Total Tayangan Halaman

Senin, 27 November 2017

Petrichor (Terbit 12 November 2017, Harian Medan Pos)

Mendung bukan hanya menghiasi langit Medan kala itu, tapi turut menghiasi mata bulat Rumaysa. Wanita berusia dua puluh empat tahun itu duduk terpekur seorang diri. Membiarkan rambutnya dimainkan oleh angin. Awan hitam membentuk gumpalan-gumpalan menakutkan mulai berarak meratakan langit. Taman kota mulai lengang, tapi Rumaysa seperti enggan meninggalkan tempat itu.
Ia memandangi daun maple yang terbuat dari kertas dan telah dilaminasi itu. Menatapnya lekat-lekat. Seolah ada bongkahan kenangan di dalam sana. Untuk kemudian dia menarik napas panjang yang berat, mendongakkan kepalanya dan membiarkan dua tetes air mata menggelinding halus di pipinya. Titik-titik hujan mulai jatuh satu persatu, membasahi tanah di taman kota itu. Angin melengkapi gigil hujan meski tidak terlalu kencang. Rumaysa mulai memejamkan matanya. Menghirup aroma tanah yang dibasahi oleh air hujan. Lalu menarik sedikit ujung bibirnya hingga membentuk sebuah senyum tipis. Bersama air mata yang jatuh sekali lagi, Rumaysa mulai bergumam lirih, “Aku rindu kamu, Mas…”
* * *
Rumaysa mengintip dari balik pohon besar, memandangi dengan senyum sumringah yang jelas tidak dapat ditahannya. Matanya tertumbuk pada sosok laki-laki berkacamata yang tengah sibuk melukis sesuatu. Cuaca sore itu sungguh cerah, secerah hati Rumaysa melihat pujaan hatinya. Jarak mereka tidak terlalu dekat, namun tidak juga terlalu jauh. Rumaysa masih sibuk dengan senyum dan gumpalan khayalannya yang menari-nari di atas kepala. Hingga dua detik kemudian dia menjerit sekuat tenaga.
Teriakannya yang tanpa sadar itu jelas menarik perhatian laki-laki berkacamata itu untuk menoleh dan kemudian mendekatinya. Rumaysa berjongkok sambil memegangi lengan kirinya. Tanpa sadar ia mulai tersedu.
“Makanya, kalau mau ngintip itu cari lokasi yang strategis dong!” suara seseorang mengagetkannya.
Rumaysa menoleh ke belakang. Tidak menyangka laki-laki yang dijadikannya objek dari acara menguntitnya itu kini tengah mengomentarinya. Namun sakit di tangannya membuat ia tidak begitu peduli dengan ocehan lelaki berwajah manis itu. “Sini, aku lihat!” seru lelaki bernama Hayan itu sembari menarik tangan kiri Rumaysa. Tiga bentolan berwarna kemerahan menghiasi tangan gadis berambut sebahu itu. Rumaysa takut-takut menatap Hayan. Takut kalau lelaki berwajah dingin itu menghardiknya lagi.
Hayan menarik tangan Rumaysa untuk duduk di sebuah bangku kayu berwarna coklat tua. Lalu merogoh saku tasnya dan mengambil sesuatu. Mengoleskan minyak kayu putih ke tangan kiri Rumaysa yang sudah menjadi objek gigitan semut pohon. “Sudah berapa kali melakukan ini?” tanya Hayan dingin. Rumaysa tergagap mendapati serangan pertanyaan seperti itu. Ia tahu maksud lelaki itu adalah sudah berapa kali dia mengikuti dan mengintip seperti tadi.
“Hmm..baru sekali,” jawab Rumaysa tak kalah dingin. Hayan menjatuhkan tatapannya tepat ke wajah Rumaysa yang seketika memerah. Rumaysa mengalihkan pandangannya. Tidak tahan ditatap seperti itu. “Jangan bohong!” desak Hayan sembari memukul kepala Rumaysa. Tidak pelan, tidak juga terlalu kuat. Membuat gadis itu mengaduh. “Terus, yang setiap istirahat mengikutiku ke perpustakaan itu, siapa? Yang mengintipku dari balik rak-rak buku itu, siapa? Yang diam-diam mengikutiku ke kafetaria untuk makan es krim, siapa? Yang digigit semut karena mengintipku sore ini, siapa?” Hayan menjabarkan semua kelakuan memalukan Rumaysa.
Seketika gadis itu mencibirnya kesal. “Tidak perlu dijelaskan semua. Aku melakukan itu kan karena….” Rumaysa menggantungkan ucapannya. Tidak mungkin ia katakan bahwa ia melakukan semua itu karena ia menyukai laki-laki kutu buku ini. “Karena apa?” tanya Hayan pura-pura ingin tahu. Rumaysa menggeleng cepat. Untuk kemudian dia meraih tasnya yang tergeletak di ujung bangku dan pamit pulang secepat mungkin. Hayan menatap punggung Rumaysa yang kian menjauh. Gadis itu tampak sedikit berlari. Malu karena perasaannya hampir saja terbongkar.
Sejak kejadian sore itu, Hayan tidak lagi sedingin biasanya. Sesekali anak laki-laki itu memberanikan diri mengajak Rumaysa untuk ke perpustakaan bersama. Sesekali juga ia meminta izin untuk mengantarkan Rumaysa pulang sekolah. Dan sesekali pula ia mengirim pesan ke ponsel gadis itu. Semua hal yang dilakukannya sesekali itu kini berubah menjadi suatu kebiasaan. Hingga akhirnya Hayan memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan hangat yang dimilikinya pada Rumaysa.
Di tengah kepungan awan tebal yang menghiasi langit, Hayan memandang Rumaysa dengan hangat. Saat itu mereka sedang duduk di bangku taman kota, tempat pertama mereka bertemu kala itu. “Kau suka hujan?” tanya Hayan pada Rumaysa. Gadis itu mengangguk mantap. Ya, Rumaysa suka sekali dengan hujan. Tidak ada yang bisa membantah hal itu. “Kalau kau suka apa?” tanya Rumaysa kembali. Hayan tersenyum mendengarnya, gadis itu selalu menanyakan semua hal yang ia suka. Bahkan sejak dulu, sejak Hayan belum sehangat ini padanya.
“Aku suka aroma tanah karena dibasahi hujan,” jawab Hayan mantap. Rumaysa menatap laki-laki itu dengan syahdu. Untuk kemudian, rinai hujan mengguyur taman kota sore itu. Hayan dengan refleks memejamkan matanya dan menarik napas perlahan. Menghirup aroma tanah yang baru saja dibasahi hujan. Rumaysa tersenyum memandang wajah Hayan. Apakah itu menyenangkan? pikir Rumaysa sendiri. “Ini menenangkan, Rumaysa.” Hayan bersuara di balik pejaman matanya. Rumaysa tersenyum, bahkan Hayan mampu menjawab pertanyaan hatinya. Laki-laki ini selalu mampu ia jatuh cintai. Setiap hari, tanpa henti.
Tidak ada yang berubah meski sekarang sudah hampir tujuh tahun lamanya. Kebersamaan Rumaysa dan Hayan semakin bertambah erat. Mereka melewati masa SMA dan kuliah bersama-sama. Menjadi teman baik yang saling mendukung dan menasihati. Mereka juga masih suka menikmati hujan dan menjadi petrichor di sudut taman. Untuk setelahnya menikmati mie ayam sebelum pulang ke rumah. Bahkan ketika Hayan mengutarakan keinginannya untuk mempersunting Rumaysa saat itu, ia melakukannya di taman kota ini. Dengan orang yang sama dan tempat yang sama pula. Tidak pernah ada yang berubah. Hanya perasaan Hayan saja yang berubah. Berubah semakin besar hingga ia yakin untuk memperistri Rumaysa saat itu juga.
* * *
Tubuhnya telah basah diguyur hujan. Tapi Rumaysa tetap belum beranjak dari duduknya. Ia pandangi tempat duduk di sebelahnya. Kosong. Tidak ada Hayan yang menemaninya duduk di taman ini seperti dulu. Tidak ada Hayan yang setia menemani masa-masa sulit dan bahagianya seperti dulu. Air matanya berguguran lagi. Isaknya semakin kencang. Rindunya telah membuncah, bahkan untuk saat-saat pertama rumah tangganya yang seharusnya ia lewati dengan bahagia.
Daun maple yang telah dilaminasi itu kembali diciuminya. Daun maple hasil lukisan tangan Hayan, saat gadis itu dulu berusaha mengintipnya di taman kota ini. Hayan memberikannya saat hubungan mereka resmi dikatakan berpacaran. Hujan sore itu belum mau berhenti. Seolah ia setia menemani Rumaysa yang tengah meluruhkan rindunya menjadi butir-butir air mata.
Kecelakaan yang menimpa Hayan sepulang bekerja itu terjadi satu minggu lalu. Kabar buruk itu akhirnya mengantarkan Rumaysa dan keluarga pada kepedihan yang maha panjang. Berusaha mengikhlaskan kepergian Hayan yang baru beberapa bulan menjadi suaminya ke pangkuan Tuhan. Betapa Rumaysa merasa bahwa ini adalah kepahitan yang paling pahit selama hidupnya. Dan betapa ia tidak pernah menyangka bahwa kekasihnya kini tengah tidur untuk selamanya.
Rumaysa mengukir doa-doa dalam hati dan tangisnya. Meminta kekuatan dari pemilik kehidupan. Bahwa sejatinya perasaan sakit ini benar-benar menghancurkannya. Dan detik ini ia benar-benar merindukan suaminya. Meski kini ia telah rela ditinggalkan seorang diri, tapi butiran rindu terus-menerus ada setiap hari. Dan ia harus dengan tegar menyulam butir-butir rindu itu menjadi doa-doa paling syahdu untuk dihantarkannya pada suaminya di singgasana surga. Betapa pun, ditinggalkan ketika sayang bersarang di dada bukanlah sebuah hal yang mudah. Begitupun bagi Rumaysa. Hanya kesembuhan hati yang kini diharapkannya. Tidak kurang. Pun tidak lebih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar