Sebagai
seorang guru yang mengajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia, saya merasa
wajib untuk menularkan berbagai macam ilmu yang berkaitan dengan bahasa dan
sastra. Bukan hanya itu, saya merasa perlu mengajak anak didik saya untuk
melakukan sesuatu yang kreatif sesuai dengan mata pelajaran yang saya bawa.
Salah satunya adalah soal menulis. Bukan hanya menulis kalimat atau paragraf,
tapi lebih dari itu. Menulis sebuah cerita yang dihasilkan dari imajinasi
mereka sendiri.
Menulis
adalah suatu kegiatan menuangkan pikiran melalui kata-kata. Bagi sebagian
orang, menulis adalah suatu pekerjaan sulit dan membosankan. Menulis selalu
saja menjadi momok yang menakutkan, terlebih bagi anak-anak usia sekolah
menengah pertama. Terbukti, ketika saya mengajak mereka untuk menghasilkan
sebuah tulisan, sebagian besar dari mereka menjawab bahwa mereka tidak mampu
melakukannya.
Dari sanalah saya merasa tertantang untuk
menumbuhkan kecintaan mereka terhadap dunia literasi. Anak-anak cenderung lebih
cepat mengikuti apa yang dilakukan orang dewasa. Untuk itu, hal yang perlu
dilakukan adalah memberikan bukti nyata melalui kegiatan yang bersifat positif.
Setiap kali akan memulai pelajaran di kelas, saya selalu memberikan sedikit
wejangan atau cerita singkat yang memotivasi mereka untuk menulis.
Saya
menjelaskan apa itu menulis, bagaimana proses kreatif sebuah tulisan, bagaimana
mencari ide dan data-data untuk diolah menjadi sebuah tulisan, atau bagaimana
cara memublikasikan tulisan agar bisa dibaca dan dinikmati oleh banyak orang.
Di awal-awal penjelasan saya mengenai dunia tulis menulis, hanya beberapa siswa
saja yang merasa tertarik. Selebihnya mengatakan kalau mereka tidak tertarik
dengan hal yang saya ucapkan.
Tapi
ketika saya mulai mencoba praktik yang sederhana, yaitu menyuruh mereka untuk
membuat sebuah judul cerita. Dengan antusias, mereka menyanggupi permintaan
saya. Dan hasil yang saya dapatkan sungguh mencengangkan. Untuk anak-anak usia
12 tahun seperti mereka, daya imajinasi yang tinggi membuat apa yang mereka
tulis terlihat begitu menarik. Mereka menulis judul yang saya rasa tidak biasa.
Meski dengan frasa yang sederhana, namun dari judul yang mereka tulis, saya
yakin kelak mereka akan bisa menghasilkan tulisan yang baik.
Usia
anak-anak adalah usia yang cenderung cepat sekali meniru sesuatu. Daya tangkap
dan imajinasi mereka pun tak kalah luar biasa. Bagi anak-anak yang senang
menonton kartun atau film animasi, saya rasa akan lebih mudah dalam menulis.
Sebab mereka akan cepat berimajinasi dan menciptakan suatu cerita di dalam
kepalanya. Untuk kemudian dengan mudah bisa ia tuangkan ke dalam kata-kata.
Saya
sendiri berusaha mengarahkan mereka dalam hal itu. Tidak membatasi mereka
dengan “peraturan menulis”. Saya membiarkan mereka untuk menuangkan segala apa
yang mereka rasakan ke dalam tulisan. Menulis adalah kegiatan yang menyenangkan
jika anak-anak sudah terbiasa melakukannya. Kecintaan mereka terhadap literasi
pun bisa jadi akan semakin membaik, hingga tidak ada lagi anak-anak yang merasa
tidak mampu untuk menulis. Ajaklah adik-adik kita untuk mulai menuliskan
hal-hal sederhana yang mereka alami. Atau menuliskan sesuatu yang mereka sukai.
Bukankah
di sekolah, guru-guru lain juga tak luput mengajarkan cara menulis? Setidaknya
yang paling sederhana adalah menulis pengalaman pribadi. Anak-anak biasanya
akan senang jika disuruh menuliskan pengalaman paling menarik yang pernah
mereka alami. Dengan terus mengasah kegiatan seperti ini, dengan sendirinya
menulis menjadi hal yang biasa untuk mereka lakukan.
Berilah
penjelasan kepada anak-anak bahwa menulis adalah kegiatan yang menyenangkan.
Arahkan mereka untuk terus berlatih menulis. Sesekali ajari mereka untuk berani
menampilkan tulisannya agar bisa dibaca oleh banyak orang. Misal, ketika mereka
mampu menyelesaikan tulisannya dengan baik, kita sebagai guru akan mencoba
mengajak mereka untuk memublikasikan hasil tulisannya di mading sekolah atau di
media cetak. Dengan begitu, mereka akan semakin termotivasi untuk menulis dan
menghasilkan karya yang lebih baik lagi.
Saya
sendiri sudah berhasil mempraktikkannya melalui anak didik saya dan juga adik
saya yang berusia 14 tahun. Bahkan ia sudah bisa menembus media cetak lokal.
Merupakan kebanggaan untuk kita para guru yang menginginkan anak-anak semakin mencintai
dunia literasi. Sebab mereka adalah cikal bakal penerus segala hal di bumi ini.
Anak-anak adalah aset berharga, untuk itu mari kita didik mereka menjadi
seseorang yang mampu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi sesama.
Dengan
menulis, berarti kita telah mengajak mereka untuk mengabadikan nama. Menulis
juga mengajari mereka untuk berbagi dan menyebarkan hal-hal yang bermanfaat.
Menulis juga merupakan kegiatan yang mampu mengubah hidup seseorang. Bukan
tidak mungkin, seseorang akan tergerak hatinya setelah membaca tulisan-tulisan
kita. Tulisan selalu mampu mengubah hal-hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Seperti tulisan Andrea Hirata dalam novel Laskar Pelangi yang mampu memberikan
pencerahan terhadap dunia pendidikan di Indonesia.
Untuk itu, sebagai
penulis sekaligus pendidik, saya merasa perlu menyampaikan hal ini. Teruslah
menularkan virus menulis kepada anak-anak Indonesia. Kelak mereka akan menjadi
seseorang yang berguna, bukan hanya untuk diri sendiri melainkan juga untuk
negeri. Bukankah tidak akan ada perubahan jika tanpa tindakan? Untuk itu
budayakanlah menulis sejak dini. Salam literasi!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar