Total Tayangan Halaman

Rabu, 24 Mei 2017

Cerita Jadian (Terbit 14 Mei 2017, Harian Medan Pos)

Pagi ini, seperti biasa gue menyempatkan menjemput Kia di rumahnya. Entahlah, rasanya pagi ini gue begitu bersemangat untuk menagih senyumnya. Semalaman suntuk gue terus-terusan kepikiran cewek papan ujian itu. Percakapan bodoh di rumahnya kemarin siang jelas sekali menyita perasaan gue. Entahlah bagaimana dengan Kia. Gue juga ngerasa berbeda pagi ini, memakai banyak parfum agar tercium wangi ketika bertemu Kia. Gel rambut juga nggak kalah banyak bertandang di rambut gue pagi ini. Efek samping dari jatuh cinta ini ternyata sungguh berlebihan.
Kia juga nggak kalah mengagetkan pagi ini. Parfumnya menguar kemana-mana. Dan lihat, dia memakai sesuatu di bibirnya. Bibir yang selama gue kenal tak pernah dipolesnya itu, pagi ini terlihat sangat berbeda.
“Lo pake apaan?” Tanya gue menunjuk bibirnya.
Liptin,” jawabnya singkat.
Gue terkekeh, “Kok tumben?”
Kia diam saja, mungkin dia tidak tertarik untuk membahasnya lebih jauh.
“Lo bedakkan, ya?” Tanya gue lagi.
“Dikit,” Kia menjawab santai.
“Parfum lo juga agak nyengatan,” gue terkekeh.
Kia mendengus sebal.
“Nggak sekalian rambut lo disanggul, alis lo diukir, trus pake bulu mata anti maling?” gue masih meledek. Kia meninju lengan gue keras, gue mengaduh.
Sepanjang perjalanan ke sekolah, gue hanya berkomunikasi dengan detak jantung gue yang nggak santai. Ini benar-benar terasa aneh, setidaknya bagi gue. Kia terlihat berbeda sekali hari ini. Efek samping jatuh cinta terlihat sekali. Seperti cewek kebanyakan, Kia mulai memperhatikan penampilannya. Gue masih belum terbiasa dengan itu, jadi gue ngerasa geli sendiri ngeliat Kia yang kesannya jadi keganjenan begitu. Seperti yang semua orang tahu, bahwa Kia adalah cewek tomboy yang (awalnya) nggak suka dandan. Tapi biarkanlah dia bereksperimen.
Kia sendiri memilih menggunakan earphone, seolah-olah gue adalah supir pribadinya yang nggak layak untuk diajak bicara. Sesekali gue melirik Kia yang manggut-manggut karena musik yang lumayan keras dari earphone ungu muda itu. Pasti The Beatles lagi, batin gue.
Lima belas menit kemudian, gue dan Kia telah mendarat dengan anggun di parkiran sekolah. Kita berjalan bersisian menuju kelas. Beberapa anak yang melintas melirik dengan tatapan aneh. Gue mengernyitkan dahi, merasa ada yang tidak beres. Namun tiba-tiba gue tersentak menyadari sesuatu, Kia mengaitkan kelingkingnya tepat di kelingking gue. Salah satu hal yang tidak pernah kami lakukan selama bersahabat. Meski amat dekat, namun hal semacam itu terasa awkward bagi kami.
Gue buru-buru melepaskan tautan kelingking Kia. Wajah Kia seketika cemberut. Melirik gue dengan tatapan “Emangnya kenapa sih?”  Gue nyengir lebar ke arahnya. Lalu dengan cepat menariknya masuk ke dalam kelas.
Ketika jam istirahat pun, Kia bertingkah aneh. Dia menyuruh gue untuk menyuapinya makan bakso di kantin sekolah. Atau sekadar mengelap kuah bakso yang nempel di bibirnya. Aduuuhh, kok gue lebih ngerasa jadi kayak pembantunya ketimbang pacarnya, ya? Kenapa Kia jadi seribet ini? Semua perubahan-perubahan itu masih terasa aneh di mata gue. Jadilah hari itu gue bertengkar dengan Kia. Ternyata menjinakkan Kia lebih susah daripada menjinakkan seekor naga.
* * *
“Lo marah sama gue?” Tanya gue siang itu, jam pelajaran sudah usai. Gue dan Kia berada di pendopo belakang sekolah. Sengaja memilih tempat itu agar percakapan ini tak sampai kedengaran di gendang telinga teman-teman. Kia menggeleng sekilas, tapi tetap tidak mau menoleh ke arah gue.
“Soal tadi pagi itu, gue…”
“Nggak usah dibahas!” tandas Kia cepat.
Gue paham sekali bahwa dia sedang marah. Ah, nggak biasanya Kia jadi manja kayak gini. Ngakunya nggak marah, tapi jelas-jelas dia nyuekin gue. Dari yang gue denger dari temen-temen, cewek kalo lagi marah itu pasti akan selalu bilang “Nggak usah dibahas!” dan mereka akan berharap cowoknya untuk terus ngebahas itu. Kalau sampai nggak dibahas, pecahlah perang dunia ketiga dan akan terus berlanjut hingga ke hari berikutnya.
“Ki, kita emang pacaran, tapi kan baru dua hari. Gue belum siap kalau teman-teman tahu kita berdua ternyata jadian,” gue berusaha jujur ke Kia.
“Kenapa? Lo malu punya pacar kayak gue?” tanyanya sensitif.
“Bukan gitu, gue cuma nggak yakin kalau mereka bisa nerima kenyataan ini,” gue jadi melo, kebawa suasana.
“Nggak usah lebay gitu deh! Gue ini kan cewek!” Kia terus berkicau tak terima.
“Gue cuma nggak mau, temen-temen ngebully elo, Ki. Masa lo nggak ngerti juga, sih? Apa lo mau dikatain kayak yang dilakukan Bima kemarin?” gue menatapnya serius.
Gue lihat Kia mulai berpikir. Gue sendiri belum terlalu siap kalau teman-teman tahu bahwa gue dan Kia ternyata telah berubah status dari sahabat menjadi kekasih. Dengan perawakan Kia yang tomboy begitu, bukan tidak mungkin teman-teman akan mengejek atau bahkan membully hubungan ini. Maka, akan lebih baik jika dirahasiakan dulu beberapa waktu.
“Jadi, lo mau kita gimana?” Tanya Kia kemudian.
“Gimana kalau kita backstreet?” celetuk gue. “Alasan backstreet itu kan macam-macam. Bukan hanya dilakukan pasangan yang tidak mendapat restu orangtua, atau pasangan yang menjalin cinta terlarang, tapi kayak kita juga boleh, kan?” gue meminta pendapat Kia.
Kia mengangguk, “Gue juga belum siap kalau sampai mama dan Kak Yudith tahu kalau kita berdua pacaran. Mereka pasti bakal ngetawain gue habis-habisan,”
“Gue juga gak tahu gimana reaksi Bima kalau sampai tahu lo jadian sama gue daripada dia yang katanya tampan dunia akhirat itu,” gue terkekeh.
“Tapi, meskipun kita bersikap biasa-biasa saja di depan mereka, bukan berarti lo bisa caper dan ngedeketin Tasya kayak biasanya, ya!” ancam Kia.
“Oke! Dan lo juga nggak boleh keganjenan ngerespon si Don Juan KW 5 itu!” balas gue nggak mau kalah.
“Oke!” Kia menautkan kelingkingnya ke gue tanda setuju.
Siang itu, gue pulang mengantar Kia dengan perasaan lega. Semua akan baik-baik saja selama salah satu dari kami tidak bertingkah. Gue sendiri masih takut membayangkan kalau-kalau rahasia hubungan ini sampai terbongkar. Yang jelas, gue sayang Kia dan gue akan ngejaga dia selama gue bisa. Ah, kenapa gue jadi lebay gini, ya?
* * *
Satu minggu yang indah menjadi kekasih Kia. Semua berjalan normal dan tampak biasa saja. Gue masih sering main ke rumah Kia, mengerjakan tugas bareng, dengerin musik bareng, dan sepedaan bareng. Nggak ada yang berubah dari hari-hari gue. Gue masih suka kentut sembarangan di depan dia, masih suka sendawa seenaknya, dan suka ngorok kalau ketiduran di balkon kamarnya ketika mengerjakan tugas sekolah. Yang berubah hanya panggilan gue ke Kia ketika sedang BBM-an, telponan, atau ketemuan.
Gue manggil Kia dengan sebutan “Aylef” dan Kia manggil gue dengan sebutan “Efyu”. Jadi, kalau digabungin jadi “Aylefyu” atau kalau mau ditulis dengan benar jadi “I Love You”. Ya, gue tahu kalian semua mau muntah mendengarnya. Terdengar menjijikkan memang, tapi bodo amat. Namanya juga orang lagi jatuh cinta. Semua bakal terdengar sah-sah saja. Emang siapa yang berani protes? Lagian ini juga nggak melanggar hak asasi manusia, kan?
Meski terdengar menggelikan, tapi bagi gue dan Kia itu romantis. Sekarang, tiap pagi, Kia juga sering bawain gue sarapan. Kalau nggak ada yang ngeliat atau kelas lagi sepi, biasanya kita sering suap-suapan. Biar kayak remaja kekinian kalo lagi kasmaran. Gue juga suka kirimin Kia kata-kata romantis sebelum tidur. Meski Kia hanya membalas dengan satu kata, yaitu ‘Oh’. Ketika ditanya, jawabnya cuma, “Gue nggak tahu mau bales apa,” Ya, Kia memang kejam.
Mau diomeli, nggak sampai hati. Mau dijitak, takut malah ngambek panjang. Sebab semenjak jadi pacar, Kia jadi sering ngambek gak jelas. Suka marah-marah karena hal kecil yang nggak penting, seperti ngambek kalau gue lama bales pesannya, terus suka ngambek kalau telponan cuma 10 menit. Padahal gue bukan tipikal cowok yang suka telponan berjam-jam, selain kuping gue yang panas, gue juga bingung bakal bahas apa kalau tiap hari telponan kayak begitu.
Parahnya lagi, Kia suka cemburuan sama kucing peliharaannya sendiri. Pernah suatu kali gue main ke rumahnya. Ketika itu hanya ada gue, Kia, dan Molly, kucing anggora betina peliharaannya. Gue sedang mengetik sesuatu di laptop Kia ketika ada sesuatu yang lembut menyentuh ujung kaki gue. Sontak gue lihat ke bawah meja, ternyata Molly tengah menggesekkan badannya ke kaki gue. Gue senang melihatnya, karena itu menandakan Molly suka sama gue.
Langsung saja gue angkat dia dan mengelus-elus kepalanya, dia mengeong manja. Kia yang baru balik dari dapur sehabis membuat jus jambu, langsung melotot ke arah gue. Gue balik menatapnya dengan tatapan ‘ada apa’.
“Ooohh, jadi gitu? Lebih sayang Molly daripada aku?” katanya pedas. Gue ternganga mendengar ucapan ganjil Kia. “Sampe dielus-elus begitu, sayang banget ya sama dia?” dia berkacak pinggang menunggu jawaban gue. Gue yang masih belum paham dengan kalimatnya akhirnya menggaruk tengkuk.
“Eh.. ngomong apa, sih? By the way, kucing kamu ini cantik juga, ya,” gue mencoba mencairkan suasana, tapi sepertinya gue salah ngomong lagi.
“Oooohhh, jadi lebih cantik dia daripada aku? Gitu?!”
Mendadak kepala gue berdenyut mendengar celotehan ngawur Kia.
“Yaudah kalau gitu, kamu pacaran aja sana sama dia!”

Gue menggaruk kepala yang tak gatal, yakali gue disuruh pacaran sama kucing. Ada yang salah dengan isi kepala Kia saat itu. Sejak kejadian itu, gue mencoba jaga jarak dengan Molly. Gue kasihan sih ngejauhi Molly gitu aja tanpa bisa kasih penjelasan apa-apa ke dia. Gue takut Molly salah paham dan menilai gue sebagai cowok yang nggak bertanggung jawab. Meski berulang kali Molly terus mendekati gue ketika gue main ke rumah Kia, tapi gue mencoba menjauh dari dia. Nggak tega sih, tapi mau bagaimana lagi, gue lebih takut digigit Kia daripada digigit sama Molly. Hiks.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar