“Mau
berapa jam lagi aku menunggumu, Pak?” suara Kinar membuyarkan lamunan suaminya.
Lelaki berusia tiga puluhan itu menggaruk tengkuknya kasar. Lalu menepuk-nepuk
kepalanya seolah-olah ingin mencairkan sesuatu di dalam kepalanya yang beku.
“Imajinasiku buyar gara-gara kau, Kinar. Tak bisakah kau tidak berdiri mematung
di situ? Aku seperti seorang pencuri yang baru keluar dari jeruji besi. Kau
mengawasiku tanpa henti!” celoteh suaminya.
Kinar
mendengus kesal, “Lalu, mau kau kasih makan apa si Tedi itu, Pak? Berhentilah
menangkap aksara yang kau bilang bertebaran di langit-langit rumah kita!
Keluarlah, pergi mencari kerja. Tedi butuh makanan sungguhan, Pak! Bukan diksi
yang kugoreng setiap hari!” Kinar menampilkan wajah tak suka atas sikap
suaminya.
“Diamlah
kau sebentar, Sayang. Aku sedang bekerja juga di sini. Meski ini komputer tua,
tapi setidaknya aku masih bisa mengenyangkan perutmu dan anak kita,” jawab
suaminya lagi.
“Tapi
kerjamu setiap hari hanya duduk terpekur di depan sana, menangkap
pintalan-pintalan kata lalu menjahitnya dan membuatnya jatuh cinta. Jika kau
rasa cukuplah umurnya, kau akan membuat mereka beranak pinak, menghasilkan
banyak kata dan makna. Lantas berjam-jam lamanya kau jahit mereka menjadi satu
kisah abstrak yang hanya kau dan Tuhan yang mengerti. Untuk setelahnya kau
kirim ke seseorang yang kau yakini bisa menerbitkan segala buah pikirmu itu.
Berbulan-bulan lamanya baru kisahmu muncul ke permukaan dan uang baru bisa
berpindah ke telapak tanganmu! Bukankah itu sangat membosankan, Pak?” Kinar
mencoba membuka pikiran suaminya.
“Lalu
kau mau aku ini kerja apa, Sayang?”
“Aku
mau kau pergi keluar rumah, banyak pekerjaan yang bisa kau kerjakan di luar
sana, Pak. Tanya si Pendi, dia bisa mencarikan kau pekerjaan yang mendapat upah
bulanan. Kau bisa menerima uang setiap bulannya, Pak. Bukan menunggu uang dalam
tempo yang kau sendiri saja tidak tahu kapan. Kita manusia, Pak. Makannya
setiap hari, bukan setahun dua kali!” sungut Kinar lagi.
Terhenti
jemari suaminya mengetik di komputer tua itu. Tampak lelaki itu berpikir
panjang, sesekali mengusap wajahnya yang mulai sendu. Termakan ucapan istrinya
sendiri. Bagaimanalah ini, sejak awal menikah, dia sudah mengkhawatirkan bahwa
ini akan terjadi. Dia pikir, dia bisa menafkahi keluarganya kelak dengan cinta
dan gumpalan diksi indah, sebagaimana yang selama ini menjadi kemahirannya.
Namun ia salah, istrinya mulai jengah memakan cinta dan kata-kata setiap
harinya.
Kinar
sendiri mulai jenuh dengan tingkah suaminya itu. Ia pergi keluar rumah,
meninggalkan suara bantingan di pintu. Selalu begitu, ketika percakapan tidak
menemui titik temu, Kinar akan memilih pergi keluar dan baru akan kembali saat
senja dimakan malam. Sementara suaminya, masih tetap terpekur di depan komputer
tuanya. Ia kembali mengetik lagi, tapi kali ini ia tidak sendiri. Setitik dua
titik air mata pelan-pelan jatuh membasahi.
*
* *
“Bapak
sedang apa?” tanya Tedi sambil mengunyah kerupuk. Anak laki-laki berusia 10
tahun itu mendekati bapaknya dan melongokkan kepalanya ke arah kotak segiempat
dengan banyak huruf dan kata.
“Sedang
mencipta kehidupan bagi para pemudi dalam cerita ini,” jawabnya.
“Bapakmu
itu hanya bisa mencipta kehidupan bagi tokoh-tokoh ceritanya. Tapi dia lupa
untuk mencipta kehidupan untuk kau dan ibu,” celetuk Kinar tiba-tiba. Wanita
itu baru kembali dari pasar, di tangannya penuh dengan barang belanjaan.
“Kau
ini bicara apa?!” tanya suaminya tidak terima.
“Bapakmu
itu tidak bisa berjalan, Tedi. Makanya ia hanya bekerja dan duduk di situ
sepanjang hari. Kalau bapakmu bekerja keluar rumah, bisa mati tokoh-tokoh
cerita dalam komputer tua itu. Bapakmu lebih sayang mereka dibanding kita,”
sindir Kinar lagi.
“Apa?
Bapak lebih sayang orang lain daripada kita?” Tedi mengulang pernyataan ibunya.
“Jangan
dengarkan ibumu! Mana mungkin bapak lebih sayang orang lain daripada kalian.
Bapak hanya sedang bekerja, nanti kalau bapak dapat uang dari hasil menikahkan
aksara ini, bapak janji akan membelikanmu sepeda,” jawab lelaki itu mantap,
betapa yakin dirinya bahwa tulisan kali ini akan dicetak.
“Sepatunya
saja tidak terbeli dari bulan lalu, mengapa sekarang menjanjikannya sepeda?”
cibir istrinya.
“Sudah,
daripada kau sibuk menjejali otak Tedi dengan kekesalanmu yang bersebab aku,
lebih baik kau siapkan makanan enak. Aku butuh nutrisi bagus agar bisa mencipta
karangan yang luar biasa. Bila perlu tambahkan sedikit diksi ke dalam
masakanmu, taburi dengan bumbu cinta agar rasanya gurih dan renyah,” tawa
suaminya berderai.
Kinar
mendengus. Dia tidak pernah paham dengan semua ucapan suaminya. Barangkali
beginilah nasib menikahi penyair, kegilaan suaminya terhadap kata-kata tidak
bisa lagi dipisah dari kehidupan nyata.
Ketika
makan malam pun, suaminya kembali berulah.
“Sambal
terasi ibu lezat sekali rasanya,” puji Tedi. Kinar tersenyum, “Kalau kau suka,
kau bisa tambah. Kau harus makan yang banyak, agar ketika kau dewasa kau tidak
hanya mengurusi imajinasi dan kata-kata. Akan lebih berguna jika kau jadi
polisi atau dokter gigi.”
“Kau
tahu kenapa sambal ini rasanya lezat?” tanya lelaki itu pada anaknya.
“Kenapa,
Pak?” tanya Tedi ingin tahu. Mulutnya masih sibuk mengunyah nasi yang dicampur
dengan tempe dan sambal terasi.
“Karena
sambalnya dibumbui dengan penuh cinta. Ada cinta ibumu dalam terasi itu. Ada
sentuhan kasih sayang saat ia mengulek sambalnya,” jelas lelaki itu tersenyum.
Kinar
mendengus lagi, “Sambal itu kubuat dengan potongan cabai merah, bawang merah,
bawang putih, garam, gula, dan sepotong terasi tentunya. Tidak ada bumbu cinta
seperti yang kau sebutkan tadi. Jangan mengada-ada!”
“Pantas
sambalnya pedas, ibumu sedang marah ketika memasaknya ternyata,” sembur
suaminya lagi.
“Sambalnya
pedas karena aku terlalu sedikit menambahkan gula ke dalamnya. Gula di dapur
hampir habis, aku harus menghematnya. Bagaimana lagi, suamiku sibuk
menekan-nekan keyboard komputer tua itu setiap hari,” Kinar kembali menyindir
suaminya.
“Jangan
sepelekan pekerjaan orang, Kinar. Bisa jadi kita akan kaya raya jika suatu saat
nanti naskahku ini diterbitkan penerbit besar. Kau akan tersenyum setiap hari
melihatku mengetik seperti ini. Kau tidak lagi akan mengomeliku,” terang
suaminya.
“Aku
tidak menyepelekanmu, Pak. Aku juga tidak melarangmu menulis. Tapi bukankah
menulis itu tidak bisa dijadikan pekerjaan tetap? Kau masih bisa menulis jika
itu menjadi bagian kesukaanmu, tapi kau juga harus bekerja. Kau menikahiku
bukan untuk mengomelimu setiap hari kan? Bukan untuk mendengar imajinasi dan
diksi-diksimu terus kan? Kau butuh istri untuk apa sebenarnya? Coba beritahu
aku!” Kinar tidak bisa mengontrol emosinya lagi.
Di
sebelahnya, Tedi sudah ternganga mendengar ibunya marah-marah. Sementara
suaminya sudah mengurut kening.
“Aku
menikahimu karena kamu adalah air untuk apiku. Kamu adalah genap bagi ganjilku.
Kamu adalah biru untuk langitku. Bagaimana bisa aku tidak menikahimu jika di
dekatmu kehidupanmu terasa begitu mengesankan?” ucap suaminya lembut.
“Bagaimana
bisa kau membercandaiku dengan diksi menjijikkan itu disaat aku sedang marah
begini, Paakk?!” teriak istrinya.
“Aku
tidak bercanda. Dan aku tidak pernah seserius ini.” tambah suaminya lagi.
Raut
wajah wanita itu memerah, antara terharu dan berusaha menahan amarah. Berdiri
ia segera untuk membereskan sisa makan malam itu. Tedi sudah diusirnya untuk
kembali masuk ke kamar. Mengerjakan tugas sekolah. Diantara dentingan piring
yang disusun menjadi satu, lelaki itu menatap istrinya sambil tersenyum. Puas
sekali bisa melihat istrinya marah-marah seperti tadi. Jadi kelihatan tambah
cantik. Tidak, perempuan itu tetap cantik dalam tawa dan amarahnya. Dan semakin
cantik ketika wanita itu melahirkan Tedi untuknya.
*
* *
Tedi
terbangun dari tidurnya. Terseok dia melangkah ke luar untuk mengetahui apa
yang sedang terjadi. Suara berisik itu datang dari arah dapur. Apa sudah subuh?
pikirnya lagi. Tetapi ia terkejut ketika melirik jam dinding yang masih
menunjukkan pukul 1 malam. Dibukanya tirai penutup pintu yang membatasi ruang
dapur.
“Ibu
sedang apa? Kenapa berisik sekali malam-malam begini?”
Kinar
menoleh, matanya sembab. “Ibu sedang menggoreng doa-doa, Nak. Sesekali ibu
campurkan air mata. Barangkali esok pagi bapakmu mendapat kerja. Semoga Tuhan
mengabulkannya.”
Tedi terdiam
mendengar ucapan ibunya. Tiba-tiba
dadanya sesak. Pikirannya melalangbuana. Keringat dingin berkumpul di dahinya,
hanya satu yang ia pikirkan saat itu, “Apa.. Apakah.. Apakah ibu sudah gila?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar