Total Tayangan Halaman

Jumat, 03 November 2017

Haruskah Kugoreng Diksi Setiap Hari? (Terbit 22 Oktober 2017, di Harian Medan Pos)

“Mau berapa jam lagi aku menunggumu, Pak?” suara Kinar membuyarkan lamunan suaminya. Lelaki berusia tiga puluhan itu menggaruk tengkuknya kasar. Lalu menepuk-nepuk kepalanya seolah-olah ingin mencairkan sesuatu di dalam kepalanya yang beku. “Imajinasiku buyar gara-gara kau, Kinar. Tak bisakah kau tidak berdiri mematung di situ? Aku seperti seorang pencuri yang baru keluar dari jeruji besi. Kau mengawasiku tanpa henti!” celoteh suaminya.
Kinar mendengus kesal, “Lalu, mau kau kasih makan apa si Tedi itu, Pak? Berhentilah menangkap aksara yang kau bilang bertebaran di langit-langit rumah kita! Keluarlah, pergi mencari kerja. Tedi butuh makanan sungguhan, Pak! Bukan diksi yang kugoreng setiap hari!” Kinar menampilkan wajah tak suka atas sikap suaminya.
“Diamlah kau sebentar, Sayang. Aku sedang bekerja juga di sini. Meski ini komputer tua, tapi setidaknya aku masih bisa mengenyangkan perutmu dan anak kita,” jawab suaminya lagi.
“Tapi kerjamu setiap hari hanya duduk terpekur di depan sana, menangkap pintalan-pintalan kata lalu menjahitnya dan membuatnya jatuh cinta. Jika kau rasa cukuplah umurnya, kau akan membuat mereka beranak pinak, menghasilkan banyak kata dan makna. Lantas berjam-jam lamanya kau jahit mereka menjadi satu kisah abstrak yang hanya kau dan Tuhan yang mengerti. Untuk setelahnya kau kirim ke seseorang yang kau yakini bisa menerbitkan segala buah pikirmu itu. Berbulan-bulan lamanya baru kisahmu muncul ke permukaan dan uang baru bisa berpindah ke telapak tanganmu! Bukankah itu sangat membosankan, Pak?” Kinar mencoba membuka pikiran suaminya.
“Lalu kau mau aku ini kerja apa, Sayang?”
“Aku mau kau pergi keluar rumah, banyak pekerjaan yang bisa kau kerjakan di luar sana, Pak. Tanya si Pendi, dia bisa mencarikan kau pekerjaan yang mendapat upah bulanan. Kau bisa menerima uang setiap bulannya, Pak. Bukan menunggu uang dalam tempo yang kau sendiri saja tidak tahu kapan. Kita manusia, Pak. Makannya setiap hari, bukan setahun dua kali!” sungut Kinar lagi.
Terhenti jemari suaminya mengetik di komputer tua itu. Tampak lelaki itu berpikir panjang, sesekali mengusap wajahnya yang mulai sendu. Termakan ucapan istrinya sendiri. Bagaimanalah ini, sejak awal menikah, dia sudah mengkhawatirkan bahwa ini akan terjadi. Dia pikir, dia bisa menafkahi keluarganya kelak dengan cinta dan gumpalan diksi indah, sebagaimana yang selama ini menjadi kemahirannya. Namun ia salah, istrinya mulai jengah memakan cinta dan kata-kata setiap harinya.
Kinar sendiri mulai jenuh dengan tingkah suaminya itu. Ia pergi keluar rumah, meninggalkan suara bantingan di pintu. Selalu begitu, ketika percakapan tidak menemui titik temu, Kinar akan memilih pergi keluar dan baru akan kembali saat senja dimakan malam. Sementara suaminya, masih tetap terpekur di depan komputer tuanya. Ia kembali mengetik lagi, tapi kali ini ia tidak sendiri. Setitik dua titik air mata pelan-pelan jatuh membasahi.
* * *
“Bapak sedang apa?” tanya Tedi sambil mengunyah kerupuk. Anak laki-laki berusia 10 tahun itu mendekati bapaknya dan melongokkan kepalanya ke arah kotak segiempat dengan banyak huruf dan kata.
“Sedang mencipta kehidupan bagi para pemudi dalam cerita ini,” jawabnya.
“Bapakmu itu hanya bisa mencipta kehidupan bagi tokoh-tokoh ceritanya. Tapi dia lupa untuk mencipta kehidupan untuk kau dan ibu,” celetuk Kinar tiba-tiba. Wanita itu baru kembali dari pasar, di tangannya penuh dengan barang belanjaan.
“Kau ini bicara apa?!” tanya suaminya tidak terima.
“Bapakmu itu tidak bisa berjalan, Tedi. Makanya ia hanya bekerja dan duduk di situ sepanjang hari. Kalau bapakmu bekerja keluar rumah, bisa mati tokoh-tokoh cerita dalam komputer tua itu. Bapakmu lebih sayang mereka dibanding kita,” sindir Kinar lagi.
“Apa? Bapak lebih sayang orang lain daripada kita?” Tedi mengulang pernyataan ibunya.
“Jangan dengarkan ibumu! Mana mungkin bapak lebih sayang orang lain daripada kalian. Bapak hanya sedang bekerja, nanti kalau bapak dapat uang dari hasil menikahkan aksara ini, bapak janji akan membelikanmu sepeda,” jawab lelaki itu mantap, betapa yakin dirinya bahwa tulisan kali ini akan dicetak.
“Sepatunya saja tidak terbeli dari bulan lalu, mengapa sekarang menjanjikannya sepeda?” cibir istrinya.
“Sudah, daripada kau sibuk menjejali otak Tedi dengan kekesalanmu yang bersebab aku, lebih baik kau siapkan makanan enak. Aku butuh nutrisi bagus agar bisa mencipta karangan yang luar biasa. Bila perlu tambahkan sedikit diksi ke dalam masakanmu, taburi dengan bumbu cinta agar rasanya gurih dan renyah,” tawa suaminya berderai.
Kinar mendengus. Dia tidak pernah paham dengan semua ucapan suaminya. Barangkali beginilah nasib menikahi penyair, kegilaan suaminya terhadap kata-kata tidak bisa lagi dipisah dari kehidupan nyata.
Ketika makan malam pun, suaminya kembali berulah.
“Sambal terasi ibu lezat sekali rasanya,” puji Tedi. Kinar tersenyum, “Kalau kau suka, kau bisa tambah. Kau harus makan yang banyak, agar ketika kau dewasa kau tidak hanya mengurusi imajinasi dan kata-kata. Akan lebih berguna jika kau jadi polisi atau dokter gigi.”
“Kau tahu kenapa sambal ini rasanya lezat?” tanya lelaki itu pada anaknya.
“Kenapa, Pak?” tanya Tedi ingin tahu. Mulutnya masih sibuk mengunyah nasi yang dicampur dengan tempe dan sambal terasi.
“Karena sambalnya dibumbui dengan penuh cinta. Ada cinta ibumu dalam terasi itu. Ada sentuhan kasih sayang saat ia mengulek sambalnya,” jelas lelaki itu tersenyum.
Kinar mendengus lagi, “Sambal itu kubuat dengan potongan cabai merah, bawang merah, bawang putih, garam, gula, dan sepotong terasi tentunya. Tidak ada bumbu cinta seperti yang kau sebutkan tadi. Jangan mengada-ada!”
“Pantas sambalnya pedas, ibumu sedang marah ketika memasaknya ternyata,” sembur suaminya lagi.
“Sambalnya pedas karena aku terlalu sedikit menambahkan gula ke dalamnya. Gula di dapur hampir habis, aku harus menghematnya. Bagaimana lagi, suamiku sibuk menekan-nekan keyboard komputer tua itu setiap hari,” Kinar kembali menyindir suaminya.
“Jangan sepelekan pekerjaan orang, Kinar. Bisa jadi kita akan kaya raya jika suatu saat nanti naskahku ini diterbitkan penerbit besar. Kau akan tersenyum setiap hari melihatku mengetik seperti ini. Kau tidak lagi akan mengomeliku,” terang suaminya.
“Aku tidak menyepelekanmu, Pak. Aku juga tidak melarangmu menulis. Tapi bukankah menulis itu tidak bisa dijadikan pekerjaan tetap? Kau masih bisa menulis jika itu menjadi bagian kesukaanmu, tapi kau juga harus bekerja. Kau menikahiku bukan untuk mengomelimu setiap hari kan? Bukan untuk mendengar imajinasi dan diksi-diksimu terus kan? Kau butuh istri untuk apa sebenarnya? Coba beritahu aku!” Kinar tidak bisa mengontrol emosinya lagi.
Di sebelahnya, Tedi sudah ternganga mendengar ibunya marah-marah. Sementara suaminya sudah mengurut kening.
“Aku menikahimu karena kamu adalah air untuk apiku. Kamu adalah genap bagi ganjilku. Kamu adalah biru untuk langitku. Bagaimana bisa aku tidak menikahimu jika di dekatmu kehidupanmu terasa begitu mengesankan?” ucap suaminya lembut.
“Bagaimana bisa kau membercandaiku dengan diksi menjijikkan itu disaat aku sedang marah begini, Paakk?!” teriak istrinya.
“Aku tidak bercanda. Dan aku tidak pernah seserius ini.” tambah suaminya lagi.
Raut wajah wanita itu memerah, antara terharu dan berusaha menahan amarah. Berdiri ia segera untuk membereskan sisa makan malam itu. Tedi sudah diusirnya untuk kembali masuk ke kamar. Mengerjakan tugas sekolah. Diantara dentingan piring yang disusun menjadi satu, lelaki itu menatap istrinya sambil tersenyum. Puas sekali bisa melihat istrinya marah-marah seperti tadi. Jadi kelihatan tambah cantik. Tidak, perempuan itu tetap cantik dalam tawa dan amarahnya. Dan semakin cantik ketika wanita itu melahirkan Tedi untuknya.
* * *
Tedi terbangun dari tidurnya. Terseok dia melangkah ke luar untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Suara berisik itu datang dari arah dapur. Apa sudah subuh? pikirnya lagi. Tetapi ia terkejut ketika melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 1 malam. Dibukanya tirai penutup pintu yang membatasi ruang dapur.
“Ibu sedang apa? Kenapa berisik sekali malam-malam begini?”
Kinar menoleh, matanya sembab. “Ibu sedang menggoreng doa-doa, Nak. Sesekali ibu campurkan air mata. Barangkali esok pagi bapakmu mendapat kerja. Semoga Tuhan mengabulkannya.”
Tedi terdiam mendengar ucapan ibunya.  Tiba-tiba dadanya sesak. Pikirannya melalangbuana. Keringat dingin berkumpul di dahinya, hanya satu yang ia pikirkan saat itu, “Apa.. Apakah.. Apakah ibu sudah gila?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar