Pagi
ini, seperti biasa gue menyempatkan menjemput Kia di rumahnya. Entahlah,
rasanya pagi ini gue begitu bersemangat untuk menagih senyumnya. Semalaman
suntuk gue terus-terusan kepikiran cewek papan ujian itu. Percakapan bodoh di
rumahnya kemarin siang jelas sekali menyita perasaan gue. Entahlah bagaimana
dengan Kia. Gue juga ngerasa berbeda pagi ini, memakai banyak parfum agar
tercium wangi ketika bertemu Kia. Gel
rambut juga nggak kalah banyak bertandang di rambut gue pagi ini. Efek samping
dari jatuh cinta ini ternyata sungguh berlebihan.
Kia
juga nggak kalah mengagetkan pagi ini. Parfumnya menguar kemana-mana. Dan
lihat, dia memakai sesuatu di bibirnya. Bibir yang selama gue kenal tak pernah
dipolesnya itu, pagi ini terlihat sangat berbeda.
“Lo
pake apaan?” Tanya gue menunjuk bibirnya.
“Liptin,” jawabnya singkat.
Gue
terkekeh, “Kok tumben?”
Kia
diam saja, mungkin dia tidak tertarik untuk membahasnya lebih jauh.
“Lo
bedakkan, ya?” Tanya gue lagi.
“Dikit,”
Kia menjawab santai.
“Parfum
lo juga agak nyengatan,” gue terkekeh.
Kia
mendengus sebal.
“Nggak
sekalian rambut lo disanggul, alis lo diukir, trus pake bulu mata anti maling?”
gue masih meledek. Kia meninju lengan gue keras, gue mengaduh.
Sepanjang
perjalanan ke sekolah, gue hanya berkomunikasi dengan detak jantung gue yang
nggak santai. Ini benar-benar terasa aneh, setidaknya bagi gue. Kia terlihat
berbeda sekali hari ini. Efek samping jatuh cinta terlihat sekali. Seperti
cewek kebanyakan, Kia mulai memperhatikan penampilannya. Gue masih belum terbiasa
dengan itu, jadi gue ngerasa geli sendiri ngeliat Kia yang kesannya jadi
keganjenan begitu. Seperti yang semua orang tahu, bahwa Kia adalah cewek tomboy
yang (awalnya) nggak suka dandan. Tapi biarkanlah dia bereksperimen.
Kia
sendiri memilih menggunakan earphone,
seolah-olah gue adalah supir pribadinya yang nggak layak untuk diajak bicara.
Sesekali gue melirik Kia yang manggut-manggut karena musik yang lumayan keras
dari earphone ungu muda itu. Pasti The Beatles lagi, batin gue.
Lima
belas menit kemudian, gue dan Kia telah mendarat dengan anggun di parkiran
sekolah. Kita berjalan bersisian menuju kelas. Beberapa anak yang melintas
melirik dengan tatapan aneh. Gue mengernyitkan dahi, merasa ada yang tidak
beres. Namun tiba-tiba gue tersentak menyadari sesuatu, Kia mengaitkan
kelingkingnya tepat di kelingking gue. Salah satu hal yang tidak pernah kami
lakukan selama bersahabat. Meski amat dekat, namun hal semacam itu terasa awkward bagi kami.
Gue
buru-buru melepaskan tautan kelingking Kia. Wajah Kia seketika cemberut.
Melirik gue dengan tatapan “Emangnya
kenapa sih?” Gue nyengir lebar ke
arahnya. Lalu dengan cepat menariknya masuk ke dalam kelas.
Ketika
jam istirahat pun, Kia bertingkah aneh. Dia menyuruh gue untuk menyuapinya
makan bakso di kantin sekolah. Atau sekadar mengelap kuah bakso yang nempel di
bibirnya. Aduuuhh, kok gue lebih ngerasa jadi kayak pembantunya ketimbang
pacarnya, ya? Kenapa Kia jadi seribet ini? Semua perubahan-perubahan itu masih
terasa aneh di mata gue. Jadilah hari itu gue bertengkar dengan Kia. Ternyata
menjinakkan Kia lebih susah daripada menjinakkan seekor naga.
*
* *
“Lo
marah sama gue?” Tanya gue siang itu, jam pelajaran sudah usai. Gue dan Kia
berada di pendopo belakang sekolah. Sengaja memilih tempat itu agar percakapan
ini tak sampai kedengaran di gendang telinga teman-teman. Kia menggeleng
sekilas, tapi tetap tidak mau menoleh ke arah gue.
“Soal
tadi pagi itu, gue…”
“Nggak
usah dibahas!” tandas Kia cepat.
Gue
paham sekali bahwa dia sedang marah. Ah, nggak biasanya Kia jadi manja kayak
gini. Ngakunya nggak marah, tapi jelas-jelas dia nyuekin gue. Dari yang gue
denger dari temen-temen, cewek kalo lagi marah itu pasti akan selalu bilang
“Nggak usah dibahas!” dan mereka akan berharap cowoknya untuk terus ngebahas
itu. Kalau sampai nggak dibahas, pecahlah perang dunia ketiga dan akan terus
berlanjut hingga ke hari berikutnya.
“Ki,
kita emang pacaran, tapi kan baru dua hari. Gue belum siap kalau teman-teman
tahu kita berdua ternyata jadian,” gue berusaha jujur ke Kia.
“Kenapa?
Lo malu punya pacar kayak gue?” tanyanya sensitif.
“Bukan
gitu, gue cuma nggak yakin kalau mereka bisa nerima kenyataan ini,” gue jadi
melo, kebawa suasana.
“Nggak
usah lebay gitu deh! Gue ini kan cewek!” Kia terus berkicau tak terima.
“Gue
cuma nggak mau, temen-temen ngebully elo, Ki. Masa lo nggak ngerti juga, sih?
Apa lo mau dikatain kayak yang dilakukan Bima kemarin?” gue menatapnya serius.
Gue
lihat Kia mulai berpikir. Gue sendiri belum terlalu siap kalau teman-teman tahu
bahwa gue dan Kia ternyata telah berubah status dari sahabat menjadi kekasih.
Dengan perawakan Kia yang tomboy begitu, bukan tidak mungkin teman-teman akan
mengejek atau bahkan membully hubungan ini. Maka, akan lebih baik jika
dirahasiakan dulu beberapa waktu.
“Jadi,
lo mau kita gimana?” Tanya Kia kemudian.
“Gimana
kalau kita backstreet?” celetuk gue.
“Alasan backstreet itu kan
macam-macam. Bukan hanya dilakukan pasangan yang tidak mendapat restu orangtua,
atau pasangan yang menjalin cinta terlarang, tapi kayak kita juga boleh, kan?”
gue meminta pendapat Kia.
Kia
mengangguk, “Gue juga belum siap kalau sampai mama dan Kak Yudith tahu kalau
kita berdua pacaran. Mereka pasti bakal ngetawain gue habis-habisan,”
“Gue
juga gak tahu gimana reaksi Bima kalau sampai tahu lo jadian sama gue daripada dia
yang katanya tampan dunia akhirat itu,” gue terkekeh.
“Tapi,
meskipun kita bersikap biasa-biasa saja di depan mereka, bukan berarti lo bisa caper dan ngedeketin Tasya kayak
biasanya, ya!” ancam Kia.
“Oke!
Dan lo juga nggak boleh keganjenan ngerespon si Don Juan KW 5 itu!” balas gue
nggak mau kalah.
“Oke!”
Kia menautkan kelingkingnya ke gue tanda setuju.
Siang
itu, gue pulang mengantar Kia dengan perasaan lega. Semua akan baik-baik saja
selama salah satu dari kami tidak bertingkah. Gue sendiri masih takut
membayangkan kalau-kalau rahasia hubungan ini sampai terbongkar. Yang jelas,
gue sayang Kia dan gue akan ngejaga dia selama gue bisa. Ah, kenapa gue jadi
lebay gini, ya?
*
* *
Satu
minggu yang indah menjadi kekasih Kia. Semua berjalan normal dan tampak biasa
saja. Gue masih sering main ke rumah Kia, mengerjakan tugas bareng, dengerin
musik bareng, dan sepedaan bareng. Nggak ada yang berubah dari hari-hari gue.
Gue masih suka kentut sembarangan di depan dia, masih suka sendawa seenaknya,
dan suka ngorok kalau ketiduran di balkon kamarnya ketika mengerjakan tugas
sekolah. Yang berubah hanya panggilan gue ke Kia ketika sedang BBM-an,
telponan, atau ketemuan.
Gue
manggil Kia dengan sebutan “Aylef” dan Kia manggil gue dengan sebutan “Efyu”.
Jadi, kalau digabungin jadi “Aylefyu” atau kalau mau ditulis dengan benar jadi
“I Love You”. Ya, gue tahu kalian semua mau muntah mendengarnya. Terdengar
menjijikkan memang, tapi bodo amat. Namanya juga orang lagi jatuh cinta. Semua
bakal terdengar sah-sah saja. Emang siapa yang berani protes? Lagian ini juga
nggak melanggar hak asasi manusia, kan?
Meski
terdengar menggelikan, tapi bagi gue dan Kia itu romantis. Sekarang, tiap pagi,
Kia juga sering bawain gue sarapan. Kalau nggak ada yang ngeliat atau kelas
lagi sepi, biasanya kita sering suap-suapan. Biar kayak remaja kekinian kalo
lagi kasmaran. Gue juga suka kirimin Kia kata-kata romantis sebelum tidur.
Meski Kia hanya membalas dengan satu kata, yaitu ‘Oh’. Ketika ditanya, jawabnya
cuma, “Gue nggak tahu mau bales apa,” Ya, Kia memang kejam.
Mau
diomeli, nggak sampai hati. Mau dijitak, takut malah ngambek panjang. Sebab
semenjak jadi pacar, Kia jadi sering ngambek gak jelas. Suka marah-marah karena
hal kecil yang nggak penting, seperti ngambek kalau gue lama bales pesannya,
terus suka ngambek kalau telponan cuma 10 menit. Padahal gue bukan tipikal
cowok yang suka telponan berjam-jam, selain kuping gue yang panas, gue juga bingung
bakal bahas apa kalau tiap hari telponan kayak begitu.
Parahnya
lagi, Kia suka cemburuan sama kucing peliharaannya sendiri. Pernah suatu kali
gue main ke rumahnya. Ketika itu hanya ada gue, Kia, dan Molly, kucing anggora
betina peliharaannya. Gue sedang mengetik sesuatu di laptop Kia ketika ada
sesuatu yang lembut menyentuh ujung kaki gue. Sontak gue lihat ke bawah meja,
ternyata Molly tengah menggesekkan badannya ke kaki gue. Gue senang melihatnya,
karena itu menandakan Molly suka sama gue.
Langsung
saja gue angkat dia dan mengelus-elus kepalanya, dia mengeong manja. Kia yang
baru balik dari dapur sehabis membuat jus jambu, langsung melotot ke arah gue.
Gue balik menatapnya dengan tatapan ‘ada apa’.
“Ooohh,
jadi gitu? Lebih sayang Molly daripada aku?” katanya pedas. Gue ternganga
mendengar ucapan ganjil Kia. “Sampe dielus-elus begitu, sayang banget ya sama
dia?” dia berkacak pinggang menunggu jawaban gue. Gue yang masih belum paham
dengan kalimatnya akhirnya menggaruk tengkuk.
“Eh..
ngomong apa, sih? By the way, kucing
kamu ini cantik juga, ya,” gue mencoba mencairkan suasana, tapi sepertinya gue
salah ngomong lagi.
“Oooohhh,
jadi lebih cantik dia daripada aku? Gitu?!”
Mendadak
kepala gue berdenyut mendengar celotehan ngawur Kia.
“Yaudah
kalau gitu, kamu pacaran aja sana sama dia!”
Gue
menggaruk kepala yang tak gatal, yakali gue disuruh pacaran sama kucing. Ada
yang salah dengan isi kepala Kia saat itu. Sejak kejadian itu, gue mencoba jaga
jarak dengan Molly. Gue kasihan sih ngejauhi Molly gitu aja tanpa bisa kasih
penjelasan apa-apa ke dia. Gue takut Molly salah paham dan menilai gue sebagai
cowok yang nggak bertanggung jawab. Meski berulang kali Molly terus mendekati
gue ketika gue main ke rumah Kia, tapi gue mencoba menjauh dari dia. Nggak tega
sih, tapi mau bagaimana lagi, gue lebih takut digigit Kia daripada digigit sama
Molly. Hiks.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar