Judul :
Hujan
Penulis : Tere Liye
Penerbit
: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama, Januari 2016
Halaman
: 320 hal
ISBN
: 978-602-03-2478-4
Novel Tere Liye kali ini menceritakan tentang kehidupan
manusia di tahun 2043. Dimana pada masa itu seluruh manusia telah menggunakan
alat teknologi paling mutakhir dalam menyelesaikan berbagai persoalan hidup.
Cerita dimulai oleh seorang gadis bernama Lail yang sangat ingin melupakan
hujan. Lail pergi menemui Elijah, seorang paramedis senior yang akan
membantunya melupakan hujan dan segala kenangan menyakitkan dalam hidupnya.
Dalam percakapan yang dibangun Lail dan Elijah, Tere Liye menggambarkan bentuk
peralatan super canggih yang digunakan di masa depan.
Persis saat
ketukan itu mengenai layar, lewat perintah nirkabel, lantai pualam, dua meter
dari kursi, mulai merekah. Sebuah belalai robot keluar, membawa peranti
berbentuk bando. Ujung belalai robot bergerak ke arah Elijah, lalu berhenti.
Elijah mengambil bando itu (hal. 6) “Kamu harus mengenakan pemindai ini.”
Elijah memberikan bando yang terbuat dari logam, berwarna perak, kepada gadis
di atas sofa. Gadis itu menurut, mengenakannya. Sementara belalai robot kembali
ke posisinya. Lantai pualam kembali menutup, seolah tidak pernah ada lubang
merekah di atasnya satu detik lalu (hal.7)
Lail adalah gadis dengan banyak kisah saat hujan
datang. Ia sangat mencintai hujan—dulu—sebelum ia kehilangan segalanya. Gempa
dahsyat yang mengguncang bumi saat itu, membuatnya harus rela kehilangan ibu
untuk selamanya. Saat itu, Lail dan ibunya sedang berada di kereta api menuju
sekolah. Lail kehilangan ibunya ketika turun hujan. Lail bertemu Esok—anak
laki-laki yang menyelamatkannya saat gempa—juga saat turun hujan. Lail belajar
arti kerja keras dan persahabatan dengan Maryam pun saat turun hujan. Lail
jatuh cinta pada Esok pun ketika turun hujan. Segala kisah hidupnya selalu
disaksikan oleh tetes air hujan.
Waktu melesat
tanpa terasa, dua tahun sejak bencana gunung meletus, kemajuan teknologi yang
terhenti menggeliat kembali. Di jalanan kota sebagian besar orang telah
mengenakan chip berbentuk layar kecil di lengan—seperti prototype yang dulu
dimiliki Ibu Lail. Layar kecil itu multifungsi, mulai dari alat pembayaran,
pengganti tiket bus, trem, belanja di toko, hingga sistem presensi kantor.
Cukup melewati sensor, semua data tercatat. Peranti itu juga sekaligus sebagai
alat komunikasi, melakukan sambungan telepon konvensional, konferensi video,
dan keperluan lain, termasuk fitur generasi terbarunya, mengirim pesan hanya
lewat memikirkan kalimatnya, layar di lengan akun akan menuliskannya (hal. 95)
Alat-alat canggih lainnya juga ditunjukkan Tere Liye
dalam novelnya ini. Di tahun 2043, konstruksi sipil juga mengalami revolusi
besar, kemajuan medis, pabrik-pabrik manufaktur, dan bangunan-bangunan baru
mengadopsi sistem pintar. Permasalahan lain yang disuguhkan dalam novel ini
adalah pembahasan dari Konferensi Tingkat Tinggi mengenai perubahan iklim
akibat dari gempa bumi. Petinggi berniat melakukan intervensi pada lapisan
stratosfer yang ternyata ditentang mati-matian oleh negara-negara tropis,
karena akan menyebabkan musim dingin yang berkepanjangan. Ilmuwan
memproyeksikan iklim dunia tidak akan stabil hingga 50 tahun ke depan.
Cerita lain dalam novel ini bukan saja berpusat pada
masalah keluarga, persahabatan, cinta, kehilangan harapan, dan trauma. Cerita
ini justru berpusat pada masalah dunia sejak gempa bumi itu terjadi. Hal paling
mencengangkan berikutnya adalah saat diketahui bahwa Esok adalah Soke Bahtera
yang merupakan ilmuwan muda paling terkemuka saat usianya baru menginjak 17
tahun. Soke Bahtera dikenal sebagai penemu banyak teknologi canggih, terutama
mesin terbang. Ia jugalah yang akhirnya menemukan cara menyelamatkan sebagian
manusia dengan cara mengirimkan mereka ke luar angkasa menggunakan pesawat.
Novel ini sangat layak dibaca, baik untuk anak-anak,
remaja, pecinta science fiction, dan
dewasa. Novel ini mengajak kita berpikir maju dan membayangkan masa depan lebih
dalam. Novel ini merefleksikan tentang sesuatu yang mungkin akan terjadi di
masa depan, juga polemik yang mungkin saja akan dihadapi. Tere Liye sangat apik
memadupadankan kisah cinta, persahabatan, keluarga, dan polemik bernegara dalam
satu bacaan yang menarik. Pemilihan kover dengan warna biru muda yang soft membuat pembaca menangkap kesan
estetik dari novel ini.
Kelemahan dari novel ini terletak pada penggunaan
kata-kata ilmiah, seperti peranti, prototype, polimer, material cartridge, konsorsium, dan lain
sebagainya. Kata-kata imiah tersebut barangkali akan menyulitkan pembaca awam
dalam memahami isi cerita. Tere Liye juga tidak memberikan penjelasan singkat
atau foot note untuk mengartikan
kata-kata imiah tersebut.
(Penulis
adalah Mahasiswi FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar