Total Tayangan Halaman

Senin, 27 November 2017

Cerita di Balik Muffin Coklat (Terbit 05 November 2017, Harian Medan Pos)

Setahun belakangan ini, mataku akrab sekali dengan perempuan bersyal merah jambu yang datang ke café tempatku bekerja. Perempuan bermata abu-abu yang datang setiap hari Rabu dan Jumat. Aku kerap melihatnya datang seorang diri dengan sebuah buku notes di tangannya. Setiap kali membuka pintu café, dia akan dengan tenang berjalan menuju meja dekat jendela yang menghadap ke luar.
Setelahnya, dia akan duduk termenung. Menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. Satu tangannya menopang dagu, satunya lagi dibiarkan tergeletak di pangkuannya. Entahlah apa yang tengah ia pikirkan. Perempuan yang kutaksir usianya tidak jauh denganku itu tampak cantik dengan wajah tanpa riasan. Matanya yang berwarna abu-abu semakin menambah kesan dingin pada dirinya. Membuat beberapa orang akan berpikir dua kali untuk sekadar menyapa atau mengganggunya.
Tiba-tiba dia melambaikan tangan padaku. Ya, dia menatapku sekilas, untuk kemudian mengalihkan pandangannya secepat mungkin. Seolah-olah ia takut sekali orang lain menyantap wajah indahnya. Aku menghampirinya. Berpikir ia akan memesan sesuatu. Sedetik. Dua detik. Sepi. Aku pandangi perempuan itu dari sisi kananku. Kulihat dia sekali lagi menghadap ke luar jendela, lantas tersenyum tipis. Nyaris tidak terlihat. Benang-benang rambutnya terurai oleh kipas angin kecil di atas kepalanya.
Perempuan itu masih diam. Barangkali dia akan selalu diam dan tak pernah menaruh tatap sedetik pun pada lelaki yang tengah menunggunya untuk berbicara. Aku mulai berdeham pelan. Perempuan itu tampak bangkit dari segumpal lamunannya. Dia menatapku sekilas, lalu berkata “Segelas cappuccino dan beberapa muffin coklat.”
Aku menggeram dalam hati. Seharusnya aku tak perlu menanyakan pesanan perempuan aneh itu. Sejak setahun belakangan ini, ia selalu memesan cappuccino dan muffin coklat. Tidak pernah berubah. Seminggu dua kali berkunjung ke café ini pun, pesanannya tak pernah berubah. Tapi tak pantas juga jika aku langsung membawakan cappuccino dan muffin coklat tanpa perintahnya. Bagaimana jika suatu hari nanti ia malah beralih memesan menu lain? Tapi sampai detik ini pun, ia tak pernah mengganti menu pesanannya.
Aku beranjak dari tempatku berdiri dan memberikan selembar pesanannya pada Mikha.
“Cappucino dan muffin coklat lagi?” tanya Mikha menahan senyum.
Mikha tahu sekali bahwa aku sebal melayani perempuan itu setiap kali dia datang berkunjung. Perempuan itu selalu berkunjung tepat saat shift bekerjaku full. Hingga setiap kali datang, akulah yang harus menghampirinya dan bertanya dia hendak memesan apa. Beberapa menit kemudian, Mikha kembali dengan pesanan perempuan itu di tangannya. Pesanan itu pun dengan cepat berpindah tangan kepadaku.
“Nganternya pake senyum, ya. Biar muffin-nya tambah manis.” goda Mikha.
Aku memberinya tatapan supersebal, membuat Mikha tergelak. Kuseret kakiku menuju tempat perempuan itu berdiam diri. Tangannya sibuk menuliskan sesuatu di notes merah jambu miliknya. Aku selalu penasaran dengan apa yang dikerjakannya. Mungkinkah dia seorang wanita karir yang frustasi karena tidak kunjung naik jabatan? Atau dia seorang mahasiswi tingkat akhir yang skripsinya tak kunjung selesai? Sebab dia selalu membawa wajah mendung tiap kali datang ke café ini.
Pernah beberapa kali aku berniat mengintip tulisan tangannya di notes itu. Tapi ketika mendengar langkah kaki mendekat, perempuan itu dengan cepat menutup notes miliknya. Lalu mengalihkan pandangnya kembali ke luar jendela. Entah apa yang dinikmatinya di ujung jalan itu. Hanya sebuah bangku panjang kosong yang tidak terawat pemiliknya. Sama sekali tidak menarik untuk dipandangi berkali-kali.
Aku meletakkan pesanannya di atas meja. Mempersilakannya untuk menikmati. Dia hanya mengangguk tanpa membalas keramahanku. Aku kembali ke belakang meja bar, memperhatikannya dari sini tentu tidak akan membuatnya curiga. Entah mengapa pula, aku begitu tertarik memandangi perempuan itu. Sejak beberapa kali hingga setahun ini dia berkunjung ke sini, dia begitu menarik perhatianku.
Anehnya, sore ini tidak sama seperti biasa. Aku melihat gerimis di matanya yang mendung. Ah, aku paham sekali bahwa perempuan itu tentu sedang melalui masa-masa sulit dalam hidupnya. Meski aku tidak tahu, ingin sekali aku menyodorkan tisu dan mencoba membujuknya untuk menceritakan masalahnya. Tapi itu tidak mungkin kulakukan. Tatapan matanya yang sedingin es itu tidak membuatku cukup berani untuk mengatakan hal semacam itu. Dan kurasa dia bukan tipikal perempuan yang mudah berbagi masalah hidupnya pada orang asing.
Aku melihat cahaya jingga mulai membuncah dari celah jendela kaca café ini. Sinar keemasannya menerpa sebagian wajah perempuan yang tengah menghapus gerimis di pipi kirinya. Dia meneguk cappucinonya beberapa kali. Untuk kemudian bergegas pergi ketika langit mulai gelap. Senja telah dimakan malam. Lagi-lagi perempuan itu meninggalkan bekas tisu gerimisnya dan muffin coklat yang sama sekali tak tersentuh.
* * *
Jumat sore seperti biasa. Perempuan bersyal merah jambu dengan corak berbeda itu datang lagi. Setelah rabu lalu dia meninggalkan café ini dengan beribu pertanyaan yang bermunculan dalam benakku. Apa yang sebenarnya terjadi pada perempuan manis itu? Mengapa dia datang membawa wajah mendung, memesan cappuccino dan muffin coklat, lantas meluruhkan gerimis di sudut café ini?
Perempuan itu tidak sama dengan para pengunjung yang lain. Aku bahkan hanya mengenali perempuan itu sebagai satu-satunya gadis yang kerap berkunjung satu minggu dua kali ke café ini. Dan yang dilakukannya adalah diam, menatap jalan, tersenyum, dan kemudian menangis. Seperti perahu kecil yang tak bertuan, terombang-ambing dalam kepahitan. Seperti ingin menepi tapi yang terinjak adalah kumpulan duri.
Perempuan itu terdiam. Pesanannya sudah sejak tadi kuantarkan. Dan kemudian aku akan memandanginya dari balik meja bar. Kulihat dia menyentuh gelas cappucinonya, meneguknya sekali. Dia menatap muffin coklat itu lama. Menyentuhnya sedikit lalu kembali menatap jalanan. Aku mengikuti arah pandangnya. Kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana. Apa yang membuat perempuan itu suka sekali menatap ke luar jendela? Hanya lalu lalang kendaraan bermotor yang sesekali memenuhi jalan raya. Selebihnya tidak ada.
Ditengah keasyikanku menatapnya, tiba-tiba Mikha menyodorkan pesanan lain ke arahku. Menyuruhku mengantarkan pesanan ini ke meja 13. Meja yang tepat berada di belakangnya. Aku meraih pesanan itu dan beranjak menuju meja sang pemesan. Tampaknya dia tidak menyadari bahwa kini aku tengah berada di dekatnya. Dia masih terus menulis. Rasa penasaranku kembali memantul-mantul. Melahirkan beragam pertanyaan tenntang apa yang sebenarnya tengah dia kerjakan.
Aku berdiri agak lama di belakang kursinya. Mengamatinya dengan hati-hati. Takut kalau perempuan itu menyadari kehadiranku dan malah membuatnya merasa terganggu. Suasana café saat itu tidak terlalu ramai. Pengunjung tidak akan mengamati seorang waiter yang tengah diam-diam memperhatikan seorang pengunjung perempuan seperti ini. Meja yang terletak di sudut ruangan, tidak akan membuat mata banyak orang bisa menelanjangi.
Dia sedang menulis puisi. Puisi cinta dengan banyak metafora di dalam kalimatnya. Hanya ada satu kalimat yang sempat tertangkap mataku dan membuat napasku tertahan.
Isinya kira-kira begini: “Aku sering memandang ke luar jendela café ini, Cinta. Dan mendapatimu tidak seperti biasanya. Pakaianmu berbeda. Apa kau suka dengan jubah putih melambai-lambai itu, Sayang?”
Aku bergidik, lalu beranjak pergi menuju meja bar. Keringat dingin menjalar di tubuhku. Mungkin wajahku telah pucat saat itu. Kulihat perempuan itu tersenyum sendiri. Membuatku mengerti apa yang selama ini dilamunkannya dalam pedih. Membuatku paham bahwa ia sedang depresi. Berusaha menjalani hari demi menyembuhkan hati. Dan muffin coklat itu… Ah, perempuan itu telah kehilangan kekasihnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar