Ibarat
menyimpan bakwan diam-diam, lambat laun akan tercium juga baunya. Begitu pula
yang terjadi pada hubungan gue dan Eril. Setelah nyaris satu bulan berganti
status dari teman menjadi pacar, akhirnya beberapa oknum-oknum super kepo
mengetahui kebenarannya. Selain Eril yang kelewat jujur dan gampang terpancing,
gue juga gak bisa menahan ini lebih lama lagi. Setelah gue pikir-pikir,
hubungan gue dengan Eril kan nggak menyalahi aturan dan hak asasi manusia.
Tidak juga termasuk ke dalam pelecehan seksual atau kekerasan pada anak. Meski
kami masih tergolong anak-anak (unyu) tapi kami tidak akan melanggar norma yang
berlaku.
Lantas,
masalahnya apa? Meski wujudnya begitu kan, Eril tetaplah perempuan yang butuh
kasih sayang dari seorang pria tampan macam gue. Semuanya bermula dari
kecerobohan cewek papan ujian itu. Siang itu seusai pelajaran jam olahraga, gue
menyeret Eril menuju kantin sekolah. Dehidrasi parah membuat gue kalap
menghabiskan 3 gelas jus jeruk. Eril menatap gue jijik. Sementara gue
menatapnya nggak peduli. Selesai menikmati jus jeruk dengan porsi berlebihan
itu, kita berdua balik ke kelas.
Lihatlah,
makhluk-makhluk di dalam kelas itu menatap gue dan Eril dengan tatapan
menjijikkan. Ada yang senyum-senyum nggak jelas, ada yang melirik seperti
mengejek, ada pula yang berani terbatuk-batuk dengan sengaja. Gue merasa ada
yang tidak beres ketika kami pergi tadi. Hingga tiba-tiba, jawaban dari segala
pertanyaan di kepala gue akhirnya muncul. Kinan berjalan ke depan dan mendekati
Eril, menyerahkan sesuatu.
“Nih,
Ril, hape lo yang gue pinjem tadi. Jangan
tidur larut malam, ya, Cinta..” ledek Kinan. Seketika gue lihat wajah Eril
merah padam.
Sial!
Itu kan isi SMS gue tadi malem ke Eril. Makhluk-makhluk astral di kelas ini
pasti sudah membajak hape Eril sejak gue dan Eril berada di kantin. Dasar Eril
dodol, bisa-bisanya dia lupa meninggalkan hape tanpa membuat keyword rahasia!!!
Gue
dan Eril masih mematung di depan kelas. Tidak bergerak sesenti pun. Malu banget
rasanya.
“Aku tetep bilang kamu
cantik kok, meski mereka bilang kamu gantenggg…”
kudengar Wido ikut nyeletuk di balik mejanya.
“Kamu jangan cemburuan,
dong! Aku bakal setia kok sama kamu…” kali ini suara Bianka
memenuhi ruangan kelas.
Aaaarrgghhh!!
Kenapa mereka hanya menyebut semua isi pesan yang gue kirimkan ke Eril? Kenapa
isi SMS Eril sama sekali tidak mereka teriakkan di sini! Gue murka. Gue tarik
tangan Eril ke luar kelas. Di luar, beberapa teman kelas sudah menyoraki dengan
antusias, seperti sedang menyaksikan pertandingan bola Manchester United VS Arsenal.
Ini benar-benar nggak lucu. Jatuh marwah gue sebagai cassanova di kelas.
Gue
menarik tangan Eril ke tempat yang lumayan sepi. Di depan gudang sekolah.
Letaknya di ujung koridor, dekat parkir kendaraan guru.
“Bikin
malu tau, gak!” kata gue kesal pada Eril.
Eril
melotot, “Kok lo jadi nyalahin gue?”
“Trus
gue harus nyalahin siapa? Nenek buyut lo, gitu?”
Eril
menginjak sepatu gue, “Salah elo lah! Siapa suruh isi pesannya
romantis-romantis gitu!” dia melotot buas.
“Salah
gue? Ini semua salah lo yang gak bisa jaga privasi sendiri! Hape aja pake
dipinjemin ke temen! Gak dikunciin pake sandi lagi! Lo sengaja, ya?!” gue
membombardir Eril dengan tuduhan itu.
“Lo
pikir gue gak malu? Gue malu juga tau gak!! Emang ya, semua cowok di dunia itu
sama aja! Egois!” Eril sengaja menekan kata egois di ujung kalimatnya.
“Iya!
Cowok itu di mana-mana emang sama! Sama-sama makan nasi, sama-sama minum air,
sama-sama bernapas pake oksigen! Lo baru boleh bilang beda, kalo cowok di dunia
ini udah mulai makan besi, minum tajin, sama bernapas pake hidrogen! Ngerti?!”
jelas gue gak mau kalah.
Eril
terlihat geram, mukanya memerah, dia beranjak duduk di bangku panjang cokelat
tua yang ada di depan gudang sekolah.
Gue
mengikuti, “Geser dikit!” kata gue melirik Eril.
Dia
mencibir, lalu menggeser tempat duduknya. Kita berdiam cukup lama. Mungkin
sama-sama berpikir mengapa semua sampai jadi serumit ini. Teman-teman sudah
tahu kalau kita backstreet, dan
sebentar lagi semua orang akan tahu perihal ini. Gue sudah siap dengan segala
konsekuensi terburuknya. Tapi, tunggu.. kenapa gue harus takut? Eril kan
tetaplah perempuan meskipun tomboy? Apa yang salah dari memacari gadis tomboy?
Nggak ada larangannya, kan? Gak ada undang-undang yang mengaturnya, kan? So, what?
“Kita
bilang aja kalau memang kita backstreet
sejak satu bulan lalu,” kata gue akhirnya.
Eril
menarik napas berat, “Mengumumkan itu nggak semudah membalikkan risoles di
penggorengan!”
“Iya
gue tahu. Kita juga lagi nggak ngomongin risoles!” bantah gue kesal.
“Terus
gimana?”
“Ikut
gue..”
Gue
menarik tangan Eril kembali ke kelas begitu mendengar bel masuk. Gue akan
membuktikan ke Eri bahwa sekarang gue udah siap lahir batin kalaupun harus jadi
bahan ledekan teman-teman. Prinsip gue cuma satu, gue nggak boleh takut kalau
gue gak salah. Selebihnya itu jadi urusan mereka.
* * *
Keriuhan
kembali terjadi tatkala bel pulang sekolah berbunyi. Makhluk-makhluk astral di
kelas kembali menggentayangi gue dan Eril dengan berbagai macam pertanyaan yang
memuakkan. Sebagian ada yang cekikikan nggak jelas, sebagian lagi ada yang
mendekat dan bertanya ini-itu layaknya reporter televisi nggak jadi. Gue
ngelirik Eril dengan tatapan “Buruan keluar dari kelas”, sebelum keriuhan ini
semakin menjadi.
Ketika
Eril melewati pintu kelas, beberapa anak mencecarnya dengan kalimat sinis,
“Kemarin Zen, sekarang Arash. Ditolak Zen, nemplok ke Arash,” tawa cewek-cewek
paling sosialita di kelas.
Eril
meliriknya sekilas. Gue bisa melihat ekspresi marah dari wajah Eril. Sebelum
terjadi pertumpahan darah, gue segera menarik tangan Eril agar menjauh dari
kelompok sosialita kurang perhatian itu. Tidak ada gunanya juga meladeni
manusia semacam itu. Sebaik apa pun yang kita perbuat, akan tetap ada yang
tidak suka. Dan sepertinya, mulai hari ini Eril harus belajar banyak soal itu.
Eril
menghempaskan tangan gue kasar, “Gak usah sok ngebelain gue!”
Gue
meliriknya sekilas, “Gue gak belain lo, kok. Cuma gak mau aja mereka lo jadikan
samsak tinju lo,”
Eril
mendengus kesal.
“Udahlah..
gue tahu lo orang paling keras yang pernah gue temui. Tapi gue gak mau
gara-gara sikap keras lo itu, lo malah jadi gak bisa mengendalikan diri. Gue
tahu lo kesel, tapi inget, setiap perbuatan jahat nggak harus selalu kita balas
jahat,” gue menasehati cewek papan ujian itu.
“Cinta
itu masalah hati, Ril. Pertumbuhannya selalu mengikuti arus nurani. Persis
kayak teka-teki. Jadi, bukan salah lo kalo sekarang lo jatuh cinta sama gue,
atau gue yang jatuh cinta sama lo. Hidup ini terlalu singkat kalau kita
dengerin omongan orang,”
Eril
mulai tenang. Napasnya yang naik-turun bergemuruh karena marah, kelihatannya
sudah sedikit membaik. Iramanya sudah normal kembali.
“Kok
lo bijak, sih?” tanyanya heran, menatap gue sekilas.
“Pertanyaan
macam apa itu?” gue mengernyit.
Eril
tertawa, “Kata-kata lo itu, udah kayak guru yang mengonseling muridnya. Atau
kayak dosen yang nguliahin mahasiswinya!” cibirnya lucu.
“Harusnya lo terharu atau tersipu, lantas
bilang ‘duhh, pacarku ini sweet banget, deh!’ bukan malah ngeledekin gue!”
Dia terkikik, “Mau banget dibilang gitu?” Eril
ngelirik gue dengan tatapan menjijikkan. Gue mau muntah.
“Lo
tahu, Ril.. banyak di dunia ini yang nggak memiliki penjelasan pasti, sama
seperti perasaan gue ke elo,”
“Ngegombal
nih?” tanyanya, menaikkan sebelah alisnya.
Gue
menjitak kepalanya gemas. Bakal percuma kalau ngomong bernada serius ke cewek
papan ujian ini, nggak akan direspon serius. Eril selalu menduga kalau gue cuma
gombal dan omong kosong belaka. Selalu susah buat percaya sama orang.
“Eh,
siang ini temenin gue ke mall, ya. Mau beli gel rambut. Yang lama udah abis,”
katanya santai.
Gue ternganga
mendengar kalimatnya. Ternyata dia lebih maskulin dari yang gue kira.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar