Total Tayangan Halaman

Rabu, 24 Mei 2017

Resensi : Refleksi Masa Depan dalam Novel Hujan (Terbit 05 Maret 2017, Harian Medan Bisnis)

Judul               : Hujan
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Pertama, Januari 2016
Halaman          : 320 hal
ISBN               : 978-602-03-2478-4

Novel Tere Liye kali ini menceritakan tentang kehidupan manusia di tahun 2043. Dimana pada masa itu seluruh manusia telah menggunakan alat teknologi paling mutakhir dalam menyelesaikan berbagai persoalan hidup. Cerita dimulai oleh seorang gadis bernama Lail yang sangat ingin melupakan hujan. Lail pergi menemui Elijah, seorang paramedis senior yang akan membantunya melupakan hujan dan segala kenangan menyakitkan dalam hidupnya. Dalam percakapan yang dibangun Lail dan Elijah, Tere Liye menggambarkan bentuk peralatan super canggih yang digunakan di masa depan.
Persis saat ketukan itu mengenai layar, lewat perintah nirkabel, lantai pualam, dua meter dari kursi, mulai merekah. Sebuah belalai robot keluar, membawa peranti berbentuk bando. Ujung belalai robot bergerak ke arah Elijah, lalu berhenti. Elijah mengambil bando itu (hal. 6) “Kamu harus mengenakan pemindai ini.” Elijah memberikan bando yang terbuat dari logam, berwarna perak, kepada gadis di atas sofa. Gadis itu menurut, mengenakannya. Sementara belalai robot kembali ke posisinya. Lantai pualam kembali menutup, seolah tidak pernah ada lubang merekah di atasnya satu detik lalu (hal.7)
Lail adalah gadis dengan banyak kisah saat hujan datang. Ia sangat mencintai hujan—dulu—sebelum ia kehilangan segalanya. Gempa dahsyat yang mengguncang bumi saat itu, membuatnya harus rela kehilangan ibu untuk selamanya. Saat itu, Lail dan ibunya sedang berada di kereta api menuju sekolah. Lail kehilangan ibunya ketika turun hujan. Lail bertemu Esok—anak laki-laki yang menyelamatkannya saat gempa—juga saat turun hujan. Lail belajar arti kerja keras dan persahabatan dengan Maryam pun saat turun hujan. Lail jatuh cinta pada Esok pun ketika turun hujan. Segala kisah hidupnya selalu disaksikan oleh tetes air hujan.
Waktu melesat tanpa terasa, dua tahun sejak bencana gunung meletus, kemajuan teknologi yang terhenti menggeliat kembali. Di jalanan kota sebagian besar orang telah mengenakan chip berbentuk layar kecil di lengan—seperti prototype yang dulu dimiliki Ibu Lail. Layar kecil itu multifungsi, mulai dari alat pembayaran, pengganti tiket bus, trem, belanja di toko, hingga sistem presensi kantor. Cukup melewati sensor, semua data tercatat. Peranti itu juga sekaligus sebagai alat komunikasi, melakukan sambungan telepon konvensional, konferensi video, dan keperluan lain, termasuk fitur generasi terbarunya, mengirim pesan hanya lewat memikirkan kalimatnya, layar di lengan akun akan menuliskannya (hal. 95)
Alat-alat canggih lainnya juga ditunjukkan Tere Liye dalam novelnya ini. Di tahun 2043, konstruksi sipil juga mengalami revolusi besar, kemajuan medis, pabrik-pabrik manufaktur, dan bangunan-bangunan baru mengadopsi sistem pintar. Permasalahan lain yang disuguhkan dalam novel ini adalah pembahasan dari Konferensi Tingkat Tinggi mengenai perubahan iklim akibat dari gempa bumi. Petinggi berniat melakukan intervensi pada lapisan stratosfer yang ternyata ditentang mati-matian oleh negara-negara tropis, karena akan menyebabkan musim dingin yang berkepanjangan. Ilmuwan memproyeksikan iklim dunia tidak akan stabil hingga 50 tahun ke depan.
Cerita lain dalam novel ini bukan saja berpusat pada masalah keluarga, persahabatan, cinta, kehilangan harapan, dan trauma. Cerita ini justru berpusat pada masalah dunia sejak gempa bumi itu terjadi. Hal paling mencengangkan berikutnya adalah saat diketahui bahwa Esok adalah Soke Bahtera yang merupakan ilmuwan muda paling terkemuka saat usianya baru menginjak 17 tahun. Soke Bahtera dikenal sebagai penemu banyak teknologi canggih, terutama mesin terbang. Ia jugalah yang akhirnya menemukan cara menyelamatkan sebagian manusia dengan cara mengirimkan mereka ke luar angkasa menggunakan pesawat.
Novel ini sangat layak dibaca, baik untuk anak-anak, remaja, pecinta science fiction, dan dewasa. Novel ini mengajak kita berpikir maju dan membayangkan masa depan lebih dalam. Novel ini merefleksikan tentang sesuatu yang mungkin akan terjadi di masa depan, juga polemik yang mungkin saja akan dihadapi. Tere Liye sangat apik memadupadankan kisah cinta, persahabatan, keluarga, dan polemik bernegara dalam satu bacaan yang menarik. Pemilihan kover dengan warna biru muda yang soft membuat pembaca menangkap kesan estetik dari novel ini.
Kelemahan dari novel ini terletak pada penggunaan kata-kata ilmiah, seperti peranti, prototype, polimer, material cartridge, konsorsium, dan lain sebagainya. Kata-kata imiah tersebut barangkali akan menyulitkan pembaca awam dalam memahami isi cerita. Tere Liye juga tidak memberikan penjelasan singkat atau foot note untuk mengartikan kata-kata imiah tersebut.

(Penulis adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar