Total Tayangan Halaman

Jumat, 03 November 2017

Opini "Menularkan Virus Menulis Pada Anak" (Terbit 29 Oktober 2017, di Harian Medan Pos)

Sebagai seorang guru yang mengajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia, saya merasa wajib untuk menularkan berbagai macam ilmu yang berkaitan dengan bahasa dan sastra. Bukan hanya itu, saya merasa perlu mengajak anak didik saya untuk melakukan sesuatu yang kreatif sesuai dengan mata pelajaran yang saya bawa. Salah satunya adalah soal menulis. Bukan hanya menulis kalimat atau paragraf, tapi lebih dari itu. Menulis sebuah cerita yang dihasilkan dari imajinasi mereka sendiri.
Menulis adalah suatu kegiatan menuangkan pikiran melalui kata-kata. Bagi sebagian orang, menulis adalah suatu pekerjaan sulit dan membosankan. Menulis selalu saja menjadi momok yang menakutkan, terlebih bagi anak-anak usia sekolah menengah pertama. Terbukti, ketika saya mengajak mereka untuk menghasilkan sebuah tulisan, sebagian besar dari mereka menjawab bahwa mereka tidak mampu melakukannya.
  Dari sanalah saya merasa tertantang untuk menumbuhkan kecintaan mereka terhadap dunia literasi. Anak-anak cenderung lebih cepat mengikuti apa yang dilakukan orang dewasa. Untuk itu, hal yang perlu dilakukan adalah memberikan bukti nyata melalui kegiatan yang bersifat positif. Setiap kali akan memulai pelajaran di kelas, saya selalu memberikan sedikit wejangan atau cerita singkat yang memotivasi mereka untuk menulis.
Saya menjelaskan apa itu menulis, bagaimana proses kreatif sebuah tulisan, bagaimana mencari ide dan data-data untuk diolah menjadi sebuah tulisan, atau bagaimana cara memublikasikan tulisan agar bisa dibaca dan dinikmati oleh banyak orang. Di awal-awal penjelasan saya mengenai dunia tulis menulis, hanya beberapa siswa saja yang merasa tertarik. Selebihnya mengatakan kalau mereka tidak tertarik dengan hal yang saya ucapkan.
Tapi ketika saya mulai mencoba praktik yang sederhana, yaitu menyuruh mereka untuk membuat sebuah judul cerita. Dengan antusias, mereka menyanggupi permintaan saya. Dan hasil yang saya dapatkan sungguh mencengangkan. Untuk anak-anak usia 12 tahun seperti mereka, daya imajinasi yang tinggi membuat apa yang mereka tulis terlihat begitu menarik. Mereka menulis judul yang saya rasa tidak biasa. Meski dengan frasa yang sederhana, namun dari judul yang mereka tulis, saya yakin kelak mereka akan bisa menghasilkan tulisan yang baik.
Usia anak-anak adalah usia yang cenderung cepat sekali meniru sesuatu. Daya tangkap dan imajinasi mereka pun tak kalah luar biasa. Bagi anak-anak yang senang menonton kartun atau film animasi, saya rasa akan lebih mudah dalam menulis. Sebab mereka akan cepat berimajinasi dan menciptakan suatu cerita di dalam kepalanya. Untuk kemudian dengan mudah bisa ia tuangkan ke dalam kata-kata.
Saya sendiri berusaha mengarahkan mereka dalam hal itu. Tidak membatasi mereka dengan “peraturan menulis”. Saya membiarkan mereka untuk menuangkan segala apa yang mereka rasakan ke dalam tulisan. Menulis adalah kegiatan yang menyenangkan jika anak-anak sudah terbiasa melakukannya. Kecintaan mereka terhadap literasi pun bisa jadi akan semakin membaik, hingga tidak ada lagi anak-anak yang merasa tidak mampu untuk menulis. Ajaklah adik-adik kita untuk mulai menuliskan hal-hal sederhana yang mereka alami. Atau menuliskan sesuatu yang mereka sukai.
Bukankah di sekolah, guru-guru lain juga tak luput mengajarkan cara menulis? Setidaknya yang paling sederhana adalah menulis pengalaman pribadi. Anak-anak biasanya akan senang jika disuruh menuliskan pengalaman paling menarik yang pernah mereka alami. Dengan terus mengasah kegiatan seperti ini, dengan sendirinya menulis menjadi hal yang biasa untuk mereka lakukan.
Berilah penjelasan kepada anak-anak bahwa menulis adalah kegiatan yang menyenangkan. Arahkan mereka untuk terus berlatih menulis. Sesekali ajari mereka untuk berani menampilkan tulisannya agar bisa dibaca oleh banyak orang. Misal, ketika mereka mampu menyelesaikan tulisannya dengan baik, kita sebagai guru akan mencoba mengajak mereka untuk memublikasikan hasil tulisannya di mading sekolah atau di media cetak. Dengan begitu, mereka akan semakin termotivasi untuk menulis dan menghasilkan karya yang lebih baik lagi.
Saya sendiri sudah berhasil mempraktikkannya melalui anak didik saya dan juga adik saya yang berusia 14 tahun. Bahkan ia sudah bisa menembus media cetak lokal. Merupakan kebanggaan untuk kita para guru yang menginginkan anak-anak semakin mencintai dunia literasi. Sebab mereka adalah cikal bakal penerus segala hal di bumi ini. Anak-anak adalah aset berharga, untuk itu mari kita didik mereka menjadi seseorang yang mampu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi sesama.
Dengan menulis, berarti kita telah mengajak mereka untuk mengabadikan nama. Menulis juga mengajari mereka untuk berbagi dan menyebarkan hal-hal yang bermanfaat. Menulis juga merupakan kegiatan yang mampu mengubah hidup seseorang. Bukan tidak mungkin, seseorang akan tergerak hatinya setelah membaca tulisan-tulisan kita. Tulisan selalu mampu mengubah hal-hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Seperti tulisan Andrea Hirata dalam novel Laskar Pelangi yang mampu memberikan pencerahan terhadap dunia pendidikan di Indonesia.
Untuk itu, sebagai penulis sekaligus pendidik, saya merasa perlu menyampaikan hal ini. Teruslah menularkan virus menulis kepada anak-anak Indonesia. Kelak mereka akan menjadi seseorang yang berguna, bukan hanya untuk diri sendiri melainkan juga untuk negeri. Bukankah tidak akan ada perubahan jika tanpa tindakan? Untuk itu budayakanlah menulis sejak dini. Salam literasi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar