Setahun
belakangan ini, mataku akrab sekali dengan perempuan bersyal merah jambu yang
datang ke café tempatku bekerja. Perempuan bermata abu-abu yang datang setiap
hari Rabu dan Jumat. Aku kerap melihatnya datang seorang diri dengan sebuah
buku notes di tangannya. Setiap kali membuka pintu café, dia akan dengan tenang
berjalan menuju meja dekat jendela yang menghadap ke luar.
Setelahnya,
dia akan duduk termenung. Menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. Satu
tangannya menopang dagu, satunya lagi dibiarkan tergeletak di pangkuannya.
Entahlah apa yang tengah ia pikirkan. Perempuan yang kutaksir usianya tidak
jauh denganku itu tampak cantik dengan wajah tanpa riasan. Matanya yang
berwarna abu-abu semakin menambah kesan dingin pada dirinya. Membuat beberapa
orang akan berpikir dua kali untuk sekadar menyapa atau mengganggunya.
Tiba-tiba
dia melambaikan tangan padaku. Ya, dia menatapku sekilas, untuk kemudian
mengalihkan pandangannya secepat mungkin. Seolah-olah ia takut sekali orang
lain menyantap wajah indahnya. Aku menghampirinya. Berpikir ia akan memesan
sesuatu. Sedetik. Dua detik. Sepi. Aku pandangi perempuan itu dari sisi
kananku. Kulihat dia sekali lagi menghadap ke luar jendela, lantas tersenyum
tipis. Nyaris tidak terlihat. Benang-benang rambutnya terurai oleh kipas angin
kecil di atas kepalanya.
Perempuan
itu masih diam. Barangkali dia akan selalu diam dan tak pernah menaruh tatap
sedetik pun pada lelaki yang tengah menunggunya untuk berbicara. Aku mulai
berdeham pelan. Perempuan itu tampak bangkit dari segumpal lamunannya. Dia
menatapku sekilas, lalu berkata “Segelas cappuccino dan beberapa muffin
coklat.”
Aku
menggeram dalam hati. Seharusnya aku tak perlu menanyakan pesanan perempuan aneh
itu. Sejak setahun belakangan ini, ia selalu memesan cappuccino dan muffin
coklat. Tidak pernah berubah. Seminggu dua kali berkunjung ke café ini pun,
pesanannya tak pernah berubah. Tapi tak pantas juga jika aku langsung
membawakan cappuccino dan muffin coklat tanpa perintahnya. Bagaimana jika suatu
hari nanti ia malah beralih memesan menu lain? Tapi sampai detik ini pun, ia
tak pernah mengganti menu pesanannya.
Aku
beranjak dari tempatku berdiri dan memberikan selembar pesanannya pada Mikha.
“Cappucino
dan muffin coklat lagi?” tanya Mikha menahan senyum.
Mikha
tahu sekali bahwa aku sebal melayani perempuan itu setiap kali dia datang
berkunjung. Perempuan itu selalu berkunjung tepat saat shift bekerjaku full.
Hingga setiap kali datang, akulah yang harus menghampirinya dan bertanya dia
hendak memesan apa. Beberapa menit kemudian, Mikha kembali dengan pesanan
perempuan itu di tangannya. Pesanan itu pun dengan cepat berpindah tangan
kepadaku.
“Nganternya
pake senyum, ya. Biar muffin-nya tambah manis.” goda Mikha.
Aku
memberinya tatapan supersebal, membuat Mikha tergelak. Kuseret kakiku menuju
tempat perempuan itu berdiam diri. Tangannya sibuk menuliskan sesuatu di notes
merah jambu miliknya. Aku selalu penasaran dengan apa yang dikerjakannya.
Mungkinkah dia seorang wanita karir yang frustasi karena tidak kunjung naik
jabatan? Atau dia seorang mahasiswi tingkat akhir yang skripsinya tak kunjung
selesai? Sebab dia selalu membawa wajah mendung tiap kali datang ke café ini.
Pernah
beberapa kali aku berniat mengintip tulisan tangannya di notes itu. Tapi ketika
mendengar langkah kaki mendekat, perempuan itu dengan cepat menutup notes
miliknya. Lalu mengalihkan pandangnya kembali ke luar jendela. Entah apa yang
dinikmatinya di ujung jalan itu. Hanya sebuah bangku panjang kosong yang tidak
terawat pemiliknya. Sama sekali tidak menarik untuk dipandangi berkali-kali.
Aku
meletakkan pesanannya di atas meja. Mempersilakannya untuk menikmati. Dia hanya
mengangguk tanpa membalas keramahanku. Aku kembali ke belakang meja bar, memperhatikannya
dari sini tentu tidak akan membuatnya curiga. Entah mengapa pula, aku begitu
tertarik memandangi perempuan itu. Sejak beberapa kali hingga setahun ini dia
berkunjung ke sini, dia begitu menarik perhatianku.
Anehnya,
sore ini tidak sama seperti biasa. Aku melihat gerimis di matanya yang mendung.
Ah, aku paham sekali bahwa perempuan itu tentu sedang melalui masa-masa sulit
dalam hidupnya. Meski aku tidak tahu, ingin sekali aku menyodorkan tisu dan
mencoba membujuknya untuk menceritakan masalahnya. Tapi itu tidak mungkin
kulakukan. Tatapan matanya yang sedingin es itu tidak membuatku cukup berani
untuk mengatakan hal semacam itu. Dan kurasa dia bukan tipikal perempuan yang
mudah berbagi masalah hidupnya pada orang asing.
Aku
melihat cahaya jingga mulai membuncah dari celah jendela kaca café ini. Sinar
keemasannya menerpa sebagian wajah perempuan yang tengah menghapus gerimis di
pipi kirinya. Dia meneguk cappucinonya beberapa kali. Untuk kemudian bergegas
pergi ketika langit mulai gelap. Senja telah dimakan malam. Lagi-lagi perempuan
itu meninggalkan bekas tisu gerimisnya dan muffin coklat yang sama sekali tak
tersentuh.
*
* *
Jumat
sore seperti biasa. Perempuan bersyal merah jambu dengan corak berbeda itu
datang lagi. Setelah rabu lalu dia meninggalkan café ini dengan beribu
pertanyaan yang bermunculan dalam benakku. Apa yang sebenarnya terjadi pada
perempuan manis itu? Mengapa dia datang membawa wajah mendung, memesan
cappuccino dan muffin coklat, lantas meluruhkan gerimis di sudut café ini?
Perempuan
itu tidak sama dengan para pengunjung yang lain. Aku bahkan hanya mengenali
perempuan itu sebagai satu-satunya gadis yang kerap berkunjung satu minggu dua
kali ke café ini. Dan yang dilakukannya adalah diam, menatap jalan, tersenyum,
dan kemudian menangis. Seperti perahu kecil yang tak bertuan, terombang-ambing
dalam kepahitan. Seperti ingin menepi tapi yang terinjak adalah kumpulan duri.
Perempuan
itu terdiam. Pesanannya sudah sejak tadi kuantarkan. Dan kemudian aku akan
memandanginya dari balik meja bar. Kulihat dia menyentuh gelas cappucinonya,
meneguknya sekali. Dia menatap muffin coklat itu lama. Menyentuhnya sedikit
lalu kembali menatap jalanan. Aku mengikuti arah pandangnya. Kosong. Tidak ada
siapa-siapa di sana. Apa yang membuat perempuan itu suka sekali menatap ke luar
jendela? Hanya lalu lalang kendaraan bermotor yang sesekali memenuhi jalan
raya. Selebihnya tidak ada.
Ditengah
keasyikanku menatapnya, tiba-tiba Mikha menyodorkan pesanan lain ke arahku.
Menyuruhku mengantarkan pesanan ini ke meja 13. Meja yang tepat berada di
belakangnya. Aku meraih pesanan itu dan beranjak menuju meja sang pemesan. Tampaknya
dia tidak menyadari bahwa kini aku tengah berada di dekatnya. Dia masih terus
menulis. Rasa penasaranku kembali memantul-mantul. Melahirkan beragam
pertanyaan tenntang apa yang sebenarnya tengah dia kerjakan.
Aku
berdiri agak lama di belakang kursinya. Mengamatinya dengan hati-hati. Takut
kalau perempuan itu menyadari kehadiranku dan malah membuatnya merasa
terganggu. Suasana café saat itu tidak terlalu ramai. Pengunjung tidak akan
mengamati seorang waiter yang tengah
diam-diam memperhatikan seorang pengunjung perempuan seperti ini. Meja yang
terletak di sudut ruangan, tidak akan membuat mata banyak orang bisa menelanjangi.
Dia
sedang menulis puisi. Puisi cinta dengan banyak metafora di dalam kalimatnya.
Hanya ada satu kalimat yang sempat tertangkap mataku dan membuat napasku
tertahan.
Isinya
kira-kira begini: “Aku sering memandang
ke luar jendela café ini, Cinta. Dan mendapatimu tidak seperti biasanya.
Pakaianmu berbeda. Apa kau suka dengan jubah putih melambai-lambai itu,
Sayang?”
Aku bergidik, lalu
beranjak pergi menuju meja bar. Keringat dingin menjalar di tubuhku. Mungkin
wajahku telah pucat saat itu. Kulihat perempuan itu tersenyum sendiri.
Membuatku mengerti apa yang selama ini dilamunkannya dalam pedih. Membuatku
paham bahwa ia sedang depresi. Berusaha menjalani hari demi menyembuhkan hati.
Dan muffin coklat itu… Ah, perempuan itu telah kehilangan kekasihnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar