Lagi.
Matanya basah kembali. Bulir-bulir itu berguguran dari kelopak matanya.
Menyisakan kepiluan yang barangkali hanya dia yang mampu merasakan. Aku menoleh
sebentar, melihatnya sekilas dan kembali membuang pandangan pada layar
laptopku. “Bagaimana caranya membunuh dia dari ingatan, Runi?” tanyanya padaku.
Dia mengelap hidungnya yang basah. Aku masih enggan berkomentar.
“Runi,
apakah ini yang kau rasakan saat Bian meninggalkanmu?” kalimatnya seketika
menampar telingaku. Aku masih enggan menjawab. Pertanyaannya itu sungguh tidak
penting. Bagaimana mungkin dia bisa menyebutkan bahwa Obit meninggalkannya,
sementara yang kutahu dia tidak pernah mencintainya. Aku menoleh sebentar,
menaikkan sebelah alisku, memastikan bahwa aku tidak salah dengar.
“Iya..
iya, maksudku, aku tidak akan sanggup melihat kenyataan bahwa dia akan menikahi
gadis lain. Bukankah dia pernah mengatakan bahwa aku adalah satu-satunya gadis
yang ia cintai?” Arta masih sesenggukan dengan merdu. “Tapi kau tidak
mencintainya,” sanggahku. “Aku memang tidak mencintainya, tapi aku
membutuhkannya. Aku tidak bisa rela jika dia menikah dengan gadis itu,” Arta
menatapku sendu.
“Kau
tidak mencintainya, tapi kau membutuhkannya?” aku memastikan lagi bahwa aku
tidak salah dengar. Rasa-rasanya ada yang salah dengan otak sahabatku ini.
Bagaimana bisa dia mengatakan tidak cinta tapi butuh? “Obit itu manusia, Arta.
Dia bukan bonekamu,” kataku ketus. “Kalau begitu, bantu aku melupakannya,
Runi,” Arta sudah memeluk lenganku. Aku melepaskan pandangan dari layar laptop,
menghembuskan napas pelan. Usianya saja yang sudah banyak, tapi pemikirannya
belum matang.
“Ikhlaskan,”
kataku berbisik di telinganya. “Itu yang kau lakukan saat Bian meninggalkanmu
pergi?” Arta malah balik bertanya mengenai masa laluku. Aku menahan napas untuk
tidak terbawa emosi pada Arta. Dia menguji kesabaranku. “Aku menasehatimu,
jangan menyangkutpautkan segala hal dengan masa laluku,” kataku dingin. Arta
diam saja. Dia tahu bahwa aku kini tidak lagi menyukai hal itu. Aku tidak lagi
menyukai Bian. Tidak lagi menyukai hujan. Dan tidak lagi menyukai kenangan.
Begitu
yang kukatakan beberapa tahun lalu, saat Bian memutuskan menyakiti perasaanku.
Di bawah hujan deras malam itu, aku dan Bian memutuskan untuk saling membenci.
Tidak, aku saja. Aku saja yang membencinya. Membenci hujan dan segala kenangan
tentangnya. Bian tidak pernah membenciku. Bian juga tidak pernah membenci
kenangan tentangku.
Tapi,
bisakah kau kembali mencintai laki-laki yang berterus terang dihadapanmu bahwa
dia akan menikahi gadis lain? Menikahi berarti mencintai. Menikah bukan saja
berjanji dihadapan manusia, tapi akan berjanji dihadapan Sang Pencipta. Begitu
kesimpulanku saat Bian mengatakan ia akan menikah bulan depan. Aku menangis di
bawah hujan malam itu. Bian pergi setelah mengundangku secara tidak langsung.
Bian meninggalkanku dengan seribu pertanyaan yang menari-nari di kepalaku.
Sejak
saat itu, aku membenci hujan dan segala tentangnya. Aku membenci kenangan
bahagia bersama Bian. Tho, sekarang
dia juga yang memahat duka di hatiku, membiarkan aku merayakan luka sendirian.
Tapi itu tidak membuatku bahagia. Aku malah semakin merindukan Bian. Laki-laki
yang dulu sangat aku percaya tidak akan mengkhianatiku. Laki-laki yang dulu
sangat aku kagumi karena kepribadiannya yang begitu istimewa. Laki-laki yang
aku pikir akan menjadi saputangan untuk airmata yang aku keluarkan. Tapi itu
dulu. Saat Bian belum memutuskan untuk meninggalkanku.
Malamnya,hujan
kembali menyapa. Kenangan Bian kembali bertandang dalam kepala. Aku harus
melakukan sesuatu agar hatiku kembali utuh. Jika aku tidak bisa bersama Bian,
bukan berarti aku tidak bisa menjadi bahagia. Tuhan selalu punya cara untuk
mengubah luka menjadi sukacita.
Malam
itu, aku mendekap hujan dalam gigilnya malam. Kupeluk mesra sampai aku mengeluarkan
airmata. Membayangkan seolah-olah Bian melihat dan merasakan semua kekalutanku.
Sungguh, ditinggal saat sayang-sayangnya itu tidak enak. Bian tidak menyadari
itu. Dia berpikir aku akan baik-baik saja dengan pengakuannya. Malam itu, aku
menikahi hujan. Mengikhlaskan Bian dan seluruh kenangan tentangnya. Aku
membiarkan hujan menciumi wajahku dengan buasnya. Satu persatu berjatuhan
menghapus airmataku yang tersisa.
Gigil
hujan mendekap tubuhku mesra. Aku kedinginan, tapi aku bahagia. Setidaknya, aku
sudah merelakan Bian dengan kekasih barunya itu. Dan aku menanam kenangan Bian
dalam hujan yang syahdu ini. Sesungguhnya aku tak benar-benar tegar. Meski
merelakan adalah usahaku untuk melupakan. Selalu ada yang tidak bisa aku
paksakan. Aku memahami itu. Jadi, saat ini aku sudah menjadi kekasih hujan. Aku
bisa menikmati hujan dan segala kenangan tentang Bian. Aku bisa berteman baik
dengan kenangan, tanpa harus memusuhinya.
“Relakan,
Arta. Ikhlaskan…” lagi-lagi aku mengatakan itu pada Arta. Meski Arta tidak tahu
bahwa sampai saat ini aku masih merindukan Bian. Menikmati kenangan Bian dalam
pernikahanku dengan hujan. Melupakan tentu tidak akan semudah itu. Tapi selalu
ada cara untuk yang mau berusaha. Aku tidak ingin Arta merasakan pedih seperti
yang aku rasakan pada Bian. Aku akan berusaha tegar untuk membuat sahabatku
kembali tegar.
Arta
memelukku, mengucapkan terima kasih. Bilang kalau dia akan dengan segera
melupakan kekasihnya itu. Ya, memang seharusnya begitu. Meski sampai detik ini,
menikahi hujan hanyalah alasanku untuk bisa terlihat tegar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar