu. “Sini,
aku lihat!” seru lelaki bernama Hayan itu sembari menarik tangan kiri Rumaysa.
Tiga bentolan berwarna kemerahan menghiasi tangan gadis berambut sebahu itu.
Rumaysa takut-takut menatap Hayan. Takut kalau lelaki berwajah dingin itu
menghardiknya lagi.
Hayan
menarik tangan Rumaysa untuk duduk di sebuah bangku kayu berwarna coklat tua.
Lalu merogoh saku tasnya dan mengambil sesuatu. Mengoleskan minyak kayu putih
ke tangan kiri Rumaysa yang sudah menjadi objek gigitan semut pohon. “Sudah
berapa kali melakukan ini?” tanya Hayan dingin. Rumaysa tergagap mendapati
serangan pertanyaan seperti itu. Ia tahu maksud lelaki itu adalah sudah berapa
kali dia mengikuti dan mengintip seperti tadi.
“Hmm..baru
sekali,” jawab Rumaysa tak kalah dingin. Hayan menjatuhkan tatapannya tepat ke
wajah Rumaysa yang seketika memerah. Rumaysa mengalihkan pandangannya. Tidak
tahan ditatap seperti itu. “Jangan bohong!” desak Hayan sembari memukul kepala
Rumaysa. Tidak pelan, tidak juga terlalu kuat. Membuat gadis itu mengaduh.
“Terus, yang setiap istirahat mengikutiku ke perpustakaan itu, siapa? Yang
mengintipku dari balik rak-rak buku itu, siapa? Yang diam-diam mengikutiku ke
kafetaria untuk makan es krim, siapa? Yang digigit semut karena mengintipku
sore ini, siapa?” Hayan menjabarkan semua kelakuan memalukan Rumaysa.
Seketika
gadis itu mencibirnya kesal. “Tidak perlu dijelaskan semua. Aku melakukan itu
kan karena….” Rumaysa menggantungkan ucapannya. Tidak mungkin ia katakan bahwa
ia melakukan semua itu karena ia menyukai laki-laki kutu buku ini. “Karena
apa?” tanya Hayan pura-pura ingin tahu. Rumaysa menggeleng cepat. Untuk
kemudian dia meraih tasnya yang tergeletak di ujung bangku dan pamit pulang
secepat mungkin. Hayan menatap punggung Rumaysa yang kian menjauh. Gadis itu
tampak sedikit berlari. Malu karena perasaannya hampir saja terbongkar.
Sejak
kejadian sore itu, Hayan tidak lagi sedingin biasanya. Sesekali anak laki-laki
itu memberanikan diri mengajak Rumaysa untuk ke perpustakaan bersama. Sesekali
juga ia meminta izin untuk mengantarkan Rumaysa pulang sekolah. Dan sesekali
pula ia mengirim pesan ke ponsel gadis itu. Semua hal yang dilakukannya
sesekali itu kini berubah menjadi suatu kebiasaan. Hingga akhirnya Hayan
memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan hangat yang dimilikinya pada
Rumaysa.
Di
tengah kepungan awan tebal yang menghiasi langit, Hayan memandang Rumaysa
dengan hangat. Saat itu mereka sedang duduk di bangku taman kota, tempat
pertama mereka bertemu kala itu. “Kau suka hujan?” tanya Hayan pada Rumaysa.
Gadis itu mengangguk mantap. Ya, Rumaysa suka sekali dengan hujan. Tidak ada
yang bisa membantah hal itu. “Kalau kau suka apa?” tanya Rumaysa kembali. Hayan
tersenyum mendengarnya, gadis itu selalu menanyakan semua hal yang ia suka.
Bahkan sejak dulu, sejak Hayan belum sehangat ini padanya.
“Aku
suka aroma tanah karena dibasahi hujan,” jawab Hayan mantap. Rumaysa menatap
laki-laki itu dengan syahdu. Untuk kemudian, rinai hujan mengguyur taman kota
sore itu. Hayan dengan refleks memejamkan matanya dan menarik napas perlahan.
Menghirup aroma tanah yang baru saja dibasahi hujan. Rumaysa tersenyum
memandang wajah Hayan. Apakah itu menyenangkan?
pikir Rumaysa sendiri. “Ini menenangkan, Rumaysa.” Hayan bersuara di balik
pejaman matanya. Rumaysa tersenyum, bahkan Hayan mampu menjawab pertanyaan
hatinya. Laki-laki ini selalu mampu ia jatuh cintai. Setiap hari, tanpa henti.
Tidak
ada yang berubah meski sekarang sudah hampir tujuh tahun lamanya. Kebersamaan Rumaysa
dan Hayan semakin bertambah erat. Mereka melewati masa SMA dan kuliah
bersama-sama. Menjadi teman baik yang saling mendukung dan menasihati. Mereka
juga masih suka menikmati hujan dan menjadi petrichor di sudut taman. Untuk
setelahnya menikmati mie ayam sebelum pulang ke rumah. Bahkan ketika Hayan
mengutarakan keinginannya untuk mempersunting Rumaysa saat itu, ia melakukannya
di taman kota ini. Dengan orang yang sama dan tempat yang sama pula. Tidak
pernah ada yang berubah. Hanya perasaan Hayan saja yang berubah. Berubah
semakin besar hingga ia yakin untuk memperistri Rumaysa saat itu juga.
*
* *
Tubuhnya
telah basah diguyur hujan. Tapi Rumaysa tetap belum beranjak dari duduknya. Ia
pandangi tempat duduk di sebelahnya. Kosong. Tidak ada Hayan yang menemaninya
duduk di taman ini seperti dulu. Tidak ada Hayan yang setia menemani masa-masa
sulit dan bahagianya seperti dulu. Air matanya berguguran lagi. Isaknya semakin
kencang. Rindunya telah membuncah, bahkan untuk saat-saat pertama rumah
tangganya yang seharusnya ia lewati dengan bahagia.
Daun
maple yang telah dilaminasi itu kembali diciuminya. Daun maple hasil lukisan
tangan Hayan, saat gadis itu dulu berusaha mengintipnya di taman kota ini.
Hayan memberikannya saat hubungan mereka resmi dikatakan berpacaran. Hujan sore
itu belum mau berhenti. Seolah ia setia menemani Rumaysa yang tengah meluruhkan
rindunya menjadi butir-butir air mata.
Kecelakaan
yang menimpa Hayan sepulang bekerja itu terjadi satu minggu lalu. Kabar buruk
itu akhirnya mengantarkan Rumaysa dan keluarga pada kepedihan yang maha
panjang. Berusaha mengikhlaskan kepergian Hayan yang baru beberapa bulan
menjadi suaminya ke pangkuan Tuhan. Betapa Rumaysa merasa bahwa ini adalah
kepahitan yang paling pahit selama hidupnya. Dan betapa ia tidak pernah
menyangka bahwa kekasihnya kini tengah tidur untuk selamanya.
Rumaysa mengukir
doa-doa dalam hati dan tangisnya. Meminta kekuatan dari pemilik kehidupan.
Bahwa sejatinya perasaan sakit ini benar-benar menghancurkannya. Dan detik ini
ia benar-benar merindukan suaminya. Meski kini ia telah rela ditinggalkan
seorang diri, tapi butiran rindu terus-menerus ada setiap hari. Dan ia harus
dengan tegar menyulam butir-butir rindu itu menjadi doa-doa paling syahdu untuk
dihantarkannya pada suaminya di singgasana surga. Betapa pun, ditinggalkan
ketika sayang bersarang di dada bukanlah sebuah hal yang mudah. Begitupun bagi
Rumaysa. Hanya kesembuhan hati yang kini diharapkannya. Tidak kurang. Pun tidak
lebih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar